Publikasi Online Fakultas Biologi UNSOED (Universitas Jenderal Soedirman)
Not a member yet
384 research outputs found
Sort by
Distribusi Herpetofauna di Kawasan Hutan Lindung Gambut Sungai Buluh Tanjung Jabung Timur
Hutan Lindung Gambut (HLG) Sungai Buluh is one of the village forests in East Tanjung Jabung. Peat soil has high water content and is herpetofauna habitat. Herpetofauna acts as a prey and predator in the peat ecosystem. Some of them occupy the position of top predators on food networks in the peat ecosystem. The existence of this group of animals also acts as an environmental bioindicator which can be indicated by its species richness and individual count. This research was conducted on two habitat conditions (terrestrial and aquatic) with the aim of this study were the distribution and habitat characteristics of herpetofauna in the HLG Sungai Buluh. This study used the Visual Encounter Survey (VES) method which was combined by transect lines in each habitat. Sampling was done nocturnal and diurnal. The specimens obtained then preserved in 70% alcohol. The results showed total of 105 individual herpetofauna consisting of 4 Anura families (Bufonidae 1 species, Dicroglossidae 3 species, Rhacophoridae 3 species, and Ranidae 4 species) and 4 Reptile families (Agamidae 3 species, Scincidae 2 species, Gekkonidae 1 species, and Natricidae 1 species). Eleven species were found in the terrestrial habitat transect while eleven species were found in aquatic habitat transects. Furthermore, four species were found in both habitat transects. From these results it can be concluded that the HLG Sungai Buluh has a suitable habitat for herpetofauna. However, further research needs to be carried out covering the entire are of HLG Sungai Bulu
Kajian Fitofarmaka Kulit Pisang Kepok sebagai Bahan Baku Awal Imunostimulan Ikan
Upaya meningkatkan kesehatan ikan bisa dimulai dengan pemberian imunostimulan secara oral. Bahan herbal imunostimulan dapat diperoleh dari beberapa jenis tumbuhan, salah satunya ialah Pisang kepok (Musa balbisiana x Musa acuminata) . Dengan tingkat konsumsi buah Pisang Kepok di pulau Bintan yang cukup tinggi, tentunya akan menyumbang limbah seperti kulit ke lingkungan. Limbah kulit pisang kepok kuning inilah yang dimanfaatkan sebagai bahan baku imunostimulan untuk ikan budidaya sekaligus turut serta menjaga daya dukung lingkungan.Penelitian ini bertujuan menganalisis nilai probit logaritma dosis secara absis ekstrak kulit pisang kepok kuning agar layak dikonsumsi ikan budidaya. Penelitian ini meliputi pembuatan ekstrak menggunakan pelarut etanol, karakterisasi dan skrining fitokimia simplisia secara kualitatif, serta analisis probit ekstrak terhadap hewan uji Artemia salina. Konsentrasi ekstrak bertingkat yang digunakan yaitu 20 ppm, 40 ppm dan 60 ppm, 80 ppm, 100 ppm dan 120 ppm. Data mortalitas hewan uji dianalisis dengan metode grafik probit log konsentrasi yang menempatkan persentasi respons dari tiap kelompok hewan pada ordinat dan logaritma dosis secara absis, dimana mortalitas pada konsentrasi ekstrak dengan LC50-24 jam lebih dari 50% bersifat toksik.Hasil penelitian mendapatkan persentase total rendemen dengan pengikat etanol 70% adalah 3,64% dan etanol 96% adalah 3,42%. Hasil uji fitokimia mendapatkan etanol 70% berhasil menarik senyawa bioaktif jenis flavonoid dan tanin, sedangkan etanol 96% berhasil menarik flavonoid, steroid dan triterpenoid. Nilai LC50-24 jam menunjukkan konsentrasi ekstrak yang mampu menyebabkan 50% kematian hewan uji pada fraksi etanol 70% sebesar 1,300 ppm dan etanol 96% sebesar 2,767 ppm.
PENGARUH ASAM ASKORBAT TERHADAP PERTUMBUHAN Colletotrichum acutatum Simmonds
The anthracnose caused by the Colletotrichum acutatum Simmonds fungus is one of the limiting factors for the production of red chilli. The occurrence of anthracnose determined by the success of pathogenesis by C. acutatum. Also, red chilli which is resistant to anthracnose has a higher ascorbic acid content than vulnerable red chili. This paper presents scientific information about the ability to grow three C.acutatum isolates (Kulonprogo, Temanggung, and Pandeglang) on a culture medium given ascorbic acid. The three C. acutatum isolates have high pathogenicity. The results showed that administration of ascorbic acid in the culture medium only affected the dry weight of mycelium and did not affect the diameter length of the colony of C. acutatum
Distribusi Kandungan Ion dan Klorofil Kedelai Kultivar Mahameru (Glycine max (L.) Merr.) yang Ditanam di Pantai Sodong Cilacap
Penelitian dilakukan untuk mengetahui distribusi kandungan ion dan klorofil pada kedelai kultivar Mahameru. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana distribusi dari ion-ion Na+, Cl-, K+, Ca2+ dan Mg2+ pada akar, batang dan daun kedelai kultivar Mahameru yang ditanam dipantai Sodong Cilacap. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen dengan rancangan RCBD (Randomized Completely Block Design) dengan tiga ulangan. Data dianalisis menggunakan DMRT (Duncan Multiple Range Test). Kedelai ditanam pada lahan pesisir pantai dengan jarak lima puluh meter dari tepi pantai, dibuat blok-blok ukuran satu meter panjang dan dua meter lebar. Pengamatan dilakukan setelah tanaman berumur 30 hari setelah tanam. Kandungan ion diamati menggunakan AAS dan kandungan klorofil diamati menggunakan spektrofotometer. Variabel yang diamati adalah kandungan klorofil a, b dan klorofil total; kandungan ion Na+, Cl-, K+, Ca2+ dan Mg2+ pada akar, batang dan daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi penurunan kandungan klorofil a, b dan klorofil total. Terjadi peningkatan kandungan ion Na+ pada bagian daun dan peningkatan ion Cl- pada bagian batang. Ketiga ion yang lain K+, Ca2+ dan Mg2+ terjadi penurunan. Kandungan ion yang paling rendah pada akar, batang dan daun adalah ion Mg2
Distribution Of Eel Fish (Anguilla bicolor) In Cibeureum River, Cilacap District
Fish resources in the waters are very dependent on fish larvae resources. Catching eel from the size of the seed (glass eel) to the size of the adult eel has decreased in nature indicating that in the management of eel the economic aspect is more dominant than its conservation aspects. The purpose of this study was to design the management pattern of eel fish in Cibeureum River, Sidareja District, Cilacap Regency based on their ecology, water quality, and rate of exploitation. The research method used is explanatory research and sampling techniques using purposive sampling method in five sampling stations from upstream to downstream of the Cibeureum River. The research data were analyzed using descriptive analysis. The results of the study of the water quality of the Cibeureum River meet the water quality requirements as eel living areas in accordance with GR No.82 of 2001. The abundance of eel species has an Abundance Index (KR) 72.73 - 93.75%, Yellow Eel types have KR = 6,25 - 27.27%, Glass Eel and Silver Eel have abundance, KR = 0%. The distribution pattern of eel fish species of Elver and Yellow Eel has a random distribution pattern (Id = 0.95 and Id = 0.99). Glass Eel and Silver Eel do not have a distribution pattern (Id = 0). Growth rate of eel fish = 120.23 (1-. Total mortality rate (Z) of 2.88 per year that eel fish mortality in the Cibeureum River, mostly caused by fishing activities with exploitation rate (E) of 0.84 per year and it is thought to have exceeded the optimum value (overfishing) The management pattern of eel fish (Anguila bicolor) by limiting the time and area of capture as well as the important role of TPI, cooperatives and Pokmaswas (Community Watch Group) in the eel catchment area.
Pengaruh Inokulasi Mikoriza VA Terhadap Pertumbuhan Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) Pada Tanah Marginal
Penggunaan jamur mikoriza pada lahan marginal menjadi usaha rehabilitasi kualitas tanah. Bawang Dayak (Eleutherine palmifolia (L.) Merr.) dipilih karena dapat bersimbiosis dengan fungi Glomus aggregatum untuk mendukung pertumbuhannya. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui peran dari VAM terhadap pertumbuhan bawang Dayak dan kombinasi yang tepat untuk pertumbuhan bawang Dayak di media tanah marginal. Pada penelitian ini, tanaman ditumbuhkan selama tiga bulan di greenhouse. Parameter yang diteliti meliputi: tinggi tanaman, jumlah daun, berat kering (umbi, tajuk dan akar), jumlah umbi, presentase kolonisasi mikoriza, serta jumlah spora. Panen dilakukan 2 kali pada minggu ke-6 dan minggu ke-12. Pengamatan kolonisasi struktur mikoriza pada akar tanaman dilakukan melalui teknik pewarnaan akar (staining). Pengamatan spora dilakukan melalui metode wet sieving and decanting. Hasil dianalisis menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan faktorial. Hasil menunjukan penggunaan Vesikular Arbuskular Mikoriza meningkatkan pertumbuhan Eleutherine palmifolia (L.) Merr. yang ditanam pada tanah marginal. Presentase kolonisasi VAM tertinggi yaitu 94% dan jumlah spora 48% yang dihasilkan oleh perlakuan M2. Kombinasi M2+NPK efektif untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman pada tinggi tanaman (14%), jumlah daun (117%), berat kering tajuk (98%), berat kering akar (15%), berat kering umbi (65%
ANALISIS VEGETASI KAWASAN POS LABUHAN TAMAN NASIONAL GUNUNG MERAPI
Kawasan Hutan Gunung Merapi merupakan kawasan hutan negara yang bernilai penting dan strategis karena berfungsi sebagai daerah tangkapan air yang bermanfaat bagi wilayah sekitarnya dan merupakan tipe hutan tropis dengan kondisi gunung api yang sangat aktif. Dalam sejarahnya kawasan hutan Gunung Merapi dilindungi untuk fungsi pelestarian alam (menjaga fungsi hidrologis, botani dan estetika serta pengelolaan kawasan secara khusus sebagai daerah rawan bencana). Penelitian ini dilakukan dengan teknik observasi dengan tujuan untuk mengertahui keanekaragaman Indeks Shannon dan Indeks Nilai Penting vegetasi di kawasan Pos Labuhan Taman Nasional Gunung Merapi dengan lokasi titik bujur 7°34’26.3’ dan titik lintang 110°26’3.2’’ pada keitinggian 1288 mdpl. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 11 Oktober 2019 dengan metode kuadrat sampling yang bertujuan khusus untuk mengetahui jumlah dominansi habitus, indeks shannon, dan nilai penting. Penelitian dilakukan dengan membuat plot berukuran 16 m x16 m sebanyak 3 plot. Strata atas didominasi oleh pohon, sedangkan strata bawah diisi oleh semak, herba, dan lumut. Hasil pengamatan menunjukkan habitus pohon spesies Casuarina junghulhiana memiliki INP tertinggi yaitu 113.73% dan Frangula sp. memiliki nilai INP terendah yaitu 11.52%; semak dengan INP tertinggi adalah Ageratina riparia yaitu 107.48% dan yang terendah adalah Achyranthes sp. sebesar 17.95%; herba dengan INP tertinggi adalah Echinochtea sp. sebesar 122.70% dan yang terendah adalah Gomphrena serrate sebesar 50.33%; sedangkan pada lumut INP tertinggi adalah Bryopsida sp. 195.47% dan yang terendah adalah Diphasiastrum sp. sebesar 35.69%. tingginya INP menunjukkan bahwa spesies tersebut dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar diabanding spesies lain
Potensi Ancaman Invasive Aliens Species (IAS) Terhadap Biodiversitas Vegetasi Di Kebun Raya Baturraden Jawa Tengah
The Invasive Aliens Species (IAS) has become an ecologically distinctive threat to the conservation area which is a biodiversity sanctuary, the Baturraden Botanical Garden (KRB). This research aims to know the IAS that can affect the biodiversity of vegetation in KRB. The KRB is divided into 10 plots, and then observes the existing IAS vegetation along with environmental factors such as temperature, humidity, soil pH and canopy cover. Introductory process information and conservation strategic recommendations are obtained through literature studies and interviews with resource persons. The data then analyzed using the Importance Value Index (INP), the Shannon-Winner Diversity Index, the individual spatial distribution pattern of a species at each growth rate is calculated based on the Morishita Index. The results showed that the IAS introduction process began in 1952 through the utilization of Protected Forest (HL) and Limited Production Forest (HPT) in KRB; The vegetation community structure in the KRB is dominated by spikes (saplings), seedlings, trees and poles. There were 13 IAS species consisting of 9 families; Seedling and saplings Calliandra houstoniana var. calothyrsus (Meissner) Barneby and Agathis dammara (Lamb). Rich. while at Agathis dammara (Lamb) tree level. Rich. and Schima wallichii Choisy. potential as a special IAS in the KRB; Controlling can be done through mitigation, periodic maintenance and eradication. In situ and ex situ conservation strategy plans in KRB are the creation of forest pharmacy conservation villages
KARAKTERISTIK MORFOLOGI LEBAH TANPA SENGAT (APIDAE: MELIPONINAE) ASAL PANDEGLANG, BANTEN
Lebah tanpa sengat (stingless bees) (Apidae: Meliponinae) merupakan lebah sosial, berukuran tubuh kecil dan berperan besar dalam penyerbukan tanaman. Pada penelitian ini dideskripsikan morfologi dan morfometri dan arsitektur sarang lebah tanpa sengat asal Pandeglang, Banten. Lebah tanpa sengat tersebut berukuran kecil, berwarna hitam, dan pintu masuk sarang yang berukuran lebar, tidak seperti pintu masuk sarang pada umumnya. Pengamatan morfologi meliputi warna tubuh, antena, tungkai, mandibula, dan sayap. Pengukuran morfometri dilakukan terhadap 35 karakter tubuh dari 30 individu lebah pekerja sebagai ulangan. Berdasarkan karakter morfologi dan morfometri, lebah yang diamati termasuk Tetragonula cf. laeviceps. Warna tubuh dominan hitam, malar space sempit, mesoscutum tanpa hairbands, sayap monoton dan transparan. Panjang tubuh 3,77-4,39 mm, dan jumlah hamuli 5-6. Pintu masuk sarang berbentuk bulat-lonjong dengan diameter 3,6-4,3 cm dengan panjang pintu masuk 6,9 cm. Tekstur pintu masuk sarang keras dan berwarna hitam pada pangkalnya dan lembut dan berwarna coklat pada ujungnya. Arsitektur sarang dari pintu masuk ke arah belaknag, terdiri atas sel-sel polen, sel-sel anakan, dan sel-sel madu
Studi Histologi Tingkat Kematangan Gonad Jantan dan Betina Bulu Babi Diadema setosum di Pulau Panjang Jepara
The gonads maturity level (TKG) is a particular stage gonadal development before and after the spawning biota. This research aims to determine the gonads index of the Diadema setosum and the gonads maturity level of Diadema setosum found on Panjang Island, Jepara. The research method used was the observation method. The gonads histology was made by using paraffin method and hematoxylin-eosin staining. The measured parameters were the diameter of the shell, the Gonads Maturity Index (GI) and the Gonads Maturity Level, and environmental parameters such as temperature, pH, DO, and salinity of the water. The Gonads Maturity Level was determined on the histology of gonads. The result shows average Diadema setosum GI value of 7,334 % with an optimum maturity in December. Based on the height of individual the sea urchin (Diadema setosum) found in the category TKG III, which is 11 out of 30 Individuals and two individuals in the TKG IV category are observed histology of the gonadal showing in that phase