MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    IMPACTS OF MARINE SAND MINING ACTIVITIES TO THE COMMUNITY OF LONTAR VILLAGE, SERANG - BANTEN

    Get PDF
    Marine sand mining activities in Lontar Village have been started legally since 2003 and temporarily halted in 2013. The locals blamed the activities for severe environmental destruction in almost every corner of the village such as low productivity ofaquaculture, coastal erosion, and habitat loss. This paper has an objective to provide preliminary data and analyses for environmental impact assessment of marine sand mining in Serang (Lontar Village). Field investigations were carried out in June 2014 to collect primary data such as bathymetrical data and water quality parameters in the region to understand the environmental conditions after 10 years of marine sand mining activities as well as the characteristicsof local oceanography. Extensive interview with the locals were also conducted to collect information about the socio-economic conditions of the village. Field findings showed that LontarVillage have experienced critical environmental problems such as coastal erosion, high turbidiy and loss of marine lives. Moreover, we also found that the abandoned aquaculture fields have also been converted as sand mining quarries. Recommendations to reduce further environmental damage in Lontar Village are proposed considering both socio-economy and physical aspects. Keywords:sand mining, Lontar village, environmental damage, erosion Aktifitas penambangan pasir laut di Kampung Lontar telah dimulai secara legal sejak 2003 dan telah berhenti untuk sementara tahun 2013. Keberatan penduduk setempat terhadap aktifitas penambangan tersebut adalah disebabkan oleh adanya gangguan lingkungan di hampir setiap sudut perkampungan seperti rendahnya produktifitas budidaya perikanan, erosi pantai dan hilangnya. berbagai aneka ragam habitat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan data awal dan analisis terhadap pengaruh lingkungan akibat aktifitas penambangan pasir laut. Penyelidikan lapangan telah dilaksanakan pada bulan Juni 2014 yaitu untuk mengumpukan data sekunder seperti batimetri dan parameter kualitas air di kawasan tersebut. Penelitian ini adalah untuk mengeahui kondisi lingkungan setelah 10 tahun aktifitas penambangan pasir laut, begitu juga karakteristik oseanografi daerah tersebut. Wawancara intensif dengan penduduk lokal telah dilakukan juga untuk mengumpulkan informasi tentang kondisi sosial ekonomi perkampungan tersebut. Temuan lapangan menunjukkan bahwa perkampungan Lontar mengalami masalah lingkungan yang kritis seperti proses erosi pantai, kekeruhan yang tinggi, dan hilangnya kehidupan laut. Lebih lanjut lagi penelitian ini telah menemukan bahwa sekumpulan ladang budidaya perairan telah beralih menjadi tambang pasir. Saran untuk memperkecil kerusakan lingkungan lebih jauh di Perkampungan Lontar, diusulkan pertimbangan aspek sosial ekonomi dan aspek fisik. Kata kunci : tambang pasir, Perkampungan Lontar, kerusakan lingkungan, erosi

    SEDIMENTATION AND DEPOSITIONAL ENVIRONMENT BASED ON SEISMIC AND DRILLING CORE ANALYSES IN CIMANUK DELTA INDRAMAYU, WEST JAVA

    Get PDF
    Core drilling had been carried out in three locations such as in Brondong Village (BH-01), Pasekan Village (BH-02), and Karangsong Village (BH-03). Those three cores are similar in lithology consist of clay. They are correlated based on fragment content, such as fine sand lenses, mollusk shells, rock and carbonate materials which discovered from different depths. Single side band of shallow seismic reflection recorded paleochannels in E sequence at the north and the west of investigated area. It’s predicted the north paleo channels were part of Lawas River or Tegar River, while the west paleo channels were part of Rambatan Lama River. Microfauna content of all those three cores indicated that from the depth of 0.00 meter down to 25,00 meters are Holocene/Recent, from 25,00 meters to the bottom are Pleistocene which were deposited in the bay to middle neritic environment. Key words: Core drilling, seismic interpretation, Cimanuk Delta Pemboran inti dilakukan di 3 (tiga) lokasi yaitu di Desa Brondong (BH-01), Desa Pasekan (BH- 02), dan Desa Karangsong (BH-03). Ke tiga inti bor itu mempunyai kesamaan litologi yaitu lempung. Korelasi dilakukan berdasarkan kandungan fragmen seperti lensa-lensa pasir halus, cangkang moluska, material batuan dan material karbonat yang terdapat pada kedalaman yang berbeda. Seismik pantul dangkal saluran tunggal merekam adanya alur purba pada runtunan E di bagian utara dan barat daerah penelitian. Diduga alur purba di bagian utara merupakan bagian dari tubuh Kali Lawas atau Kali Tegar, sedangkan di bagian barat sebagai bagian dari tubuh Kali Rambatan Lama. Kandungan mikrofaunanya menunjukkan ketiga bor inti mulai kedalaman 0,00 meter sampai 25,00 meter berumur Holosen/Resen, sedangkan dari 25,00 meter sampai batas bawah pemboran berumur Plistosen yang diendapkan pada lingkungan teluk hingga Neritik Tengah. Kata kunci: Bor inti, penafsiran seismik, Delta Cimanuk

    COASTAL CHARACTERISTICS OF PAPELA AND ADJACENT AREA, ROTE ISLAND, EAST NUSA TENGGARA

    Get PDF
    Coastal typhology as data base that describes the result of interaction among geophysical element to geological elements and anthropogenic aspects. This data can provide any information of morphological development processes which is reflected in the coastal characteristics map. Identification of the Papela coastal area, Rote Island, about 60 km length, based on indirect and direct methods. Direct method is done by field observation such as : geological condition, relief, shoreline character and dominant process. While indirect method is done by imagery satellite interpretation and related previous data. Observation results of coastal condition, that the study area is divided into four coastal types, there are rocky cliff, sandy pocket beach, muddy and sandy beach. Coastal geology of study area composed of Holocene Alluvium, Quaternary Coral Limestone and Tertiary Bobonaro Complex that has low to high rocks resistance. Coastal morphology form by alluvium plain until slope rugged hills with low-high relief. The coastline characters consist of the rocky cliff, sandy pocket, sandy and muddy beach, with dominant process that influenced by fluviatil which is characterized by mangrove. Beach face material composed of sand and float stone, from 15-30 meters width with 5O-15O slope. Although the coastal area is relatively stable but erosion active process occurs at some places. It is characterized by float stone, and notches accompanied by rock fall. While, accretion occur in muddy coastal type that is characterized by mangrove plants. Key words : Coastal type, marine process, abrasion, accretion, Papela coast, Rote Island. Tipologi pantai sebagai data dasar yang menggambarkan hasil interaksi antara unsur geofisika terhadap unsur geologi dan aspek antropogenik. Data ini dapat memberikan informasi proses pembentukan morfologi yang tercermin di dalam peta karakteristik pantai. Identifikasi pesisir sepanjang lebih kurang 60 km di sekitar pantai Papela, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur menggunakan pendekatan metode langsung dan tidak langsung. Metode langsung dilakukan dengan pengamatan lapangan seperti kondisi geologi, relief, karakteristik garis pantai dan proses dominan. Sedangkan pendekatan tidak langsung melalui kajian citra satelit dan data terdahulu yang terkait. Hasil pengamatan kondisi pantai, bahwa daerah penelitian dibagi mejadi empat tipe pantai yaitu pantai bertebing batuan, berkantong pasir, berlumpur dan pantai berpasir. Geologi pantai daerah penelitian disusun oleh Alluvium Holosen, Batugamping Koral Kuarter dan Komplek Bobonaro Tersier yang mempunyai resistensi batuan rendah sampai tinggi. Morfologi pantainya berupa pedataran pantai alluvium sampai kaki/lereng perbukitan bertebing dengan relief rendah-tinggi. Karakter garis pantainya terdiri dari bertebing batuan, berkantong pasir, pantai berpasir, dan berlumpur dengan proses dominan yang dipengaruhi oleh fluviatil dicirikan oleh tumbuhan bakau. Paras muka pantai disusun oleh material pasir dan rataan batuan, memiliki lebar berkisar 50 meter dengan kemiringan datar-landai pada tipe pantai berpasir. Meskipun terjadi kesetimbangan pantai atau merupakan pantai yang relatif stabil tetapi di beberapa tempat proses abrasi tetap aktif. Hal ini dicirikan oleh adanya rataan batuan, dan takik-takik yang disertai oleh jatuhan batuan. Sebaliknya, sedimentasi terjadi pada tipe pantai berlumpur yang dicirikan oleh tumbuhan bakau. Kata kunci: Tipologi pantai, proses laut, abrasi, akrasi, dan pantai Papel

    KONDISI HIDRODINAMIKA PERAIRAN SUNGAI LIAT BANGKA BERDASARKAN MODEL MIKE 21-HD-AD SEHUBUNGAN DENGAN MORFOLOGI AKIBAT PENAMBANGAN DI LAUT

    No full text
    Penambangan timah di perairan sekitar Sungai Liat- Bangka oleh kapal keruk dan hisap telah menyebabkan terjadinya perubahan kondisi dasar laut yang sangat besar dengan ditemukannya batimetri yang sangat tidak beraturan di sekitar wilayah foreshore, terutama pada bagian barat muarasungai. Pendekatan model numerik dengan menggunakan software Mike 21 HD-AD menjadi metode pilihan untuk mendapatkan gambaran kondisi hidrodinamika sekitar muara dan garis pantai sekitar Sungai Liat. Berdasarkan hasil simulasi didapatkan bahwa dengan perkiraan pelaksanaan kegiatan penambangan 24 jam sehari selama 15 hari model operasi maka kondisi sebaran buangan akan terbawa hingga jarak terjauh 15 km ke arah selatan, sementara sebaran bergerak ke arah utara sejauh 5 km dari lokasi sumber buangan. Waktu yang dibutuhkan untuk sebaran mencapai garis pantaiadalah 27 jam setelah penambangan dioperasikan. Sementara nilai kecepatan arus maksimum pada saat bulan penuh sebesar 1.5 m/det dengan arah arus dominan ke utara sementara pada saat bulan mati kecepatan maksimum sebesar 1.2 m/det dengan arah arus dominan ke tenggara. Kata kunci : Kondisi Hidrodinamika Sungai Liat, Model Numerik, Buangan Tambang The mining activities using dredging vessel and suction vessel that have done near river mouth of Sungai Liat and along coast line yielded a big deformation of sea floor bathymetry at foreshore especially west side a river mouth. Mike 21 HD-AD software as numerical model was selected as method to describe hydrodynamic conditions around river mouth and along coastline near the Sungai Liat River. Based on simulations where the mining operation is predicted 24 hours a day within 15 days operation model therefore a range of outsource dispersion of 15 km to south while 5 km flows to the north from the mine dumps position. A dispersion of mine dumps would be achieve a coastline in 27 hours since the mining begun. In addition, maximum current in spring time shows 1.5 m/sec to the north direction whereas in neap time the current shows 1.2 m/sec to the southeast direction. Keywords: Hydrodynamic Condition, Sungai Liat, Numerical Model, Mine dump

    LINGKUNGAN PENGENDAPAN SEDIMEN PERANGKAP GAS BIOGENIK DI DELTA SUNGAI KAPUAS KALIMANTAN BARAT

    Get PDF
    Lingkungan pengendapan delta Sungai Kapuas di Kalimantan Barat terdiri dari dataran delta atas, dataran delta bawah dan lingkungan marin. Pada wilayah pesisir, dataran delta bawah terdiri dari kanal cabang (distributary channels), rawa (swamp) pada pulau-pulau delta dan pantai. Lingkungan pengendapan marin terdiri muka delta (delta front) dan prodelta; dengan lingkungan muka delta sedimen bersifat pasiran karena mengendapkan muatan sedimen (bed load) dari sungai, sedangkan pada lingkungan prodelta, sedimen yang diendapkan bersifat suspensi pada paparan dengan pengaruh proses marin lemah. Reservoar pasir pada kanal cabang dan pantai purba delta Sungai Kapuas merupakan tempat akumulasi gas biogenik. Kata kunci: lingkungan pengendapan delta, gas biogenik, Sungai Kapuas Deltaic deposition environment of Kapuas River in Western Kalimantan is consisted of upper delta plain, lower delta plain and marine environment. Within coastal zone, lower delta plain can be classified into distributary channels, swamp, deltaic islands and coasts. Marine environment is composed of delta front and prodelta; with delta front environment characterized by sandy sediments derived from river bed load. While prodelta sediments are suspension materials deposited in shelf of weak marine influences. Sand reservoirs at paleo distributary channels and paleo coasts of Kapuas River delta is the media for biogenic gas accumulations. Key words: deltaic deposition environments, biogenic gas, Kapuas Rive

    COVER BELAKANG

    No full text

    RONA LINGKUNGAN GEOLOGI KELAUTAN DI PERAIRAN P. ROTE NUSA TENGGARA TIMUR

    Get PDF
    Sejalan dengan perubahan Pulau Rote dari Pemerintahan Kecamatan menjadi Kabupaten, pembangunan infrastruktur pesisir dan sektor lainnya di pulau ini meningkat. Pembangunan tersebut dari tahun ke tahun dapat menimbulkan perubahan kondisi lingkungan pesisir dan perairan Pulau Rote. Perubahan kondisi lingkungan dapat diidentifikasi melalui analisis data rona lingkungan. Data seismik memperlihatkan morfologi teras-teras pantai, dan intrusi diapir serpih di perairan Pulau Rote yang mengiindikasikan pulau ini mengalami proses pengangkatan sejak ribuan tahun yang lalu hingga sekarang. Sedimen permukaan dasar laut Pulau Rote terdiri atas pasir dan pasir lanauan mengandung mineral kuarsa, piroksen, mineral karbonatan dan cangkang moluska menunjukkan kondisi lingkungan sedimentasi rendah. Baku Mutu air dan sedimen permukaan dasar laut di perairan Pulau Rote dalam kondisi baik. Jenis pantainya berupa pantai berenergi tinggi, pantai erosi, pantai teluk, dan pantai kantong pasir masih dalam kondisi baik dan cukup bagus bagi wisata pantai dan laut. Hasil penelitian ini menunjukkan sebagain besar kondisi lingkungan perairan Pulau Rote masih dalam kondisi baik. Sebagian kecil ada perubahan sebagai dampak aktivitas manusia. Kata kunci: rona lingkungan, geologi kelautan, intrusi, diapir serpih, Nusa Tenggara Timur, Pulau Rote Since the Rote Island government changed from the Kecamatan to Kabupaten Government, the development of coastal infrastructures and other sectors in the island increased. The development from time to time can lead to changes in coastal and marine environmental of the Rote Island. The environmental conditions can be identified through analysis environmental base data. The seismic data shows the morphology of coastal terraces, and intrusion of shale diapir in the Rote Island waters which indicate that this island has uplifted since thousands years ago until now. Surficial sediment of the Rote Island waters consists of sand and silty sand containing quartz and pyroxene minerals, and shells of mollusks which indicate low sedimentation environment. The standard quality of surface water and surficial sediment of the Rote Island is still in good condition. Coastal characteristics of this island consist of high-energy beaches, sand pocket beaches, bays, and erosion coasts which are still in good condition and suitable for tourism. This study shows that in general the environment of the Rote Island waters environment is normal conditions. A few of environmental changes is as an impact of human activities. Keywords: environment features, intrusion, shale diapir, Nusa Tenggara Timur, Rote island

    ANALISIS PENTARIKHAN RADIOKARBON UNTUK PENENTUAN FLUKTUASI MUKA LAUT DI SEBELAH UTARA PULAU BANGKA

    Get PDF
    Salah satu metode penentuan umur absolut batuan, fosil, sedimen atau artefak adalah menggunakan pentarikhan radiokarbon (C14) dari material organik. Data umur tersebut dapat berguna untuk menunjang berbagai penelitian terkait dengan sejarah bumi dan kehidupan manusia. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk melacak fluktuasi muka laut berdasarkan data umur sedimen bawah dasar laut di sebelah utara Pulau Bangka. Hasil analisis pentarikhan radiokarbon terhadap tiga sampel sedimen menunjukkan dua umur yang berbeda. Sedimen dari bagian bawah (70-80 cm) dibawah dasar laut telah diperoleh umur 15.050± 60 SM dan 15.250 ±850 SM. Rentang waktu ini termasuk dalam segmen 2 pada saat laut naik sedang dari kedalaman -114 ke -96 m dari muka laut saat ini. Sedimen dari bagian atas (30 cm) telah diperoleh umur 6.500 ± 360 SM pada saat muka laut mendekati posisi sekarang. Studi ini memperlihatkan fluktuasi muka laut di wilayah lokal di sekitar Pulau Bangka. Katakunci: pentarikhan karbon, muka laut, Pulau Bangka One method for absolute dating of rocks, fossils, sediments or artefacts is by using radiocarbon dating (14C dating) of organic materials. This age data can be useful for supporting various researches related to the history of earth and human being. The purpose of this paper is to trace the sea level fluctuation based on subsurface sediments from northern part of Bangka Island. The radiocarbon dating from three sediment samples has resulted two different age. Sediments at the bottom part of the core (70-80 cm) below seafloor have been dated at 15.050 ± 60 BP and 15.250± 850 BP. It belongs to segment 2 when sea rose moderately from -114 to-96 m of the present-day sea level. The sediment at the upper part (30 cm) has been dated at 6.500 ± 360 BP when sea level as close as present-day position. This study shows sea level fluctuation in the local area off Bangka Island. Keywords: radiocarbon dating, sea level, Bangka Islan

    PENGARUH SEDIMENTASI TERHADAP PENYEBARAN TERUMBU KARANG DI TELUK WONDAMA, PAPUA

    Get PDF
    Endapan lumpur yang terdapat di bagian barat teluk Wondama sebarannya sangat sedikit jika dibandingkan di bagian timurnya. Endapan lumpur ini tidak berhubungan langsung dengan hasil erosi sungai baik di bagian barat maupun teluk Wondama tetapi berasal dari bagian selatan teluk yang dibawa oleh arus ke arah utara. Batugamping mendominasi bagian barat teluk Wondama, sedangkan sungai-sungai yang melewati batugamping ini, airnya tentunya akan banyak mengandung unsur karbonat sehingga menjadikan terumbu karang lebih mudah tumbuh di sepanjang pantai bagian Barat dibandingkan bagian Timur teluk Terjaganya kehidupan terumbu karang ini karena lingkungan yang bersih yang juga ditunjang oleh pola kehidupan masyarakat pesisir teluk Wondama yang sadar menjaga keseimbangan alam termasuk para nelayan yang masih menggunakan alat penangkapan ikan tradisional. Kata kunci : Terumbu karang, endapan lumpur, Teluk Wondama The distribution of mud on westernpart of Wondama Bay is very limited compared to its easternpart. The existence of mud is not directly related to the erosion of rivers along its west or east of the bay but it is originated from the south of the bay where current brought the sediment to the north. The limestone is dominated on its westernpart of Wondama bay, whereas rivers those cut the limestone will contain carbonate element and will support the coral reef grows better on its westernpart rather than on its easterpart of the bay. The good reservation of the coral reef is clearly related to clean environment and also supported by human lifes whose can keep and preserve the natural balance, for example, the fisheries are still using a traditional equipment. Keyword : Cora reef, deposition of mud, Wondama Ba

    PENERAPAN METODA TIE-LINE LEVELLING PADA DATA MAGNET LAPANGAN SEBAGAI ALTERNATIF PENGGANTI KOREKSI HARIAN

    Get PDF
    Metode Tie-line levelling adalah sebuah teknik yang digunakan untuk menghilangkan perbedaan data karena pengaruh perbedaan waktu pengukuran sehingga lintasan-lintasan survey dengan lintasan-lintasan pengikat (Tie lines) dititik yang sama akan memiliki nilai yang sama ketika berpotongan. Persyaratan utama metode ini yaitu keterdapatan data yang berpotongan yang berfungsi sebagai titik ikat, sehingga dalam setiap survey disarankan selalu melakukan pengambilan data dengan lintasan yang memotong lintasan-lintasan utama. Metode Tie-line leveling cukup efektif diterapkan sebagai alternatif pengganti koreksi variasi harian dalam pengolahan data magnit apabila pengukuran variasi harian tidak dapat dilakukan karena area survey yang terlalu jauh dari lokasi base station. Kata kunci : Anomali magnet total, metode tie-line leveling, koreksi. Tie-line leveling method is a technique used to adjust the data along each survey line so that survey lines and tie lines will have the same values where they intersect. The main method is that have intersection data that used as tie line, so that in each survey data suggested always have taking crossline that cuts survey lines. Tie-line leveling method is effective applied as the alternatif for substitute correction of daily variations in magnetic processing data when daily variation measurements cannot be done because survey area is too large from the base station. Keywords : Total field anomaly, tie-line leveling, correctio

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇