MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
645 research outputs found
Sort by
Variabilitas Bulanan Thermal front di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia 714 (Laut Banda)
Penelitian tentang sebaran spasial thermal front di perairan Indonesia pada dasarnya telah banyak dilakukan. Namun, kajian yang secara khusus menganalisis dinamika thermal front akibat arus sejajar pantai, yang memicu fenomena Ekman pumping, dan arus eddy masih terbatas. Arus sejajar pantai dapat memicu Ekman pumping, sedangkan Ekman pumping dan eddy mesoskal dapat menyebabkan naiknya massa air bersuhu rendah dari lapisan bawah ke permukaan laut. Proses ini memicu pembentukan thermal front, yang banyak ditemukan di Laut Banda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis variabilitas bulanan dinamika thermal front di Laut Banda yang dipengaruhi oleh arus sejajar pantai dan eddy. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Suhu Permukaan Laut (SPL) dari tahun 2006 hingga 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata kejadian thermal front yang terdeteksi adalah sebanyak 1.385 kejadian per bulan berdasarkan jumlah piksel, dan 17 kejadian berdasarkan jumlah poligon. Jumlah maksimum kejadian thermal front terjadi pada bulan Desember (2.416 kejadian), dan jumlah minimum terjadi pada bulan November (883 kejadian). Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa eddy antisiklonik (AE) dan eddy siklonik (CE), terjadi dengan durasi rata-rata 11,419 hari untuk AE dan 11,812 hari untuk CE. Kedua fenomena ini berkaitan dengan penurunan SPL, peningkatan konsentrasi klorofil-a permukaan laut, serta penurunan tinggi muka laut, yang menunjukkan terjadinya
STUDY OF HEAVY METAL LEAD (PB) IN THE NORTHERN WATERS OF BELITUNG REGENCY
Belitung Regency has significant tin potential, spread across the land, rivers, and beaches which have been mined for hundreds of years. However, tin mining activities are indicated to be a source of pollution in the northern region of Belitung Regency. This study aims to determine the distribution of the lead (Pb) concentrations in sediments and water columns in the northern waters of Belitung Regency and to evaluate the seasonal effect, particularly ocean currents, on the distribution patterns. In situ data were collected during the westerly season, including sediment samples, water column samples, and oceanographic parameters such as seawater quality and current measurements. During the easterly season, only sediment samples were obtained. Pb concentrations in sediments and water samples were analyzed at the National Research and Innovation Agency (BRIN) laboratory using the Atomic Absorption Spectrophotometry (AAS) method. The results showed that Pb concentrations in sediment samples ranged from 10.08 to 50.08 mg/kg during the easterly season, and from 10.96 to 60.72 mg/kg during the westerly season. In the water column, Pb concentrations ranged from 0 to 0.05 mg/L during the westerly season. The distribution pattern of Pb in sediments in the easterly season tended to spread offshore, while in the westerly season it is accumulated in the river. These patterns are influenced by seasonal flow variations, geographical location, and sediment grain size. Pb concentrations in sediments are higher in the westerly season compared to the easterly season. This is likely due to increased erosion and surface runoff during the rainy season, which leads to greater deposition of heavy metals in marine sediments
ANALISIS DINAMIKA GARIS PANTAI DI KOTA SIBOLGA TAHUN 1994-2024 MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT MULTITEMPORAL
Perubahan garis pantai merupakan indikator penting dinamika geomorfologi pesisir yang dipengaruhi oleh interaksi antara proses alami dan aktivitas manusia. Kota Sibolga sebagai wilayah pesisir yang mengalami perkembangan perkotaan dan infrastruktur yang semakin pesat memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap fenomena abrasi dan akresi. Akan tetapi, kajian komprehensif terkait laju, pola, dan luasan perubahan garis pantai di wilayah ini masih terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika perubahan garis pantai Kota Sibolga serta mengestimasi luas abrasi dan akresi selama periode 1994–2024. Analisis dilakukan menggunakan citra Landsat multitemporal tahun 1994, 2004, 2014, dan 2024. Ekstraksi garis pantai dilakukan secara otomatis melalui integrasi Modified Normalized Difference Water Index (MNDWI) dan metode Otsu Thresholding pada platform Google Earth Engine. Selanjutnya, perubahan garis pantai dianalisis secara kuantitatif menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS) dengan parameter Net Shoreline Movement (NSM), End Point Rate (EPR), dan Shoreline Change Envelope (SCE). Hasil penelitian menunjukkan bahwa akresi mendominasi dinamika garis pantai Kota Sibolga, mencakup sekitar 85% dari total transek dengan nilai maksimum mencapai 234,72 m, terutama di Kecamatan Sibolga Sambas. Sebaliknya, abrasi hanya teridentifikasi pada sekitar 5,9% transek dengan nilai maksimum −38,79 m, yang terutama terjadi di Kecamatan Sibolga Selatan. Secara keseluruhan, wilayah pesisir Kota Sibolga mengalami penambahan daratan seluas 35,37 ha dan kehilangan daratan sebesar 1,11 ha selama tiga dekade terakhir. Dominasi akresi ini mengindikasikan kuatnya pengaruh faktor antropogenik, khususnya aktivitas reklamasi dan pengembangan kawasan pesisir. Temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam mendukung perencanaan, pengelolaan, dan pengendalian pemanfaatan wilayah pesisir Kota Sibolga secara berkelanjutan
THERMOCLINE WATER TEMPERATURE GRADIENT AT THE INDONESIAN THROUGHFLOW PATHWAYS DURING LAST GLACIAL MAXIMUM (LGM)
This study aims to investigate the strength of the Indonesian Throughflow (ITF) during the Last Glacial Maximum (LGM) in comparison to the Pre-Industrial (PI) at the Makassar Strait, the Molucca Sea, and the Banda Sea, representing the pathways of the ITF. The analysis was performed based on the temperature distribution of the south (S) and north (N) thermocline gradients. Temperature data were obtained from the simulation of the Climate Community System Model, version 4 (CCSM4). The depth of the thermocline layer during the LGM and the PI period exhibits seasonal variability across the S-N stations. At Station 1, 2, and 3, the thermocline depth during the LGM ranges from 49 - 218 m (51 - 251 m), 55 - 250 m (69 - 254 m), and 48 - 238 m (48 - 218 m) in the south (north), respectively. The analysis of seasonal temperature variations in the thermocline layer in the three locations indicates that the ITF was significantly weakened both during the LGM and PI, indicated by the negative S-N Thermocline Water Temperature (TWT) gradient. The result suggests the southern part of each station is predominantly fresher compared to the northern part during these times. Additionally, it implies that the ITF is more robust in the eastern region (Banda Sea) during the LGM compared to the PI. This variation may relate to the intensity of seasonal local winds, mixing processes, and the remote influence of El Niño-like events, which could affect water transport along the pathway of the ITF
KARAKTERISTIK LINGKUNGAN DI PERAIRAN UTARA PULAU AMBON: BESAR BUTIR DAN RASIO UNSUR
Lokasi studi merupakan bagian kecil dari perairan Teluk Piru, yang berada di sebelah utara Pulau Ambon. Metode studi yang dilakukan adalah uji fraksi besar butir sedimen menggunakan metoda Particle Size Analyzer (PSA), uji unsur dalam sedimen menggunakan metode X-ray Fluorescence (XRF) untuk indikasi lingkungan pengendapan yang terjadi di lokasi studi, uji statistik menggunakan multivariat statistik Principal Components Analysis (PCA) untuk membantu menentukan keterkaitan karakteristik sedimen, dan metoda pengamatan kaca preparat (smear slices) secara mikroskopis untuk mengetahui komposisi sedimen dasar laut. Hasil studi menunjukkan bahwa ukuran butir sedimen bervariasi dari lumpur hingga kerikil, dengan dominasi pasir. Pola perubahan lingkungan terlihat seragam antara data indikasi presipitasi (ln Ti/Ca) dengan data indikasi kelimpahan biogenik dalam sedimen (ln K/Ca), tetapi tidak tercermin dalam pola pengaruh daratan (ln K/Ti). Karakteristik lingkungan di lokasi studi terdapat 2 (dua) karakter, yaitu karakteristik satu menunjukan pengaruh daratan (ln K/Ti) tidak terlihat signifikan, dan karakteristik lainnya menunjukkan pengaruh daratan relatif meningkat (ln K/Ti). Penguatan interpretasi pengaruh daratan relatif meningkat terlihat dalam sampel sedimen SAS-51 dan SAS-55, yaitu adanya nilai kelimpahan komposisi komponen lithik dan mineral dalam sedimen yang relatif besar (70-75%) dari pada komposisi biogenik (15-28%)
BEARING CAPACITY AND SETTLEMENT BEHAVIOUR OF COASTAL SOIL FOR THE PLANNED BALONGAN PORT DEVELOPMENT, WEST JAVA
The planned development of Balongan Port in West Java requires a comprehensive geotechnical evaluation to support foundation planning at the proposed site, which is underlain by soft, clay-rich sediments. This study aims to assess the bearing capacity of the subsurface and predict potential settlement behaviour by integrating field and laboratory investigations. Standard Penetration Test (SPT) data from two boreholes, BH-3 (14 m) and BH-4 (18 m), and were complemented by laboratory analyses of soil physical and mechanical properties. The site is primarily composed of high-plasticity clay, known for its low strength, high compressibility, and variable geotechnical characteristics. Calculations based on SPT results yielded allowable loads of 53.1 tons at BH-3 and 39.0 tons at BH-4, respectively, while laboratory analyses indicated significantly higher bearing capacities of 265.9 tons and 884.4 tons, respectively. Settlement predictions based on SPT and laboratory data were 0.61 cm and 2.07 cm, with an estimated 90% consolidation period of about 12.9 years. These findings emphasize the variability and compressibility of the soft clay strata as well as the importance of employing multiple assessment methods. The study provides essential input for foundation planning and highlights the need for integrated geotechnical assessment methods to ensure the safety, reliability, and long-term performance of pile-supported structures at the proposed port site
KOREKSI MISTIE PADA SEISMIK SINGLE CHANNEL MENGGUNAKAN SINGLE BEAM ECHOSOUNDER DI PERAIRAN BINTAN SELATAN
Seismik merupakan metode eksplorasi geologi bawah laut dengan menggunakan penjalaran gelombang akustik sehingga dapat menggambarkan bentuk dan lapisan bawah permukaan dasar laut. Pada pengolahan data seismik, penjalaran gelombang yang merambat dari pengirim menuju penerima akan menghasilkan kedalaman yang berbeda dengan kondisi sebenarnya yang ada di lapangan. Perbedaan kedalaman yang terjadi pada jalur lintasan seimik yang berpotongan biasa disebut mistie. Kesalahan mistie pada data seismik jika tidak diperbaiki, akan menghasilkan bentuk stratigrafi yang salah dan kesalahan pada saat interpretasi data seismik. Penelitian bertujuan menganalisis kedalaman dasar laut yang diperoleh dari single beam echosounder (SBES) dan seismik serta perbedaan kedalaman pada dasar laut di jalur seismik yang berpotongan. Data kedalaman yang diperoleh dari single beam echosounder (SBES) dilakukan koreksi pasang surut dan digunakan sebagai data acuan pada seismik. Data kedalaman yang diolah dilakukan interpolasi dengan menggunakan metode kriging. Hasil kedalaman yang diperoleh pada Perairan Bintan dengan menggunakan single beam echosounder (SBES) didapatkan nilai kedalaman berkisar 1 hingga 27 meter dan pengukuran seismik berkisar 4,5 meter hingga 30 meter. Mistie yang terjadi pada tiap jalur lintasan memiliki nilai lebih dari 1,5 meter. Data kedalaman dari single beam echosounder (SBES) yang telah dilakukan koreksi pasang surut dapat mengatasi mistie pada jalur seismik yang berpotongan.Seismik merupakan metode eksplorasi bawah laut dengan menggunakan penjalaran gelombang sehingga dapat menggambarkan bentuk dan lapisan bawah permukaan laut. Pada pengolahan data seismik, penjalaran gelombang yang merambat dari pengirim menuju penerima akan menghasilkan kedalaman yang berbeda dengan kondisi sebenarnya yang ada di lapang. Perbedaan kedalaman yang terjadi pada jalur lintasan seimik yang berpotongan biasa disebut mistie. Kesalahan mistie pada data seismik jika tidak diperbaiki, akan menghasilkan bentuk stratigrafi yang salah dan kesalahan pada saat interpretasi data seismik. Penelitian bertujuan menganalisis kedalaman dasar laut yang diperoleh dari single beam echosounder dan seismik serta perbedaan kedalaman pada dasar laut di jalur seismik yang berpotongan. Data kedalaman yang diperoleh dari single beam echosounder dilakukan koreksi pasang surut dan digunakan sebagai data acuan pada seismik. Data kedalaman yang diolah dilakukan interpolasi dengan menggunakan metode kriging. Hasil kedalaman yang diperoleh pada Perairan Bintan dengan menggunakan single beam echosounder didapatkan nilai kedalaman berkisar 1 hingga 27 meter dan pengukuran seismik berkisar 4,5 meter hingga 30 meter. Mistie yang terjadi pada tiap jalur lintasan memiliki nilai lebih dari 1,5 meter. Data kedalaman dari single beam echosounder yang telah dilakukan koreksi pasang surut dapat mengatasi mistie pada jalur seismik yang berpotongan
PERBANDINGAN KARAKTERISTIK SEDIMEN PADANG LAMUN DI PERAIRAN AHMAD RHANG MANYANG DAN UJUNG PANCU KABUPATEN ACEH BESAR
Pesisir Aceh memiliki kondisi pantai yang saling memiliki hubungan timbal balik diantaranya ekosistem Bakau (mangrove), lamun dan terumbu karang. Perbandingan karakteristik kondisi sedimen sampai dengan nilai statistik perlu di lakukan di padang lamun perairan Aceh Besar untuk melihat jenis sedimen dan komponen statistik pendukung keberadaan vegetasi lamun. Metode yang digunakan dalam penentuan titik stasiun adalah metode purposive sampling, sedangkan pengambilan sampel menggunakan metode pemboran dan pengambilan data lamun menggunakan metode transek plot. Lokasi penelitian berada di perairan Ahmad Rhang Manyang dan Perairan Ujung Pancu. Nilai statistik pada kedua perairan memiliki kemiripan dari nilai ukuran butiran rata-rata (mz), sorting, skewness dan kurtosis. Secara keseluruhan sedimen perairan memiliki antara 2,4
UPWELLING INFLUENCE ON ENVIRONMENTAL CHANGE AND SEDIMENTATION DYNAMICS FROM TRACE FOSSILS IN THE MOLUCCA SEA: IMPLICATIONS FOR SEDIMENT DATING
Bioturbation, the alteration of sediment layers by organism activities, plays a crucial role in shaping sedimentary environments. This process affects nutrient cycling, sediment stability, and habitat health, particularly in marine ecosystems like the Molucca Sea. Bioturbation can complicate age determination by disrupting the natural layering of sediments and potentially altering chronological records, which challenges the accuracy of dating methods. This study investigates bioturbation patterns and Zr/Rb ratios in sediment cores from the Molucca Sea to better understand past environmental conditions and assess the suitability of these sediments for age determination. Sediment samples were collected using a box corer from BUDEE22-29BC (within the upwelling region) and BUDEE22-57BC (outside the upwelling area). The cores were analyzed using CT scanning to identify bioturbation features, and the Bioturbation Index (BI) was applied to evaluate the intensity and impact of bioturbation on sediment dynamics. The Zr/Rb ratios were determined using an X-ray fluorescence (XRF) spectrometer, providing insights into grain size distribution. The results suggest the potential shifting of the upwelling center (BUDEE22-29BC) and variations in upwelling intensity (BUDEE22-57BC). Although Zr/Rb ratio shows that BUDEE22-29BC is a high-energy environment, as opposed to BUDEE22-57BC, both sites retain chronological integrity, making them suitable for paleoenvironmental and geochronological analysis
MODEL SEBARAN PASIR LAUT DI PERAIRAN UTARA BREBES, JAWA TENGAH BERDASARKAN DATA SEISMIK DAN SAMPEL SEDIMEN PERMUKAAN DASAR LAUT
Paper ini membahas sedimen dasar laut berdasarkan data seismik dan sampel sedimen dasar laut. Pengambilan data yang dilakukan terdiri dari: penentuan posisi, pengukuran kedalaman dasar laut (pemeruman), pengukuran kedalaman bawah dasar laut (seismik), dan pengambilan contoh sedimen dasar laut. Kedalaman dasar laut di Perairan Brebes sangat landai di bawah 12 meter. Berdasarkan hasil analisis besar butir sedimen dasar laut terdiri dari pasir, lanau pasiran, lanau, dan lempung. Sedimen lanau dan lanau pasiran berada pada kedalaman di bawah 12 meter ke arah pantai. Sedimen Pasir di bawah kedalaman 10 meter, dan sedimen lempung di bawah kedalaman 2 meter pada muara sungai. Berdasarkan pola reflektornya diperkirakan sedimen pada Unit 1 ini merupakan sedimen fraksi halus hingga ke bagian paling bawah dari unit ini (bottom Unit 1) dengan kedalaman berkisar antara 35 – 39 meter. ketebalan Unit 2 antara 1 - 22,5 meter dengan dominasi ketebalan berkisar 18 – 20 meter, sedangkan ketebalan Unit 3 Perairan Utara Brebes antara 1 - 35 meter dengan dominan ketebalan berkisar 20 – 25 meter