Journal Online Kota Madiun
Not a member yet
1179 research outputs found
Sort by
Pembelajaran Menulis Cerpen Dengan Metode Discovery Learning Dan Media Lagu Pada Siswa SMPN 3 Madiun
Menulis cerpen merupakan salah satu keterampilan menuli harus dimiliki oleh siswa, namun dalam praktinya siswa masih mengalami banyak kendala dalam melaksanakannya. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan implementasi pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan metode discovery learning dan media lagu pada siswa kelas IX SMPN 3 Madiun. Sumber data pada penelitian ini adalah siswa kelas IX dan guru mata pelajaran Bahasa Indonesia SMPN 3 Madiun. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian desktiptif kualitatif. Data pada penelitian ini diperoleh dengan teknik observasi dan wawancara. Sumber data pada penelitian ini adalah siswa kelas IX SMPN 3. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa langkah-langkah dalam implemestasi pembelajaran menulis cerpen dengan menggunakan metode discovery learning dan media lagu pada siswa kelas IX SMPN 3 Madiun terdiri atas tahap persiapan dan tahap pelaksanaan. Pada tahap persiapan guru menyususn perangkat pembelajaran berdasarkarkan KD pada kurikulum. Selanjutnya pada tahap pelaksanaan guru menuntun siswa untuk menggali informasi terkait pengertian cerpen, ciri-ciri cerpen, unsur-unsur/kerangka cerpen, dan langkah menulis cerpen sesuai petunjuk rencana pelaksanaan pembelajaran dengan menerapkan model Discovery learning, siswa lalu diminta menyusun cerpen menggunakan media lagu dengan langkah-langlah 1) siswa mentukan topik cerita, siswa memilih sebuah lagu yang mewakili peristiwa atau pengalamannya dan sesuai dengan topik yang dipilihnya, 3) siswa membedah isi dari lagu yang dipilihnya, 4) siswa menentukan konflik cerita, 5) siswa menyusun kerangka cerita berdasarkan cerita di dalam lagu yang dipilihnya, dan 6) siswa mengembangkan kerangka cerita yang telah dibuat menjadi narasi cerpen
Peningkatan Prestasi Belajar Bahasa Indonesia Dalam Membedakan Teks Cerita Prosedur Melalui Model Pembelajaran Problem Posing Pada Peserta Didik Kelas VIII E Di SMP Negeri 4 Ngawi Kabupaten Ngawi Tahun Pelajaran 2019/2020
Prestasi Belajar Bahasa Indonesia di Kelas VIII E di SMP Negeri 4 Ngawi terutama kemampuan siswa dalam membedakan teks cerita prosedur masih kurang mendapat perhatian. Siswa sering mengeluh jika diberikan tugas membedakan teks cerita prosedur, karena membutuhkan waktu yang lama sehingga siswa merasa jenuh. Berdasarkan kenyataan tersebut maka perlu sekali dalam penggunaan metode untuk membantu meningkatkan kemampuan siswa dalam laporan pengamatan .Salah satu strategi yang digunakan adalah Model Pembelajaran Problem Posing. Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) sebagai subyek penelitian adalah seluruh siswa Kelas VIII E yang berjumlah 32 anak. tehnik yang digunakan untuk pengumpulan data adalah metode observasi, dokumentasi dan angket. Sedangkan strategi yang digunakan adalah kualitatif diskriptif dengan tindakan dan refleksi. Analisis data adalah Interaktif mengalir yaitu melaksanakan tindakan ,mengamati, mengevaluasi dan merefleksi. Dari keseluruhan putaran atau siklus yang telah dilakukan menunjukkan peningkatan kemampuan siswa dalam membedakan teks cerita prosedur melalui Model Pembelajaran Problem Posing. Hal ini dapat dilihat dari semakin mantapnya pemahaman siswa terhadap materi yang disampaikan guru, terbukti rata-rata siklus I (76,56), siklus II (81,09) dan siklus III (87,03), sedangkan ketuntasan belajar meningkat dari siklus I (75,00 %), siklus II (81,25 %), dan siklus III (87,50 %). Pada siklus III ketuntasan belajar siswa secara klasikal telah tercapai. Berdasarkan hasil diatas dapat disimpulkan bahwa penerapan Model Pembelajaran Problem Posing untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam membedakan teks cerita prosedur di Kelas VIII E sangat efektif dan efisien khususnya pada pembelajaran Bahasa Indonesia
Peningkatan Hasil Belajar IPA Tentang Perkembangbiakan Makhluk Hidup Melalui Pembelajaran Improve Siswa Kelas VI SDN Purworejo Kecamatan Balong Kabupaten Ponorogo
Proses pembelajaran memegang peranan penting dalam konteks persekolahan yang merupakan suatu institusi formal yang mendayagunakan berbagai komponen atau sumber daya pendidikan secara maksimal. Guru ditantang untuk dapat menciptakan iklim pembelajaran yang kondusif, yang memungkinkan siswa dapat mengembangkan potensi yang dimiliki secara optimal sehingga hasil belajar yang memuaskanpun dapat dicapai. Dari data yang diperoleh peneliti diketahui bahwa hasil belajar siswa dalam bidang IPA khususnya pada kompetensi dasar Perkembangbiakan Makhluk Hidup sangat rendah dengan nilai rerata yang dicapai 54,38. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan Model Pembelajaran IMPROVE yang memungkinkan siswa untuk mengembangkan kreativitasnya. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 6 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 35 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrument tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan Hasil belajar IPA melalui metode Model Pembelajaran IMPROVE pada siswa Kelas VI SDN Purworejo Semester I Tahun Pelajaran 2018/2019. Peranan Model Pembelajaran IMPROVE dalam meningkatkan hasil belajar IPA kompetensi dasar Perkembangbiakan Makhluk Hidup ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score) mulai dari siklus pertama sampai siklus terakhir, yakni : pada siklus I 68,38; siklus II 75,94; dan siklus III 82,50. Selain ditandai adanya peningkatan mean skor juga ditandai adanya peningkatan persentase ketuntasan belajar dari siklus pertama hingga siklus terakhir, yaitu pada siklus I hanya 62,50%, siklus II meningkat menjadi 75,00%, pada siklus III terjadi peningkatan mencapai 100%
Meningkatkan Pemahaman Dan Hasil Belajar IPA Materi Sistem Reproduksi Pada Manusia Melalui Penerapan Metode Kerja Kelompok Pada Siswa Kelas IX-C SMP Negeri 2 Tenggarang Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020
Permasalahan yang muncul di awal proses pembelajaran adalah rendahnya pemahaman dan hasil belajar siswa pada pembelajaran IPA di kelas IX-C SMP Negeri 2 Tenggarang Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020.Penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (Classroom Action Research) dengan empat tahapan, yaitu perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.Subjek penelitian sebanyak 29 siswa. Pengumpulan data dengan teknik observasi, tes dan dokumentasi. Validasi data dengan teknik triangulasi.Analisis data dilaksanakan secara kualitatif dan kuantitatif pada setiap akhir siklus.Hasil penelitian membuktikan penggunaan metode kerja kelompok mampu meningkatkan pemahaman belajar siswa dari 37,93% atau 11 siswa pada kondisi awal, menjadi 68,97% atau 20 siswa pada siklus I, dan pada siklus II meningkat menjadi 93,10% atau 27 siswa, serta meningkatkan hasil belajar siswadari rata-rata 62,07 pada kondisi awal,pada siklus I menjadi 75,17, dan pada akhir siklus II menjadi 85,86, sedangkan ketuntasan belajar mengalami peningkatan yang cukup signifikan dimana pada kondisi awal hanya 8 orang siswa atau 27,59%, pada siklus I menjadi 62,07% atau 18 siswa, dan pada siklus II meningkat lagi menjadi 89,66% atau 26 siswa. Kesimpulannya adalah penggunaan metode kerja kelompok terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas IX-C SMP Negeri 2 Tenggarang Semester 1 Tahun Pelajaran 2019/2020
Upaya Meningkatkan Kesadaran Dan Dorongan Yang Kuat Untuk Menguasai Pengetahuan Dan Ketrampilan Yang Menjadi Program Sekolah Dengan Model Pembelajaran Learning Community Siswa Kelas IX.C MTs Negeri Ponorogo Tahun Pelajaran 2016/2017
Penggunaan metode pembelajaran yang kurang tepat adalah salah satu faktor penyebab materi pelajaran sulit dipahami oleh siswa. Oleh karena itu perlu bagi guru memiliki kemampuan menguasai materi pelajaran, menguasai metode pembelajaran serta kondisi lingkungan tempat proses berlangsungnya pembelajaran.Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, dengan jenis penelitian tindakan. Dalam penelitian ini peneliti berkolaborasi dengan guru lain serta dengan kepala sekolah. Peneliti terlibat langsung dalam penelitian mulai dari awal sampai penelitian berakhir. Peneliti berusaha melihat, mengamati, merasakan, menghayati, merefleksi dan mengevaluasi kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Tahap-tahap pelaksanaan penelitian tindakan terdiri dari perencanaan (planning), pelaksanaan (acting), observasi (obseving), dan refleksi (relecting). Untuk mendapatkan hasil penelitian yang akurat maka data yang telah terkumpul dianalisis secara statistik yaitu mengunakan rumus mean atau rata-rata. Mengacu pada hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian tindakan kelas ini, maka dapat disimpulkan bahwa: ada peningkatkan kemampuan memahami kesadaran dan dorongan yang kuat untuk menguasai pengetahuan dan ketrampilan yang menjadi program sekolah dan faktor yang mempengaruhi keberhasilan belajar dengan model pembelajaran Learning Community siswa kelas IX.CMTs Negeri Ponorogo Tahun Pelajaran 2016/2017. Hal ini dapat dilihat dari data bahwa prestasi belajar siswa meningkat dari rata – rata 59,92 sebelum menerapkan model pembelajaran Learning Community menjadi 69,35 pada siklus ke I, pada siklus II meningkat lagi dengan rata-rata 74,35 dan meningkat lagi menjadi 83,04 pada siklus III dengan kategori Baik (B). 
Meningkatkan Aktivitas Dan Hasil Belajar Matematika Materi Nilai Tempat Dengan Menerapkan Metode Problem Posing Pada Siswa Kelas III Semester I SDN 2 Curah Kalak Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo Tahun Pelajaran 2015/2016
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan prestasi belajar siswa kelas III SD Negeri 2 Curahkalak Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo menggunakan Metode Problem Posing pada mata pelajaran matematika tahun pelajaran 2015/2016. Penelitian ini termasuk penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dengan model Kemmis dan Mc Taggart. Langkahnya terdiri dari, perencanaan, tindakan, refleksi, dan observasi. Subyek PTK ini adalah siswa kelas III SD Negeri 2 Curahkalak Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondodengan jumlah 18 siswa. Pelaksanaan tindakan kelas dilakukan dalam tiga siklus. Teknik pengumpulan data melaluites, observasi, dan dokumentasi. Pada setiap siklus terdapat kegiatan perencanaan,pelaksanaan, observasi dan refleksi. Pada akhir siklus dilaksanakan tes yang digunakan untuk mengukur prestasi belajar siswa. Data hasil penelitian dianalisis secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadi peningkatan prestasi belajar matematika menggunakan Metode Problem Posing pada siswa kelas IIISD Negeri 2 Curahkalak Kecamatan Jangkar Kabupaten Situbondo tahun pelajaran 2015/ 2016. Peningkatan tersebut dibuktikan dengan hasil tes pada siklus I ada 5 siswaatau 60.73% dari seluruh siswa yang mendapat nilai ≥70, sedangkan hasil tes pada siklus II ada 11 siswa atau 74.21% dari seluruh siswa yang mendapatkan nilai ≥70, sedangkan hasil tes pada siklus III ada 18 siswa atau 97,35% dari seluruh siswa yang mendapatkan ≥70. Hal ini berarti mengalami peningkatan persentase siswa yang mendapat nilai ≥70 dari siklus I kesiklus III sebanyak 45.48%. Nilai rata-rata hasiltesdarisiklus I ke siklus III juga mengalami peningkatan sebanyak 9.6 yaitu dari 62.76 menjadi 70,23 kemudian menjadi 96.45
Peningkatan Hasil Belajar Menganalisis Barisan Dan Deret Aritmatika Pada Mata Pelajaran Matematika Melalui Strategi Pembelajaran Gallery Of Learning Siswa Kelas X TPM B SMK Negeri 1 Jenangan Semester II Tahun Pelajaran 2019/2020
Pada kenyataannya pengajaran Matematika pada saat ini tidak seperti yang diharapkan. Siswa belum dapat menerapkan secara maksimal, hal ini terjadi karena guru seringkali hanya mengevaluasi pengajaran Matematika dari segi teorinya saja. Berdasarkan data yang diperoleh peneliti dari daftar nilai diketahui bahwa kemampuan siswa dalam bidang Matematika khususnya pada kompetensi dasar Menganalisis barisan dan deret aritmatika sangat rendah, yakni 42,86% dari jumlah siswa memiliki nilai di bawah standar ketuntasan dengan nilai rerata yang dicapai 57,43. Hal semacam ini jika dibiarkan, maka akan membawa dampak yang fatal. Peneliti menganggap masalah tersebut merupakan sesuatu yang urgen. Pada kesempatan ini peneliti menawarkan model pembelajaran Galery of Learning. Apabila guru menerapkan model pembelajaran Galery of Learning diharapkan minimal 75% dari jumlah siswa memahami konsep Menganalisis barisan dan deret aritmatika. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan dalam 3 siklus, terdiri atas 3 pertemuan. Tiap pertemuan terdiri atas 2 x 45 menit. Tiap siklus meliputi kegiatan perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Data diambil dengan menggunakan instrument tes, wawancara, angket dan jurnal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui peningkatan hasil belajar Menganalisis barisan dan deret aritmatika melalui metode Galery of Learning pada siswa Kelas X TPm B SMK Negeri 1 Jenangan Kabupaten Ponorogo Semester II Tahun Pelajaran 2019/2020. Peranan Model Pembelajaran Galery of Learning dalam meningkatkan kemampuan Matematika ini ditandai adanya peningkatan nilai rerata (Mean Score), yakni : pada siklus I 71,86; siklus II 74,86; dan siklus III 80,43. Selain ditandai adanya peningkatan mean skor juga ditandai adanya peningkatan prosentase ketuntasan belajar dari siklus pertama hingga siklus terakhir, yaitu pada siklus I hanya 62,86%, siklus II meningkat menjadi 74,29%, pada siklus III terjadi peningkatan mencapai 94,29%
Meningkatkan Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam Melalui Metode Value Clarification And Moral Development Pada Siswa Kelas V Semester Genap Di SD Negeri 5 Ampelgading, Kecamatan Tirtoyudo, Kabupaten Malang Tahun Pelajaran 2019/2020
Dengan menggunakan metode Value Clarification and Moral Development dapat berjalan dengan optimal. Kemampuan dasar pada materi pembelajaran Surat Al-Mukminun ayat 12-14 tentang asal Kejadian Manusia dapat tercapai dengan baik. Hal ini dapat terlihat pada hasil evaluasi siswa yang mencapai ketuntasan 77,500%. Ini dapat dilihat perkembangan pada Siklus I menunjukkan 71,60 dan pada Siklus II menunjukan hasil prestasi belajar siswa sebesar 77,50 dengam SKBM/KKM yang telah ditentukan sebesar 75. Berdasarkan uraian tersebut di atas, hipotesis yang dianjurkan dalam penelitian Tindakan Kelas ini : “Jika kegiatan belajar mengajar menggunakan metode Value Clarification and Moral Development pada materi pembelajaran Surat Al-Mukminun ayat 12-14 tentang asal Kejadian Manusia pada pelajaran Pendidikan Agama Islam prestasi belajar siswa dapat meningkat”, dapat di terima
Peningkatan Motivasi Dan Hasil Belajar Kimia Materi Larutan Elektrolit Dan Non Elektrolit Melalui Penerapan Model Pembelajaran Student Facilitator And Explaining (SFAE) Pada Siswa Kelas X-MIPA-1 SMA Negeri 3 Bondowoso Semester 2 Tahun Pelajaran 2018/2019
Hasil observasi awal di SMA Negeri 3 Bondowoso diperoleh data bahwa pembelajaran kimia di kelas X-MIPA-1 memiliki hasil belajar yang rendah. Rendahnya hasil belajar dikarenakan penerapan model pembelajaran yang kurang sesuai, siswa pasif dalam pembelajaran, tidak ada penilaian terhadap tugas. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis peningkatan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-MIPA-1 SMA Negeri 3 Bondowoso melalui penerapan model pembelajaran Student Facilitator and Explaining (SFAE). Untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran kimia, maka dilakukan penelitian tindakan kelas yang terdiri dari dua siklus.Setiap siklus terdiri dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi. Subjek penelitian ini adalah siswa SMA Negeri 3 Bondowoso kelas X-MIPA-1 tahun pelajaran 2018/2019 sebanyak 35 orang siswa, terdiri dari 19 laki-laki dan 16 perempuan. Instrumen pengumpulan data dalam penelitian ini adalah lembar observasi yang digunakan untuk mengetahui tingkat motivasi belajar siswa, dan soal evaluasi untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa pada setiap akhir siklus. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kondisi awal jumlah siswa yang mengalami peningkatan motivasi belajarnya sebanyak 13 orang (37,14%), pada siklus I meningkat menjadi 23 orang (65,71%) dan pada siklus II meningkat menjadi 33 orang (94.29%). Peningkatan motivasi belajar siswa diikuti oleh meningkatnya hasil belajar siswa. Pada kondisi awal nilai rata-rata secara klasikal yang diperoleh siswa sebesar 58,86, pada siklus I meningkat menjadi 67,43, dan pada siklus II menjadi 77,71. Meningkatnya rata-rata nilai hasil belajar siswa berdampak pada meningkatnya ketuntasan belajar siswa, yaitu pada kondisi awal jumlah siswa yang tuntas sebanyak 10 orang (28,57%), pada siklus I meningkat menjadi 22 orang (62,86%), dan pada siklus II jumlah siswa yang tuntas menjadi 32 orang (91,43%). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa penggunaan model Student Facilitator and Explaining (SFAE) dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa kelas X-MIPA-1 SMA Negeri 3 Bondowoso tahun pelajaran 2018/2019 pada mata pelajaran Kimia materi larutan non elektrolit dan elektrolit
Upaya Meningkatkan Pemahaman Dan Hasil Belajar Siswa Tentang Perkembangbiakan Tumbuhan Secara Vegatatif Alami Melalui Model Pembelajaran Discovery Learning Di Kelas VI SDN 63 Surabayo Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam Semester I Tahun Pelajaran 2021
Penelitian ini dilatarbelakangi karena rendahnya pemahaman dan hasil belajar siswa yang belum efektif. Rendahnya hasil belajar siswa dipengaruhi kurangnya pemahaman terhadap materi pembelajaran yang disebabkan penyampaian materi berpusat pada guru sehingga pembelajaran menjadi membosankan dan siswa menjadi pasif dalam mengikuti pembelajaran. Metode penelitian ini menggunakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model kemmis dan Taggart. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus yang setiap siklusnya terdiri dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam penelitian ini yang menjadi subjeknya adalah siswa kelas VI Negeri 63 Surabayo Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam Semester 1 Tahun Pelajaran 2021/2022 berjumlah 19 orang siswa, 9 orang perempuan dan 10 orang laki-laki. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik observasi, tes dan dokumentasi. Teknik validasi data menggunakan teknik triangulasi. Analisis data menggunakan teknik deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode Discovery Learning pada pembelajaran IPA terbukti mampu meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa. Hal tersebut terindikasi dari peningkatan pemahaman siswa menunjukkan perolehan pada studi awal hanya 6 siswa atau 31,58%, naik menjadi 12 siswa atau 63,16% pada siklus pertama, dan serta 100% atau 19 siswa pada siklus kedua, serta meningkatkan hasil dan ketuntasan belajar siswa dari rata-rata pada studi awal hanya 55,26 naik menjadi 63,68 pada siklus pertama, dan 75,26 pada siklus kedua, dengan tingkat ketuntasan belajar sebanyak 4 siswa (21,05%) pada studi awal, 47,37% atau 9 siswa pada siklus pertama, 17 siswa atau 89,47% dinyatakan tuntas belajarnya dan 2 siswa (10,53%) belum tuntas belajarnya namun semua kriteria keberhasilan telah tercapai sehingga proses perbaikan dinyatakan selesai pada siklus kedua dan kepada siswa yang belum tuntas akan diberikan program remidial. Kesimpulan yang diperoleh dari penelitian ini adalah, bahwa penggunaan model pembelajaran discovery learning mampu meningkatkan pemahaman dan hasil belajar siswa kelas VI Negeri 63 Surabayo Kecamatan Lubuk Basung Kabupaten Agam Semester 1 Tahun Pelajaran 2021/2022