Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
    235 research outputs found

    DIASPORA PADA TOKOH PEREMPUAN PEKERJA MIGRAN DALAM KUMPULAN CERPEN PEREMPUAN DI NEGERI BETON

    Get PDF
    Penelitian ini membahas situasi diaspora yang dialami perempuan pekerja migran di Hong Kong dalam kumpulan cerpen karya perempuan pekerja migran di Hong Kong berjudul Perempuan di Negeri Beton.  Situasi diaspora tersebut dianalisis melalui ingatan tokoh terhadap tanah air, serta norma-norma dan budaya Indonesia yang mengingatkan tokoh terhadap Indonesia.Ingatan tokoh perempuan terhadap tanah air membuat tokoh meresistensi dan bernegosiasi dengan budaya Hong Kong.Dalam penelitian ini, penulis menggunakan konsep diaspora dari Rogers Brubaker dan James Clifford untuk menganalisis diaspora dan konsep unhomely dari Homi K. Bhabha untuk menjelaskan konsep home

    MASKULINITAS KULIT PUTIH DALAM BURMESE DAYS DAN SHOOTING AN ELEPHANT KARYA GEORGE ORWELL (The Masculinity of White Men in George Orwell’s Burmese Days and Shooting An Elephant)

    Get PDF
    Orwell menjadikan pengalaman hidupnya sebagai bagian dari setiap karyanya dan menggunakannya untuk menyampaikan berbagai gagasannya. Melalui novel Burmese Days dan sebuah esai berjudul Shooting an Elephant yang keduanya saling berkaitan, Orwell mengemukan gagasannya mengenai wacana kolonialisme di wilayah koloni Inggris di Burma. Isu yang terkadang luput dalam pembacaan karya Orwell adalah isu gender. Oleh karena itu, kajian ini akan menganalisis bagaimana maskulinitas laki-laki kulit putih dipaparkan dan faktor-faktor pendorong atau penghalang maskulinitas tersebut. Agar dapat menganalisis isu tersebut, kajian ini menggunakan pendekatan yang ditawarkan Mosse, Bhabha dan Sinha mengenai maskulinitas dalam wacana poskolonial. Berdasarkan analisis yang dilakukan, kajian ini dapat menunjukkan bahwa maskulinitas laki-laki kulit putih koloni Inggris di wilayah Burma, khususnya Kyauktada disebabkan oleh konsep mereka mengenai isu superioritas dan inferioritas.Abstract:Orwell made his life experiences as a part of his works and used them to convey a variety of his ideas. Through his novel entitling  Burmese Days and his essay called Shooting an Elephant, both of them were related to, Orwell wrote his ideas about discourse of colonialism in the British colony in Burma. A peculiar issue in Orwell’s work is the gender issue. Therefore, this study shows masculinity of white men, and the factors motivating or obstructing such masculinity. In order to analyze these issues, this study applies George Mosse’s (1996), Homi K. Bhabha’s (1995) and Mrinalini Sinha’s (1995) approach on masculinity in postcolonial discourse. Based on the analy- sis, this study is to provide the assumption that masculinity of white men in the British colony in Burma, particularly Kyauktada, was caused by  their concept of superiority and inferiority

    PRIYAYI DAN KAWULA DALAM PASAR KARYA KUNTOWIJOYO (Priyayi and Kawula in The Novel Entitled Pasar Written by Kuntowijoyo)

    Get PDF
    Penelitian ini hendak mengungkap priyayi dan kawula dalam Pasar, sebuah novel karya Kuntowijoyo. Konsep bibit (keturunan), bebet (kekayaan), dan bobot (pengetahuan) yang digunakan sebagai kriteria untuk menjadi priyayi, di zaman modern ini harus kembali ditinjau. Selain priyayi terpelajar, ada dua jenis priyayi lain menurut Kuntowijoyo, yaitu priyayi yang bekerja pada raja dan priyayi yang bekerja untuk kerajaan. Penelitian ini menggunakan metode analisis konten dalam membedah novel Pasar dengan tujuan untuk mencari kriteria dan jenis gelar priyayi yang bisa diraih seseorang meski ia tidak mempunyai bibit dan bebet priyayi. Hasil penelitian pada novel ini menegaskan bahwa pendidikan dapat meningkatkan kelas sosial seseorang sebagaimana yang telah Kuntowijoyo definisikan sebagai priyayi terpelajar.Abstract:The research is intended to reveal the priyayi and kawula concept in the novel of Pasar, by Kuntowijoyo. Three modalities of bibit (descendant), bebet (wealth), and bobot (knowledge) used as a criterion to become priyayi, in this modern epoch have tobe evaluated. Besides educated priyayi, Kuncoro also divides  two other kinds of priyayi ,namely, priyayi who works for the king and the other who works for the kingdom (government). This research applies the content analysis method in order to find the criteria and type priyayi title which can be reached by  someone who does not have the priyayi’s bibit and bebet. The result of the  research on this novel asserts that education can improve someone’s standard as Kuntowijoyo defined as educated priyayi

    Cover Metasastra Vol. 7, No. 1, 2014

    No full text

    Abstrak Bahasa Inggris

    No full text

    Abstrak Bahasa Inggris

    No full text

    MENEROPONG TEORI SASTRA BANDINGAN PADA BUKU METODOLOGI PENELITIAN SASTRA BANDINGAN

    Get PDF

    PENGEMBANGAN MODEL PEMBELAJARAN BERBASIS PROYEK DALAM PEMBELAJARAN SASTRA PADA SISWA KELAS VIII SMP SE-KABUPATEN CIREBON

    Get PDF
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lemahnya pembelajaran sastra pada jenjang siswa SMP di Kabupaten Cirebon. Selama ini, guru mengalami keterbatasan dalam merancang  model yang efektif untuk mengaktifkan dan mencerdaskan siswa. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah menerapkan model pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada kecerdasan interpersonal dalam pembelajaran sastra. Penelitian ini bertujuan ingin memperoleh hasil yang objektif tentang keefektifan pengembangan model pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada kecerdasan interpersonal dalam pembelajaran sastra. Penelitian ini menggunakan metode penelitian dan pengembangan (research and development method) yang terdiri atas tiga tahapan, yaitu 1) studi pendahuluan, 2) perencanaan dan pengembangan draf media, dan 3) uji coba terbatas serta uji coba meluas. Uji coba terbatas dilakukan pada satu sekolah dan uji coba lebih luas dilaksanakan pada tiga sekolah. Penelitian ini menghasilkan acuan berupa model pembelajaran berbasis proyek yang berorientasi pada kecerdasan interpersonal dan aplikasinya dalam pembelajaran sastra. Keberhasilan hasil penelitian dapat dijadikan alternatif model pembelajaran

    EMPAT KARAKTER TOKOH DONGENG BUTON “WA NDIUNDIU”: SEBUAH PEMBACAAN PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD (Four Characters on Butonese Fairytale Wa Ndiundiu: A Sigmund Freud Psikoanalysis Interpretation)

    Get PDF
    “Wa Ndiundiu” adalah dongeng yang dibangun melalui pergumulan karakter tokohnya. Setiap tokoh menampilkan watak sesuai kondisi kejiwaannya. Psikologi sastra adalah kajian yang memandang sastra sebagai aktivitas kejiwaan pelakunya. Permasalahan penelitian adalah bagaimanakah struktur kepribadian, kecemasan, dan klasifikasi emosi empat tokoh “Wa Ndiundiu”? Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan empat karakter tokoh “Wa Ndiundiu” menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Jenis penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. Penulis menganalisis data dengan pendekatan tekstual, mengkaji aspek psikologisnya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh Ayah adalah akumulasi karakter yang diliputi kecemasan, tanatos, dominasi id, kemarahan, dan kebencian. Wa Turungkoleo memiliki cinta, kesedihan, dan eros. Kecemasan terkendali oleh ego dan superego-nya. La Mbatambata dikuasai alam bawah sadar dan fase id, muasal dorongan primitif yang belum dipengaruhi kebudayaan. Tokoh Wa Ndiundiu menghimpun beragam kerumitan kejiwaan. Antara id, ego, dan superego saling bersitegang dalam jiwanya. Tiga kecemasan, eros, dan tanatos hadir sekaligus dalam dirinya. Beragam klasifikasi emosi tersebut memengaruhi tindakannya.Abstract:Wa Ndiundiu is a kind of folktale built through the struggle of its characters. Every character shows  some characterizations based on their psychological condition. Literary psy- chology is used to describe psychological fact of their characters. The problems of the study are to find how the structure of personality, the anxiety, the emotional classification of Wa Ndiundiu’s four characters are.  The study is intended to describe the personality of four characters in “Wa Ndiundiu” by using Sigmund Freud Psychoanalysis. This study uses descriptive qualitative method. The writer analyzes the data by applying textual approach. The results of the analysis show that the first character “Ayah” is a character with anxiety, tanatos, id, madness, and hatred. The sec- ond character “Wa Turungkoleo” is a character that has love, sadness, and eros. Her anxiety can be controlled by her ego and super ego. The third character, La Mbatambata is still driven by his subconscious mind and id phase as a place of primitive stimulus which is influenced by the culture. The fourth character, Wa Ndiundiu collects the entire psychological situation in her characteriza- tion. Three types of anxiety, eros, and tanatos exist in her characterization. Many types of emo- tional feeling influence her action

    HALAMAN DEPAN: Metasastra Volume 6, Nomor 2, Desember 2013

    No full text

    130

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Balai Bahasa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇