Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Novel Siddhartha Karya Hermann Hesse: Pencarian Chiffer-chiffer Transendensi (Siddhartha Novel by Hermann Hesse: The search of chiffers transcendency)
Setelah Perang Dunia I, manusia modern mengalami kegelisahan spiritual. Novel Siddhartha karya Hermann Hesse merepresentasikan kegelisahan tersebut dalam menemukan kebahagiaan. Fokus permasalahan dan tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan usaha manusia untuk menemukan kebahagiaan abadi dalam kerangka filosofis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, sumber datanya adalah teks novel yang dianalisis secara interaktif-dialogis, serta menggunakan eksistensialisme sebagai basis teorinya. Tampak pada hasil penelitian bahwa dogma agama yang secara formal telah dipelajari, bahkan dilakukan, dirasakan oleh tokoh utama Siddhartha belum mampu memberi kepuasan dan kedamaian batin. Tokoh utama, sebagai subjek yang bebas atas dirinya sendiri, dari perspektif eksistensialisme, berusaha keras untuk menawar kenyataan dan ingin mengubahnya sesuai dengan peran kehendak. Pencarian spiritualitas secara personal dilakukan sang tokoh untuk menemukan dimensi baru dari hakikat kehidupan. Alam dengan segenap isinya menjadi bagian penting dalam menemukan chiffer-chiffer atau tanda-tanda kebesaran transendensi
PENDIRIAN SANGGAR TEATER DI SEKOLAH DALAM MENDUKUNG KEBERHASILAN PRESTASI SEKOLAH DAN KESUKSESAN BERKARIER (The Establishment of Theatre at Schools in Supporting School Achievement and Career Success)
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan potensi yang dikandung sanggar teater sebagai media yang memfasilitasi pengoptimalan potensi siswa, baik semasa mereka di sekolah maupun setelah mereka menempuh dunia karier. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan menggabungkan kajian tekstual dan kontekstual mengenai potensi sanggar teater sekolah, kemudian diikuti oleh kisah alumni sanggar teater yang menjelaskan pengaruh konstruktif dari pengalaman bersanggar terhadap keberlangsungan karier mereka. Hasil penelitian ini menemukan bahwa keberadaan sanggar teater di sekolah masih belum terkelola dengan baik. Dari sepuluh SMA Negeri yang diteliti, hanya tiga sekolah yang memiliki sanggar teater. Tiga sekolah yang memiliki sanggar teater, pembinanya didatangkan dari luar sekolah karena sekolah belum memiliki pembina. berdasarkan kajian teks, terbukti sanggar menjadi media yang strategis untuk membina karakter unggul siswa, baik untuk kepentingan selama mereka di sekolah maupun setelah mereka berkarier. Potensi sanggar teater tersebut dibuktikan oleh pengakuan alumni yang menjadikan pengalaman bersanggar teater sebagai inspirasi pengoptimalan kesuksesan berkarier mereka.Abstract:The study aims at describing the potential of theater as a medium that facilitates the optimization of students’ potential either in their schooling period or in their career. The study applied a qualitative descriptive method by combining textual and contextual studies on school theater potential. The research also provided the alumni’s experiences about a constructive influ- ence taken from the workshop experience in theater on the sustainability of their career. The result of the study reveals that the presence of the theaters still has not been well-managed in schools. Out of the ten public high school samples, there were only three schools that have theaters. From the three schools, their coaches are hired from other school because the schools have not got any coaches. Based on the textual study, it is shown that theater becomes a strategic media to foster students’ superior character for either their interest in school or in their career after graduation. Potential theater is proved by the alumni’s recognitions that have made their workshop experience in theater as optimization inspiration of their career success
MUNDINGLAYA DIKUSUMAH: SATU KAJIAN MORFOLOGI ATAS CERITA PANTUN SUNDA (Mundinglaya Dikusumah: A Morphological Study in Sundanese Poem)
Mundinglaya Dikusumah merupakan satu cerita pantun Sunda yang cukup populer. Cerita ini merupakan salah satu jenis dari tradisi lisan Sunda. Sumber tertulis tentang cerita Mundinglaya Dikusumah yang sering dijadikan rujukan adalah publikasi C.M. Pleyte, Raden Moending Laja di Koesoema: Een Oude Soendaasche Ridderroman Met Eene Inleiding over den Toekang Pantoen (TBG 49, 1907). Artikel ini bertujuan mendeskripsikan fungsi-fungsi yang terdapat dalam Mundinglaya Dikusumah dengan cara menganalisis cerita itu secara morfologis. Metode yang digunakan dalam artikel ini adalah analisis morfologi yang dilakukan Vladimir Propp terhadap cerita-cerita rakyat Rusia. Dengan metode tersebut akan terlihat fungsi-fungsi apa saja yang ada dan yang tidak ada dalam cerita tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa dalam cerita Mundinglaya Dikusumah terdapat 14 fungsi yang sama dengan fungsi Propp dan 17 fungsi yang terdapat dalam Propp tidak terdapat dalam cerita Mundinglaya Dikusumah.Abstract:Mundinglaya Dikusumah is one of the most popular Sundanese poem. It belongs to the Sundanese oral tradition. The written record of Mundinglaya Dikusumah has mostly been used as reference. It is C .M. Pleyte’s p ublicat ion, Ra den Moending L aja di Koesoema: Een Oude Soendaasche Ridderroman Met Eene Inleiding over den Toekang Pantoen (TBG 49, 1907). The study is aimed at describing functions in Mundinglaya Dikusumah by analyzing its story morpho- logically. The method used in the article is morphological analysis of Russian fairtales. The method show, which kind of function not found in the story. The result of the research shows that the Mundinglaya Dikusumah story consists of 14 functions having the same function as Propp that in and 17 functions not found in Mundinglaya Dikusumah
UGA SEBAGAI MEMORY KOLEKTIF MASYARAKAT SUNDA (Uga Sunda Community as a Collective Memory)
Uga merupakan salah satu tradisi lisan masyarakat Sunda, di dalamnya terkumpul segenap memori kolektif. Analisis terhadap uga meliputi nilai-nilai dalam bentuk simbol yang tersirat di dalamnya. Uga mampu meramalkan perubahan sosial sesuai dengan zamannya. Apabila dilihat dari orientasi waktu, uga dapat menunjukkan: (1) tercipta dan dituturkan pada masa lampau; (2) dituturkan pada masa lampau dan terjadi pada waktu lalu; (3) dituturkan pada masa lampau dan sekarang (sedang terjadi); (4) dituturkan pada masa lampau, ramalan untuk masa yang akan datang. Fungsi uga di samping memprediksi ia juga harus dijadikan sebagai alat antisipasi tentang sesuatu yang bakal terjadi di waktu yang akan datang.Abstract:Uga is one of Sundanese oral tradition containing most collective memory. Analysis of the Uga includes the values in the form of symbols that implied in it. It is able to predict social change in accordance with its time when viewed from the orientation of time. It can show that (1) it could be created and spoken in the past; (2) it was spoken and taken place in the past;(3) it was spoken in the past and is still being used now; (4) it was spoken in the past and predictions for the future. Besides its functions to predict the social change, it can serve as a tool in anticipation of something that might happen in the future
AJARAN BUDI PEKERTI TEKS GEGURITAN SARASAMUSCAYA DAN RELEVANSINYA TERHADAP DEKONTRUKSI ETIKA- MORALITAS BANGSA (Morality Teaching in the text of Geguritan Sarasamuscaya and Its Relevance To Nation Morality Ethics Deconstruction)
Sangat lama pendidikan budi pekerti yang lahir dari bumi pertiwi terlindas pendidikan global yang menaruh harapan besar pada nilai-nilai Barat yang cenderung material dan amat hedonis. Pembangunan hanya mengejar nilai ekonomis, kurang memperhatikan pembangunan mental spiritual yang tumbuh dari peradaban sendiri sehingga mengakibatkan generasi penerus bangsa menjadi generasi “kolokan”, tidak tahu tata etiket bangsanya. Arti dari kegetiran itu adalah kita sejak lama membutuhkan santapan rohani yang membumi, agar anak bangsa ini tidak tercerabut dari akar tradisi luhurnya. Oleh karena itu, pada kesempatan ini penulis menyajikan nilai-nilai moralitas bangsa yang tertuang dalam karya-karya klasik, khususnya karya Geguritan Sarasamuscaya. Pengungkapan nilai-nilai ajaran yang dikandung kiranya dapat dipakai ancangan untuk mengisi pendidikan budi pekerti yang dilupakan dalam kurikulum sekolah di Indonesia. Namun, belakangan ini semakin santer terdengar manfaatnya untuk diajarkan dari tingkat pendidikan paling dasar hingga ke pendidikan perguruan tinggi. Dalam rangka merancang nilai moralitas dari teks Geguritan Sarasamuscaya menjadi bahan jadi yang dapat dipedomani, penulisan ini dibantu dengan pendekatan yang bersifat pascastruktural yang kritis. Teori yang digunakan adalah teori resepsi Jauss, teori semiotika Pierce, dan teori mitologi dari Barthes. Nilai-nilai moralitas teks Geguritan Sarasamuscaya sangat baik dipakai pedoman untuk pengajaran budi pekerti. Dengan demikian, moralitas bangsa yang kita cintai ini tidak jatuh pada titik nadir.Abstract:It has been a decade that character building education taken from national cultural h er it ag e s qu as hed b y gl ob al edu ca t io n. T he g lo ba l edu ca ti on h as cou n ted grea tl y o n western values tending to be the material and very hedonistic. Development only pursues on economic value and less attention to development of mental spiritual that has grown from his own civilization. As the result it has created ”spoiled” generation , not knowing the character of their own nation. The meaning of bad condition is that we have been searching for finding our spiritual teaching. Hence, child ren of this na tion are not up rooted f rom tra dition i nherited by ou r ancest ors. Therefore, on this occasion the writer presents the nation’s moral values contained in the classical works, particularly works of Geguritan Sarasamuscaya. Disclosure of moral values contained in it can be applied as a subject of national character building of the school’s curriculum in Indonesia. However, it has been a big issue about the advantage of teaching nation character building started from the most basic level of education up to university. In order to design moral value of the text Geguritan Sarasamuscaya into materials that can be applied in education, the writer applies the critical pascastructural approach . The supporting theory used is Jaus’s reception theory, semiotics Pierce theory, and mythology theory of Barthes Moral values of text Geguritan Sarasamuscaya is very essential to be applied as guidelines for manner teaching . Thus, the morality of our beloved nation is not falling so badly
LEGENDA BANJAR SEBAGAI SARANA DAKWAH KEAGAMAAN (Banjar Legend as a Tool of Religious Preaching)
Legenda merupakan cerita rakyat pada zaman dahulu yang ada hubungannya dengan dengan pristiwa sejarah pada masa lampau. Selain itu, legenda juga dikenal pada suatu kelompok masyarakat nusantara yang tersebar dalam bentuk pengelompokan yang disebut dengan siklus, yaitu sekelompok cerita yang berkisar pada suatu tokoh atau kejadian tertentu dan masyarakat Banjar menyebutnya dengan istilah cerita legenda para datu.Penelitian mengenai legenda keagamaan cerita para datu di Kalimantan Selatan selain lebih populer di kalangan masyarakat Banjar, cerita para datu itu dapat dianggap lebih refresentatif untuk dijadikan bahan kajian. Selain itu, cerita para datu di dalamnya banyak mengandung unsur sarana dakwah keagamaan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode deskriptif-kualitatif. Hasil yang diharapkan dari penelitian ini ialah mengungkapkan nilai-nilai dakwah keagamaan melalui sarana cerita para datu yang dijadikan bahan analisis dalam penelitian ini.Abstract: Legend is a type of folklore which has a close relationship with a specific historical person or event in the past. Legend is shared by people in Nusantara based on a certain grouping which is called cycle that is a group of stories on a particular person or event. Banjarese people call this type of stories as the legends of datu, legenda para datu. Research on religious legends of datu stories in Kalimantan Selatan is not only popular amongst its people, it is also considered as a good source for a research. Method used in this research is descriptive-qualitative. the aim of this research is to describe the values of religious preaching in datu stories media which is the object of the research