Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
HASRAT NANO RIANTIARNO DALAM CERMIN BENING: KAJIAN PSIKOANALISIS LACANIAN
Karya sastra merupakan manifestasi hasrat pengarang. Dalam sejarahnya, hasrat terbentuk dari rasa kekurangan subjek. Menulis karya sastra merupakan upaya untuk menutupi kekurangan tersebut. Upaya itu dapat dilihat dalam pandangan pengarang akan ego-ego ideal di dalam karya-karyanya. Novel Cermin Bening adalah sample untuk melihat apa dan bagaimana hasrat Nano Riantiarno. Tujuannya adalah menemukan apa yang menjadi pembayangan ego-ego ideal bagi Nano. Telisik hasrat ini akan menggunakan kajian Psikoanalisis Lacanian (PL). Melalui PL ini akan digunakan metode metafora dan metonimia dalam melihat penanda-penanda hasrat Nano dalam Cermin Bening. Kajian ini menemukan bahwa hasrat menjadi penulis dan seniman seolah membuat Nano menemukan kebebasan dari berbagai jerat dan belenggu Yang Simbolik. ‘Kebebasan’ menjadi objek a Nano untuk mendapatkan jouissance bagi dirinya. Menjadi seniman dan penulis merupakan anchoring point Nano dalam menyudahi keambiguitasan dan ketidakmenentuan dirinya
ANALISIS NILAI-NILAI HUMANIS DALAM CERPEN MAJALAH HORISON DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA (The Analysis of Humanist Values in Short Stories in Horison Magazine : Literary Psychology Approach as Teaching Material of Literary Appreciation in High School)
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran tentang (a) perubahan unsur-unsur cerpen, (b) karakter para tokoh dalam cerpen, dan (c) nilai-nilai humanis dalam cerpen sebagai alternatif bahan pembelajaran apresiasi sastra. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten dengan pendekatan psikologi sastra. Tahapan penelitian dilakukan dengan studi dokumentasi, yaitu diawali dengan mempelajari teori, lalu mengumpulkan cerpen-cer pen yang monu mental dari ma jalah Hori son, kemudian menganalisisnya, melakukan uji coba, dan menyimpulkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya perkembangan unsur-unsur cerpen: ditemukan berbagai karakter dalam tokoh cerita serta ditemukan juga nilai-nilai luhur dalam cerpen yang dapat diaplikasikan dalam pembelajaran di kelas. Cerpen-cerpen tersebut dapat dijadikan bahan pembelajaran sastra yang menyenangkan bagi siswa dan berguna bagi kehidupan sehari-hari masyarakat.Abstract:This study is aimed at obtaining the description of (a) the changes in the elements of short stories, (b) a picture of the characters in short story, and (c) a picture of humanist values in short story as an alternative learning materials of literary appreciation. This study uses content analysis to psychology literature approach. The stage of the research is conducted by studying the related theory, collecting short stories from the Horison magazine, and analyzing, conducting trials and error, and making conclusion. The results of research shows that there is the develop- ment of the elements of the short story: finding a variety of characters and great value in the story that can be applied to the teaching-learning process in the classroom as a fun learning materials for students of literature and useful for everyday social life
KEPENGAYOMAN TERHADAP SASTRA PESANTREN DI JAWA TIMUR (The Nurture of Pesantren Literature in East Java)
Penelitian ini mengkaji kepengayoman sastra pesantren di Jawa Timur pada tahun 2000— 2011. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh gambaran tentang keberadaan para pengayom sastra pesantren di Jawa Timur dan bentuk kepengayomannya pada tahun 2000—2011. Hal tersebut sangat bermanfaat dalam rangka penyusunan sejarah sastra pesantren di Jawa Timur. Teori yang digunakan adalah teori makro sastra yang dikembangkan oleh Tanaka. Teori makro sastra adalah sebuah teori yang lebih menekankan perhatiannya pada hubungan antara sastra dan masyarakat pendukungnya. Dari pembahasan dapat diketahui bahwa para pengayom sastra pesantren di Jawa Timur dilakukan oleh lembaga- lembaga pemerintah dan oleh lembaga-lembaga swasta. Sementara itu, pengayom dari penerbit, terutama penerbit-penerbit yang beranggotakan IKAPI masih sangat terbatas. Pemuatan dan penerbitan karya sastra pesantren oleh para pengayom bersifat kultural. Bentuk kepengayoman yang dilakukan oleh penerbit, baik dari lembaga pemerintah maupun dari lembaga nonpemerintah berupa pemberian hadiah kepada sanggar sastra yang tumbuh dan hidup di pesantren, pendiskusian kesasteraaan dengan melibatkan santri, dan penerbitan hasil-hasil karya sastra.Abstract:This study focuses on the nurture of literature of pesantren (Islamic boarding school) in East Java from the years 2000 to 2011. The aim of the study is to obtain the description of the existence of the pesantren-literature nurturer in East Java and the forms of the nurture from the years 2000—2011. It is a significant part in the effort of compiling the pesantren-literature history in East Java. This study uses literary macro-theory developed by Tanaka. Literary macro-theory is a theory emphasizing its focus on the relationship between literature and its supporting community. The discussion has found that the nurturers of pesantren literature in East Java are state and private institutions. Meanwhile, there is a very limited number of nurturers from publishers, especially those which are the members of IKAPI (Association of Indonesian Publishers). The nature of the pesantren literary work publication by the nurturers is cultural. The forms of nurture by publishers, either governmental or nongovernmental, are giving awards to sanggar sastra (literary workshops) which grow and exist in pesantren, literary discussions involving santri (Islamic boarding school students), and the publication of the literary works
DARI TULISAN MENJADI LISAN: REPETISI DAN PENDIDIKAN DALAM NOVEL GADIS TANGSI KARYA SUPARTO BRATA (The Written Literary Work to Oral Tradition Form: The Repetition and Education in Gadis Tangsi Novel Written by Suparto Brata)
Sebuah karya sastra tertulis ternyata memiliki bentuk tradisi lisan. Konsep dasar dari teori formula pada tradisi lisan yaitu repetisi yang dilakukan terus menerus. Repetisi adalah suatu bentuk pengulangan yang ada pada tradisi lisan guna mengembangkan gagasan penceritaan dalam upaya memikat audiens. Novel Gadis Tangsi karya Suparto Brata memiliki gaya penuturan yang masih menggunakan tradisi lisan, yaitu terdapat bentuk pengulangan atau repetisi yang selalu muncul dalam bagian-bagian penceritaannya. Novel ini dapat dikaji lebih lanjut dengan menunjukkan unsur-unsur kelisanan dalam novel ini. Bentuk tradisi lisan tetap ada pada sastra tertulis karena budaya dalam masyarakat tertentu telah melekat pada pribadi penulis. Keinginan khalayak agar karya sastra memiliki muatan pendidikan telah ditampilkan penulis dalam novel Gadis Tangsi ini. Muatan pendidikan dalam novel tersebut lebih mengutamakan proses meningkatkan perasaan daripada proses mengasah pola pikir. Perasaan pada akhirnya perlu diungkapkan secara lisan.Abstract: A written literary work has its oral tradition form. The basic concept from formula at oral tradition is repetition that has continually been done. Repetition is a kind of repeating in oral tradition in order to develop idea of story to attract audience. Suparto Brata’s novel of Gadis Tangsi has a style that uses oral tradition form with repetition in each part text the story. This novel can be investigated by showing the oral elements in the novel. The oral tradition form always exists in written literature as culture in certain community has been in the author’s person- ality.. Expectation of audience that literature must have education content has been performed in Gadis Tangsi novel. Education content in this novel gives more concernd on the proses of increas- ing a sense of human being than a critical thinking. Finally, sense of human being has to be expressed orally
SEKSUALITAS TOKOH LINGGA DALAM CERPEN “LELAKI DENGAN BIBIR TERSENYUM”: KAJIAN FEMINISME (The Sexuality of Lingga in Short Story of “Lelaki dengan Bibir Tersenyum”: A Feminism Study)
Penelitian ini mendeskripsikan aspek seksualitas tokoh Lingga dalam cerpen “Lelaki dengan Bibir Tersenyum” karya Radhar Panca Dahana dan menginterpretasikannya dalam perspektif feminisme. Penelitian bersifat deskriptif kualitatif dan pengumpulan data dilakukan dengan teknik studi pustaka. Data dianalisis dengan menggunakan teori feminis. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa dalam cerpen “Lelaki dengan Bibir Tersenyum” aspek seksualitas tokoh Lingga mencerminkan kebebasan bagi perempuan dalam melakukan aktivitas seksual sebagaimana yang diinginkannya. Hal ini sejalan dengan yang diperjuangkan oleh kaum feminis radikal-libertarian. Namun, jika dikaitkan dengan makna yang terkandung dalam nama Lingga, terdapat maksud tersirat dalam cerpen ini yang menunjukkan dominasi seksual sesungguhnya tetap berada pada pihak laki-laki.Abstract:The aim of this study is to describe sexuality aspect of Lingga in short story entitled “Lelaki dengan Bibir Tersenyum” written by Radhar Panca Dahana. It is also intended interprete it within feminism perspective. This is a descriptive-qualitative research. The data is collected by using literary method. The data analysis applied feminism theories as references. The result showed that the sexuality aspects of Lingga reflects a freedom for women in committing whatever sexual activity as they expect to. This is in line with what radical-lybertarian feminists struggle for. Yet, if it is associated to the meaning of the word lingga, there is an implicit intention to suggest that sexual domination actually remains on the male side
TEKS TARLING: REPRESENTASI SASTRA LIMINALITAS (ANALISIS FUNGSI DAN NILAI-NILAI) (Tarling Text : Representation of Liminality Literature [Functional Analysis and Values])
Sastra lisan Jawa-Cirebon cukup beragam, tetapi yang menarik dicermati adalah seni tarling. Dua hal yang menarik dalam tarling, pertama, ia dipandang sebagai hasil budaya hibrid, kedua, jika dibandingkan dengan jenis sastra lisan Jawa-Cirebon lainnya, seni tarling dipandang paling representatif mewakili sastra Jawa-Cirebon sebagai sastra liminalitas. Makalah ini akan menggambarkan sastra Jawa- Cirebon khususnya teks tarling sebagai representasi sastra liminalitas. Melalui representasi tarling yang merupakan sastra liminalitas akan tergambarkan bagaimana sifat-sifat atau watak masyarakat liminalitas, seperti sikap toleran, menghargai budaya orang lain, atau menghargai perbedaan, dan merasa memiliki seni tradisi sebagai kekayaan budaya sendiri tanpa memperhitungkan asal-usulnya. Selain itu, melalui lirik-lirik dan filosofi yang melekat dalam tarling juga terungkap fungsi seni tarling dalam masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan menerapkan teknik wawancara dan studi pustaka.Abstract:Oral literature of Javanese-Cirebon is quite divers. However, but the thing that should be taken into concerned is tarling. Two interesting things in tarling are described in this paper. First, it is considered as a product of a hybrid culture. Second, compared to other types of other oral literature of Javanese-Cirebon, tarling considered the most suitable representation of Javanese-Cirebon literature as literary liminality. This paper will describe the Javanese-Cirebon literature particular in tarling texts in as liminality literary representation. Through a tarling rep- resentation as literary liminality, it will be illustrated how the characters of public liminality are, including, tolerance, respecting other culture, or appreciating the difference, realizing to have a art tradition as their own cultural richness regardless of its origin. In addition, through the lyrics and the philosophical inherent it is revealed in tarling that there is the function of it in the society. This study uses qualitative methods by applying interview techniques and literature