MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
INTRUSI VULKANIK DI PERAIRAN SEKOTONG LOMBOK BARAT
Rekaman seismik pantul dangkal menunjukkan adanya terobosan batuan ke permukaan dasar laut. Terobosan batuan tersebut berupa intrusi vulkanik seperti yang terdapat di darat, yaitu di bagian barat dan timur daerah telitian.
Disekitar intrusi batuan vulkanik ini dapat diamati adanya sesar sesar yang berkembang. Adanya intrusi vulkanik dan sesar sesar di daerah telitian ini, perlu diwaspadai sebagai bahaya geologi yang perlu dipertimbangkan dalam pengembangan dan pembangunan di sekitar pantai.
Shallow seismic reflection record indicate an intrusion body to sea floor surface. This intrusion suggested to be a vulcanic rock that occur in the western and eastern part of study area.
Around in this intrusion vulcanic rock, the development of faults can be observed. The occurrence of this vulcanic intrusion should be paid attention as geological hazard that have to be consider for coastal development
BATIMETRI, POLA ARUS DAN PERUBAHAN GARIS PANTAI DI SAGARA ANAKAN, CILACAP
Sedimentasi yang dicirikan oleh pertumbuhan pulau-pulau baru dan daratan di Sagara Anakan, setidaknya sejak tahun 1944 hingga sekarang, berawal dari proses pasang surut yang terjadi di Sagara Anakan. Kecepatan dan arah arus Citanduy merupakan faktor dominan dalam proses sedimentasi di Sagara Anakan. Penggabungan kecepatan dan arah arus Citanduy dengan kecepatan dan arah pasang surut laut menghasilkan resultante di Sagara Anakan berarah timur-tenggara.
Tidal processes in Sagara Anakan at least since 1944 until present, triggered sedimentation characterized by the development of new islands and lands. Velocities and direction of Citanduy current are the dominant factors in sedimentation processes in Sagara Anakan. The interference of velocities and current directions of Citanduy and Indian Ocean tide in Sagara Anakan resulted east-southeast resultants directions
CHARACTERISTIC OF SHALLOW SUBSURFACE LITHOLOGY BASED ON GROUND PROBING RADAR DATA INTERPRETATION AT TEMAJU COAST, SAMBAS DISTRICT, WEST KALIMANTAN PROVINCE
In order to know the subsurface lithology characteristic at Temaju coast, the Ground Probing Radar (GPR) detection have been carried out. The detection was done along the coast around 11 GPR track line. The equipment which was used are SIR III with 270 MHz antenna. Based on the analysis results of GPR image data which were correlated with the exposed of surface lithology and core drilling log, show that the maximum penetration is about 10 m with the lithology composition as follow: the upper most layer is characterized by sand deposits with about 2 – 3 m width. Below the sand layer is characterized by coral limestone and sandstone.
Keywords: subsurface lithology, ground penetrating radar, Temaju Coast
Untuk mengetahui karakteristik litologi bawah permukaan di sekitar pantai Temaju, telah dilakukan penditeksian dengan mempergunakan metoda Ground Probing Radar (GPR). Penditeksian telah dilakukan pada sekitar 11 panjang lintasan di sepanjang pantai. Peralatan yang dipergunakan terdiri dari SIR III dengan antenna 270 MHz. Berdasarkan hasil analisis data citra GPR yang dikorelasikan dengan singkapan litologi permukaan dan log pemboran inti, memperlihatkan bahwa penetrasi masimum sekitar 10 m dengan urutan litologi sebagai berikut: lapisan paling atas dicirikan oleh pasir dengan ketebalan sekitar 2-3m. Di bawah lapisan pasir dicirikan oleh batuan gamping terumbu karang dan batu pasir Kata kunci: litologi bawah permukaan, “Ground Probing Radarâ€, Pantai Temaj
ANALYSIS OF EROSION AND SEDIMENTATION PATTERNS USING SOFTWARE OF MIKE 21 HDFM-MT IN THE KAPUAS MURUNG RIVER MOUTH CENTRAL KALIMANTAN PROVINCE
The public transportation system along the Kapuas River, Central Kalimantan are highly depend on water transportation. Natural condition gives high distribution to the smoothness of the vessel traffic along the Kapuas Murung River. The local government has planned to build specific port for stock pile at the Batanjung which would face with natural phenomena of sedimentation and erosion at a river mouth. Erosion and sedimentation could be predicted not only by field observing but it is also needed hypotheses using software analysis. Hydrodynamics and transport sediment models by Mike 21 HDFM-MT software will be applied to describe the position of sedimentations and erosions at a river mouth. Model is assumed by two different river conditions, wet and dry seasons. Based on two types of conditions the model would also describe the river flow and sediment transport at spring and neap periods. Tidal fluctuations and a river current as field observation data would be verified with the result of model simulations. Based on field observation and simulation results could be known the verification of tidal has an 89.74% correlation while the river current correlation has 43.6%. Moreover, based on the simulation the sediment patterns in flood period have a larger area than ebb period. Furthermore, the erosion patterns dominantly occur during wet and dry season within ebb period. Water depths and sediment patterns should be considered by the vessels that will use the navigation channel at a river mouth.
Keywords: Kapuas Murung River, software Mike 21 HDFM-MT, erosion and sedimentation pattern
Penduduk yang berada di sepanjang Sungai Kapuas sangat bergantung pada transportasi air. Kelancaran lalu lintas kapal di sepanjang Sungai Kapuas Murung sangat tergantung dengan kondisi alam yang terjadi. Rencana pemerintah daerah yang akan membangun pelabuhan khusus batubara di Batanjung akan berhadapan dengan fenomena alam yang umum terjadi di muara sungai yaitu sedimentasi dan erosi. Prediksi akan terjadinya sedimentasi dan erosi tidak hanya ditunjang pengamatan lapangan namun juga perlu dilakukan dengan melakukan hipotesa menggunakan bantuan analisis software. Penelitian ini akan menggambarkan posisi sedimentasi dan erosi di sekitar muara dengan pemodelan hidrodinamika dan transport sedimen yang menggunakan Software MIKE 21 HDFM-MT. Model dibuat dengan mengasumsikan kondisi sungai pada saat musim hujan dan musim kemarau. Berdasarkan dua kondisi tersebut model akan menggambarkan sebaran arus dan sebaran sedimen untuk periode bulan baru dan perbani. Data lapangan pasang surut dan kecepatan arus akan diverifikasi ke hasil simulasi model. Berdasarkan data hasil pengukuran lapangan dan data hasil simulasi model maka dapat diketahui bahwa verifikasi nilai pasang surut menunjukkan korelasi sebesar 89.74% sedangkan verifikasi nilai arus sebesar 43.6%. Selanjutnya dari hasil simulasi didapatkan bahwa pada saat pasang, gambaran posisi sedimentasi banyak terdapat pada bagian timur muara sungai dengan penyebaran cukup luas sedangkan pada kondisi surut area lebih sedikit. Selanjutnya gambaran daerah yang tererosi banyak terjadi pada saat air surut baik untuk musim hujan maupun kemarau. Kapal yang akan menggunakan muara sebagai alur pelayaran harus mempertimbangkan kondisi kedalaman air yang ada dan juga pola sedimentasi yang terjadi.
Kata kunci: Sungai Kapuas Murung, software Mike 21FM HD-MT, erosi dan pola sedimentas
DIAGENETIC FEATURES OF PALEO LAGOONAL REEF OF TACIPI AREA, SOUTH CELEBES
Limestone outcrops of the Tacipi area is an ideal carbonate platform part of Neogene East and West Sengkang Basin that are located in the south part of Sulawesi, precisely in western of Bone city. The limestones of this area, outcropping mainly on the north-south oriented hills such as Temapole, Anadara, Tamping, Lappa, etc., are the best reef example in the Tacipi area, as the reef itself, its debris and detritus can be distinguished in the field. Throughout the ridges and pinnacle in Tacipi field the limestones are predominantly homogenous boundstones on the top and detrital bioclastic packstones with local grainstones, and wackestones at the bottom. There are four major reef zonation indentified pacth reef, barrier reef, fore reef and lagoon. The extensive freshwater leaching of fossil fragments and calcareous cement give the preservation of biomouldic and vug pore spaces.
Key words : limestones, reef, Tacipi
Singkapan batugamping daerah Tacipi merupakan suatu paparan karbonat Neogen yang ideal di timur dan barat Cekungan Sengkan yang terletak di bagian selatan Sulawesi, tepatnya di sebelah barat kota Bone. Batugamping di daerah tersebut, terutama tersingkap berorientasi utara – selatan sejajar gunung-gunung seperti di Tempole, Anadara, Tamping, Lappa dan lain-lain, merupakan contoh terumbu terbesar di daerah Tacipi, sebagai bagian dari terumbu, sisa-sisa dan runtuhannya dapat dibedakan di daerah tersebut. Sepanjang punggungan dan puncaknya di daerah Tacipi, batugamping merupakan bagian utama dari lapisan pengikat yang homogen di bagian atas dan detrital bioklastik koral terpilah buruk dengan lokal struktur butiran secara setempat, dan struktur bioklastik laut pada bagian bawah. Ada empat zonasi utama terumbu yang telah identifikasi sebagai karang gosong, karang penghalang, karang depan dan lagun. Air tawar yang luas terlarut dari pecahan fosil dan semen mengandung zat kapur memberikan pengawetan terhadap jejak-jejak kehidupan dan pori-pori.
Kata kunci : batugamping, terumbu, Tacip
BENTHIC FORAMINIFERA IN SOUTH WAIGEO WATERS, RAJA AMPAT, WEST PAPUA
Waigeo Island is one of four large islands of the Raja Ampat group, West Papua Province. This area lies in the heart of the coral triangle region as the most marine bio-diversity on Earth. Coral reef ecosystem of the Waigeo is a favorable habitat for various organisms including foraminifera. Foraminifera have been proven as useful indicator of water quality surrounding the coral reef environment since FORAM Index was formulated. It gives additional importance of foraminifera beside their common uses on micropalaeontology for petroleum industry and palaeoecology. Therefore, it is very important to obtain data of the benthic foraminifera from various coral reef environments in Indonesia, such as around Waigeo Island. Sediment samples of this study were collected from 12 sites in southern part off Waigeo Island, on July 2011. Observation on benthic foraminifera shows that the study area is dominated by symbiotic bearing benthic foraminifera, Amphistegina lessonii, belongs to Suborder Rotaliina. This occurrence increases the values of FORAM Index (FI) at certain sites. Generally, the values of FI from most sites are high (FI>4) that provide a good indication for reef growth or recovery. The values of FI less than 2 are found at RJ3 and RJ4 indicate stress environment for reef growth and they are dominated by opportunistic and heterotrophic functional groups of Elphidium and Quinqueloculina.
Keywords: benthic foraminifera, high value FI, Waigeo Island, West Papua
Pulau Waegio merupakan salah satu dari empat pulau besar di Kepulauan Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Wilayah in terletak di jantung segitiga terumbu karang sebagai pusat paling kaya keanekaragaman hayatinya di bumi. Ekosistem terumbu karang Waigeo merupakan habitat yang cocok bagi kehidupan berbagai organisme termasuk foraminifera. Foraminifera telah terbukti sebagai indikator kualitas air sekitar terumbu karang setelah diformulasikan Indeks FORAM. Dengan demikian foraminifera telah mempunyai kegunaan tambahan selain fungsi umum dalam bidang mikropaleontologi pada industri perminyakan dan paleoekologi. Oleh karena itu sangat penting untuk mendapatkan data foraminifera bentik dari ekosistem terumbu karang di wilayah Indonesia, seperti perairan Pulau Waigeo. Sampel sedimen untuk studi ini diambil di 12 titik lokasi sebelah selatan Pulau Waigeo pada bulan Juli 2011. Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa daerah penelitian di dominasi foraminifera bentik yang bersimbose dengan terumbu karang, Amphistegina lessonii, anggota Subordo Rotaliina. Kehadirannya meningkatkan nilai FI dari titik lokasi tertentu. Sebagian besar titik lokasi mempunyai nilai FI>4 memberi indikasi bahwa kondisi perairannya kondusif untuk pertumbuhan karang yang terletak di ekosistem terumbu karang. Secara umum, nilai FI di sebagian besar titik lokasi tinggi (>4) yang member indikasi kondisi lingkungan bagus bagi pertumbuhan karang. Nilai FI rendah
CHARACTERISTIC OF SHALE GAS RESERVOIR USING LMR (LAMBDA-MU-RHO) INVERSION: CASE STUDY BARNETT SHALE, FORT WORTH BASIN TEXAS, USA
The decreasing of fossil fuel reserves in the conventional reservoir has made geologists and geophysicists to explore alternative energy source that could answer energy needs in the future. Therefore the exploration of oil and gas that is still trapped in the source rock (shale) is needed, and one of them still developed in shale gas. The method of Amplitude Versus Offset (AVO) Inversion is used for Lambda-Mu-Rho attributes, that is expected to assess values of physical parameters of shale. Fort Worth Basin is chosen to be a study area because, the Barnett Shale Formation has proven contains of oil and gas. This study using synthetic seismic data, based on geological model and well log data obtained from Vermylen (2012). It is expected from the study of Barnett Shale that related to shale gas development could be applied.
Keyword: Shale gas, Barnett Shale, Fort Worth Basin, AVO Inversion, Lambda-mu-rho attributes
Penurunan cadangan bahan bakar fosil pada reservoar konvensional membuat ahli geologi dan geofisika mengeksplorasi sumber energi alternatif guna menjawab kebutuhan energi di masa depan. Oleh karena itu dibutuhkan eksplorasi minyak dan gas yang masih terperangkap dalam batuan induk (serpih), dan salah satunya yang dikembangkan saat ini adalah “shale gasâ€. Penggunaan metode inversi Amplitudo Versus Offset (AVO) untuk atribut Lambda-Mu-Rho diharapkan dapat menghasilkan nilai-nilai parameter “fisis shaleâ€. Cekungan Fort Worth dipilih sebagai lokasi penelitian ini karena terdapat Formasi “Barnett Shale†yang telah terbukti mengandung minyak dan gas. Penelitian ini menggunakan data seismik sintetik berdasarkan model geologi serta data sumur yang diperoleh dari Vermylen (2012). Diharapkan dari penelitian tentang Barnett Shale yang berkaitan dengan pengembangan shale gas dapat diaplikasikan.
Kata kunci: “Shale gasâ€, “Barnett Shaleâ€, Cekungan Fort Worth, Inversi AVO, atribut Lambda-Mu-Rh
STUDY OF THE SEDIMENTATION TREND IN THE PROSPECTIVE AREA OF PORT OF MARINE CENTER, CIREBON BASED ON REMOTE SENSING DATA
A coastal zone is the interface between the land and water that influenced by both of them. Coastal dynamic is influenced by many factors from land and sea, such as sedimentation and current. In order to support marine facility, Marine Geological Institute of Indonesia (MGI) plan to build a port. The prospective area is behind MGI office at Cirebon. This study use multi temporal remote sensing data in order to observe trend of coastline change around MGI. Based on the interpretation of the data, there are sedimentation around the MGI water and abrasion due to the presence of Kejawanan’s jetty and Kalijaga River. The result also shows that the current in this region is moving from southeast to northwest. The presence of the Kejawanan’s jetty stymies the movement of sediment. The sediment which is normally moving to the north of the jetty is then trapped on the south side of the structure, so that the sediment precipitates in this region and makes it as the active region of sedimentation and accretion. The presence mangrove conduces to support sedimentation speed and accretion at this region, because of his function as the catchment area. Abrasion occurs in the eastern part of MGI office at the Kalijaga river mouth within the bay. The Kalijaga River mouth is predicted to be the primary source of sedimentation in this area. The coastline change caused by sedimentation will be continuing as long as it is supplied by the sediment. The direction of the sedimentation is parallel to the jetty and it forms ellipsoid, with the sedimentation/accretion region is behind MGI office. The abrasion area is found in Kalijaga River mouth and a small area beside Kalijaga River. In order to build a port, we have to consider this sedimentation process. One of the alternatives to build the port is to make a quay pile model which gives way the current to pass through the other side of the port. Another alternative is to build the port as a pond model but it needs accuracy in building the mouth of jetty to minimize the sedimentation process.
Keyword : sedimentation, Cirebon, remote sensing
Pantai/pesisir merupakan wilayah antara daratan dan lautan yang masih dipengaruhi oleh keduanya. Dinamika pantai dipengaruhi oleh faktor-faktor dari daratan dan lautan seperti sedimentasi dan arus. Untuk menunjang “marine facility center†Puslitbang Geologi Kelautan (P3GL) bermaksud untuk membangun pelabuhan. Daerah yang prospektif adalah di belakang kantor P3GL, Cirebon. Studi ini menggunakan data citra satelit multi temporal, yang berguna untuk melihat arah perkembangan dan perubahan garis pantai di belakang kantor P3GL dan sekitarnya. Berdasarkan interpretasi data citra, di daerah studi ditemukan adanya daerah akresi/sedimentasi dan daerah abrasi yang disebabkan oleh adanya dermaga Kejawanan dan adanya sungai Kalijaga. Hasil studi juga menunjukkan arah arus umumnya bergerak dari tenggara menuju barat laut. Keberadaan jetty Kejawanan menyebabkan aliran arus dan sedimen terhenti. Sedimen yang seharusnya bergerak ke arah utama menjadi terhalang dan terjebak di bagian selatan jetty, sehingga mengendap di daerah ini. Keadaan ini menyebabkan daerah ini menjadi daerah sedimentasi yang aktif (akresi). Keberadaan mangrove pada daerah ini juga menambah kecepatan sedimentasi di daerah ini, karena berfungsi sebagai daerah tangkapan sedimen. Abrasi terjadi di sebelah timur P3GL, tepatnya pada daerah lengkungan teluk dan di mulut sungai Kalijaga. Daerah mulut sungai Kalijaga diprediksi sebagai sumber sedimen pada daerah ini. Perubahan garis pantai yang disebabkan oleh sedimentasi akan terus berlangsung di daerah ini, selama adanya pasokan sedimen. Sedimentasi ini akan berlangsung sampai arahnya sejajar dengan jetty Kejawanan dan akan membentuk ellipsoid, dengan daerah sedimentasi berada di sekitar jetty dan belakang P3GL sementara daerah abrasi berada di sungai Kalijaga dan daerah sebelahnya. Karena itu, pembangunan pelabuhan P3GL sebaiknya memperhatikan kondisi ini. Salah satu alternatifnya adalah dengan membuat pelabuhan model tiang pancang yang memungkinkan arus dan sedimen untuk bergerak ke sisi sebelahnya. Alternatif lain adalah dalam bentuk kolam pelabuhan, tetapi harus tepat memperhatikan mulut pelabuhan untuk meminimalkan sedimentasi yang terjadi