MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    INDIKASI GAS BIOGENIK DI DELTA MUSI, KABUPATEN BANYUASIN, SUMATERA SELATAN

    Get PDF
    Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui indikasi keterdapatan gas biogenik di Delta Musi, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Analisis contoh sedimen menunjukkan jumlah bakteri metanogenik dari jenis Methanobacterium bryantii, Methanoplanus endosimbiosus dan Methanobacterium ivanovii berkisar antara 3,2 x 104 - 1,0 x 105 (CFU/gram). Bakteri ini melimpah pada kedalaman pemboran 15-17 meter dalam sedimen yang terdiri dari lanau hingga lempung pasiran, pasir halus-sedang, fragmen kuarsa, mineral hitam, gambut dan material organik. Hasil analisis laboratorium dari dua titik bor memperlihatkan kandungan karbon organik berkisar 2,2-13,4 % berupa submaceral Detrovitrinite (Humodetrinite) yang menunjukkan bahwa sedimen di daerah penelitian berpotensi terbentuk gas biogenik pada kedalaman sedimen 6-17,5 meter. Kata Kunci : bakteri metanogenik, energi baru terbarukan, Delta Musi, Banyuasin Sumatera Selatan The aim of the study is to identify the indication of biogenic gas occurence in the Musi Delta, District of Banyuasin, South Sumatera. Sediment samples analysis indicate methanogenic bacteria Methanobacterium bryantii, Methanoplanus endosimbiosus and Methanobacterium ivanovii as much as 3.2 x 104 to 1.0 x 105 (CFU / g). These bacteria are abundant at the core depth of 15-17 meters which sediments consist of silt to sandy clay sediment, fine-medium sand, quartz fragments, dark minerals, peat and organic material. From the laboratory analysis of two cores indicates the organic carbon content of 2.2-13.4 % as Detrovitrinite (Humodetrinite) which indicate that the sediments in study area are potential to form biogenic gas at the depth between 6 to 17.5 meters. Keywords : metanogenic bacteria, renewable, Musi Delta, Banyuasin South Sumatera

    KAJIAN DINAMIKA PANTAI SELATAN BANYUWANGI BERDASARKAN HASIL PENAFSIRAN CITRA SATELIT LANDSAT TM

    Get PDF
    Hasil kajian citra satelit Landsat Thematic Mapper (TM) menunjukkan daerah pantai selatan Banyuwangi mempunyai empat karakteristik dinamika pantai, yaitu daerah akresi, terjadi di muara Sungai Gonggo, Sungai Baru, dan Sungai Pergaul yang terjadi karena tingginya aliran (run off) dari sungai. Daerah abrasi terjadi di Teluk Grajagan yang terjadi karena adanya arus menerus dari laut sehingga sedimen dari Segoro Anakan tidak bisa diendapkan di daerah teluk dan hanya di muka sungai. Daerah abrasi dan akresi terdapat di teluk Rajegwesi dan Pancamaya yang mempunyai daerah akresi di muara sungai dan daerah abrasi di bagian sisi teluknya. Daerah stabil, terdapat di daerah-daerah yang menjorok ke laut dan sepanjang pantai Alas Purwo. Daerah akresi maupun abrasi umumnya terjadi di daerah topografi rendah, landai dan berupa aluvium, sedangkan daerah stabil terdapat pada daerah dengan topografi bertebing dan batuan penyusun berupa batuan keras. Kata kunci : sedimen, dinamika pantai, Landsat TM, pantai selatan Banyuwangi The result of the assesment of Landsat TM imageries show that the coastal area of south Banyuwangi have four coastal dynamic characteristics those are: accretion, abrasion, accretion and abrasion, and stable areas. Accretion area, is located in the river estuary of Gonggo, Baru, and Pergaul rivers that occur by run off from river. Abrasion area, is located in Grajagan Bay caused by continuous current from the sea so that the sediment from Segoro Anakan cannot precipitate in the bay area but only in the river mouth. Abrasion and accretion areas are located in Rajegwesi and Pancamaya Bays where the accretion area is in a river estuary but the abrasion area is in the side shares of the bay. Stable area is located in the peninsula area and along the Alas Purwo coast. Generally the accretion or abrasion areas were occurred in low relief topography and occupied by alluvium, whereas the stable area is characterized by the high relief topography consisting of hard rock. Key words: sediment, coastal dynamic, Landsat TM, south coast of Banyuwangi

    FORAMINIFERA SEDIMEN DASAR LAUT DELTA MAHAKAM, KALIMANTAN TIMUR

    Get PDF
    Dalam kerangka penelitian dan penyelidikan geologi dan geofisika kelautan yang dilaksanakan oleh tim Pusat Pengembangan Geologi Kelautan, sebanyak 44 percontoh sedimen telah dianalisis foraminiferanya. Pada umumnya, foraminifera plangton yang lebih banyak dijumpai adalah Globigerinoides spp., Neogloboquadrina dutertrei, dan Pulleniatina spp. Neogloboquadrina dutertrei yang dikenal sebagai spesies penciri untuk kondisi salinitas rendah. Spesies-spesies tersebut banyak dijumpai pada kedalaman lebih dari 40 m, dan mencapai maksimum pada kedalaman 1400 m (lokasi 11, lepas pantai Tanjung Bayur). Di tempat seperti ini jumlah individu dan keanekaragaman foraminifera plangton paling tinggi dan termasuk ke dalam zona lereng sesar atas, sedangkan yang terendah ada di lokasi 7 (dekat pantai muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 11,3 m. Foraminifera bentosnya yang banyak dijumpai adalah Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., dan Pseudorotalia schroeteriana. Keberadaan Amphistegina lessonii sangat tergantung terhadap intensitas cahaya, air yang jernih, dan biasanya berasosiasi dengan terumbu. Turbulensi di daerah telitian diperkirakan relatif rendah karena banyak dijumpainya spesies tersebut. Jumlah individu tertinggi foraminifera bentos terdapat pada lokasi 35 (Muara Lerong), pada kedalaman 45 m, sedangkan yang terendah ada di lokasi 6 (dekat pantai, muara S.Muara Bayur), pada kedalaman 17,3 m. Keanekaragaman tertinggi dijumpai dilokasi8, pada kedalaman 63,5 m, sedangkan yang terendah di lokasi 6. Fluktuasi jumlah individu foraminifera plangton dan bentos di bagian utara dan tengah tidak terlepas dari kemungkinan adanya arus bawah laut yang bisa mempengaruhi sedimen dan morfologi dasar lautnya. Di bagian selatan jumlah ini cenderung meningkat pada tempat yang menjauh dari pantai. Within the framework of marine geological and geophysical surveyscarried out by the Marine Geological Institute, 44 samples had been analysed, especially for foraminifera. In general, planktonic foraminifera in the study area such as Globigerinoides spp, Neogloboquadrina dutertrei, and Pulleniatina spp are commonly found. Neogloboquadrina dutertrei is known as an indicator species for low salinity. They are found commonly at depths of more than 40 m, the most abundant of it is found at the depth around 1400 m (site 11, offshore of Bayur Peninsula). The maximum total number of individuals and the diversity of planktonic foraminifera occurr at this site as well as at the upper continental, whereas the minimum one is at site 7 (near the mouth of Muara Bayur River), at 11,3 m depth. The common benthonic foraminifera are Amphistegina lessonii, Heterolepa spp., Operculina spp., and Pseudorotalia schroeteriana. Amphistegina lessonii is a species, which is, dependent on light and clear water, and is usually associated with reef. The high number of individuals of this species suggests that the turbulent factor is considered to be relatively low. The maximum total number of individuals of benthonic foraminifera occurs at site 35 (Lerong River Mouth), at 45 m depth, whereas the minimum at site 6 (close to the mouth of Muara Bayur River), at 17,3 m depth. The maximum diversity occursatsite 8, at the depth of 63,5 m, whereas the minimum one is at site 6. The fluctuation of the total number of individuals of planktonic and benthonic foraminifera in the northern and southern parts is probably due to the morphology of the sea floor and the sediment influenced by bottom current. In the southern part the number of individuals of foraminifera tends to increase with the increasing of the distance from the shore

    KARAKTERISTIK PANTAI DI KAWASAN PESISIR TIMUR PULAU NATUNA BESAR, KABUPATEN NATUNA, PROPINSI RIAU

    Get PDF
    Kawasan pesisir timur pulau Natuna Basar memiliki garis pantai yang bervariasi, dari pantai berpasir, pantai berbatu hingga pantai berbakau. Tipe pantai barbakau hanya menempati pada kawasan muara-muara sungai yang sangat dangkal dan berlumpur. Sedangkan pantai berpasir adalah tipe pantai yang mendominasi kawasan pesisir timur pulau Natuna Besar, memanjang dari utara hingga selatan. Pantai berbatu adalah pesisir pantai dengan bongkah granit yang tersebar di kaki Gunung Ranai. Sebaran bongkah granit secara tidak beraturan dan tumpang tindih di kawasan pesisir menyebabkan garis pantai ini menjadi garis pantai yang bernilai wisata tinggi. Bongkah granit ini adalah bagian dari batholit granit Ranai yang merupakan batuan dasar dari kawasan kepulauan Natuna. Kata kunci : pantai, bakau, wisata, bongkah. East coast of Natuna Besar island has variation beach lines, sandy beach, stony beach and mangrove beach. Apparently type of mangrove beach develops in the river mouths, which are muddy and shallow. Sandy beach dominated eastern coast of Natuna Besar island, distributs form the north to the south coast. Stony beach is a coast with boulders of granite in the foot mountain of Ranai. Distribution of Granite boulders are disorientation and unorganized along the east coast, because of these, the coast line has highly tourism value. Granite boulders are part of batholite Ranai granite which is base rock of Natuna islands. Keywords : coast, mangrove, tourism, boulder

    PENGGUNAAN METODE ANALISIS SINYAL DALAM INTERPRETASI DATA MAGNET DI PERAIRAN SELAT SUNDA UNTUK MENENTUKAN ARAH DAN POSISI PIPA BAWAH LAUT

    Get PDF
    Penentuan arah dan posisi pipa bawah laut dengan menggunakan data magnetik seringkali mengalami kesulitan dikarenakan data yang didapat tidak selalu ideal seperti yang diharapkan. Oleh karenanya diperlukan metoda yang dapat memberikan informasi posisi dan arah pipa. Analisis sinyal merupakan metoda yang akan diterapkan untuk membantu penentuan posisi dan arah pipa bawah laut. Informasi yang digunakan dalam metoda ini adalah horizontal dan vertical derivative yang erat kaitannya dengan nilai gradien anomali magnetik, sehingga data yang memiliki nilai anomali magnetik akan terlihat lebih jelas dibandingkan dengan area sekitarnya. Kata kunci : analisis sinyal, derivative. Determination of direction and position of the underwater pipeline by using magnetic data often have difficulty because the data obtained are not always ideal as expected. Therefore it is needed a method that can provide the position and also direction of underwater pipeline. Signal analysis is the method to be applied to determine the position and direction of the underwater pipeline. Information used in this methods are horizontal and vertical derivatives that closely related to the gradient of the magnetic anomalies, so that the data has a value of magnetic anomalies will be seen more clearly expose than the surrounding area. Keywords : signal analysis, derivative

    MAJUNYA GARIS PANTAI YANG DIAKIBATKAN OLEH PROSES SEDIMENTASI DI SEPANJANG PANTAI PERAIRAN KABUPATEN REMBANG

    Get PDF
    Majunya garis pantai yang terjadi di sekitar pantai perairan Rembang melingkupi daerah yang luas. Kondisi ini disebabkan morfologi pantai yang sangat landai dan pasokan sedimen yang tinggi terutama di sekitar muara sungai Pasokan sedimen dari sungai yang mengalir ke pantai utara Rembang membentuk endapan sedimen permukaan dasar laut. Sedimen tersebut juga menimbulkan akrasi sepanjang pantai Berdasarkan pemetaan karakteristik pantai perairan Rembang terdiri dari pantai berpasir, pantai berlumpur, pantai berbatu dan terumbu. Akrasi terjadi pada pantai berpasir dan terumbu. Kata Kunci: Majunya garis pantai, Sedimen, Rembang The emerging land in Rembang coastal area is very widely distributed. This is due to a very flat coastal morphology and very high sedimentary supply especially found around river mouth area. Sediment supply from rivers mouthed to north Rembang coast form sea bottom surficial sediment. The sediment is also causing emerging land or accretion along the coastal area of Rembang. Based on coastal characteristics mapping Rembang coastal area consisted of sandy coast, muddy coast, rocky beach and reefy coast. Accretion occurred at sandy beach and reefy coast Keyword: Emerged Land, Sediment, Remban

    POLA SEBARAN SEDIMEN MENGANDUNG GAS BERDASARKAN INTERPRETASI SEISMIK PANTUL DANGKAL DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, GRESIK, JAWA TIMUR

    Get PDF
    Dari hasil interpretasi seismik di daerah penelitian dapat dikenali 4 runtunan yaitu runtunan A, B C dan Runtunan D serta sedimen mengandung gas (gas charged sediment) dengan konfigurasi rekaman adalah bebas pantul (free reflection). Pola sebaran sedimen mengandung gas menempati 2 zona yaitu zona I di sebelah selatan Tanjung Wedora dan zona II sebelah utara Tanjung Wedora sampai Ujung Pangkah. Sebaran sedimen mengandung gas hanya dapat dikenali secara lateral, sedangkan secara vertikal sangat sulit untuk dikenali. Keterdapatan sedimen mengandung gas diperkirakan menempati runtunan C yang tersebar secara merata di daerah telitian. Shallow seismic interpretation indicate that the stratigraphy of , the study area can be divided into 4 sequences namely sequence A, B, C and D, In the study area, the gas charged sediments also were indicated. The spreading of gas charged sediment occupied at two zones those are zone one in the south off Tanjung Wedora and zone two in the north off Tanjung Wedora extend to Ujung Pangkah. Spreading trends of the gas charged sediment can be recognized laterally, while vertically is quit dificult. While the existing of gas charged sediment is suggested in sequence C which is spreading on the whole of study area

    HIATUS PADA KALA EOSEN-MIOSEN TENGAH DI TINGGIAN ROO, SAMUDRA HINDIA, BERDASARKAN BIOSTRATIGRAFI NANNOPLANKTON

    Get PDF
    Nanoplankton dari dua puluh satu percontoh dari Tinggian Roo (MD982156) yang diperoleh selama Ekspedisi MD III - IMAGES IV telah dianalisis untuk kepentingan penelitian biostratigrafi study. Percontoh sedimen diambil dengan menggunakan penginti isap yang besar sekali (giant piston core). Lokasi daerah telitian adalah di Tinggian Roo, Samudra Hindia, Selatan Jawa Timur, di luar Parit Jawa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan nanoplankton, biostratigrafi daerah telitian dapat dibagi ke dalam 8 Zona yakni zona-zona: Discoaster multiradiatus, D. prepentaradiatus, D. asymmetricus, Pseudoemiliania lacunosa, D. brouweri, D.brouweri-oceanica, Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi. Umur Paleosen ditunjukkan dengan adanya Discoaster multiradiatus sebagai spesies yang dominan, sedangkan sedimen yang berumur Miosen Akhir adalah D. prepentaradiatus. Sedimen lempung tufaan pada kedalaman 30 m bawah dasar laut ke bagian paling bawah dari penampang yang didominasi oleh mineral Phillipsite, ternyata mengandung nanoplankton yang berumur Paleosen, sedangkan dari kedalaman 30 m ke bagian atas dari penampang sedimen ditutupi secara langsung oleh sedimen yang berumur Miosen Akhir – Holosen. Jadi di lokasi penelitian ini telah terjadi hiatus antara Eosen sampai paling tidak bagian bawah dari Miosen Akhir. Adapun Phillipsit dikenal sebagai mineral yang secara authigenic terjadi di laut dalam yang bisa berasal dari hasil kegiatan gunung api. Manfaat mineral Phillipsit di dalam industri plastik, antara lain dapat dipakai dalam pembuatan resin termoaktif dan sebagai pemacu dalam proses pengerasan. Kelompok Zeolit ini juga digunakan untuk menghilangkan kesadahan dalam industri deterjen, menjernihkan kelapa sawit, menyerap zat warna pada minyak hati ikan hiu, sebagai katalisator pada proses gasifikasi batubara yang berkadar belerang dan/atau nitrogen tinggi yang menghasilkan gas bersih Kata Kunci: Hiatus, Kala Esosen-miosen, Tinggian Roo, Biostratigrafi Nanno Plankton Nannoplankton of twenty one samples from Roo Rise (MD982156 core) obtained during MD III - IMAGES IV Expedition were analysed for biostratigraphic study. The samples were taken by using giant piston core. This core is located in Indian Ocean, south of East Jawa, outer part of Jawa Trench. The results of the study indicate that, based on nannoplankton biostratigraphy of the study area, there are eight zones namely: Discoaster multiradiatus, D. prepentaradiatus, D. asymmetricus, Pseudoemiliania lacunosa, D. brouweri, D.brouweri-oceanica, Gephyrocapsa oceanica dan Emiliania huxleyi. Paleocene sediment is indicated by the presence of Discoaster multiradiatus as the dominant species and Late Miocene sediment is indicated by the presence D. pentaradiatus. The sediments from 30 m down to the base of the core, which is dominated by Phillipsite minerals (Zeolite Group), is composed of nannoplankton of Paleocene age, whereas from 30 m below sea floor (bsf) to the top of the core, the sediment is directly overlain by the sediment of Late Miocene – Holocene ages. Therefore there was a hiatus occurred in the study area between Eocene to at least the lower part of Late Miocene. Phillipsite is known as an authigenic mineral deposited in the deep sea that could be derived from the volcanic activity products. This mineral has a benefit in the plastic industry that can be used in making thermoactive resin and as a catalyst in hardening process. The Zeolite Group is also used in removing hardness in detergen industry, cleaning palm oil, absorbing color in lever oil of shark and as a catalyst in coal gasification having high sulphur and nitrogen producing clean gas. Keyword: Hiatus, Eosen-miosen ages, Roo Rise, Biostratigrafi Nanno Plankto

    INVESTIGATION OF GROUND PENETRATING RADAR FOR DETECTION OF ROAD SUBSIDENCE NORTHCOAST OF JAKARTA, INDONESIA

    Get PDF
    A survey of Ground Penetrating Radar (GPR) was conducted in the coastal zone of northern part of Jakarta, Indonesia. The purpose of this survey was to provide the subsurface of coastal Quaternary sedimentary features and stratigraphy disturbances associated with induce post road subsidence 2009. The possibility of subsurface lithology disturbance shown by the GPR record. This record resulted from GPR methods using SIR system 20 GSSI, 270 MHz and 400 MHz and MLF 3200 transducer. The method is a promising tool for resolving changes of physical properties in subsurface lithology condition at the natural scale due to composition changes of physical properties.The reflection data resulted that GPR can distinguish between image the basic geometry forms such as lithology , structure geology , soil and subsurface utilities condition Keywords: Quaternary geology, Jakarta subsidence northern road 2009, Ground Penetrating Radar Penyelidikan “Ground Penerating Radar†(GPR) telah dilaksanakan di kawasan pantai utara Jakarta Utara, Indonesia. Tujuan dari penyelidikan GPR ini adalah untuk melihat kondisi sedimen Kuarter bawah permukaan dan gangguan stratigrafi sehubungan dengan penurunan jalan raya pada tahun 2009. Kemungkinan gangguan terhadap litologi bawah permukaan terlihat pada rekaman GPR. Hasil rekaman metoda GPR mempergunakan model SIR 20 GSSI, transduser 270MHz, 400 MHz dan MLF 3200.Metoda GPR merupakan alat bantu yang cukup menjanjikan untuk melihat perubahan sifat fisik litologi bawah permukaan pada skala sebenarnya yang disebabkan oleh perubahan komposisi sifat fisiknya. Hasil refleksi data GPR dapat membedakan bentuk dasar geometri seperti litologi, struktur geologi, kondisi utilitas bawah permukaan. Kata kunci : Geologi Kuarter, Penurunan jalan utara Jakarta 2009, Ground Penetrating Rada

    Back Cover

    No full text

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇