MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    Nickel in Buli Coastal Area, East Halmahera

    Get PDF
    Fragments of ultramafic, metamorphic, basalt and serpentine compose coastal sediments. These fragments derived from outcrops in hinterland as well as the coast. Existence of greywacke sandstone through microscopic observation in coastal sediments indicate deep sea derivation. Marine sediments also show almost the same composition with coastal sediments.Rock fragment abundances of ultramafic (10-47%), serpentine (12-24%) and metamorphic (3-12%) in stream and coastal sediments which have direct relation with the presence of nickel metal in the research area were resulted from petrographic analyses. While mineralographic analyses of heavy mineral concentrate from wooden pan show the existence of ferro nickel (Fe-Ni) and nickeline (Ni-As) in coastal and stream sediments. XRF analyses show nickel contents in seabed sediments 0.0140 to 0.793 %, chromite 0.0179 to 0.1128% and iron 1.2 to 6.85%. Coastal water nickel distribution is controlled by local trapped waves in Buli Bay that excite by equatorial Pacific Ocean waves propagate westward. Nickel occurrences in marine sediments would be an interesting further research.Keywords: nickel, Buli coastal area, East HalmaheraFragmen-fragmen ultramafik, metamorfik, basalt dan serpentin menyusun sedimen pantai. Fragmen-fragmen ini berasal dari singkapan baik di darat maupun di pantai. Dijumpainya fragmen batupasir grewake yang teramati melalui mikroskop dalam sedimen pantai mengindikasikan asal laut dalam. Sedimen dasar laut menunjukkan kecenderungan komposisi yang hampir sama dengan sedimen pantai. Kelimpahan fragmen batuan ultramafik (10-47%), serpentin (12-24%) dan metamofik (3-12%) dalam sedimen sungai dan pantai yang memiliki hubungan langsung dengan keberadaan logam nikel di daerah penelitian dihasilkan dari analisis petrografi. Sedangkan analisis mineralografi pada konsentrat mineral berat hasil dulang mendapatkan fero nikel (Fe-Ni) dan nikelin (Ni-As) dalam sedimen pantai dan sungai.Analisis XRF mendapatkan nikel dalam sedimen dasar laut dengan kandungan 0,0140 hingga 0,793%, kromit 0,0179 hingga 0,1128% dan besi 1,2 hingga 6,85%. Sebaran nikel di perairan pantai dikontrol oleh gelombang lokal yang ditimbulkan oleh gelombang Samudera Pasifik ekuator yang bergerak ke barat. Keterdapatan nikel dalam sedimen dasar laut dapat menjadi riset yang menarik di masa datang.Kata kunci : nikel, pantai Buli, Halmahera Timur

    Simple Statistical Testing on Existing Data of Core 39 KL SO189/2 to Reveal its Correlation Towards Sea Surface Temperature Variation

    Get PDF
    Several paleotemperature proxies using marine core sediment data have been developed and well-proven, but they need excellent laboratory handling and destructive tools. Spectrophotometer and Multi-Sensor Core Logger (MSCL) is considered rapid and non-destructive tools compared to other climate proxies. This paper enhances the correlation between existing data of spectrophotometer, MSCL, and sea surface temperature (SST) of the sediment core 39 KL from SO189/2 through a statistical test. The dataset is processed using interpolation, Pearson correlation, and K-means clustering. Pearson correlation reveals a strong correlation between spectrophotometer, MSCL, and SST. K-means clustering points out that SST is shifting from relatively colder to warmer. This study also tries to understand the source of four tephra and one terrigenous layer. It can be concluded that the spectrophotometer and MSCL have a positive correlation to SST variation. Keywords: statistical approach, existing data of SO189/2, spectrophotometer, Multi-Sensor Core Logger, sea surface temperatureBeberapa proksi paleotemperature menggunakan sedimen inti laut telah dikambangkan dan terbukti baik, namun membutuhkan penanganan laboratorium yang bagus dan bersifat destruktif. Spektrofotometer dan Multi Sensor Core Logger (MSCL) relatif lebih cepat dan tidak destruktif. Makalah ini membahas hubungan antara spektrofotometer, MSCL, dan temperature muka laut (SST) berdasarkan data sedimen inti 39 KL dari SO189/2 melalui pendekatan statistik. Data diolah menggunakan metode interpolasi, korelasi Pearson, dan kluster K-means. Korelasi Pearson menunjukkan korelasi kuat antara spektrofotometer, MSCL, dan SST. Kluster K-means menunjukkan pergeseran SST dari kondisi yang lebih dingin ke lebih hangat hubungan Stufi ini juga mencoba untuk memahami sumber 4 lapisan tefra dan 1 lapisan mineral terrigenous. Melalui studi ini, dapat disimpulkan bahwa spektrofotometer dan MSCL mempunyai korelasi positif terhadap variasi SST.Kata Kunci: Pendekatan statistik, Data existing SO189/2, spektrofotometer, Multi Sensor Core Logger, Suhu Permukaan Lau

    Tectonics of Volcanogenic Massive Sulphide (VMS) Deposits at Flores Back Arc Basin: A Review

    Get PDF
    The bathymetry, petrology, marine magnetic, and seismic-SBP data have identified the northwest-southeast direction submarine ridge that shows hydrothermal activity. This activity occurred through Mount Baruna Komba, Abang Komba, and Ibu Komba. The volcanic rocks are andesite basaltic lava flows, tuff, and pumice. The andesite basaltic lava shows porphyritic, intergranular, intersertal to glomeroporphyritic textures. The rock composes anhedral minerals of k-feldspar, plagioclase, and pyroxene. These minerals present in small-sized, short prismatic dispersed in very fine groundmass minerals or glasses. Most of the volcanic rocks have experienced various degrees of alteration. The k-feldspar and plagioclase are most dominantly transformed into sericite, clay mineral, carbonate, epidote and oxide mineral, opaque mineral, and secondary plagioclase through the albitization process, while pyroxene replaced by chlorite. Other minerals are biotite and quartz, and base metals are present Cu, Zn, Ag, As, Pb, and gold. Mineralization categorizes as the phyllic zone, sub-prophylithic zone, and phyllic-potassic zone that formed at a temperature range of 250-400oC. The submarine hydrothermal alteration in the Komba Ridge is associated with a volcanogenic sulphide deposit controlled by crust thinning due to the crust rifts in the back-arc tectonic setting.Keywords: volcanic rocks, submarine hydrothermal alterations, Komba ridge, volcanogenic massif sulphide (VMS), back-arcData batimetri, petrologi, magnetic laut dan seismic-SBP telah memetakan dan mengidentifikasi suatu punggungan bawahlaut berarah baratlaut-tenggara yang memperlihatkan aktifitas hidrotermal bawah laut. Aktifitas tersebut muncul melalui Gunung Baruna Komba, Abang Komba dan Ibu Komba. Batuan gunungapi penyusun adalah aliran lava andesit basaltic, tuf dan pumis. Lava andesit basaltik memperlihatkan tekstur porfiritik, intergranular, intersertal to glomeroporfiritik. Mineral penyusun berupa k-felspar, plagioklas, dan piroksen dalam bentuk mineral anhedral, prismatik pendek berukuran kecil yang berada dalam masa dasar mineral sangat halus atau gelas. Batuan vulkanik telah mengalami ubahan dalam berbagai tingkat, dimana k-flespar dan plagioklas paling dominan terubah menjadi serisit, lempung, karbonat, epidot dan mineral oksida, opak atau plagioklas sekunder melalui proses albitisasi sedangkan piroksen mengalami proses ubahan digantikan oleh klorit. Mineral ubahan lainnya adalah biotit dan kuarsa dan logam dasar seperti Cu, Zn, Ag, As, Pb, dan emas. Mineralisasi dikategorikan sebagai zona filik, zona sub-profillitik, dan zona filik-potasik yang terbentuk pada kisaran suhu 250-400oC. Alterasi hidrotermal bawah laut di Punggungan Komba berasosiasi dengan suatu endapan sulfida volkanogenik yang dikontrol oleh penipisan kerak akibat peregangan kerak dalam tatan tektonik busur belakang.Keywords: batuan gunungapi, alterasi hidrotermal bawah laut, punggungan Komba, sulfida massif vulkanogenik, busur belakan

    INTERPRETASI ANOMALI GAYABERAT PERAIRAN KEPULAUAN KAI DAN SEKITARNYA, MALUKU

    Get PDF
    Penelitian gayaberat laut telah dilakukan di perairan Kepulauan Kai dan sekitarnya pada tahun 2018 dengan menggunakan kapal survei Geomarin 3. Tujuan penelitian adalah untuk memperoleh data geofisika kelautan dan menentukan keberadaan serta keterdapatan cekungan sedimenter. Penafsiran hasil penelitian gaya berat laut menunjukkan bahwa di bagian barat kepulauan Kai tepatnya di cekungan Weber merupakan jalur tarikan timur-barat yang masih aktif. Nilai anomali gayaberat Bouguer pada umumnya berkisar +180 mGal hingga +340 mGal berpola melingkar dengan arah relatif utara-selatan dengan nilai landaian gayaberat yang sangat curam. Di bagian timur kepulauan Kai yaitu di sekitar P. Kai Kecil dan P. Kai Besar, merupakan gambaran dari kawasan paparan Aru yang mempunyai litologi relatif homogen yaitu batu gamping dan napal berumur Tersier yang dilandasi oleh batuan dasar kerak kontinen yang relatif stabil. Nilai anomali gayaberat pada umum berkisar +90 mGal hingga +179 mGal berpola melingkar dengan arah relatif timurlaut-baratdaya. Di bagian tengah kepulauan Kai yaitu P. Kur, P. Fadol dan kepulauan Tayadu, anomali gayaberat berkisar antara +0 mGal hingga +89 mGal berpola memanjang dengan arah relatif utara-selatan dan timurlaut-baratdaya. Tingginya nilai anomali Bouguer di daerah ini berkaitan dengan batugamping Tersier dan kelompok litologi yang mempunyai rapat massa tinggi yaitu kerak granitik yang relatif lebih dekat ke permukaan di bandingkan dengan tempat lain. Hasil pemodelan penampang gayaberat diperoleh; air laut dengan rapatmassa 1,03 gr/cm3 merupakan lapisan paling atas disusul oleh kelompok batuan sedimen dengan rapatmassa 2,00 gr/cm3, kemudian kerak dengan rapatmassa 2,67 gr/cm3 dan 3,10 gr/cm3 mewakili mantel atas.Kata kunci: Anomali gayaberat, cekungan sedimen, penampang gayaberat, kepulauan Kai Marine gravity research was carried out on the Kai island waters and its surrounding area in 2018 use Geomarin 3 research vessel. The purpose of this research are to obatain marine geophysical data and determine of sedimentary basins. The interpretation results of the marine gravity research show that in the western part of the Kai islands precisely in the Weber basin which is an active east-west pull belt. Gravity anomaly values generally range between +180 mGal to +340 mGal with a circular pattern in a relatively north-south direction with a value of very steep gently sloping. In the eastern part of the Kai islands, that is an imaging of the Aru shelf which has a relatively homogeneous lithology, consist of limestone and marl Tertiary-age, which is based on relatively stable continental crust bedrock. Gravity anomaly values generally between +90 mGal to +179 mGal with elongated pattern in the northeast-southwest direction. In the middle part of the Kai islands, P. Kur, P. Fadol dan Tayadu Islands, gravity anomalies range from +0 mGal to +89 mGal with a circular pattern in a relatively north-south direction and a relatively northeast-southwest direction. The high value of Bouguer anomalies in this area is related to Tertiary limestone and lithology groups that have high density, namely granitic crust which is relatively closer to the surface compared to other places. The cross section modeling gravity is obtained; sea water with a density of 1,03 gr/cm3 is the top layer followed by sedimentary rock groups with a density of 2,00 gr/cm3, then crust with a density of 2,67 gr/cm3 and 3,10 gr/cm3 represents the mantle up.Keyword: Gravity anomaly, sediment basins, gravity cross section, Kai islan

    Application of Spectral Decomposition and RGB Blending for Delineation of “S” Channel At Asri Basin

    Get PDF
    Gita member is part of Talang Akar Formation is known as hydrocarbon reservoir at Asri Basin, eastern part of South Sumatra. This formation consists of several depositional systems such as braided channel, meandering channel, fluvial-deltaic, and estuarine system. A channel system was an interesting system developed in the Asri Basin, however, to get the channel distribution in Asri Basin is quite challenging because the thickness of the channels caused its appearance is generally close or under seismic resolution, the existence of coal below our target also affects the impression of “S” sand on seismic data. In this study, spectral decomposition and RGB Blending have been successful to identify “S” sand. RGB Blending map is extracted from 15 Hz as low frequency, 45 Hz as middle frequency, and 75 Hz as high frequency. Our interpretation was applied at RGB Blending map and reveal the “S” sand is classified as a meandering channel depositional system with the main direction of the channel is Northeast – Southwest.Keywords: spectral decomposition, RGB Blending, Gita reservoir, Asri Basin: Anggota Gita merupakan bagian dari Formasi Talang Akar yang dikenal sebagai reservoar hidrokarbon di Cekungan Asri, Sumatra Selatan bagian timur. Formasi ini terdiri dari beberapa sistem pengendapan seperti sistem sungai teranyam, meander, fluvial-delta, dan estuari. Sistem pengendapan sungai purba di Cekungan Asri merupakan sistem yang menarik untuk dieksplorasi namun untuk mendapatkan persebaran sungai tersebut merupakan hal yang menantang dikarenakan tipisnya ketebalan sungai yang mengakibatkan kenampakannya pada data seismik berada disekitar atau bahkan dibawah resolusi seismik, keberadaan lapisan batubara dibawah target turut mempengaruhi kenampakan pasir “S” pada data seismik. Dekomposisi spektral serta RGB Blending yang diaplikasikan pada penelitian ini dapat mengidentifikasi pasir “S”. Peta RGB Blending diekstraksi dari beberapa frekuensi, yaitu frekuensi 15 Hz yang diambil sebagai frekuensi rendah, 45 Hz sebagai frekuensi tengah, dan 75 Hz sebagai frekuensi tinggi. Selanjutnya dilakukan interpretasi pada peta hasil RGB Blending dan menunjukkan pasir “S” diklasifikasikan sebagai sungai dengan sistem meander dengan arah utama sedimentasi adalah Timurlaut - Baratdaya.Kata kunci: dekomposisi spektral, RGB Blending, reservoar Gita, Cekungan Asri

    Front Cover

    No full text

    KARAKTERISTIK PENURUNAN DASAR LAUT PERAIRAN TELUK JAKARTA

    Get PDF
    Penurunan permukaan tanah wilayah pesisir Teluk Jakarta diyakini sebagai dampak dari pembangungan. Dari tahun 1974 sampai dengan 2010 telah terjadi penurunan permukaan tanah di sejumlah daerah DKI Jakarta antara -0.25 m dan -4.1 m. Kawasan perairan Teluk Jakarta sebagian besar masih dalam kondisi alamiah, belum mengalami beban pengembangan yang dapat menimbulkan penurunan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghitung penurunan dasar laut Teluk Jakarta melalui pendekatan tektonik, lingkungan, dan kosolidasi  sedimennya sebagai penyebab penuruan. Metode yang digunakan adalah pengembangan data sedimen inti bor dan rekaman sesimik pantul dangkal meliputi analisis besar butir, mikrofauna, pentarihan umur radiokarbon C14 dan analisis srtatigrafi seismik. Hasilnya penurunan lapisan sedimen perairan Teluk Jakarta telah terjadi sejak masa ribuan tahun yang lalu (Late Glacial Maximum, LGM). Penurunan tersebut terjadi akibat adanya gerakan vertikal lapisan sedimen (tektonik) dan konsolidasi sedimen. Penurunan lapisan sedimen di wilayah barat antara 0.1m dan 0.3m pertahun, dan 0.4m dan 0.5m pertahun di wilayah timur Teluk Jakarta. Kecepatan pengendapan sedimennya berkisar antara 0.57cm dan 1,84cm pertahun lebih kecil dari penurunan. Jika terjadi gangguan pada lapisan sedimen pasir maka penuruan dasar laut perairan barat Teluk Jakarta cenderung akan meningkat. Pengembangan perairan Teluk Jakarta untuk pembangunan infrastruktur sebaiknya mengikutsertakan data dan informasi geologi kelautan untuk memperkecil resiko dampak penurunan.Kata kunci: karakteristik, penurunan, dasar laut, perairan, Teluk Jakarta Land subsidence of the Jakarta Bay coastal area has been supposed to be as the impact of coastal development. From 1974 to 2010 land subsidence occurred in a number of DKI Jakarta areas between -0.25 m and -4.1 m. The Jakarta Bay waters is in most natural condition which has no records of subsidence as an impact of the development. This research aims to estimate seabed subsidence rate of the Jakarta Bay waters through approaches such as tectonics, sedimentary environments, and consolidation of sediment as causes of the subsidence. The method used in this research is improvement data of sediment cores and reflection seismic records through particle size analyses of sediment, microfossil analyses, radiometric dating C14, and seismic stratigraphy analyses. Results, the accidents of seabed subsidence of the Jakarta Bay waters has been occurred since last thousands years (Late Glacial Maximum, LGM). The subsidence occurred due to vertical movement of sediment layers and consolidation. The subsidence of sediment layer for west area between 0.1m and 0.3 per a year and between 0.4m and 0.5m per year for eats area of the Jakarta Bay waters. Depositional rates of its sediment between 0.57cm and 1.84cm per a year that are less than subsidence. If there is disruption in the sand sedimentary layer, seabed subsidence for western area of the Jakarta Bay will progressively increase. The development of the Jakarta Bay waters for coastal infrastructures marine geological data and information should be included in order to minimize risks of subsidence impact. Keywords: Characteristic, subsidence, seabed, waters, the Jakarta Bay

    COVER DEPAN

    No full text

    HUBUNGAN VERTIKAL ANTARA KELIMPAHAN FORAMINIFERA DAN KARAKTERISTIK SEDIMEN INTI DI SELAT SUMBA, NUSA TENGGARA TIMUR

    Get PDF
    Data kelimpahan foraminifera dan karakteristik sedimen inti laut dalam digunakan sebagai proksi untuk merekonstruksi iklim, lingkungan, dan oseanografi di masa lalu. Penelitian ini menggunakan sebuah sampel sedimen inti laut dalam (ST-13) sepanjang 173 cm dari Selat Sumba, Nusa Tenggara Timur. Sampel sedimen tersebut diambil dengan menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya VII pada saat Ekspedisi Widya Nusantara (E-WIN) tahun 2016. Sebanyak 22 subsampel sedimen diambil secara vertikal pada setiap interval delapan cm untuk analisa kelimpahan foraminifera, karakteristik fisik sedimen dan kandungan unsur kimianya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara unsur biogenik (kelimpahan foraminifera) terhadap unsur anorganik (karakteristik fisik sedimen dan kandungan unsur kimia) melalui pengujian korelasi Pearson pada piranti lunak XLSTAT. Hasil analisis menunjukkan bahwa nilai korelasi yang tinggi antara kelimpahan foraminifera dengan nilai rata-rata, kemencengan, persentase pasir, Ca, dan Sr (-0,64, 0,72, 0,66, 0,71, dan 0,75). Sedangkan nilai korelasi yang lemah terjadi antara kelimpahan foraminifera terhadap pemilahan, kurtosis, Fe, Ti, dan K (-0,13, 0,43, -0,18, -0,43, dan -0,42). Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa kelimpahan foraminifera mempengaruhi ukuran butir rata-rata, pergeseran distribusi kearah lebih kasar, persentase pasir, dan juga Ca dan Sr sebagai unsur dari cangkang foraminifera tersebut.Kata kunci: Kelimpahan foraminifera, karakteristik sedimen, korelasi Pearson, laut dalam, Selat SumbaData of foraminiferal abundance and deep sea core sediment characteristics are used as proxies to reconstruct climate, environment and oceanography in the past. A study was conducted on deep sea using a 173 cm length core sediment sample (ST-13) from the Sumba Strait, East Nusa Tenggara. This core was carried out from RV Baruna Jaya VIII during the Widya Nusantara (E-WIN) Expedition in 2016. The abundance of foraminifera, physical properties of sediment and chemical content were analyzed from 22 subsamples sediments at every eight cm intervals. The purpose of this study was to determine the relationship between biogenic elements (abundance of foraminifera) to organic elements (physical properties of sediment and chemical content) by Pearson’s correlation with XLSTAT software. The results showed that a strong correlation between foraminiferal abundance with mean, skewness, sand percentages, Ca, and Sr (-0.64, 0.72, 0.66, 0.71, and 0.75). Meanwhile, the weak correlation values occur between foraminiferal abundance and sorting, kurtosis, Fe, Ti, and K (-0.13, 0.43, -0.18, -0.43, and -0.42). It seems that foraminifera abundance affects the mean grain size, changes the distribution to more coarse, the percentage of sand, and also Ca and Sr as its from shell of the foraminifera.Keywords: Foraminifera abundance, sediment characteristics, Pearson’s correlation, deep sea sediment, Sumba Strait

    Front Cover

    No full text

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇