Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
    235 research outputs found

    ANTROPONIMI DAN TOPONIMI UNIVERSAL DI DALAM STRUKTUR NARATIF SASTRA SUNDA BUHUN (KAJIAN SEMIOTIK TERHADAP KELISANAN CARITA PANTUN DAN KEBERAKSARAAN WAWACAN SANGHYANG JAGATRASA) (Universal Antrophonimy and Toponimy in Narrative Structure of Old Sundanese Literature: A Semiotic Study on Orality of Carita Pantun and Literacy of Wawacan Sanghyang Jagatrasa)

    Get PDF
    Objek pembicaraan pada tulisan ini meliputi dua ranah studi, yaitu sastra lisan Carita Pantun Sanghyang Jagatrasa (CPSJ) dan sastra tulis naskah Wawacan Sanghyang Jagatrasa (WSJ). Masalah yang diangkat berkenaan dengan:(1) transformasi antara kelisanan CPSJ dan keberaksaraan WSJ, (2) struktur formal puisi naratif CPSJ dan struktur formal sastra tulis WSJ, dan (3) makna semiotik di balik antroponimi dan  toponimi universal yang tertuang pada CPSJ dan WSJ.  Pendekatan yang digunakan untuk memecahkan masalah itu, yaitu (1) pendekatan sastra lisan dan (2) pendekatan sastra tulis. Berdasarkan hasil  penerapan pendekatan sastra lisan ditemukan (1) CPSJ memiliki 8 formula, 13 fungsi, dan 7 lingkungan tindakan, sedangkan berdasarkan penerapan sastra tulis terhadap WSJ diketahui bahwa WSJ memiliki 6 model aktan dan 3 model fungsional, (2) transformasi antara kelisanan CPSJ ke keberaksaraan WSJ terdapat pada konvensi kesastraan, teknik naratif, ungkapan formula, kosakata, dan konstruksi kalimat. Adanya transformasi tersebut, secara semiotik, dapat dimaknai sebagai suatu upaya pelestarian nilai-nilai moral yang termuat dalam CPSJ ke dalam era WSJ sejalan dengan situasi dan kondisi serta minat masyarakat Sunda pada zamannya, (3) Munculnya antroponimi dan toponimi universal di dalam CPSJ dan WSJ dapat dimaknai secara semiotik sebagai sebuah cermin tentang eksistensi kosmologi Sunda buhun (lama) yang pernah hidup di dalam masyarakat Sunda pada zamannya.Abstract:The discussion of this paper focuses on two problems, orality of Carita Pantun Sanghyang Jagatrasa (CPSJ) and literacy of Wawacan Sanghyang Jagatrasa (WSJ). The research question is to answer  the basis of the two problems.They include the following statement (1)  transformation between CPSJ orality and WSJ literacy (2)the formal structure of CPSJ narrative poetry and of WSJ written literature? (3) semiotic meaning within universal anthroponimy and tophonimy  in CPSJ  and WSJ. The approach used in the study is aimed at solving problems dealing with the following concerns, (1) oral literary approach  and (2) written literary approach. The findings based on the applica- tion of literary  approach are as follows: (1) in the CPSJ  there are 8 formulas, 13 narrative functions, and 7 setting (spheres) of acts, while in the WSJ,  there  are six models of acts and three functional models. (2) Transformation from CPSJ orality into WSJ literacy can be found in literary convention, narrative techniques, formula expressions, vocabulary, and sentence constructions. The transformation of CPSJ can be semiotically considered an effort of preserving moral values in CPSJ into WSJ era along with the situation and conditions as well as interest of the Sundanese community.  The emerge of The universal anthroponimy and tophonimy can be semiotically meant as a symbol of  the existence of old Sundanese that was known in Sundanese society

    IDEALISME KWEE TEK HOAY TENTANG SISTEM PENDIDIKAN BERBASIS BUDAYA TIONGHOA DALAM CERITA PENDEK “RUMA SEKOLA YANG SAYA IMPIKEN” (Kwee Tek Hoay’s Idealism in Establishing A Tionghoa-Culture Based System of Education in “Ruma Sekola Yang Saya Impiken”)

    Get PDF
    Sebagai bagian dari masyarakat multietnis di Indonesia, etnis Tionghoa mengalami berbagai tekanan dan diskriminasi.Secara internal, mereka juga mengalami persoalan identitas terkait dengan jarak budaya antargenerasi yang mengarah pada melemahnya identitas kultural Tionghoa di kalangan kaum mudanya. Kwee Tek Hoay merupakan satu tokoh Tionghoa yang memiliki gagasan pemertahanan dan pelestarian identitas tersebut seperti tercermin dalam karyanya, “Ruma Sekola Yang Saya Impiken”, sebuah cerita pendek mengenai sekolah impian bagi anak-anak Tionghoa. Metode penelitian kualitatif diterapkan dalam penelitian ini. Data literer yang ditemukan dideskripsikan dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan sosiologis, terutama yang terkait dengan kajian mengenai etnisitas Melayu- Tionghoa. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa konsep pendidikan ideal bagi anak-anak Tionghoa berupa kurikulum yang komprehensif, dengan ditekankan pada praktik, yang berdasar pada nilai serta falsafah hidup yang berakar pada budaya leluhur. Konsep tersebut merupakan bagian dari resinication.Abstract:As a part of Indonesian multiethnicity in Indonesia, the Tionghoa (Chinese-Indonesian) have undergone various racial discrimination. They also internally have  identity problem  due to intergenerational gap, which leads to weaken the Tionghoa’s cultural identity among their youths. Kwee Tek Hoay is one of the Tionghoa figures having the idea of the retention and preservation of the identity as reflected in his work, “Ruma Sekola Yang Saya Impiken”, a short story about his utopian school for Tionghoa’s children. The applied method is qualitative research. The literary data is described and analyzed by using sociological approach, especially those connected to the study of Malay-Tionghoa ethnicity. The results show that the concept of ideal education for Tionghoa’s children is in the form of a comprehensive curriculum, emphasizing  on the practice, which is based on values and a philosophy of life that is rooted in ancestral cultures. The concept is one of resinications

    “I AM A WOMAN”: PORTRAYING WOMANHOOD IN THE AUTO/BIOGRAPHY OF AN INDONESIAN TRANSSEXUAL CELEBRITY

    Get PDF
    Paper ini mendiskusikan femininitas di dalam auto/biografi selebritas transeksual “Aku Perempuan: Jalan Berliku Seorang Dorce Gamalama” (2005). Auto/biografi ini diterbitkan tahun 2005. Auto/biografi bukan sekadar merayakan karirnya tetapi yang lebih penting lagi adalah untuk menegaskan identitas dirinya sebagai perempuan. Saya berargumentasi bahwa peran feminine yang dituntut dari selebritas perempuan dapat juga di[per]tunjukkan oleh seorang transeksual seperti Dorce Gamalama tetapi dengan tuntutan ditampilkannya bentuk femininitas yang lebih meyakinkan dibandingkan yang dituntut dari selebritas yang secara biologis dilahirkan perempuan. Penelitian ini dilakukan dengan membaca secara dekat, mencermati struktur auto/biografi serta wacana yang ditampilkan. Analisis saya atas auto/biografi Dorce Gamalama ini menunjukkan bahwa persoalan makna perempuan sejati muncul berulang sejalan dengan perjuangan subjek auto/biografis dalam mengklaim identitas feminine yang otentik melalui tubuh, seksualitas dan peran femininnya sebagai ibu dan istri. Penegasan mengenai identitas sebagai perempuan sejati sangat erat dikaitkan dengan Islam sebagai kerangka beragama lokal di Indonesia.Abstract:  This paper examines femininity in the auto/biography of a transsexual celebrity, “Aku Perempuan: Jalan Berliku Seorang Dorce Gamalama” (2005). Her auto/biography was published in 2005. The auto/biography is not so much about celebrating her career as it is about endorsing her womanhood. I argue that these feminine roles expected of female celebrities can be performed by a transsexual (M2F) person as Dorce Gamalama but with the need to create a more convincing form of femininity than is required of a “natural” female celebrity. This research is conducted by reading the text closely, paying attention to the structure and the discourse presented. My examination of Dorce’s auto/biography shows that this question about being a real woman recurs as the auto/biographical subject struggles to claim an authentic feminine identity through her body and sexuality as well as through the feminine roles of motherhood and wifehood. This assertion of being a real woman is tightly connected to Islam as Indonesian local religious frame.

    CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL THE HOLY WOMAN: SATU KAJIAN FEMINIS (The Image of Woman in “The Holy Woman”: A Feminism Study)

    Get PDF
    Penelitian ini memaparkan citra perempuan dalam novel The Holy Woman karya Qaisra Shahraz. Citra perempuan yang terungkap dalam novel The Holy Woman tidak lepas dari isu-isu seputar perempuan yang berada dalam kekuasaan patriarki, yaitu kekuasaan yang cenderung menempatkan perempuan sebagai korban. Teori yang digunakan adalah teori feminis yang diungkapkan oleh Mary Ann Ferguson yang melihat feminitas perempuan sebagai perempuan yang diidealkan (The Submissive Wife) dan perempuan sebagai objek seks (The Sex Object). Hasil yang ditemukan adalah citra The Submissive Wife atau perempuan yang diidealkan menunjukkan perempuan sebagai istri atau anak perempuan yang dapat memberikan kebahagiaan dan ketentraman untuk keluarganya, dan The Sex Object atau perempuan sebagai objek seks telah menunjukkan adanya politik dan kekuasaan patriarki.Abstract:This research is aimed at explaining how the image of woman in  Qaisra Shahraz’s “The Holy Woman”. It dwells on women’ issues in a patriarchal power, that is, treating women as victims. The study applies  Mary Ann Ferguson’s feminism theory. Her view  considers that woman feminism is from (a) the submissive wife (idolized woman) and (b) the sex object (woman as sex object). The research concludes that (a) the submissive wife  —either as wife or as daughter—can give happi- ness and peace for her family;(b) the sex object   indicates that there has been  an involvement both a political and a patriarchal power

    UNSUR-UNSUR GOTIK DALAM NOVEL PENUNGGU JENAZAH KARYA ABDULLAH HARAHAP (Gothic Elements in the Novel Penunggu Jenazah by Abdullah Harahap)

    Get PDF
    Tulisan ini mengkaji unsur-unsur gotik yang terdapat dalam novel Penunggu Jenazah karya Abdullah Harahap. Novel yang dikaji menunjukkan keterkaitan  unsur-unsur gotik sebagai pembangun cerita, yaitu hal-hal supernatural, bentuk-bentuk transgresi, latar yang menyeramkan, bentuk-bentuk monstrositas, excess dan fetis. Kajian ini dilandasi dengan menggunakan teori gotik. Hasil analisis menunjukkan bahwa unsur gotik dalam novel Penunggu Jenazah saling tumpang tindih. Hal-hal supernatural digunakan sebagai sumber konflik dan bentuk transgresi. Transgresi sebagai unsur gotik menggunakan pelanggaran terhadap tabu yang melibatkan transgresi terhadap seksualitas, tubuh, dan kematian. Latar yang menyeramkan, bentuk-bentuk monstrositas dan excess dihadirkan sebagai unsur gotik yang menggangu tatanan norma dan normalitas. Fetis yang muncul dalam Penunggu Jenazah adalah fetis terhadap tubuh perempuan dengan kecenderungan sadomasokis. Novel disajikan dengan mencampurkan semua unsur gotik dengan unsur supernatural, transgresi dan monstrositas sebagai unsur gotik yang dominan. Oleh sebab itu, penelitian ini saya fokuskan untuk mengungkap cara gotik ditampilkan dalam karya Harahap.Abstract: This paper examines the gothic elements in the novel entitled Penunggu Jenazah written by Abdullah Harahap. The novel shows that the gothic elements are supernatural, forms of transgression, scary setting, forms of monstrosity, excess and fetish. This study uses gothic theories. Furthermore, the results of the analysis also show that the gothic elements are overlapping. Transgression as the gothic element is using violation of taboo of sexuality, body and death. The scary setting, the forms of monstrosity and excess are representing to disturb norms and normality. The fetish in the Penunggu Jenazah novel is the fetish of a woman body with a tendency to sadomasochism. Gothic is represented by blending all gothic elements with the supernatural, transgression and monstrosity as the majority elements. Moreover, this study is focused on the way gothic represented

    KEBERGANTUNGAN TEKNOLOGI DAN DAMPAKNYA DALAM NOVEL NEUROMANCER KARYA WILLIAM GIBSON

    No full text
    Makalah ini menganalisis bagaimana novel memandang kehadiran teknologi di tengah masyarakat yang mengakibatkan pergeseran budaya. Teknologi yang menyajikan kemudahan dan fasilitas yang membantu manusia tetapi kebergantungan manusia terhadap teknologi muncul sebagai akibat dari interaksi manusia dengan teknologi yang berlebihan. Makalah ini membahas hubungan manusia dengan mesin dalam novelNeuromancer karya William Gibson, teknologi cyberspacedi tengah masyarakat yang mengakibatkan efek cyborg pada penggunanya.Metode yang digunakan dalam makalah ini adalah metode deskriptif analitis. Tujuan dari pembahasan dalam makalah ini adalah untuk mengetahui bagaimana novel melihat teknologi yang hadir di tengah masyarakat dan untuk menunjukkan kontribusi teknologi terhadap kelas penguasa dan pergeseran budaya masyarakat.Abstract: This paper analyzes the novel’s view of technology in society whicheffect culture shift. Technology presents the ease and facilities that helps humans but at the same time, technology dependence come as the result of  the interaction between human and technology. This paper discusses the human and machine relation in William Gibson’s Neuromancer, thecyberspace technology in society that make a cyborg effect to users.The method used in this paper is a descriptive and analytical method. The purpose of the discussion in this paper is to show how the novel sees the technology in society and to show the contribution of technology to the rulling class and human’s culture shift

    Abstrak Bahasa Inggris

    No full text

    SABDOPALON DAN NAYAGENGGONG SEBAGAI VIDŪṢAKA DALAM SERAT BABAD PATI

    No full text
    Penelitian ini mendudukkan Serat Babad Pati (selanjutnya disingkat SBP) sebagai teks sastra. Babad, atau sastra babad, diartikan sebagai buku yang membicarakan sejarah suatu daerah dan golongan masyarakat menurut anggapan waktu itu. Melalui gagasan Edward Said, yakni hermeneutika filologi, didapati pemahaman bahwa Sabdopalon dan Nayagenggong berperan sebagai pamong Raden Kembangjaya yang mempunyai sifat jenaka (vidūṣaka). Mereka senantiasa bergurau kala mendampingi sang majikan. Lebih dari itu, Nayagenggong yang juga berperan sebagai ayah Sabdopalon, berkedudukan sebagai yajamāna. Dalam tataran ritual, yajamāna ialah seorang pengatur perang. Sementara, tokoh yang berperan sebagai yajña, atau ‘yang diatur’ di dalam peperangan ialah Raden Kembangjaya, pendiri Kadipaten Pesantenan, cikal bakal Kadipaten Pati. Nayagenggong berjasa atas kemenangan Negeri Carangsoka atas Paranggaruda. Pertapa tua ini menyuruh Raden Sukmayana, raja Negeri Carangsoka untuk menyerahkan keris Kyai Rambut Pinutung kepada Kembangjaya. Dengan begitu, pemimpin Paranggaruda, Adipati Yujopati dapat dikalahkan dan terciptalah perdamaian dunia.Abtract: This study seated Serat Babad Pati (here in after abbreviated SBP) as a literary text. Chronicle, or literary chronicle, defined as books that talk about the history of an area and community groups under the assumption that time. Through the idea of Edward Said, the hermeneutics of philology, found understanding that Sabdopalon and Nayagenggong role as guardian Raden Kembangjaya who have a sense of humor (vidūṣaka). They always joked when accompanying the employer. Moreover, Nayagenggong which also acts as a father Sabdopalon, serves as yajamāna. The level of ritual, yajamāna is a regulator of the war. Meanwhile, the figures serve as Yajna, or 'set' in war is Kembangjaya Raden, founder of the Duchy Pesantenan, the forerunner of the Duchy of Starch. Nayagenggong credited Carangsoka State victory over Paranggaruda. The old hermit told Raden Sukmayana, king Carangsoka State to submit a dagger Kyai Rambut Pinutung to Kembangjaya. By doing so, leaders Paranggaruda, Duke Yujopati can be defeated and creating world peace

    HALAMAN DEPAN: Metasastra Vol 4, No 2, Desember 2011

    No full text

    Abstrak Bahasa Indonesia

    No full text

    130

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Balai Bahasa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇