Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Not a member yet
    555 research outputs found

    CREATIVITY DEVELOPMENT BASED ON THE IDEAS OF KI HAJAR DEWANTARA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan kreativitas dengan menggunakan gagasan Ki Hajar Dewantara yaitu niteni, nirokke dan nambahi yang dikenal dengan istilah Tri-N. Metode yang dipilih adalah deskriptif kualitatif dengan studi literatur. Data dihimpun dengan menggunakan literasi yang sudah ada, baik dari sumber primer maupun sekunder, kemudian dianalisis dan disajikan secara deskiptif. Hasil kajian menunjukkan  bahwa Konsep niteni, nirokke dan nambahi merupakan sebuah proses yang di dalamnya terkandung pembentukan kreativitas. Niteni adalah awal dari munculnya gagasan atau ide yang kemudian disusul dengan aktivitas nirokke atau menirukan sebagai wahana mengasah keterampilan dengan menambahkan makna pada contoh-contoh yang sudah tersedia, dan nambahi merupakan muara proses yang padanya terlihat jelas bagaimana sebuah produk dari kreativitas mampu menjawab permasalahan dengan menggunakan berbagai macam cara. Menumbuhkan kreativitas, dengan demikian dapat dilakukan dengan menggunakan gagasan niteni, nirokke dan nambahi yang dilakukan secara prosedural.   Ki Hajar Dewantara has many ideas and have been applied in the Indonesian education. One of his most well-known ideas is the concept of niteni, nirokke and nambahi as known as Tri-N. Translated into Indonesian the three words mean pay attention, imitate, and add. These three elements have characteristics that are very compatible with the development of creativity. Referring to this, this study was conducted with the aim to find out the development of creativity by using the idea of ​​Ki Hajar Dewantara namely niteni, nirokke and nambahi. Using descriptive qualitative study of literature, data was collected by using existing literacy from both primary and secondary sources and then analyzed and presented descriptively. The results of the study showed that the concept of niteni, nirokke and nambahi is a process which contains the formation of creativity. Niteni is the beginning of the emergence of ideas, followed by nirokke, activities or imitating as an effort to improve skills by adding meaning to the existing examples,  and adding is the ultimate process  that show clearly how a product of creativity is able to answer problems by using various ways. Thus, growing creativity can done by using the idea of ​​niteni, nirokke and nambahi as a procedure.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengembangan kreativitas dengan menggunakan gagasan Ki Hajar Dewantara yaitu niteni, nirokke dan nambahi yang dikenal dengan istilah Tri-N. Metode yang dipilih adalah deskriptif kualitatif dengan studi literatur. Data dihimpun dengan menggunakan literasi yang sudah ada, baik dari sumber primer maupun sekunder, kemudian dianalisis dan disajikan secara deskiptif. Hasil kajian menunjukkan  bahwa Konsep niteni, nirokke dan nambahi merupakan sebuah proses yang di dalamnya terkandung pembentukan kreativitas. Niteni adalah awal dari munculnya gagasan atau ide yang kemudian disusul dengan aktivitas nirokke atau menirukan sebagai wahana mengasah keterampilan dengan menambahkan makna pada contoh-contoh yang sudah tersedia, dan nambahi merupakan muara proses yang padanya terlihat jelas bagaimana sebuah produk dari kreativitas mampu menjawab permasalahan dengan menggunakan berbagai macam cara. Menumbuhkan kreativitas, dengan demikian dapat dilakukan dengan menggunakan gagasan niteni, nirokke dan nambahi yang dilakukan secara prosedural.   Ki Hajar Dewantara has many ideas and have been applied in the Indonesian education. One of his most well-known ideas is the concept of niteni, nirokke and nambahi as known as Tri-N. Translated into Indonesian the three words mean pay attention, imitate, and add. These three elements have characteristics that are very compatible with the development of creativity. Referring to this, this study was conducted with the aim to find out the development of creativity by using the idea of ​​Ki Hajar Dewantara namely niteni, nirokke and nambahi. Using descriptive qualitative study of literature, data was collected by using existing literacy from both primary and secondary sources and then analyzed and presented descriptively. The results of the study showed that the concept of niteni, nirokke and nambahi is a process which contains the formation of creativity. Niteni is the beginning of the emergence of ideas, followed by nirokke, activities or imitating as an effort to improve skills by adding meaning to the existing examples,  and adding is the ultimate process  that show clearly how a product of creativity is able to answer problems by using various ways. Thus, growing creativity can done by using the idea of ​​niteni, nirokke and nambahi as a procedure

    THE STRATEGY OF SECOND CHOICE PRIVATE SCHOOLS TO FACE EDUCATION COMPETITIVENESS

    Full text link
    Kompetisi dalam pendidikan menuntut sekolah swasta harus mampu bersaing dengan sekolah negeri karena mereka menjadi pilihan kedua. Sebagai pilihan kedua maka kebanyakan sekolah swasta tidak mampu menarik siswa-siswa unggulan dan berprestasi. Tujuan studi ini adalah mendeskripsikan usaha yang ditempuh SMA swasta sebagai pilihan kedua untuk berkompetisi dengan sekolah negeri agar dapat bertahan. Penelitian menggunakan metode kualitatif grounded theory di 10 SMA swasta pilihan kedua di Kabupaten Banyumas. Kabupaten ini dipilih karena peningkatan jumlah sekolah swasta yang cukup tinggi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil studi menunjukkan strategi yang dilakukan sekolah swasta pilihan kedua di antaranya, adalah melakukan promosi secara strategis ke SMP yang menjadi target potensial, memilih siswa tidak mampu, dan memiliki kemampuan akademik rendah sebagai sasaran utama, dan menawarkan biaya sekolah murah bahkan menawarkan sekolah gratis bagi siswa tidak mampu. Competition in education requires the private schools to compete with public schools since they  have been as the second choice. As the second choice, most private schools have been in failure to recruit talented and intelligent intake students. This article describes the efforts of private schools as the second choice, to face the competition with other public schools for its survival. This study used grounded theory method by taking 10 private high schools and located in Banyumas district. This district is chosen because the number of private schools is increased almost significantly. Data was collected using observation, interview, and documentation. The result of the study showed that strategies used by this type of school include among others, strategically promote themself to a potential junior high school, choose a low economic and low academic students as their main targets, and offering low-cost education, if possible, offering free cost education for low economic students.        Kompetisi dalam pendidikan menuntut sekolah swasta harus mampu bersaing dengan sekolah negeri karena mereka menjadi pilihan kedua. Sebagai pilihan kedua maka kebanyakan sekolah swasta tidak mampu menarik siswa-siswa unggulan dan berprestasi. Tujuan studi ini adalah mendeskripsikan usaha yang ditempuh SMA swasta sebagai pilihan kedua untuk berkompetisi dengan sekolah negeri agar dapat bertahan. Penelitian menggunakan metode kualitatif grounded theory di 10 SMA swasta pilihan kedua di Kabupaten Banyumas. Kabupaten ini dipilih karena peningkatan jumlah sekolah swasta yang cukup tinggi. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil studi menunjukkan strategi yang dilakukan sekolah swasta pilihan kedua di antaranya, adalah melakukan promosi secara strategis ke SMP yang menjadi target potensial, memilih siswa tidak mampu, dan memiliki kemampuan akademik rendah sebagai sasaran utama, dan menawarkan biaya sekolah murah bahkan menawarkan sekolah gratis bagi siswa tidak mampu. Competition in education requires the private schools to compete with public schools since they  have been as the second choice. As the second choice, most private schools have been in failure to recruit talented and intelligent intake students. This article describes the efforts of private schools as the second choice, to face the competition with other public schools for its survival. This study used grounded theory method by taking 10 private high schools and located in Banyumas district. This district is chosen because the number of private schools is increased almost significantly. Data was collected using observation, interview, and documentation. The result of the study showed that strategies used by this type of school include among others, strategically promote themself to a potential junior high school, choose a low economic and low academic students as their main targets, and offering low-cost education, if possible, offering free cost education for low economic students.       &nbsp

    DAFTAR ISI, EDITORIAL, LEMBAR ABSTRAK

    No full text
    - -&nbsp

    DAFTAR ISI, EDITORIAL, LEMBAR ABSTARK

    No full text
    DAFTAR ISI, EDITORIAL, LEMBAR ABSTARK DAFTAR ISI, EDITORIAL, LEMBAR ABSTRAK&nbsp

    ANALYSIS OF MATHEMATICS TEACHERS’ PEDAGOGICAL COMPETENCY IN MADRASAH TSANAWIYAH (MTS) IN DEVELOPING SCIENTIFIC-BASED LESSON PLAN

    Full text link
    Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang kompetensi pedagogis guru matematika MTs dalam hal mengembangkan desain pembelajaran. Dua hal yang dikaji yaitu: 1) bagaimana guru mengembangkan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik; 2) bagaimana kompetensi guru dalam proses pembelajaran yang mendukung kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa (KBTTM). Populasi dalam penelitian ini adalah guru MTs yang berasal dari Banten, Sumatra Selatan, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Guru yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 61 orang. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi yang meliputi 11 keterampilan dasar dalam penyusunan RPP dan angket yang terdiri dari 24 butir pernyataan dan 5 pertanyaan terbuka. Instrumen diuji validitasnya dengan uji pakar yang melibatkan 6 orang dosen. Temuan penelitian: 1) berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa guru dapat merancang pembelajaran matematika menggunakan pendekatan saintifik cukup baik, namun penjabaran indikator yang menunjukkan KBTTM belum terlihat; 2) berdasarkan hasil angket disimpulkan bahwa keterlibatan guru dalam pengembangan KBTTM siswa di MTs masih belum maksimal yang ditunjukkan dengan intensitas keterlibatannya dalam mengikuti pelatihan atau seminar. This paper is the result of study about mathematics teachers’ pedagogical competencies in Madrasah Tsanawiyah (MTs) in developing scientific-based lesson plan. Two things that were examined in this study are: 1) how teachers develop learning using scientific approach; 2) how the teacher’s competence in the learning process that supports students’ high-level thinking skills (KBTTM). The population in this study is MTs teachers in Banten, South Sumatra, Jakarta, West Java, East Java, and South Sulawesi. There were 61 teachers involved in this study. The instrument used was an observation sheet which included 11 basic skills in the preparation of lesson plan, and a questionnaire consisting of 24 statements, and 5 open questions. The instrument was tested for validity with an expert test involving 6 lecturers. Research findings: 1) based on observations, teachers are able to design mathematics learning using scientific approaches quite well, however, the elaboration of indicators that show KBTTM has not been seen. 2) based on the results of the questionnaire, teacher involvement in the development of KBTTM students in MTs was still not maximal, as indicated by the intensity of their involvement in attending training or seminars.    Tulisan ini merupakan hasil penelitian tentang kompetensi pedagogis guru matematika MTs dalam hal mengembangkan desain pembelajaran. Dua hal yang dikaji yaitu: 1) bagaimana guru mengembangkan pembelajaran menggunakan pendekatan saintifik; 2) bagaimana kompetensi guru dalam proses pembelajaran yang mendukung kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa (KBTTM). Populasi dalam penelitian ini adalah guru MTs yang berasal dari Banten, Sumatra Selatan, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Guru yang terlibat dalam penelitian ini sebanyak 61 orang. Instrumen yang digunakan yaitu lembar observasi yang meliputi 11 keterampilan dasar dalam penyusunan RPP dan angket yang terdiri dari 24 butir pernyataan dan 5 pertanyaan terbuka. Instrumen diuji validitasnya dengan uji pakar yang melibatkan 6 orang dosen. Temuan penelitian: 1) berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa guru dapat merancang pembelajaran matematika menggunakan pendekatan saintifik cukup baik, namun penjabaran indikator yang menunjukkan KBTTM belum terlihat; 2) berdasarkan hasil angket disimpulkan bahwa keterlibatan guru dalam pengembangan KBTTM siswa di MTs masih belum maksimal yang ditunjukkan dengan intensitas keterlibatannya dalam mengikuti pelatihan atau seminar. This paper is the result of study about mathematics teachers’ pedagogical competencies in Madrasah Tsanawiyah (MTs) in developing scientific-bsaed lesson plan. Two things that were examined in this study are: 1) how teachers develop learning using scientific approach; 2) how the teacher’s competence in the learning process that supports students’ high-level thinking skills (KBTTM). The population in this study is MTs teachers in Banten, South Sumatra, Jakarta, West Java, East Java, and South Sulawesi. There were 61 teachers involved in this study. The instrument used was an observation sheet which included 11 basic skills in the preparation of lesson plan, and a questionnaire consisting of 24 statements, and 5 open questions. The instrument was tested for validity with an expert test involving 6 lecturers. Research findings: 1) based on observations, teachers are able to design mathematics learning using scientific approaches quite well, however, the elaboration of indicators that show KBTTM has not been seen. 2) based on the results of the questionnaire, teacher involvement in the development of KBTTM students in MTs was still not maximal, as indicated by the intensity of their involvement in attending training or seminars

    MODEL KONSEPTUAL MANAJEMEN PEMBIAYAAN PENDIDIKAN BERBASIS MUTU DI PESANTREN MODERN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi model konseptual manajemen pembiayaan pendidikan berbasis mutu di pesantren modern. Penelitian ini menggunakan metode multikasus karena ada dua lokus penelitian, yaitu Pesantren Daarut Tauhiid Bandung dan Pesantren Modern Sahid Bogor. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Sedangkan teknik analisis adalah analisis lintas kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model konseptual manajemen pembiayaan pendidikan berbasis mutu di pesantren modern dilakukan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, pertanggungjawaban, dan perbaikan berkelanjutan pembiayaan pendidikan. Perencanaan pembiayaan pendidikan berpedoman pada tiga hal, yaitu rencana pengembangan yayasan, rencana strategis (renstra) yayasan, dan program kerja pesantren. Pengorganisasian pembiayaan pendidikan secara struktural terdapat pembagian tugas antara pengelola dan pengawas internal pembiayaan. Dalam melaksanakan pembiayaan pendidikan, para pengelola pembiayaan secara konsisten berpedoman pada prinsip-prinsip pencatatan penerimaan dan pengeluaran keuangan. Sedangkan dalam pengawasan pembiayaan pendidikan, audit internal dilakukan secara berkala. Pertanggungjawaban pembiayaan pendidikan diwujudkan dengan pelaporan penggunaan pembiayaan yang tepat waktu, akurat, transparan, dan akuntabel. Perbaikan berkelanjutan pembiayaan pendidikan dilakukan dengan dua tahap, yaitu bulanan dan tahunan. Dengan demikian, model konseptual manajemen pembiayaan pendidikan berbasis mutu di kedua pesantren modern dilakukan secara komprehensif-integral.  The purpose of this study was to identify the conceptual model of quality-based educational financing management in modern pesantren (Islamic boarding school). This study used a multi-case method because there were two research locations, namely the Pesantren Daarut Tauhiid in Bandung and the Pesantren Modern Sahid in Bogor. The data collection techniques was taken by interview and the analysis technique used a cross-case analysis. The results showed that the conceptual model of quality-based educational financing management in modern pesantren was carried out starting from planning, organizing, implementing, monitoring, accountability, and continuous improvement of educational financing. Educational financing planning was guided by three points, namely the foundation’s development plan, the foundation’s strategic plan (renstra), and the pesantren’s work program. In educational financing organization, structurally, there was a division of tasks between the manager and the financing internal supervisor. Educational financing implementation was consistently guided by the principles of recording financial income and expenditure. Educational financing was supervised by conducting internal audit regularly. Educational financing accountability was performed by reporting the use of financing timely, accurate, transparent, and accountable. Continuous improvement of educational financing was carried out monthly and annually. To conclude, conceptual model of quality based-education financing management at both pesantren is implemented comprehensively and integrally.   Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi model konseptual manajemen pembiayaan pendidikan berbasis mutu di pesantren modern. Penelitian ini menggunakan metode multikasus karena ada dua lokus penelitian, yaitu Pesantren Daarut Tauhiid Bandung dan Pesantren Modern Sahid Bogor. Adapun teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara. Sedangkan teknik analisis adalah analisis lintas kasus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model konseptual manajemen pembiayaan pendidikan berbasis mutu di pesantren modern dilakukan mulai dari perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan, pertanggungjawaban, dan perbaikan berkelanjutan pembiayaan pendidikan. Perencanaan pembiayaan pendidikan berpedoman pada tiga hal, yaitu rencana pengembangan yayasan, rencana strategis (renstra) yayasan, dan program kerja pesantren. Pengorganisasian pembiayaan pendidikan secara struktural terdapat pembagian tugas antara pengelola dan pengawas internal pembiayaan. Dalam melaksanakan pembiayaan pendidikan, para pengelola pembiayaan secara konsisten berpedoman pada prinsip-prinsip pencatatan penerimaan dan pengeluaran keuangan. Sedangkan dalam pengawasan pembiayaan pendidikan, audit internal dilakukan secara berkala. Pertanggungjawaban pembiayaanpendidikan diwujudkan dengan pelaporan penggunaan pembiayaan yang tepat waktu, akurat, transparan, dan akuntabel. Perbaikan berkelanjutan pembiayaan pendidikan dilakukan dengan dua tahap, yaitu bulanan dan tahunan. Dengan demikian, model konseptual manajemen pembiayaan pendidikan berbasis mutu di kedua pesantren modern dilakukan secara komprehensif-integral.  The purpose of this study was to identify the conceptual model of quality-based educational financing management in modern pesantren (Islamic boarding school). This study used a multi-case method because there were two research locations, namely the Pesantren Daarut Tauhiid in Bandung and the Pesantren Modern Sahid in Bogor. The data collection techniques was taken by interview and the analysis technique used a cross-case analysis. The results showed that the conceptual model of quality-based educational financing management in modern pesantren was carried out starting from planning, organizing, implementing, monitoring, accountability, and continuous improvement of educational financing. Educational financing planning was guided by three points, namely the foundation’s development plan, the foundation’s strategic plan (renstra), and the pesantren’s work program. In educational financing organization, structurally, there was a division of tasks between the manager and the financing internal supervisor. Educational financing implementation was consistently guided by the principles of recording financial income and expenditure. Educational financing was supervised by conducting internal audit regularly. Educational financing accountability was performed by reporting the use of financing timely, accurate, transparent, and accountable. Continuous improvement of educational financing was carried out monthly and annually. To conclude, conceptual model of quality based-education financing management at both pesantren is implemented comprehensively and integrally.    &nbsp

    FLEKSIBILITAS PEMBELAJARAN DARING PADA MASA PANDEMI COVID-19

    Full text link
    Pandemi Covid-19 memunculkan persoalan yang serius terhadap kegiatan pembelajaran secara tatap muka di sekolah. Oleh sebab itu, fleksibilitas pembelajaran dalam jaringan (daring) merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fleksibilitas konten pembelajaran dan fleksibilitas pengorganisasian kelas daring selama masa pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakanpendekatan kualitatif. Subjek penelitian ialah 35 peserta didik kelas X jurusan Desain Komunikasi Visual di SMK Negeri 5 Yogyakarta. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas konten selama pembelajaran daring ditentukan dari penyediaan konten pembelajaran dengan cara baru dan inovatif dengan menggunakan kombinasi media dan mode pengiriman yang mencakup video interaktif, komik, swafoto, animasi, poster ilmiah, instagram, twitter, facebook, tiktok, dan youtube. Hasil penelitian juga mengungkap bahwa pengorganisasian kelas daring diatur secara fleksibel menggunakan daya dukung teknologi komunikasi dan Learning Management System (LMS) untuk mengoptimalkan penggunaan strategi pembelajaran melalui media platform google classroom, google formulir, dan hangouts meet. Dengan demikian, fleksibilitas pembelajaran daring ditentukan oleh keberhasilan guru dalam memilih strategi pembelajaran yang mandiri sehingga peserta didik mampu memiliki kebebasan untuk menentukan cara pembelajarannya sendiri dan menggunakan media pembelajaran yang efektif. Covid-19 pandemic has caused serious problems to learning activities in schools especially for face-to-face learning. As a consequence, mastery in the flexibility of online learning is a skill that teachers must possess. The purpose of the research was to elaborate the flexibility of learning content and online classroom organization during the pandemic of Covid-19 pandemic. This research used a qualitative approach. The subject of research was 35 students from class X in Visual communication design study program at SMK Negeri 5 Yogyakarta. Data collection in this study used triangulation techniques. The results showed that the flexibility of content during online learning is set on by providing new and innovative learning content by using a combination of media and delivery modes that include interactive videos, comics, selfies, animations, scientific posters, instagram, twitter, facebook, tiktok, and youtube. It was also revealed that the organizing online classes is arranged in a flexible manner using the support capacity of communication technology and Learning Management System to optimize the use of learning strategies through the media platform of google classroom, google form, and hangouts meet. In brief, the flexibility of online learning is determined by the success of teacher in choosing independent learning strategies that provides students the opportunity to have the freedom to determine their own learning methods and use learning media effectively. Pandemi Covid-19 memunculkan persoalan yang serius terhadap kegiatan pembelajaran secara tatap muka di sekolah. Oleh sebab itu, fleksibilitas pembelajaran dalam jaringan (daring) merupakan keterampilan yang harus dikuasai oleh guru. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fleksibilitas konten pembelajaran dan fleksibilitas pengorganisasian kelas daring selama masa pandemi Covid-19. Penelitian ini menggunakanpendekatan kualitatif. Subjek penelitian ialah 35 peserta didik kelas X jurusan Desain Komunikasi Visual di SMK Negeri 5 Yogyakarta. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik triangulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fleksibilitas konten selama pembelajaran daring ditentukan dari penyediaan konten pembelajaran dengan cara baru dan inovatif dengan menggunakan kombinasi media dan mode pengiriman yang mencakup video interaktif, komik, swafoto, animasi, poster ilmiah, instagram, twitter,facebook, tiktok, dan youtube. Hasil penelitian juga mengungkap bahwa pengorganisasian kelas daring diatur secara fleksibel menggunakan daya dukung teknologi komunikasi dan Learning Management System (LMS) untuk mengoptimalkan penggunaan strategi pembelajaran melalui media platform google classroom, google formulir, dan hangouts meet. Dengan demikian, fleksibilitas pembelajaran daring ditentukan oleh keberhasilan guru dalam memilih strategi pembelajaran yang mandiri sehingga peserta didik mampu memiliki kebebasan untuk menentukan cara pembelajarannya sendiri dan menggunakan media pembelajaran yang efektif. Covid-19 pandemic has caused serious problems to learning activities in schools especially for face-to-face learning. As a consequence, mastery in the flexibility of online learning is a skill that teachers must possess. The purpose of the research was to elaborate the flexibility of learning content and online classroom organization during the pandemic of Covid-19. pandemic. This research used a qualitative approach. The subject of research was 35 students from class X in Visual communication design study program at SMKNegeri 5 Yogyakarta. Data collection in this study used triangulation techniques. The results showed that the flexibility of content during online learning is set on by providing new and innovative learning content by using a combination of media and delivery modes that include interactive videos, comics, selfies, animations, scientific posters, instagram, twitter, facebook, tiktok, and youtube. It was also revealed that the organizing online classes is arranged in a flexible manner using the support capacity of communication technology and Learning Management System to optimize the use of learning strategies through the media platform of google classroom, google form, and hangouts meet. In brief, the flexibility of online learning is determined by the success of teacher in choosing independent learning strategies that provides students the opportunity to have the freedom to determine their own learning methods and use learning media effectively.&nbsp

    EVALUASI KETERLAKSANAAN KURIKULUM 2013 SEKOLAH MENENGAH ATAS DI KOTA MATARAM

    No full text
    Penelitian ini merupakan penelitian desktiptif kualitatif dengan tujuan untuk menilai konteks, input, proses dan produk pada kurikulum 2013. Penelitian ini juga menganalisis hambatan, kekurangan dan kelebihan dari kurikulum 2013. Pelaksanaan penelitian dilakukan dibeberapa SMA di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat yang sedang melaksanakan pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. Subjek penelitian yang digunakan yaitu peserta didik, guru, wakil kepala sekolah bidang kurikulum serta kepala sekolah. Metode pengumpulan informasi menggunakan observasi, wawancara dan analisis dokumen. Tahap penelitian meliputi tiga proses yaitu tahap prasurvei, tahap analisis hasil pengamatan, dan penulisan artikel. Hasil pengamatan yang telah didapatkan selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil analisis menemukan bahwa penerapan kurikulum 2013 selain menghadirkan manfaat juga masih ada beberapa kendala atau kekurangan yang dirasakan dalam penerapannya sampai sejauh ini. Kendala yang muncul terdapat pada aspek kebijakan sekolah, sarana dan prasarana, proses pembelajaran, serta administrasi. Kesimpulan, keterlaksanaan K-2013 pada tingkat SMA di Kota Mataram berjalan dengan baik tetapi perlu ada beberapa penyesuaian dalam penyempurnaan. Penyesuaian yang dapat dilakukan lebih kepada fasilitas penunjang dan proses pelaksanaan K-2013. This qualitative descriptive research aims to determine the implementation of Curriculum 2013 (K-2013) by assessing its context, input, process, and products. Assessment of context based on analysis of the objectives, benefits, and goals of K-2013. The input assessment is obtained from observations of school readiness, conditions of infrastructure, etcetera. The Process assessment is obtained from analysis of implementation in the field. The product assessment is obtained from the analysis of the output produced by K-2013. This study also analysed the obstacles, weaknesses and strengths of the Curriculum 2013. The research subjects were students, educators, vice principals in charged for the curriculum, and school principals. Methods of collecting information using observation, interviews, and document analysis. The research stage includes three processes, namely, the pre-survey, analysing the results of the observations, and writing the articles. The results of the observations are then analysed descriptively qualitatively. The results of the analysis found that besides providing benefits, the implementation of K-2013 had also someobstacles or shortcomings in its implementation. The obstacles are in the aspects of school policy, facilities and infrastructure, the learning process, and administration. In conclusion, the implementation of K-2013 at the SMA level in the City of Mataram has been going well. However, it needs some adjustments to be made in its refinement, such as adjustments to the facilities support and the implementation process of K-2013.Penelitian ini merupakan penelitian desktiptif kualitatif dengan tujuan untuk menilai konteks, input, proses dan produk pada kurikulum 2013. Penelitian ini juga menganalisis hambatan, kekurangan dan kelebihan dari kurikulum 2013. Pelaksanaan penelitian dilakukan dibeberapa SMA di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat yang sedang melaksanakan pembelajaran menggunakan kurikulum 2013. Subjek penelitian yang digunakan yaitu peserta didik, guru, wakil kepala sekolah bidang kurikulum serta kepala sekolah. Metode pengumpulan informasi menggunakan observasi, wawancara dan analisis dokumen. Tahap penelitian meliputi tiga proses yaitu tahap prasurvei, tahap analisis hasil pengamatan, dan penulisan artikel. Hasil pengamatan yang telah didapatkan selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil analisis menemukan bahwa penerapan kurikulum 2013 selain menghadirkan manfaat juga masih ada beberapa kendala atau kekurangan yang dirasakan dalam penerapannya sampai sejauh ini. Kendala yang muncul terdapat pada aspek kebijakan sekolah, sarana dan prasarana, proses pembelajaran, serta administrasi. Kesimpulan, keterlaksanaan K-2013 pada tingkat SMA di Kota Mataram berjalan dengan baik tetapi perlu ada beberapa penyesuaian dalam penyempurnaan. Penyesuaian yang dapat dilakukan lebih kepada fasilitas penunjang dan proses pelaksanaan K-2013. This qualitative descriptive research aims to determine the implementation of Curriculum 2013 (K-2013) by assessing its context, input, process, and products. Assessment of context based on analysis of the objectives, benefits, and goals of K-2013. The input assessment is obtained from observations of school readiness, conditions of infrastructure, etcetera. The Process assessment is obtained from analysis of implementation in the field. The product assessment is obtained from the analysis of the output produced by K-2013. This study also analysed the obstacles, weaknesses and strengths of the Curriculum 2013. The research subjects were students, educators, vice principals in charged for the curriculum, and school principals. Methods of collecting information using observation, interviews, and document analysis. The research stage includes three processes, namely, the pre-survey, analysing the results of the observations, and writing the articles. The results of the observations are then analysed descriptively qualitatively. The results of the analysis found that besides providing benefits, the implementation of K-2013 had also someobstacles or shortcomings in its implementation. The obstacles are in the aspects of school policy, facilities and infrastructure, the learning process, and administration. In conclusion, the implementation of K-2013 at the SMA level in the City of Mataram has been going well. However, it needs some adjustments to be made in its refinement, such as adjustments to the facilities support and the implementation process of K-2013

    MANDALA KADEWAGURUAN: THE PLACE FOR RELIGIOUS EDUCATION IN THE WEST SLOPE OF MOUNT LAWU IN 14th – 15th CENTURY

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bukti-bukti yang dapat dijadikan sebagai penanda bangunan suci yang digunakan untuk tempat pendidikan agama (mandala kadewaguruan) dan menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan langkah-langkah penelitian yang berupa observasi langsung ke situs penelitian, lalu diikuti dengan deskripsi, dan terakhir eksplanasi yang menggunakan analisis komparatif dan kontekstual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memang benar situs penelitian merupakan bangunan suci berstatus sebagai mandala kadewaguruan. Hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya syarat-syarat sebuah mandala kadewaguruan. Syarat tersebut adalah tempat yang jauh dari keramaian, memiliki ruang yang luas, ditemukan lingga-pranala, terdapat temuan gerabah yang mengindikasikan adanya aktivitas dalam waktu yang lama, ditemukan berbagai tingggalan arkeologi yang berkaitan dengan keagamaan, dan terekam dalam prasasti. Aktivitas yang dilakukan nampaknya begitu kompleks yakni belajar-mengajar, bertapa, upacara agama, menulis sastra, dan kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan hidupan (makanan dan minuman).  The study aimed at looking for the evidences that can be used as a mark of the sacred building used for the religious education (mandala kadewaguruan) and to explain the various activities that were done by the community supporters. To achieve these goals, this study used measure of research in the form of direct observation to the site, followed by describing the obesevation, and lastly the explanation using contextual and comparative analysis. The result of this study showed that the site is sacred building in the form mandala kadewaguruan. This has been proven with such a criterion as being a mandala kadewaguruan. The criteria among others are quiet place that far away, have a broad space, founded a lingga pranala, the findings of pottery that indicate the presence of activities in along time, founded a variety archaeological remains related with the religious, and recorded in the inscription. Activites that were done were quite complex, such as, learning and teaching, practicing as an ascetic, religious ceremony, writing literature, as well as meeting the needs of life related to foods and drinks.Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bukti-bukti yang dapat dijadikan sebagai penanda bangunan suci yang digunakan untuk tempat pendidikan agama (mandala kadewaguruan) dan menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan langkah-langkah penelitian yang berupa observasi langsung ke situs penelitian, lalu diikuti dengan deskripsi, dan terakhir eksplanasi yang menggunakan analisis komparatif dan kontekstual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memang benar situs penelitian merupakan bangunan suci berstatus sebagai mandala kadewaguruan. Hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya syarat-syarat sebuah mandala kadewaguruan. Syarat tersebut adalah tempat yang jauh dari keramaian, memiliki ruang yang luas, ditemukan lingga-pranala, terdapat temuan gerabah yang mengindikasikan adanya aktivitas dalam waktu yang lama, ditemukan berbagai tingggalan arkeologi yang berkaitan dengan keagamaan, dan terekam dalam prasasti. Aktivitas yang dilakukan nampaknya begitu kompleks yakni belajar-mengajar, bertapa, upacara agama, menulis sastra, dan kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan hidupan (makanan dan minuman).  The study aimed at looking for the evidences that can be used as a mark of the sacred building used for the religious education (mandala kadewaguruan) and to explain the various activities that were done by the community supporters. To achieve these goals, this study used measure of research in the form of direct observation to the site, followed by describing the obesevation, and lastly the explanation using contextual and comparative analysis. The result of this study showed that the site is sacred building in the form mandala kadewaguruan. This has been proven with such a criterion as being a mandala kadewaguruan. The criteria among others are quiet place that far away, have a broad space, founded a lingga pranala, the findings of pottery that indicate the presence of activities in along time, founded a variety archaeological remains related with the religious, and recorded in the inscription. Activites that were done were quite complex, such as, learning and teaching, practicing as an ascetic, religious ceremony, writing literature, as well as meeting the needs of life related to foods and drinks. &nbsp

    HIGHER ORDER THINKING SKILLS LEARNING POLICY IN K-2013: ECONOMIC AND POLITICAL PERSPECTIVES

    Full text link
    Kajian ini bertujuan untuk mengelaborasi pengaruh politik dan ekonomi terhadap kebijakan pembelajaran bermuatan HOTS di Kota Bandung dan Yogyakarta. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terpumpun, observasi kelas, dan studi dokumen. Kota Bandung dan Yogyakarta dipilih karena kedua kota tersebut telah melaksanakan kurikulum 2013 revisi 2016. Analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis politik ekonomi, tingkat sektor yang dikembangkan oleh European Commission. Hasil analisis menunjukkan bahwa kota Bandung dan Yogyakarta belum memiliki kebijakan khusus terkait pembelajaran bermuatan HOTS dalam implementasi Kurikulum 2013. Namun, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta telah menyelenggarakan pelatihan penyusunan soal HOTS sedangkan Dinas Pendidikan Kota Bandung belum melaksanakan. Meskipun demikian, kedua kota telah merencanakan anggaran untuk pelatihan guru melakukan pembelajaran HOTS di tahun 2018.  This research aims to elaborate on how politics and economy affecting the policy of Higher Order Thinking Skills (HOTS) Learning as well as to provide recommendations to support this policy in Bandung and Yogyakarta districts. This study uses a qualitative approach with in-depth interviews, focus-group discussion,  classroom observations, and desk study as data collection techniques. Bandung and Yogyakarta were selected as cases because they already implemented 2013 Curriculum (version 2016). This study uses the sector analysis for politics and economy developed by the European Commission. The results of this study show that both districts have not yet implemented certain policies in regard to HOTS learning, however, Yogyakarta has trained several teachers in constructing HOTS assessment. Nevertheless, both districts already made financial planning for the training of teachers in HOTS learning in 2018.Kajian ini bertujuan untuk mengelaborasi pengaruh politik dan ekonomi terhadap kebijakan pembelajaran bermuatan HOTS di Kota Bandung dan Yogyakarta. Kajian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, diskusi kelompok terpumpun, observasi kelas, dan studi dokumen. Kota Bandung dan Yogyakarta dipilih karena kedua kota tersebut telah melaksanakan kurikulum 2013 revisi 2016. Analisis yang digunakan dalam kajian ini adalah analisis politik ekonomi, tingkat sektor yang dikembangkan oleh European Commission. Hasil analisis menunjukkan bahwa kota Bandung dan Yogyakarta belum memiliki kebijakan khusus terkait pembelajaran bermuatan HOTS dalam implementasi Kurikulum 2013. Namun, Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta telah menyelenggarakan pelatihan penyusunan soal HOTS sedangkan Dinas Pendidikan Kota Bandung belum melaksanakan. Meskipun demikian, kedua kota telah merencanakan anggaran untuk pelatihan guru melakukan pembelajaran HOTS di tahun 2018.  This research aims to elaborate on how politics and economy affecting the policy of Higher Order Thinking Skills (HOTS) Learning as well as to provide recommendations to support this policy in Bandung and Yogyakarta districts. This study uses a qualitative approach with in-depth interviews, focus-group discussion,  classroom observations, and desk study as data collection techniques. Bandung and Yogyakarta were selected as cases because they already implemented 2013 Curriculum (version 2016). This study uses the sector analysis for politics and economy developed by the European Commission. The results of this study show that both districts have not yet implemented certain policies in regard to HOTS learning, however, Yogyakarta has trained several teachers in constructing HOTS assessment. Nevertheless, both districts already made financial planning for the training of teachers in HOTS learning in 2018

    424

    full texts

    555

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇