Journal Online Kota Madiun
Not a member yet
1179 research outputs found
Sort by
Meningkatkan Hasil Belajar Pendidikan Agama Islam Materi Shalat Fardu Melalui Pembelajaran Lightening The Learning Climate Siswa Kelas III Semester II SDN Mangunrejo Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri Tahun Pelajaran 2015/2016
Penelitian ini berdasarkan permasalahan : (a) Apakah pembelajaran Lightening The Learning Climate berpengaruh terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam? (b) Seberapa tinggi tingkat penguasaan materi pelajaran Pendidikan Agama Islam dengan diterapkannya metode pembelajaran Lightening The Learning Climate? Tujuan dari penelitian ini adalah : (a) Untuk mengungkap pengaruh pembelajaran Lightening The Learning Climate terhadap hasil belajar Pendidikan Agama Islam. (b) Ingin mengetahui seberapa jauh pemahaman dan penguasaan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam setelah diterapkannya pembelajaran Lightening The Learning Climate. Penelitian ini menggunakan penelitian tindakan (action research) sebanyak tiga putaran. Setiap putaran terdiri dari empat tahap yaitu: rancangan, kegiatan dan pengamatan, refleksi, dan refisi. Sasaran penelitian ini adalah siswa Kelas III Semester II SDN Mangunrejo Kecamatan Ngadiluwih Kabupaten Kediri Tahun Pelajaran 2015/2016. Data yang diperoleh berupa hasil tes formatif, lembar observasi kegiatan belajar mengajar. Dari hasil analis didapatkan bahwa prestasi belajar siswa mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus III yaitu, siklus I 62.07 %, siklus II 79.31 % dan siklus III 93.10 %. Simpulan dari penelitian ini adalah metode Lightening The Learning Climate dapat berpengaruh positif terhadap motivasi belajar siswa Kelas III, serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alternative pembelajaran Pendidikan Agama Islam
Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia Tentang Gagasan Pokok Dan Gagasan Pendukung Yang Diperoleh Dari Teks Dengan Metode Smart Learning Siswa Kelas IV SDN Jetis Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo
Berdasarkan kenyataan yang ada, hasil belajar siswa Kelas IV dalam hal menguasai materi ajar tentang gagasan pokok dan gagasan pendukung yang diperoleh dari teks lisan, tulis, atau visual dalam kategori kurang. Hal ini didukung adanya mean skor hanya mencapai 54,44. Sedangkan siswa yang telah mencapai KKM 44,44% atau 4 siswa saja dari KKM yang telah ditetapkan 75. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrument tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia materi ajar tentang gagasan pokok dan gagasan pendukung yang diperoleh dari teks lisan, tulis, atau visual melalui strategi pembelajaran SMaRT Learning pada siswa Kelas IV, SDN Jetis Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020. Peranan model pembelajaran SMaRT Learning dalam meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia pada materi ajar tentang gagasan pokok dan gagasan pendukung yang diperoleh dari teks lisan, tulis, atau visual ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score), yakni : siklus I 70,00; siklus II 76,11; dan siklus III 83,33. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar, yaitu pada siklus I 66,67%, siklus II 77,78%, siklus III terjadi peningkatan mencapai 100%. Kenyataan membuktikan bahwa penggunaan metode pembelajaran SMaRT Learning dalam proses pembelajaran dapat meningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia
Manfaat Metode Pengajaran Ajel Sebagai Upaya Untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Inggris Dengan Kompetensi Dasar Menafsirkan Makna Kata Frasa Dan Kalimat Berdasarkan Konteks, Serta Gaya Bahasa (Figures Of Speech) Pada Siswa Kelas VIII-B Semester
Dampak positif terhadap prestasi belajar siswa yaitu dapat ditunjukkan dengan meningkatnya nilai rata-rata siswa pada setiap siklus yang terus mengalami peningkatan. Pada Siklus I dari hasil prestasi belajar nilai yang dicapai secara klasikal adalah 65,9 (65,9%). Sedangkan aktifitas siswa yang dilakukan dengan Kriteria Baik sebanyak 9 anak dengan rata-rata 45 (45%). Kriteria Cukup sebanyak 7 anak dengan rata-rata 35 (35%). Kriteria Kurang sebanyak 4 anak dengan rata-rata 20 (20%). Pada Siklus II dari hasil prestasi belajar nilai yang dicapai secara klasikal adalah 72,65 (72,65%). Sedangkan aktifitas siswa yang dilakukan dengan Kriteria Baik sebanyak 15 anak dengan rata-rata 75 (75%). Kriteria Cukup sebanyak 4 anak dengan rata-rata 20(20%). Kriteria Kurang sebanyak 1 anak dengan rata-rata 5 (5%). Pada Siklus III dari hasil prestasi belajar nilai yang dicapai secara klasikal adalah 85,8 (85,8%). Sedangkan aktifitas siswa yang dilakukan dengan Kriteria Baik sebanyak 17 anak dengan rata-rata 85 (85%). Kriteria Cukup sebanyak 2 anak dengan rata-rata 10 (10%). Kriteria Kurang sebanyak 1 anak dengan rata-rata 5 (5%). KKM yang ditentukan sebesar 75 (75%). Maka dari hasil penelitian tersebut karena berada dibawah KKM maka dinyatakan Tuntas. Simpulan dari pebelitian ini adalah metode pengajaran AJEL (Active Joyfull and Efective Learning) dapat berpengaruh positif terhadap prestasi dan motivasi belajar pada siswa kelas VIII-B Semester Ganjil SMP Negeri 1 Bangsal, Kabupaten Mojokerto Tahun Pelajaran 2019/2020 serta model pembelajaran ini dapat digunakan sebagai salah satu alteriatif pembelajaran Bahasa Inggris. Agar dalam kegiatan pembelajaran Berhasil dan Tuntas
Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Sosial Tentang Peristiwa Penting Yang Dialami Melalui Model Pembelajaran Examples Non Examples Siswa Kelas I SDN Kutukulon Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo
Pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial diharapkan dapat membuat siswa benar-benar mampu menguasai kenyataan, bukan menguasai teori saja. Pada kenyataannya Ilmu Pengetahuan Sosial pada saat ini tidak seperti yang diharapkan. Siswa belum dapat menerapkan secara maksimal, hal ini terjadi karena guru seringkali hanya mengevaluasi pengajaran Ilmu Pengetahuan Sosial dari segi teorinya saja. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa kemampuan siswa dalam bidang Ilmu Pengetahuan Sosial khususnya pada kompetensi dasar Menceritakan kembali peristiwa penting yang dialami sendiri di lingkungan keluarga sangat rendah, yakni 66,67% dari jumlah siswa memiliki nilai di bawah standar ketuntasan dengan nilai rerata yang dicapai 57,67. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Examples Non Examples. Apabila guru menerapkan model pembelajaran Examples Non Examples diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa memahami konsep Menceritakan kembali peristiwa penting yang dialami sendiri di lingkungan keluarga. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrument tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan Menceritakan kembali peristiwa penting yang dialami sendiri di lingkungan keluarga melalui metode Examples Non Examples pada siswa Kelas I SDN Kutukulon Kecamatan Jetis Kabupaten Ponorogo. Peranan Model Pembelajaran Examples Non Examples dalam meningkatkan kemampuan Ilmu Pengetahuan Sosial ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score), yakni : siklus I 71,67; siklus II 80,00; dan siklus III 86,67. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar, yaitu pada siklus I 33,33%, siklus II 66,67%, siklus III terjadi peningkatan mencapai 100%
Peningkatan Hasil Belajar Ilmu Pengetahuan Alam Mengenai Kebutuhan Tubuh Melalui Metode Modeling The Way Siswa Kelas I SDN 1 Karangan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo
Ilmu Pengetahuan Alam merupakan salah satu mata pelajaran pada jenjang Sekolah Dasar yang merupakan prasyarat yang harus dipenuhi dalam penentuan kenaikan kelas. Oleh karena itu siswa wajib mencapai ketuntasan belajar yang telah ditetapkan yakni 75. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa kemampuan siswa untuk dalam bidang Ilmu Pengetahuan Alam khususnya pada kompetensi dasar Mengidentifikasi kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat sangat rendah, yakni 50,00% dari jumlah siswa memiliki nilai di bawah standar ketuntasan dengan nilai rerata yang dicapai 60,00. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Modeling the Way. Apabila guru menerapkan model pembelajaran Modeling the Way diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa memiliki hasil belajar Mengidentifikasi kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat dengan baik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrumen tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan Mengidentifikasi kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat melalui metode Modeling the Way pada siswa Kelas I SDN 1 Karangan Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo. Peranan Model Pembelajaran Modeling the Way dalam meningkatkan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score), yakni : pada siklus I 72,50; siklus II 76,00; dan siklus III 83,00. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar, yaitu pada siklus I 70,00%, siklus II 90,00%, siklus III 100%. Kenyataan membuktikan bahwa penggunaan Model Pembelajaran Modeling the Way dalam proses pembelajaran dapat meningkatan hasil belajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam pada kompetensi dasar Mengidentifikasi kebutuhan tubuh agar tumbuh sehat dan kuat
Peningkatan Hasil Belajar Menggunakan Alat Ukur Jangka Sorong Pada Mata Pelajaran Kompetensi Kejuruan Melalui Pendekatan Learning Expeditions Siswa Kelas XI TPM D SMK Negeri 1 Jenangan
Berdasarkan data yang diperoleh dari daftar nilai diketahui bahwa keterampilan siswa dalam mata pelajaran Kompetensi Kejuruan khususnya pada kompetensi dasar Menggunakan Peralatan Pengukur Presisi (Jangka Sorong) sangat rendah, yakni hanya 52,94% dari jumlah siswa dinyatakan tuntas belajar dan nilai rerata yang dicapai hanya 59,12. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Learning Expeditions. Apabila guru menerapkan model pembelajaran Learning Expeditions diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa terampil dalam Menggunakan Peralatan Pengukur Presisi (Jangka Sorong). Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 3 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 3 x 45 menit, yang meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrumen tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan keterampilan Menggunakan Peralatan Pengukur Presisi (Jangka Sorong) melalui metode Learning Expeditions pada siswa Kelas XI TPM D SMK Negeri 1 Jenangan Kabupaten Ponorogo. Peranan Model Pembelajaran Learning Expeditions dalam meningkatkan keterampilan Kompetensi Kejuruan kompetensi dasar Menggunakan Peralatan Pengukur Presisi (Jangka Sorong) ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score) mulai dari siklus pertama sampai siklus terakhir, yakni : pada siklus I 70,00; siklus II 74,56, dan siklus III 83,09. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar yaitu pada siklus I hanya 67,64%, siklus II meningkat menjadi 73,53%, pada siklus III terjadi peningkatan mencapai 88,24%
Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Bentuk Bangun Datar Sederhana Melalui Model Pembelajaran Numbered Heads Together (NHT) Siswa Kelas III SDN Pleset 2 Kecamatan Pangkur Kabupaten Ngawi Tahun 2019/2020
Matematika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi modern, mempunyai peran penting dalam berbagai disiplin dan memajukan daya pikir manusia (BNSP.2007:17). Untuk menguasai dan mencipta teknologi di masa depan diperlukan penguasaan matematika yang kuat sejak dini. Dengan demikian pembelajaran matematika yang kontekstual dan langsung melibatkan siswa berkecimpung di dalamnya akan mendapatkan hasil yang lebih optimal. Kenyataan di lapangan menunjukkan kondisi di SDN Pleset 2 Kelas III, ternyata pemahaman konsep terhadap bangundatar sederhana dalam kategori rendah dengan nilai rerata kelas yang dicapai56 dan masih terdapat 71,43% siswa dinyatakan tidaktuntas belajar, dengan ketetapan standar ketuntasan minimal 70. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas, yang dilaksanakan dalam 2 siklus.Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan pemahaman konsep bentuk bangun datar sederhana melalui Model Pembelajaran Numbered heads together siswa Kelas III SDN Pleset 2 Tahun Pelajaran 2019/2020. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Model Pembelajaran Numbered heads together dapat meningkatkan pemahaman konsep bentuk bangun datar sederhana siswa Kelas III SDN Pleset 2 Tahun pelajaran 2019/2020 yang dibuktikan adanya peningkatan nilai rerata setiap siklus yaitu siklus I 65,93 dan siklus II 82,14 serta ditandai adanya peningkatan prosentase ketuntasan belajar yakni siklus I 42,85% dan siklus II 85,71%
Peningkatan Kemampuan Menelaah Struktur Dan Kebahasaan Fabel Pada Mata Pelajaran Bahasa Indonesia Melalui Metode Pembelajaran Modeling The Way Siswa Kelas VII H SMP Negeri 3 Ponorogo
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa kemampuan siswa untuk dalam bidang Bahasa Indonesia khususnya pada kompetensi dasar Menelaah struktur dan kebahasaan fabel sangat rendah, yakni 43,75% dari jumlah siswa memiliki nilai di bawah standar ketuntasan dengan nilai rerata yang dicapai 60,47. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan metode pembelajaran Modeling the Way. Apabila guru menerapkan metode pembelajaran Modeling the Way diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa memahami konsep Menelaah struktur dan kebahasaan fabel. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 40 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrumen tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan Menelaah struktur dan kebahasaan fabel melalui metode pembelajaran Modeling the Way pada siswa Kelas VII H SMP Negeri 3 Ponorogo Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019. Peranan metode pembelajaran Modeling the Way dalam meningkatkan kemampuan Bahasa Indonesia ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score), yakni : pada siklus I 72,81; siklus II 76,41; dan siklus III 80,94. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar, yaitu pada siklus I 75,00%, siklus II 90,63%, siklus III 100%. Kenyataan membuktikan bahwa penggunaan metode pembelajaran Modeling the Way dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan kemampuan mata pelajaran Bahasa Indonesia pada kompetensi dasar Menelaah struktur dan kebahasaan fabel
Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Dalam Menggunakan Kalimat Melalui Penggunaan Media Gambar Seri Pada Siswa Kelas I SDN Blukon Kecamatan Lumajang Tahun Pelajaran 2016 / 2017
Penelitian ini dilatarbelakangi rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia materi “menggunakan kalimat” pada siswa kelas I SD Negeri Blukon. Penyampaian materi oleh guru masih belum bervariasi dan belum disesuaikan dengan karakteristik siswa. Hal ini menjadi penyebab hasil belajar pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi menggunakan kalimat tergolong rendah. Penggunaan media gambar seriditerapkan bertujuan memberikan perbaikan hasil belajar pada siswa.Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : 1) Bagaimana penerapan media gambar seriuntuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia materi menggunakan kalimatpadasiswa kelas I SD Negeri Blukon tahun pelajaran 2016/2017? 2) Bagaimana peningkatan hasil belajar Bahasa Indonesia materi menggunakan kalimatpadasiswa kelas I SD Negeri Blukon dengan menggunakan media gambar seriTahun Pelajaran 2016/2017?Adapun tujuan penelitian dalam hal ini adalah 1) Untuk mengetahui penerapan media gambar seripada mata pelajaran Bahasa Indonesia materimedia gambar seri pada siswa kelas I SD Negeri Blukon tahun pelajaran 2016/2017. 2) Untuk mengetahui hasil belajar siswa kelas I SD Negeri Blukon dengan menggunakan media gambar seriTahun Pelajaran 2016/2017.Metode pada penelitian ini menggunakan model siklus PTK yang dilakukan dengan tahapan perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini meliputi: observasi, tes, wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan dengan meresponden Tanya jawab dapat meningkatkan kemampuan menggunakan kalimat melalui media gambar seri
Peningkatan Profesional Guru Dalam Perencanaan Program Melalui Supervisi Klinis Kepala Sekolah Di SD Negeri 1 Kartoharjo Nganjuk Tahun Pelajaran 2019/2020
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui 1) Perencanaan implementasi supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah dalam meningkatkan profesional guru di SD Negeri 1 Kartoharjo Nganjuk 2) Hasil pelaksanaan implementasi supervisi klinis yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan profesional guru di SD Negeri 1 Kartoharjo Nganjuk 3) Kendala dan solusi supervisi klinis yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan profesional guru di SD Negeri 1 Kartoharjo Nganjuk. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian tindakan sekolah kualitatif dengan pendekatan Deskriptif dengan teknik pengumpulan data yang menggunakan teknik observasi, wawancara dan studi dokumentasi.Hasil penelitian ini mengungkapkan temuan sebagai berikut : 1) perencanaan yang dilakukan kepala sekolah dalam meningkatkan professional guru adalah dengan merancang apa yang diingin disupervisi sesuai dengan kebutuhan dan keperluan guru-guru dengan melibatkan kurikulum dan beberapa guru. Yang disupervisi kepala sekolah seperti datang keruangan kelas untuk melihat kegiatan pembelajaran di kelas, persiapan perlengkapan pembelajaran seperti RPP atau silabus, prota, prosem, penilaian, alat-alat peraga, buku pegangan dan sebagainya 2) hasil pelaksanaan dapat meningkatkan professional terhadap guru yang dibina walaupun ada sebagian guru yang masih perlu disupervisi lagi 3) kendala dalam supervisi klinis ini kurangnya guru dalam mata pelajaran umum dan faktor ekonomi, sehingga kepala sekolah memberikan jam tambahan. Dapat disimpulkan bahwa dengan adanya supervisi klinis yang dilakukan oleh kepala sekolah dapat meningkatkan produktivitas dan motivasi kerja guru serta profesionalisme semakin meningkat