Repository Conference - Universitas Sriwijaya
Not a member yet
1907 research outputs found
Sort by
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN PETUNJUK PRAKTIKUM KIMIA ANORGANIK I BERBASIS ETNOKIMIA DI PENDIDIKAN KIMIA FKIP UNSRI
Pendidikan berperan penting dalam membentuk sumber daya manusia yang berkualitas dan berdaya saing di era global. Pembelajaran sains khususnya kimia masih menghadapi tantangan karena sifat materinya yang abstrak dan kompleks. Pembelajaran kimia perlu dirancang secara kontekstual dan relevan dengan kehidupan melalui pendekatan berbasis budaya lokal, salah satunya etnokimia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan petunjuk praktikum Kimia Anorganik I pada materi analisis sulfur berbasis etnokimia dengan mengangkat konteks budaya lokal kain jumputan khas Sumatera Selatan di Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Sriwijaya. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian mahasiswa yang sedang mengampu mata kuliah Praktikum Kimia Anorganik I. Instrument yang digunakan berupa angket analisis kebutuhan yang disebarkan melalui google formulir dan dianalisis menggunakan skala Guttman. Hasil analisis menunjukkan bahwa lebih dari 95% responden memberikan dukungan terhadap pengembangan petunjuk praktikum yang berbasis etnokimia. Meskipun sekitar 85% mahasiswa menyatakan bahwa bahan ajar praktikum telah tersedia, sebanyak 42,9% di antaranya menilai bahwa isi materi belum sepenuhnya mencerminkan konteks budaya lokal. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam pengembangan petunjuk praktikum berbasis etnokimia yang memiliki tingkat kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan tinggi dalam mendukung pembelajaran kimia di perguruan tinggi wilayah Sumatera Selatan
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN INTERAKTIF BERBASIS AI (ZEP.QUIZ) PADA PRAKTIKUM KIMIA DASAR DI UNIVERSITAS SRIWIJAYA
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan instrumen asesmen interaktif berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) melalui platform Zep.Quiz pada mata kuliah Praktikum Kimia Dasar di Universitas Sriwijaya. Latar belakang penelitian ini didasari oleh masih terbatasnya model evaluasi pembelajaran praktikum yang mampu menilai aspek pengetahuan, keterampilan prosedural, dan sikap ilmiah secara objektif dan terintegrasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode survei terhadap 75 mahasiswa dan 2 dosen pengampu mata kuliah. Data dikumpulkan melalui angket analisis kebutuhan dengan skala Likert lima tingkat dan dianalisis secara deskriptif persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebesar 43,42% responden menyatakan sangat setuju, 48,86% setuju, 5,26% ragu-ragu, dan masing-masing 1,32% menyatakan tidak setuju serta sangat tidak setuju terhadap urgensi pengembangan instrumen asesmen berbasis kecerdasan buatan. Temuan ini mengindikasikan bahwa mahasiswa dan dosen memiliki kebutuhan yang tinggi terhadap inovasi asesmen interaktif yang lebih adaptif, efisien, dan objektif dalam mendukung evaluasi pembelajaran praktikum kimia. Kesimpulannya, pengembangan instrumen asesmen berbasis kecerdasan buatan dinilai sangat relevan untuk diimplementasikan sebagai langkah awal menuju sistem evaluasi pembelajaran yang responsif terhadap kemajuan teknologi pendidikan
PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN DIAGNOSTIK BERORIENTASI HIGHER ORDER THINKING SKILLS DALAM PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MENSTIMULUS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIF SISWA
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen asesmen diagnostik berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) dalam model pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning/PBL) untuk menstimulasi kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa sekolah dasar. Subjek penelitian adalah siswa kelas IV Sekolah Dasar Negeri 1 Sepang Jaya dan Sekolah Dasar Negeri 3 Labuan Ratu di Bandar Lampung. Penelitian dilaksanakan pada semester ganjil tahun ajaran 2025 dengan fokus pada materi Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) tentang peran gaya dalam kehidupan sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian dan pengembangan (Research and Development/R&D) melalui tahapan analisis kebutuhan, perancangan, validasi ahli, uji coba terbatas, dan uji coba luas untuk memperoleh instrumen yang valid, praktis, dan efektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen asesmen diagnostik yang dikembangkan mampu menstimulasi kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa serta membantu guru dalam merancang pembelajaran yang kontekstual sesuai tuntutan pembelajaran abad ke-21. Kesimpulannya, pengembangan instrumen asesmen diagnostik berorientasi keterampilan berpikir tingkat tinggi dalam pembelajaran berbasis masalah berkontribusi terhadap peningkatan kualitas proses dan hasil belajar siswa, serta mendukung implementasi Kurikulum Merdeka di sekolah dasa
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KOMPUTASI GURU SMA MUHAMMADIYAH TUBOHAN MELALUI PELATIHAN TERSTRUKTUR BERBASIS KODING SCRATCH
Transformasi pendidikan di era Revolusi Industri 4.0 menuntut guru memiliki keterampilan digital, khususnya kemampuan berpikir komputasi dan koding. SMA Muhammadiyah Tubohan sebagai sekolah berbasis nilai keagamaan dan lingkungan menunjukkan kepedulian tinggi terhadap penguatan kompetensi digital guru. Namun, hasil observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar guru belum memahami dasar-dasar koding dan belum menerapkan pendekatan berpikir komputasi dalam pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berpikir komputasi guru melalui pelatihan terstruktur berbasis Scratch sebagai media pengenalan koding visual yang ramah bagi pemula lintas mata pelajaran. Metode yang digunakan adalah penelitian tindakan partisipatif dengan pendekatan pelatihan tiga tahap, meliputi: (1) pengenalan konsep berpikir komputasi, (2) praktik koding visual menggunakan Scratch, dan (3) penyusunan proyek mini berbasis mata pelajaran. Peserta terdiri dari 20 guru lintas bidang studi. Evaluasi dilakukan melalui pre-test dan post-test kemampuan berpikir komputasi, observasi praktik langsung, serta kuesioner umpan balik. Hasil penelitian menunjukkan peningkatan signifikan skor post-test sebesar 82,6% dibanding pre-test rata-rata 46,1%, dengan tingkat retensi pemahaman konsep mencapai 78% setelah dua minggu. Sebanyak 90% peserta mampu menyusun proyek koding sederhana, seperti simulasi ujian, permainan edukatif, dan alat bantu hitung berbasis geometri. Urgensi penelitian ini terletak pada minimnya model pelatihan yang kontekstual dan aplikatif bagi guru di wilayah semi-perkotaan. Kontribusi nyata dari kegiatan ini adalah terciptanya ekosistem pembelajaran yang lebih inovatif dan terbuka terhadap teknologi, sekaligus mendorong guru untuk mengintegrasikan koding sebagai media pengayaan dan penilaian alternatif. Hasil ini memperkuat pentingnya program pengembangan profesional guru berbasis teknologi yang berkelanjutan dalam menciptakan sekolah yang tangguh terhadap tantangan era digital
TRANSFORMASI PEMAHAMAN RELASIONAL MAHASISWA DALAM IMPLEMENTASI MODEL 5C: KAJIAN PENILAIAN FORMATIF SETIAP TAHAPAN PEMBELAJARAN
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji transformasi pemahaman relasional mahasiswa melalui penerapan model pembelajaran 5C, yaitu Connecting (Menghubungkan), Confrontation (Konfrontasi), Collaboration (Kolaborasi), Clarification (Klarifikasi), dan Confirmation (Konfirmasi). Penelitian ini dilakukan dalam mata kuliah Kimia Fisika II dengan menggunakan pendekatan deskriptif yang didukung oleh asesmen formatif pada setiap tahapan proses pembelajaran. Instrumen penelitian meliputi rubrik asesmen formatif dan lembar refleksi terstruktur. Temuan penelitian menunjukkan adanya pergeseran signifikan dalam pemahaman relasional mahasiswa di setiap tahapan model 5C. Asesmen formatif memainkan peran penting dalam menangkap dinamika perubahan konseptual dan memungkinkan intervensi pedagogis yang lebih terarah. Hasil ini menggarisbawahi pentingnya desain pembelajaran berbasis asesmen formatif dalam memperkuat konstruksi pemahaman relasional mahasiswa dalam pembelajaran kimia
DAUN BAYAM HIJAU (AMARANTHUS HYBRIDUS L.) SEBAGAI PEMACU DAYA INGAT MENCIT (MUS MUSCULUS L.)
Daya ingat atau memori memiliki peran penting dalam menyimpan dan memproses informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak etanol daun bayam hijau (Amaranthus hybridus L.) sebagai pemacu daya ingat mencit (Mus musculus L.) dengan menggunakan metode Morris Water Maze. Daya ingat diukur berdasarkan rata-rata waktu latensi paling rendah dalam mencapai kuadran target. Ekstrak etanol daun bayam hijau dibuat menggunakan metode maserasi dalam etanol 70%. Penelitian eksperimen ini menggunakan rancangan acak lengkap. Hewan percobaan dibagi menjadi lima kelompok yaitu: kontrol negatif (tween 80 1 ml), kontrol positif (piracetam 16mg/20 g BB), dan tiga kelompok mencit yang diinjeksikan ekstrak etanol daun bayam hijau dengan dosis yang berbeda (0,14 mg/20 g BB; 0,28 mg/20 g BB; dan 0,56 mg/20 g BB). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun bayam hijau secara signifikan berpengaruh terhadap daya ingat mencit dengan efek yang paling efektif ditunjukkan pada dosis 0,28 mg/20 g BB. Berdasarkan penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ekstrak etanol daun bayam hijau dapat memperbaiki daya ingat mencit dengan dosis 0,28 mg/20 g BB sebagai dosis paling efektif untuk memperbaiki kerusakan pada daya ingat mencit yang diinduksi alkohol. Penelitian ini menunjukkan bahwa tanaman bayam hijau berpotensi sebagai pengobatan alternatif untuk gangguan yang berkaitan dengan daya ingat
ANALISIS KEBUTUHAN UNTUK PENGEMBANGAN LKM DENGAN PENDEKATAN GAMIFIIKASI BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI ARGENTOMETRI
Pemahaman mahasiswa terhadap konsep titrasi argentometri masih tergolong rendah karena proses pembelajaran yang berlangsung cenderung berpusat pada dosen dan belum mendorong keterlibatan aktif mahasiswa dalam menemukan konsep. Selain itu, bahan ajar yang digunakan pada mata kuliah Dasar-Dasar Kimia Analitik masih bersifat teoritis dan kurang kontekstual sehingga mahasiswa kesulitan mengaitkan konsep dengan penerapannya dalam kehidupan nyata. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) berbasis Problem-Based Learning (PBL) kontekstual pada materi Titrasi Argentometri. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan model evaluasi Rountree dan Tessmer pada tahap self-evaluation dan one-to-one evaluation. Data dikumpulkan melalui wawancara dosen pengampu dan angket kebutuhan mahasiswa. Hasil penelitian menunjukkan 93,1% mahasiswa menyukai mata kuliah Dasar-Dasar Kimia Analitik, namun hanya 20,8% yang menyatakan telah memiliki bahan ajar yang sesuai. Sebanyak 73,6% mahasiswa mengalami kesulitan memahami konsep titrasi argentometri, 81,9% menilai bahan ajar belum menyajikan contoh kontekstual, dan 98,6% menyatakan memerlukan LKM berbasis PBL yang menarik dan aplikatif. Berdasarkan temuan tersebut, diperlukan pengembangan LKM kontekstual yang dapat membantu mahasiswa memahami konsep titrasi argentometri secara lebih mendalam dan bermakna
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN LKM BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING PADA MATERI ANALISIS ANION
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kebutuhan pengembangan Lembar Kerja Mahasiswa (LKM) berbasis Problem Based Learning (PBL) pada materi analisis anion. Analisis kebutuhan ini merupakan tahap awal model pengembangan Rowntree dengan evaluasi formatif mengacu pada model Tessmer. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang melibatkan dosen pengampu mata kuliah Dasar-Dasar Kimia Analitik dan mahasiswa program studi Pendidikan Kimia yang telah menempuh mata kuliah tersebut. Data dikumpulkan melalui angket dan wawancara semi-terstruktur. Hasil angket menunjukkan bahwa 98,4% mahasiswa membutuhkan bahan ajar berbasis PBL, dan 96,8% menginginkan LKM yang menarik serta kontekstual. Sebagian besar mahasiswa juga menilai bahan ajar saat ini belum memadai dan masih bersifat prosedural. Hasil wawancara dosen memperkuat temuan tersebut, bahwa pembelajaran belum menuntun mahasiswa berpikir kritis dan mengaitkan konsep dengan fenomena nyata seperti pencemaran Sungai Musi. Temuan ini menegaskan perlunya pengembangan LKM berbasis PBL dengan integrasi scaffolding untuk meningkatkan keterlibatan aktif, kemampuan berpikir ilmiah, dan kemandirian belajar mahasiswa
PROFIL SISWA SMA UNTUK ANIMASI SCRATCH BERBASIS KODING SEDERHANA DALAM PEMBELAJARAN FISIKA
Penelitian ini membahas tentang tantangan dalam pembelajaran fisika abad ke-21, dimana siswa membutuhkan media yang interaktif dan menarik untuk memahami konsep-konsep abstrak, khususnya yang berkaitan dengan isu lingkungan seperti perubahan iklim. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kebutuhan, minat, dan persepsi siswa terhadap penggunaan animasi edukatif berbasis pemrograman Scratch dalam pembelajaran fisika. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan instrumen kuesioner yang disebarkan kepada 50 siswa kelas XI di salah satu sekolah menengah atas. Instrumen penelitian mencakup tiga aspek utama, yaitu kebutuhan dan minat siswa, penerimaan terhadap inovasi, serta persepsi terhadap efektivitas media. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 80% siswa memiliki minat yang tinggi terhadap animasi edukatif dan menilai media tersebut mampu membuat pembelajaran lebih menarik serta mudah dipahami. Selain itu, siswa juga menunjukkan penerimaan positif terhadap penggunaan Scratch dan bersedia terlibat dalam proses pengembangan animasi. Temuan ini mengindikasikan bahwa animasi edukatif berbasis Scratch memiliki potensi besar untuk meningkatkan hasil belajar fisika, menumbuhkan motivasi, dan mendukung penguasaan keterampilan abad ke-2
DEVELOPING A PROTOTYPE OF MOLECULEARN: INTERACTIVE SCAFFOLDING-BASED MEDIA FOR MODERN CHROMATOGRAPHY LEARNING
This study presents the development of MolecuLearn, a prototype of interactive learning media based on scaffolding strategies, designed to support students' understanding of modern chromatography in a distance learning. Using the design thinking approach—empathize, define, ideate, prototype, and test—the development process was conducted systematically and collaboratively between researchers, chemistry education lecturers, and IT developers. The initial needs analysis involved 29 chemistry education students at Universitas Terbuka, revealing that 51.16% strongly agreed and 37.21% agreed on the importance of interactive, scaffolded media to support concept mastery. The Define stage highlighted core problems such as the abstract nature of chromatography, limited access to laboratory practice, and students’ need for structured learning guidance. The Ideate stage produced flowcharts, user interface designs, and key features including animated videos, feedback-based quizzes, and simulations—all integrating scaffolding principles to provide stepwise guidance. A web-based prototype of MolecuLearn was then developed with functional backend (course management, user administration, quiz scoring) and frontend (learning dashboard, interactive modules, user registration) components. Validation by three experts (subject, media, language) and limited trials with students confirmed the media’s effectiveness and usability. Key strengths identified were its visual clarity, interactive features, and adaptive learning path. The findings suggest that MolecuLearn is a viable and engaging platform that bridges the gap between theory and practice in chemistry education. Its scaffolding-based design helps students learn independently while still receiving structured support, especially in complex topics like chromatography. The study recommends broader implementation and further development of this platform for other abstract chemistry topics in distance education