MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
Not a member yet
    645 research outputs found

    PROVENANS DAN PELAPUKAN SEDIMEN DASAR LAUT PULAU SALAHNAMO DAN PULAU PANDANG, SUMATRA UTARA: ANALISIS MINERALOGI DAN GEOKIMIA

    Full text link
    Studi ini menyelidiki asal usul dan proses pelapukan purba pada sedimen dasar laut di sekitar Pulau Salahnamo dan Pulau Pandang berdasarkan analisis data mineralogi dan geokimia. Sedimen di wilayah ini dicirikan oleh pasir halus hingga sedang, dengan komposisi mineral yang didominasi oleh kuarsa, K-feldspar, plagioklas, muskovit, biotit, fragmen litik vulkanik, dan mineral lempung. Analisis unsur utama dan unsur jejak menunjukkan bahwa sedimen tersebut berasal dari batuan felsik hingga mafik. Indeks pelapukan yang meliputi Indeks Alterasi Kimia, Indeks Alterasi Plagioklas, Indeks Pelapukan Kimia, dan Indeks Variasi Komposisi, secara konsisten mengindikasikan tingkat pelapukan kimia yang rendah di daerah sumber, serta kematangan sedimen yang belum berkembang

    INTRUSI AIR LAUT PADA AKUIFER BEBAS CEKUNGAN AIR TANAH JAKARTA BAGIAN UTARA

    Full text link
    Cekungan Air Tanah (CAT) Jakarta bagian utara yang termasuk kedalam Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta merupakan dataran aluvial dengan wilayah pertumbuhan penduduk dan industri yang sangat pesat. Aktivitas tersebut mengakibatkan pemanfaatan air bersih akan meningkat. Dampak yang ditimbulkan dari pemanfaatan air tanah secara berlebihan adalah adanya pencemaran air tanah berupa intrusi air asin yang dijumpai di daerah yang berbatasan dengan pantai ke dalam air tanah dangkal. Terdapat 4 Satuan yang berada pada geologi daerah penelitian dari tua ke muda yaitu, Formasi Tuff Banten (QTvb), Kipas Alluvium (Qav), Endapan Pematang Pantai (Qbr), dan Alluvium (Qa). Karakteristik air tanah pada daerah penelitian di analisis menggunakan data parameter fisik dan kimia air tanah. Secara umum pola aliran air tanah pada daerah penelitian berarah selatan – utara mengikuti kemiringan lereng. Dari hasil analisis fisik pada daerah penelitian didapatkan nilai Daya Hantar listrik bernilai 196,3 – 5640 μS/cm , untuk total dissolved solid (TDS) bernilai 131 – 3760 mg/L , dan untuk nilai pH bernilai 6,5 – 8,5. Selanjutnya hasil dari analisis kimia laboratorium yang dianalisis dengan menggunakan diagram stiff dan diagram piper, fasies air tanah pada daerah penelitian terdiri dari tigas fasies air tanah, yaitu fasies Ca-HCO3 , Na-HCO3, dan Na-Cl. Tingkat keasinan air tanah berdasarkan perhitungan menurut Revelle (Klasifikasi Simpson (1946) terbagi menjadi air tawar hingga air tawar terkontaminasi tinggi. Penelitian ini menunjukkan adanya persebaran air asin yang terdapat di wilayah lebih dekat dengan garis pantai

    IDENTIFIKASI BIOSTRATIGRAFI DAN PALEOENVIRONMENT PADA SUMUR A CEKUNGAN KUTAI KALIMANTAN TIMUR

    Full text link
    Cekungan Kutai merupakan area penelitian menarik yang kaya sumber daya alam terutama hidrokarbon. Penelitian analisis biostratigrafi ini bertujuan menentukan umur batuan dan lingkungan pengendapan berdasarkan mikrofosil dengan menggunakan palinomorf sebagai indikator utama pada batuan sedien berupa cutting dari sumur pengeboran. Hasil penelitian yang dilakukan di Cekungan kutai menghasilkan bahwa daerah penelitian termasuk kedalam Formasi Balikpapan serta ditindih oleh Formasi Kampungbaru yang secara umum berumur Miosen Tengah hingga Miosen Akhir. Lingkugan pengendapan daerah penelitian merupakan lingkungan pengendapan transisi berupa lower deltaic plain yang mencakup lingkungan berupa mangrove dan backmangrove

    FRONT COVER

    No full text
    FRONT COVE

    HYDROCARBON POTENTIAL OF THE OFFSHORE AKIMEUGAH BASIN FROM MESOZOIC-PALEOZOIC BASED ON GEOLOGICAL AND GEOPHYSICAL ANALYSIS

    Full text link
    Akimeugah Basin is one of the basins with discovery status, however hydrocarbon production has not yet been established. One of potential petroleum play type for further investigation, estimated to contain hydrocarbon reserves in the offshore Akimeugah Basin, is the Mesozoic–Paleozoic sedimentary play, interpreted to have originated from the Australian passive margin. This study aims to analyze geological and geophysical data to delineate the sub-basin pattern and characterize petroleum system elements. The analysis integrates gravity data interpretation, geochemical evaluation of source rocks, and subsurface interpretation based on seismic and well data. Results indicate that source rocks in the Kola-1 well are primarily composed of Type III (gas-prone) and secondarily of Type II (oil/gas-prone) kerogen. Thermal maturity analysis shows that the Woniwogi, Aiduna, and Modio Formations have reached the oil window. Reservoir potential has been identified in the Tipuma Formation (Triassic), Aiduna Formation (Permian), and Modio Dolomite (Devonian–Silurian). Seal rocks consist of regional and intraformational units composed of tight siltstone and shale. Trapping mechanisms in this area include a combination of structural traps such as fault-bounded anticlines and stratigraphic traps represented by sub-unconformities. Identified exploration leads include seven within the Modio Dolomite structural play, six within the Permian Aiduna Sandstone play, and four within the Triassic Tipuma Sandstone play

    BACK COVER

    No full text
    BACK COVE

    Back Cover

    No full text
    Back Cove

    ANALISIS RISIKO MULTI BAHAYA DAN OPSI PENGELOLAAN PESISIR DI KECAMATAN CIDAUN KABUPATEN CIANJUR

    Full text link
    Kecamatan Cidaun, yang terletak di pesisir Cianjur dan berbatasan langsung dengan laut lepas Samudra Hindia, ditetapkan sebagai kawasan rawan tsunami, gelombang pasang, gerakan tanah, dan banjir. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik pesisir, tingkat risiko multi bahaya pesisir, dan opsi pengelolaan pesisir yang tepat untuk pesisir Cidaun. Penelitian ini menggunakan Metode Coastal Hazard Wheels 3.0 yang dapat menganalisa risiko multi bahaya pesisir melalui 6 (enam) indikator yaitu Tata Letak Geologis (Geological Layout), Paparan Gelombang (Wave Exposure), Pasang Surut (Tidal Range), Flora/Fauna, Keseimbangan Sedimen (Sediment Balance), dan Aktivitas Iklim (Storm Climate). Hasil analisa risiko terhadap multi bahaya ini kemudian digunakan sebagai acuan dalam menentukan opsi pengelolaan pesisir yang tepat bagi wilayah Cidaun. Hasil penelitian menunjukkan 8 (delapan) Kode Klasifikasi CHW di pesisir Cidaun, yaitu PL-5, PL-7, R-1, SR-11, SR-13, SR-15, SR-9, dan TSR sehingga opsi pengelolaan pesisir yang tepat dilakukan di wilayah Pesisir Cidaun ialah Coastal Zoning, Groundwater Management, Tsunami warning system, Beach Nourishment, Dune Rehabilitation, Flood Warning System, Coastal Setback, Fluvial Sediment Management, Ecosystem Based Management

    Front Cover

    No full text
    Front Cove

    ACOUSTIC FACIES AROUND THE INTRUSIVE COMPLEX OF SALAHNAMA AND PANDANG ISLANDS, MALACCA STRAIT

    Full text link
    Salahnama and Pandang Islands lie on the main range of the granite province; both islands are located in the Sunda Shelf, Malacca Straits. These islands are composed of intrusive rocks from Berhala. The rock’s existence will offer a significant contribution to the distribution of surface sediments in the surroundings. The sea dynamics and the geometry of the Malacca Strait will also have an impact on the seabed. Apart from that, global factors such as sea level changes will lead to transformation of the depositional environment and subsurface geology in the strait. Geological conditions of the seabed surface and subsurface can be understood and interpreted based on the acoustic characteristics and reflector patterns of a seismic section. Then, based on the acoustic character and reflector pattern, an acoustic facies can be defined. Seismic data measurements have been carried out around Salahnama and Pandang Islands in 2024. Based on the results of the seismic section, the acoustic facies in the study area are classified into 6 (six), which include AF I – AF VI. Seabed morphological features in the form of sand dunes were identified in the first acoustic facies (AF I); this feature is formed due to geometric aspects, surface currents, and bottom current's which may or may not be triggered by tidal vortices. Acoustic Facies II (AF II) is characterized by sandwave or ripple marks formed by strong seabed currents. AF III was formed after the Last Glacial Maximum (LGM) ended and the depositional environment returned to a shallow marine environment, characterized by a transparent pattern in the seismic section. The erosional truncation at the upper boundary of AF IV indicates a change in the depositional environment from shallow marine to coastal or terrestrial environments during the Last Glacial Maximum period. AF V is acoustic bedrock, and AF VI is characterized by a chaotic pattern, which is interpreted as granitic intrusive rocks

    449

    full texts

    645

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    MGI e-Journal System Portal (Marine Geological Institute of Indonesia)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇