Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya: Open Journal Systems
Not a member yet
807 research outputs found
Sort by
Navigating Legal Barriers: The Impact of Foreign Subsidies Regulation on Chinese SOEs in EU Public Procurement
The EU Foreign Subsidies Regulation (FSR), effective from July 2023, aims to create a level playing field in the EU internal market by addressing concerns about non-EU companies gaining unfair advantages through subsidies from their home countries. By granting the European Commission extensive investigative powers, particularly in public procurement and mergers, the FSR aims to ensure fair competition and fill regulatory gaps in the EU’s existing legal framework. However, the regulation’s impact on the participation of non-EU companies in the EU public procurement market remains insufficiently explained. This article examines the impact of the FSR on non-EU companies, focusing on its effects on public procurement, especially case studies from the Commission’s investigations into two Chinese state-owned enterprises (SOEs). It offers a detailed interpretation of the FSR’s rules on foreign subsidies in the context of EU public procurement from both procedural and substantive perspectives. Additionally, the article provides practical recommendations for non-EU companies seeking to navigate the FSR's requirements and minimise its negative impacts while maintaining their participation in EU public procurement markets
Empowering Communities Through Old Oil Wells: Analyzing Legal Frameworks and Policy Gaps in Indonesia
This article examines the relationship between the operation of old oil wells, as governed by Minister of Energy and Mineral Resources Regulation Number 1 of 2008, and the improvement of community welfare, particularly for communities surrounding mining areas. The regulation aims to empower communities by enabling their participation in oil well operations through Village Unit Cooperatives (KUD) and Regionally Owned Business Entities (BUMD). Employing a socio-legal approach, this study conceptualizes law as a functional social institution and investigates its application in three sub-districts in Musi Banyuasin Regency, South Sumatra Province. The findings reveal that the regulation is ineffective due to its complex permit requirements, which are perceived as a significant obstacle by local communities, thereby impeding its objectives. Moreover, the regulation lacks explicit legal provisions to address community welfare by exploiting old oil wells. To address these shortcomings, the study recommends revising the regulation to simplify licensing procedures and include explicit provisions that promote community welfare. Additionally, it emphasizes the need for policy instruments, such as legal assistance, mentoring, technical and non-technical guidance, and continuous supervision, to support community-led mining activities. These measures are essential to ensure that the operation of old oil wells contributes meaningfully to the welfare of local communities, aligning with the regulation's intended goals
Supremasi Sipil Vs. Supremasi Militer: Pejabat Pembantu Presiden Non-Kementerian dalam Bingkai Reformasi Konstitusi
Penelitian ini mengkaji secara kritis Peraturan Presiden No. 137 Tahun 2024 yang memberikan ruang bagi prajurit aktif Tentara Nasional Indonesia untuk menduduki jabatan pembantu Presiden non-kementerian. Analisis dilakukan dengan pendekatan interdisipliner, guna mengidentifikasi ambiguitas hukum yang timbul apabila produk hukum eksekutif tersebut bertentangan dengan Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang TNI dalam ranah normatif dan politik. Penelitian ini menyoroti konflik normatif—ketimpangan hukum—yang muncul berdasarkan prinsip hierarki norma, di mana peraturan presiden seharusnya tunduk pada undang-undang yang lebih tinggi, serta mengungkap potensi reaktivasi peran politik militer yang berpotensi menggoyahkan supremasi sipil dan reformasi militer pasca reformasi. Studi ini juga membandingkan mekanisme judicial review dan praktik pengawasan yudisial di beberapa negara demokratis, termasuk Amerika Serikat, Jerman, Korea Selatan, dan Taiwan. Dalam perbandingan ini, studi kasus seperti putusan Youngstown Sheet & Tube Co. v. Sawyer (1952) digunakan sebagai landasan dalam menegaskan pentingnya peran pengadilan sebagai alat kontrol atas perluasan kekuasaan militer. Perspektif perbandingan ini memperkuat argumentasi bahwa judicial review merupakan instrumen vital untuk menjaga keseimbangan antara kekuasaan sipil dan militer serta menegakkan supremasi konstitusional. Akhirnya, penelitian ini menyimpulkan bahwa keberadaan Perpres No. 137 Tahun 2024 tidak hanya menimbulkan persoalan hukum, melainkan juga mengindikasikan pergeseran paradigma politik hukum yang berisiko mengembalikan elemen-elemen otoritarianisme melalui legalisasi supremasi eksekutif. Oleh karena itu, penegakan hierarki peraturan perundang-undangan melalui intervensi yudisial dinilai krusial untuk memastikan bahwa setiap inovasi hukum terkait hubungan sipil-militer tetap sejalan dengan prinsip negara hukum demokratis dan semangat reformasi
Countervailing Duties on Transnational Subsidies: WTO Review of the EU Case Against Indonesian Stainless Steel
Transnational subsidies are financial assistance provided by a country to industries operating in another country in order to increase trade on a global scale. Transnational subsidies are used frequently in practical cooperation between countries. However, since the European Union imposed countervailing duties on products from Egypt and subsequently on Indonesian stainless-steel products, the concept of transnational subsidies has given rise to debate regarding subsidy regulations in international trade law. This research is aimed at analyzing the existence of transnational subsidy regulations under WTO regulations and the validity of applying the European Union's compensation import duty burden to stainless steel products from Indonesia which are suspected of receiving financial assistance from China through a cooperation project between the Chinese-Indonesian government. This research is research normative juridical which uses statutory, conceptual, case and philosophical approaches. The research results show that the transnational subsidy provisions regulated in the EU FSR are in accordance with the aim of prohibiting subsidies in international trade but are not recognized in the provisions of the SCM Agreement and GATT 1994
PERAN LEMBAGA PEMBINAAN KHUSUS ANAK KLAS I PALEMBANG DALAM PEMBINAAN PIDANA NAROKTIKA ANAK
Kajian ini berfokus pada banyaknya kasus kejahatan yang dilakukan oleh anak yang tidak mendapat bimbingan hukum secara maksimal. Penelitian yang dilakuakn akan membahas program men-toring yangberjalan, faktor- faktor apa yang merupakan penghambat program mentoring, serta bagaimana setting ideal yang dapat membuat program mentoring berjalan maksimal. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa program pembinaan peserta didik pemasyarakatan tindak pidana narkoba di Lembaga Pembinaan Khusus Anak Tingkat 1 Kota Palembang tidak berbeda dengan tindak pidana lainnya. Kem-dudian, didapatkan juga didalam hasil penelitian bahwa terdapat empat faktor yang menjadi penghambat program pembinaan peserta didik pemasyarakatan, yaitu faktor peraturan (hukum), faktor sarana dan prasarana, faktor perlengkapan peserta didik pemasyarakatan, dan faktor pribadi. Dalam rangka me-maksimalkan rencana pembinaan peserta didik pemasyarakatan, terdapat beberapa poin pengaturan yang ideal yaitu membedakan tindak pidana sesuai dengan golongannya, program yang didasarkan atas kepent-ingan yang dimiliki anak, keberadaan tenaga kesehatan jiwa dan terbitnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2022
RIGHTS AND POLICIES FOR WOMEN TO BE PROTECTED FROM SEXUAL VIOLENCE IN OBTAINING EDUCATION AT UNIVERSITIES
Based on data from the National Commission on Violence Against Women in 2020, of the total cases of violence in the educational environment, 88% were cases of sexual violence. Higher education is the level of education with the highest percentage of sexual violence incidents, namely 35%. Women are the gender that is more often the victim of sexual violence, while based on human rights, women and men should have equal opportunities to get an education. To provide equal educational opportunities, Regulation of the Ministry of Edication, Culture, Research, and Technology of Indonesia (Permendikbudristek) number 30 of 2021 has been formed which regulates the prevention and handling of sexual violence, called PPKS in the higher education environment with the implementation of the formation of the PPKS Task Force (Satgas PPKS). However, this does not directly eliminate cases of sexual violence that occur in universities, in fact, until now there are still cases of sexual violence in various universities. Women are still easy targets for sexual violence. This study aims to identify the causes and problems of sexual violence against women and how to create appropriate policies in the educational environment so that it is safe and comfortable so that women no longer have a sense of worry. This study uses qualitative research methods to gain an in-depth and comprehensive understanding of acts of sexual violence and the formulation of appropriate policies in certain higher education environments related to the creation of a safe and comfortable educational environment
PENYELESAIAN SENGKETA TANAH FASILITAS UMUM
Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis pertimbangan hukum hakim dalam penyelesaian sengketa hak di atas tanah fasilitas umum berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Sibolga No. 20/Pdt.G/2013/PN.SBG. dan menganalisis akibat hukum yang ditimbulkan dari amar putusan hakim. Metode penelitian ini menggunakan penelitian hukum yuridis normatif serta menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil penelitian ini menerangkan bahwa sertipikat hak milik nomor 65 tahun 1987 milik penggugat mendapatkan pengurangan luas tanah yang semula 280 m² menjadi 266 m² Pihak tergugat II yang melakukan pengurangan luas tanah milik penggugat beralasan bahwa sesuai aturan yang berlaku tidak diperbolehkan memiliki tanah dan ataupun mendirikan bangunan di dekat bibir sungai/tanggul sungai. Kemudian tanpa persetujuan dari penggugat pihak tergugat I telah mendirikan bangunan dan memagari di atas tanah yang seharusnya milik penggugat. Pertimbangan hakim dalam perkara ini bahwa tergugat I dan tergugat II dalam jawabannya telah menyangkal gugatan dari penggugat seperti gugatan kabur dengan alasan penggugat tidak menyebutkan secara rinci ukuran tanah yang di sengketakan, namun menurut majelis hakim dalam gugatannya penggugat sudah menjelaskan secara rinci ukuran tanah yang dimaksud. Hakim mengabulkan sebahagian dari gugatan penggugat dan menghukum tergugat I dan II untuk membayar biaya yang timbul dalam perkara serta menyerahkan tanah terperkara
Community Participation in Supervising Village Financial Management
Formulasi hak masyarakat dalam pengawasan pengelolaan keuangan desa dapat ditemukan dalam 2 (dua) pengaturan yaitu Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa dan diatur secara spesifik dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2020 tentang Pengawasan Pengelolaan Keuangan Desa. Hak masyarakat dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2020 merupakan hak informasi publik. Oleh karena itu, diatur lebih lanjut dalam Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Permasalahan dalam karya tulis ilmiah ini ialah : 1.) Bagaimana formulasi hak masyarakat dalam partisipasi pengawasan pengelolaan keuangan desa ?, 2.) Bagaimana upaya hukum yang dapat dilakukan masyarakat jika hak partisipasi pengawasan pengelolaan keuangan desa tidak dipenuhi oleh pemerintah desa ?. Penelitian ini merupakan penelitian normatif dengan menggunakan pendekatan perundang-undangan dan pendekatan konseptual. Hasil dari penelitian ini ialah : 1.) Formulasi hak masyarakat dalam pengawasan pengelolaan keuangan desa diatur secara spesifik dalam Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2020 tentang Pengawasan Pengelolaan Keuangan Desa yang meliputi hak masyarakat dalam pengawasan : a.) APB Desa, b.) Pelaksana kegiatan anggaran dan tim yang melaksanakan kegiatan, c.) Realisasi APB Desa, d.) Realisasi kegiatan, e.) Kegiatan yang belum selesai atau tidak terlaksana, dan f.) Sisa anggaran. 2.) Upaya hukum yang dapat dilakukan masyarakat desa dalam pengawasan pengelolaan keuangan desa terdapat 2 (dua) pengaturan yaitu : a.) Upaya hukum berdasarkan Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dan b.) Upaya hukum berdasarkan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2020 tentang Pengawasan Pengelolaan Keuangan Desa
Gugatan Citizen Lawsuit dalam Perkara Lingkungan Hidup di Indonesia: Eksistensi dan Perkembangan
Citizen Lawsuit is a mechanism for citizen-initiated legal actions that has developed within the common law legal system, which is currently widely adopted by countries with civil law legal systems. Citizen Lawsuit (CLS) has been recognized in the judicial system of Indonesia since the first ruling, Case Number 28/PDT.G/2003/PN.JKT.PST, within the scope of general jurisdiction. The existence of Citizen Lawsuit in environmental law became apparent following the issuance of Chief Justice Decree Number 36/KMA/SK/II/2013 concerning guidelines for handling environmental cases. This research delves into the evolution and implementation of Citizen Lawsuit in Indonesia, along with an analysis of the rulings related to Citizen Lawsuit, specifically the judgments from the District Court of Samarinda, Case Number 55/PDT.G/2013/PN.SMDA, and the District Court of Central Jakarta, Case Number 374/PDT.G/LH/2019/PN JKT. PST. The study aims to explore the constraints related to the competence of the judiciary and fundamental differences in handling CLS environmental cases in Indonesia following the enactment of Supreme Court Regulation Number 1 of 2023 on Guidelines for Adjudicating Environmental Cases. It also seeks to analyse the rulings that have revitalized the existence of CLS. The research method employed in this study is a juridical-normative approac
Menelisik Kedaulatan Indonesia di Kepulauan Natuna: Tinjauan dalam Perspektif Hukum Internasional dan Hukum Nasional
Indonesia dan Republik Rakyat Tiongkok (RRT) telah terlibat sengketa kedaulatan maritim atas Laut Natuna Utara sejak beberapa tahun lalu. Perselisihan tersebut berpusat pada persaingan klaim atas wilayah di Laut Cina Selatan, mencakup Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) Indonesia di sekitar Kepulauan Natuna (ditunjukkan di sini sebagai serangkaian garis putus-putus yang menciptakan huruf "U"). Indonesia telah lama mengklaim kedaulatan atas Kepulauan Natuna dan ZEE-nya sesuai dengan hukum internasional, khususnya UNCLOS 1982 yang sudah diratifikasi Indonesia melalui UU No. 17 Tahun 1985. Akan tetapi, Tiongkok juga memiliki klaimnya sendiri yang tumpang tindih di kawasan tersebut berlandaskan peta wilayah mereka yang disebut Nine Dash Line. Sengketa yang tak kunjung usai sebab bersikerasnya pihak Tiongkok pada klaimnya ini telah memunculkan ketegangan dan problematika di antara kedua negara alhasil menyebabkan krisis di Laut Natuna Utara pada khususnya dan Laut Cina Selatan pada umumnya belum menemukan titik terang. Penelitian ini tujuannya melaksanakan analisis hak dan kewajiban negara dalam upaya penyelesaian sengketa dan mekanisme penegakan hukum dari perspektif hukum internasional dan hukum nasional dengan memakai metode pendekatan yuridis normatif untuk memecahkan masalah dengan meneliti data sekunder berupa perundang-undangan, buku-buku serta dokumen-dokumen terkait. Hasil penelitian memperlihatkan pemerintahan Indonesia telah mempertahankan kepentingan nasional dengan menjaga kedaulatan dan stabilitas regional di kawasan Laut Natuna Utara dengan pengerahan kekuatan militer serta berupaya menyelesaikan sengketa melalui jalan damai berupa diplomasi preventif dan persistent objection. Indonesia and the People's Republic of China (PRC) have been involved in a maritime sovereignty dispute over the North Natuna Sea for several years. The dispute centers on competing claims to territory in the South China Sea, including Indonesia's Exclusive Economic Zone (EEZ) around the Natuna Islands (shown here as a dashed lines creating the letter "U"). Indonesia has long claimed sovereignty over the Natuna Islands and its EEZ in accordance with international law, especially UNCLOS 1982 which Indonesia has ratified through Law Number 17 of 1985. However, China also has its own overlapping claims in the area based on their territorial map called Nine Dash Line. This ongoing dispute due to China’s insistence on its claims has given rise to tensions and problems between the two countries, causing the crisis in the North Natuna Sea in particular and the South China Sea in general which has yet to find a solution. This research aims to analyze the rights and obligations of the state in dispute resolution efforts and law enforcement mechanisms from the perspective of international law and national law using a normative juridical approach to solving problems by examining secondary data in the form of legislation, books and related documents. The research results show that the Indonesian government has upheld national interests by maintaining regional sovereignty and stability in the North Natuna Sea area by deploying military force and trying to resolve disputes through peaceful such as preventive diplomacy and persistent objection