Journal Online Kota Madiun
Not a member yet
1179 research outputs found
Sort by
Peningkatan Kemampuan Menyebutkan Contoh Organisasi Di Lingkungan Sekolah Dan Masyarakat Pada Mata Pelajaran PPKn Melalui Model Pembelajaran Examples Non Examples Siswa Kelas V B SDN 1 Mangkujayan Ponorogo
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa kemampuan siswa dalam bidang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan khususnya pada kompetensi dasar Menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat sangat rendah, yakni 37,50% dari jumlah siswa memiliki nilai di bawah standar ketuntasan dengan nilai rerata yang dicapai 59,38. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Examples Non Examples. Apabila guru menerapkan model pembelajaran Examples Non Examples diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa memahami konsep Menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 3 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2x35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrument tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan Menyebutkan contoh organisasi di lingkungan sekolah dan masyarakat melalui metode Examples Non Examples pada siswa Kelas V B, SDN 1 Mangkujayan Ponorogo Semester II Tahun Pelajaran 2018/2019. Peranan Model Pembelajaran Examples Non Examples dalam meningkatkan kemampuan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score), yakni : siklus I 72,03; siklus II 76,41; dan siklus III 77,97. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan prosentasi ketuntasan belajar, yaitu pada siklus I 68,75%, siklus II 78,13%, siklus III terjadi peningkatan mencapai 96,88%
Peningkatan Hasil Belajar Ppkn Tentang Keberagaman Suku, Bangsa, Sosial Dan Budaya Di Indonesia Dengan Pembelajaran Model Elaborasi (EB) Siswa Kelas IV SDN Pintu Kecamatan Jenangan
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa keterampilan siswa untuk bidang Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan khususnya pada kompetensi dasar Memahami berbagai bentuk keberagaman suku, bangsa, sosial dan budaya di Indonesia sangat rendah, yakni hanya 53,85% dari jumlah siswa dinyatakan tuntas belajar dan nilai rerata yang dicapai hanya 57,69. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Elaborasi. Apabila guru menerapkan model pembelajaran Elaborasi diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa terampil dalam pembelajaran berkompetensi dasar Memahami berbagai bentuk keberagaman suku, bangsa, sosial dan budaya di Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 3 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrument tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dengan kompetensi dasar Memahami berbagai bentuk keberagaman suku, bangsa, sosial dan budaya di Indonesia melalui metode Elaborasi, siswa Kelas IV SDN Pintu Kecamatan Jenangan Kabupaten Ponorogo Semester I Tahun Pelajaran 2017/2018. Peranan model pembelajaran Elaborasi dalam meningkatkan hasil belajar Memahami berbagai bentuk keberagaman suku, bangsa, sosial dan budaya di Indonesia ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score) yakni : pada siklus I 68,08; siklus II 74,62, dan siklus III 80,77. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar dari siklus pertama hingga siklus terakhir, yaitu pada siklus I hanya 69,23%, siklus II meningkat menjadi 76,92%, pada siklus III terjadi peningkatan mencapai 100%
Peningkatan Kemampuan Profesional Guru Melalui Supervisi Akademik Teknik Individual Conference (IC) Oleh Kepala Sekolah Di TK Handayani Desa Ketro Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan
Memahami begitu pentingnya peranan guru dalam upaya peningkatan mutu pendidikan maka selayaknyalah kemampuannya ditingkatkan, dibina dengan baik secara terus menerus sehingga benar-benar memiliki kemampuan yang sesuai dengan tuntutan profesinya. Sebagai upaya membantu memecahkan masalah tersebut, maka peneliti menawarkan suatu bentuk supervisi dengan teknik Individual Conference (IC). Hasil dari pelaksanaan Individual Conference (IC) ini ditengarai dapat dijadikan pedoman bagi kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dalam membina guru dan tenaga kependidikan di sekolah agar dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya secara nyata. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam 4 siklus. Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mendeskripsikan peranan supervisi teknik Individual Conference (IC) dalam upaya meningkatkan kemampuan profesional para guru, 2) Memberikan arahan atau pedoman bagi kepala sekolah dalam melaksanakan tugasnya sebagai supervisor sekolah dalam membina guru dan staf sekolah agar dapat meningkatkan kemampuan dan profesinya secara berdaya guna dan berhasil guna. Hasil penelitian ini adalah adanya peningkatan kemampuan profesional guru TK Handayani Desa Ketro Kecamatan Tulakan Kabupaten Pacitan melalui penerapan supevisi akademik teknik Individual Conference (IC). Hal ini ditandai adanya peningkatan kategori Kemampuan Profesional Guru dalam setiap siklusnya yaitu pada siklus I berada pada kategori kurang dan pada siklus terakhir meningkat dan berada pada kategori tinggi. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil penelitian sebagai berikut : pada Siklus I Rata-rata skor 159,00. Skor tertinggi 176. Skor terendah 142. Pada siklus III Rata-rata skor 182,00. Skor tertinggi 200. Skor terendah 164. Dan pada Siklus IV Rata-rata skor 215,00. Skor tertinggi 218. Skor terendah 212
Peningkatan Kemampuan Profesional Guru Melalui Supervisi Teknik Diskusi Refleksi Kasus (DRK) Oleh Kepala Sekolah Di SMK Negeri 2 Nawangan
Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah berupaya meningkatkan mutu pendidikan melalui berbagai program antara lain penataran-penataran, penyempurnaan kurikulum, pengadaan sarana prasarana dan alat belajar, peningkatan manajemen sekolah, dan sebagainya. Namun demikian upaya-upaya tersebut kurang mempunyai dampak yang nyata dalam kegatan pembelajaran di kelas apabila tidak diikuti dengan pembinaan profesional bagi para guru. Sebagai upaya membantu memecahkan masalah tersebut, maka peneliti menawarkan suatu bentuk supervisi dengan teknik Diskusi Refleksi Kasus (DRK). Hasil dari pelaksanaan DRK ini ditengarai dapat dijadikan pedoman bagi kepala sekolah dalam melaksanakan tugas dalam membina guru dan tenaga kependidikan di sekolah agar dapat meningkatkan kemampuan profesionalnya secara nyata. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan sekolah yang dilaksanakan dalam 4 siklus. Tiap siklus melalui penatahapan perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi. Tujuan penelitian ini adalah : 1) Mendeskripsikan peranan supervisi teknik DRK dalam upaya meningkatkan kemampuan profesional para guru, 2) Memberikan arahan atau pedoman bagi kepala sekolah dalam melaksanakan tugas sebagai supervisor sekolah dalam membina guru dan staf sekolah agar dapat meningkatkan kemampuan dan profesinya secara berdaya guna dan berhasil guna. Hasil penelitian ini adalah adanya peningkatan kemampuan profesional guru SMK Negeri 2 Nawangan Kabupaten Pacitan melalui penerapan supervisi teknik DRK. Hal ini ditandai adanya peningkatan kategori kemampuan profesional guru dalam setiap siklusnya yaitu pada siklus I berada pada kategori kurang dan pada siklus terakhir meningkat dan berada pada kategori tinggi
Peningkatan Hasil Belajar Membedakan Berbagai Bunyi Bahasa Pada Muatan Pelajaran Bahasa Indonesia Dengan Pembelajaran Model Elaborasi (EB) Siswa Kelas I-B SDN Krembung 1 Kecamatan Krembung Kabupaten Sidoarjo
Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa keterampilan siswa untuk bidang Bahasa Indonesia khususnya pada kompetensi dasar membedakan berbagai bunyi bahasa sangat rendah, yakni hanya 53,33% dari jumlah siswa dinyatakan tuntas belajar dan nilai rerata yang dicapai hanya 57,67. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Elaborasi. Apabila guru menerapkan model pembelajaran Elaborasi diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa terampil dalam pembelajaran berkompetensi dasar Membedakan berbagai bunyi bahasa. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrument tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dengan kompetensi dasar Membedakan berbagai bunyi bahasa melalui metode Elaborasi pada siswa Kelas I-B, maka tujuan penelitian dirumuskan sebagai berikut : Meningkatkan hasil belajar Membedakan berbagai bunyi bahasa melalui metode Elaborasi Siswa Kelas I-B SDN Krembung 1 Kecamatan Krembung Kabupaten Sidoarjo Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019. Peranan Model Pembelajaran Elaborasi dalam meningkatkan hasil belajar Membedakan berbagai bunyi bahasa ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score) yakni : pada siklus I 67,33; siklus II 73,67, dan siklus III 80,50. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar dari siklus pertama hingga siklus terakhir, yaitu pada siklus I hanya 66,67%, siklus II meningkat menjadi 73,33%, pada siklus III terjadi peningkatan mencapai 100%
Peningkatan Hasil Belajar Melakukan Operasi Hitung Campuran Pada Mata Pelajaran Matematika Melalui Metode Modeling The Way Siswa Kelas III A SDN 1 Brotonegaran Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo
Mata pelajaran Matematika yang diberikan di Sekolah Dasar memiliki banyak tujuan diantaranya adalah peserta didik memiliki kemampuan memecahkan masalah yang meliputi kemampuan memahami masalah, merancang model dan menafsirkan solusi yang diperoleh. Tujuan tersebut dijabarkan dalam bentuk standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai peserta didik sehingga peserta didik wajib mencapai ketuntasan dalam mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang telah ditentukan. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa kemampuan siswa untuk dalam bidang Matematika khususnya pada kompetensi dasar Melakukan operasi hitung campuran sangat rendah, yakni 50,00% dari jumlah siswa memiliki nilai di bawah standar ketuntasan dengan nilai rerata yang dicapai 60,00. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Modeling the Way. Apabila guru menerapkan model pembelajaran Modeling the Way diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa memiliki hasil belajar Melakukan operasi hitung campuran dengan baik. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrumen tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan kemampuan Melakukan operasi hitung campuran melalui metode Modeling the Way pada siswa Kelas III A SDN 1 Brotonegaran Kecamatan Ponorogo Kabupaten Ponorogo Semester I Tahun Pelajaran 2019/2020. Peranan Model Pembelajaran Modeling the Way dalam meningkatkan hasil belajar Matematika ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score), yakni : pada siklus I 71,96; siklus II 75,71; dan siklus III 83,04. Selain itu juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar, yaitu pada siklus I 67,86%, siklus II 89,29%, siklus III 100%
Peningkatan Keterampilan Membaca Melalui Model Pembelajaran Think Talk Write Pada Siswa Kelas II SDN 02 Mojorejo Tahun Pelajaran 2019/2020
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk : (1) Mendeskipsikan keterampilan membaca melalui model pembelajaran think talk write pada siswa kelas II SDN 02 MojorejoMadiun tahun pelajaran 2019/2020. (2) Mendeskripsikan aktivitas belajar siswa melalui model pembelajaran think talk write (TTW) pada siswa kelas II SDN 02 Mojorejotahun pelajaran 2019/2020.Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Ada peningkatan hasil belajar keterampilan membaca dengan model pembelajaran think talk write (TTW) dalam pembelajaran bahasa Indonesia pada siswa kelas II SDN 02 MojorejoMadiun tahun pelajaran 2019/2020. Peningkatan ini terlihat pada siklus I nilai rata-rata yang diperoleh adalah 73,50, pada siklus II mengalami peningkatan yaitu menjadi 86,50, sehingga ketuntasan klasikal juga meningkat dari 50% pada siklus I meningkat menjadi 100% pada siklus II. (2) Ada peningkatan aktivitas belajar siswa melalui model pembelajaran Think talk write (TTW) pada siswa kelas II SDN 02 Mojorejotahun pelajaran 2019/2020, yaitu pada siklus I 74,60 meningkat di siklus II menjadi 84,30
Melalui Metode Active Knowledge Sharing Learning Dapat Meningkatkan Prestasi Belajar Bahasa Jerman Pada Siswa Kelas X-IPS-2 Semester Ganjil Di SMA Negeri I Ngadirojo, Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2019/2020
Pemberian metode active knowledge sharing learning (pembelajaran yang mengembangkan saling tukar pengetahuan) dapat meningkatkan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Jerman. Hal ini dapat dilihat dari rata-rata nilai kelas, dimana unutk siklus I adalah 67 sedangkan untuk sikus 2 adalah 89,68. Peningkatan kuliatas belajar siswa. pada siklus I dari nilai rat-rata siswa adalah 66,61 dengan nilai terendah 60 dan nilai tertinggi 80. Jumlah siswa yang mendapat nilai di atas 60 ada 17 siswa, yang berarti 51% dari sejumlah 31 siswa memiliki nilai diatas taraf penguasaan konsep yang diberikan. Karena rata-rata kelasnya mencapai 65,61 masih berada di bawah KKM yang telah ditentukan. Maka kegiatan penelitian ini dinyatakan belum berhasil dan perlu diadakan pada kegiatan siklus yang ke 2. Pada siklus 2 dari nilai-rata-rata siswa adalah 89,68 dengan nilai terendah 55 dan nilai tertinggi 100. Jumlah siswa yang mendapat nilai diatas 60 ada 1 siswa memiliki nilai di atas taraf penguasaan konsep yang diberikan. Karena rata-rata kelasnya mencapai 89,68 masih berada di atas KKM yang telah ditentukan. Maka kegiatan penelitian ini dinyatakan berhasil atau tuntas dan tidak perlu diadakan pada kegiatan siklus yang berikutnya. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa kualitas belajar siswa dapat ditingkatkan dengan diberikan perlakuan-perlakuan tertentu yang sesuai dengan materi pokok bahasan yang harus dipelajari oleh siswa. hal ini juga nampaknya dipengaruhi oleh gairah belajar yang dimiliki. Karena model pembelajaran yang monoton saja akan membuat siswa bosan dan menganggap proses pembelajaran bukanlah suatu hal yang menarik
Meningkatkan Hasil Prestasi Belajar Melalui Realiting Approach Learning Pada Kelas XI-IPS-2 Semester Ganjil Di SMA Negeri 1 Ngadirojo, Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2019/2020
Dengan menggunakan Realiting Approach Learning (Pendekatan Pembelajaran yang mengembangkan pengalaman kehidupan nyata) dapat berjalan dengan Meningkat. Kemampuan dasar pada materi pembelajaran Dengan Materi Pelajaran Tentang Menganalisis Struktur dan Kebahasan Teks Prosedur dapat tercapai dengan baik. Hal ini dapat terlihat pada hasil evaluasi siswa yang mencapai ketuntasan 78,0%. Hal ini telihat melalui perolehan data dari hasil kegiatan siswa pada Siklus I menunjukkan Keaktifan dari data di atas dapat kita lihat dari hasil aktifitas siswa yang memiliki aktifitas baik dalam kegiatan belajar sebanyak 4 (14,3%) dan sedang sebanyak 13 (34,3%) dengan kriteria cukup serta sebanyak 24 anak (51,4%) memiliki kriteria kurang. Dan untuk perhatian hasil pengamatan dari sudut perhatian siswa dalam kegiatan belajar, siswa yang memiliki perhatian baik sebanyak 4 (14,3%) perhatian orang tua sebanyak 15 siswa (37,1%) memiliki kriteria cukup dan perhatian kurang sebanyak 22 anak (48,6%) serta Dari hasil prestasi belajar di atas secara rata-rata pada hasil prestasi belajar bidang Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas XI-IPS-2 Semester Ganjil Di SMA Negeri 1 Ngadirojo, Kabupaten Pacitan Tahun Pelajaran 2019/2020, menunjukkan rata-rata nilai sebesar 71,97. Hal masih dibawah SKBM atau ketuntasan kurikulum sebesar 75,00, maka perlu diadakan Siklus II. Sedangkan pada Siklus yang ke II menunjukkan Aktifitas Dari data di atas dapat kita lihat dari hasil aktifitas siswa yang memiliki aktifitas baik dalam kegiatan belajar sebanyak 27 siswa dengan (65,7%) dan sedang sebanyak 10 anak (25,7%) memiliki aktifitas cukup serta sebanyak menunjukkan aktifitas kurang. Sedangkan hasil pengamatan dari sudut perhatian siswa dalam kegiatan belajar, siswa yang memiliki perhatian baik sebanyak 3 (8,6%). Sedangkan perhatian sebanyak 27 (65,7%) dan perhatian kurang 3 (8,6%). Sedangkan pada kriteria cukup sebanyak 11 anak (25,7%). Dari hasil prestasi belajar diatas secara rata-rata pada hasil prestasi belajar bidang Pelajaran Bahasa Indonesia pada Siswa Kelas XI-IPS-2 Semester Ganjil Di SMA Negeri 1 Ngadirojo, Kabupaten Pacitan Tahun 2019/2020 menunjukkan 78,0%. Hal ini berada di atas SKBM atau Ketuntasan Belajar sebesar 75, maka proses pemberian pembelajaran Realiting Approach Learning yamg berkaitan dengan prestasi belajar dapat dinyatakan Tuntas
Penerapan Model Problem Based Learning Dalam Upaya Meningkatkan Aktifitas Dan Hasil Belajar Siswa Kelas VI Pada Tema Selamatkan Mahluk Hidup Di SD Negeri Sumbersuko 2 Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020
Adanya suatu formulasi sangat perlu untuk meningkatkan kreativitas siswa dengan waktu yang cukup, sesuai dengan waktu yang di gunakan untuk satu konsep bahasan, demi tercapainya kurikulum yang sudah ditetapkan di sekolah juga penggunaan media dan model yang tidak terlalu sulit dapat memudahkan siswa dan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Model pembelajaran yang dimaksud adalah model Problem Based Learning, yang selanjutnya disebut Pembelajaran Berbasis Masalah. NCTM (2000) menyebutkan bahwa, “problem posing and problem solving led to a deeper understanding of both content and process”. Pembelajaran yang melibatkan pendekatan problem posing dan problem solving akan memunculkan pemahaman yang lebih baik terhadap materi dan proses pembelajaran. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1).Apakah penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan Aktifitas belajar siswa Kelas VI pada Tema Selamatkan Mahluk Hidup di SD Negeri Sumbersuko 2 Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020? 2). Apakah penerapan model Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa Kelas VI pada Tema Selamatkan Mahluk Hidup di SD Negeri Sumbersuko 2 Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2019/2020. Berdasarkan hasil penelitian dan hasil analisis data, terjadi peningkatan rerata hasil belajar yang diikuti oleh ketuntasan belajar, Siklus I dicapai rerata 65 dan siswa tuntas belajar 66,66%, Siklus II dicapai rerata 72,3 dan siswa tuntas belajar 76,92%, Siklus III dicapai rerata 79,61 dan siswa tuntas belajar 100%, Karena ketuntasan belajar telah mencapai 100% mendapat nilai 60 - > 60 maka target yang ditentukan telah dicapai