Jurnal Balai Bahasa
Not a member yet
    235 research outputs found

    REPRESENTASI ANTARA FAKTA DAN FIKSI JANG OK JUNG SEBUAH DRAMA SEJARAH KOREA (Representation Between Fact and Fiction of “Jang Ok Jung”: a Korean Historical Drama)

    Full text link
    Karya sastra yang berlatar belakang sejarah selalu menarik untuk dicermati. Apakah karya sastra tersebut menggambarkan fakta sejarah atau lebih banyak imajinatifnya? Terlepas dari itu Jang Ok Jung Live for Love sebuah drama Korea yang disiarkan dalam media televisi bernuansa historis cukup menarik diteliti. Penelitian ini bermaksud menggali makna drama Jang Ok Jung dengan mengamati variasi-variasi dalam drama tersebut berdasarkan sejarah selaku hipogramnya, melalui studi intertekstual. Masalah yang menarik untuk dikaji adalah bagaimana gambaran Ok Jung, bagaimana pula sepak terjang Ok Jung mulai ia berperan sebagai Ok Jung sampai menjadi Jang Hee Bin, dan siapa saja yang mendukung dan menjegalnya? Metode yang digunakan dalam memaknai drama tersebut adalah deskriptif kualitatif dan perbandingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa antara sejarah dan dramanya terdapat perbedaan yang mencolok. Dialog, alur, motif, dan penampilan gambar sebagai kekuatan visualisasi lebih “berwarna” daripada sejarahnya. Drama televisi yang lebih berorientasi pada pasar juga menjadi pertimbangan lain adanya perbedaan antara sejarah dan fiksi

    IMAJINASI DALAM PENCIPTAAN ELONG (Imagination in The Creation of Elong)

    Full text link
    Elong yang mengandung nilai luhur, merupakan kekayaan tradisi yang tidak boleh diabaikan. Elong adalah warisan budaya yang perlu dimekarkan. Artikel ini diharapkan dapat memberikan bimbingan apresiasi untuk menumbuhkan rasa cinta dan penghargaan masyarakat terhadap elong sebagai kekayaan budaya. Artikel ini memanfaatkan pula beberapa pendapat yang membahas sosiologi sastra dengan menggunakan metode deskriptif analitis. Data penyusunan artikel, diambil dari bahan-bahan tertulis, yaitu majalah dan naskah yang memuat elong dan data lisan yang diperoleh dari informan.Abstract:Elong, which owns high value, is a wealth of tradition that should not be ignored. It is a cultural heritage that needs to be developed. This article is expected to provide a guidance to foster appreciation of  love and admiration of society towards Elong as cultural richness . The writing  also utilizes several opinions that discuss the sociology of literature by using descrip- tive analytical method. Data collection is taken from written materials, namely magazines and manuscripts that contain Elong verbal data obtained from informants

    “PACAR MERAH, PAHLAWAN YANG TERMARJINALKAN”

    Full text link

    Resensi Buku: “RUH YANG BERONTAK”

    Full text link
    Identitas Novel Judul               : Sekuntum Ruh dalam Merah: Kisah tentang Ruh yang Selalu Tidak PuasPengarang      : Naning PranotoPenerbit          : Diva PressCetakan          : Ke-2Tahun terbit   : 2012Jumlah halaman:  x + 37

    REINTERPRETASI DAN REKONSTRUKSI CERITA SI KABAYAN DAN SANGKURIANG DALAM KESUSASTRAAN INDONESIA MODERN (Si Kabayan and Sangkuriang: Reinterpretation and Reconstruction in Modern Indonesian Literature)

    Full text link
    Penelitian yang berjudul “Reinterpretasi dan Rekonstruksi Cerita Si Kabayan dan Sangkuriang dalam Kesusastraan Indonesia Modern” dimaksudkan untuk mengkaji transformasi kisah Sangkuriang dan Si Kabayan dengan tujuan  mengetahui perubahan interpretasi dan rekonstruksi kedua cerita lisan tersebut ke dalam sastra Indonesia kontemporer. Cerita Sangkuriang dan Si Kabayan yang pada mulanya merupakan cerita lisan, tidak hanya ditransformasikan ke dalam bentuk tulis oleh banyak sastrawan, tetapi juga bertransformasi ke dalam bentuk drama hingga film. Dalam penelitian ini digunakan enam teks transformasi, yaitu: (1) Sang Kuriang karya Utuy Tatang Sontani,(2) Lelaki yang Terus mencintai Sumbi karya Hermawan Aksan, (3) Kesadaran Sangkuriang karya Dian Hartati, (4) Si Kabayan karya Utuy T. Sontani,(5) Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang karya Achdiat K. Mihadrja, (6)  Si Kabayan Jadi Wartawan karya Muchtar ibn Thalab. Dengan menggunakan prinsip sastra bandingan dan teori transformasi ditemukan bahwa Sangkuriang dalam ketiga teks transformasinya digunakan untuk penyampaian ideologi. Sementara itu, Si Kabayan dalam ketiga teks transformasinya digunakan sebagai alat penyampai kritik terhadap berbagai ketimpangan yang terjadi di masyarakat.Abstract: The research aims to study “The transformation of Si Kabayan and Sangkuriang stories and how they are reinterpreted and reconstructed in contemporary Indonesian literature”. These originally oral stories have been transformed not only into written texts, but also into drama and film by different authors. The research focuses on six texts, namely  (1) Sang Kuriang by Utuy Tatang Sontani,(2) Lelaki yang Terus mencintai Sumbi by Hermawan Aksan, (3) Kesadaran Sangkuriangby Dian Hartati, (4) Si Kabayanby Utuy T. Sontani,(5) Si Kabayan Nongol di Zaman Jepangby Achdiat K. Mihadrja and (6)Si Kabayan Jadi Wartawanby Muchtar ibn Thalab, all of which are written transformations of the stories. Using principles of comparative literature and transformation theory to approach the texts, the study finds that in the first three texts, the transformation of Sangkuriang story is intended to convey an ideology, whereas in the latter, the transformation of Kabayan story is intended as a means to critize injustice and inequality that occurs in the society

    Abstrak Bahasa Indonesia

    No full text

    REPRESENTASI NILAI BUDAYA HIMNE PASOMBA TEDONG: SEBUAH CERMIN KEARIFAN LOKAL MASYARAKAT TORAJA (Representation of Cultural Values of Hymns Pasomba Tedong: A Reflection of Local Wisdom of Toraja Society)

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui nilai-nilai budaya dalam himne Pasomba Tedong. Himne Pasomba Tedong adalah pengiring upacara yang diucapkan pada upacara syukuran tertinggi dalam kehidupan orang Toraja, yaitu pada upacara maqbuaq dan meruaq yang  diperuntukkan kepada Puang Matua, ilah-ilah, dan dewata. Tujuan upacara ini adalah untuk memohon kesuburan tanah dan memudahkan interaksi sosial masyarakat dengan mengorbankan seekor kerbau muda hitam dan gemuk. Himne Pasomba Tedong disajikan dalam bentuk prosa lirik.  Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu penelitian yang menggambarkan objeknya secara apa adanya. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik inventarisasi, baca simak, pencatatan, teknik observasi partisipasi, dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai yang ditemukan dalam himne Pasomba Tedong adalah nilai religi, nilai persatuan, nilai musyawarah mufakat, nilai etis, dan nilai tenggang rasa/saling menghormati.Abstract:This research is aimed at  knowing  cultural values in the hymn of Pasomba Tedong. Pasomba Tedong hymn is an accompanist ceremony pronounced at thanksgiving ceremony in Toraja’s life by performing  Maqbuaq and Meruaq  ceremony  for Puang Matua and God. The purpose of the ceremony  is to invoke fertility of the soil and  facilitate social interaction with the community to sacrifice a fat black bull. Passomba Tedong is presented in prose lyrics. This re- search applies the qualitative descriptive method that describes the object as it is. The data were collected by using inventory techniques, reading, recording, observation, and interview. The result shows that the values in Pasomba Tedong are religious value, unity value, consensus agreement value, ethical value, and tolerance or mutual respect value

    POLITIK SEKSUALITAS NAZI DALAM NOVEL DER VORLESER KARYA BERNHARD SCHLINK (Nazi’s Sexuality Politics in Bernhard Schlink’s Novel “Der Vorleser”)

    Full text link
    Tulisan ini mengkaji tentang politik seksualitas  Nazi yang terdapat dalam novel Der Vorleser karya Bernhard Schlink. Teks novel ini menunjukkan adanya keterkaitan antara seksualitas dan politik. Kajian ini dilandasi oleh teori Foucault yang membahas sejarah seksualitas dan kaitannya dengan negara, serta teori mengenai politik seksualitas Nazi di Jerman yang dikemukakan Herzog. Hasil analisis menunjukkan bahwa di dalam novel tersebut terdapat gambaran politik seksualitas Nazi, seperti pelarangan aktivitas seksual remaja, sakralisasi aktivitas seksual, pengokohan identitas dan peran gender, serta pelarangan hubungan di luar pernikahan. Selain itu, hasil analisis juga menunjukkan bahwa politik seksualitas ini diterapkan oleh pemerintah Nazi dengan tujuan untuk menjaga kemurnian ras bangsa Jerman serta menunjukkan superioritas bangsa Jerman terhadap bangsa lain.Abstract:This paper examines Nazi’s politics of sexuality in the Bernhard Schlink’s novel “Der Vorleser”. The novel shows that there is a relation between sexuality and politics.  This study uses Foucault’s theory on sexuality in relation with the state as well as Herzog’s theory on Nazi’s politic of sexuality. The result of the research show that in the novel there are descriptions of Nazi’s politics of sexuality, such as the prohibition on teenage sexuality, the sacralization of sexual activity, the strengthening of identity and gender roles, and the prohibition of premarital sex. Furthermore, the results of the analysis reveal that the sexuality politics is applied by the Nazi government in order to maintain the purity of the German race and show German supremacy over other nations

    ANTROPOLOGI  SASTRA: PERKENALAN AWAL (Anthropology Literature: an Early Introduction)

    Full text link
    “Antropologi Sastra: Perkenalan Awal”, judul artikel ini mendeskripsikan atau mengenalkan sebuah teori yang relatif baru dalam sejarah pendekatan terhadap karya sastra, yaitu antropologi sastra. Secara panjang lebar, di dalam artikel dijelaskan perbedaan antara istilah antropologi sastra dan sastra antropologi serta hubungan kedua istilah tersebut. Kemudian, dijelaskan pula tentang sejarah lainnya, yaitu antropologi sastra, identifikasi antropologis dalam karya sastra dan antropologi sastra di masa depan. Dalam penutup disampaikan bahwa antropologi sastra memiliki kemampuan maksimal untuk mengungkapkan berbagai permasalahan yang muncul dalam karya sastra, seperti masalah kearifan lokal, sistem religi, dan masalah kebudayaan yang lain.Abstract:This article describes   a relatively new theory in the history of literary work approach, the anthropological literature. At length, the article explains that the difference between the terms of literary anthropology and anthropology and the relation between those terms.  Then, it also discusses another history of literary anthropology, anthropological identification in literary work and anthropological literature in the future. In closing it is submitted that the anthropological literature has the maximum ability to describe various problems emerged in literary works, such as the problem of local wisdom, religion, and other cultural issues

    PANDANGAN DUNIA ORANG SUNDA DALAM TIGA NOVEL INDONESIA TENTANG PERANG BUBAT (Sundanese World View in Three Indonesian Novels about Bubat War)

    Full text link
    Penelitian ini membahas pandangan dunia orang Sunda yang terdapat dalam tiga novel Indonesia tentang Perang Bubat. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan pendekatan struktural. Melalui analisis terhadap alur dan pengaluran, penokohan, latar, serta sudut pandang, penulis menggali pandangan dunia orang Sunda yang hadir dalam ketiga novel tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam ketiga novel tersebut, para tokohnya memperlihatkan pola tindak, pola tutur, dan pola pikir yang mengarah pada pandangan dunianya tentang kepemimpinan dan harga diri; perempuan dan arti cinta, kepasrahan, serta kebahagiaan. Hal tersebut ditunjukkan oleh para tokoh setelah melalui berbagai peristiwa yang kemudian mengubah jalan hidup mereka karena terjadi konflik dalam Perang Bubat.Abstract:  This research discusses Sundanese world  view in three Indonesian novels about Bubat War. This study uses qualitative methods and structural approaches. Through the analysis of plot, characterization, setting, and point of view, the author explores the Sundanese world view presented in the three novels. The results reveal that in the three novels, the characters show the act pattern , speech pattern, and mindset leading their world view on leadership and self-esteem: women as well as the meaning of love, surrender, and happiness. Those are shown by the characters through series of events changing their lives because of conflict in Bubat War

    130

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Balai Bahasa
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇