Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
PERBANDINGAN SONETA ARTIFISIAL WING KARDJO DENGAN SONETA SITOR SITUMORANG (THE COMPARISON OF WING KARDJO’S ARTIFICIAL SONNET WITH SITOR SITUMORANG’S)
Soneta di tangan dua penyair yang berbeda melahirkan kecenderungan yang berbeda pula. Soneta Sitor Situmorang cenderung lebih liris dan ekspresi estetiknya pun lebih setia pada konvensi soneta. Sementara itu, soneta Wing Kardjo cenderung naratif dan hanya memanfaatkan pola ekspresi soneta sambil memarodikannya. Kecenderungan memarodikan soneta bagi Wing Kardjo sejalan dengan keinginannya memarodikan situasi sosial politik di negeri ini. Kecenderungan liris pada soneta Sitor Situmorang tidak terlepas dari muatan soneta Sitor yang menampilkan persoalan-persoalan personal, terutama dalam hal relasi lelaki-perempuan. Di sisi lain, kecenderungan naratif soneta Wing Kardjo terkait dengan muatan soneta Wing Kardjo yang merupakan respon terhadap situasi sosial politik di negeri ini.Abstract:Sonnets in the hands of two different poets creat different tendencies. Sitor Situmorang’s sonnet tends to be more lyrical and aesthetic in its expression. It is more faithful to those stated in the convention. Meanwhile, Wing Kardjo’s tends to be narrative and only make use of the expres- sion pattern of the sonnet while parodying it. Tendency of parodying sonnet for Wing Kardjo was in line with his desire for parodying social and political situation in the country. Lyrical tendencies in the Sitor Situmoran’s sonnet cannot be separated from the type of his work depicting personal problems, especially, in the male-female relationships. On the other hand, the tendency of the Wing Kardjo ‘s narrative sonnet is the content of Wing Kardjo’s that was a response to the social and political situation in the country
ANALISIS PENERJEMAHAN PUISI “I HEAR AMERICA SINGING” KARYA WALT WHITMAN:SEBUAH KAJIAN EKSTRATEKSTUAL (The Analysis of Poetry Translation of Walt Whitman’s “I Hear America Singing”: an Extratextual Study)
Penerjemahan sastra merupakan satu cabang disiplin penting dalam kajian penerjemahan karena disiplin ini menjadi salah satu sarana pelestarian karya-karya terbaik dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki terjemahan puisi karya Bapak Penyair Amerika, Walt Whitman, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Taufik Ismail dan Jean Jaques Kusni. Berdasarkan model analisis penerjemahan puisi pada tataran ekstratekstual yang diusulkan oleh HosseinVahid Darstjerdi d.k.k, penelitian ini mengkaji skemata, koherensi, dan implikatur puisi sumber (PSu) dan puisi sasaran (PSa). Unsur-unsur skemata yang dibahas meliputi delapan (8) unsur pembangun skemata sebagai unsur ekstratekstual, yakni pengetahuan penyair terhadap usia, jenis kelamin, ras, kebangsaan, hubungan dan nilai-nilai agama, ekonomi, profesi, dan sejarah. Hasil kajian menunjukkan bahwa, puisi sasaran1 (PSa1) memuat kesepadanan pada sebagian besar skemata, koherensi, dan implikatur dibandingkan dengan puisi sasaran2 (PSa2) dan dari sudut pandang kedekatan puisi, PSa1 lebih dekat dekat dengan PSu.Abstract:Literary translation is an important discipline in the translation study since the discipline can be beneficial in preserving world’s best literary works. This study aims at investigating the translated poem of Walt Whitman- the father of free verse-. The poem was translated into Indone- sian by Taufik Ismail and Jean Jaques Kusni. Based on the model analysis of poetry translation at an extra-textual level proposed by Hossein Vahid Darstjerdi et al, this study examines the sche- mata, coherence, and implicature of the poem (the source poem) and its translations (target poem). Schemata elements covered eight extra-textual elements, such as: knowledge of the poet, age, sex, race, nationality, religious value, economy, profession, and history. The results of the study show that the schemata, coherence, and implicature equivalence presented in target poem1 were better organized than those in target poem2. The comparison also proved that the target poem1 was closer to the source poem
REPRESENTASI NAGA PADA TOKOH PEREMPUAN DALAM NOVEL GELANG GIOK NAGA (The Representation of Dragon of Women Character in Gelang Giok Naga)
Naga merupakan hewan yang paling istimewa di antara kedua belas simbol hewan dalam penanggalan Cina. Jika binatang lain masih dapat dilihat dalam kehidupan nyata, naga merupakan hewan yang imajiner. Namun, naga dianggap sebagai sumber peruntungan yang luar biasa. Tahun naga dianggap sebagai tahun keberuntungan. Hanya saja, keberuntungan tersebut tidak lantas mengundang risiko kehancuran yang tidak kalah dahsyatnya. Novel Gelang Giok Naga mengungkapkan representasi keagungan naga pada serangkaian tokoh perempuan. Perempuan-perempuan yang digambarkan dalam novel tersebut adalah perempuan yang pada awalnya mampu meraih keberuntungan dengan caranya sendiri, tetapi dalam kurun waktu tertentu mendapati kehancuran. Makalah berikut, dengan penggunaan teori representasi dari Stuart Hall, memaparkan representasi naga pada beberapa tokoh perempuan dalam novel Gelang Giok Naga. Tokoh perempuan itu dianggap merepresentasikan karakter naga dengan segala konsekuensinya.Abstract:Dragon is the most special animal among twelve symbolical animals in the Chinese calendar. If other animals are found in the reality, the dragon is only found in an imaginary world. However, it is considered as a source of the incredible fortune. The year of the dragon is considered a lucky year. Nevertheless, the luck does not mean to give an incredible risk. Gelang Giok Naga novel reveals the representation of the dragon greatness on its female characters. The women in the novel are those who initially got their great fortune in their own way, yet in the end they got a certain period of falling. The paper, applying the theory of the Stu ar t Ha ll ’s repres en ta ti on , presents the dragon representation on those female characters in in the novel. The women character is considered representing the dragon character with its consequences
TRANSGRESI SEKSUAL DALAM NOVEL PARA PENEBUS DOSA KARYA MOTINGGO BUSYE (Sexual Transgression in Motinggo Busye’s “Para Penebus Dosa”)
Artikel ini bertujuan untuk menggambarkan transgresi seksual yang terdapat dalam novel Para Penebus Dosa karya Motinggo Busye. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah metode deskriptif analitis. Data dari novel dideskripsikan untuk memperoleh gambaran transgresi seksual. Dalam novel tersebut pelanggaran terhadap kebiasaan seksual, norma, dan kelas digambarkan melalui peristiwa seksual yang dialami oleh para tokoh, terutama tokoh perempuan. Hasil analisis menunjukkan bahwa tokoh perempuan digambarkan banyak melakukan tindak transgresi dibandingkan dengan tokoh laki-laki. Analisis juga menunjukkan bahwa narator dalam novel memiliki sikap bias gender dan mendukung nilai-nilai patriarki dengan lebih banyak memberikan hukuman terhadap tokoh perempuan yang melakukan tindak transgresi seksual dibandingkan kepada tokoh laki-laki.Abstract:The paper aims at describing sexual transgression in Motinggo Busye’s “Para Penebus Dosa”. The research applies descriptive method. The sexual transgressions elaborated in the novel are presented through the deviance of sexual affairs, social norms, and class experienced by the characters, especially female character. The result of the research shows that female characters described in the story committed a lot of sexual transgressions compared to male characters. The study also reveals that the narrator in the novel has a gender bias act. Moreover, he supports values of patriarchy by giving more punishment to the female committing sexual transgression act than to the male
DINAMIKA MASKULINITAS DAN FEMININITAS DALAM NOVEL SEPERTI DENDAM, RINDU HARUS DIBAYAR TUNTAS KARYA EKA KURNIAWAN
Artikel ini mengkaji dinamika maskulinitas dan femininitas perempuan dalam novel Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas karya Eka Kurniawan. Teks novel ini menampilkan tokoh perempuan bernama Iteung mengalami kekerasan seksual oleh gurunya ketika duduk di bangku SD. Efek dari kekerasan seksual tersebut membuat dirinya tumbuh menjadi perempuan tomboy. Semenjak itu, perilakunya selalu berubah-ubah kadang feminin kadang pula maskulin. Kajian ini dilandasi dengan teori maskulinitas perempuan dan tomboyisme Halberstam (1998). Hasil analisis menunjukkan bahwa sikap tomboy Iteung merepresentasikan bentuk negosiasinya terhadap budaya patriarki yang telah melecehkannya
BUDAYA TIONGHOA DI INDONESIA DALAM SEBUAH CERPEN LAN FANG (Chinese-Indonesian’s Culture in Indonesia in a Short Story by Lan Fang)
Lan Fang adalah seorang penulis keturunan Tionghoa. Karya-karyanya banyak menampilkan budaya Tionghoa. Salah satu karya Lan Fang yang cukup menarik adalah sebuah cerpen yang berjudul “Yang Liu”. Dalam cerpen tersebut Lan Fang menggambarkan dengan jelas bagaimana orang-orang keturunan Tionghoa di Indonesia melakukan prosesi pemakaman jenazah. Selain itu, Lan Fang juga menyelipkan beberapa kosakata Mandarin dan menjelaskan kosakata tersebut sebagai upaya memperkenalkan bahasa Mandarin pada pembaca. Tulisan ini mendeskripsikan bagaimana Lan Fang menjadikan budaya Tionghoa di Indonesia sebagai latar belakang cerita, budaya apa saja yang ditampilkan, dan makna simbol-simbol yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif.Abstract:Lan Fang is a Chinese-Indonesian writer. In her works, she shows Chinese-Indonesian’s culture. One of her interesting works is a short story called Yang Liu. In Yang Liu, Lan Fang clearly describes funeral procession in her culture. Introducing Mandarin Language, Lan Fang gives some Mandarin words with its explanations. This writing desribes how Lan Fang uses the Chinese-Indonesian’s culture as her strory background, which kind of culture that she presented and the meanings of its symbol that she representated s.This research uses descriptiv method with qualitative approach
EKSISTENSI PEREMPUAN TIONGHOA DALAM NOVEL SAMITA: BINTANG BERPIJAR DI LANGIT MAJAPAHIT KARYA TASARO (The Existence Chinese Woman in Samita Novel: “Bintang Berpijar di Langit Majapahit” Written by Tasaro)
Novel yang berlatar belakang sejarah keruntuhan kejayaan Majapahit ini memperlihatkan kekhasan dalam menggambarkan perjuangan tokoh Hui Sing yang mampu menghilangkan stereotip perempuan Tionghoa yang selalu berada dalam kekuasaan laki-laki. Penelitian ini secara umum bertujuan untuk memperoleh deskripsi tentang eksistensi perempuan Tionghoa dalam novel Samita: Bintang Berpijar di Langit Majapahit. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode deskriptif analisis. Pendekatan struktural dilakukan sebagai langkah awal untuk mengetahui keberadaan perempuan Tionghoa dalam novel ini. Selanjutnya pendekatan feminisme dilakukan untuk mengetahui eksistensi tokoh Hui Sing sebagai pribadi maupun sebagai bagian dari masyarakatnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keberadaan perempuan Tionghoa yang digambarkan melalui tokoh Hui Sing tampil sebagai sosok pribadi yang berpikiran terbuka dan cerdas, mandiri dan bertanggung jawab terhadap dirinya. Dengan demikian, didapat persepsi baru bahwa sosok perempuan Tionghoa dalam novel ini tidak menduduki posisi subordinat, ia adalah pelaku perbuatan.Abstract:The novel setting the historical background of the collapse of Majapahit Glory has its own uniqueness in illustrating the struggle of Hui Sing who was able to eliminate the stereotype of Chinese woman who used to be in man’s control. The aim of the research is to describe the exist- ence of Chinese woman in the Samita Novel: Bintang Berpijar di Langit Majapahit. The applied method in the research is descriptive analysis. The structure approach was conducted as the pre- liminary step in understanding the Chinese Woman in this novel. Next, the feminism approach was carried out to know the existence of Hui Sing character either as an individual or as society member in Samita novel: Bintang Berpijar di Langit Majapahit illustrated in the Hui sing charac- ter as open mind and smart person, independent and responsible on himself. Therefore, we can obtain new perception that a Chinese woman character in the novel was not in the subordinated position, she was the agent of conducting something