Jurnal Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran
Not a member yet
    875 research outputs found

    Overclaim Skincare Products: Legal Implementation and Protection of Consumer Rights

    Full text link
    Overclaim is the action of business actors who make excessive, misleading, and inconsistent claims in the promotion of their products. This practice not only creates a risk of loss for consumers, but also violates the principles of transparency and honesty in trading activities. In this writing, we discuss the case of overclaim carried out by business actors with the example of one of the skincare brands in Indonesia, namely Azarine. This study aims to analyze the legal implementation of overclaim practices in the world of skincare and examine the legal protection provided to consumers in Indonesia. This research uses normative juridical with a qualitative approach carried out by involving relevant laws and regulations, case studies and other literature in accordance with the title taken. Although there are legal frameworks such as the Consumer Protection Law and the regulations of the Food and Drug Supervisory Agency (BPOM), there are still gaps in the supervision and enforcement of the law on claims that there is a need for increased strict regulations and consumer education so that their rights can be optimally protected. In addition, consumers must be able to be more thorough and understand more in choosing skincare products to be purchased by looking at the product content and benefits of the product

    Analysis of Marriage Law Issues: State Law and Islamic Law

    Full text link
    Many parties argue that the Marriage Law urgently needs revision because it is considered outdated and unable to address various marital issues in the modern era. Therefore, there are still many provisions that need to be amended or added to the Marriage Law. The purpose of this study is to analyze legal issues related to marriage in Indonesia based on state law and Islamic law. This research focuses on a normative-juridical analysis covering legal principles, legal systematics, and legal synchronization. The research specification is descriptive-analytical, while the data analysis is conducted using a qualitative-juridical approach. To complement the secondary data, interviews are planned with informants including judges from the religious courts and the general courts, as well as legal practitioners. The results show that interfaith marriage is clearly prohibited in Islam and generally also not permitted in other religions. Same-sex marriage is also strictly prohibited under both religious law and state law, because one of the main purposes of marriage is to produce offspring and ensure the continuity of human life. Meanwhile, unregistered marriages (sirri) and contract marriages are considered invalid because they are not officially registered at the Office of Religious Affairs (KUA) or the Civil Registry Office. This study concludes that there remain a number of provisions in the Marriage Law that need to be revised, particularly regarding the establishment of firm and clear sanctions for violations of marriage law, especially for those involved in interfaith marriages, same-sex marriages, unregistered marriages, and contract marriages

    HAMBATAN DALAM IMPLEMENTASI PERATURAN MENTERI ATR/KA BPN NOMOR 5 TAHUN 2020 PELAYANAN HAK TANGGUNGAN TERINGTEGRASI SECARA ELEKTRONIK

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan Hak Tanggungan Elektronik (HT-el) di Indonesia, dengan fokus pada kendala yang dihadapi oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT) dan tanggung jawab mereka dalam sistem ini. Metode penelitian yang digunakan berupa yuridis normatif dengan pendekatan kualitatif dan teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi. Data diperoleh dari berbagai dokumen hukum, peraturan perundang-undangan, dan literatur terkait yang relevan dan dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kendala utama dalam pelaksanaan HT-el meliputi kurangnya sosialisasi dan pemahaman mengenai sistem, keterbatasan akses dan pendaftaran, serta kendala teknis dalam penggunaan sistem yang dapat menghambat proses pendaftaran. Selain itu, tanggung jawab PPAT dalam memastikan keabsahan dokumen dan komunikasi yang efektif dengan pihak terkait juga menjadi tantangan tersendiri yang perlu diatasi. Penelitian ini merekomendasikan perlunya sosialisasi yang lebih intensif, pelatihan bagi PPAT, dan pengembangan sistem yang lebih user-friendly untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan HT-el. Dengan mengatasi kendala-kendala ini, diharapkan pelaksanaan HT-el dapat berjalan lebih lancar dan memberikan manfaat yang maksimal bagi semua pihak yang terlibat dalam transaksi kredit. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan kebijakan dan praktik yang lebih baik dalam sistem jaminan di Indonesia, serta meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap penggunaan sistem elektronik dalam pengelolaan hak atas tanah. Dengan demikian, hasil penelitian ini tidak hanya relevan bagi PPAT dan lembaga keuangan, tetapi juga bagi pembuat kebijakan dan masyarakat luas yang berkepentingan dalam pengembangan sistem jaminan yang lebih transparan dan efisien

    Criminal Liability of Non-Profit Organisations (Foundation) in Money Laundering Crimes in Indonesia

    Full text link
    Money laundering crimes have a massive impact on the economy and are transboundary as well. PPATK identifies Non-profit organizations (NPOs/Foundations) as being in the highrisk category of ML/TF, often used to accommodate the proceeds of crime and as a means of money laundering. This is due to the absence of an obligation for foundations to ensure the origin of funds received. This research aims to address how is the criminal liability of NPOs/Foundations as ML offenders. This research uses normative research method by utilizing library research. The results show that the NPOs/Foundations are a form of incorporated corporation that qualifies as a subject of money laundering crimes as stipulated in the Criminal Law Code 2023 and the Anti-Money Laundering Law. Therefore, NPOs/Foundations can be held criminally liable. The regulation of criminal liability of NPOs/Foundations in ML refers to the provisions of Articles 6 and 7 of the AML Law and Article 4 Paragraph (2) of Supreme Court Regulation No. 13/2016 which regulates corporate criminal liability. The AML Law follows the concept of vicarious liability, allowing foundations to be charged for money laundering crimes based on the actions of their representatives. The paper emphasizes the importance of law enforcement officials understanding these provisions to accurately assess the guilt of foundations, considering the form of guilt (intentional or negligence) and its implications for sentencing

    Risk Mitigation Strategies For The Implementation Of Step-In Rights In Power Plant Project Financing Agreements In Indonesia

    Full text link
    Infrastructure project financing in Indonesia often utilizes long-term loan schemes between lenders and project companies. One important clause in the financing agreement is the step-in rights, which authorizes the creditor to take over the management of the project in the event of default by the project company. However, the implementation of step-in rights faces several challenges, mainly related to the unclear arrangements in the legislation, the ability of creditors to take over operations, and coordination between related parties. Therefore, this study aims to analyze a comprehensive risk mitigation strategy in the implementation of step-in rights in development project financing contracts in Indonesia. The methodology used is a literature study and analysis of related regulations. The results show the need for clear arrangements regarding step-in rights, analysis of the creditor's ability to take over operations, planned transition mechanisms, and government involvement in supervising and facilitating the implementation of these rights. Risk mitigation strategy recommendations are developed based on these findings to ensure the effectiveness of step-in rights implementation in financing development projects in Indonesia

    Analisa Tuntutan Penerapan Aturan Hukum Pidana Dumping Limbah Batu Bara oleh Korporasi sebagai Pelaku Tindak Pidana (Analisis Putusan Nomor: 526/Pid.Sus-LH/2017/PNTgr)

    No full text
    Tindak pidana pencemaran dan perusakan lingkungan hidup bersifat kompleks dan sering menimbulkan tafsir berbeda di pengadilan. Ketidakjelasan dan ketidakkonsistenan dalam penerapan hukum lingkungan kerap memicu ambiguitas, terutama dalam kasus perusakan lingkungan yang masif. UU No. 32 Tahun 2009 menegaskan bahwa pelanggaran lingkungan adalah kejahatan dan hukum pidana merupakan instrumen utama (premium remedium). Penelitian ini menelaah penerapan hukum pidana terhadap pembuangan limbah batu bara oleh korporasi tambang. Metode yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif melalui studi dokumentasi dan analisis kualitatif. Hasilnya, putusan perkara Nomor 526/Pid.Sus-LH/2017/PN Trg dinilai ringan: tanpa pidana penjara, tanpa kewajiban pemulihan lingkungan, dan tanpa pertanggungjawaban pidana korporasi. Koalisi masyarakat sipil menilai seharusnya Jaksa menuntut berdasarkan Pasal 109 UU PPLH, dengan ancaman denda hingga Rp3 miliar dan pidana kurungan 1–3 tahun untuk pimpinan korporasi. Kata kunci: batu bara; lingkungan hidup; pertambangan; pidana pencemara

    PERLINDUNGAN HUKUM ATAS ASET TANAH LEMBAGA PENDIDIKAN (STUDI KASUS: SMAN 1 BANDUNG)

    Full text link
    Kepemilikan atas status hak atas tanah yang diberikan kepada penyelenggara pendidikan untuk mendirikan sebuah fasilitas pendidikan memiliki peran krusial dalam menjamin kepastian hukum dan kelangsungan fungsi pendidikan. Namun dalam faktanya banyak terjadi pencabutan hak atas tanah terutama tanah yang diperuntukan untuk fasilitas pendidikan, salah satu contohnya adalah kasus SMA Negeri 1 Bandung.  Sebagai objek benda tidak bergerak, tanah penguasaannya berada ditangan negara yang memiliki tujuan untuk menciptakan kemakmuran seluruh rakyat yang sebesar-besarnya. Secara khusus di dalam Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar Pokok-pokok Agraria mengatur secara khusus terkait hak atas tanah yang menetapkan jenis-jenis hak atas tanah dan siapa saja yang berhak atas kepemilikan tanah tersebut. Hak atas tanah merupakan hubungan hukum antara subjek hukum dengan objek tanah yang memberikan hak bagi subjek tersebut untuk menguasai, mengatur maupun menggunakan tanah sesuai dengan ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku. Sebagai subjek hukum pemegang hak atas tanah memiliki kewajiban untuk memperuntukkan tanah tersebut sesuai dengan asas fungsi sosial tanah, yaitu tanah harus digunakan, dikelola dan dimanfaatkan tidak hanya sekedar untuk kepentingan individu, melainkan juga harus mempertimbangkan kemanfaatan dan kesejahteraan bagi masyarakat luas. Misalnya, badan hukum penyelenggara pendidikan  yang memiliki hak atas tanah beralaskan hak guna bangunan (HGB). HGB merupakan hak yang diberikan untuk mendirikan dan memiliki sebuah bangunan guna keperluan pendidikan. Dalam hal ini, yayasan atau lembaga pendidikan berperan sebagai subjek hukum yang dilindungi haknya oleh hukum pertanahan sehingga dapat melaksanakan aktivitas pendidikan secara legal dan berkelanjutan. Namun, didalam faktanya meskipun penyelenggara pendidikan memiliki hak atas tanah namun terjadi gugatan yang dilayangkan kepada subjek pemegang hak atas tanah tersebut salah satunya adalah SMAN 1 Bandung yang digugat oleh Perkumpulan Lyceum Kristen (PLK)

    Pertanggungjawaban Hukum atas Pembuangan Limbah Berbahaya

    Full text link
    Pembuangan limbah berbahaya merupakan salah satu isu lingkungan yang kompleks dan memerlukan perhatian serius. Regulasi yang ada telah mengatur pengelolaan limbah berbahaya, namun implementasi dan penegakan hukumnya masih menghadapi berbagai tantangan. Kurangnya kesadaran industri, lemahnya pengawasan, serta minimnya sanksi yang efektif menyebabkan tingginya angka pelanggaran dalam pembuangan limbah berbahaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk pertanggungjawaban hukum atas pembuangan limbah berbahaya serta efektivitas regulasi dalam mencegah pencemaran lingkungan. Dengan pendekatan kualitatif berbasis studi kasus, penelitian ini mengidentifikasi berbagai hambatan dalam implementasi hukum serta merumuskan rekomendasi untuk meningkatkan akuntabilitas dalam pengelolaan limbah berbahaya. Kata kunci: limbah berbahaya; pertanggungjawaban hukum; pencemaran lingkungan; penegakan hukum; regulasi lingkunga

    Pembuktian Sederhana dalam Kepailitan Rumah Susun “The Oasis”: Analisis Regulasi Dicabutnya Penetapan Kepailitan pada Perkara Nomor 1433 K/Pdt.Sus-Pailit/2020 jo Perkara No. 188/Pdt.Sus-PKPU/2020/PN.NIAGA.JKT.PST.

    No full text
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis putusan hakim Pengadilan Niaga pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat  terhadap Penetapan Kepailitan pada Putusan  Pengadilan  Niaga Jakarta Pusat nomor 1433 K/Pdt.Sus-Pailit/2020 jo Perkara No. 188/Pdt.Sus-PKPU/2020/PN.NIAGA.JKT.PST.) terhadap PT Nusantara Prospekindo Sukses. Bahwa dengan pembuktian sederhana dalam perkara ini dapat mengakibatkan sebuah Ketetapan Kepailitan dan menimbulkan pertanyaan mengenai dampak terhadap pencabutan kepailitan. Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif melalui studi pustaka, dengan fokus pada peraturan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ketetapan Kepailitan dicabut oleh Hakim Pengawas dengan adanya invetor. Di lain pihak resiko kemungkinan terjadinya pengelolaan manajemen yang tidak benar pada investor yang melakukan akuisisi nantinya dapat saja terulangnya kembali  sehingga menimbulkan dampak kerugian bagi Kreditor Konkuren di kemudian hari. Rekomendasi meliputi penguatan penegakan hukum, pelibatan aktif para Kreditor Konkuren dan pemerintah. Kata Kunci: hakim pengawas; kepailitan; kreditor; pembuktian sederhana; rumah susu

    The Potential for Greenwashing in Greenhouse Gas (GHG) Emission Offset Schemes in Indonesia’s Forestry Sector

    Full text link
    Introduction to the Problem: The implementation of GHG emission offset schemes in the forestry sector carries inherent uncertainties due to its highly dynamic nature. These uncertainties may lead to greenwashing, driven by misinformation in data and the complex characteristics of the forestry sector.Purpose/Study Objectives: This study aims to provide insights into carbon trading and to serve as a reference for policymakers in responding to the potential risks of greenwashing in carbon trading through GHG emission offset schemes.Novelty: This research identifies two primary issues contributing to the potential for greenwashing in carbon trading through GHG emission offset schemes in the forestry sector: manipulated claims and double counting.Methodology: This research adopts a normative juridical approach, focusing on the analysis of laws and regulations, particularly those governing carbon trading in the forestry sector through GHG emission offset schemes. Results/Findings: The mechanism for carbon trading through GHG emission offset schemes in Indonesia’s forestry sector is regulated under Minister of Environment and Forestry Regulation Number 7 of 2023 regarding the Procedures for Carbon Trading in the Forestry Sector. The key issues giving rise to greenwashing potential in this context are manipulated claims during the planning and preparation of the Emission Reduction Result Document (DRAM), and double counting of emission reductions

    782

    full texts

    875

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇