MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
KETERKAITAN PERUBAHAN IKLIM PADA GLASIAL AKHIR - HOLOSEN TERHADAP TINGKAT KEANEKARAGAMAN FORAMINIFERA DI LAUT HALMAHERA
Laut Halmahera terletak pada Western Pacific Warm Pool (WPWP), yaitu pusat konveksi panas di Samudera Pasifik Barat tropis. Laut ini merupakan salah satu jalur masuk Arlindo yang menghubungkan massa air Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia. Sehingga area ini penting untuk rekonstruksi paleoklimat. Peristiwa perubahan glasial akhir-interglasial (Holosen) merupakan peristiwa di masa lalu yang sangat mempengaruhi kondisi Laut Halmahera. Salah satu proksi yang dapat digunakan untuk mencatat perubahan iklim di masa lalu adalah sisa-sisa makhluk hidup, termasuk foraminifera. Perubahan yang terjadi pada foraminifera dapat diamati dari tingkat keanekaragaman, kemelimpahan, dominansi, dan keseragaman. Penelitian dilakukan dengan menggunakan sampel sedimen bor MD10-3339, yang diambil di Laut Halmahera (00o26,67’LS dan 128o50,33’BT) pada kedalaman 1.919 m, dalam survei MONOCIR 2 tahun 2010. Sampel yang digunakan pada rentang 20 cm hingga 1.930 cm dengan interval 60 cm pada tiap sampel, yang dianggap mewakili waktu terjadinya glasial-interglasial. 30 sampel kemudian diamati dan dilakukan analisis secara kuantitatif. Teridentifikasi 52 spesies yang terdiri dari 32 spesies foraminifera bentonik dan 21 spesies foraminifera planktonik. Nilai indeks keanekaragaman, nilai indeks keseragaman, dan indeks dominansi menunjukkan nilai yang fluktuatif sejak glasial-interglasial, dengan nilai rata-rata 1,66; 0,35; dan 0,3. Walaupun tidak menunjukkan pola glasial-interglasial, namun pada sekitar umur 12.519 BP, nilai indeks keanekaragaman dan nilai keseragaman menunjukkan nilai yang lebih rendah dibandingkan dengan nilai yang lain yaitu 1,102 dan 0,26. Sebaliknya, indeks dominansi mencapai nilai tertinggi yaitu 0,55. Selain itu, persentase P. obliqueloculata pada umur ini menjadi sangat dominan yaitu 73,05%. Hal tersebut kemungkinan berkaitan dengan peristiwa Younger Dryas.Kata Kunci : Foraminifera, Younger Dryas, Laut Halmahera.Halmahera Sea lies in the centre of Western Pacific Warm Pool (WPWP), the warmest area in Tropical Pacific Ocean that play a role as center of heat convection. It is also one of the Indonesian throughflow pathways connecting water mass from Pacific Ocean to The Indian Ocean, therefore this area is considered important for climatic reconstruction. Glacial-interglacial cycle is one of the major events in the past that strongly influence the Halmahera Sea. Potential proxies for paleoclimatic reconstruction are including living organisms remain, such as foraminifera. Respond of foraminifera can be observed from their diversity, abundance, dominance, and their evenness. This study was conducted by analizing sediment core MD10-3339, collected from the Halmahera Sea (00o26.67” S, 128o50.33” E) in 1,919 m water depth, during the cruise MONOCIR 2 in 2010. Samples were analized from 20 cm to 1,930 cm at 60 cm intervals. A total of 30 samples were observed and analyzed. 52 species of foraminifera are found, composed of 32 species of benthonic foraminifera and 21 species of planktonic foraminifera. The analyses of diversity index, evenness, and dominance indicate fluctuated values between glacial-interglacial, with averages values are 1.66, 0.35, and 0.3 respectively. Although the values do not indicate glacial-interglacial trend, however, in 12,519 BP diversity index and evenness index showed the lowest number compared to the other ages (1.102 and 0.26, respectively),in contrast the highest dominance index (0.55). Furthermore, at this time, the percentage of Pulleniatina obliquiloculataincrease (73.05%) and become dominant. This occurrence might be related to the Younger Dryas event.Keywords: Foraminifera, Younger Dryas, Halmahera Sea
Hydrodynamics of Palu Bay during the Event of 2018 Palu Earthquake and Tsunami
The devastation of coastal area in Palu Bay few minutes after the September 28th, 2018 Sulawesi earthquake showed high variation of tsunami arrival time as well as the tsunami run-up and inundation. Recent findings showed that both local submarine landslides and the normal-slip components inside the Palu Bay may contribute to the generation of tsunami. However, the fact that the event occurred during high tide, the hydrodynamic characteristics of this narrow bay and their role in the dynamics of the generated of tsunami were unknown. Hydrodynamics simulation (Mike21-flow model) using the latest available bathymetry field data (the 2018 deep water of the Indonesian navy data and 2015 shallow water of the BIG data) was conducted to investigate the variation of sea levels and tidal currents within the bay during the event of earthquake and tsunami or within the first 8 minutes timeframe. Results showed that significant increase of water elevation up to 6 cm and current velocity up to 1 cm/s directed towards the city of Palu were observed that may contribute to the dynamics of the tsunami e.g. the speed of tsunami arrival time and the transformation of tsunami. Therefore, considering that multiple tsunami arrivals were in few minutes after the earthquakes, the hydrodynamics of Palu Bay during the event should also be considered in future tsunami simulation scenarios.Keywords: Palu, Tsunami, Earthquake, Tides, Hydrodynamic Kerusakan kawasan pesisir di Teluk Palu beberapa menit setelah gempa bumi 28 September 2018 menunjukkan variasi yang sangat beragam pada tinggi tsunami, limpasan, waktu tiba dan jarak rendaman. Penemuan terkini memperlihatkan bahwa longsoran bawah laut dan meknisme patahan normal kemungkinan besar berkontribusi pada terjadinya tsunami. Namun, fakta bahwa kejadian tsunami terjadi saat kondisi pasang tinggi, karakteristik hidrodinamika dari teluk yang sempit ini dan perannya dalam tsunami yang terjadi belum diketahui. Simulasi hidrodinamika (Mike 21 – flow model) berdasarkan data batimetri terkini (Dinas hidroosenografi TNI AL dan BIG) menginvestigasi variasi muka air dan arus pasang surut saat kejadian gempa bumi dan tsunami atau dalam kurun waktu 8 menit setelah gempa utama. Hasil simulasi memperlihatkan peningkatan tinggi muka air yang cukup signifikan hingga 6 cm dan kecepatan arus hingga 1 cm/s menuju kota Palu yang dapat berkontribusi pada dinamika tsunami di Teluk Palu (waktu tiba dan transformasi tsunami). Oleh karena itu, dengan mempertimbangkan kedatangan tsunami yang terjadi dalam beberapa menit, hidrodinamika Teluk Palu perlu dipertimbangkan dalam skenario pemodelan tsunami di masa yang akan datang.Kata kunci: Palu, Tsunami, Gempa bumi, Pasut, Hidrodinamik
DISTRIBUSI SPASIAL FORAMINIFERA DI PERAIRAN TELUK CENDERAWASIH, PAPUA BARAT
Sebanyak 20 sampel sedimen dari perairan Teluk Cenderawasih telah digunakan sebagai bahan studi foraminifera, yang bertujuan untuk mengetahui bagaimana sebaran spasial dan struktur komunitas foraminifera di perairan Teluk Cenderawasih. Hasil penelitian menunjukkan komposisi foraminifera planktonik yang terdiri dari 7 Genus dan 13 Spesies sedangkan foraminifera bentonik terdiri dari 57 Genus dan 87 Spesies. Foraminifera planktonik yang paling umum ditemukan karena muncul di seluruh sampel adalah genus Globigerinoides, terutama G. trilobus dan G. ruber. Sedangkan foraminifera bentonik didominasi oleh subordo Rotaliina, dan yang paling banyak ditemukan adalah genus Cibicidiodes dan Lenticulina. Keanekaragaman foraminifera planktonik dan bentonik termasuk dalam kategori tinggi dengan kisaran antara 0.82 – 0.90 (planktonik) dan 0.79 – 0.95 (bentonik). Kemerataan foraminifera planktonik dan bentonik juga termasuk dalam kategori tinggi dengan kisaran antara 0.83 – 0.99 (planktonik) dan 0.82–0.99 (bentonik). Sedangkan untuk dominasi foraminifera planktonik dan bentonik berada dalam kategori rendah dengan kisaran 0.10 – 0.18 (planktonik) dan 0.05 – 0.21 (bentonik). Hal ini menunjukkan bahwa Teluk Cendrawasih meskipun merupakan perairan yang semi tertutup, namun kondisinya masih sangat bagus bagi perkembangan foraminiferaKata Kunci : foraminifera, distribusi spasial, struktur komunitas, dan Teluk Cenderawasih A total of 20 marine sediment samples from Cenderawasih Bay waters have been used for foraminiferal study, . The purpose to describe the spatial distribution and structure of the foraminifera community in the waters of Cenderawasih Bay. The results indicate that marine sediments are composed of 7 genera and 13 species of planktonic foraminifera, and 57 genera and 87 species belong to benthic foraminifera. The most common planktonic foraminifera is Globigerinoides which is found in all location, particularly G. trilobus and G. ruber. Furthermore, benthonic foraminifera is dominated by subordo Rotaliina, particularly genera Cibicidoides and Lenticulina as the most common genera. Diversity of both Planktonic and benthonic foraminifera are categorized as high, the values are between 0.82 and 0.90, and between 0.79 and 0.95 respectively. Planktonic and benthonic foraminiferal evenness are also high with range value between 0.83 and 0.99 (planktonic), and between 0.82 and 0.99 (benthonic). In contrast, dominance of both foraminiferal type are low, between 0.10 and 0.18 for planktonic, and between 0.05 and 0.21 (benthonic).This indicates that despite a semi–enclosed bay, Cendrawasih Bay is still considered as a good environment for foraminiferal community. Keywords: foraminifera, spatial distribution, community structure, and Cenderawasih Bay
Petrophysical Analysis to Determine Reservoir and Source Rocks in Berau Basin, West Papua Waters
Berau Basin is assessed to have same potential in clastic sediments with Mesozoic and Paleozoic ages, where reservoirs and source rocks are similar to productive areas of hydrocarbons in Northwest Shield Australia. This study aims to identify the hydrocarbon prospect zones and potential rocks zones using petrophysical parameters, such as shale volume, porosity, water saturation and permeability. Petrophysical analysis of reservoir and source rock are carried out on three wells located in the Berau Basin, namely DI-1, DI-2 and DI-3 in Kembelangan and Tipuma Formation. Qualitative analysis shows that there are 4 reservoir rock zones and 4 source rock zones from thorough analysis of these three wells. Based on quantitative analysis of DI-1 well, it has an average shale volume (Vsh) 9.253%, effective porosity (PHIE) 20.68%, water saturation (Sw) 93.3% and permeability (k) 55.69 mD. DI-2 well’s average shale volume, effective porosity, water saturation and permeability values are 29.16%, 2.97%, 67.9% and 0.05 mD, respectively. In DI-3 well, average shale volume, effective porosity, water saturation and permeability values are 6.205%, 19.36%, 80.2% and 242.05 mD, respectively. From the reservoir zone of these three wells in Kembelangan Formation, there are no show any hydrocarbon prospect.Keywords: reservoir, source rock, shale volume, porosity, water saturation, permeability, Kembelangan Formation, Tipuma Formation, Berau BasinCekungan Berau diperkirakan memiliki potensi yang sama dengan sedimen klastik yang berumur Mesozoikum dan Palezoikum, di mana reservoar dan batuan induknya memiliki kesebandingan dengan daerah produktif hidrokarbon di Paparan Barat Laut Australia. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi zona prospek hidrokarbon dan zona potensi batuan induk dengan menggunakan parameter petrofisika, yaitu volume shale, porositas, saturasi air dan permeabilitas. Analisis petrofisika batuan reservoar dan batuan induk dilakukan pada tiga sumur bor yang terletak di Cekungan Berau yaitu Sumur DI-1, DI-2 dan DI-3 pada Formasi Kembelangan dan Tipuma. Hasil analisis kualitatif menunjukan terdapat empat zona reservoar dan empat zona batuan induk dari keseluruhan tiga sumur. Berdasarkan analisis kuantitatif, sumur DI-1 memiliki nilai rata-rata volume shale (Vsh) 9,253%, porositas efektif (PHIE) 20,68%, saturasi air (Sw) 93,3% dan permeabilitas (k) 55,69 mD. Pada sumur DI-2, nilai rata-rata volume shale 29,16%, porositas efektif 2,97%, saturasi air 67,9% dan permeabilitas 0,05 mD. Serta pada sumur DI-3, nilai rata-rata volume shale 6,205%, porositas efektif 19,36%, saturasi air 80,2%, dan permeabilitas 242,05 mD. Dari zona reservoar Formasi Kembelangan untuk tiga sumur tersebut, tidak menunjukan adanya prospek hidrokarbon.Kata Kunci: reservoar, batuan induk, petrofisika, volume shale, porositas, saturasi air, permeabilitas, Formasi Kembelangan, Formasi Tipuma, Cekungan Bera
ESTIMASI KEDALAMAN BATUAN DASAR CEKUNGAN JAWA TIMUR UTARA MENGGUNAKAN METODE SOURCE PARAMETER IMAGING DAN ANALISIS SPEKTRUM DATA GEOMAGNET
Studi mengenai cekungan hidrokarbon selalu berkaitan dengan ketebalan sedimen. Ketebalan sedimen merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terbentuknya hidrokarbon. Cekungan Jawa Timur Utara merupakan cekungan terbukti hidrokarbon namun wilayah kerja aktif produksi ataupun eksplorasi hanya tersebar di bagian timur dan selatan dari cekungan tersebut. Studi ini dilakukan untuk melihat adanya area lain pada Cekungan Jawa Timur Utara yang berpotensi mengandung hidrokarbon berdasarkan ketebalan sedimennya dalam hal ini berasosiasi dengan kedalaman batuan dasar. Metode yang digunakan untuk menghitung kedalaman batuan dasar ialah metode Source Parameter Imaging (SPI) dan analisis spektrum menggunakan data anomali magnet total. SPI merupakan metode semi-otomatis perhitungan kedalaman batuan dasar. Akurasi yang dihasilkan mirip dengan metode Euleur Deconvolution, namun metode SPI memiliki keunggulan dalam menghasilkan estimasi kedalaman batuan dasar koheren yang lebih lengkap. Pada Cekungan Jawa Timur Utara ketebalan sedimen menipis ke bagian utara sehingga secara umum wilayah bagian utara kurang potensial untuk terjadinya pembentukan hidrokarbon. Namun di bagian utara P. Kangean terdapat area dengan ketebalan sedimen maksimum 6500 km, area ini diperkirakan memiliki potensi untuk terjadinya pembentukan hidrokarbon.Kata Kunci: Kedalaman batuan dasar, Analisis Spektrum, Geomagnet. The study of hydrocarbon basins is always related to sediment thickness. Sediment thickness is one of the factors that influence the hydrocarbons forming. The North East Java Basin is a proven hydrocarbon basin but either active or exploration working area is only spread in the eastern and southern parts of the basin. This study was conducted to see the existence of other areas in the North East Java Basin that could potentially contain hydrocarbons based on the thickness of the sediment that associated with basement depth. The method used to calculate sediment thickness is the Source Parameter Imaging (SPI) and spectrum analysis methods using total magnetic anomaly data. SPI is a semi-automatic method to calculate basement depth. Result accuracy is similar to that of Euler Deconvolution, however SPI has the advantage of producing a more complete set of coherent solution points. In the North East Java Basin, the sediment thickness is thinning to the northern part of basin, therefore the northern region is less potential for hydrocarbon formation. However, in the northern part of Kangean Island there is an area with a maximum sediment thickness of 6500 km, this area is estimated to have the potential for hydrocarbon formation.Key words: Basement depth, Spectral Analysis, Geomagnet
POTENSI ENERGI GELOMBANG LAUT DI PERAIRAN MENTAWAI
Berdasarkan data sekunder kejadian gelombang signifikan tahunan dan dari hasil pemodelan distribusi gelombang.di perairan Mentawai, tercatat tinggi gelombang di daerah tersebut adalah antara 1,4 – 2,3 meter dengan perioda sekitar 7,8 – 8,3 detik dari 35% total frekuensi kejadian gelombang tahunan. Perhitungan potensi energi gelombang dikaji dengan menggunakan pemodelan yang dirata-ratakan untuk periode sepuluh tahun antara 2006 dan 2015 dengan mempertimbangkan variabilitas tahunan dan musiman. Dari persamaan perhitungan potensi energi gelombang, didapat rata-rata daya gelombang tahunan sekitar 8-16 kW/m dengan daya maksimum 16-20 kW/m di area pantai barat Pulau Siberut (PKST). Sementara perubahan rata-rata bulanan daya gelombang selama 10 tahun (2009-2018) dihitung dengan mengacu dari data satelit AVISO pada koordinat 04o-01o LS dan 98o-101o BT dengan resolusi spasial sebesar 1ox1o dengan data batimetri GEBCO resolusi 1 menit. Dari hasil pemodelan didapat musim timur (Juni-Juli-Agustus) dan musim peralihan ke-2 (September-Oktober-November) mencapai 17 kW/m di perairan Pasakiat Teileleu. Hasil verifikasi model gelombang terhadap data altimetri menunjukkan tingkat korelasi hingga 76,23%.Kata kunci: Tinggi gelombang signifikan (Hs), daya gelombang (P), variabilitas musim, Mentawai. Based on secondary data of significant annual wave events and from the results of wave distribution modeling in the Mentawai waters, recorded wave height in the area is between 1.4 - 2.3 meters with a period of about 7.8 - 8.3 seconds from 35% of the total frequency annual wave events.Calculation of wave energy potential is assessed using averaged modeling for the ten years period between 2006 and 2015 taking into account annual and seasonal variability. From the equation of the calculation of wave energy potential, the average annual wave power is around 8-16 kW / m with a maximum power of 16-20 kW / m in the western coast area of Siberut Island (PKST). While the change in monthly average wave power for 10 years (2009-2018) is calculated by referring to the AVISO satellite data at coordinates 04o-01o S and 98o-101o E with 1ox1o spatial resolution with GEBCO bathymetry data 1 minute resolution. From the modeling results, the east monsoon (Juny-July-August) and the second transition monsoon (September-October-November) reached 17 kW/m in the waters of Pakasiat Teleleu. The results of the verification of the wave model against the altimetry data showed a correlation level of up to 76.23%.Key word: Significant Wave Height (Hs), Wave Power (P), seasonal variability, Mentawai
KARAKTERISTIK ENDAPAN KUARTER DAN KEBERADAAN AIR TANAH BERDASARKAN PENAFSIRAN DATA GEORADAR DI PESISIR PANTAI BARAT DAYA PULAU ROTE
Pulau Rote merupakan pulau bagian selatan wilayah Indonesia yang terbentuk akibat adanya kolisi antara dua lempeng benua antara Australia – Asia, sehingga terjadi pengangkatan yang membentuk daratan hingga saat ini. Formasi batuan yang tersingkap di permukaan bagian timur - selatan Pulau Rote tersusun atas endapan-endapan Kuarter dan Formasi Batuan berumur Kuarter yang terdiri dari Endapan Aluvium dan Endapan Pantai (Qa), Endapan Konglomerat (Qac), Batugamping Koral (Ql), Formasi Noele (Qtn). Tujuan penelitian ini adalah untuk memberikan gambaran kondisi endapan kuarter bawah permukaan dan kemunginan keberadaan air tanah. Survei ini menggunakan peralatan Ground Peneterating Radar (GPR) tipe Sirveyor 20, antenna (MLF) frekuensi 40 MHz dan software Radan 5 untuk pemrosesan data. Hasil identifikasi fasies radar menunjukkan bahwa kondisi geologi di bawah permukaan pada kedalaman 15 – 30 meter merupakan batupasir yang dapat disebandingkan dengan Formasi Noele (Qtn). Pada kedalaman 2-15 meter merupakan lapisan yang tersusun atas batugamping bioklastik (batugamping koral) yang dapat disebandingkan dengan Batugamping Koral berumur Kuarter (Ql). Pada kedalaman 0-1 meter merupakan endapan pantai berumur Holosen yang dapat disebandingkan dengan Endapan Alluvium dan Endapan Pantai (Qa). Keberadaan air tanah diperkirakan berada pada lapisan Batugamping Koral dengan kedalaman sekitar 12-15 meter.Kata kunci: Georadar, GPR, endapan Kuarter, Pulau Rote, fasies radarRote Island is the southern part of Indonesia which was formed by two continental plates collision between Australia and Asia plates, so that there will be an uplift that forms the land until now. The Quaternary rock units are well exposed in the east-south part of Rote Island, which are composed of Alluvium and Coastal Deposits (Qa), Conglomerate Deposits (Qac), Coral Limestone (Ql), and Noele Formation (Qtn). This study provides lithological characteristics of quaternary deposit and possibility of ground water presence by using georadar data interpretation. This survey using Sirveyor 20 GPR equipment type with MLF antenna frequency 40 Mhz and Radan 5 as processing software. Result of radar facies identification showed geological condition at 15-30 depth was sandstone that can be compared to the Noele Formation (Qtn). At 2-15 meter depth is a layer composed of bioclastic limestone (coral limestone) which can be compared to Quaternary coral limestone (Ql). At 0-1 meter depth is Holocene deposit that can be compared to Alluvium and Coastal Deposit (Qa). The presence of ground water is estimated to be in the coral limestone layer at 12-15 meter depth.Keywords: Georadar, GPR, Quaternary deposit, Rote Island, radar facie
PENGARUH AIR LAUT TERHADAP KARAKTERISTIK SEDIMEN DI DAERAH TAMBAKHARJO, SEMARANG BARAT
Daerah pesisir utara Kota Semarang merupakan salah satu daerah yang terkena dampak intrusi air laut. Intrusi air laut dapat disebabkan oleh pengambilan air tanah secara berlebihan, dan naiknya muka air laut. Terjadinya intrusi air laut dapat berpengaruh pada kondisi karakteristik sedimen hingga lingkungan. Interaksi antara air laut dan sedimen dapat mempercepat proses kompresibilitas pada sedimen dan dapat mengakibatkan penurunan tanah. Berdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya daerah Semarang yang mengalami intrusi air laut juga mengalami penurunan tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya pengaruh intrusi air laut terhadap karakteristik fisik dan kimia sedimen pada pesisir utara Semarang. Metodologi yang digunakan meliputi pengambilan sampel sedimen pada 4 titik dengan pemboran teknik dan pengambilan sampel air laut di daerah Tambakharjo, Semarang Barat. Sampel sedimen yang telah diambil diuji menggunakan uji XRD, sedangkan sampel air laut diuji menggunakan uji kimia air. Hasil dari pengujian XRD dari sampel sedimen dan uji kimia air laut digunakan untuk melakukan pemodelan interaksi antara air laut dan sedimen. Pemodelan pada penelitian ini adalah pemodelan ekuilibrium menggunakan perangkat lunak Phreeqc 3.4. Hasil pemodelan menunjukkan adanya penurunan volume pada sedimen. Penurunan tersebut disebabkan oleh kecenderungan mineral monmorilonit melepaskan SiO2 saat berada pada air laut. Interaksi sedimen dengan air laut juga menunjukkan perubahan monmorilonit menjadi ilit pada kondisi yang sama.Kata kunci: Intrusi air laut, monmorilonit, ilit, Phreeqc 3.4.North coastal of Semarang city is one of the regions that is affected by seawater intrusion. Seawater intrusion caused by excessive groundwater extraction, both shallow and deep groundwater. Besides being caused by excessive groundwater, seawater intrusion can also occur due to sea-level rise. The appearance of seawater intrusion can affect environmental conditions, such as sediment characteristics. Seawater and sediment interaction can accelerate sediment compressibility and can cause land subsidence. Previous studies in the Semarang area show that seawater intrusion co-occurrence with land subsidence. This study aims to determine the effect of seawater intrusion on physical and chemical characteristics of sediment. The methodology used in this research are included the sediment sampling at 4 points using geotechnical drilling and seawater sampling in Tambakharjo, West Semarang. Sediment samples are analyzed by using the XRD method and seawater samples are analyzed for their chemical compositions. The results of analysis have been used to model the interactions between seawater and sediments. Modeling carried out is an equilibrium model using Phreeqc 3.4 software. Modeling shows a decrease volume in the sediment. The decrease causes by the tendency of montmorillonite to release SiO2 while in seawater. The interaction of sediments with seawater also shows the change of montmorilonite to become illite under the same conditions.Keywords: Seawater intrusion, montmorillonite, illite, Phreeqc 3.