MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
DETERMINING A SUFFICIENT DEPTH OF PILE FOUNDATION ON THE PERTAMINA GRAVING DOCK DESIGN SORONG PAPUA
Engineering geological aspect and bearing capacity of pile foundation are significant for safety of upper structure, especially for substantial constructions such as a docking ship. Moreover, it provides effectiveness and cost efficiency when applies in rural areas of Indonesia. This is due to lack of docking ship appropriately built at rural areas particularly in eastern areas of Indonesia. Karim island of Papua even though is a small island yet is very strategic as Pertamina place its transitory function on that island connecting its oil supply route to Sorong. Appropriate docking ship construction is required to aim the effective and efficient port management. Choosing the most suitable structure for a docking is also the key. Graving dock structure has been chosen by Pertamina as the most appropriate type of structure for the docking ship in Karim Island. The structure of graving dock planned to be built in Karim island Papua, is projected to be able to serve the maximum 7500 DWT ship capacity, with approximately dimension is 125 x 25 x 8 meters. Therefore, to support the plan, type and design of the best foundation is the key. There are two methods could be done in determining the type and bearing capacity foundation. Field and laboratory test applied ASTM, field observation result by applying Meyerhoff theory and laboratorial analysis derived from Tarzaghi theory. Those observation and analysis has confirmed that the soil layer at the graving dock design consists of three layers, those are; cover layer, silt-clay layer and clay rock unit. Therefore, the most suitable foundation to be constructed in that area is a pile massive foundation, with depth of pile foundation approximately -20 m below the land surface, and the ultimate point load pile massive for 30x30 cm – 75x75 cm dimension approximately 79.76 – 406.25 ton, and frictional resistance value approximately 24.59 – 61.48 ton.
Keyword : Pile Pondation, bearing capacity, Graving dock
Aspek geologi teknik dan besarnya nilai kapasitas suatu pondasi tiang pancang merupakan suatu hal yang sangat penting demi keamanan pembangunan struktur bagian atas, khususnya untuk bangunan yang besar dan tinggi. Pembuatan dok kapal menjadi tuntutan yang tak bisa dielakkan demi terlengkapinya manajemen pelabuhan yang efektif dan efisiensi pada daerah yang terpencil. Bangunan graving dock kapal yang direncanakan pada Pulau Karim Papua, diproyeksikan untuk dapat melayani kapal dengan kapasitas maksimal 7500 DWT, dengan dimensi berkisar 125 x 25 x 8 meter. Jenis dan perencanaan pondasi yang tepat sangat penting guna menunjang keamanan bangunan graving dock itu sendiri. Metoda yang digunakan untuk mengetahui jenis pondasi dan daya dukung pondasi didapat dari hasil uji lapangan dan laboratorium. Pengujian lapangan dan laboratorium berdasarkan ASTM, analisis data lapangan mempergunakan metoda Mayerhoff sedangkan analisis data laboratorium mempergunakan metoda Terzaghi. Lapisan tanah pada rencana graving dock terdiri dari tiga bagian yaitu; lapisan penutup, lempung lanauan dan satuan batuan lempung. Untuk itu jenis pondasi yang dipilih adalah pondasi tiang pancang massif. Kedalaman pemancangan pondasi berkisar -20m dari muka tanah. Hasil analisis menunjukkan kuat tekan tiang pancang massif untuk diameter 30x30 cm hingga 75x75 cm berkisar 79.76 – 406.25 ton, sedangkan untuk nilai tarik berkisar dari 24.59 hingga 61.48 ton.
Kata Kunci : Tiang pancang, nilai kapasitas, Graving doc
MAGNETIC ANOMALY PATTERNS USING TREND SURFACE ANALYSIS APPLICATION (TSA) ON MARINE GEOLOGY MAPPING IN THE BALIKPAPAN WATERS
The application of Trend Surface Analysis (TSA) method an geological and geophysical research in map sheets 1813-1814, Balikpapan Waters and its surrounding, shows the significant value of residual anomaly. The magnetic disseverance of regional and total anomaly value obtained the negative anomaly between -50 nT and -350 nT and positive anomaly between +50 nT and +400 nT. The contour of total and regional anomaly shows the magnetic properties of rocks which characterizes the geological arrangements of the research areas. Residual anomaly yielded from the 2nd order value of regional anomaly might be correlated with the formation of basin structures in the central and northern parts of research area, which is interpreted as a part of Kutai Basin.
Keywords : TSA method, magnetic anomaly, geology and geophisics, Balikpapan Waters.
Penerapan metode TSA dalam penelitian geologi dan geofisika di Lembar Peta 1813-1814, Perairan Balikpapan dan sekitarnya menunjukkan nilai anomali sisa yang cukup signifikan. Hasil pemisahan nilai anomali magnet regional dan anomaly total diperoleh nilai anomali yaitu antara -50 nT dan –350 nT dan anomali positif antara +50 nT dan +400 nT. Kontur anomali total dan anomali regional memperlihatkan sifat kemagnitan batuan yang mencirikan tatanan geologi daerah penelitian. Anomali sisa dihasilkan dari nilai anomali regional orde ke 2, kemungkinan berkaitan dengan pembentukan struktur cekungan di bagian tengah dan utara daerah penelitian yang ditafsirkan sebagai bagian dari Cekungan Kutai.
Kata kunci : metode TSA, anomali magnet, geologi dan geofisika, Perairan Balikpapan
KETERDAPATAN MINERAL ZIRKON DAN HUBUNGANNYA DENGAN BATUAN METAMORFIK DI TELUK WONDAMA, PAPUA
Mineral Zirkon sebagai mineral primer umumnya ditemukan pada batuan beku, batugamping kristalin, sekis, dan genes, juga di dalam batuan sedimen sebagai sedimen plaser yang diendapkan di pantai dan di muara sungai.
Hasil analisis petrografi dari empat lokasi contoh di teluk Wondama Papua Barat, menunjukan WDM06-20 adalah amfibolit, WDM06-21 adalah mica schist, WDM06-22 adalah amfibolit, dan WDM06-23 adalah schist.
Hasil analisis kimia lainnya menunjukan bahwa batuan asal termasuk kedalam batuan yang bersifat siliceous-alkali-calsic rock, sedangkan keterdapatan zirkon di daerah penyelidikan berada di dalam lingkungan batuan metamorf.
Hasil ploting tipologi, mineral zirkon yang diambil dari percontohan di sepanjang pantai, termasuk kedalam tipe utama granite terutama berasal dari kerak benua dan berdasarkan populasi dan bentuk kristal termasuk ke dalam (Sub)autochthonous Monzogranit and Granodiorites.
Berdasarkan data analisis kimia dan bukti-bukti di lapangan bahwa batuan asal dapat ditafsirkan sebagai batuan bersifat granitik yang telah mengalami proses granitisasi menjadi batuan metamorfik.
Kata Kunci : Mineral zirkon, batuan metamorf, granit, Teluk Wondama Papua.
A zircon mineral as a primary mineral is generallly formed in the igneous rocks, crystalline limestones, schists, and gneisses also in sedimentary rocks in beaches and rivers as placer deposits.
The petrographical analyses from four differents samples shows that WDM 06-20 is amphibolite, WDM 06-21 is micca schist, WDM 06-22 is amphibolite and WDM 06- 23 is schist.
From other chemical analyses show that the source rocks belong to siliceous-alkali-calsic rocks whereas the occurrences of zircon minerals in the study area are correlates to metamorphic rocks.
On typological evolution trends, zircon minerals from samples taken alongs the shoreline are plotted as granitic rocks of continental crust, and based on their population and crystallographical forms they are in (sub) autochthonous Monzogranite and Granodiorite.
Based on data of chemical analyses and fieldworks, the source rock can be interpreted as granitic rocks which have been substituted by granitization process to be metamorphic rocks.
Keyword : Zircon mineral, metamorphic rock, granite, the Wondama Bay of Papua
POTENSI KEBENCANAAN GEOLOGI DI KAWASAN PESISIR SELATAN D.I. YOGYAKARTA
Hasil penyelidikan geologi dan geofisika kelautan di kawasan pesisir dan perairan selatan Yogyakarta, menunjukkan bahwa kawasan Pesisir Yogyakarta perlu diwaspadai terhadap bencana geologi seperti tsunami, abrasi, dan sedimentasi/pendangkalan. Adanya perbedaan parameter oseanografi, karakteristik pantai dan jenis litologi, menjadikan hal yang perlu diperhatikan dalam perencanaan tata ruang pantai.Upaya pemeliharaan kelestarian pelindung alami dan buatan sangat membantu pengembangan wilayah, khususnya di kawasan pesisir Yogyakarta.
The result of marine geological and geophysical investigation in southern coastal areaand waters of Yogyakarta indicates that this area has to be paid attention from the geological hazards, such as tsunami, abrasion and sedimentation. The differences of oceanographical parameters, coastal characteristics and lithologies, has to be mentioned in coastal development planning. The natural and artificial protection will support in coastal development especially in Yogyakarta coastal area
VERIFIKASI LITOLOGI TERHADAP NILAI KERENTANAN MAGNETIK DI PERAIRAN BANGKA BELITUNG
Peta anomali magnetik menunjukkan bahwa perairan Bangka Belitung dicirikan oleh pasangan tinggian dan rendahan panjang gelombang anomali dengan amplitudo -200 nT—500nT. Sedangkan dari peta distribusi kerentanan magnetik, tinggian magnetik Belitung dibatasi oleh nilai kerentanan magnetik antara 0,001 cgs unit dan 0,003 cgs unit. Anomali positip rendah dicirikan oleh nilai kerentanan magnetik batuan antara 0,001-0,003 cgs unit merupakan benda intrusif bawah laut yang diduga berupa pluton granitik jenis granit-biotit yang berasosiasi dengan mineral kasiterit. Pluton granitik tersebut sama seperti granit yang berafiliasi dengan endapan timah di daratan Pulau Belitung. Misalnya singkapan granit yang terdapat di sekitar pantai Gembira yang menunjukkan tipe granit biotit porfiritik dengan fenokris ortoklas.
Kata Kunci: anomali magnetik, kerentanan magnetik, granit, Bangka Belitung
Magnetic anomaly map shows that the Bangka Belitung waters are characterized by a pair of hight and low long-wave amplitude anomalies values of -200 nT—500 nT. While the distribution map of magnetic susceptibility magnetic high of Belitung is limited magnetic susceptibility values of 0.001 cgs units and 0.003 cgs units. Positive anomaly of low magnetic is characterized susceptibility values between 0.001 to 0.003 cgs units suggested as a body of submerged intrusive rock body granitic plutons of granite biotite type associated with casiterite mineral. Granitic plutons are the same as granite affiliated with tin deposits in the mainland island of Belitung. For example there are granite outcrops around the Gembira coast that shows the type of porphyritic biotite granite with phenocrysts ortoclas.
Keywords: Magnetic anomaly, magnetic susceptibility, granite, Bangka Belitun
KARAKTER ENDAPAN KUARTER DI LEPAS PANTAI TEPIAN CEKUNGAN SUMATERA TENGAH - P. KUNDUR
Studi yang dilakukan pada karakter endapan Kuarter di lepas pantai tepian cekungan Sumatera Tengah-P. Kundur mencakup analisis sedimentologi dan stratigrafi terhadap lima belas hasil pemboran yang dilakukan di sepanjang lintasan yang berarah barat - timur di baratlaut P. Kundur. Kedalaman pemboran berkisar antara 8,00 hingga 27,00 m. Studi ini, menunjukkan terdapatnya enam lingkungan pengendapan. Keenam lingkungan pengendapan itu ialah: endapan-endapan material rombakan (Mr), alur sungai (F), limpah banjir (Fp), cekungan banjir (Fb), pantai (Br), dan dekat pantai sampai lepas pantai.
Berdasarkan korelasi perubahan lingkungan pengendapan secara lateral dan vertikal, diketahui pula bahwa runtunan stratigrafi tersebut dicirikan oleh berubahnya lingkungan pengendapan yang dikendalikan oleh perubahan iklim dan muka laut, dan mungkin juga oleh tektonik. Selama proses pengendapan, aktifitas perubahan iklim terekam dalam 4 fasa kejadian ialah: (1) minimum, (2)minimum menuju maksimum, (3)maksimum menuju minimum, dan (4)minimum.
Kata kunci: Endapan Kuarter, iklim, muka-laut, tektonik
The study of the Quaternary sediment characters on offshore of the Central Sumatera basin margin-Kundur Island was based on the analyses of sedimentology of fiveteen boreholes information obtained along the West to East at the northwest of Kundur Island. The penetration of the bore head varied from 8.00 to 27.00 m. This study revealed six deposition environments. These are: mass flow (Mr), river channel (F), floodplain (Fp), floodbasin (Fb), beach (Br), and nearshore to offshore (M) deposits .
Based on the correlation of the lateral and vertical variation of the depositional environments, the stratigraphy successions/characterized by the variation of the depositional environments which is controlled by climatic and sea level changes, and also probably by tectonic. During the deposition processes, the activity of climatic changes were recorded in four stages episodes: (1)minimum, (2)minimum to optimum, (3)optimum to minimum, and (4)minimum.
Keywords: Quaternary sediments, climate, sea-level, tectoni
POTENSI MIGAS BERDASARKAN INTEGRASI DATA SUMUR DAN PENAMPANG SEISMIK DI WILAYAH OFFSHORE CEKUNGAN TARAKAN KALIMATAN TIMUR
Kajian geologi migas di Cekungan Tarakan relatif sangat kurang dibandingkan dengan Cekungan Kutai, diantaranya mengenai analisis stratigrafi sekuen yang lebih detil dan komprehensif, tingkat variasi lapisan sedimen di daerah transisi dengan laut dangkal sampai sedang dan keterkaitan dengan penentuan potensi migas. Padahal eksplorasi minyak dan gas bumi di Cekungan Tarakan, Kalimantan Timur telah mengalami proses waktu yang sangat panjang bahkan termasuk salah satu eksplorasi tertua di Indonesia. Namun eksplorasi di wilayah lepas pantai termasuk di timur Pulau Tarakan masih belum ditemukan lapangan migas yang bernilai ekonomis. Ini sangat berbeda dengan hasil eksplorasi Cekungan Kutai di lepas pantai dan laut-dalam yang telah mengalami kemajuan signifikan dalam 10 tahun terakhir setelah ditemukan beberapa lapangan migas laut-dalam seperti West Seno dan Gendalo. Berdasarkan pada pemerolehan data yang terdiri dari penampang seismik 2D, log sumur, rangkuman data biostratigrafi dan data check-shot, kajian dilakukan secara bertahap mulai dari analisis sekuen dan korelasi log sumur, interpretasi dan analisis seismik stratigrafi, pemetaan bawah permukaan, dan penentuan lokasi yang berpotensi migas. Tahapan metodologi kajian ini menggunakan beberapa perangkat lunak yang diproses secara integratif.
Hasil akhir kajian dari integrasi peta struktur kedalaman dan peta isopach serta dukungan data petrofisik dari aspek kualitas batuan reservoir diperoleh dua lokasi yang berpotensi migas: Potensi Migas-1 di bagian tenggara dekat Pulau Tarakan merupakan jebakan struktur antiklin yang dikontrol sesar-sesar inversi dan Potensi Migas-2 di lepas pantai bagian timur wilayah kajian berupa jebakan struktur hidrokarbon sebagai sebuah antiklin yang memanjang relatif arah SEE – NWW.
Kata kunci: Tarakan, sekuen, seismik, potensi migas
Study of Petroleum geology in the Tarakan Basin is relatively less than in the Kutai Basin such as detailed and comprehensively sequence stratigraphy, variation of sediment layering from transition to outer-neritic zone and its related to determination of oil and gas potential locations. Oil and gas exploration in Tarakan Basin, East Kalimantan, has been carried out for the last a hundred years ago and its include as the oldest basin in Indonesia. Unfortunately, oil and gas field in eastern part of offshore Tarakan Island has not yet been discovered significantly. In contrast, offshore and deep-water oil and gas fields of Kutai Basin has been discovered significantly i.e. West Seno and Gendalo Fields. Based on data of 2D seismic in SEGY-files, well log in LAS-file, biostratigraphy and check-shot data, then steps of research followed by a sequence analysis, wells correlation, interpretation and analysis of seismic stratigraphy, subsurface mapping and determination of oil and gas potential locations.
The results of this study are oil and gas potency 1 and potency 2. Potency 1 is located in south-eastern part of Tarakan Island where anticlinal traps are controlled by inversion faults. In contrast, potency 2 is an anticlinal trap located in offshore at the eastern part of the study area.
Key words: Tarakan, sequence, seismic, oil and gas potentia
PERBAIKAN CITRA PENAMPANG SEISMIK MENGGUNAKAN METODE COMMON REFLECTION SURFACE : APLIKASI TERHADAP DATA SEISMIK PERAIRAN WAIGEO
Kenampakan struktur geologi dan kontinuitas reflektor pada penampang seismik seringkali tidak teridentifikasi ketika data seismik di stack menggunakan metode stacking konvensional, terutama untuk data dengan jumlah fold coverage yang kecil. Data seismik Puslitbang Geologi Kelautan yang diperoleh pada Mei 2015, di Perairan Timur Pulau Waigeo, memiliki fold coverage yang relatif rendah sekitar 20. Untuk meningkatkan kualitas penampang seismik pada data ini perlu diterapkan metode Common Reflection Surface(CRS) sehingga interpretasi struktur geologi lebih mudah dan kontinuitas reflektor lebih baik. Metode ini diaplikasikan terhadap data seismik lintasan 6 dan 37. Penerapan metode CRS memberikan perbaikan pada citra penampang seismik terutama pada bagian basement akustik dan kontinuitas reflektor. Metode ini memberikan citra penampang seismik yang relatif lebih baik dibandingkan metode stacking konvensional karena metode CRS melibatkan trace seismik dari CDP di sekitarnya sesuai dengan besar parameter aperturnya. Kata kunci CRS Stack, CRS Attribut dan Paraxial Geological structure and reflector continuity on seismic section are often not clearly identified when the seismic data stacked use conventional stacking, especially seismic data with small fold coverage. Seismics data of Puslitbang Geologi Kelautan, that have been acquired on Mei 2015,in eastern part of Waigeo Island, have small number of fold coverage about 20. To enhance quality of seismic section on this data, it is necessary to apply Common Reflection Surface (CRS) method, in order to make geological structure interpretation easier dan better reflector continuity. This method applied to seismic data line 6 and 37. This application gives enhancement to seismic section especially at acoustic basement and reflector continuity. CRS method gives better seismic section than conventional stacking due to stacking process that involve seismic trace around the CDP along its aperture size. Keywords: CRS Stack, CRS Attribut and Paraxia
KARAKTERISTIK PASIR DI PANTAI DAN LEPAS PANTAI BINUANGEUN, LEBAK-BANTEN
Pasir merupakan sesuatu penomena yang menarik karena padanya tersimpan misteri bagaimana partikel itu terendapkan sesuai dengan lingkungannya, apakah merupakan pasir pada lingkungan marin, pantai atau sungai. Untuk mengetahui lingkungan pengendapan tersebut maka dilakukan identifikasi karakteristik pasirnya. Metoda penelitan meliputi pengambilan contoh, analisis besar butir, klasifikasi nomenklatur sedimen dan parameter statistik. Klasifikasi nomenklatur sedimen pada endapan sedimen permukaan dasar laut, gisik pasir, tanggul gisik dan endapan sungai aktif didapat pasir sebanyak, masing masing 19, 35, 15 dan 3 percontoh. Ke empat jenis endapan mempunyai ukuran butir rata-rata (mean) relatif seragam, yaitu pasir halus (2 Φ - 3 Φ). Begitu juga ukuran pasirnya berupa pasir halus dengan kurva distribusi persen berat fluktuatif. Perbedaan terlihat pada ukuran pasir sedimen permukaan dasar laut dan sedimen sungai aktif, selain pasir halus hadir pula pasir menengah (1 Φ - 2 Φ). Klasifikasi lingkungan pasir memperlihatkan bahwa ke empat endapan mempunyai kesesuaian lingkungan pengendapan disertai adanya muatan partikel yang mengkasar dan menghalus dengan bentuk kurtosis leptokurtik dan platikurtik monomodal. Sumber batuan asal sedimen diduga berasal dari hasil abrasi batugamping terumbu yang tersingkap di pantai bagian tengah daerah penelitian dan pengerjaan ulang batuan gunungapi dan batuan sedimen asal volkanik yang umum tersingkap di utara daerah penelitian.
Kata Kunci : Sedimen permukaan dasar laut, gisik pasir, tanggul gisik, sedimen sungai aktif, lingkungan pengendapan pasir, sumber batuan.
Sand sediment is something interesting phenomenon because the sand is stored in the mystery of how the sand particles sedimented according to the deposition environment, what is the sand that was deposited in marine, beach or river environment. The identification of sand sediment characteristic is used for the determination of depositional environment. Study methods include sediment sampling, grain size analysis of sediment, sediment nomenclature classification and computing the statistical parameters. Sediment nomenclature classification results on the seafloor surface sediment, sand beach sediment, berm sediment and active stream sediment derived as much sand sediment types, respectively 19, 35, 15 and 3 samples. The four types of sediment deposition that has mean is relatively uniform, which falls on the fine sand (Φ 2 - Φ 3). While the size of sand fall in the fine sand with fluctuating weight percent distribution curve. The difference was in the size of the sand on the sea floor sediments and active stream sediments, in addition to fine sand also present medium sand (Φ1 - Φ2). Sand environment classification showed that all four types of the sediments have suitability depositional environment be accompanied excess coarse and fine particles with curved kurtosis leptokurtic and platykurtic monomodal. Source rocks of the sediments probably derived from the abrasion of coralreef limestone exposed in the central coast of study area and rework volcanic rocks and sedimentary rocks of volcanic origin are commonly exposed in the northern of study area.
Key words: Seafloor surface sediment, sand beach, berm, active stream sediment, sand depositional environment, source rocks