MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
MUD DIAPIR DI PERAIRAN SELATAN PULAU MADURA
Shallow seismic reflection study along the southern water of Madura Island indicates the occurrence of diapir and sediment bearing gas. Normally, the occurrence of diapirism is associated with sediment bearing gas. These phenomena can be observed along the southern waters of Madura, from Sampang until Kalianget. Diapir, fault, and gas charged sediment are indicated as the geological hazard. Offshore infrastructures and drillings have to consider the present phenomena because they can destroy those infrastructures.
Key word: diapir, fault, gas, geological hazard, Sampang
Penelitian seismik pantul dangkal di perairan selatan P. Madura menunjukkan adanya diapir di dalam lapisan sedimen yang mengandung gas. Biasanya keberadaan diapir diikuti oleh adanya lapisan sedimen yang mengandung gas. Gejala ini dapat diamati di sekitar perairan pantai selatan Madura,mulai dari perairan Sampang hingga ke Kalianget. Diapir,sesar, dan gas dalam sedimen diindikasikan sebagai bahaya geologi. Pembangunan atau pemboran di pantai dan lepas pantai harus mewaspadai keberadaan diapir dan gas dalam lapisan sedimen. Di tempat ini struktur tanahnya labil dan dapat menimbulkan kerusakan bangunan di atasnya.
Kata kunci: diapir, sesar,gas, bahaya geologi, Sampan
PROSES SEDIMENTASI SUNGAI KALIJAGA, DAN SUNGAI SUKALILA PERAIRAN CIREBON
Berdasarkan hasil analisis besar butir sebanyak 36 percontoh sedimen permukaan dasar laut di Perairan Cirebon, didapatkan 4 jenis sedimen: lanau, lanau pasiran, pasir lanauan dan pasir. Sedimen lanau, lanau pasiran, dan pasir, tersebar di lepas pantai Cirebon dan muara Sungai Kalijaga, sedangkan pasir lanauan di muara sungai Sukalila.
Dari Peta Batimetri terlihat daerah dangkal di sekitar muara Sungai Kalijaga. Sedimen paling tebal terdapat di sekitar muara Sungai Kalijaga dan Sungai Sukalila. Sedimen tersebut tersebar ke arah lepas pantai dan ke daerah rencana lokasi pelabuhan.
Di muara Sungai Kalijaga sedimennya berupa pasir. Berdasarkan plot pada grafik antara ukuran besar butir terhadap persen frekuensi, didapatkan hasil sedimen dengan persen frekuensi yang tinggi antara 2.25 phi - 2.75 phi atau pasir sedang sampai pasir halus. Berdasarkan grafik frekuensi kumulatif terhadap besar butir terdapat 2 cara transpor yaitu traksi untuk butiran pasir sedang dan saltasi untuk kisaran butiran lanau sampai pasir halus.
Kata Kunci : S. Kalijaga, S. Sukalila, Cirebon, besar butir, sedimen
Based on grain size analysis of 36 seafloor surficial sediment samples from Cirebon Water; there are 4 types of sediments silt, sandy silt, silty sand and sand. Silt, sandy silt and sand are distributed offshore of Cirebon and in the river mouth of Kalijaga, while silty sand is in the river mouth of Sukalila.
From the bathymetric map the shallow water can be observed in Kalijaga river mouth. The thicker sediments are found in Kalijaga mouth and Sukalila river. These sediments have been transported to the offshore and to the proposed Harbour location.
Sediment in Kalijaga river mouth is sand. Based on graphic presentation between grain size and percent frequencies, it indicates that the percentage of higher frequencies ranges between 2.25 TO 2.75 phi.
Based on the cumulative frequency to grain size graphic, there are two transport modes: traction for medium size sand and saltation for grain size range silt to fine sand.
Keywords : Kalijaga River, Sukalila River, Cirebon, grain size, sedimen
TEKSTUR SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT DI PERAIRAN TANJUNG DATU, SAMBAS-KALIMANTAN BARAT
Dasar laut perairan Tanjung Datu ditempati oleh tekstur sedimen dengan jenis lanau pasiran (sZ), pasir lanauan (zS), pasir (S) dan pasir sedikit kerikilan [(g)S]. Parameter statistik berupa modus jatuh antara lanau kasar (4,5 Ø)-pasir menengah (1,5 Ø), kepencongan negatif-positif dengan kurtosis berbentuk monomodal-bimodal. Distribusi partikel tegak lurus pantai menunjukan frekuensi modus pasir halus dan menengah yang bertambah ke arah lepas pantai; dan untuk yang sejajar pantai, pasir halusnya cenderung bertambah ke bagian tengah daerah penelitian. Klasifikasi pasir terhadap kelas pemilahan berdasarkan nilai deviasi standar, dan plot skater memperlihatkan bahwa satuan pasir dan pasir sedikit kerikilan mempunyai kesesuaian dengan lingkungan marin disertai adanya kelebihan partikel kasar dan halus.
Kata Kunci : Sedimen permukaan, parameter statistik, lingkungan marin, Perairan Tanjung Datu.
Tanjung Datu waters occupied by sandy silt (sZ), silty sand (zS), sand (S), and slightly gravellly sand sediment texture. The above unit has the statistical parameter values, comprising: mode falls between coarse silt (4.5 Ø)-medium sand (1.5 Ø), negative-positive skewness with kurtosis monomodal-bimodal shape. The distribution of particles perpendicular to the coast showing modes frequencies of fine to medium sand increases towards offshore. The parallel distribution contains modes of fine sand tends to increase to the central part of the study area. Classification of sand to a class of sorting based on the value of standard deviation, and the scatter plot shows that the sand and slightly gravellly sand units have compatibility with the marine environment with excess coarse and fine particles.
Key words: Surface sediment, statistical parameters, marine environment, Tanjung Datu Waters
PROSES SEDIMENTASI DI TELUK SAMPIT, KABUPATEN KOTA WARINGIN TIMUR KALIMANTAN TENGAH DALAM KAITANNYA DENGAN ALUR PELAYARAN KE PELABUHAN SAMPIT
Teluk Sampit adalah tempat bermuaranya Sungai Mentaya yang merupakan akses menuju ke pelabuhan Sampit sebagai pelabuhan utama di propinsi Kalimantan Tengah. Masalah utama yang terjadi di alur pelayaran adalah sedimentasi yang cukup tinggi yang dibawa oleh daerah aliran sungai yang bermuara di Teluk Sampit.
Proses sedimentasi dan pembentukan pantai yang terjadi di teluk Sampit sangat dipengaruhi sistem arus sungai, pasang surut dan energi gelombang, serta pasokan sedimen dari sungai-sungai. Hasil penelitian menunjukan bahwa sedimentasi yang paling tinggi terjadi di daerah barat bagian dalam teluk yang terlindung oleh spit Ujung Pandaran, dimana jenis pantainya berbakau. Di bagian timur proses sedimentasi relatif lebih kecil karena garis pantai terbuka terhadap Laut Jawa sehingga pengaruh energi gelombang dan pasang surut cukup tinggi. Endapan pantai ini berupa sedimen pasir yang mengindikasikan diendapkan pada lingkungan energi tinggi. Proses pembentukan Spit Ujung Pandaran murni oleh proses marin yaitu gelombang, pasang surut dan arus memanjang pantai, dimana pasokan sedimen dari hasil pelapukan dan abrasi Formasi Pembuang yang terletak di sebelah barat bagian luar. Spit ini sangat berpengaruh terhadap lebar mulut teluk dan pendangkalan di teluk.
Morfologi permukaan dasar laut teluk Sampit menunjukan hal yang tidak lazim, dimana di bagian tengah ada lekukan yang memiliki kedalaman sampai dengan 18 meter, hal ini dapat ditafsirkan bahwa pernah dilakukan pengerukan di mulut teluk untuk keamanan navigasi.
Untuk menjaga keamanan navigasi di teluk Sampit agar dapat dilayari maka harus dilakukan pengerukan secara berkala.
Kata Kunci : sedimentasi, morfologi permukaan dasar laut, pengerukan, Teluk Sampit
Sampit Bay is the place of Mentaya estuary as an access to the main Sampit Harbour in the Central Kalimantan Province. The main problem for the access is high of sedimentation transported by many rivers into the Sampit Bay.
Sedimentation process and beach forming in Sampit Bay are influenced by current river system, tide, wave energy and sedimentary supply from the rivers. From the field investigation indicate that high rate of sedimentation occur in western part of the inner bay, due to the bay is protected by Ujung Pandaran Spit, where mangrove is dominated in that beach. In the eastern part, the sedimentation rate is relatively small, because the coast line is open to the Java Sea, so that the influence of wave and tide energy is relatively high. This coastal deposit is represented by sand so that the sediment was deposited in high energy environment. The formation of Spit Ujung Pandaran is pure by marine procceses such as tide, wave, longshore current, where the sedimentary supply from weathered and erotion of Pembuang Formation, which is located in the west off Ujung Pandaran Capé. The spit can influenced to the wide of the bay and high rate sedimentation at the bay.
The sea floor morphology of the Sampit Bay is not common, where in the central of the bay, we found a small basin with 18 meters depth, this fact is interpreted that the basin had been dredged in the mouth of the bay for safety navigation.
For safety navigation in the Sampit Bay, it is consequently must be dredged regularly.
Key words : sedimentation, morphology of the sea floor, dredged, the Sampit Ba
IDENTIFIKASI KERUSAKAN PESISIR AKIBAT KONVERSI HUTAN BAKAU (MANGROVE) MENJADI LAHAN TAMBAK DI KAWASAN PESISIR KABUPATEN CIREBON
Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kerusakan pesisir akibat konversi lahan bakau menjadi tambak yang kaitannya dengan perubahan garis pantai di Kabupaten Cirebon. Metode observasi dengan analisis deskriptif kualitatif terhadap faktor penurunan luasan ekosistem bakau dan sedimentasi. Data-data yang dikumpulkan yaitu energi fluks gelombang, peta karakteristik pantai dan peta sebaran bakau. Hasil dari pembobotan menunjukkan desa pantai yang termasuk kategori amat sangat diutamakan (A) adalah Gebang Kulon dan Gebang Ilir. Selanjutnya, pantai yang memiliki kategori sangat diutamakan tersebar merata hampir disetiap desa, kecuali desa Bendungan, Mundu dan Kalipasung yang kategori diutamakan (B), dan desa Tawang sari kategori kurang diutamakan (D). Kata Kunci: Identifikasi pesisir, ekosistem hutan bakau, kategori, Cirebon The study is to identify the coastal damage due to the conversion of coastal mangrove to fish ponds that is correlated with coastal changes in Cirebon regency. By using methods observation with qualitative descriptive analysis to the factor decrease the extend of mangrove ecosytems and sedimentation. Data collected are energy flux, coastal characteristic maps, and mangrove distribution map. Results of weighting indicates that coastal villages within avery high priority (A) is Gebang Kulon and Gebang Ilir. Furthermore, the beach has a high priority is spread evenly in almost every villages except Dam, Mundu, and Kalipasung villages those are in priority category (B), as well as the village of Tawang sari within a less priority category (D). Keywords: Coastal identification, mangrove ecosystem, category, Cirebo
GUNUNGAPI BAWAH LAUT KAWIO BARAT, PERAIRAN SANGIHE, SULAWESI UTARA: AKTIVITAS HIDROTERMAL DAN MINERALISASI
Ekspedisi INDEX-SATAL 2010 telah mengungkapkan fenomena aktivitas hidrotermal di bawah perairan barat Kepulauan Sangihe pada Gunungapi Bawah Laut Kawio Barat dengan puncaknya yang berada pada kedalaman laut sekitar 1860 m dan kakinya pada kedalaman sekitar 5400 m. Penyelaman ROV (Remotely Operated Vehicle) Little Hercules di Gunungapi Kawio Barat yang dipusatkan di sisi baratlaut dari puncak gunung menyapu mulai kedalaman 3000 m hingga menuju ke arah puncak pada kedalaman 1860 m. Kelompok batuan dicirikan oleh bongkahan lava yang sudah pecah ditutupi sedimen halus berwarna abu-abu cerah; sedangkan pada sisi tenggara umumnya ditempati aliran lava bantal. Pada sisi baratdaya, tempat lembah dalam menoreh Gunungapi Kawio Barat dijumpai kepulan asap dari lereng bagian bawah yang akhirnya pada kedalaman sekitar 1890 m dijumpai aktivitas hidrotermal bawah laut yang merupakan suatu fenomena yang pertama kali direkam langsung dari bawahlaut perairan Indonesia. Fenomena yang terekam berupa pemunculan asap (smokers) di sepanjang rekahan (fissures), dicirikan oleh warna asap yang bervariasi dari putih, kuning atau abu-abu cerah yang kemungkinan menunjukkan indikasi perbedaan komposisi kimiawi dari fluida hidrotermal. Selain asap, teramati juga adanya gelembung cairan (panas) atau bubbles dari rekahan. Penemuan baru lainnya adalah adanya fluida hidrotermal muncul ke permukaan dan membentuk suatu cerobong hidrotermal atau chimney di daerah yang secara tektonik dikontrol oleh konvergensi lempeng. Batuan-batuan di sekitar rekahan hidrotermal (hydrothermal vent) umumnya telah terubah dengan dominasi warna putih hingga kelabu. Di sekitar rekahan hidrotermal diendapkan belerang berwarna kuning kehitaman. Mineralisasi kemungkinan terjadi di sekitar cerobong hidrotermal, terakumulasi membentuk endapan mineral yang ditunjukkan oleh warna coklat, abu-abu, dan kemerahan. Hal ini terutama teramati di sekitar cerobong yang sudah tidak mengeluarkan gelembung atau asap, serta dijumpai kehadiran endapan serakan butiran batuan atau mineral berwarna coklat atau hitam.
Kata kunci: INDEX-SATAL 2010, aktivitas hidrotermal, ROV, asap hidrotermal, gelembung cairan, cerobong hidrotermal, konvergensi lempeng, mineralisasi
INDEX-SATAL Expedition 2010 has revealed the phenomenon of hydrothermal activity in the western part of the Sangihe Waters in Kawio Barat Submarine Volcano with the peak which is located at 1860 m depths and the bottom at about 5400 m depths. A ROV (Remotely Operated Vehicle) "Little Hercules" dive in Kawio Barat was centered on the northwest side of the mountain began to sweep from the depths of 3000 m toward the top of 1860 m depths. The lithologic unit is characterized by the present of broken lavas covered with fine grey colored sediment whilist in the southeast side is composed of pillows lavas. In the southwest side, in which the deep valleys incise Kawio Barat, a clouds of smoke from the lower slopes are observed; finally at 1890 m depths a submarine hydrothermal activity is noted. This phenomenon represents the first submarine direct record made from the bottom of the Indonesian Waters. Those smokers phenomena are recorded along fissures, characterized by various colors of white, yellow to grey due to different chemical composition of hydrothermal fluids. Besides, the hot bubbles are also arised from the fissures. The other new discovery is the presence of hydrothermal chimney in the area of tectonically controlled by convergence plates. Rocks surrounding the hydrothermal vents are generally altered giving grey to white colors and the presence of dark yellow sulfur deposits. Mineralization may occur and accumulated in hydrothermal chimney and its surrounding to form brown-, grey-, and reddish- color deposits The latter are commonly found in inactive chimneys, indicated by the presence of dispersed brown and black color grains/chips of both sedimentary rocks or minerals as well.
Keywords: INDEX-SATAL 2010, hydrothermal activity, ROV, hydrothermal smokers, bubbles, hydrothermal chimney, plate convergence, mineralizatio
INDIKASI GUNUNGAPI BAWAH LAUT DI PERAIRAN SANGEANG SUMBAWA NUSA TENGGARA BARAT
Penelitian dengan menggunakan metode seismik pantul saluran ganda (multichannel) dan geomagnet mengindikasikan adanya gunungapi bawah laut. Dari penampang rekaman seismik dapat ditafsirkan bahwa Gunungapi bawah laut ditandai dengan bentuk tonjolan atau terobosan menembus dasar laut. Dari data megnetik kelautan diperoleh bahwa pada lokasi gunungapi bawah laut diketahui nilai anomali intensitas magnet total cukup tinggi yaitu sekitar 124 nT. Umumnya anomali intensitas magnet tinggi terdapat di bagian selatan daerah penelitian yang ditafsirkan juga sebagai penipisan kerak atau adanya Gunungapi bawah laut. Bagian selatan memang banyak didapat Gunungapi seperti gunungapi Sangeang Api yang terdapat diujung timur dan rangkaian Gunungapi lainnya yang terdapat di pulau Sumbawa (Gunungapi Tambora dan lainnya).Kata kunci metode seismik dan geomagnet, gunungapi bawah laut, Perairan Sangiang The study is equipped by using multi-channel seismic reflection and marine geomagnetic method and it indicates a submarine volcano. The seismic reflection profile can be interpreted that the submarine volcano is characterized by the bulge or break shape penetrate the seabed. From the data obtained of marine geomagnetic, the location of submarine volcanoes known value of the total magnetic intensity anomalies is quite high which is about 124 nT. Generally, the intensity of high magnetic anomaly is located in the southern part of the study area. This anomaly is interpreted as a thinning crust or the presence of submarine volcanoes. The southern part is the area where volcanoes are found such as Sangeang Api volcano located at the eastern tip and other volcanoes series on the island of Sumbawa (volcano Tambora and others). Keywords: seismic and geomagnetic methods, submarine volcanoes, Sangiang water
IDENTIFIKASI PROSES TOMBOLO TANJUNG GONDOL DENGAN PERHITUNGAN ENERGI FLUX GELOMBANG DI PANTAI SINGARAJA, BALI UTARA
Morfologi Tanjung Gondol terdiri atas perbukitan yang cukup kontras terhadap morfologi di sekitarnya berupa pedataran. Batuan penyusun Tanjung Gondol terdiri atas batuan volkanik berupa lava, dan breksi vulkanik, yang mempunyai resistensi cukup tinggi terhadap energi gelombang laut. Daerah pedataran disusun oleh endapan aluvium yang sebagian besar berupa endapan pasir yang sangat mudah tergerus oleh energi gelombang.
Tanjung Gondol adalah sebuah pulau dekat pantai yang dipisahkan dari Pulau Bali oleh sebuah selat yang sempit dengan lautnya yang dangkal. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi proses pembentukan tombolo Tanjung Gondol berdasarkan analisis data geologi dan oseanografi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tanjung Gondol sebelumnya berupa sebuah pulau kecil yang terpisah dari Pulau Bali, dan dibatasi oleh laut dangkal. Karena proses pendangkalan pada laut tersebut akibat arus sejajar pantai, maka pulau kecil ini secara berangsur bersatu dengan Pulau Bali membentuk Tombolo Tanjung Gondol.
kunci : geologi, oseanografi, tombolo, Tanjung Gondol
The morphology Tanjung Gondol consists of hills that fairly contrast to the surrounding morphology of plain. The lithology of Tanjung Gondol consist of volcanic rocks such plain as lava, and volcanic breccia, which has a high resistans to the sea wave energy. The plain area consist of alluvial deposits mostly of sand which are easily eroded by the sea waves.
Tanjung Gondol is an island near the coast which is separated from Bali Island by the narrow strait with shallow sea. The aim of study is to identify the forming process of tombolo Tanjung Gondol based on the analyses of geological and oceanographical data. The result shows that the previous Tanjung Gondol was a small island separated from the Bali Island by a shallow sea. Due to the shallowing process in the area caused by longshore currents, this small island is then gradually connected to Bali Island forming the tombolo of Tanjung Gondol.
Keywords : geology, oceanography, tombolo, Tanjung Gondol
TINJAUAN ASPEK-ASPEK PEMBANGUNAN YANG MEMPENGARUHI DAMPAK LINGKUNGAN KAWASAN PESISIR DAN LAUT
Urbanisasi yang terjadi di hampir seluruh kota besar di Indonesia menambah beban daerah perkotaan menjadi lebih berat. Peningkatan jumlah penduduk selalu diikuti dengan peningkatan infrastruktur perkotaan seperti perumahan, sarana transportasi, air bersih, prasarana pendidikan, dan lain-lain.
Hal tersebut di atas akan menyebabkan dorongan luar biasa terhadap pengalihfungsian lahan-lahan pertanian di kawasan pesisir, di tempat mana akan terjadi suatu situasi kritis terhadap masalah limbah. Kebutuhan akan lahan untuk permukiman maupun kegiatan perekonomian akan semakin meningkat sehingga terjadi perubahan tataguna lahan yang mengakibatkan peningkatan aliran permukaan dan limbah. Pengendalian pencemaran dan pembuangan limbah, merupakan masalah krusial dalam kawasan ini dan tindakan langsung maupun tidak langsung diperlukan untuk menciptakan pengendalian terhadap kegiatan-kegiatan yang dapat merusak lingkungan.
Kata kunci : urbanisasi, infrastruktur, aliran permukaan, pencemaran dan limbah.
Urbanizations that occured in nearly all of the big cities in Indonesia had burdened city areas lately. The increasing of population always comes up with the improvement of infrastructures like residential area, transportation, clean water, educational facility etc.
These things may cause a stimulus and change the function of coastal farming lands and will reach a critical situation concerning the waste problem. The need of lands for settlement area and economical activity will increase and cause the change on land use and will increase the drainage and wastes. The pollution and waste dumping control are crucial problems in this area and the direct and indirect action is needed to create controls on activities that could damage the environment.
Key word : urbanization, infrastructure, drainage, pollution and waste
TINJAUAN GEOLOGI LANDAS KONTINEN INDONESIA DI LUAR 200 MIL LAUT SEBELAH SELATAN PERAIRAN PULAU SUMBA
Indonesia berkehendak untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi potensi sumber daya alam di Zona Landas Kontinen di luar 200 mil laut dengan mengajukan batas Landas Kontinennya sesuai dengan ketentuan yang telah ditetapkan dalam United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS III, 1982) hingga jarak 350 mil laut. Hasil studi data geologi dan geofisika menunjukkan bahwa Indonesia memiliki prospek untuk melaksanakan submisi landas kontinen di luar 200 mil di tiga lokasi, dalam hal ini salah satunya adalah di sebelah selatan perairan Pulau Sumba. Tinjauan geologi ini dilaksanakan dalam upaya menggali dan menghimpun data serta informasi yang berkaitan dengan hak kedaulatan Indonesia atas potensi sumberdaya alam dari Landas Kontinen Indonesia di luar 200 mil sebelah selatan perairan Pulau Sumba. Adapun tujuan dari tinjauan ini adalah untuk pengembangan data dan informasi kelautan untuk pemanfaatkan potensi sumberdaya alam dari Landas Kontinen Indonesia di luar perairan 200 mil sebelah selatan Pulau Sumba. Data geologi dan geofisika di daerah tinjauan menunjukkan ketebalan sedimen yang tipis yaitu antara 1– 1,8 %. Tinjauan geologi ini memberikan pula dugaan adanya cekungan yang memiliki ketebalan sedimen yang cukup tebal yang dapat ditelusuri lebih lanjut sesuai dengan pola batimetri perairan selatan Sumba.
Kata kunci: Landas kontinen, 200 mil laut, submisi, UNCLOS, sedimen.
Indonesia willing to explore and exploit the natural resources in Continental Shelf Zone beyond 200 nautical miles to the limit of its continental shelf in accordance with the provisions stipulated in the United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS III, 1982) up to a distance of 350 nautical miles. The result of geological and geophysical data study shows that Indonesia has the prospect to implement submission of the continental shelf beyond 200 miles in three locations, where one of which is in the southern waters of Sumba Island. Geological review was conducted in order to explore and collect data and information relating to the rights of Indonesian sovereignty over natural resources of the Indonesian Continental Shelf beyond 200 miles south of Sumba Island waters. The purpose of this review is for the development of marine data and information for the exploitation of natural resources of the Continental Shelf beyond Indonesian waters 200 miles south of the island of Sumba. Geological and geophysical data from the study area shows that the sediment thickness is between 1 to 1.8%. This study also provides the present of a basin with the sediment thickness that can be traced further in accordance with the pattern of bathymetric pattern of south Sumba waters.
Keywords: Continental shelf, 200 nautical miles, submissions, UNCLOS, sediments