Publikasi Online Fakultas Biologi UNSOED (Universitas Jenderal Soedirman)
Not a member yet
    384 research outputs found

    Pengaruh Pakan Suplementasi Spirulina platensis dan Chlorella vulgaris terhadap Pertumbuhan dan Komposisi Tubuh Ikan Gurami (Osphronemus gouramy)

    Full text link
    Gurami adalah ikan air tawar yang mudah terinfeksi penyakit terutama pada cuaca dingin dan curah hujan tinggi, sehingga perlu dicari solusi untuk penanggulangannya.  Ikan gurami merupakan ikan yang ukuran tubuhnya dapat mencapai 5 kg. Penelitian tentang suplementasi  S. platensis dan C. vulgaris dengan dosis 6 g/kg pakan telah dilakukan pada ikan gurami (Osphronemus gouramy Lac.). Penelitian bertujuan mengetahui pertumbuhan dan komposisi tubuh ikan gurami yang diberi pakan suplementasi S. platensis, C. vulgaris dan campuran S. platensis + C. vulgaris serta mendapatkan komposisi pakan terbaik meningkatkan pertumbuhan dan komposisi tubuh ikan gurami.   Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan enam perlakuan dan tiap perlakuan diulang tiga kali. Perlakuan yang dicobakan dalam penelitian ini adalah: K = ikan gurami diberi pakan Tubifex sp., Daphnia sp. dan pelet komersial; P1 = ikan gurami diberi pakan suplementasi S. platensis dan Tubifex sp.; P2 = ikan gurami diberi pakan suplementasi S. platensis dan Daphnia sp.; P3 = ikan gurami diberi pakan suplementasi C. vulgaris dan Tubifex sp.; P4 = ikan gurami diberi pakan suplementasi C. vulgaris dan Daphnia sp., P5 = ikan gurami diberi pakan suplementasi campuran S. platensis + C. vulgaris, Tubifex sp. dan Daphnia sp. Penelitian dilakukan selama 112 hari dan ikan diberi pakan dua kali sehari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan komposisi pakan dapat meningkatkan pertumbuhan dan  komposisi tubuh ikan gurami serta perlakuan P1 yaitu pakan suplementasi S. platensis dan Tubifex sp. terbaik dalam meningkatkan pertumbuhan dan komposisi tubuh ikan gurami. Penelitian ini menemukan bahwa untuk budidaya gurami sebaiknya ikan gurami diberi pakan suplementasi S. platensis atau C. vulgaris

    Ikan Introduksi Oxyeleotris marmorata, Bleeker (1852): Populasi, Laju Exploitasi dan Pengendaliannya di Waduk Sempor, Kebumen

    Full text link
    Oxyeleotris marmorata Bleeker or marble goby originally from China and is introduced to Indonesia in 1927. This predator fish could be a threat to freshwater fish diversity, thus its population should be controlled. In order to support their control efforts, this research attempted to evaluate the population size and exploitation rate of O.marmorata in Sempor Reservoir, Kebumen. Survey with purposive random sampling were applied by dividing the Sempor Reservoir into three parts (inlet, middle and outlet) and each part was represented by two sites. The population sizes of fish were analyzed using F-test and the exploitation rates of O.marmorata were analyzed using FiSAT II. The result shown that the population sizes of O.marmorata in inlet, middle and outlet were is different. (Fcal= 7.544 with P= 0.03). The fish population in middle possessed L∞ = 39.06, K = 2.0 and t0 = -0.44, and fish population in outlet with properties L∞ = 37.59, K = 2.1, and t0 = -0.42. The growth patterns of O.marmorata in both parts were relatively similar. The mortality of O.marmorata in the middle part was more caused by fishing activities, meanwhile in the outlet, the mortality occurred naturally. The exploitation rate in middle (E= 0.55) and in outlet parts (E=0.10). It seems that the middle part of Sempor Reservoir was 5 times more exploited than in the outlet part. Population control could be conducted by fishing O marmorata with 13.38-17.30 cm in length in outlet part and fishing (E) should not more than 0.5

    Studi Kekerabatan Tetua Persilangan dan Polimorfisme Marka Mikrosatelit pada Bawang Merah (Allium cepa var ascalonium L. (Back))

    No full text
    Bawang merah merupakan salah satu tanaman hortikultura yang memiliki nilai ekonomi tinggi sebagai bumbu masakan. Ketersediaan bawang merah seringkali bersifat fluktuatif akibat pengaruh cuaca serta serangan hama dan penyakit yang berakibat terjadinya lonjakan harga di pasaran. Busuk pangkal umbi atau moler yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum f. sp. cepae merupakan salah satu penyakit penting pada bawang merah yang secara signifikan dapat menyebabkan kehilangan hasil. Oleh karena itu, perakitan varietas unggul baru (VUB) bawang merah yang memiliki karakter ketahanan terhadap penyakit tersebut perlu terus diupayakan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekerabatan empat genotipe bawang merah menggunakan 40 pasang marka mikrosatelit dan menganalisis polimorfisme dari marka-marka tersebut. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2018 di Laboratorium Biologi Molekuler BB Biogen, Bogor. Hasil amplifikasi diskor sebagai data biner dan dianalisis menggunakan perangkat lunak NTSYS dan PowerMarker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keempat varietas bawang merah mengelompok menjadi dua klaster utama pada koefisien kemiripan genetik 0,58. Berdasarkan hasil estimasi nilai jarak genetik, sebanyak lima kombinasi tetua persilangan, yaitu antara varietas Mentes dan Sembrani (jarak genetik sebesar 45%), Mentes dan Tiron (jarak genetik sebesar 46%), Sembrani dan Kuning (jarak genetik sebesar 41%), Sembrani dan Tiron (jarak genetik sebesar 29%), serta Kuning dan Tiron (jarak genetik sebesar 37%) direkomendasikan sebagai kombinasi persilangan yang ideal untuk perakitan VUB tahan terhadap penyakit busuk umbi Fusarium. Di antara 40 marka yang digunakan, sebanyak 25 marka bersifat polimorfik dan akan menjadi bagian set marka molekuler yang akan digunakan dalam pemetaan gen terkait karakter ketahanan Fusarium ke depannya. Kata kunci: bawang merah (Allium cepa var ascalonium L. (Back)), mikrosatelit, marka molekuler, kekerabatan

    PENGARUH PENAMBAHAN SERBUK KUNYIT (Curcuma domestica Vahl) TERHADAP MASA SIMPAN TEMPE KEDELAI

    No full text
    Tempe memiliki masa penyimpanan yang singkat dan cepat membusuk, proses pembusukan disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme. Salah satu cara mencegah proses pembusukan dengan menambahkan kunyit. Kurkumin yang terkandung dalam kunyit bersifat antibakteri yang dapat menghambat pembusukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan konsentrasi kunyit yang memberikan masa penyimpanan tempe lebih lama dan menciptakan cita rasa yang disukai konsumen. Pada penelitian ini ada 4 perlakuan yaitu penambahan kunyit dengan konsentrasi 0%; 0,5%; 1%; 1,5 %. Parameter uji yang digunakan antara lain total bakteri dengan metode Total Plate Count. pengamatan pertumbuhan miselia kapang, kekompakkan biji pada tempe dan uji organoleptik. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistika sederhana (deskriptif). Hasil penelitian menunjukkan prosentase total bakteri terendah pada tempe kedelai tanpa kunyit dan kenaikkan total bakteri tertinggi pada tempe kedelai penambahan kunyit 0,5%, penambahan kunyit dengan konsentrasi 1 dan 1,5% menyebabkan penurunan prosentase total bakteri. Pengamatan miselia kapang tumbuh cepat, kompak pada tempe kedelai tanpa kunyit, penambahan kunyit menghambat pertumbuhan miselia dan miselia tumbuh lebih tipis dibandingkan miselia pada tempe kedelai. Tempe dengan penambahan kunyit konsentrasi 0,5%, 1% dan 1,5% lebih tahan lama daripada tempe kedelai. Menurut uji organoleptik dengan metode uji kesukaan, produk yang paling disukai adalah tempe kedelai dengan penambahan kunyit 0,5%. Serbuk kunyit menghambat pertumbuhan bakteri dan memperpanjang masa simpan tempe. KEY WORD: Tempe kedelai, kunyit, masa simpan

    Keanekaragaman Genetik Tempuyung (Sonchus arvensis L.) Berdasarkan Marka Inter-Simple Sequence Repeats (ISSR)

    Full text link
    Tempuyung (Sonchus arvensis L.) merupakan tanaman anggota familia Asteraceae yang banyak dimanfaatkan sebagai tumbuhan obat untuk menurunkan tekanan darah tinggi dan peluruh air seni. Tempuyung mudah dan banyak dijumpai di berbagai tempat di Indonesia. Keanekaragaman genetik tempuyung merupakan informasi dasar dalam rangka mendukung standarisasi tumbuhan obat. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan karakterisasi genetik tempuyung menggunakan penanda molekuler ISSR (Inter Simple Sequence Repeats). Tiga belas aksesi tempuyung yang dikoleksi dari 8 lokasi digunakan sebagai sampel dan diamplifikasi DNAnya menggunakan 5 primer ISSR.Indeks similaritas dihitung berdasarkan indeks similaritas Dice. Analisis klaster menggunakan metode Unweighted Pair Group Method Using Arithmetic Mean (UPGMA) dilakukan untuk mengonstruksi dendogram. Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi genetik antar aksesi tempuyung yang terbagi menjadi 3 klaster pada indeks similaritas 75,16%. Aksesi Purwokerto dan B2P2TOOT (4) mempunyai hubungan kemiripan yang terdekat pada indeks similaritas 90,90%. Penanda molekuler ISSR dapat digunakan dalam karakterisasi genetik antara aksesi tempuyun

    SERBUK KAYU JATI (Tectona grandis Linn. F.) SEBAGAI SUBSTRAT ALTERNATIF UNTUK PRODUKSI ENZIM SELULASE

    No full text
    Selulase merupakan salah satu enzim yang digunakan secara luas dalam industri dan kebutuhannya semakin meningkat. Untuk memenuhi permintaan industri, dibutuhkan medium berbiaya rendah untuk produksi selulase. Pemanfaatan limbah dapat menyediakan substrat alternatif dan membantu dalam memecahkan masalah polusi. Selulase dapat dihasilkan melalui proses fermentasi dengan bantuan mikroorganisme yang ditumbuhkan pada substrat yang mengandung selulosa. Penelitian ini menggunakan limbah dari pengolahan kayu jati yaitu serbuk gergaji kayu jati. Jumlah serbuk gergaji dari kayu jati melimpah dan pemanfaatannya belum optimal. Serbuk gergaji kayu jati diketahui memiliki kadar selulosa sebesar 46,5%. Kadar selulosa yang tinggi tersebut menjadikan serbuk gergaji kayu jati berpotensi sebagai substrat dalam produksi enzim selulase. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan waktu inkubasi dan moisture content substrat yang optimal bagi Aspergillus niger untuk memproduksi selulase dari substrat serbuk kayu jati. Uji enzim dilakukan dengan metode CMCase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa waktu inkubasi yang optimal untuk produksi enzim selulase oleh Aspergillus niger adalah 48 jam dengan kadar selulase 266,303 mg/L sedangkan moisture content substrat yang optimal adalah 50% dengan kadar selulase  197,394 mg/L

    Isolasi Cendawan yang Berperan dalam Proses Pembuatan Pliek U (Makanan Fermentasi Khas Aceh)

    Full text link
    Pliek u merupakan produk residu hasil fermentasi kelapa oleh mikroorganisme tertentu secara spontan. Produk hasil fermentasi ini telah dimanfaatkan secara turun temurun oleh masyarakat Aceh sebagai bahan bumbu masak seperti pembuatan sayur, olahan ikan dan sambal buah-buahan, sedangkan minyak yang dihasilkan selama proses fermentasi dijadikan sebagai obat-obatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis cendawan yang berperan sebagai fermentor alami selama proses pembuatan pliek u. Cendawan diisolasi dari substrat kelapa yang telah terfermentasi selama 5 hari dan ditumbuhkan di media Potato Dextrose Agar. Pengamatan makroskopis dilakukan dengan mengamati warna spora dan warna misellium, sedangkan pengamatan mikroskopis dilakukan dengan teknik slide culture yaitu mengamati bentuk dan ukuran spora. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 9 isolat cendawan yang terdiri dari 6 isolat dari genus Aspergillus yaitu A. niger 1, A. niger 4.1, A. niger 5, A. flavus 3, A. flavus 4.2, A. flavus 6. Sedangkan 3 isolat lainnya merupakan Penicillium citrinum, Thielaviopsis paradoxa dan Geotrichum candidum. Keberadaan cendawan ini dipengaruhi oleh substrat yang digunakan pada fermentasi pliek u. Selain itu, juga diperoleh minyeuk simplah yang berwarna kuning dan merupakan produk samping selama proses fermentasi pliek u. Hasil ini menegaskan bahwa cendawan yang berperan dalam proses pembuatan pliek u sangat beragam tergantung proses pembuatannya

    KEANEKARAGAMAN JENIS VEGETASI STRATA POHON DI AREAL HUTAN PERLINDUNGAN KAWASAN BUKIT COGONG

    No full text
    Penelitian ini dilatar belakangi oleh belum terdatanya jenis-jenis pohon dan informasi ekologis hutan perlindungan di kawasan Bukit Cogong. Penelitian ini bertujuan untuk  mengetahui Indeks Keanekaragaman (H’) spesies vegetasi strata pohon dan mengetahui faktor lingkungan abiotik di areal hutan perlindungan kawasan Bukit Cogong. Penelitian ini menggunakan metode Point Centered Quarted, yaitu salah satu metode pengukuran yang tidak menggunakan plot atau metode plotless. Penelitian ini di buat 3 area kajian yaitu area kajian A, area kajian B, dan area kajian C. Secara keseluruhan luas area penelitian yaitu 17 ha atau 170.000 m2 yang diambil 20% dari keseluruhan luas areal hutan perlindungan yaitu 85 ha atau 850.000 m2, sehingga luas masing-masing area kajian 56.666m2. Pada masing-masing area kajian diletakkan 10 stand. Pada setiap stand penelitian diletakkan garis transek utama sepanjang 560 m. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh rerata di area kajian A sebesar 1,38, area kajian B sebesar 1,14 dan area kajian C sebesar 1,36. Rerata Indeks Keanekaragaman jenis vegetasi strata pohon di areal hutan perlindungan kawasan Bukit Cogong secara keseluruhan tergolong sedang melimpah dengan kriteria H’ ≤1≤ H’ 3 dan faktor lingkungan abiotik yang terukur di area kajian A, B dan C pada areal hutan perlindungan kawasan Bukit Cogong hasilnya tidak berbeda jauh

    Kepiting Brachyura Pulau Tikus, Kepulauan Seribu

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman kepiting dengan metode transek kuadrat. Penelitian dilaksanakan dari bulan Maret hingga Juni 2014 di Pulau Tikus, gugusan Pulau Pari, Kepulauan Seribu. Metode penelitian dengan transek kuadrat yaitu mewakili bagian barat (T1 & T2), utara (T3 & T4), timur (T5 & T6) dan selatan (T7 & T8) Pulau Tikus. Hasil penelitian terdapat 34 spesies brachyura dengan total 11 famili kepiting, yaitu Portunidae, Majidae, Galenidae, Dromiidae, Calappidae, Ocypodidae, Grapsidae, Porcellanidae, Macrophthalmidae, Xanthidae dan Pilumnidae. Nilai indeks keanekaragaman kepiting tertinggi ditemui di bagian timur (H’=2,609), sedangkan nilai indeks dominansi tertinggi berada di bagian selatan (C=0,117). Nilai indeks kemerataan Pielou tertinggi berada di bagian utara (J=0,923). Variasi tipe substrat pada ekosistem merupakan faktor yang mempengaruhi keanekaragaman kepiting. Keseluruhan perairan Pulau Tikus masih memiliki keanekaragaman kepiting yang tinggi dan didominansi oleh kepiting dari famili Xanthidae

    Jenis, Frekuensi Kemunculan, dan Persentase Penyakit Cendawan pada Tanaman Sayuran

    Full text link
    Tanaman sayuran sangat berperan dalam upaya memenuhi kebutuhan pangan dan gizi karena sayuran kandungan mineral dan vitamin yang dimiliki. Upaya tersebut terkendala oleh banyaknya jenis penyakit cendawan pada tanaman sayuran sehingga menimbulkan penurunan produksi termasuk  di kawasan Baturraden. Berbagai upaya perlu dilakukan untuk mengatasi serangan penyakit pada tnaman sayuran di Wilayah Baturraden. Namun agar penanganan dapat berjalan secara efektif diperlukan informasi awal sepeti frekuensi dan prosentase penyakit cendawan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui frekuensi kemunculan dan prosentase penyakit cendawan pada tanaman sayuran tanaman sayuran di wilayah Baturraden. Penelitian ini dilaksanakan menggunakan metode survey dengan pengambilan sampel secara Purposive random sampling pada 15 lokasi yang berbeda. Jenis penyakit cendawan diidentifikasi berdasarkan karaktersitik dan gejala penyakit yang ada. Frekuensi kemunculan dan persentase penyakit dihitung dan selanjutnya dianalisis secara deskriptif. Selama penelitian ditemukan sebanyak 10 jenis penyakit cendawan pada tanaman sayuran di wilayah Baturrade. Frekuensi kemunculan tertinggi sebanyak 300 kali dengan persentase penyakit cendawan mencapai 100%. Sementara itu, frekuensi kemunculan sebesar 45 kali memiliki prosentase sebesar 15%. Nilia frekuensi kemunculan dan prosentase penyakit cendawan tersebut mengindikasikan bahwa serangan penyakit cendawan pada tanaman sayuran di wilayah Baturraden sangat tinggi

    303

    full texts

    384

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Publikasi Online Fakultas Biologi UNSOED (Universitas Jenderal Soedirman)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇