MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
LITOSTRATIGRAPHIC AND SEDIMENTOLOGICAL SIGNIFICANTS OF DEEPENING MARINE SEDIMENTS OF THE SAMBIPITU FORMATION GUNUNG KIDUL RESIDENCE, YOGYAKARTA
Sambipitu Formation in the Southern Mountains plays an important role due to its stratigraphic position, between syn-volcanism and post- volcanism periods. The formation widely distributes along the southern slope of the Baturagung Mountains, Gunung Kidul Residence, Yogyakarta Province. Stratigraphically, the Sambipitu Formation is conformably underlain by dominated unit of volcanic breccias of the Nglanggran Formation, and conformably overlain by dominated unit of marl of the Oyo Formation. Based on detail section along the river of Ngalang, the Sambipitu Formation can be divided into Lower and Upper Members. The Lower Member is dominated by sandstone and siltstone, which is alternated by breccias. The Upper Member is dominated by siltstone and mudstone, which is intercalated by sandstone, marl and conglomerate. The Lower Member was deposited on an environment influenced by tidal current, which was highly affected by gravity flows of volcanic material. This deposition environment was getting deeper to be an inner shelf, where the Upper Member was deposited. Furthermore, based on Rock-eval pyrolysis, TOC value of the Sambipitu Formation ranges from 0.08% to 0.43%, whilst the PY (potential yield) value less than 0.15 mg HC/g rock. Thus, on the basis of those two parameters, the Sambipitu Formation is included into oil prone source rock potential of poor category. Moreover, Tmax value of the Sambipitu Formation ranges from 226°C - 335°C, with the HI (hydrogen Index) value varies from 0 – 12. It indicates that this formation contains kerogen Type III. Therefore, the organic thermal maturation based on plotting of Tmax vs HI, this formation falls into an immature category.
Key word: Lithostratigraphy, volcanic material, tidal flat, inner shelf, and Sambipitu Formation.
Formasi Sambipitu memegang peran penting karena posisi stratigrafinya yang terletak diantara perioda volkanisme dan pasca volkanisme. Formasi ini tersebar luas di lereng selatan Pegunungan Baturagung, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Formasi Sambipitu menindih selaras Formasi Nglanggran dan ditindih selaras oleh Formasi Oyo. Berdasarkan penampang stratigrafi rinci sepanjang Sungai Ngalang, Formasi Sambipitu dapat dibagi menjadi: Anggota Bawah dan Anggota Atas. Anggota Bawah didominasi oleh perselingan batupasir dan batulanau, dengan sisipani breksi gunung api. Sedangkan Anggota Atas didominasi oleh batulanau dan batulumpur dengan sisipan batupasir dan konglomerat. Anggota Bawah diendapkan di lingkungan paparan pasang-surut yang dipengaruhi oleh pengendapan material gunung api. Paparan pasang-surut itu semakin dalam menjadi paparan dalam dimana diendapkan Anggota Atas. Berdasarkan analisis Rock-eval pirolisis, nilai kandungan karbon total (TOC) serpih Formasi Sambipitu berkisar 0,08% – 0,43%, sedangkan Potential yield (kandungan cairan hidrokarbon) kurang dari 0,15 mg HC/g batuan. Berdasarkan dua parameter tersebut diatas, formasi tersebut termasuk kedalam kategori oil prone source rock, dengan kategori buruk (poor). Formasi Sambipitu mempunyai nilai temperatur maksimum (Tmax) antara 226°C - 335°C, dengan nilai HI (Hydrogen Index) kurang dari 12, menunjukkan formasi ini memiliki kerogen tipe III. Berdasarkan diagram temperatur maksimum (Tmax) terhadap nilai indeks hidrogen (HI) bahan organik, kematangan organik dari formasi ini termasuk ke dalam tingkat belum matang.
Kata kunci: Litostratigrafi, material volkanik, paparan pasang-surut, paparan dalam, dan Formasi Sambipitu
REVIEW OF COASTAL CHARACTERISTICS OF IRON SAND DEPOSITS IN CILACAP CENTRAL JAVA
Mineable iron sand deposits in Cilacap – southern coastal area of Central Java have certain coastal characteristics that need to be studied in order to understand its depositional environment. With the knowledge of such environment, it can be applied to look for other places prospective of iron sand deposits that have the same characteristics especially recently when Cilacap’s deposits were almost depleted. Coastal characteristics of iron sand deposit in Cilacap is shown by successive sandy beach ridges separated by marshy valleys typical of prograded coasts and by dunes of sand elongated parallel to the shore line with elevation varies from 0 m to 15 m above sea level. The iron sand deposit was derived from denudation of andesite and “Old Andesite Formation†enriched in magnetite and ilmenite minerals in the steep elevated and deeply weathered rock hinterlands of Cilacap. High sediment loads of Serayu Basin in the hinterland (3,500-4,500 ton/km2/year; Citarum River basin only 800-1,200 ton/km2/year) was causing extensive deposition of iron sand in the coastal zone.
Key words: coast, characteristic, iron sand, Cilacap
Endapan pasir besi yang dapat ditambang di Cilacap – pesisir selatan Jawa Tengah memiliki karakteristik pantai tertentu yang perlu dikaji agar dapat dipahami lingkungan pengendapannya. Dengan pengetahuan tentang lingkungan pengendapan tersebut, dapat diterapkan untuk mencari daerah-daerah lain prospek endapan pasir besi yang memiliki karakteristik yang sama terutama pada akhir-akhir ini ketika endapan Cilacap akan habis. Karakteristik pantai endapan pasir besi di Cilacap dicirikan oleh urutan pematang pantai berpasir yang dipisahkan oleh lembah-lembah berawa khas pantai maju dan oleh gumuk-gumuk pasir memanjang sejajar dengan garis pantai dengan ketinggian bervariasi dari 0 m hingga 15 m dari muka laut. Endapan pasir besi di daerah ini berasal dari proses denudasi andesit dan “Formasi Andesit Tua†yang kaya akan mineral magnetit dan ilmenit pada pedalaman Cilacap dengan kondisi elevasi curam dan batuan sangat terlapukkan. Muatan sedimen yang tinggi dari Cekungan Serayu di pedalaman tersebut (3.500-4.500 ton/km2/tahun; cekungan Sungai Citarum hanya 800-1.200 ton/km2/tahun) menyebabkan pengendapan yang sangat luas pasir besi di wilayah pantai.
Kata kunci: pantai, karakteristik, pasir besi, Cilaca
HYDROTHERMAL MINERALIZATION IN JAILOLO WATERS, WEST HALMAHERA, NORTH MALUKU PROVINCE
Halmahera Island tectonically is divided into two main regimes, those are East Arm Regime (EAR) and West Arm Regime (WAR). Both regimes have very different characteristics where the EAR consists of Cretaceous ultramafic rocks and old red shale, while the WAR composed of Neogene sediment. The study area is an area with active tectonism shown by recent seismic activities and volcanic eruptions. Hydrothermal activity is indicated by rocks alteration of andesite, dacite, and diorite such as kaolinite, argilic and montmorilonite. Primary metal type mineralization occured in a strong altered volcanic rocks, while the secondary mineralization occured in the sedimentary placer. AAS, petrographic analysis, and mineralografi obtained mineral pyrite, manganese, chalcopyrite in rocks from coastal and marine offshore up to depth of 100 meters. Analysis of the 36 examples of seabed sediments, showed the presence of anomalous metal minerals of Au, Cu, Mn, and Fe those are content of Au 0.01 - 0.03 ppm; Cu 14-150 ppm; Mn 23-1050 ppm; and Fe 2-10%.Keywords: Jailolo waters, western arm regime (WAR), andesite, dacite and diorite intrusion rocks, mineralization of Au, Cu, Mn, and Fe. Pulau Halmahera tektonik dibagi menjadi dua rezim utama, yaitu East Arm Rezim (EAR) dan Westt Arm Rezim (WAR). Kedua rezim memiliki karakteristik yang sangat berbeda yang EAR terdiri dari batuan ultrabasa Kapur dan shale merah tua, sedangkan WAR Terdiri dari batuan sedimen berumur Neogen. Daerah penelitian sebagai daerah dengan tektonik dan vulkanik aktif yang ditunjukan dengan aktifitas gempa dan letusan gunungapi hingga sekarang. Aktifitas hidrothermal ditunjukkan oleh alterasi pada batuan andesit, dasit, dan diorite. Mineral ubahan yang terbentuk kaolinit, argilik dan montmorilonit. Tipe mineralisasi logam primer terdapat dalam batuan vulkanik terubah kuat, sedangkan mineralisasi sekunder terdapat dalam sedimen plaser. Hasil analisis AAS, petrografi, dan mineralografi didapatkan mineral pirit, mangan, kalkopirit pada batuan di pesisir dan laut lepas hingga kedalaman 100 meter. Hasil analisis terhadap 36 sedimen dasar laut, menunjukan adanya kandungan mineral logam Au,Cu, Mn, dan Fe dengan kadar Au=0.01 - 0,03 ppm; Cu 14-150 ppm; Mn 23-1050 ppm; dan Fe 2-10% . Kata kunci: Mandala lengan barat (MLB), batuan intrusi andesit, dasit, dan diorit, mineralisasi Au, Cu, Mn, dan Fe, Perairan Jailolo, Halmahera Barat
COASTAL CHARACTERISTICS OF SOUTH SINGKEP AREA, RIAU ISLANDS PROVINCE
Observations of coastal characteristics, such as coastal constituent lithology, oceanographic processes and the influence of human activities along the coastal area, are the factors that affect the coastal typology. The typology of coastal area can be divided into 3 types namely: (1) Sandy beaches, dominated by medium size quartz sand, gravelly sand and silt of alluvium deposits ; (2) Rocky beaches that belong to the Tanjung Buku Granite lithologic units and Persing metamorphic complex, its beach slope between 5° and 15°, and a fault structure encountered. The steep beach slopes (45°-50°) trends to offshore with the maximum depth of 28 meters below the sea level at the distance of 3.5 km from the its shore line. At the depth of 20 m, there are a foot slope of 1.5 km width interpreted as the fault plane; (3) Muddy beaches is characterized by mangroves, gentle beach slopes until flats. Those sandy and muddy beaches are alluvial deposits of Quarternary sediments.
Keywords: Coastal characteristics, relief, oceanographic processes and South Singkep
Pengamatan karakteristik pantai, seperti litologi penyusun tubuh pantai, proses-proses oseanografi serta pengaruh aktivitas manusia di sepanjang pantai merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi tipologi pantai. Tipe pantai di daerah penelitian, dapat dibagi menjadi 3 jenis pantai, yaitu: (1) Pantai berpasir, disusun oleh dominasi pasir kuarsa, berukuran menengah, pasir kerikilan dan lanau dari alluvium, serta kemiringan pantai rendah; (2) Pantai berbatu merupakan bagian dari satuan batuan Granit Tanjung Buku dan Kompleks metamorfik Persing, kemiringan pantai antara 5° hingga 15° serta dijumpai sesar. Kearah laut kemiringan lerengnya makin besar (45°-50°) dengan bagian terdalam mencapai 28 meter pada jarak 3,5 km dari garis pantai. Pada kedalaman laut 20 m, terdapat kaki lereng ( foot of slope) dengan lebar 1,5 km yang diperkirakan sebagai bidang sesar; (3) Pantai berlumpur yang dicirikan oleh tanaman bakau memiliki kemiringan pantai yang relatif datar.Pantai berpasir dan pantai berlumpur merupakan endapan aluvium yang berumur Kuarter.
Kata kunci: Karakteristik pantai, relief, proses oseanografi dan Singkep Selata
LAND-SEA INTERACTIONS IN COASTAL WATERS OFF NE KALIMANTAN: EVIDENCE FROM MICROFAUNAL COMMUNITIES
Microfauna (ostracoda and foraminifera) as component of sediments has been used to detect the dynamics of sea floor condition in NE Kalimantan, particularly off Nunukan and Sebatik Islands. In general, the microfaunal components tend to increase (both number of species and specimens) from near shore to the open sea. The microfauna occur rarely at locations surrounding the islands due to high content of plant remains from the land. The marine origin of microfaunas occurs very abundantly in the inner part of the study area between Tinabasan and Nunukan Islands. This finding is interested due to their occurrence as unusual forms: brownish shells, broken and articulated ostracod carapaces. Additional interested findings are: the incidence of abraded test of Elphidium, the occurrence of dominant species of both ostracoda and foraminifera at some stations; various morphological forms of foraminiferal genus, Asterorotalia that reaches about 1% and distributed in the open sea. The various unusual forms may relate to the dynamics of local environmental changes such as postdepositional accumulation in the sediment, biological activities, and drift currents from open sea to landward.
Keywords: Ostracoda, Foraminifera, North East Kalimantan, land-sea interaction
Mikrofauna (ostracoda dan foraminifera), sebagai komponen sedimen dapat digunakan untuk mendeteksi dinamika kondisi dasar laut di Kalimantan Timur, tepatnya di sekitar Pulau Nunukan dan Sebatik. Secara umum, komponen mikrofauna cenderung bertambah (baik dalam jumlah spesies maupun spesimen) dari perairan sekitar pantai ke arah laut lepas. Mikrofauna yang ditemukan sangat jarang di lokasi sekitar pulau-pulau disebabkan oleh keterdapatan sisa-sisa tanaman dari daratan. Mikrofauna asal lautan ditemukan sangat melimpah di bagian dalam daerah penelitian antara Pulau Tinabasan dan Nunukan. Temuan ini sangat menarik karena adanya bentukan abnormal: cangkang berwarna kecoklatan, rusak dan cangkang ostracoda berbentuk tangkupan. Temuan tambahan yang juga menarik adalah: keterdapatan cangkang Elphidum yang rusak, keterdapatan beberapa spesies ostracoda dan foraminifera secara dominan di titik lokasi tertentu, dan kenampakan morfologi yang bervariasi dari genus foraminifera, Asterorotalia, yang mencapai 1% dan tersebar di laut lepas. Berbagai bentukan abnormal tersebut kemungkinan berkaitan dengan dinamika kondisi lingkungan setempat seperti akumulasi setelah pengendapan dalam sedimen, aktivitas biologis dan alur arus dari laut terbuka kearah daratan.
Kata kunci: ostracoda, foraminifera, Kalimantan Timur, interaksi daratan-lauta
HEAVY MINERAL DISTRIBUTION PATTERNS AND CHARACTERISTICS OF SEA FLOOR SURFICIAL SEDIMENT AT EAST BALI WATERS, BALI PROVINCE
Analyses result of the heavy minerals that was took from beach sediments and sea floor surficial sediments was founded ten heavy minerals namely hematite, magnetite, limonite and rutile from oxide and hydroxide group, pyroxene, amphibol and zircon from silicate group, biotit from mica group, barite from sulfide group and dolomite from carbonate group. From 10 minerals identified, only magnetit distributes in the whole area, with the highest percentage of 34,15% in the sea and 35,14 % on beaches. Other heavy minerals distribute locally with the percentage of less than 0,01 %. Grain size analyses result of sea floor surficial sediment had identified six units sediment such as sand, sand with few gravel, sandy gravel, gravely sand, gravel and reef. Distribution area of the six units sediment as follows sand and sandy gravel are occupied 25 % respectively of the study area, reef 20%, sand 15 %, gravel 10 % and gravely sand occupied 5%. The best sediment for making art goods is sand sizes which is rich of heavy minerals such as magnetite, hematitre, limonite, zircon, pyroxene and amphibol. If will be exploited of the sand sediment on beach or sea floor surficial sediment, should be considering of the environment sustainable.
Keyword: grain size analyses, heavy mineral, seafloor surficial sediment, besach sediment, Karang Asem
Hasil analisis mineral berat dari sedimen pantai dan permukaan dasar laut dijumpai sepuluh jenis mineral berat yaitu magnetit, hematit, limonit, rutil dari kelompok oksida & hidroksida, piroksen, ampibol, sirkon dari kelompok silikat, biotit dari kelompok mika, barit dari kelompok sulfida dan dolomit dari kelompok karbonat. Dari sepuluh jenis mineral berat yang teridentifikasi hanya magnetit yang sebarannya merata di seluruh daerah penyelidikan baik di laut maupun di pantai dengan persentase tertinggi 34,15 % di laut dan 35,14% di pantai, sedangkan sembilan mineral lainnya sebarannya tidak merata atau setempat-setempat dengan persentase umumnya di bawah 0,01 %. Hasil analisis besar butir sedimen permukaan dasar laut dapat di bedakan menjadi 6 satuan yaitu pasir, pasir sedikit krikilan, pasir krikilan, krikil pasiran, krikil dan terumbu karang. Luas sebaran ke enam jenis sedimen tersebut terhadap luas daerah penelitian adalah pasir sedikit krikilan menempati 25%, pasir krikilan 25%, terumbu karang 20%, pasir 15%, krikil 10% dan menempati pasir krikilan 5%. Jenis sedimen yang baik untuk pembuatan benda seni adalah sedimen berukuran pasir dengan kandungan mineral berat yang tinggi seperti magnetit, hematit, limonit, sirkon, piroksen, dan ampibol. Bila akan dilakukan eksploitasi terhadap sedimen jenis pasir baik di laut maupun di pantai, harus memperhatikan kelestarian lingkungan.
Kata kunci: analisis besar butir, mineral berat, sedimen permukaan dasar laut, sedimen pantai, Karang Ase
KEBERADAAN SESAR DAN HUBUNGANNYA DENGAN PEMBENTUKAN GUNUNG BAWAH LAUT DI BUSUR BELAKANG PERAIRAN KOMBA, NUSA TENGGARA
Lokasi penelitian terletak di busur belakang perairan timurlaut pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Di daerah ini terdapat gunung api Komba (Batutara) yang masih aktif yang letaknya agak ke utara dari jajaran gunung api aktif yang berada di sepanjang pulau-pulau Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Pantar dan lainnya. Ke arah tenggara dari gunung api Komba ini ditemukan beberapa gunung bawahlaut. Gunung bawahlaut tersebut adalah Baruna, Abang dan Ibu Komba. Gunung bawah laut ini telah dipetakan dengan batimetri multibeam mulai dari tahun 2003 hingga tahun 2013 dan pada tahun 2010 dilengkapi dengan seismik refleksi. Berdasarkan kerangka tektonik, gunung bawah laut ini terletak di cekungan busur belakang dan sekitar 200 sampai 300 km dalamnya dari bidang penunjaman. Munculnya gunung bawah laut ini diduga disebabkan oleh sistim sesar yang dalam yang berarah barat laut – tenggara. Data seismik juga mengindikasikan bahwa gunung bawah laut tersebut terpotong oleh sesar yang lebih muda yang berarah timurlaut-baratdaya. Akibat dari sesar yang berarah barat daya – timur laut ini juga merubah arah dari sesar naik busur belakang yang umumnya berarah barat-timur.
Kata Kunci : gunung bawah laut Baruna, Abang dan Ibu Komba, cekungan busur belakang, sesar-sesar dalam, Flores timur laut Nusa Tenggara Timur.
The study area is located on the back arc basin of northeast Flores island, East Nusa Tenggara. The area that is an active volcano of Batutara (Komba) situated. The Komba volcano is located far to the north of normal volcanoes belt of Java, Bali, Lombok, Sumbawa, Flores, Pantar, and others. To southeast of the Komba volcano, we found three submarine ridges. They are Baruna, Abang and Ibu Komba. These submarine ridges were mapped by multi beam bathymetry since 2003 and 2013 and at 2010 was completed by single and multi channel seismic reflection. According to their tectonic setting these ridges belong to the back arc basin and they are about 200 – 300 km depth of to the subduction slab. We interpret from the data of seismic reflection, these ridges are formed by a deeply NW-SE fault. Data from the seismic profiles also indicate that all the submarine ridges are cut by younger SW-NE faults. Inconsequently, the NE-SW faults have changed the direction of back arc thrusts those are normally E-W in direction.
Keywords : Baruna, Abang and Ibu Komba submarine ridge, back arc basin, deep faults, North East Flore
MODEL EMPIRIS HARI TENANG VARIASI MEDAN GEOMAGNET DI STASIUN GEOMAGNET TONDANO MANADO
Penentuan model empiris hari tenang variasi medan geomagnet dikonstruksi berdasarkan data geomagnet dari stasiun geomagnet (SG) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tondano, Manado. Hari tenang variasi medan geomagnet dinyatakan sebagai fungsi dari keempat komponen atau variabel yang mempengaruhinya yaitu: aktivitas matahari SA (solar activity), hari dalam setahun DOY (date of year), usia bulan LA (lunar age) dan waktu lokal LT (local time). Dalam bentuk matematis ditulis sebagai, EMQD ( SA, DOY, LA, LT ) = f(SA). g(DOY). h(LA). m(LT). Model empiris yang didasarkan pada fungsi kecocokan ini terdiri dari 270 bentuk ekspresi matematik. Sedangkan bentuk-bentuk ekspresi matematik ini juga mencakup proses-proses non-linier yang tak dapat diabaikan dalam model empiris hari tenang variasi medan geomagnet tersebut. Model empiris ini dapat ditiru atau dikonstruksi kembali pada suatu selang waktu yang relatif panjang (misalnya satu siklus matahari), asalkan kondisi geomagnet selalu berada dalam keadaan tenang. Kontribusi dari model empiris hari tenang ini akan memberikan informasi tentang gangguan geomagnet yang ada di stasiun geomagnet Tondano (Nilai Gangguan geomagnet = Nilai variasi medan geomagnet yang terukur – Nilai model empiris hari tenang). Dengan demikian model ini akan memberikan informasi gangguan geomagnet untuk operasi survey geomagnet disekitar stasiun geomagnet Tondano, Manado.
Kata kunci : Model empiris, Hari tenang, Variasi medan geomagnet.
The determination an empirical model of the quiet daily geomagnetic field variation that is constructed based on geomagnetic data from Tondano, Manado station geomagnetic This quiet daily of geomagnetic field variation was described as a function of four variables that its influence, these are solar activity (SA), day of year (DOY), lunar age (LA) and local time (LT). In the mathematically writes: EMQD ( SA, DOY, LA, LT ) = f(SA). g(DOY). h(LA). m(LT). The empirical model based on this fitting function consist of 270 coefficients which included in expression form of mathematic. While, expression form of this mathematic also comprise nonlinear processes which can not minimized in the empirical model of the quiet daily geomagnetic field variation. This empirical model can be reconstructed on the time interval that is long relative (for example one solar cycle). Provided that, under geomagnetic quiet conditions. Contribution of this empirical model of the quiet daily variation is can give information about the existence of geomagnetic disturbance at Tondano (value of geomagnetic disturbance equal value of measurable geomagnetic field variation minus value of empirical model of the quiet daily variation). Thus, information about the existence of this geomagnetic disturbance very useful for necessity geomagnetic survey at Tondano, Manado geomagnetic station.
Keywords: Empirical model, the quiet daily variation, geomagnetic field variation
KANDUNGAN UNSUR TANAH JARANG DI PERAIRAN KAMPAR, RIAU
Makalah ini membahas tentang sebaran dan kandungan unsur tanah jarang, di Perairan dan pantai Kuala Kampar baik dalam sedimen permukaan maupun di bawah permukaan. Untuk mengetahui dan memahami sebaran unsur tanah jarang di daerah selidikan, empat puluh lima contoh sedimen telah dilakukan analisis unsur tanah jarang. Berdasarkan analisis REE, maka unsur tanah jarang di Perairan Kuala Kampar dan sekitarnya terdiri dari Thantalum (Ta), Neobium (Nb), Zirkonium (Zr) Ytrium (Y) Zirkonium ditemukan dalam seluruh contoh yang dilakukan analisa kimia.. Dalam percontoh sedimen permukaan dasar laut sebaran zirkonium mempunyai kandungan antara 2,8 ppm -130 ppm. Sedangkan dibawah permukaan sedimen dasar laut berdasarkan data bor zirkonium ditemukan dengan kandungan antara 20,1 ppm - 75 ppm. Ytrium ditemukan pada seluruh contoh yang dianalisis kimia. Pada sedimen permukaan dasar laut sebaran ytrium mempunyai kandungan antara 4,1 ppm -39,3 ppm. Sedangkan dibawah permukaan sedimen dasar laut dari data bor ytrium ditemukan dengan kandungan antara 8,6 ppm - 17 ppm. Neobium ditemukan pada 33 percontoh yang dianalisa kimia dengan kandungan antara 0,06 ppm - 15,3 ppm dalam sedimen permukaan dasar laut perairan Kuala Kampar.dengan kandungan tertinggi pada MKP-69 (15,3) ppm. Dari contoh bor neobium ditemukan dalam BH-2 kedalaman bor (11-12m) 5,5 ppm dan BH-3 kandungan kisaran antara 2,6 ppm - 6,9 ppm Thantalum ditemukan dalam 23 percontoh yang dianalisa kimia dengan kandungan antara 1,43 ppm dan 19,3 ppm dengan kandungan tertinggi pada MKP-69. Dari contoh bor (BH-1, BH-2 and BH-3) thantalum tidak ditemukan. Unsur tanah jarang kebanyakan terdapat pada sedimen dasar laut pasir, pasir lanauan dan lanau pasiran.
The paper describes distribution and rare earth element contents in surface and sub surface sediments of Kuala Kampar waters area. To find out the distribution of rare earth element in the study area, forty-five samples have been analysed. According to REE analysis the sediments in Kuala Kampar area consist of Thantalum (Ta), Neobium (Nb), Zirconium (Zr) and Ytrium (Y). Zirconium found in all samples of surficial sea bottom sediment. Zirconium content ranged between 2,8 ppm and130 ppm. On the other hand subsurface seabottom sediment from core data shows zirconium content between 20,1 ppm and 75 ppm. Ytrium found in all samples analysed and the content range between 4,1 ppm and 39,3 ppm, while from core data ytrium content between 8,6 ppm and 17 ppm. Neobium found in thirtythree samples chemically analysed, the content range between 0,06 ppm and 15,3 ppm, where the highest content occur in MKP-69. From the core neobium found.in BH-2 core data (11 m - 12m) 5,5 ppm and BH-3 the content range between 2,6 ppm and 6,9 ppm. Thantalum found in 23 samples and the content range between 1,43 ppm and 19,30 ppm, where the highest content occur in MKP-69. From the core (BH-1, BH-2 and BH-3) thantalum is not found Most of Rare earth element generally found in sea bottom sediment: sand, silty sand and sandy silt