Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
Not a member yet
    555 research outputs found

    CHARACTER EDUCATION THROUGH CORRECTIO FRATERNA (A CASE STUDY AT MIDDLE SEMINARY OF ST. YOHANES PAULUS II LABUAN

    Full text link
    Program pendidikan di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II menekankan pada aspek sanctitas (kekudusan), Scientia (pengetahuan), Sapientia (kebijaksanaan), sanitas (kesehatan) dan Solidaritas. Untuk mencapai semua aspek tersebut, correctio fraterna menjadi salah satu program pendidikan di seminari yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kegiatan correctio fraterna di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo dapat menunjang pendidikan karakter seminaris. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan studi kasus tunggal. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah wawancara, observasi dan studi  dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa correctio fraterna menjadi kegiatan wajib dalam program pendidikan di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II. Kegiatan ini dilakukan dalam kelompok kecil yang beranggotakan 5-6 orang. Setiap anggota di dalam kelompok saling memberikan koreksi satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan beberapa aspek pembinaan di seminari, seperti kerohanian, intelektual, kesehatan, kedisiplinan, kerja dan olahraga, relasi sosial, dan pelayanan. Nilai-nilai karakter peserta didik yang dapat dibangun dari kegiatan ini adalah kejujuran, tanggung jawab, kerendahan hati, keterbukaan, dan tanggung jawab. Kegiatan ini juga merupakan faktor penunjang bagi formator dalam mengukur keberhasilan peserta didik. Kajian ini menyimpulkan bahwa correctio fraterna dapat menunjang pembentukan karakter seminaris, sesuai dengan semangat kurikulum seminari dan Kurikulum 2013.  The educational program in the Minor Seminary St. Yohanes Paul II emphasizes the aspects of sanctitas (holiness), scienta (knowledge), sapientia (wisdom), sanitas (health) and solidarity. In achieving all these aspects, correctio fraterna becomes one of the typical seminary education programs. This study aims to determine how the activities related to correctio fraterna in Middle Seminary of St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo, can support seminarian character education. The research method is descriptive qualitative, with a single case study approach. The techniques used in collecting data are interviews, observation and document study. The results showed that correctio fraterna became a mandatory activity in the educational program in the St. Yohanes Paul II Middle Seminary. This activity is carried out in a small group of 5-6 people. Each member in the group provides correction (criticism) with one another, relating to several aspects of coaching in the seminary, such as spirituality, intellectual, health, discipline, work and sports, social relations, and service. The character values of students that can be built from this activity are honesty, responsibility, humility, openness, and responsibility. This activity is also a supporting factor for the formator in measuring student success. This study concludes that correctio fraterna can support the formation of seminarian characters, in accordance with the spirit of the seminary curriculum and the 2013 Curriculum.  Program pendidikan di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II menekankan pada aspek sanctitas (kekudusan), Scientia (pengetahuan), Sapientia (kebijaksanaan), sanitas (kesehatan) dan Solidaritas. Untuk mencapai semua aspek tersebut, correctio fraterna menjadi salah satu program pendidikan di seminari yang khas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kegiatan correctio fraterna di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo dapat menunjang pendidikan karakter seminaris. Metode penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, dengan pendekatan studi kasus tunggal. Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data adalah wawancara, observasi dan studi  dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa correctio fraterna menjadi kegiatan wajib dalam program pendidikan di Seminari Menengah St. Yohanes Paulus II. Kegiatan ini dilakukan dalam kelompok kecil yang beranggotakan 5-6 orang. Setiap anggota di dalam kelompok saling memberikan koreksi satu dengan yang lainnya, berkaitan dengan beberapa aspek pembinaan di seminari, seperti kerohanian, intelektual, kesehatan, kedisiplinan, kerja dan olahraga, relasi sosial, dan pelayanan. Nilai-nilai karakter peserta didik yang dapat dibangun dari kegiatan ini adalah kejujuran, tanggung jawab, kerendahan hati, keterbukaan, dan tanggung jawab. Kegiatan ini juga merupakan faktor penunjang bagi formator dalam mengukur keberhasilan peserta didik. Kajian ini menyimpulkan bahwa correctio fraterna dapat menunjang pembentukan karakter seminaris, sesuai dengan semangat kurikulum seminari dan Kurikulum 2013.  The educational program in the Minor Seminary St. Yohanes Paul II emphasizes the aspects of sanctitas (holiness), scienta (knowledge), sapientia (wisdom), sanitas (health) and solidarity. In achieving all these aspects, correctio fraterna becomes one of the typical seminary education programs. This study aims to determine how the activities related to correctio fraterna in Middle Seminary of St. Yohanes Paulus II Labuan Bajo, can support seminarian character education. The research method is descriptive qualitative, with a single case study approach. The techniques used in collecting data are interviews, observation and document study. The results showed that correctio fraterna became a mandatory activity in the educational program in the St. Yohanes Paul II Middle Seminary. This activity is carried out in a small group of 5-6 people. Each member in the group provides correction (criticism) with one another, relating to several aspects of coaching in the seminary, such as spirituality, intellectual, health, discipline, work and sports, social relations, and service. The character values of students that can be built from this activity are honesty, responsibility, humility, openness, and responsibility. This activity is also a supporting factor for the formator in measuring student success. This study concludes that correctio fraterna can support the formation of seminarian characters, in accordance with the spirit of the seminary curriculum and the 2013 Curriculum.   &nbsp

    PEDOMAN PENULISAN

    No full text
    --&nbsp

    PEDOMAN PENULISAN, INDEKS

    No full text
    IndeksIndeks&nbsp

    PEMANFAATAN RUMAH BELAJAR PADA SEKOLAH TERDAMPAK BENCANA GEMPA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan dan kendala pemanfaatan Rumah Belajar di sekolah terdampak bencana. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel adalah guru-guru sekolah di NTB peserta Program Pembelajaran Berbasis TIK (Pembatik) level 2 dan Level 3 yang telah dilaksanakan oleh Pustekkom pada tahun 2019. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kesiapan sekolah dalam pemulihan sarana prasarana TIK, kompetensi guru dan literasi TIK siswa dalam kategori siap, 2) bentuk pemanfaatan Rumah Belajar di sekolah terdampak bencana meliputi: pemanfaatan rumah belajar secara daring (online); sumber belajar adalah fitur yang paling sering dimanfaatkan guru; jenis konten video dan BBI (Bahan Belajar Interaktif)  yang banyak disukai siswa; serta dalam memanfaatkan rumah belajar masih dominan menggunakan metode ceramah; 3) Beberapa rekomendasi upaya peningkatan pemanfaatan rumah belajar di sekolah terdampak bencana, perlunya meningkatkan: dukungan kesiapan sekolah, guru, dan siswa dalam memanfaatkan rumah belajar, ketersediaan konten game untuk healing therapy, jumlah dan variasi konten-konten mitigasi bencana serta meningkatkan sinergi kolaborasi antarsekolah, pemerintah, masyarakat serta stakeholder dalam pemanfaatan rumah belajar di sekolah-sekolah yang terdampak bencana. Rumah Belajar dapat menjadi solusi pembelajaran di daerah bencana. Belajar dapat dilakukan di rumah seperti saat darurat pandemi Covid-19.  This study aims to determine the application and constraints of the use of learning application (Rumah Belajar) in schools affected by disasters. The research uses a quantitative descriptive approach. The sample is school teachers in NTB participating in Level 2 and Level 3 ICT-Based Learning Programs (PembaTIK) that have been implemented by Pustekkom in 2019. Data collection uses questionnaires, observation and limited interviews. The results show that: 1) school readiness in the restoration of ICT infrastructure, teacher competence and ICT literacy of students are in the ready category, 2) forms of utilization of Rumah Belajar in schools affected by disasters include: utilization of online of Rumah Belajar; learning resources are the features most often used by teachers; the type of video content and interactive learning content (BBI) that many students like; as well as in utilizing the Rumah Belajar is still dominant using the lecture method; 3) Some recommendations for efforts to increase the use of Rumah Belajar in schools affected by disasters, the need to improve: support the readiness of schools, teachers, and students in utilizing of Rumah Belajar, the availability of game content for healing therapies, the number and variety of disaster mitigation content and increase the synergy of collaboration between schools, government, communities and stakeholders in the use of learning houses in schools affected by disasters. To conclude, the Rumah Belajar can be a learning solution in disaster areas. Learning can be done at home such as during the Covid-19 pandemic emergency.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan dan kendala pemanfaatan Rumah Belajar di sekolah terdampak bencana. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Sampel adalah guru-guru sekolah di NTB peserta Program Pembelajaran Berbasis TIK (Pembatik) level 2 dan Level 3 yang telah dilaksanakan oleh Pustekkom pada tahun 2019. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi dan wawancara terbatas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) kesiapan sekolah dalam pemulihan sarana prasarana TIK, kompetensi guru dan literasi TIK siswa dalam kategori siap, 2) bentuk pemanfaatan Rumah Belajar di sekolah terdampak bencana meliputi: pemanfaatan rumah belajar secara daring (online); sumber belajar adalah fitur yang paling sering dimanfaatkan guru; jenis konten video dan BBI (Bahan Belajar Interaktif)  yang banyak disukai siswa; serta dalam memanfaatkan rumah belajar masih dominan menggunakan metode ceramah; 3) Beberapa rekomendasi upaya peningkatan pemanfaatan rumah belajar di sekolah terdampak bencana, perlunya meningkatkan: dukungan kesiapan sekolah, guru, dan siswa dalam memanfaatkan rumah belajar, ketersediaan konten game untuk healing therapy, jumlah dan variasi konten-konten mitigasi bencana serta meningkatkan sinergi kolaborasi antarsekolah, pemerintah, masyarakat serta stakeholder dalam pemanfaatan rumah belajar di sekolah-sekolah yang terdampak bencana. Rumah Belajar dapat menjadi solusi pembelajaran di daerah bencana. Belajar dapat dilakukan di rumah seperti saat darurat pandemi Covid-19.  This study aims to determine the application and constraints of the use of learning application (Rumah Belajar) in schools affected by disasters. The research uses a quantitative descriptive approach. The sample is school teachers in NTB participating in Level 2 and Level 3 ICT-Based Learning Programs (PembaTIK) that have been implemented by Pustekkom in 2019. Data collection uses questionnaires, observation and limited interviews. The results show that: 1) school readiness in the restoration of ICT infrastructure, teacher competence and ICT literacy of students are in the ready category, 2) forms of utilization of Rumah Belajar in schools affected by disasters include: utilization of online of Rumah Belajar; learning resources are the features most often used by teachers; the type of video content and interactive learning content (BBI) that many students like; as well as in utilizing the Rumah Belajar is still dominant using the lecture method; 3) Some recommendations for efforts to increase the use of Rumah Belajar in schools affected by disasters, the need to improve: support the readiness of schools, teachers, and students in utilizing of Rumah Belajar, the availability of game content for healing therapies, the number and variety of disaster mitigation content and increase the synergy of collaboration between schools, government, communities and stakeholders in the use of learning houses in schools affected by disasters. To conclude, the Rumah Belajar can be a learning solution in disaster areas. Learning can be done at home such as during the Covid-19 pandemic emergency. &nbsp

    PERSEPSI GURU SENIOR TERHADAP PEMBELAJARAN TEMATIK PADA PENDIDIKAN ANAK USIA DINI DI SALATIGA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi guru-guru senior terhadap pembelajaran tematik dalam pendidikan anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer persepsi guru-guru senior mengenai pembelajaran tematik. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah pedoman wawancara, dokumen RPPH, dan catatan observasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis fenomenologi interpretatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa, pertama, guru-guru senior mempunyai persepsi bahwa pembelajaran tematik bukan hal yang baru didalam PAUD dan tematik adalah ciri khas dari pembelajaran di PAUD.  Kedua, guru-guru senior mempersepsi bahwa pembelajaran tematik yang sekarang lebih banyak menggunakan benda nyata. Guru-guru senior mencampuradukkan konsep pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik. Ketiga, para guru mempersepsikan bahwa student-centered merupakan ciri khas pembelajaran tematik yang sekarang.  Namun, pada prakteknya mereka belum sepenuhnya dapat menerapkannya dalam pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran tematik dipersepsi guru sebagai pendekatan pembelajaran yang sudah lama mereka ketahui tetapi pada prakteknya mereka belum mempersepsikan dan mempraktekan pembelajaran tematik sebagaimana mestinya. This research aimed to obtain senior teachers’ perception about thematic learning in early childhood education. The method used in this research was descriptive qualitative with phenomenology research paradigm. The data  used in this research was the primary data of teachers’ perception about thematic learning. Instrument used to collect the data were guided interview, lesson plans, and observation notes. Data analysis was performed by using interpretative phenomenology analysis. The results showed that, first, the senior teachers perceived that thematic learning was not a new issue in early childhood education. Further, they perceived thematic learning was one of the characteristics of the early childhood education. Second, they perceived the current thematic learning in terms of real objects presence. They mixed the concept of thematic learning with scientific approach. Third, they perceived that  student-centered is one of the characteristics of current thematic learning. Nonetheless, they remained unable to accordingly apply it in learning. In summary, thematic learning have been perceived by teachers as a learning approach, however,  they have not perceived and practiced it in learning properly.Penelitian ini bertujuan untuk menggali persepsi guru-guru senior terhadap pembelajaran tematik dalam pendidikan anak usia dini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer persepsi guru-guru senior mengenai pembelajaran tematik. Instrumen yang digunakan untuk pengambilan data adalah pedoman wawancara, dokumen RPPH, dan catatan observasi. Data yang terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis fenomenologi interpretatif. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa, pertama, guru-guru senior mempunyai persepsi bahwa pembelajaran tematik bukan hal yang baru didalam PAUD dan tematik adalah ciri khas dari pembelajaran di PAUD.  Kedua, guru-guru senior mempersepsi bahwa pembelajaran tematik yang sekarang lebih banyak menggunakan benda nyata. Guru-guru senior mencampuradukkan konsep pembelajaran tematik dengan pendekatan saintifik. Ketiga, para guru mempersepsikan bahwa student-centered merupakan ciri khas pembelajaran tematik yang sekarang.  Namun, pada prakteknya mereka belum sepenuhnya dapat menerapkannya dalam pembelajaran. Dengan demikian, pembelajaran tematik dipersepsi guru sebagai pendekatan pembelajaran yang sudah lama mereka ketahui tetapi pada prakteknya mereka belum mempersepsikan dan mempraktekan pembelajaran tematik sebagaimana mestinya. This research aimed to obtain senior teachers’ perception about thematic learning in early childhood education. The method used in this research was descriptive qualitative with phenomenology research paradigm. The data  used in this research was the primary data of teachers’ perception about thematic learning. Instrument used to collect the data were guided interview, lesson plans, and observation notes. Data analysis was performed by using interpretative phenomenology analysis. The results showed that, first, the senior teachers perceived that thematic learning was not a new issue in early childhood education. Further, they perceived thematic learning was one of the characteristics of the early childhood education. Second, they perceived the current thematic learning in terms of real objects presence. They mixed the concept of thematic learning with scientific approach. Third, they perceived that  student-centered is one of the characteristics of current thematic learning. Nonetheless, they remained unable to accordingly apply it in learning. In summary, thematic learning have been perceived by teachers as a learning approach, however,  they have not perceived and practiced it in learning properly

    EKSISTENSI PERMAINAN TRADISIONAL PADA GENERASI DIGITAL NATIVES DI LUWU RAYA DAN PENGINTEGRASIANNYA KE DALAM PEMBELAJARAN

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah permainan tradisional yang masih dilestarikan di Luwu Raya, faktor penyebab permainan tradisional tidak diminati oleh anak digital natives, serta desain pembelajaran yang sesuai untuk menjadikan permainan tradisional sebagai sarana edukatif untuk melestarikan budaya bangsa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Responden dalam penelitiain ini adalah 155 anak usia sekolah dasar yang ada di empat kabupaten wilayah Luwu Raya. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan angket. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan cara reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima belas permainan tradisional yang masih dilestarikan di Luwu Raya dari total 25 permainan tradisional yang ada di Sulawesi Selatan. Penyebab anak-anak tidak memainkan lagi permainan tradisional adalah karena kekurangan teman bermain, bertengkar atau berbeda pendapat dengan sesama pemain, kekurangan alat bermain, tidak tertarik lagi dengan permainan tradisional, dilarang oleh orang tua dan warga sekitar, serta kelelahan saat bermain. Desain pembelajaran yang sesuai adalah memilih karakteristik permainan yang dapat menunjang pencapaian kompetensi dasar siswa dan mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran dengan menjadikannya sebagai metode dan media pembelajaran. Kesimpulan, ada beberapa permainan tradisional yang masih dimainkan oleh anak-anak di wilayah Luwu Utara dan salah satu upaya untuk melestarikannya adalah dengan mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam pembelajaran.  This study aims to determine the number of traditional games that are still preserved by the children in Luwu Raya; factors that cause digital natives children do not like this traditional game, and learning design suit to make traditional game as an educational means to preserve the nation’s culture. This research used a qualitative approach with a descriptive type. This research used a qualitative approach with a descriptive type. Respondents in this study were 155 children of primary school age in four districts of Luwu Raya. Data collection methods using interviews, observation, and questionnaires. The data obtained were then analyzed by means of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results showed that there were fifteen traditional games that are still preserved by children in Luwu Raya from a total of twenty five traditional games in South Sulawesi. Children stop playing the traditional game is due to the lack of friends to play with, fight or disagree with fellow players, lack of playing tools, no longer interested in traditional games, prohibited by parents and local residents, and fatigue when playing. To find the appropriate learning design is by selecting traditional games with characteristics that can support the achievement of students’ basic competencies and integrate them into learning by making it as the learning method and media. To sum up, several traditional games are still played by digital natives’ children in the North Luwu region and one of the efforts to preserve them is by integrating traditional games into learning.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah permainan tradisional yang masih dilestarikan di Luwu Raya, faktor penyebab permainan tradisional tidak diminati oleh anak digital natives, serta desain pembelajaran yang sesuai untuk menjadikan permainan tradisional sebagai sarana edukatif untuk melestarikan budaya bangsa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe deskriptif. Responden dalam penelitiain ini adalah 155 anak usia sekolah dasar yang ada di empat kabupaten wilayah Luwu Raya. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara, observasi, dan angket. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan cara reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat lima belas permainan tradisional yang masih dilestarikan di Luwu Raya dari total 25 permainan tradisional yang ada di Sulawesi Selatan. Penyebab anak-anak tidak memainkan lagi permainan tradisional adalah karena kekurangan teman bermain, bertengkar atau berbeda pendapat dengan sesama pemain, kekurangan alat bermain, tidak tertarik lagi dengan permainan tradisional, dilarang oleh orang tua dan warga sekitar, serta kelelahan saat bermain. Desain pembelajaran yang sesuai adalah memilih karakteristik permainan yang dapat menunjang pencapaian kompetensi dasar siswa dan mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran dengan menjadikannya sebagai metode dan media pembelajaran. Kesimpulan, ada beberapa permainan tradisional yang masih dimainkan oleh anak-anak di wilayah Luwu Utara dan salah satu upaya untuk melestarikannya adalah dengan mengintegrasikan permainan tradisional ke dalam pembelajaran. This study aims to determine the number of traditional games that are still preserved by the children in Luwu Raya; factors that cause digital natives children do not like this traditional game, and learning design suit to make traditional game as an educational means to preserve the nation’s culture. This research used a qualitative approach with a descriptive type. This research used a qualitative approach with a descriptive type. Respondents in this study were 155 children of primary school age in four districts of Luwu Raya. Data collection methods using interviews, observation, and questionnaires. The data obtained were then analyzed by means of reduction, presentation, and drawing conclusions. The results showed that there were fifteen traditional games that are still preserved by children in Luwu Raya from a total of twenty five traditional games in South Sulawesi. Children stop playing the traditional game is due to the lack of friends to play with, fight or disagree with fellow players, lack of playing tools, no longer interested in traditional games, prohibited by parents and local residents, and fatigue when playing. To find the appropriate learning design is by selecting traditional games with characteristics that can support the achievement of students’ basic competencies and integrate them into learning by making it as the learning method and media. To sum up, several traditional games are still played by digital natives’ children in the North Luwu region and one of the efforts to preserve them is by integrating traditional games into learning

    VOL. 5 NO.2 (2020)

    No full text
    VOL. 5 NO.2 (2020) VOL. 5 NO.2 (2020

    HUBUNGAN PEMAHAMAN TEORI EVOLUSI DAN TINGKAT RELIGIOSITAS DENGAN PENERIMAAN TEORI EVOLUSI (Studi pada Mahasiswa Pendidikan Biologi Universitas Negeri Jakarta)

    Full text link
    Many people, including academics do not consider the theory of evolution as a valid scientific theory so that the rejection of the theory of evolution emerges. The preference of Biology teacher for teaching evolution in the classroom is determined by the acceptance of such controversial topic. Indonesia as a Muslim-majority nation has implemented four core competencies (religious, social, knowledge, and skill) to be achieved by students in each lesson. Biology Education students who understand the theory of evolution in the future is expected to not avoid teaching evolution by excuse that evolution contradicts religious tenet. This study aimed to determine the correlation of evolutionary theory understanding and religiosity with evolutionary theory acceptance in Biology Education students who believe in Islam. Research conducted at State University of Jakarta in September-December 2018. The method used was a correlational survey. Data were analyzed using multiple correlation coefficient significance test. The results showed that there was a significant positive correlation of evolutionary theory understanding and religiosity with evolutionary theory acceptance. Therefore, evolution course taken by Biology Education students was needed to aware of clear understanding about evolutionary theory. In addition, educators need wide insight to not consider religiosity and evolutionary acceptance were in opposite.AbstrakBanyak orang termasuk akademisi tidak menganggap teori evolusi sebagai teori ilmiah yang valid sehingga timbul penolakan terhadap teori evolusi. Adapun kecenderungan guru Biologi untuk mengajarkan materi evolusi dalam kelas ditentukan oleh penerimaan terhadap materi kontroversial tersebut. Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim menerapkan empat kompetensi inti (religius, sosial, pengetahuan, dan keterampilan) untuk dicapai siswa dalam tiap materi pembelajaran. Mahasiswa Pendidikan Biologi yang memahami teori evolusi di kemudian hari diharapkan tidak menghindar dalam mengajarkan evolusi dengan dalih evolusi kontradiksi terhadap ajaran agama. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pemahaman teori evolusi dan tingkat religiositas dengan penerimaan teori evolusi pada mahasiswa Pendidikan Biologi yang beragama Islam. Metode yang digunakan adalah survei korelasional. Penelitian dilaksanakan di Universitas Negeri Jakarta pada September-Desember 2018. Data dianalisis dengan uji signifikansi koefisien korelasi berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif signifikan antara pemahaman teori evolusi dan tingkat religiositas dengan penerimaan teori evolusi. Oleh karena itu, pembelajaran evolusi terhadap mahasiswa Pendidikan Biologi perlu memperhatikan pemahaman mendalam tentang teori evolusi. Di samping itu, pengajar perlu berwawasan luas agar tidak menganggap religiositas dan penerimaan teori evolusi bertolak belakang

    INKLUSIVITAS PROGRAM INDONESIA PINTAR: STUDI KASUS PELAKSANAANNYA BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS DI LIMA DAERAH

    Full text link
    Program Indonesia Pintar (PIP), literally translated as Smart Indonesia Program, is one of the Jokowi administration’s strategic programs as the form of the 5th Nawacita or priority in Sanskrit words, and it applies in education and sector. The effectiveness of this conditional cash transfer program in education sector has been the subject of many studies. However, none of those studies discusses its fitness to special needs children (SNC) in the national school system. This is against the fact that SNC are the most susceptible to poverty and lower school participation as many studies have revealed. To meet such literature gap, this article analyzes the ways SNC are being included into the PIP system, by focusing on three issues: extent, easiness, and expedience. Using secondary data analysis, focused group discussions and semi-structured interviews in five local administrations, the study found that only a handful of SNC were registered as the program recipients; local governments varied in their initiatives to improve the PIP service quality; and there was a significant shortfall of PIP grant in covering the actual SNC personal cost. Despite several initiatives the central government has made to put SNC into the system, the study indicated the existing system is yet to be entirely sensitive to the specific conditions of SNC. Therefore, the article recommends a number of policy options to transform PIP to be a more inclusive conditional cash transfer program.AbstrakProgram Indonesia Pintar (PIP) merupakan salah satu program strategis Pemerintah Jokowi-JK sebagai perwujudan nawacita kelima dalam sektor pendidikan. Beberapa kajian sudah dilakukan mengenai efektivitas program bantuan tunai bersyarat ini, namun tidak banyak yang menyinggung bagaimana prioritas ini melayani anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Padahal, berbagai studi telah menunjukkan bahwa ABK merupakan kelompok yang paling rentan terhadap rendahnya partisipasi pendidikan dan ancaman kemiskinan. Artikel ini bertujuan mengulas bagaimana pelayanan PIP diberikan bagi para ABK. Tiga aspek pelayanan yang menjadi fokus mencakup jangkauan, kemudahan, dan kemanfaatan. Menggunakan teknik analisis data sekunder, diskusi kelompok terpumpun, dan wawancara terstruktur yang melibatkan informan di lima kabupaten/kota. Studi ini menemukan bahwa PIP hanya menjangkau sebagian kecil ABK di sekolah, tingkat inisiatif Pemerintah Daerah yang beragam dalam mempermudah layanan PIP bagi ABK, dan adanya selisih yang cukup besar antara besaran manfaat PIP dan biaya personal riil ABK. Meski diakui bahwa Pemerintah telah berupaya memasukkan ABK ke dalam sistem PIP, namun hasil penelitian mengisyaratkan sistem yang ada belum sepenuhnya peka terhadap kekhususan ABK. Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan sejumlah opsi kebijakan yang dapat menjadikan PIP sebagai suatu sistem bantuan tunai bersyarat yang lebih inklusif

    HEUTAGOGI SEBAGAI PENDEKATAN PELATIHAN BAGI GURU DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0

    Full text link
    The role of teachers in the era of the industrial revolution 4.0 is not only as a giver of knowledge, but also as a life-long learners, learning leaders, instructors of learning resources, network former, and communication opener. These roles are inseparable from the demands of rapid change in all areas. Therefore, to adjust with the rapid changes, teachers must learn all the time throughout life. To achieve these roles, it is important to design about such updating teacher competencies’ training approaches that fit to the challenges of the 21st century. This study aims (1) to reveal the challenges of the industrial revolution 4.0 for teachers; and (2) offers the heutagogical approach to teacher training along with the outline its implementation steps. The study was carried out by analysing literatures comprehensively, referring to books, journals, and conference articles to answer the objectives of the study. The results of the study revealed that: (1) teachers faced major challenges to present interesting learning that fit with the conditions of millennial students and the challenge of responding to learning issues related to behavior, methods, and learning processes; (2) training programs with heutagogical approach need to be considered because it is a self-determined learning and and its implementation steps is by strengthening HOTS (Higher Order Thinking Skills) learning, strengthening digital literacy, developing a complete and reliable learning management system platform, and implementing teacher training with a heutagogy approach. To conlude, it is hoped that heutagogy can be an alternative approach of teachers training to produce teachers who are prepared for industrial revolution 4.0 learning challenges.AbstrakPeran guru di era revolusi industri 4.0 tidak hanya sebagai pemberi ilmu, tetapi juga sebagai pembelajar sepanjang hayat, pemimpin pembelajaran, pengarah sumber belajar, pembentuk jaringan, dan pembuka komunikasi. Peran-peran tersebut ini tidak terlepas dari tuntutan perubahan yang sangat cepat di segala ranah. Oleh karena itu, guru harus belajar sepanjang hayat untuk menyesuaikan dengan perubahan. Untuk mencapai peran ini, pemutakhiran kompetensi guru melalui pendekatan pelatihan yang sesuai tantangan abad 21 perlu diwujudkan. Kajian ini bertujuan untuk (1) mengungkapkan tantangan revolusi 4.0 bagi guru; dan (2) menawarkan pendekatan heutagogi dalam pelatihan guru beserta garis besar langkah implementasinya. Kajian dilakukan dengan studi literatur dan menganalisnya secara komprehensif, merujuk pada buku, jurnal, dan artikel konferensi untuk menjawab tujuan kajian. Hasil kajian mengungkapkan: (1) guru menghadapi tantangan besar untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik dan selaras dengan kondisi peserta didik milenial dan tantangan untuk merespon isu-isu pembelajaran yang berkaitan dengan perilaku, metode, dan proses pembelajaran; (2) program pelatihan dengan pendekatan heutagogi perlu dipertimbangkan karena bersifat self-determined learning dengan langkah implementasi melalui penguatan pembelajaran HOTS, penguatan literasi digital, pengembangan platform learning management system yang lengkap dan handal, serta penerapan pelatihan guru dengan pendekatan heutagogi. Oleh sebab itu, heutagogi dapat menjadi alternatif pendekatan pelatihan guru untuk menghasilkan guru yang sadar akan peran pentingnya pada pembelajaran era revolusi industri 4.0

    424

    full texts

    555

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇