Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
PERJUANGAN PEREMPUAN DALAM LEGENDE TELUK WANG: PERSEPSI GENDER (Women’s Struggle in the Legend of Teluk Wang: Gender Perception)
Salah satu bentuk sastra daerah Melayu Jambi adalah Legende Teluk Wang. Legende itu merupakan sastra lisan yang sangat menonjol dalam kehidupan masyarakat sebagai alat untuk mengungkapkan isi hati, menyampaikan maksud atau pikiran, dan menyampaikan suatu keadaan atau situasi yang menurut tradisi budaya harus disampaikan. Legende itu, melalui peran para tokohnya menggambarkan kehidupan perempuan yang berbeda dengan kehidupan perempuan dalam budaya Melayu Jambi jika dipandang dari sisi gender. Untuk itu, penelitian ini bertujuan untuk mengungkap perjuangan perempuan dalam Legende Teluk Wang yang dipandang dari sisi gender dan dikaitkan dengan budaya Melayu Jambi. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan metode analisis isi (content analysis) dan pendekatan semiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, pertama perempuan mendapat kesempatan yang sama untuk memperjuangkan dan mengambil suatu keputusan yang penting, yaitu ikut merintis dan menentukan perkampungan baru; kedua, laki-laki dan perempuan bermitra dalam menjalankan perekonomian keluarga; ketiga, laki-laki dan perempuan mendapat bekal ilmu yang sama dari orang tuanya, seperti mendapat ilmu silat; dan keempat, perempuan dipandang sejajar dengan kaum laki-laki. Dengan demikian, perempuan diberi peran dan kedudukan yang sama dengan kaum laki-laki dalam Legende Teluk Wang.Abstract:One form of Jambi Malay’s literature is the legend of teluk Wang. The legend is an oral literature that is very prominent in public life as a tool to confide, to convey intentions or thoughts, and to express a condition or situation based on cultural traditions that must be delivered. The Legend through the role of the characters depicts different women’s lives from their lives in Jambi Malay culture when viewed from the side of gender. Therefore, this study attempts to reveal the struggle of women in the legend of Teluk Wang viewed from the side associated with gender and Jambi Malay culture. This qualitative study employs content analysis method and semiotic ap- proach. The results indicate four findings: first, the female got the same chance to fight on impor- tant decision, e.g. taking a part in pioneering and determining new settlements; Second, men and women worked together as partners in running the family economy; Third men and women got the same knowledge from their parents, i.e. having martial arts; fourth, women were equally treated to men. In conclusion, in legend of Teluk Wang women had the same role and position as men. Key words: The legend of Teluk Wang, women’s struggle, gender perceptio
STRUKTUR NARATIF SYAIR RIWAYAT NABI MUHAMMAD KARYA KIAI AFIFUDDIN DARI DESA BAKOM KECAMATAN DARMA KUNINGAN (THE NARATIVE STRUCTURE OF KIA AFIFUDDIN’S SYAIR RIWAYAT NABI MUHAMMAD FROM BAKOM VILLAGE DARMA KUNINGAN DISTRICT)
Syair Riwayat Nabi Muhammad (kemudian disingkat SRNM) adalah salah satu dari sekian banyak karya sastra lama yang berbentuk syair. SRNM yang ditemukan di Kabupaten Kuningan ini ditulis dalam bahasa Indonesia dan bahasa Sunda. Di dalam naskah SRNM disisipkan beberapa unsur cerita naratif yang sifatnya mengisi dan melengkapi teks SRNM sehingga membentuk sebuah alur cerita yang utuh. Penelitan ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur naratif dalam SRNM. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deksriptif dengan pendekatan struktural. Dari hasil penelitian diketahui bahwa SRNM termasuk puisi tradisional yang memiliki pola khusus, tetapi struktur naratifnya cukup menonjol. SRNM menarasikan sejarah kehidupan Nabi Muhammad. SRNM juga mengandung data berkaitan dengan penggunaan bahasa Indonesia dan Sunda pada tahun 1947-an. Bila dikaji lebih mendalam, dapat dikatakan bahwa naskah SRNM dipandang sebagai sesuatu yang bernilai dan penting untuk dikaji terutama dari segi bahasa. Bahasa dalam naskah SRNM sarat dengan kebahasaan yang memiliki makna dan bernilai tinggi untuk dijadikan kerangka referensial dalam keilmuan bahasa.Abstract:Syair Riwayat Nabi Muhammad (SRNM) is one of old literary works in the form of poem. SRNM found in Kuningan district was written in both of Indonesian and Sundanese. In the SRNM’s manuscript, there are some narrative stories completing the SRNM ‘s in order to form a storyline intact. The present research attempts to describe the narrative structure in SRNM. The applied method in the research is descriptive method by using structural approach. The results of the research show that SRNM including traditional poetry contains a specific pattern, yet the narra- tive structure is quite prominent. SRNM narrated the history of the life of Prophet Muhammad. The SRNM also consists of the data that was related to the use of Indonesian and Sundanese in the 1947’s. When studied more deeply, it can be said that the SRNM manuscript is seen as something that is both valuable and important to study, especially in the term of language perspective. Lan- guage in the SRNM’s manuscript loaded with meaningful and highly valued form in order to be used as a referential framework in linguistics
KEARIFAN LOKAL CERITA SANGKURIANG:MENUJU KETAHANAN BANGSA (Local Wisdom of Sangkuriang Story:Toward The Endurance of Nation)
Nilai-nilai kearifan lokal sebagai pancaran kultural yang dimiliki bangsa Indonesia telah lama dikenal dalam kekayaan budaya dan peradaban yang bermartabat. Nilai-nilai kearifan lokal dalam cerita rakyat nusantara perlu terus digali, dilestarikan, dan dikembangkan lebih lanjut, misalnya dalam cerita Sangkuriang. Cerita Sangkuriang merupakan cerita rakyat Sunda yang sudah dikenal masyarakat luas di Indonesia. Cerita ini pernah diangkat ke dalam film layar lebar, film kartun, sinetron, drama, dan buku. Cerita rakyat Sangkuriang mengandung beberapa nilai budaya, di antaranya (1) nilai hedonisme, yaitu nilai yang memberikan kesenangan; (2) nilai artistik, yaitu nilai yang memanifestasikan suatu seni; (3) nilai kultural, yaitu nilai yang berhubungan dengan kemasyarakatan, peradaban, dan kebudayaan; (4) nilai etika, moral, dan agama; (5) nilai praktis.Abstract:Values of local wisdom as cultural reflection of Indonesia have been long known for its cultural richness and dignified civilization. The values in Indonesian folklore need to be ex- tracted, preserved, developed further, like Sungkariang story. The story is one of Indonesia Sundanese folklore that has been already known in Indonesia. The story has been made into films, cartoons, TV serial, plays, and books. Sangkuriang folklore has several cultural values, includ- ing, (1) the hedonism value, the value of giving pleasure, (2) artistic value, the value of manifest- ing the art, (3) cultural value, associated with social values, civilization, and culture,(4) ethics, morals and religion value, and (5) practical value
PENENTUAN CERITA RAKYAT SENTANI, JAYAPURA, KASUARI DAN BURUNG PIPIT SEBAGAI BAHAN BACAAN SISWA SD (The Determination of Sentani, Jayapura Folktale’s “Kasuari dan Burung Pipit” as Reading Material of Elementary School Students)
Jayapura, khsususnya Sentani memiliki banyak cerita rakyat. Namun, cerita tersebut belum banyak dimanfaatkan untuk bahan bacaan anak. Oleh sebab itu, penelitian terhadap cerita rakyat Kasuari dan Burung Pipit ini dilakukan. Penelitian ini menggunakan teori struktural, tahapan perkembangan intelektual anak Jean Piaget, dan nilai-nilai pendidikan karakter oleh Kementerian Pendidikan Nasional 2010—2025. Hasilnya dapat diketahui bahwa cerita ini layak dijadikan bahan bacaan untuk anak SD dengan rentang usia 7—11 tahun. Kasuari dan Burung Pipit memiliki struktur cerita yang sederhana yang ditunjukkan dengan penggunaan alur linear, tokoh cerita berwatak datar (flat character) yang ditampilkan secara hitam putih, dan pemakaian kosakata serta kalimat yang sederhana. Di samping itu, di dalam cerita Kasuari dan Burung Pipit juga terkandung nilai karakter yang berhubungan dengan diri sendiri, meliputi karakter bertanggung jawab, kerja keras, dan percaya diri.Abstract: In Jayapura, specially in Sentani, there are a lot of folktales. However, they have not optimally been utilized as the children reading material . Hence, the research on the folkltale “Kasuari dan Burung Pipit” is significant to conduct. This research applies structural theory, Jean Pidget’s theory of children’s intellectual development stages, and values of character educa- tion by Ministry of Education and Culture of 2010-2025. The results reveal that the story is suitable as the children reading material for Elementary School students of 7—11 years old. “Kasuari dan Burung Pipit” has a simple plot structure shown by the linear plot, the flat characters presenting them as black and white, and the use of simple vocabulary and simple sentence. Fur- thermore, the moral values of the story are responsibility, hard work, and self confidence
MENYINGKAP SEJARAH PERBUDAKAN DALAM MANUSKRIP INDONESIA: SURAT RAJA TANETTE (Uncovering History of Slavery in Indonesian Manuscript: King Tanette’s Letters)
Sejarah panjang sebuah peradaban dapat ditelusuri dalam pelbagai dokumen, termasuk manuskrip. Salah satu manuskrip yang menarik adalah surat-surat Raja Tanette, Sulawesi Selatan. Tulisan ini memaparkan bentuk surat-surat Raja Tanette, gambaran perbudakan, dan mengungkap tokoh yang terlibat dalam perbudakan. Penelitian ini menggunakan dua metode, yakni kodikologi dan filologi. Metode kodikologi digunakan untuk mengidentifikasi bentuk dan format manuskrip, sedangkan metode filologi digunakan untuk membuat edisi teks agar teks dapat dibaca dan dipahami. Dalam analisis disingkap bahwa surat Raja Tanette dapat digunakan untuk menelusuri sejarah kelam masa silam, khususnya perbudakan pada abad ke-18 yang secara legal dilakukan oleh raja dan pemerintah kolonial Belanda. Peristiwa sejarah itu dimuat dalam surat yang indah dan dihiasi dengan motif bunga ros yang melambangkan rasa cinta. Terdapat pula nama-nama tokoh yang terlibat. Penelusuran dokumen sejarah ini mengungkapkan sedikit fakta bahwa budak-budak yang dipaksa bekerja pada masa lalu banyak didatangkan dari Indonesia wilayah timur.Abstract:A long history of civilization can be traced in various documents, including manuscripts. One of the interesting manuscripts is King of Tanette’s letters, the King from South Sulawesi. The study examines forms of the letters, analyzes slavery description, and uncovers characters in- volved in the slavery. The research applies twofold: codicology and philology method. The codicology is used to identify manuscript form and format. While, the philology is applied to make the text readable and understandable. The analysis reveals that the King of Tanette’ letters can be used to trace dark history in the past, particularly the slavery in the 18th century, which was legally handed over by the King to the Dutch colonial government. The history was written on beautiful letters which were decorated by rose motif, a symbol of love. They also mentioned names of leaders involved in the slavery. Tracing the history of the document exposes a few facts that the slaves who were forced to work in the past came from the Eastern Indonesia
EROTISME DALAM SERAT ANGLINGDARMA (Erotism in Serat Anglingdarma)
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana struktur naratif, pengungkapan unsur erotisme, dan fungsi erotisme di dalam cerita Serat Anglingdarma. Untuk melihat struktur narasi, data dianalisis dengan menggunakan teori model struktur naratif yang dikemukakan oleh William Labov dan Joshua Waletzky. Dari enam unsur narasi yang dikemukakan keduanya, ada lima kategori yang digunakan untuk membangun narasi Serat Anglingdarma, yaitu orientasi, tegangan, resolusi, evaluasi, dan koda.Abstract:This research is aimed at finding the narrative structure of text containing elements of eroticism, as well as how they are expressed and how their functions in Serat Anglingdarma story. The data is analyzed by using William Labov dan Joshua Waletzky’s theory of narrative structure model. From the six elements of narrative structure proposed by them, there are five categories employed by the writer to make generic structure of Serat Anglingdarma, namely orientation, com- plicating, resolution, evaluation, and coda