MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    COVER DEPAN

    No full text

    INDIKASI GAS BIOGENIK DI PERAIRAN DELTA MAHAKAM, PROVINSI KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    Gas biogenik dikenal sebagai gas rawa atau gas dangkal yang terbentuk dari bakteri metanogenik pada lingkungan anaerobik, khususnya pada daerah-daerah yang tingkat sedimentasinya sangat tinggi.Tujuan penelitian untuk mengetahui secara lebih rinci akan keberadaan gas tersebut di Delta Mahakam. Sungai tersebut merupakan sungai terbesar dan terpanjang di wilayah Kalimantan Timur dan mempunyai tingkat sedimentasi sangat tinggi. Daerah tersebut sangat cocok untuk penelitian indikasi gas biogenik. Hasil penelitian ditandai dengan terdapatnya kantong gas pada rekaman strata box, yang berada pada kedalaman lebih dari 10 (sepuluh) meter. Berdasarkan analisis laboratorium terhadap sampel gas yang diambil di bekas lubang bor adalah gas metan.Kata kunci: rekaman strata box, gas metan, Delta MahakamBiogenic gas known as swamp gas or shallow gas formed by methanogenic bacteria in anaerobic environments, especially in areas that the sedimentation rate is very high. The objective of the research is to find out more detail the occurrence of gas in the Mahakam Delta. The river is the largest and longest river in the East Kalimantan, and it has a very high sedimentation rate.  This area is very good to study the indication of the biogenic gas. The result is signed by gas pocket in the strata box records, whereas at a depth of more than 10 (ten) meters. Based on the laboratory analysis of the samples taken from the former gas borehole is a methane gas.Keywords: strata box records, methane gas, Mahakam Delta

    Geological Structures Appearances and Its Relation to Mechanism of Arc-Continent Collision Northen Alor-Wetar Islands

    Get PDF
    Study area is located in South Banda Basin near the triple junction between Eurasian, Pacific and Indo-Australian Plates. This area is part of back-arc thrusting zone that evolved to compensate convergence between Australia Continent and Banda Arc. Based on seismic section in this area, geological structure analysis is characterized into three distinctive zones. There are Thrust Zone (TZ), Proto Thrust Zone (PTZ) and Normal Fault Zone (NFZ). TZ is defined by distribution of numerous of thrust fault, PTZ contains a blind zone or folds instead of thrust fault, and NFZ defined by distribution of numerous normal fault in the upper portion of seismic section. PTZ identified at several seismic section along the bending zone of oceanic crust. The appearances of bending zone will be easily understood by comprehend the driving mechanism of Australia Continent to the Northeast. The bending zone also related to geometry and tectonic stress of collision. Based on this mechanism it was clearly understood why the western end of study area was not identified the bending zone but it probably the initial process of bending. Contradictive to the western end, the eastern part was clearly shown the bending zone that assumed to have the biggest tectonic stress at this moment. Map of structural analysis also explain that PTZ getting narrow towards the west as the indicator of less of tectonic stress.Keywords: Arc-Continent Collision, Proto Thrust Zone, Wetar, Back arc Thrusting, Banda Sea. Lokasi penelitian berada pada Cekungan Banda Selatan sekitar area triple junction antara Lempeng Eurasia, Pasifik dan Indo-Australia.Daerah ini merupakan bagian dari zona back-arc thrusting yang berkembang sebagai kompensasi dari konvergensi antara kontinen Austalia dan Busur Banda.Berdasarkan penampang seismik di daerah ini analisis struktur geologi dikelompokan kedalam tiga zona. Tiga zona tersebut meliputi Thrust Zone (TZ), Proto Thrust Zone (PTZ) and Normal Fault Zone (NFZ). TZ didefinisikan oleh distribusi dari sejumlah sesar naik, PTZ mengandung sejumlah blind thrust atau lipatan pengganti sesar naik dan NFZ didefinisikan oleh distribusi dari sejumlah sesar normal pada bagian atas dari penampang seismik. PTZ teridentifikasi pada beberapa penampang seismic sepanjang zona bending dari lempeng oseanik. Kenampakan dari zona bending akan mudah dipahami dengan mengetahui mekanisme pergerakan dari kontinen Australia ke arah timurlaut. Zona ini umumnya berhubungan dengan bentuk geometri dan besaran dari tectonic stress dari tumbukan. Berdasarkan mekanisme ini dapat dipahami dengan jelas mengapa bagian ujung barat dari daerah penelitian tidak teridentifikasi zona bending. Kontradiktif terhadap ujung barat, ujung timur memperlihatkan zona bending yang sangat jelas yang diperkirakan mempunyai tectonic stress yang paling besar pada saat ini. Peta dari analisis struktur juga menjelaskan bahwa zona PTZ semakin ke arah barat semakin menyempit sebagai indicator dari berkurangnya tectonic stress.Kata Kunci: Tumbukan Busur-Kontinen, Proto Thrust Zone, Wetar, Back arc Thrusting, Banda Sea

    Front Cover

    No full text

    Back Cover

    No full text

    Seismic Facies of Pleistocene–Holocene Channel-fill Deposits in Bawean Island and Adjacent Waters, Southeast Java Sea

    Get PDF
    The late Pleistocene-Holocene stratigraphic architecture of the Bawean Island and surrounding waters, southeast Java Sea has been analyzed by using sparker seismic profiles. Geological interpretation of these seismic profiles revealed the widespread distribution of paleochannels with different shape and size in the present-day Java Sea. Two channel types can be distinguished based on its morphology: U-shaped channels in the western part and V-shaped channels in the eastern part. The stratigraphic successions were grouped into two major seismic units separated by different seismic boundaries. Characters of marine and fluvial deposits were determined based on seismic boundaries and internal reflectors. Three seismic facies can be identified within late Pleistocene – Holocene incised channel fills associated with SB2. The internal structure of incised-channels consist of chaotic reflector at the bottom, covered by parallel–sub parallel and almost reflection-free indicating the homogenous sediment deposited during the succession.Keywords : Pleistocene-Holocene channel fills, sparker seismic profiles, seismic boundaries, incised–channel, Java Sea. Rekaman seismik sparker digunakan untuk menganalisis endapan stratigrafi berumur Plistosen Akhir–Holosen di Perairan Pulau Bawean dan sekitarnya. Berdasarkan interpretasi geologi dari rekaman seismik tersebut teridentifikasi sebaran alur purba yang berbeda bentuk dan ukuran dengan kondisi Laut Jawa sekarang. Berdasarkan morfologinya, dua tipe alur purba yang terdentifikasi adalah alur purba berbentuk U di bagian barat dan berbentuk V yang terbentuk di bagian timur daerah penelitian. Suksesi stratigrafi kemudian dibedakan menjadi dua grup unit seismik utama yang dibatasi oleh perbedaan batas seismik, yaitu endapan asal darat dan laut yang ditentukan berdasarkan batas sikuen dan reflektor internal. Pada unit Pleistosen–Holosen teridentifikasi tiga tipe fasies seismik yang berkorelasi pada batas sikuen SB2. Struktur internal alur purba yang tertoreh terdiri dari reflektor kaotik yang di bagian bawah, kemudian ditutupi oleh reflektor paralel - sub paralel sampai hampir bebas refleksi yang mengindikasikan terendapkannya sedimen homogen selama suksesi tersebut.Kata kunci : Pengisi alur Plistosen - Holosen, penampang seismik sparker, batas seismik, alur tertoreh, Laut Jawa

    INTERPRETASI STRUKTUR BAWAH PERMUKAAN BERDASARKAN ATRIBUT ANOMALI MAGNETIK PERAIRAN WETAR, NUSA TENGGARA TIMUR

    Get PDF
    Struktur geologi yang berkembang di Perairan Wetar berupa Proto-Thrust-Zone, Frontal-Thrust dan Sesar Mendatar. Kelurusan anomali magnetik dikontrol oleh kontras suseptibilitas magnetik dari fenomena geologi. Interpretasi fenomena geologi berdasarkan anomali magnetik memperlihatkan Sesar Naik Wetar yang cukup jelas di bagian selatan, dan berpindah tidak menerus ke bagian timur daerah penelitian akibat Sesar Mendatar. Fenomena geologi lainnya berdasarkan metode horisontal derivatif orde 1 dan analisis sinyal terlihat jelas batas keberadaan tubuh batuan vulkanik. yang teridentifikasi dalam penampang seismik lintasan 5 dan 9. Metode ini cukup baik dalam memetakan struktur bawah permukaan. Di perairan Wetar sebagian anomali magnet tidak bisa diinterpretasikan jika dikorelasikan dengan penampang seismik. Hal ini terkait dengan hipotesis keberadaan paleomagnetik dan kerak Banda bagian selatan yang merupakan lempeng samudera yang terperangkap. Kata Kunci : magnet, horisontal derivatif, anomali, perairan Wetar Geological structures that develop in the Wetar waters are Proto Thrus Zone, Frontal Thrust Zone and Strike Slip Fault. Magnetic lineament controlled by sussceptibility contrast of geological phenomena. Interpretation of geological phenomena based on magnetic anomaly clearly show the strike-slip fault trending in the south, and move discontinuously eastward of the study area due to Strike-Slip Fault. Other geological phenomena clearly identified by horizontal derivative and signal analysis method such as the boundary of volcanic body as seen on seismic section line 5 and 9. These method quite usefull to map subsurface structure. Some part of the magnetic anomaly in the Wetar Waters cannot be interpreted since they are correlated with seismic section. It may be due to the hypothesis of the present of paleomagnetic southern Banda basin assumed as the trapped oceanic crust. Keywords: magnetic, derivative horizontal, anomaly, Wetar water

    STUDI POTENSI MIGAS DENGAN METODE GAYABERAT DI LEPAS PANTAI UTARA JAKARTA

    Get PDF
    Anomali Bouguer dapat dibagi kedalam dua kelompok yaitu: Anomali gayaberat rendah terbentuk pada kisaran nilai 15 mGal hingga -40 mGal sebagai rendahan sinklin. Anomali gayaberat tinggi terbentuk pada kisaran nilai 40 mGal hingga 60 mGal sebagai tinggian antiklin. Formasi batuan dari atas hingga bawah sebagai berikut: Formasi Cisubuh rapat massa batuan 2.5 gr/cm³ ketebalan pada penampang ±1400 meter. Formasi Parigi rapat massa batuan 2.7 gr/cm³ ketebalan ± 400 meter. Formasi Cibulakan rapat massa batuan 2.6 gr/cm³ ketebalan ± 1600 meter. Formasi Jatibarang rapat massa 2.8 gr/cm³ ketebalan ± 1000 meter. Batuan reservoir didominasi lensa-lensa batupasir Formasi Cibulakan Atas, Cibulakan Bawah serta batugamping Formasi Parigi dan batupasir Formasi Talangakar. Batuan induk migas adalah serpih lakustrin halus Anggota Cibulakan Bawah (Formasi Talang Akar). Tinggian batuan reservoir pada anomali sisa antara 0 mGal hingga 16 mGal dan kedalaman pada penampang ± 1500 meter dengan rapat massa batuan 2.7 gr/cm³ Sesar normal terbentuk arah Utara-Selatan dan sesar naik arah Timur-Barat dikontrol oleh pematahan bongkah pada batuan alas metamorf dengan rapat massa 3.0 gr/cm³. Kata kunci: gayaberat, antiklin, anomali sisa, lepas pantai. Bouguer anomaly can be grouped into two parts: Low Gravity anomaly formed at 15 mGal to 40 mGal as syncline lower. High gravity anomaly formed at 40 mGal to 60 mGal as anticline high. Rock formation from the top to the bottom as follows: Cisubuh Formation rock of density with 2.5 gr / cm³ thickness at section of ± 1400 metre. Parigi Formation rock density of 2.7 gr / cm³ thicknees ± 400 metre. Cibulakan Formation density with 2.6 gr / cm³ thickness ± 1600 metre. Jatibarang Formation with density 2.8 gr / cm³ of thickness ± 1000 metre. Reservoir rock is dominated by lens of sandstone upper Cibulakan Formation, Lower Cibulakan and also Parigi Formation limestone and Talangakar Formation sandstone. Sourced rock of oil and gas from shales lacustrine of Cibulakan Lower or Talang Akar Formation. High Rocks reservoir at recidual anomaly range from 0 mGal to 16 mGal at section deepness ± 1500 metre with density of 2.7 gr / cm³, formed by normal fault of Northern-Southern direction and reverse fault Eastern-Western direction controlled by block faulting metamorphics bedrock with density of 3.0 gr / cm³. Keywords: gravity, anticline, recidual anomaly, offshore

    PROSES SEDIMENTASI DAN EROSI PENGARUHNYA TERHADAP PELABUHAN, SEPANJANG PANTAI BAGIAN BARAT DAN BAGIAN TIMUR, SELAT BALI

    Get PDF
    Pemetaan karakteristik pantai merupakan kegiatan awal untuk mengetahui daerah potensi erosi dan sedimentasi di pesisir barat dan timur Selat Bali. Faktor-faktor yang berperan dalam menganalisis proses sedimentasi dan erosi pantai, yaitu faktor litologi, gelombang dan arus. Pelabuhan di pesisir barat Selat Bali yaitu Pelabuhan Barang, Pelabuhan Pertamina (Meneng), serta Pelabuhan Fery (Ketapang), merupakan daerah sedimentasi, sedangkan pelabuhan di pesisir timur adalah Pelabuhan Penyeberangan Gilimanuk. (Bali). Kawasan pesisir Selat Bali di sisi barat batuan penyusunnya berupa batuan gunungapi muda, (lava, breksi dan tuf). Kawasan pesisir Selat Bali di sisi timur, Pulau Bali terdiri dari batugamping, konglomerat, batupasir, lava, breksi, tufa dan aluvium Pantai sebelah timur Selat Bali sebagian besar merupakan pantai berpasir (kemiringan 0o - 15o). Pantai di daerah ini merupakan daerah sedimentasi dengan lebar pantai antara 10 sampai 20 meter. Pantai barat Selat Bali dicirikan oleh pantai yang memiliki kemiringan yang landai (kemiringan 0° - 10°) dengan lebar pantai antara 3 meter sampai 15 meter merupakan daerah sedimentasi. Kata Kunci: Selat Bali, karakteristik pantai, sedimentasi, erosi Coastal characteristics mapping is an early step to know erosion and sedimentation potencies in west and east Bali Strait. Analysis factors in erosion and sedimentation potencies are lithology, current, and wave. The harbour western Bali Strait consist of Commodity Harbour, Pertamina Harbour (Meneng), and Ferry Harbour (Ketapang), was is sedimentation area, while eastern Bali Strait is Ferry Harbor (Gilimanuk). The lithology in eastern Bali Strait consists of young volcanic (lava, breccia and tuff). The lithologi in western Bali strait consists of limestone, conglomerate, sandstone, lava, breccia and tuff. In eastern Bali Strait coastal area is dominated by sandy beach (slope 5o - 20o). Coastal in this area has 10 to 20 meters wide. It is a sedimentation process area. Eastern Bali Strait area is characterized by a lower beach (slope 0o - 10o). Coastal in this area has 3 to 15 meters wide, It is a sedimentation process area. Keywords: Bali Strait, coastal characteristic, sedimentation, abratio

    PENAFSIRAN GEOLOGI PERAIRAN PULAU MENJANGAN-BALI DARI DATA SEISMIK

    Get PDF
    Hasil penafsiran rekaman seismik pantul dangkal menunjukkan adanya sesar-sesar aktif di bagian barat dan bagian timur daerah selidikan. Diduga morfologi tinggian bagian timur merupakan bagian daratan Pulau Bali dan bagian barat adalah bagian daratan Pulau Jawa. Adanya onggokan di permukaan dasar laut di sekitar Tanjung Pasir Putih ditafsirkan sebagai carbonat build-up. Bentuk ini banyak ditemukan di sekitar Pulau Menjangan. yang merupakan kawasan wisata bawah laut. Kondisi geologi dari penafsiran rekaman seismik ini diharapkan dapat merupakan masukan untuk pengembangan pembangunan di kawasan wisata Pulau Menjangan. Results of shallow seismic reflection interpretation records show the present of active faults in the western and eastern part of the study area. The morphological hight in the western part is suggested as part of the Bali island and the western part is of Java island. The height at the sea floor surface around Tanjung Pasir putih is interpreted as a carbonat build-up. This form was found around the Menjangan island of marine tourism area. Geological condition interpreted from seismic records is hoped can contribute to the development of the Menjangan island tourism area

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇