Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
KEUNIKAN BAHASA MANTRA BANJAR: PANAH ARJUNA (The Uniqueness of the Expression of Banjarese Spell:Panah Arjuna)
Mantra Panah Arjuna adalah salah satu mantra Banjar berupa mantra cinta untuk menundukkan hati seseorang yang dicintai. Lazimnya mantra ini dipergunakan oleh laki-laki untuk menaklukkan perempuan pujaan hatinya. Namun, tradisi bermantra mulai ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya. Mantra lebih dianggap sebuah takhayul. Oleh karena itu, perlu langkah konkret untuk mengenalkan kembali keberadaan mantra Banjar kepada generasi muda di Kalimantan Selatan ini. Tulisan ini secara ringkas mendeskripsikan keunikan bahasa mantra Panah Arjuna dilihat dari aspek-aspek kelisanan dengan memanfaatkan teori struktukralisme. Aspek-aspek kelisanan mantra dalam bentuk bahasa meliputi: sruktur mantra, formula repetisi, formula pararelisme, formula sintaksis, dan ekspresi formulaik. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teknik catat, wawancara, dan studi pustaka. Hasil analisis memberikan gambaran singkat mengenai sruktur mantra, formula repetisi, formula pararelisme, formula sintaksis dan ekspresi formulaik pada mantra Panah Arjuna. Selain itu, formula-formula tersebut dapat dipergunakan sebagai alat bantu untuk mengingat dengan mudah dan cepat mantra dalam rangka melestarikan mantra Banjar.Abstract:The Panah Arjuna spell is one of the Banjarese love spell to win one’s heart. It is com- monly used by men to subjugate women’s heart. However, the tradition of using spell begins to be abandoned by society. Spell is more considered a superstition. Therefore, it is required to do the concrete steps to introduce Banjar spell to young people in South Kalimantan. This paper briefly describes the uniqueness of the expressions of the Panah Arjuna spell viewed from the aspects of orality using structuralism theory. Orality aspects in the spell expressions include spell structure, repetition formula, parallelism formula, syntax and expression formula. The method used is de- scriptive qualitative by applying note taking technique, interviews, and literature review. The re- sults of the analysis provide a brief overview of spell structures, repetition formula, parallelism formula, syntax formula, and expression formula of the panah Arjuna spell . In addition, these formulas can be used as a tool to remember them easily and quickly in order to preserve the Banjarese spell
PENGARUH CERITA LASKAR PELANGI TERHADAP NEGERI 5 MENARA: KAJIAN INTERTEKSTUAL (The Effect of The Story “Laskar Pelangi” on “Negeri 5 Menara”: an Intertekstual Study)
Tulisan ini bertujuan untuk melihat pengaruh Laskar Pelangi terhadap Negeri 5 Menara. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif dengan memanfaatkan teori intertekstual. Data yang digunakan adalah teks yang terdapat pada dua novel yang dijadikan sumber, yaitu Laskar Pelangi karya Andrea Hirata dan Negeri 5 Menara karya Ahmad Fuadi. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara pembacaan secara cermat kedua novel lalu mencatat peristiwa-peristiwa yang menunjukkan suatu fakta keterpengaruhan cerita yang mendukung proses analisis. Analisis data dilakukan dengan cara menemukan hubungan unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik kedua cerita untuk melihat dan menjelaskan pengaruh Laskar Pelangi terhadap Negeri 5 Menara. Hasil analisis menunjukkan bahwa hubungan interteks kedua novel terjadi secara dekat. Hubungan itu diperkuat melalui penggunaan beberapa simbol, seperti pohon filicium, pelangi, menara, dan awan yang merefresentasikan sebuah mimpi dan cita- cita. Hubungan tersebut sekaligus menjadi penguat keterpengaruhan Negeri 5 Menara oleh Laskar Pelangi.Abstract:This study attempts to study the effect of “Laskar Pelangi” on “Negeri 5 Menara”. The method used is descriptive qualitative by applying intertextual theory. The data applied in this study are the text on two novels, namely: Andrea Hirata’s Laskar Pelangi and Ahmad Fuandi’s Negeri 5 Menara. Technique of data collection is by reading those two novels and making notes for events that show the effect of “LaskarPelangi” on “Negera 5 Menara”. Data analysis is con- ducted by examining the correlation between intrinsic and extrinsic elements of both stories in order to find the effect of “Laskar Pelangi” on “Negeri 5 Menara”. The result of the research indi- cates that intertextual correlations on those two novels had a common thread. Its correlation was strengthened by the use of symbols, such as filicium tree, rainbow, tower, and cloud that repre- sented a dream and a goal. The correlation strongly proves that “Laskar Pelangi” has a great effect on “Negeri 5 Menara”
MUSIK DAN SEKSUALITAS DALAM NOVEL DIE KLAVIERSPIELERIN KARYA ELFRIEDE JELINEK (Music and Sexuality in Elfriede Jelinek’s Novel “Die Klavierspielerin”)
Musik banyak diangkat menjadi tema dalam karya-karya yang ditulis Jelinek. Dalam novel Die Klavierspielerin yang terbit tahun 1983, Jelinek mengangkat tema musik. Tulisan ini bertujuan untuk mengungkapkan fungsi musik dan keterkaitannya dengan seksualitas tokoh utama. Kajian ini dilandasi oleh teori fungsi musik yang dikemukakan Alan P. Merriam, teori seksualitas yang dikemukakan oleh Padgug, serta teori seksualitas yang berkaitan dengan relasi kuasa yang dikemukakan oleh M. Foucault. Hasil analisis menunjukkan bahwa di dalam novel tersebut terdapat fungsi musik sebagai representasi simbolis yang dijadikan sarana antar tokoh untuk saling menekan antara ibu terhadap Erika sebagai anak, Erika sebagai guru terhadap Klemmer sebagai murid. Musik juga memunculkan relasi kuasa yang mempengaruhi seksualitas Erika.Abstract: Music was mostly taken as a theme in many works written by Jelinek. In the Die Klavierspielerin novel published in 1983, Jelinek took theme of music. The study is aimed at revealing music function and its links with the main character’s sexuality. This study is based on music function theory introduced by Alan P. Merriam, sexuality theory introduced by Padgug, and sexuality theory concerning power relation introduced by M. Foucault. The results of analysis indicate that in the novel there are musical functions as symbolic representation used as a reference between characters to repress each other, such as, mother to Erika as a child, Erika as a teacher to Klemmer as a student
MASKULINITAS DALAM NOVEL KELUARGA PERMANA KARYA RAMADHAN K.H. (THE MASCULINITY IN THE RAMADHAN K.H ‘S NOVEL : “KELUARGA PERMANA”)
Tulisan ini membahas maskulinitas dalam novel Keluarga Permana karya Ramadhan K.H. Penganalisisan lebih dahulu diawali dengan asumsi bahwa novel Keluarga Permana mengandung maskulinitas yang diwakili oleh tokoh Permana. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah maskulinitas dari Connell dan Figes. Teori ini menjelaskan bagaimana maskulinitas terbentuk dari maskulinitas dan femininitas lainnya dalam konteks sosial yang melingkupinya. Teori ini juga mengungkapkan bahwa tidak hanya perempuan yang ter-opresi dalam konteks patriarkat, tetapi laki-laki juga disadari atau tidak terbebani oleh konteks sosial tersebut. Dalam hal ini, maskulinitas Permana terbentuk dari maskulinitas dan femininitas tokoh-tokoh lainnya dalam konteks sosial patriarkat. Hasil penelitian atas novel ini membuktikan bahwa maskulinitas Permana terbelenggu oleh konteks sosial patriarkat sehingga mengalami perubahan.Abstract:This paper attempts to describe masculinity in the Ramadhan K.H’s ’s work entitling Keluarga Permana. The Analysis is begun with the assumption that the Keluarga Permana con- tains masculinity represented by the character of Permana. The theory used in this study is the masculinity theory given by Connell and Figes. The theory explains how the masculinity are formed from other masculinity and femininity in the surrounding social context. This theory also reveal that not only are women in the context of patriarchal oppression, but also men are burdened by the social context. In this case, Permana’s masculinity are formed from other characters of masculinity and femininity in the patriarchal social context. The results of the research prove that Permana’s masculinity was bounded by patriarchal social context in order to get a change
CITRA PEREMPUAN BANTEN DALAM CERPEN RADAR BANTEN (The Image of Banten Women in The Short Story in Radar Banten Daily)
Tulisan ini membahas citra perempuan Banten dalam cerpen yang dimuat di harian Radar Banten dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif. Budaya Banten melatarbelakangi para cerpenis dalam melukiskan perempuan Banten. Para penulis dapat memotret sebagian kehidupan para perempuan tersebut melalui tokoh-tokoh rekaan yang diciptakan. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji citra perempuan Banten melalui deskripsi para cerpenis dalam harian Radar Banten. Sumber data utama berasal dari empat belas cerpen yang dimuat tahun 2006—2010. Setelah analisis data melalui teori feminisme, diketahui bahwa citra perempuan Banten dalam cerpen tersebut adalah perempuan sebagai sosok pemimpin pemerintahan, penulis, perempuan berkekuatan magis, pemegang norma, pekerja keras, penyabar, penyayang, perempuan yang agamis, dan perempuan metropolis.Abstract:This paper discusses the image of Banten women in short stories published in Radar Banten. It uses a qualitative descriptive method. Banten’s cultural background depicts women in Banten. The writers of short story can capture some of the women’s real life through fiction’s characters. The purpose of this study is to examine the image of women through the description of the short story’s writers in Radar Banten. The main data sources were taken from fourteen short stories published in 2006—2010. Having analyzed the data using feminism theory, it is found out that the image of women in short stories of Radar Banten is the figure of woman as government leader, writer, woman with magical power, obedient norm woman, hardworking woman, patient and caring woman, religious woman, and metropolitan woman