Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
    235 research outputs found

    IDENTITAS BUDAYA HIBRID DALAM TIGA CERPEN PENGARANG AFRIKA DALAM BUKU KUMPULAN CERPEN L’EUROPE VUE D’AFRQUE (Identity of Hybrid Culture in Three Short Stories of African Authors in the Book of the Short Story Collection “L’Europe Vue D’afrque”)

    Full text link
    Tulisan ini ditujukan untuk mengungkapkan identitas budaya hibrid yang ditampilkan dalam tiga cerpen yang ditulis oleh pengarang Afrikadalam buku kumpulan cerpen L’Europe Vue D’Afrique (Eropa dilihat  Afrika). Tiga cerpen itu berjudul ”Femme de Gouverneur” (LFG) karya Ken Bugul, “La Bibliothèque d’Ernst” (LBE) karya Patrice Nganang, dan “Âllo” karya Aziz Chouaki. Identitas budaya hibrid itu tercermin melalui pandangan Eropasentris para tokoh utama dan mimikriyang mereka lakukan sebagai individu hibrid (Afrika-Eropa). Homi Bhabha (1994) dalam The Location of Culture, mengungkapkan bahwa konsep mimikri tidak berarti sepenuhnya meniru karena terkandung juga unsur mengejek (mockery). Oleh karena itu, budaya hibrid yang muncul itu dapatdianggap sebagai senjata untuk meresistensi pengaruh budaya Eropa pada diri mereka, juga untuk mengkritik pengaruh budaya Eropa yang selama ini telah dianggap baik oleh masyarakat Afrika.Abstract: This paper  aims  to describe the hybrid cultural identity shown in three short stories, which were written by African authors in the book of the short story collection “L’Europe Vue D’Afrique”. The three short stories are Ken Bugul’s La Femme de Gouverneur (LFG), Patrice Nganang’s La Bibliothèque d’Ernst (LBE) , and Aziz Chouaki’s Allo. The hybrid cultural identity is reflected through the Eurocentric perspective and mimicry of the main character as individual hybrid (African-European). Homi Bhabha (1994) in “The Location of Culture” describes that the concept of mimicry not only   mimics something but also contains mockery. Therefore, the hybrid culture represented in the short stories can be considered  a weapon to resist the influence of European culture on them and to criticize the influence of European culture, which has been considered superior by the African society

    NEGOSIASI BUDAYA DAN DIALEKTIKA KEKUASAAN DALAM DISKURSUS (POS)KOLONIAL: DISKUSI TENTANG A BACKWARD PLACE KARYA R. P. JHABVALA (Cultural Negotiation and Power Dialectics in (Post)Colonial Discourse: A Discussion on R. P. Jhabvala’s A Backward Place)

    Full text link
    Penyajian sejumlah teks sastra poskolonial berusaha mengubah citra dunia ketiga dalam dikotomi kaku dunia pertama/dunia ketiga, namun malah menunjukkan apa yang disebut Bhabha colonial mimicry di mana permasalahan ‘nativism’ justru mengasingkan isu identitas (origin) dan membentuk situs kekuasaan baru (Gandhi, 1998). Karya-karya Ruth Prawer Jhabvala, khususnya novel A Backward Place, mengindikasikan gejala tersebut. Esai ini membahas negosiasi budaya dan dialektika kekuasaan yang mengaburkan batasan-batasan biner kerangka pemikiran kolonial. Pendekatan yang  digunakan dalam analisis adalah pendekatan poskolonial. Analisis dalam esai ini berfokus pada persilangan kedua ideologi yang bertentangan pada ranah publik dan pada ranah domestik. Esai terlebih dahulu memetakan relasi kuasa di antara pribumi dan ekspatriat dalam narasi. Selanjutnya, negosiasi budaya dan dialektika kekuasaan dibahas berdasarkan pemetaan tersebut. Persilangan dua ideologi yang bertentangan dalam pemetaan kekuasaan yang sudah dianalisis menghasilkan narasi yang ambivalen.Abstract:  Many of postcolonial texts attempts to change the third world image within the rigid dichotomy first world/third world. However, their presentation ended up being what Bhabha called colonial mimicry in which the problem of ‘nativism’ alienates orginal identity and creates a new power site (Gandhi, 1998). Ruth Prawer Jhabvala’s works, specifically the novel A Backward Place, indicate the exact symptoms. This essay discusses cultural negotiation that blur boundaries between colonial dichotomy using postcolonial approach. Analysis focuses on the crossings of two contradicting ideologies both in public and domestic spheres.  First, power relation between the natives and expatriats in the narrative is mapped. Second, cultural negotiation and power dialectics is discussed based on that power relation mapping. The crossings of two conflicting ideologies is making the narrative ambivalent

    Panduan Penulisan

    No full text

    MUSLIM KELAS MENENGAH DALAM TIGA PUISI MUSTOFA BISRI (Middle Class Muslim in Three Poetries by Mustofa Bisri)

    Full text link
    Sebagaimana gejala sosial lainnya, gejala muslim kota juga tak luput dari sorotan para sastrawan yang kemudian merekam sekaligus menanggapinya dalam bentuk karya sastra, termasuk puisi. Beberapa puisi karya Mustofa Bisri merupakan puisi-puisi yang dengan kuat merekam dan menanggapi gejala muslim kelas menengah. Penelitian ini akan menelaah bagaimana muslim kelas menengah digambarkan dan bagaimana latar sosial penyair turut membentuk tanggapan tertentu terhadapnya. Pendekatan yang digunakan adalah sosiologi sastra; menyorot karya dengan memerhatikan aspek realitas sosial di luar karya dan ideologi serta posisi sosial penyairnya sehingga ketiga puisi Mustofa Bisri bisa dilihat sebagai refleksi penyair atas gejala simbolisasi yang tidak ada pengembangan dan penemuan baru. Selain itu, dari segi pembaca, puisi Mustofa Bisri bisa dilihat sebagai kampanye anti-radikalisasi Islam sekaligus imbauan kepada umat Islam.AbstrakLike other social phenomena, the muslims in cities are also not missed from the spotlight of writers who then record and respond in the form of literary works, including poetry. Some of the poems by Mustofa Bisri strongly record and respond to middle-class muslim phenomena. This research examines how middle class muslims are portrayed and how the social background of the poets has shaped a certain responses to it. The approach used is the sociology of literature; highlighting the work by looking at the aspects of social reality beyond the work and ideology and social position of his poems. Hence, the three poems of Mustofa Bisri can be seen as a poet’s reflection on the symptom of symbolization with no new development and discovery. In addition, in terms of readers, Mustofa Bisri’s poem can be seen as a campaign of anti-radicalization of Islam as well as an appeal to muslims

    SURAT BALASAN SULTAN SEPUH VII CIREBON UNTUK RAFFLES: KAJIAN STRUKTURALISME GENETIK (Reply Letter from the 7th Sultan Sepuh of Cirebon to Raffles: Genetic Structuralism Approach)

    Full text link
    Pada 26 April 1811, Sultan Sepuh VII Cirebon menerima surat dari Thomas Stamford Raffles yang dibawa oleh Tengku Pangeran Sukma Dilaga. Melalui surat tertanggal 19 Desember 1810 itu, Raffles menyatakan keinginan Inggris untuk menduduki pulau Jawa. Ia berjanji tidak akan memperlakukan para penguasa (dan rakyat) secara kejam, sebagaimana orang-orang Belanda dan Prancis. Sultan Sepuh VII pun menulis surat balasan yang menyatakan bahwa dirinya merestui rencana Inggris. Surat inilah yang menjadi objek dalam penelitian ini. Penulis terlebih dahulu mengkaji naskah dan teks surat tersebut menggunakan metode kajian filologi. Selanjutnya, penulis mengkaji isi teks dengan menggunakan teori strukturalisme genetik. Teori itu meniscayakan penganalisisan segala sesuatu di luar teks, termasuk kondisi sosial, yang melatarbelakangi penciptaan sebuah karya sastra (dalam hal ini teks surat). Hasil penelitian menunjukkan, surat balasan yang berisi restu terhadap rencana Inggris tersebut merupakan respons Sul- tan Sepuh VII karena sudah tak lagi kuat menanggung beban dari pemerintah kolonial Belanda Prancis.Abstract:  On April 26th 1811, the 7th  Sultan Sepuh of Cirebon received a letter from Thomas Stamford Raffles brought by Tengku Pangeran Siak. By letter dated December 19th, 1810, Raffles expressed his plan to occupy  Java island. He promised not to treat the rulers (and  their people) cruelly, as the Dutch and French did. The Sultan wrote a reply stating that he approved the British plan. The reply letter is the object of this research. Firstly, the writer examined the text of the letter by using the philological approach.  Secondly, the writer reviewed it by using the genetic structuralism theory. The theory  focuses on analyzing everything beyond the text, including the social conditions,  underlying  the creation of a literary work (the text of the letter taken as a source of data in the study). The result of the research reveals that  the  letter containing the Sultan’s blessing to the British plan was his response  as he could no longer endure the burden from the Dutch-French colonial government.

    PERAN DAN TANGGUNG JAWAB MAMAK DALAM KELUARGA: TINJAUAN TERHADAP NOVEL SALAH ASUHAN KARYA ABDOEL MOEIS (The Role and Responsibility of Mamak in Family: Review of Abdoel Moeis’ “Salah Asuhan”)

    Full text link
    Sistem kekerabatan masyarakat Minangkabau menganut sistem matrilineal yang mengatur kehidupan dan ketertiban suatu masyarakat yan terikat pada jalinan kekerabatan dalam garis keturunan ibu. Sistem matrilineal dalam masyarakat Minangkabau membuat mamak memiliki kewajiban dan tanggung jawab yang besar terhadap kemenakannya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan realitas pandangan Abdoel Moeis dalam novel Salah Asuhan tentang peran mamak dalam tata pernikahan. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif untuk memahami persoalan nilai budaya tradisional yang berlangsung secara turun-temurun, bahkan hingga pada masa kini. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada satu sisi pengarang menyukai pengorbanan mamak sebagai suatu realisasi dari tanggung jawabnya terhadap kemenakannya, seperti pengorbanan Sutan Batuah dalam membantu biaya sekolah Hanafi. Pada sisi lain, melalui tokoh Hanafi, tokoh mamak hanya penyebab ketidakbebasan generasi muda untuk menentukan jodoh atau pasangan hidupnya. Novel Salah Asuhan sarat akan nilai-nilai kehidupan seputar sistem kekerabatan. Peran dan tanggung jawab ninik mamak dan orang tua terkesan tergugat dari sudut pandang kehidupan modern sekarang ini. Melalui novel ini dikatakan bahwa pemaknaan adat-istiadat Minangkabau yang meliputi wujud kebudayaan, kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan peraturan berperan sebagai pengendali perilaku warga masyarakat, khususnya dalam hal pernikahan dan/atau pernikahan yang diadatkan.AbstrakThe kinship system of the Minangkabau community embraces a matrilineal system controlling the life and order of a society connected to the kinship network in the matrilineal lineage.The matrilineal system in the community makes the mamak has a great obligation and responsibility for her nephews. The aim of this research is to describe Abdoel Moeis’s view in “Salah Asuhan” novel about the role of the mamak in a marriage arrangement. This study uses a descriptive qualitative method in order to understand the problem of traditional cultural values which has been held from generation to generation, even to the present day.The result of the research indicates that, in one hand, the author understands the sacrifice of the mamak as the realization of his responsibility for her nephews, as the sacrifice of Sutan Batuah in helping Hanafi’s tuition fees. On the other hand, through Hanafi’s character, the mamak’s is just the cause of the young generations’ lack of freedom to choose their spouses. “Salah Asuhan” is full of values of life around the kinship system. The role and responsibility of ninik mamak and parents seems defendant from modern life point of view. Through this novel, the author shows that the meaning of Minangkabau customs includes the form of culture, complex of ideas, concepts, values, norms, and roles that act as controller the people behavior, especially in marriage and/or customarymarriage

    “SI DAYANG RINDU TUNANG RAJA PALEMBANG”: MORFOLOGI VLADIMIR PROPP (“Si Dayang Rindu Tunang Raja Palembang”: Morphology of Vladimir Propp)

    Full text link
    “Si Dayang Rindu Tunang Raja Palembang” adalah cerita rakyat dari Provinsi Lampung yang sangat menarik untuk dikaji. Cerita ini menarik dikaji karena cerita ini menyebar di berbagai provinsi yang ada di Pulau Sumatera. Setiap provinsi dengan ciri khas masing-masing menyajikan cerita “Dayang Rindu” yang berbeda. Dengan menggunakan teori Vladimir Propp ini (fungsi pelaku, skema, pola cerita, dan cara pengenalan pelaku), keunikan dan kekhasan bentuk sastra lisan tersebut mampu terungkap. Fungsi yang ditemukan dalam cerita ini berjumlah 13 dengan skema (α) : ξ A D θ a ε E H I V L Q N: (X). Cerita “Si Dayang Rindu Tunang Raja Palembang” hanya memiliki empat lingkaran tindakan, yaitu penjahat, pahlawan, putri, dan donor. Singa Ralang menjadi pahlawan dalam cerita ini. Ia berjuang keras menyelamatkan Kerajaan Tanjung Iran dan juga melindungi Dayang Rindu dari hasrat Pangeran Riyo, raja Palembang. Ketiga belas fungsi tersebut melibatkan tiga pola keinginan, yaitu menyunting Dayang Rindu, menyerang Tanjung Iran, dan melampiaskan dendam karena malu.Abstract: “Si Dayang Rindu Tunang Raja Palembang” is an oral tradition from Lampung Province, which is interesting to study. The writer is interested to analyze the story as it is well known among people in many provinces in Sumatra. Every province with its characteristic has different types of “Dayang Rindu”. Using Vladimir Propp theory, the writer can reveal the character function, scheme, the pattern of the story, the uniqueness, and the exclusivity of the oral tradition. The character functions found in “Si Dayang Rindu Tunang Raja Palembang” are thirteen with scheme (α): ξ A D θ a ε E H I V L Q N: (X). This story only has four spheres of action, namely, villain, hero, princess, and donor (provider). Singa Ralang became the hero in this story. He fought hard to save the kingdom of Tanjung Iran. He also protected Dayang Rindu from Pangeran Riyo, the King of Palembang. The thirteen functions involve three willingness patterns, namely, marrying Dayang Rindu, attacking Tanjung Iran, and taking revenge for shame

    Petunjuk Penulisan Metasastra Vol 9, No 2, Desember 2016

    No full text

    Abstrak Bahasa Indonesia

    No full text

    THE RED THREAD IN LEILA S. CHUDORI’S NADIRA AND PULANG (Benang Merah dalam Novel Nadira dan Pulang karya Leila S. Chudori)

    Full text link
    Novel Nadira (2015) dan Pulang (2012) karya Leila S. Chudori merupakan dua novel yang dianalisis dalam tulisan ini. Keduanya sama-sama bercerita tentang sebuah keluarga yang berjuang melawan ikatan-ikatan sosial yang kompleks, yang terpusat pada tema-tema cinta yang hilang, kematian orang tua, dan pemikiran idealis sang tokoh utama dalam proses pencarian jati dirinya. Walaupun politik kerap menjadi tema utama dalam karya-karya Leila S. Chudori, kisah- kisah tersebut sejatinya selalu diceritakan melalui perspektif sebuah keluarga. Kajian ini berusaha mencari benang merah dari kedua novel tersebut dengan menggunakan teori intertekstual yang dikemukakan Julia Kristeva dan dengan metode pembacaan cermat (close reading technique). Hasil penelitian merujuk pada perjuangan keluarga yang terdapat dalam kedua novel yang terkait erat dengan struktur  naratif  yang merepresentasikan nilai-nilai budaya kekeluargaan Indonesia dan masih memiliki kecenderungan kental dalam menentukan pilihan hidup seseorang, bahkan seringkali membalik arah hidup mereka.Abstract: Leila S. Chudori’s Nadira (2015) and Pulang (2012) are two novels analyzed in the research. Both  tell the story of a complicated family struggling against social bindings and complexities, centered on the loss of love, the death of a parent figure, and the heroine’s idealistic views the process of finding her true self. Though politics has always been a major force in both of Leila S. Chudori’s most notable works, it is always told from the point of view of a family. This study aims to trace the red thread between those two literary works by applying Julia Kristeva’s intertextual theory and close reading technique in analyzing both novels. The result  of the research shows  that the family struggles contained in both novels are closely related to the narrative structure, which represents the dominant cultural values of Indonesian extended family in determining one’s way of life that often leads to their downfall

    130

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Balai Bahasa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇