MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
DINAMIKA PERUBAHAN GARIS PANTAI DI PERAIRAN TELUK BANTEN DAN SEKITARNYA
Penelitian ini berlokasi di Perairan Teluk Banten dan sekitarnya yang secara geografis terletak di ujung barat pantai utara Jawa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan garis pantai, dinamika sedimen, dan batas sel pantai melalui pengolahan data citra satelit, peta tematik, dan observasi lapangan. Karakteristik pantai Teluk Banten dan sekitarnya didominasi oleh pantai berlumpur yang sebagian besar ditumbuhi mangrove seperti di daerah Lontar, Pontang, Sawah Luhur, Kasemen, dan Kramatwatu. Karakteristik campuran pantai berbatu dan berpasir menempati bagian barat Teluk Banten, tepatnya di Bojonegara. Beberapa tempat seperti di Bojonegara kondisi pantainya sudah mengalami modifikasi berupa reklamasi, infrastruktur pelabuhan, jeti, dan struktur pantai lainnya. Dinamika pantai menunjukkan perubahan morfologi yang signifikan di daerah Tanjung Pontang akibat abrasi, serta Delta Ciujung Baru dan Sawah Luhur akibat akresi. Ketidakseimbangan sedimen yang dipicu oleh pengalihan Sungai Ciujung Lama dan alih fungsi lahan mangrove menjadi faktor pemicu terjadinya proses abrasi di Tanjung Pontang. Penempatan struktur breakwater dan hybrid engineering sebetulnya telah dilakukan untuk perlindungan pantai, namun dinilai kurang berhasil. Strategi rehabilitasi dengan membuka aliran air Sungai Ciujung Lama, pemasangan pemecah gelombang ambang rendah, dan penanaman mangrove sangat direkomendasikan untuk mengatasi permalahan abrasi.Kata kunci: dinamika, garis pantai, Teluk Banten, abrasi, transpor sedimen. This research is located at Banten Bay and surrounding areas where geographically positioned on the western end of the north coast of Java. This study aims to determine the shoreline changes, sediment dynamics, and coastal cell boundaries through satellite and thematic map studies, and on-ground observations. The coastal characteristic of the Banten Bay and surrounding areas is dominated by the muddy coast with mangrove vegetation such as in Lontar, Pontang, Sawah Luhur, Kasemen, and Kramatwatu. Whilst, mixed rocky and sandy coasts occur on the west side of Banten bay such as in the Bojonegara industrial area. Some coasts, e.g. Bojonegara, have been modified becoming reclamation areas, ports, jetties, and other coastal structures. The coastal dynamics show significant morphological changes including at Tanjung Pontang due to abrasion, while at new Ciujung delta and Sawah Luhur were experiencing accretion. Sediment imbalances derived by the diversion of the Ciujung Lama River and mangrove area conversions are the main cause of the abrasion in Tanjung Pontang. The installation of the breakwater and hybrid engineering structures has been conducted for coastal protection but is considered to be less successful. Rehabilitation strategies by re-canalizing the Ciujung Lama River, installing submerge breakwaters, and planting mangroves are highly recommended to overcome the abrasion.Keywords: dynamics, shoreline, Banten bay, abrasion, sediment transport
Estuary Changes of Cipunagara and Cimanuk River Using Landsat Imagery Spatial Analysis
The north coastal Java located in the West Java, especially in Cirebon, Indramayu, and Subang, occurs loss and forming new land by abrasion and accretion processes. Observation using satellite imagery can be used as an initial stage to determine the distribution of abrasion and accretion around the north coastal area. Observation of land changes was assigned using Landsat imagery from 1978 to 2020. The result shows that inland change was controlled by abrasion and accretion. It is occurred in Indramayu and Subang, especially in several areas around large rivers e.g. Cipunegara and Cimanuk Rivers. Estuary changes in the Cipunegara and Cimanuk Rivers were controlled by the high flux sediment deposition of the river mouths affecting the new land forming due to the accretion process. Monitoring through Landsat satellite imagery on the Cipunagara River from 1978 to 2020 shows that there was 205 Ha of new land. Remote sensing analysis in the Cimanuk River area shows that the estuary line from 1978 to 2020 experienced accretion or new land forming for 629 Ha.Keywords: North coastal Java, accretion, Landsat, river estuary analysis, Cipunegara River, Cimanuk RiverKawasan pantai utara Jawa di Jawa Barat, khususnya daerah Cirebon, Indramayu, dan Subang, memiliki permasalahan hilang atau terbentuknya daratan baru melalui proses abrasi dan akresi. Pengamatan mengunakan citra dapat dijadikan tahapan awal untuk mengetahui sebaran abrasi dan akresi di sekitar wilayah pantai utara. Observasi perubahan daratan dilakukan dengan menggunakan citra landsat tahun 1978 dan 2020. Hasilnya memperlihatkan bahwa telah terjadi perubahan daratan, baik proses abrasi maupun akresi, di beberapa wilayah di sekitar muara-muara sungai besar seperti Sungai Cipunegara dan Sungai Cimanuk. Perubahan muara Sungai Cipunegara dan Sungai Cimanuk lebih disebabkan oleh tingginya pengendapan sedimen pada muara sungai tersebut dan membentuk lahan baru karena proses akresi. Pemantauan melalui citra satelit di Sungai Cipunagara data citra tahun 1978 sampai 2020 memperlihatkan penambahan lahan baru sebanyak 205 H. Analisis remote sensing citra di wilayah Sungai Cimanuk terlihat garis muara pantai pada tahun 1978 hingga tahun 2020 mengalami akresi atau penambahan lahan baru 629 H.Kata Kunci: Pantai utara Jawa, akresi, Landsat, analisis muara sungai, Sungai Cipunegara, Sungai Cimanu
SEDIMENTASI PASIR SEPANJANG PANTAI KULON PROGO, DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA
Pesisir Kulon Progo secara fisiografi merupakan bagian dari zona pegunungan selatan Jawa, berbatasan disebelah timur nya adalah zona Solo. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses sedimentasi endapan pasir pantai dan kemungkinan batuan sumber, berdasarkan data pemetaan karakteristik pantai, pengambilan sedimen pantai, georadar, dan analisis kimia di sepanjang pantai Perairan Kulon Progo. Sedimen Pasir tipe 1, di sepanjang pantai Kulon Progo merupakan pasir abu-abu yang merupakan campuran mineral hitam, kuarsa dan pecahan terumbu karang, dimana geomorfologi pantai datar sampai bergelombang (0o–30o). Sedimen pasir tipe 2, merupakan pasir hitam didominasi pasir besi, sedikit mineral kuarsa menempati morfologi sedimen pasir pantai yang datar. Berdasarkan data georadar kondisi geologi bawah permukaan sedimen pasir pantai Kulon Progo terdiri dari 2 sekuen yaitu sekuen A dan sekuen B. Sekuen A dicirikan oleh citra rekaman georadar parallel sampai medium amplitudo, merupakan lapisan sedimen pasir. Sekuen B dicirikan oleh pola paralel sampai amplitudo lemah yang tidak menerus, mengindikasikan sebagai pelapukan batuan pasir. Berdasarkan analisa kimia kandungan Rutil (TiO2), Besi (Fe), (FeO) dan (Fe2O3) banyak ditemukan pada sedimen pasir pantai daerah penelitian. Besi (Fe) merupakan unsur logam yang banyak ditemukan di daerah ini, kandungan Fe antara 1,26% - 10,52%. Sedangkan Rutil (TiO2) kandungannya antara 0,98 % sampai 1,4%.Kata kunci: sedimentasi, pantai, sedimen, pasir, dan besi, Kulon Progo The coastal of Kulon Progo physiographically is part of the Southern Mountain Zone of Java, where to the east is bordered by the Solo Zone. The aim of the study is to know sand sedimentation process, based on coastal characteristics map data, coastal sediment sampling, georadar data, and chemical analysis along the coastline of the Kulon Progo. Sand sediments type 1 along the Kulon Progo coastal composed of gray sand that mixed with opaque mineral, quartz and coral reef fragments, where the geomorphology of the coast is flat to undulating (0o – 30o). Sand sediment type 2 composed of black sand dominated by iron sand and minor quartz occupies the flats sand sediments morphology. Based on georadar data, subsurface geological conditios consists of 2 sequences, namely sequence A and sequence B. Sequence A is characterized by georadar image of parallel - medium amplitude, indicating sand sediment. Sequence B is characterized by parallel to discontinous weak amplitude, indicating a weathered sandstone. Based on chemical analysis Rutil (TiO2), Iron (Fe), (FeO) and (Fe2O3) are found in coastal sand sediments in the study area. Iron (Fe) is a metal element that many found in this area, Fe content is between 1.26%-10.52%. While Rutile (TiO2) is contains between 0.98%-1.4%.Keywords: sedimentation, coastal, sediment, sand and iron Kulon Prog
ANALISIS KANAL-KANAL LANDSAT 8 OLI UNTUK PEMETAAN BATIMETRI DI SEKITAR PULAU PUTRI, KOTA BATAM
Batimetri mempunyai peran penting dalam perencanaan wilayah pesisir sehingga pemetaan batimetri dangkal sangat diperlukan. Penginderaan jauh merupakan salah satu metode yang efisien, mudah dan murah untuk pemetaan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kanal-kanal terbaik pada Landsat 8 OLI untuk memetakan batimetri dan kedalaman optimum yang dapat dipetakan sehingga dapat digunakan sebagai rujukan dalam memanfaatkan data penginderaan jauh untuk pemetaan tersebut. Lokasi kajian dilakukan di pulau Putri, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau. Analisis regresi linear menunjukkan kanal tunggal terbaik untuk pemetaan batimetri adalah kanal hijau (kanal 3), diikuti oleh kanal merah (kanal 4) dan kanal inframerah dekat (kanal 5). Namun pemetaan batimetri dengan kombinasi kanal menghasilkan koefisien determinasi yang lebih baik. Analisis best subset menunjukkan pemetaan batimetri pada kedalaman 0 – 20 m menggunakan kanal 2, 3, 5, dan 6 dengan koefisien determinasi (R2) 85,4%; kedalaman 0 – 25 m menggunakan kanal 1, 3, 5, 6, dan 7 dengan R2 75%; dan pemetaan kedalaman 0 – 50 m menggunakan kanal 1, 3, dan 4 dengan R2 49,1%. Hasil pemetaan batimetri menggunakan Landsat 8 OLI secara umum lebih efektif dan mempunyai akurasi tinggi pada kedalaman 0 – 20 m dan semakin berkurang kemampuannya pada kondisi perairan yang semakin dalam.Kata kunci: Batimetri, Landsat 8 OLI, kanal, algoritma. Bathymetry has an important role in planning coastal areas so that mapping of shallow bathymetry is needed. Remote sensing is one of the efficient, easy and inexpensive methods for mapping. This study aims to analyze the best channels in Landsat 8 OLI for mapping bathymetry and optimum depth that can be mapped so that it can be used as a reference in utilizing remote sensing data for mapping. The location of the study was conducted on the Putri island, Batam City, Riau Islands Province. Linear regression analysis shows the best single channel for bathymetry mapping is the green channel (channel 3), followed by the red channel (channel 4) and the near infrared channel (channel 5). But bathymetry mapping with channel combinations produces a better coefficient of determination. Best subset analysis shows bathymetry mapping at depths of 0-20 m using channels 2, 3, 5, and 6 with a coefficient of determination (R2) of 85.4%; depth of 0 - 25 m using channels 1, 3, 5, 6, and 7 with R2 75%; and mapping depth 0 - 50 m using channels 1, 3, and 4 with R2 49.1%. The results of bathymetry mapping using Landsat 8 OLI are generally more effective and have a high accuracy at a depth of 0-20 m and are increasingly reduced in conditions of deeper water conditions. Keywords: Bathymetry, Landsat 8 OLI, Band, Algorithm
ANALISIS PROSES SEDIMENTASI DI TAPAK PELABUHAN PALABUHANRATU-KABUPATEN SUKABUMI
Di Palabuhanratu - Kabupaten Sukabumi, sedang dibangun pelabuhan baru untuk mempermudah konektivitas antar wilayah di Jawa Barat selatan dan diharapkan dapat menjadi pelabuhan lintas provinsi yang mampu mengangkat pertumbuhan ekonomi khususnya di bidang wisata bahari. Namun demikian, saat ini perkembangan pembangunan pelabuhan tersebut nampaknya menghadapi masalah sedimentasi yang cepat di kedua sisi jembatan dan dermaga. Untuk itu, analisis proses sedimentasi di tapak pelabuhan ini dibuat dengan tujuan sebagai bahan referensi studi kasus. Data citra satelit resolusi tinggi menunjukan bahwa luasan sedimentasi di tapak pelabuhan ini sudah mendekati 20,000 m2, sedangkan data hidro-oseanografi mensiratkan bahwa bangunan pemecah gelombang di lepas pantai, diduga membangkitkan difraksi gelombang laut dan arus sepanjang pantai sekaligus sebagai perangkap sedimen membentuk tembolo.Kata kunci : Pelabuharatu, sedimentasi, pemecah gelombang, arus memanjang pantai, tembolo.In Palabuhanratu - Sukabumi Regency, a new port is being built to facilitate the connectivity between regions in southern West Java and is expected to become an inter-provincial port that can promote economic growth, especially in the field of marine tourism. However, at present the development of port construction seems to face the problem of rapid sedimentation on both sides of the trestle and jetty. Therefor,the analysis of the sedimentation process at the port site is intended as a reference of case study. Analysis of high-resolution satellite imagery data shows that the area of sedimentation at this port site is approaching 20.000 m2, while hydro-oceanographic data analysis implies that offshore breakwater is thought to generate wave difraction and longshore current as well as sediment trap forming tembolo. Keywords:Palabuhanratu, sedimentation, breakwater, longshore current, tembolo
Detecting Coastal Atmosphere Weathering Process on Andesite Rock Using Magnetic Susceptibility and Fe3O4/Fe2O3 Ratio
Weathering is a geological phenomenon that is often an important considered because of its destructive properties, mainly in subsurface. Many parameters are used to measure the presence of weathering indications. This study focuses on testing of magnetic susceptibility (c), compound oxide content and Fe3O4/Fe2O3 ratio that have been selected as an indicators of weathering process. This study explains in detail the quantitative analysis of weathering based on these parameters in basaltic andesite rocks found in coastal atmospheric areas. The results obtained for weathered rocks, magnetic susceptibility, compound oxide content such as CaO and the Fe3O4/Fe2O3 ratio has decreased significantly. In the coastal atmosphere, the weathering of basaltic andesite rocks also marked by the distribution of magnetic minerals which tend to be in the domain of pseudo single domain (PSD) or single domain (SD). Thus it can be concluded that both of low frequency magnetic susceptibility (clf), CaO and Fe2O3 content and also the Fe3O4/Fe2O3 ratio can be used as weathering level indicators.Keywords: weathering, andesite, magnetic susceptibility, Fe3O4/Fe2O3 ratio, coastal atmosphere. Pelapukan merupakan fenomena geologi yang sering menjadi pertimbangan penting karena sifatnya destruktif terutama pada bawah permukaan. Banyak parameter yang digunakan untuk mengukur adanya indikasi pelapukan. Penelitian ini berfokus pada pengujian suseptibilitas magnetik (c), kandungan senyawa kimia dan rasio Fe3O4/Fe2O3 yang dipilih menjadi parameter sebagai indikator pelapukan. Penelitian ini menjelaskan secara rinci analisis kuantitatif pelapukan berdasarkan kedua parameter tersebut pada batuan beku basaltik andesit yang terdapat pada area atmosfer pantai. Hasil penelitian didapatkan untuk batuan lapuk, suseptibilitas magnetik, kandungan senyawa kimia CaO dan rasio Fe3O4/Fe2O3 mengalami penurunan. Pada atmosfer pantai batuan basaltik andesit yang mengalami pelapukan juga ditandai oleh distribusi mineral magnetik yang cenderung berdomain pseudo single domain (PSD) maupun single domain (SD). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa baik suseptibilitas magnetik low frekuensi (clf), kandungan senyawa kimia CaO dan Fe2O3 maupun rasio Fe3O4/Fe2O3 dapat dijadikan sebagai indikator tingkat pelapukan.Katakunci: pelapukan, andesite, suseptibilitas magnetik, rasio Fe3O4/Fe2O3, atmosfer pantai