Journal Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)
Not a member yet
    7128 research outputs found

    Manajemen Sekolah Adiwiyata Untuk Menumbuhkan Karakter Tanggung Jawab di SD Negeri Magelang 6 Kota Magelang

    No full text
    This study aims to analyze the implementation of Adiwiyata school management in fostering students' responsibility character, to identify obstacles, and to formulate strategies for overcoming them at SD Negeri Magelang 6, Magelang City. This research used a descriptive qualitative approach with data collection techniques through triangulation, including observation, interviews, and documentation. Data were analyzed interactively through data reduction, presentation, and conclusion drawing. The results showed that the Adiwiyata program was implemented in a structured and participatory manner through planning, implementation, supervision, and evaluation stages. The program involved school principals, teachers, students, school committees, and external partners. Environmental responsibility values were integrated into the curriculum and school culture through activities such as clean-up programs, waste management, class duties, and recycling projects. The main challenges faced include limited facilities, lack of active participation from some school members, and difficulty in maintaining program consistency. Strategies applied include regular coordination, periodic evaluation, educational approaches for younger students, parental involvement, reward and sanction systems, and the formation of student environmental cadres.The Adiwiyata program management at SD Negeri Magelang 6 effectively fosters students’ responsibility toward the environment. This program serves as a model of best practices for character education based on environmental awareness in elementary schools.  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi manajemen Sekolah Adiwiyata dalam menumbuhkan karakter tanggung jawab siswa, mengidentifikasi hambatan, serta merumuskan strategi pemecahannya di SD Negeri Magelang 6 Kota Magelang. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik triangulasi data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan secara interaktif melalui reduksi, penyajian, dan penarikan simpulan.Hasil penelitian menunjukkan bahwa manajemen Program Adiwiyata dilaksanakan secara terstruktur dan partisipatif melalui perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, dan evaluasi. Program ini melibatkan kepala sekolah, guru, siswa, komite, dan mitra eksternal. Nilai tanggung jawab lingkungan diintegrasikan ke dalam kurikulum dan budaya sekolah melalui kegiatan seperti kerja bakti, pengelolaan sampah, piket kelas, dan daur ulang. Hambatan yang dihadapi meliputi keterbatasan sarana, partisipasi yang belum optimal, dan konsistensi pelaksanaan. Strategi yang digunakan meliputi koordinasi tim Adiwiyata, evaluasi berkala, pendekatan edukatif, pelibatan orang tua, sistem penghargaan, serta pembentukan kader lingkungan.Manajemen Program Adiwiyata di SDN Magelang 6 efektif menumbuhkan karakter tanggung jawab siswa terhadap lingkungan. Program ini dapat menjadi model praktik baik dalam pendidikan karakter berbasis lingkungan di sekolah dasar.

    Implementing differentiated instruction based on learning styles to improve elementary students’ learning outcomes

    No full text
    The diversity of students' learning styles requires the application of adaptive learning strategies so that learning needs can be optimally met. This study aims to analyze students' learning styles, apply differentiated learning based on learning styles, and examine its impact on IPAS learning outcomes. The study uses a mixed method with a sequential exploratory design. Data were collected through learning style questionnaires, pretest, and posttest. The results showed that 41% of students had an auditory learning style, 33% had a visual learning style, and 26% had a kinesthetic learning style. Differentiated learning was implemented through the stages of diagnostic assessment, planning, implementation, and evaluation of learning. Analysis of learning outcomes showed an average score increase of 14.07, with significant paired samples test results (p < 0.0001). These findings indicate that differentiated learning based on learning styles has a positive effect on improving student learning outcomes. The implications of this study emphasize the importance of applying differentiated learning as an effective strategy to improve the quality of learning in elementary schools. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar dalam meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar Keberagaman gaya belajar peserta didik menuntut penerapan strategi pembelajaran yang adaptif agar kebutuhan belajar dapat terpenuhi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya belajar peserta didik, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar, serta mengkaji dampaknya terhadap hasil belajar IPAS. Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain eksplorasi berurutan. Data dikumpulkan melalui angket gaya belajar, tes pretest, dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 41% peserta didik memiliki gaya belajar auditori, 33% visual, dan 26% kinestetik. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dilakukan melalui tahapan asesmen diagnostik, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Analisis hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor sebesar 14,07, dengan hasil uji paired samples test yang signifikan (p < 0,0001). Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar berpengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan pembelajaran berdiferensiasi sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar.The diversity of students' learning styles requires the application of adaptive learning strategies so that learning needs can be optimally met. This study aims to analyze students' learning styles, apply differentiated learning based on learning styles, and examine its impact on IPAS learning outcomes. The study uses a mixed method with a sequential exploratory design. Data were collected through learning style questionnaires, pretest, and posttest. The results showed that 41% of students had an auditory learning style, 33% had a visual learning style, and 26% had a kinesthetic learning style. Differentiated learning was implemented through the stages of diagnostic assessment, planning, implementation, and evaluation of learning. Analysis of learning outcomes showed an average score increase of 14.07, with significant paired samples test results (p < 0.0001). These findings indicate that differentiated learning based on learning styles has a positive effect on improving student learning outcomes. The implications of this study emphasize the importance of applying differentiated learning as an effective strategy to improve the quality of learning in elementary schools. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar dalam meningkatkan hasil belajar siswa sekolah dasar Keberagaman gaya belajar peserta didik menuntut penerapan strategi pembelajaran yang adaptif agar kebutuhan belajar dapat terpenuhi secara optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gaya belajar peserta didik, menerapkan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar, serta mengkaji dampaknya terhadap hasil belajar IPAS. Penelitian menggunakan metode campuran dengan desain eksplorasi berurutan. Data dikumpulkan melalui angket gaya belajar, tes pretest, dan posttest. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 41% peserta didik memiliki gaya belajar auditori, 33% visual, dan 26% kinestetik. Implementasi pembelajaran berdiferensiasi dilakukan melalui tahapan asesmen diagnostik, perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pembelajaran. Analisis hasil belajar menunjukkan adanya peningkatan rata-rata skor sebesar 14,07, dengan hasil uji paired samples test yang signifikan (p < 0,0001). Temuan ini mengindikasikan bahwa pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan gaya belajar berpengaruh positif terhadap peningkatan hasil belajar peserta didik. Implikasi penelitian ini menegaskan pentingnya penerapan pembelajaran berdiferensiasi sebagai strategi efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di sekolah dasar

    Etnomatematika pada Gunungan dalam Tradisi Kirab Budaya Merti Dusun sebagai Sumber Pembelajaran Materi Geometri

    No full text
    Pendidikan yang baik dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang berkualitas. Beberapa guru dan siswa merasa kesulitan pada proses pembelajaran matematika. Salah satu pendekatan yang kontekstual dalam pembelajaran matematika yaitu etnomatematika. Kirab budaya adalah tradisi yang melibatkan gunungan yang berisi hasil bumi yang diarak sebagai wujud rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Gunungan bisa menjadi salah satu media yang bisa dieksplorasi untuk berbagai konsep matematika. Salah satu konsep matematika yang bisa dieksplorasi pada gunungan yaitu konsep geometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih mengenai geometri yang terdapat dalam tradisi gunungan kirab budaya merti dusun Ngalangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi literatur dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian yaitu pendataan (data reduction), penyajian data (data display), dan menarik kesimpulan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu pada pembahasan konsep geometri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gunungan bisa dieksplorasi untuk penguasaan materi konsep geometri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gunungan pada acara merti dusun bukan hanya untuk melestarikan budaya saja tetapi bisa untuk menggali konsep matematika. implikasi pada pembelajaran matematika dalam penelitian ini adalah siswa dapat belajar menghitung volume kerucut dan sifat-sifat pada bangun datar yang ada pada alas gunungan.Kata kunci: etnomatematika, kirab budaya, merti dusun, eksplorasi Good education is influenced by a quality learning process. Some teachers and students find the learning process of mathematics difficult. One contextual approach to learning mathematics is ethnomathematics. The cultural parade is a tradition involving gunungan, which are mountains of agricultural produce that are paraded as an expression of the community's gratitude to God Almighty. Gunungan can be a medium that can be explored for various mathematical concepts. One of the mathematical concepts that can be explored in gunungan is the concept of geometry. This study aims to explore more about the geometry found in the tradition of gunungan in the cultural parade of the Ngalangan hamlet. This study uses a qualitative method with an ethnographic approach. The data collection technique used in this study is literature study and documentation. The data analysis techniques used in this research are data collection (data reduction), data presentation (data display), and drawing conclusions. The results of this study indicate that gunungan can be explored to master geometric concepts. The conclusion of this study is that gunungan in the merti dusun event is not only for preserving culture but also for exploring mathematical concepts.Pendidikan yang baik dipengaruhi oleh proses pembelajaran yang berkualitas. Beberapa guru dan siswa merasa kesulitan pada proses pembelajaran matematika. Salah satu pendekatan yang kontekstual dalam pembelajaran matematika yaitu etnomatematika. Kirab budaya adalah tradisi yang melibatkan gunungan yang berisi hasil bumi yang diarak sebagai wujud rasa syukur masyarakat terhadap Tuhan Yang Maha Esa. Gunungan bisa menjadi salah satu media yang bisa dieksplorasi untuk berbagai konsep matematika. Salah satu konsep matematika yang bisa dieksplorasi pada gunungan yaitu konsep geometri. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi lebih mengenai geometri yang terdapat dalam tradisi gunungan kirab budaya merti dusun Ngalangan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan studi literatur dan dokumentasi. Adapun teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian yaitu pendataan (data reduction), penyajian data (data display), dan menarik kesimpulan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yaitu pada pembahasan konsep geometri. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gunungan bisa dieksplorasi untuk penguasaan materi konsep geometri. Kesimpulan dari penelitian ini adalah gunungan pada acara merti dusun bukan hanya untuk melestarikan budaya saja tetapi bisa untuk menggali konsep matematika. implikasi pada pembelajaran matematika dalam penelitian ini adalah siswa dapat belajar menghitung volume kerucut dan sifat-sifat pada bangun datar yang ada pada alas gunungan.Kata kunci: etnomatematika, kirab budaya, merti dusun, eksplorasi Good education is influenced by a quality learning process. Some teachers and students find the learning process of mathematics difficult. One contextual approach to learning mathematics is ethnomathematics. The cultural parade is a tradition involving gunungan, which are mountains of agricultural produce that are paraded as an expression of the community's gratitude to God Almighty. Gunungan can be a medium that can be explored for various mathematical concepts. One of the mathematical concepts that can be explored in gunungan is the concept of geometry. This study aims to explore more about the geometry found in the tradition of gunungan in the cultural parade of the Ngalangan hamlet. This study uses a qualitative method with an ethnographic approach. The data collection technique used in this study is literature study and documentation. The data analysis techniques used in this research are data collection (data reduction), data presentation (data display), and drawing conclusions. The results of this study indicate that gunungan can be explored to master geometric concepts. The conclusion of this study is that gunungan in the merti dusun event is not only for preserving culture but also for exploring mathematical concepts

    Assistance in Introducing Operational Systems Along with Administration and Financial Reporting in Accordance with Tri-Nga Teachings (Ngerti, Ngroso, Nglakoni)

    No full text
    Purpose ­ This community service program aims to assist the Budi Pekerti Luhur Women's Sharia Savings and Loan Cooperative (KSPPS-P BUPELUR) in understanding its operational systems, preparing financial reports, and improving cooperative administration. During its eight years of operation, this cooperative still faces a number of challenges in financial management, such as manual financial recording, discrepancies between records and actual transactions, and errors in recording depreciation and amortization that do not match the amount of assets owned. In addition, the cooperative's management also experiences difficulties in bookkeeping and archiving financial documents. Methods - In this community service program, various methods will be used to provide solutions to the problems faced, including lectures, interactive discussions, independent assignments, role plays, and evaluations. These methods are expected to improve participants' understanding and skills in cooperative financial management. Result and discussions - The community service team will provide education and training covering various important aspects of the cooperative system, namely: Introduction to the cooperative operational system, Cooperative member registration procedures, Management of savings transactions, Management of financing transactions, Preparation of cooperative journals, Preparation of general journals, Preparation of financial reports, Management and regulation of administrative systems. The material presented in this training will refer to the Tri Nga philosophy, namely Ngerti (understanding), Ngrasa (feeling), and Nglakoni (doing). This approach aims to ensure that participants not only gain theoretical understanding, but also feel the importance of good financial management and apply it in their daily practices. Conclusion - Through this program, participants are expected to gain a better understanding of preparing financial statements based on Financial Accounting Standards for Private Entities (SAK EP). In addition, they will also be guided in recording depreciation and amortization of assets more accurately and improving their skills in bookkeeping and archiving financial documents systematically using digital technology, such as Google Drive and spreadsheets. Thus, cooperatives can manage their finances more efficiently, transparently, and in accordance with applicable accounting standards

    Kajian Stabilitas Konstruksi Culvert Bridge dalam Mitigasi Debit Banjir Kala Ulang 50 Tahun di Kawasan Industri Gas Kabupaten Barito Utara

    No full text
    Culvert bridges are an important part of industrial drainage systems that must be evaluated for stability. Construction stability is a crucial factor, especially in the gas industrial area of ​​North Barito Regency, which has an extreme risk of flooding. This research uses hydraulic and geotechnical analysis to evaluate the safety factors of culvert bridges from the hydraulic and construction stability aspects. The research results show that to flow the design discharge with a return period of 50 years (Q50) of 13.78 m³/s, a culvert with a diameter of 2.967 m is required. With the addition of 25% freeboard, the design diameter increases to 3.709 m. However, the materials available are two steel pipe units with a diameter of 3 m. Hydraulic calculations show that one culvert with a diameter of 3 m can carry a discharge of up to 15,047 m³/s, so two culvert units can accommodate 30,093 m³/s, far exceeding the design discharge. Meanwhile, the stability analysis results show a safety factor (SF) against overturning 5.98 and against sliding 4.473, both exceeding the recommended safe limits. Apart from that, the bearing capacity of the subgrade is also sufficient, with a maximum stress of 528.475 kN/m², still far below the allowable stress of 868.8582 kN/m². The results of this research confirm that the two culvert designs not only meet the hydraulic and geotechnical criteria. However, they can also effectively channel the designed flood discharge with a high level of safety.  Culvert bridge merupakan bagian penting dari sistem drainase industri yang perlu dievaluasi stabilitasnya. Stabilitas konstruksi menjadi faktor krusial, terutama di kawasan industri gas Kabupaten Barito Utara yang memiliki risiko banjir ekstrem. Penelitian ini mengevaluasi faktor keamanan culvert bridge dari aspek hidraulik dan stabilitas konstruksi menggunakan analisis hidraulik serta geoteknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk mengalirkan debit rancangan dengan kala ulang 50 tahun (Q50) sebesar 13,78 m³/s, diperlukan culvert berdiameter 2,967 m. Dengan tambahan freeboard 25%, diameter desain meningkat menjadi 3,709 m. Namun, material yang tersedia adalah dua unit pipa baja berdiameter 3 m. Perhitungan hidraulik menunjukkan bahwa satu culvert berdiameter 3 m mampu mengalirkan debit hingga 15,047 m³/s, sehingga dua unit culvert dapat menampung total 30,093 m³/s, jauh melebihi debit rancangan. Sementara itu, hasil analisis stabilitas menunjukkan Safety factor (SF) terhadap guling sebesar 5,98 dan terhadap geser sebesar 4,473, keduanya melampaui batas aman yang direkomendasikan. Selain itu, daya dukung tanah dasar juga mencukupi, dengan tegangan maksimum 528,475 kN/m², masih berada jauh di bawah tegangan izin sebesar 868,8582 kN/m². Hasil penelitian ini mengonfirmasi bahwa desain dua culvert tidak hanya memenuhi kriteria hidraulik dan geoteknik, tetapi juga mampu berfungsi secara efektif dalam mengalirkan debit banjir rancangan dengan tingkat keamanan yang tinggi

    2D Modelling of the Breakdown Voltage of Hybrid Dielectric (Gas and Solid) System

    No full text
    Sulfur hexafluoride (SF6) has been used over decades due to its excellent dielectric, arc quenching and heat transfer properties, but has tremendous global warming potential. It is therefore mandatory to find more environmentally friendly alternatives by designing of future eco-friendly hybrid insulation (solid and gas) system that require a thorough understanding of the evolution of electric field in such structure. A numerical model was developed using finite element method (FEM) of a commercial software Comsol® Multiphysics. Using electrostatic equations, the 2D model stability, 2D boundary model and  voltages are varied in order to identify their influence on the electric field distribution. Numerical simulations show that maximum electric fields will vary significantly according to distances of point-dielectric (gap). The maximum electric field increases if the gap (electrode tip-planar) size is shorter. Additionally, the electric field is not linearly spread in solid dielectric material and more concentrated around the edges of solid dielectric.Selama beberapa dekade, Sulfur heksafluorida (SF6) telah digunakan untuk isolasi peralatan listrik tegangan menengah dan tinggi karena sifat dielektriknya yang sangat baik, pemadaman busur listrik, dan perpindahan panas, tetapi memiliki potensi pemanasan global yang sangat besar. Oleh karena itu, penting untuk menemukan alternatif yang lebih ramah lingkungan. Perancangan sistem isolasi hibrida (padat dan gas) yang ramah lingkungan di masa depan memerlukan pemahaman menyeluruh tentang evolusi medan listrik dalam struktur tersebut. Model numerik dikembangkan menggunakan metode elemen hingga (FEM) dari perangkat lunak komersial Comsol® Multiphysics. Menggunakan persamaan elektrostatik, permitivitas relatif dan muatan permukaan dielektrik padat divariasikan untuk mengidentifikasi pengaruhnya terhadap distribusi medan listrik. Simulasi numerik telah mengungkapkan medan listrik maksimum akan bervariasi secara signifikan menurut permitivitas relatif dan jarak titik-dielektrik (celah). Medan listrik maksimum meningkat jika ukuran celah (ujung elektroda-planar) lebih pendek. Selain itu, medan listrik tidak menyebar secara linier dalam bahan dielektrik padat dan lebih terkonsentrasi di sekitar tepi dielektrik padat. Kata kunci: SF6, gas ramah lingkungan, medan listrik, isolasi hibrida, siste

    Analisis nilai etnopedagogi dalam kesenian topeng banjet di Kabupaten Karawang

    No full text
    Traditional art reflects the identity of a region, characterized by the characteristics and distinctive style of the region's cultural wealth. The art of banjet mask is a Sundanese ethnic cultural heritage located in Karawang Regency. This study aims to explore the ethnopedagogical value and contribution of banjet mask art in the preservation of regional culture in Karawang Regency. The method used in this research is qualitative research through an ethnographic approach. The research results are presented as follows: first, the offering ritual contains religious values, because it contains the meaning of asking for the smooth running of a performance and respect for the ancestors; second, the gamelan musical instrument contains aspects of collaborative learning, cooperation between musicians (nayaga) in the banjet mask performance and maintenance of cultural heritage; third, the story play set against the background of the social conditions of society refers to human moral values; fourth, the costumes used by topeng banjet dancers contain aesthetic values and modesty and can be a medium for conveying traditional cultural values to the younger generation or to the audience in performances; fifth, the art of topeng banjet actively contributes to the preservation of regional culture in Karawang Regency by participating in activities related to arts and culture and topeng banjet artists share knowledge with children in the surrounding environment.Seni tradisional mencerminkan identitas dari suatu daerah, ditandai dengan karakteristik dan gaya khas dari kekayaan budaya daerah tersebut. Seni topeng banjet merupakan warisan budaya etnis Sunda yang berada di Kabupaten Karawang. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi nilai etnopedagogi serta kontribusi seni topeng banjet dalam pelestarian budaya daerah di Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif melalui pendekatan etnografi. Hasil penelitian dipaparkan sebagai berikut: pertama, ritual sesajen memuat nilai keagamaan, karena terkandung makna permohonan kelancaran sebuah pertunjukan dan penghormatan kepada leluhur; kedua, pada alat musik gamelan terkandung aspek pembelajaran kolaboratif, kerja sama antara pemain musik (nayaga) dalam pertunjukan topeng banjet serta pemeliharaan warisan seni budaya; ketiga, lakon cerita yang berlatar belakang kondisi sosial masyarakat mengacu pada nilai moral manusia; keempat, kostum yang digunakan penari topeng banjet memuat nilai estetika dan kesopanan serta dapat menjadi media untuk menyampaikan nilai-nilai budaya tradisional kepada generasi muda atau kepada penonton dalam pertunjukan; kelima, seni topeng banjet berkontribusi secara aktif dalam pelestarian budaya daerah di Kabupaten Karawang dengan cara ikut serta dalam aktivitas terkait seni dan budaya dan para seniman topeng banjet berbagi ilmu kepada anak-anak di lingkungan sekitarnya

    Perilaku konsumtif mahasiswa melalui aplikasi TikTok Shop ditinjau dari Perspektif Jean Baudrillard

    No full text
    This research aims to reveal patterns of consumer behavior and identify the impacts of such behavior among students at Unismuh Makassar. Using qualitative methods and a case study approach, the research explores the dynamics behind students' purchasing decisions through data collection techniques such as observation, interviews, and document analysis. The findings of this study indicate that Unismuh Makassar students exhibit high levels of consumerism, driven by a desire to appear fashionable and take advantage of various discounts offered during events like the TikTok Shopping 12.12 Mega Sale. Additionally, their behavior is influenced by marketing strategies involving public figures or their favorite celebrities. This consumerism is not only driven by the need to conform to social norms and enhance self-image but also by the influence of social media and the phenomenon of hyperreality, as explained in Jean Baudrillard's theory of simulacra and simulation. The impact of this consumer behavior is twofold: on one hand, there is an increase in self-confidence among the students; on the other hand, this behavior often leads to negative effects such as overspending, which can disrupt students' financial stability and reduce their ability to save and invest for the future.This research aims to reveal patterns of consumer behavior and identify the impacts of such behavior among students at Unismuh Makassar. Using qualitative methods and a case study approach, the research explores the dynamics behind students' purchasing decisions through data collection techniques such as observation, interviews, and document analysis. The findings of this study indicate that Unismuh Makassar students exhibit high levels of consumerism, driven by a desire to appear fashionable and take advantage of various discounts offered during events like the TikTok Shopping 12.12 Mega Sale. Additionally, their behavior is influenced by marketing strategies involving public figures or their favorite celebrities. This consumerism is not only driven by the need to conform to social norms and enhance self-image but also by the influence of social media and the phenomenon of hyperreality, as explained in Jean Baudrillard's theory of simulacra and simulation. The impact of this consumer behavior is twofold: on one hand, there is an increase in self-confidence among the students; on the other hand, this behavior often leads to negative effects such as overspending, which can disrupt students' financial stability and reduce their ability to save and invest for the future

    Confess: Menjelajahi maraknya Confeesion Online di kalangan remaja di era digital dan implikasi psikologisnya

    No full text
    TikTok's growth has dramatically altered the terrain of teenage social interaction, establishing a one-of-a-kind platform for self-expression and peer participation. This study investigates the problem of adolescent confessions via the TikTok platform, focussing on how the app may be used to share personal experiences and feelings. Furthermore, the researcher want to investigate the influence of someone confessing or declaring their sentiments first to a loved one. Using a qualitative method, this study examines several TikTok patterns for Confess activities that encourage viewers to expose sensitive elements of their life, typically in the name of amusement or humour. According to the findings, TikTok activities are not only promotes a sense of community and belonging among teenagers, but it also influences their self-esteem and identity construction. Confession allows individuals to manage their weaknesses, seeking approval and support from their friends while dealing with societal pressures. According to analysis, confessing can have both beneficial and bad implications, including anxiety caused by public attention. This study contributes to a better understanding of how digital platforms impact teenage behaviour and mental health in today's world by investigating the dual nature of confessing on TikTok. Confession, on the other hand, can give direct emotional experiences in the form of rejection and acceptance, which can have a considerable impact on people' well-being, with a wide variety of effects ranging from mild to major. Munculnya TikTok telah secara signifikan mengubah lanskap interaksi sosial di kalangan remaja, menciptakan lingkungan unik untuk ekspresi diri dan keterlibatan teman sebaya. Artikel ini mengkaji fenomena confess di kalangan remaja melalui platform TikTok, menyoroti bagaimana aplikasi tersebut berfungsi sebagai media untuk berbagi pengalaman dan emosi pribadi. Selanjutnya peneliti ingin mengkaji lebih dalam terkait dampak yang terjadi ketika seseorang melakukan confess atau menyatakan perasaannya terlebih dahulu kepada orang yang dicintai. Dengan menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini menganalisis berbagai tren Confess di TikTok yang mendorong pengguna untuk mengungkapkan aspek-aspek intim dalam kehidupan mereka, seringkali dengan kedok hiburan atau humor. Temuan ini menunjukkan bahwa kegiatan di TikTok tidak hanya memfasilitasi rasa kebersamaan dan rasa memiliki, namun juga berdampak pada harga diri dan pembentukan identitas remaja. Melalui confess, pengguna menavigasi kerentanan mereka, mencari validasi dan dukungan dari rekan-rekan mereka sekaligus bergulat dengan harapan masyarakat. Analisis mengungkapkan bahwa praktik confess ini dapat membawa dampak positif, seperti peningkatan penerimaan diri, dan konsekuensi negatif, termasuk kecemasan yang timbul dari pengawasan publik. Dengan mengeksplorasi sifat ganda dari confess di TikTok, penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih mendalam tentang bagaimana platform digital memengaruhi perilaku remaja dan kesehatan mental di era saat ini. Confess juga dapat memberikan pengalaman emosional secara langsung, baik dalam bentuk penolakan maupun penerimaan, dapat mempengaruhi kesejahteraaan subjek secara signifikan, dengan berbagai macam dampak yang dialami subjek dimulai dari dampak kecil hingga dampak besar. Implikasinya terhadap orang tua dan orang-orang sekitarnya juga dibahas, guna menekankan perlunya panduan dalam menavigasi kompleksitas interaksi media sosial di kalangan remaja

    Sariswara dalam dinamika budaya: Analisis nilai budaya dan karakter bangsa

    No full text
    The Sariswara method, as a form of literary expression that combines elements of story, song, and language, has an important role in shaping and reflecting the values ​​and character of the nation. This article aims to analyze how the sariswara method represents cultural values ​​and good characters that grow and develop in Indonesian society. Through a qualitative approach and content analysis of several sariswara works, it was found that sariswara is not only a means of entertainment, but also acts as a means of transmitting moral values, ethics, the spirit of collectivity (mutual cooperation), and respect for parents, and love for the homeland. In the context of the dynamics of culture that continues to develop, sariswara shows flexibility and relevance in conveying noble messages in a subtle and touching way. This study confirms that the preservation and strengthening of sariswara has a strategic contribution in maintaining cultural identity and shaping the character of the nation, such as integrating values ​​such as honesty, responsibility, empathy, and love for the homeland with noble morals amidst the challenges of globalization.Metode Sariswara, sebagai bentuk ekspresi sastra yang menggabungkan unsur cerita, tembang, dan bahasa, memiliki peran penting dalam membentuk dan merefleksikan nilai serta karakter bangsa. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana metode sariswara merepresentasikan nilai-nilai budaya dan karakter baik yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat Indonesia. Melalui pendekatan kualitatif dan analisis isi terhadap beberapa karya sariswara, ditemukan bahwa sariswara tidak hanya menjadi sarana hiburan, namun juga berperan sebagai sarana transmisi nilai-nilai moral, etika, semangat kolektivitas (gotong royong), serta penghormatan terhadap orang tua, serta kecintaan terhadap tanah air. Dalam konteks dinamika budaya yang terus berkembang, sariswara menunjukkan fleksibilitas dan relevansi dalam menyampaikan pesan-pesan luhur secara halus dan menyentuh. Kajian ini menegaskan bahwa pelestarian dan penguatan sariswara memiliki kontribusi strategis dalam menjaga identitas budaya dan membentuk karakter bangsa seperti mengintegrasikan nilai-nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, empati, serta cinta tanah air yang berakhlak mulia di tengah tantangan globalisasi

    0

    full texts

    7,128

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Journal Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇