Journal Online Kota Madiun
Not a member yet
1179 research outputs found
Sort by
Peningkatan Kemampuan Mengidentifikasi Unsur Kebahasaan Kalimat Declarative, Interrogative, Simple Present Tense Pada Mata Pelajaran Bahasa Inggris Melalui Model Pembelajaran Examples Non Examples Siswa Kelas VII D SMP Negeri 1 Pringkuku
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa kemampuan siswa dalam bidang Bahasa Inggris khususnya pada kompetensi dasar Mengidentifikasi fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks interaksi transaksional lisan dan tulis sangat rendah, yakni 50,00% dari jumlah siswa memiliki nilai di bawah standar ketuntasan dengan nilai rerata yang dicapai 59,38. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Examples Non Examples, diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa memahami konsep Mengidentifikasi fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks interaksi transaksional lisan dan tulis. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 40 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrument tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan Mengidentifikasi fungsi sosial, struktur teks, dan unsur kebahasaan teks interaksi transaksional lisan dan tulis melalui metode Examples Non Examples pada siswa Kelas VII D, SMP Negeri 1 Pringkuku Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019. Peranan model pembelajaran Examples Non Examples dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Inggris ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score), yakni : siklus I 71,25; siklus II 76,25; dan siklus III 78,03. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan prosentasi ketuntasan belajar, yaitu pada siklus I 64,28%, siklus II 75,00%, siklus III terjadi peningkatan mencapai 96,42%
Upaya Meningkatkan Pembelajaran Tematik Melalui Model Pembelajaran Direct Instruction Pada Siswa Kelas Ii SDN 01 Mojorejo Kota Madiun Tahun Pelajaran 2017/2018.
Hambatan pembelajaran tematik sering dirasakan oleh siswa sekolah dasar, sehingga banyak siswa yang kurang menyenangi pelajaran pembelajaran tematik karena dianggap sulit. Kesulitan belajar yang banyak dirasakan siswa dalam pembelajaran tematik harus segera dicarikan solusi yang tepat agar tidak menjadi beban siswa dan mampu mengangkat prestasi hasil belajar siswa Kelas II khususnya, sehingga mampu meningkatkan hasil belajar yang tercermin dalam perolehan nilai evaluasi yang tinggi. Dalam kaitannya dengan hasil belajar sebagai salah satu produktivitas atau prestasi intelektual kehadiran bahan bacaan yang mengarah terhadap pembentukan prestasi sangat dibutuhkan, baik itu dalam bentuk cerita bergambar maupun cerita dalam majalah anak-anak, latihan (pembelajaran tematik) yang terdapat di dalamnya secara tidak langsung akan mempengaruhi tingkat keberhasilan anak apalagi ditunjang dengan adanya buku-buku paket pelajaran dan buku latihan yang cukup banyak. Latihan mandiri berpengaruh terhadap hasil belajar siswa Kelas II SDN 01 Mojorejo Kota Madiun. Semakin tinggi frekuensi latihan mandiri yang diberikan oleh guru dan orang tua, maka semakin kuat kemampuan latihan mandiri dapat dipraktekkan oleh siswa, sehingga akan meningkatkan hasil belajar siswa. Demikian juga dengan koleksi bahan bacaan juga berpengaruh terhadap hasil belajar siswa Kelas II dalam pembelajaran tematik. Semakin lengkap koleksi bahan bacaan pembelajaran tematik, maka semakin tinggi hasil belajar yang diperoleh siswa. Hal ini terbukti pada siklus I rata nilai yang diperoleh 74,00 meningkat pada siklus II 89,00
Peningkatan Semangat Kerja Guru Melalui Supervisi Komunikasi Administrasi Oleh Kepala Sekolah Di SDN 1 Siman Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo
Sering dijumpai adanya guru yang kurang bersemangat dalam bekerja meskipun kebutuhan hidupnya, yang berupa gaji yang tinggi sudah dipenuhi. Hal ini disebabkan karena pihak sekolah kurang memperhatikan kebutuhan sosial psikologis para guru. Kebutuhan sosial psikologis ini bisa berupa komunikasi yang baik antara peneliti dengan kepala guru, guru dengan kepala sekolah selaku pimpinan lembaga pendidikan. Sebagai upaya membantu memecahkan masalah tersebut, maka peneliti menawarkan suatu bentuk supervisi komunikasi administrasi. Hasil dari pelaksanaan supervisi komunikasi administrasi ini ditengarai menjadikan situasi sekolah menjadi lebih kondusif apalagi jika didukung adanya lingkungan kerja yang memadai. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam 3 siklus. Tiap siklus melalui penatahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan semangat kerja guru SDN 1 Siman Kecamatan Siman Kabupaten Ponorogo melalui Supervisi Komunikasi Administrasi pada Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019. Kenyataan membuktikan bahwa penggunaan komunikasi administrasi dapat meningkatkan semangat kerja guru, karena komunikasi administrasi mampu memperjelas tugas guru dalam melaksanakan manajemen sekolah yang akan selalu dikembangkan guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Peranan komunikasi administrasi dalam meningkatkan semangat kerja guru dasar ini ditandai terjadinya peningkatan skor hasil angket berupa kenaikan nilai rerata (Mean), mulai siklus pertama sampai siklus ketiga atau putaran terakhir; yaitu : pada siklus I nilai rerata mencapai 107,6; siklus II nilai rerata mencapai 127,7 berarti terjadi peningkatan sebesar 20,1; siklus III yang merupakan siklus terakhir nilai rerata yang dicapai sebesar 160,6 di sini terjadi peningkatan yang sangat berarti yakni 32,9. Selain ditandai adanya peningkatan mean skor adanya peningkatan semangat kerja guru melalui komunikasi administrasi juga ditandai adanya peningkatan persentase kategori tinggi terhadap semangat kerja guru sekolah dasar dalam melaksanakan tugasnya, yaitu pada siklus I sebesar 0%, siklus II sebesar 28,57% dan akhirnya pada siklus III sebesar 57,14%
Peningkatan Hasil Belajar Pendidikan Kewarganegaraan Tentang Proses Perumusan Pancasila Melalui Penerapan Metode Belajar Pintar Siswa Kelas VI SDN 2 Karanggebang Kecamatan Jetis
Data yang diperoleh dari daftar nilai diketahui bahwa minat belajar Pendidikan Kewarganegaraan sangat rendah, sekitar 70% mendapat nilai dibawah 75. Hal ini ditengarai karena metode pembelajaran yang kurang bervariasi, model pembelajaran yang konvensional dan rendahnya motivasi belajar terhadap mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan karena kurang melibatkan siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Belajar PINTAR dengan harapan minimal 75% dari jumlah siswa memahami konsep Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara dan memenuhi standar ketuntasan minimal 75%. Penelitian tindakan kelas ini dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrumen tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan kompetensi dasar Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara melalui Penerapan Metode Belajar PINTAR pada siswa Kelas VI SDN 2 Karanggebang Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo Semester I Tahun Pelajaran 2016/2017. Peranan Model Pembelajaran Belajar PINTAR dalam meningkatkan hasil belajar Pendidikan Kewarganegaraan materi ajar Mendeskripsikan nilai-nilai juang dalam proses perumusan Pancasila sebagai dasar negara ini ditandai adanya peningkatan mean score, yakni : pada siklus I 73,33; siklus II 78,33; dan siklus III 86,67. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar, yaitu pada siklus I 50,00%, siklus II menjadi 83,33%, pada siklus III terjadi peningkatan mencapai 100%
Peningkatan Kemampuan Guru Dalam Memanfaatkan Lingkungan Sekolah Sebagai Sumber Belajar Melalui Diskusi MGMP Di SMK Negeri Bandar Kabupaten Pacitan
Dari hasil pantauan calon peneliti selaku kepala sekolah, selama ini para guru di SMK Negeri Bandar Kabupaten Pacitan, sangat jarang dan bahkan tidak pernah memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Penelitian tindakan sekolah ini dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dan untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan pelaksanaan diskusi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) terhadap peningkatan kemampuan guru dalam memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Penelitian ini dirancang dalam bentuk Penelitian Tindakan Sekolah yang direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus,dimana setiap siklusnya dilaksanakan dalam dua sampai tiga kali pertemuan. Adapun subyek penelitian ini adalah guru-guru di SMK Negeri Bandar Kabupaten Pacitan yang terdiri dari 8 orang guru. Pelaksanaan penelitian ini diawali dengan pengumpulan data dengan menggunakan format observasi,instrumen penilaian skenario pembelajaran dan instrumen penilaian pelaksanaan pembelajaran. Selanjutnya data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis diskriptif yang hasilnya adalah sebagai berikut : Pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh dari sikap guru berdiskusi adalah 79,38 katagori”cukup,sedangkan pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh adalah 84,88, katagori “baik”,nilai rata-rata yang diperoleh dari penilaian skenario pembelajaran pada siklus I yaitu 78,75 katagori “cukup” sedangkan pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh adalah 82,50, nilai rata-rata yang diperoleh dari penilaian pelaksanaan pembelajaran pada siklus I yaitu 78,33 katagori “cukup”, sedangkan pada siklus II nilai rata-rata yang diperoleh adalah 82,08 katagori “baik”.Melihat nilai rata-rata yang diperoleh dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa dari siklus I ke siklus II , terjadi peningkatan nilai rata-rata yang diperoleh dari masing-masing komponen yang di observasi maupun yang dinilai, yang berarti pembinaan dan bimbingan melalui pendekatan diskusi kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran dapat meningkatkan kemampuan guru dalam pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar. Berdasarkan keberhasilan tersebut di atas disarankan kepada guru-guru di SMK Negeri Bandar Kabupaten Pacitan agar lebih mengoptimalkan pemanfaatan lingkungan sekolah sebagai sumber belajar dengan memperbanyak variasi metode pembelajaran dalam penyusunan skenario pembelajaran maupun dalam pelaksanaan pembelajaran. 
Peningkatan Kemampuan Profesional Guru Melalui Supervisi Akademik Teknik Individual Conference (IC) Di SDN 3 Wonokarto Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan
Kenyataan yang terjadi di lapangan khususnya di SDN 3 Wonokarto Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan meskipun pemerintah melalu Kementerian Pendidikan Nasional telah berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui berbagai program antara lain penataran-penataran, penyempurnaan kurikulum, pengadaan sarana prasarana dan alat belajar, peningkatan manajemen sekolah, dan sebagainya. Namun demikian upaya-upaya tersebut kurang mempunyai dampak yang nyata dalam kegatan pembelajaran di kelas apabila tidak diikuti dengan pembinaan profesional bagi para guru. Sebagai upaya membantu memecahkan masalah tersebut, maka peneliti menawarkan suatu bentuk supervisi dengan teknik Individual Conference (IC). Hasil dari pelaksanaan IC ini ditengarai dapat dijadikan pedoman bagi kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dalam membina guru dan tenaga kependidikan di sekolah agar dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya secara nyata. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam 4 siklus. Tiap siklus melalui pentahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mendeskripsikan peranan supervisi teknik IC dalam upaya meningkatkan kemampuan profesional para guru, 2) Memberikan arahan atau pedoman bagi kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya sebagai supervisor sekolah dalam membina guru dan staf sekolah agar dapat meningkatkan kemampuan dan profesinya secara berdaya guna dan berhasil guna. Hasil penelitian ini adalah adanya peningkatan kemampuan profesional guru SDN 3 Wonokarto Kecamatan Ngadirojo Kabupaten Pacitan melalui penerapan supevisi akademik teknik IC. Hal ini ditandai adanya peningkatan kategori kemampuan profesional guru dalam setiap siklusnya yaitu pada siklus I berada pada kategori kurang dan pada siklus terakhir meningkat dan berada pada kategori tinggi
Peningkatan Kompetensi Guru Melalui Pendidikan Dan Pelatihan TIK Dalam Mengelola Administrasi Dan Proses Pembelajaran Di Kelas SD Negeri Kotakulon 2 Kecamatan Bondowoso Kabupaten Bondowoso Tahun Pelajaran 2018/2019
Hasil penelitian peningkatan kemampuan guru dalam merencanakan pembelajaran setelah pelaksanaan pendidikan dan pelatihan di SDN Kotakulon 2 Bondowoso yaitu pada kondisi awal guru yang memperoleh Nilai kurang berjumlah 20%, sedangkan pada akhir siklus II tidak ada. Responden yang memperoleh Nilai cukup pada kondisi awal 80%, maka pada akhir siklus II menjadi tidak ada. Sebaliknya pada kondisi awal yang memperoleh Nilai baik dan sangat baik tidak ada, sedangkan pada akhir siklus II yang memperoleh Nilai baik 80% dan Nilai sangat baik 20%. Hasil penelitian kemampuan guru-guru melaksanakan pembelajaran mengalami peningkatan pada setiap siklus. Padapra tindakan tampak bahwa sebanyak 80% guru memiliki kemampuan kurang dan 20% cukup, sedangkan pada siklus I dan siklus II tidak ada. Sebaliknya pada siklus II, 20% memiliki kemampuan sangat baik, dan 80% memiliki kemampuan baik.Melalui tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan evaluasi serta tindakan perbaikan yang dilaksanakan menunjukkan adanya peningkatan aktifitas siswa dalam bertanya, berpendapat dan mengerjakan tugas sehingga hasil yang diharapkan dapat tercapai secara maksimal
Peningkatan Prestasi Belajar Dan Keaktifan Siswa Kelas XI IPS-3 SMA Negeri 1 Trenggalek Dengan Menggunakan Strategi Pembelajaran Problem Based Introduction Pada Pelajaran PPKn Materi Dinamika Demokrasi Di Indonesia Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2018/201
Siswa kelas XI IPS-3 menganggap mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan merupakan pelajaran yang tidak begitu penting. Semangat belajar siswa juga menurun ketika harus mempelajari materi tentang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan. Banyak siswa yang terlihat mengantuk ketika guru menjelaskan materi di depan kelas. Hal itu disebabkan karena guru terlalu mendominasi kelas tanpa ada hubungan timbal balik yang sepadan. Siswa menjadi tidak aktif dalam proses belajar mengajar di kelas. Hal tersebut berpengaruh pada prestasi belajar siswa di mana hanya ada 19 orang siswa dari 34 siswa yang mampu tuntas KKM. Peneliti melihat diperlukannya sebuah penelitian untuk meningkatkan prestasi belajar siswa. Peneliti memilih sebuah strategi pembelajaran Problem Based Intruduction. Strategi pembelajaran Problem Based Introduction merupakan strategi Strategi Problem Based Introduction adalah merupakan model pembelajaran yang menekankan masalah kehidupannya yang bermakna bagi siswa dan peran guru dalam menyajikan masalah, mengajukan pertanyaan dan memfasilitasi penyelidikan dan dialog. Keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dari peningkatan keaktifan belajar kategori A dan kategori B sebesar 75%. Total jumlah peningkatan nilai pada klasifikasi A (sangat baik) dan B (baik) pada siklus kedua adalah 79%. Hasil tersebut dikatakan berhasil karena sudah melebihi indikator keberhasilan penelitian sebesar 75%. Keberhasilan penelitian ini dapat dilihat dari peningkatan prestasi belajar siswa hingga 75% dengan nilai KKM minimal 82. Hasil peningkatan dapat terlihat dari data sebagai berikut: prasiklus 55,9%; siklus pertama 64,7%; siklus kedua85,3%. Hasil tersebut dikatakan berhasil karena sudah melebihi indikator keberhasilan penelitian sebesar 75%
Peran Pembelajaran Writing Activities Learning Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Hasil Prestasi Belajar Siswa Ilmu Pengetahuan Alam/IPA Pada Siswa Kelas XII-IPA-2 Semester Ganjil Di SMA Negeri 1 Kawedanan Magetan, Kabupaten Magetan Tahun Pelajaran 2019/20
Pada siklus I menunjukkan nilai rata-rata yang dicapai 68,65 (69%) dari 29 siswa. Sedangkan siswa yang tuntas belajar sebanyak 22 siswa dengan rata-rata sebesar 64,71 (65%) dan siswa tidak tuntas sebanyak 12 siswa dengan rata-rata sebesar 35,0 (35%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada siklus I menurut kurikulum KTSP ini dimana standart ketuntasan minimun (KKM) yang ditetapkan sebesar 75 (75%) dengan nilai rata-rata 68,65 (69%), maka perlu diadakan penelitian pada siklus II. Pada siklus II menunjukkan nilai rata-rata yang dicapai 72,85 (73%) dari 29 siswa. Sedangkan siswa yang tuntas belajar sebanyak 32 siswa dengan rata-rata sebesar 94,12 (94%) dan yang tidak tuntas sebanyak 2 siswa dengan rata-rata sebesar 5,88 (6%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada siklus II menurut kurikulum KTSP ini dimana standart ketuntasan minimum (KKM) yang ditetapkan sebesar 75 (75%) dengan nilai rata-rata sebesar 72,85 tingkat ketuntasan 73%. Maka perlu diadakan penelitian pada siklus III. Pada siklus III menunjukkan nilai rata-rata yang dicapai 92,38 (92%) dari 33 siswa. Sedangkan siswa yang tuntas belajar sebanyak 29 siswa dengan tingkat prosentase 100%. Dan yang tidak tuntas sebanyak 0 (0%). Sehingga dapat disimpulkan bahwa pada siklus 3 ini menurut kurikulum KTSP dalam standart ketuntasan minimum yang ditetapkan 75 dengan nilai rata-rata 92,38 tingkat ketuntasan 92% yang dapat dicapai. Sehingga hal ini melebihi tingkat ketuntasan yang telah ditetapkan. Maka penelitian ini dapat dinyatakan Tuntas
Penerapan Supervisi Akademik Kepala Sekolah Dapat Meningkatkan Kompetensi Guru Dalam Pembelajaran Di SMP Negeri 2 Paron Kabupaten Ngawi Tahun Pelajaran 2019/2020
Setiap kepala sekolah harus memiliki dan menguasai konsep supervisi akademik yang meliputi: pengertian, tujuan dan fungsi, prinsip-prinsip, dan dimensi-dimensi substansi supervisi akademik, yang akhirnya mewujudkan prestasi siswa dalam forum cerdas cermat, siswa berprestasi dan hasil ujian serta prestasi non akademik. Penelitian ini dirancang dalam bentuk Penelitian Tindakan Sekolah yang direncanakan dilaksanakan dalam dua siklus, dimana di awal siklus peneliti memberikan lembar pengamatan, dan di siklus kedua peneliti menyampaikan lembar pengematan tentang situasi kepemimpinan. Selanjutnya data yang sudah terkumpul dianalisis dengan menggunakan analisis diskriptif yang hasilnya adalah sebagai berikut :Pada siklus I prosentase klasikal efektifitas supervisi terhadap peningkatan hasil belajar siswa adalah 80,00% katagori”cukup,sedangkan pada siklus II prosentase klasikal efektifitas supervisi terhadap peningkatan hasil belajar siswa adalah 90,00%, katagori “baik”. Melihat prosentase klasikal efektifitas supervisi terhadap peningkatan hasil belajar siswa dari hasil analisis tersebut dapat disimpulkan bahwa dari siklus I ke siklus II terjadi peningkatan prosentase klasikal efektifitas supervisi terhadap peningkatan hasil belajar siswa yang diperoleh dari masing-masing komponen yang di observasi maupun yang dinilai, yang berarti pembinaan dan bimbingan melalui efektifitas supervisi terhadap peningkatan hasil belajar siswa dapat meningkatkan kemampuan guru dan pegawai dalam upaya meningkatkan prestasi hasil belajar siswa, sekaligus memandirikan sekolah dengan kualitas yang diunggulkan. hal ini dapat dilihat dari ketuntasan klasikal Guru-guru dari efektifitas supervisi kepala sekolah dalam satu lembaga meningkat dari siklus I dan II yaitu masing-masing 80,00 %, dan 86,67 %