Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (JIPVET - Journal of Tropical Animal and Veterinary Science)
Not a member yet
224 research outputs found
Sort by
Penyebaran Kutikula Pada Kerabang Telur Pada Usaha Peternakan Ayam Dengan Sistem Free Range: The cuticle covers on eggshell within one production cycle of laying hens in free-range system
Abstract
The cuticle is the outermost layer of the egg which deposited on to the surface of the egg during the final 1-1.5 hours prior to oviposition. It is a protective coating which prevents bacterial penetration through the gas exchange pores in the eggshell. The aim of this research is analysing the cuticle cover and ultrastructural features of the mammillary layer cover during production cycle in the free-range system. Data were collected from age 26, 37, 50 and 60 weeks of age to observe the eggshell colour (%), cuticle cover following the MST blue dye which analysed by spectrophotometry based on L*a*b system and scanning electron microscopy (SEM). Data were analysed using Statview Software (SAS Institute Inc., Version 5.0.1.0). A two way analysis of variance was conducted taking flock age and shed/flock as the independent variables and body weight, egg quality measurements, spectrophotometry (L*a*b) measurements, single score measurements for cuticle cover, and ultrastructural features as dependent variables. Level of significance was indicated by probability of less than 5%. The Fishers PLSD test was used to differentiate between mean values. The result of this research showed that the cuticle cover is vary from age to age. The greater value of cuticle cover in at 37 weeks of age which the same result also showed by single scrore and SEM. The cuticle cover of the shell is mostly affected by age and also strain.
Keyword: Cuticle; Eggshell quality; Laying hens.
Abstrak
Kutikula pada telur merupakan lapisan terluar telur yang dideposisikan pada lapisan palisade kurang lebih 1,5 – 2 jam di akhir pembentukan kerabang di dalam uterus. Kutikula berfungsi sebagai benteng pertahanan pertama untuk mencegah masuknya bakteri ke dalam telur. Penelitian ini dilakukan pada usaha peternakan ayam petelur yang dipelihara dengan system free range. Telur diambil untuk dianalisa penyebaran kutikula telur pada umur 26, 37, 50, dan 60 minggu. Variable yang diamati meliputi reflektifitas warna kerabang (%), penyebaran kutikula diukur menggunakan MST blue dye dan selanjutnya diukur melalui sistim spectrophotometry, yang difokuskan pada sistim pewarnaan berdasarkan sistim L*a*b* dan single score, dan dilanjutkan dengan pengamatan menggunakan scanning electron microscopy (SEM).Selanjutnya data dianalisis menggunakan Staview software (SAS Institute Inc. version 5.0.1.0) dengan analisis anova dua arah, dimana umur ayam sebagai variable independent dan nilai SCI a* sesudah perendaman dan nilai single score (ΔE*ab) sebagai variable dependent, pada level of significance 5%. Pengaruh yang nyata diuji lanjut menggunakan Fisher PLSD. Pada penelitian ini didapatkan bahwa penyebaran kutikula pada kerabang telur bervariasi selama pengamatan. Penyebaran kutikula terbanyak ditemukan pada saat ayam berumur 37 minggu. Hal ini juga diperkuat dengan hasil yang diperoleh dengan single score (ΔE*ab) yang memperlihatkan nilai ΔE*ab yang tinggi pada umur 37 minggu. Penyebaran kutikula pada kerabang telur sangat dipengaruhi oleh umur dan juga strain ayam.
Kata kunci: Ayam petelur; Kualitas telur; Kutikula
Karakteristik telur dan DOC ayam bangkok generasi pertama (G1) : Characteristics of first generation (G1) bangkok chicken eggs and DOC
Abstract
The study aims to determine the relationship between egg characteristics and egg weight, DOC weight and body weight, to characterize the size and body shape of the first generation of Bangkok chickens aged 3 months. A total of 315 chicken eggs were used with the experimental method. Characteristics of eggs, egg weight, body weight, weight gain and body measurements, DOC weight and characters of weight and body shape were analyzed using a t-test. regression and correlation analysis and principal component analysis. T-test showed chicken males were higher than females (P<0.05). Egg characteristics are positively related to egg weight with a correlation value of 66.90% for males and 84.10% for females. DOC weight of male and female chickens was positively related to body weight at 1, 2 and 3 months of age, with correlation values of DOC weight with roosters respectively 73.40%, 67.90% and 65.10% and females 74.20%, 67 .00% and 52.40%. The body size characteristic of male and female chickens is chest circumference. The characteristic body shape of the rooster is the wing's length while the hen is the length of the upper body. Conclusion: there is a positive relationship between egg characteristics and egg weight and the highest correlation between egg girth and egg weight, DOC weight with body weight with the highest correlation at 1-month weight, the identifier of body size is chest circumference and body shape characteristics, is the wing length (male) and upper body length (female).
Keywords: Bangkok chicken; Body weight; Characteristics of eggs; Correlation; Regression
Abstrak
Penelitian ini bertujuan 1) mengetahui hubungan karakteristik telur dengan bobot telur, 2) bobot DOC dengan bobot badan, 3) penciri ukuran dan bentuk tubuh ayam Bangkok generasi pertama umur 3 bulan. Sebanyak 315 butir telur ayam Bangkok digunakan dalam penelitian ini dengan metode eksperimen. Karakteristik telur, bobot telur, bobot badan, pertambahan bobot badan dan ukuran-ukuran tubuh dianalisis menggunakan uji-t. Hubungan karakteristik telur dengan bobot telur, dan bobot DOC dengan bobot badan umur DOC-3 bulan diuji menggunakan analisis regresi dan korelasi. Penciri ukuran dan bentuk tubuh dianalisis menggunakan analisis komponen utama. Karakteristik telur, bobot telur, bobot DOC, bobot badan, dan pertambahan bobot badan serta ukuran-ukuran tubuh ayam Bangkok jantan lebih tinggi dibandingkan ayam betina (P<0,05). Karakteristik telur berhubungan positif dengan bobot telur dengan nilai korelasi pada jantan 66,90% dan betina 84,10%. Bobot DOC ayam jantan dan betina berhubungan positif dengan bobot badan umur 1, 2 dan 3 bulan, dengan nilai korelasi bobot DOC dengan ayam jantan berurutan 73,40 %, 67,90 % dan 65,10% dan betina 74,20%, 67,00% dan 52,40%. Penciri ukuran tubuh ayam jantan dan betina yaitu lingkar dada. Penciri bentuk tubuh ayam jantan yaitu panjang sayap sedangkan ayam betina yaitu panjang tubuh atas. Kesimpulan: 1) terdapat hubungan yang positif antara karakteristik telur dengan bobot telur dan korelasi tertinggi antara lingkar telur dengan bobot telur, 2) bobot DOC memiliki hubungan yang positif dengan bobot badan dengan korelasi tertinggi bobot 1 bulan, 3) Penciri ukuran tubuh yaitu lingkar dada dan penciri bentuk tubuh yaitu panjang sayap (jantan) dan panjang tubuh atas (betina).
Kata Kunci: Ayam Bangkok; Bobot Badan; Karakteristik Telur; Korelasi; Regres
Identifikasi cacing nematoda pada saluran pencernaan babi di Makassar: Identification of nematode worms in the pig digestive tract in Makassar
ABSTRAK
Nematoda merupakan jenis endoparasit yang hidup dalam tubuh inang, ciriciri tubuhnya tidak bersegmen dan biasanya berbentuk silinder yang memanjang serta meruncing pada kedua ujungnya. Cacing Nematoda mempunyai kemampuan untuk beradaptasi terhadap jaringan inang sehingga umumnya tidak menimbulkan kerusakan serta gejala klinis yang berat tetapi dapat pula menjadi pathogen karena inang menderita malnutrisi atau terjadi penurunan daya imunitas tubuh. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi cacing Nematoda pada saluran pencernaan babi yang ada di Makassar. Penelitian ini dilakukan pada bulan Juni 2015. Sampel diambil dari 50 ekor ternak babi di peternakan Panaikang, Makassar. Sampel diperiksa dengan metode Uji Apung selanjutnya jika positif ditemukan telur cacing Nematoda maka dilakukan Uji Mc Master untuk menghitung jumlah telur cacing per gram tinja. Hasil penelitian ini menunjukkan 18 sampel ditemukan positif telur Ascaris suum (36%) dan satu sampel ditemukan positif telur Oesophagustomum dentatum (2%), berdasarkan tingkat derajat keparahannya termasuk infeksi ringan
Kata Kunci : Babi; Makassar; Nematoda; saluran pencernaan;
ABSTRACT
Nematodes are the types of endoparasites that live in the body of the host, the characteristics of the body is not segmented and usually cylindrical elongated and tapered at both ends. Nematode worms have the ability to adapt to the host tissue that generally do not cause damage and severe clinical symptoms, but can also be pathogenic for the host suffering from malnutrition or decreased immunity power. The aims of this non-experimental research were to identify Nematode worms in the digestive tract of pigs in Makassar. This research was conducted in June 2015. Samples were taken from 50 pigs on farms Panaikang, Makassar. Samples examined using the floating method furthermore if found positive Nematode worm eggs Mc Master then conducted tests to count the number of worm eggs per gram of feces. The results showed 18 samples found positive for eggs of Ascaris suum (36%), one sample was found positive Oesophagustomum dentatum egg (2%), based on the level of severity including mild infection.
Keywords : digestive tract; Nematoda; Pig; Makassa
Evaluasi proses penyediaan dan kualitas fisik daging babi di Manokwari: Evaluation the process of provision and physical quality of porki in Manokwari
Abstract
This study aims to determine the process of supply and physical quality of pork in Manokwari. The research was conducted at places of slaughtering, pork selling places, and Animal Health Sub-Laboratory, Faculty of Animal Science, UNIPA. This research is an observational study with a qualitative exploratory survey method. Place of slaughtering and pork selling places are determined using accidental sampling technique, determination of pork samples by purposive sampling. Data analysis was carried out descriptively, and qualitatively, data tabulation using the Microsoft Excel program. The results showed that there were 6 places where pigs were slaughtered which were carried out in pig pens, not in RPB (pork abattoir), where selling pork was carried out incidentally on the side of the main road, the slaughtering stages caused stress before slaughtering so that 33% of the pork experienced Dark Firm Dry and 16% of the pork experienced Pale Soft Exudative after cutting. Conclusion: pig slaughtering is not carried out in RPB, pork selling places are not in special locations, the process of slaughtering pigs creates stress and the stages of slaughter are different from the SOP in abattoirs. The quality of the pork is good but there is a change in the colour of the meat to DFD and PSE, pork is suitable for consumption but there is no guarantee of food safety because there is no antemortem and postmortem inspection so it is not certified.
Keywords: DFD; Manowari; Physical Quality; Pork;PSE
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses penyediaan dan kualitas fisik daging babi di Manokwari. Penelitian dilakukan di tempat pemotongan, tempat penjualan daging babi, dan Sub Laboratorium Kesehatan Hewan Fakultas Peternakan UNIPA. Penelitian ini merupakan penelitian observasional dengan metode survei eksploratif kualitatif. Tempat pemotongan dan penjualan daging babi ditentukan menggunakan teknik accidental sampling, penentuan sampel daging babi secara purposive sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif, kualitatif, tabulasi data menggunakan program microsoft excel. Hasil penelitian terdapat 6 tempat pemotongan babi yang dilakukan di kandang babi bukan di RPB, tempat penjualan daging babi dilakukan secara insidentil di pinggir jalan raya, tahapan pemotongan menyebabkan babi stres sebelum pemotongan sehingga 33% daging babi mengalami Dark Firm Dry dan 16% daging babi mengalami Pale Soft Exudatif pasca pemotongan. Kesimpulan: tempat pemotongan babi tidak dilakukan di RPB, tempat penjualan daging babi tidak di lokasi khusus, proses pemotongan babi menimbulkan stres dan tahapan pemotongan berbeda dengan SOP di RPH. Kualitas daging babi baik namun ada perubahan warna daging menjadi DFD dan PSE, daging babi layak dikonsumsi namun tidak ada jaminan keamanan pangan karena tidak ada pemeriksaan antemortem dan postmortem sehingga tidak tersertifikasi.
Kata kunci: Daging babi; DFD; Kualitas fisik; Manokwari; PS
Pengaruh Pemberian Probiotik dan Tepung Kunyit dalam Ransum Terhadap Saluran Pencernaan itik Pegagan: The Impact of Adding Probiotics and Turmeric Flour to Ducks' Meals on Their Digestive Systems
Abstract
Probiotic and turmeric powder is a combination of supplements which usually used to improve intestines microfology of livestocks and give the positive effect to the digestion. This study aims to look at the effect of probiotic and turmeric powder in the diet to the amount of Lactic Acid Bacteria in the ceccem, intestine’s weight, intestine’s length and intestine’s diameter of Pegagan ducks. Forty Pegagan ducks were used in this research. Diet used is basal diet which contains 10% protein and ME 2900 kkal/kg. This study used a CRD (Completely Randomized Design) with 5 treatments and 4 repititions. P0 basal diet (control), P1 (basal diet + probiotic 10-6 /ml +turmeric powder 2,5%), P2 (basal diet + probiotic 10-7 /ml +turmeric powder 2,5%), P3 (basal diet + probiotic 10-8 /ml +turmeric powder 2,5%), P4 (basal diet + probiotic 10-9 /ml +turmeric powder 2,5%). The parameters wich observed include amount of Lactic Acid Bacteria in the cecum, intestine’s weight, intestine’s length and intestine’s diameter of Pegagan ducks. Results showed that giving probiotic until 10-9 /ml and turmeric powder 2,5% in the ration effect the amount of bacteria in cecum, but not affect the intestine’s length and intestine’s diameter of Pegagan ducks.
Keywords: Digestive Tract; Pegagan ducks; Probiotic; Tumeric Powder.
Abstrak
Probiotik dan tepung kunyit merupakan kombinasi suplemen yang digunakan untuk memperbaiki mikrofologi usus dari ternak dan memberikan efek yang positif pada saluran pencernaan. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh pemberian probiotik dan tepung kunyit dalam ransum terhadap jumlah bakteri asam laktat dalam sekum, berat usus, panjang usus dan diameter usus itik Pegagan. Materi yang digunakan yaitu 40 ekor itik Pegagan. Ransum yang dipergunakan adalah ransum basal dengan kandungan protein 16% dan ME 2900 kkal/kg. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan, yaitu P0 (ransum basal), P1 (ransum basal + probiotik pengenceran 10-6/ml + tepung kunyit 2,5%), P2 (ransum basal + probiotik pengenceran 10-7/ml + tepung kunyit 2,5%), P3 (ransum basal + probiotik pengenceran 10-8/ml + tepung kunyit2,5%), P4 (ransum basal + probiotik pengenceran 10-9/ml + tepung kunyit 2,5 %). Parameter yang diamati meliputi jumlah bakteri pada sekum, berat usus, panjang usus, dan diameter usus pada itik Pegagan. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa pemberian probiotik hingga 10-9 /ml + tepung kunyit 2,5% dalam ransum berpengaruh terhadap jumlah bakteri asam laktat dalam sekum, panjang usus itik Pegagan.
Kata kunci: Itik Pegagan; Probiotik; Saluran Pencernaan; Tepung Kunyit
Keragaman Fenotipe Kualitatif dan Kuantitatif Itik Sikumbang Jonti sebagai Plasma Nutfah di Sumatera Barat: Qualitative and Quantitative Phenotypic Diversity of Sikumbang Jonti Duck as Germplasm in West Sumatra
Abstract
This research was aimed to identifiaty qualitative and quantitative phenotypic polymorphism of Sikumbang Jonti Duck in Kecamatan Payakumbuh Timur Kota Payakumbuh Sumatera Barat. This research used 206 Sikumbang Jonti duck that were sexual maturity (22-48 weeks), divided of 50 males and 156 females. The qualitative traits observeted were head color, neck color, breaks color, back color, primary wings color, tail color, thigh color, bill color, and shank color. The quantitative traits observed were body weight (kg), beak width (cm), beak length (cm), neck length (cm), wing length (cm), femur length (cm), tibia length (cm), shank length (cm), back length (cm), number of primary wing feathers (strands), number of secondary wing feathers (strands), pelvic width (cm), and chest circumference (cm). The result showed that color of Sikumbang Jonti duck was dominated by white. Male Sikumbang Jonti duck had color head was white-black, and female had color head was white. In addition, the Sikumbang Jonti duck had green primary wing feathers like a beetle. The coefficient of diversity of the Sikumbang Jonti duck was low for beak width, tibia length (female), number of primary wing feathers, and number of secondary wing feathers, moderate value for body weight, beak length, neck length, wing length, femur length (female), length tibia (male), shank length, back length, perlvis width (females), and chest circumference (males), and high value for femur length (males).
Keywords: Duck morphometric; Germplasm; Pattern color; Payakumbuh; Sumatera barat
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengindentifikasi keragaman fenotipe kualitatif dan kuantitatif itik Sikumbang Jonti di Kecamatan Payakumbuh Timur Kota Payakumbuh Provinsi Sumatera Barat. Penelitian ini menggunakan 206 ekor itik Sikumbang Jonti yang sudah dewasa kelamin (22 – 48 minggu), terdiri dari 50 ekor jantan dan 156 ekor betina. Sifat kualitatif yang diamati adalah warna bulu head, warna bulu neck, warna bulu breaks, warna back, warna primary wings, warna tail, warna thigh, warna bill, dan warna shank. Sifat kuantitatif yang diamati adalah bobot badan (kg), lebar paruh (cm), panjang paruh (cm), panjang leher (cm), panjang sayap (cm), panjang femur (cm), panjang tibia (cm), panjang shank (cm), panjang punggung (cm), jumlah bulu sayap primer (helai), jumlah bulu sayap sekunder(helai), lebar pelvis (cm), dan lingkar dada (cm). Hasil menunjukkan warna bulu itik Sikumbang Jonti didominasi dengan warna bulu putih. Warna bulu kepala itik Sikumbang Jonti jantan berwarna putih-hitam, sedangkan itik Sikumbang Jonti betina berwarna putih. Selain itu, itik Sikumbang Jonti memiliki warna bulu sayap primer berwarna hijau seperti kumbang. Koefisien keragaman itik Sikumbang Jonti bernilai rendah untuk lebar paruh, panjang tibia (betina), jumlah bulu sayap primer, dan jumlah bulu sayap sekunder, bernilai sedang untuk bobot badan, panjang paruh, panjang leher, panjang sayap, panajng femur (betina), panjang tibia (jantan), panjang shank, panjang punggung, lebar perlvis (betina), dan lingkar dada (jantan), dan bernilai tinggi untuk panjang femur (jantan). Keragaman fenotipe kualitatif dan kuantitatif pada itik Sikumbang Jonti relatif seragam, kecuali pada fenotipe kuantitatif panjang femur pada itik Sikumbang Jonti jantan memiliki keragaman tinggi.
Kata kunci: Morfometrik itik; Payakumbuh; Plasma nutfah; Sumatera barat; Warna bul
Teknologi Produksi Abon Daging Rusa Dengan Penambahan Herbal Sebagai Pangan Unggulan Pada Era Normal Baru: The use of Herbal in the Technology of Venison Floss Production as Priority Food in New Normal Era
Abstract
This study aims to improve the nutritional quality of venison floss by modifying the the technology process of floss making with adding red fruit oil (Pandanus conoideus L) and kebar grass extract (Biophytum petersianum) as a source of natural antioxidants. The results showed that the nutritional value of floss was influenced by the use of these herbal. Supplementation of antioxidant is to potentially extend the shelf-life of floss as indicated in decreasing the value of water activity (Aw) and thiobarburic acid (TBA). The Aw value decreased from 0.756 to 0.701, and TBA decreased from 0.139 to 0.055 mg/kg. The protein of floss increased from 33.20 to 35.60%. The result also showed that the content of antioxidant increased which is indicated by the increasing of beta-carotene content from 0.0087 mg /100 gram to 0.81 mg/100 gram. Results also showed that the use of red fruit oil extract and kebar grass extract decreased the content of saturated fatty acids, meanwhile in unsaturated fatty acids it increased arachidonic fatty acids.
Keywords: Antioxidant; Beta-caroten; Kebar grass; Red-fruit oil; Venison floss.
Abstrak
Penelitian ini bertujuan meningkatkan kualitas nutrisi abon daging rusa dengan memodifikasi proses teknologi produksinya dengan penambahan ekstrak minyak buah merah (Pandanus conoideus L) dan ekstrak rumput kebar (Biophytum petersianum) sebagai sumber antioksidan alami. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa nilai nutrisi produk olahan daging dipengaruhi oleh adanya penambahan senyawa antioksidan. Pemberian suplementasi bahan sumber antioksidan meningkatkan daya awet pada abon yang ditunjukkan dengan penurunan nilai aktivitas air (Aw) dan nilai thiobarburic acid (TBA). Nilai Aw abon menurun dari 0,756 menjadi 0,701, dan nilai TBA-nya menurun dari 0,139 menjadi 0,055 mg/kg. Nilai nutrisi terjadi pada nilai protein yang meningkat dari 33,20 menjadi 35,60%. Sebagai sumber antioksidan terlihat pada peningkatan kandungan beta-karoten dari 0,0087 mg/100 gram menjadi 0,81 mg/100 gram. Faktor penting lainnya dengan penggunaan ekstrak minyak buah merah dan ekstrak rumput kebar yakni adanya penurunan yang signifikan pada kandungan asam-asam lemak jenuh, akan tetapi pada asam-asam lemak tidak jenuh terjadi peningkatan pada asam lemak arakidonat.
Kata kunci: Abon rusa; Beta-karoten; Herbal antioksidant; Minyak buah-merah; Rumput kebar
Respon masyarakat dan dampak lingkungan terhadap peternakan Babi di Kampung Inden II dan wilayah sekitar Pasar Kenangan Distrik Ransiki Kabupaten Manokwari Selatan: People’s response to and environmental impact of Pig farms in Inden II Village and the surrounding areas of Kenangan Market of Ransiki Subdistrict of South Manokwari District
Abstract
The study aimed at finding out people’s response to and environmental impact of pig farms in Inden II village and the surrounding areas of Kenangan market of Ransiki subdistrict of South Manokwari district. It was descriptive study that used observation technique to generally describe the people’s response to the pig farm in Inden II village and the surrounding areas of Kenangan market of Ransiki subdistrict. Population and sample were classified into 2: pig farmers and those who were affected by the pig farm. The total number of the villagers of Inden II village and the surrounding areas of Kenangan market was 58 households, with the number of the pig farmers of 12 households so that there were 46 households of the population that did not do pig farming and were affected by the pig farms and recruited as respondents. The observed variables included people’s response to sub-variable of smell with following indicators: smelly (1) and smelly/long lasting (2); sub-variable of sound with following indicators: loud (1) and very loud/continuous (2); sub-variable of waste management with following indicators: feces were left unprocessed and scattered in various places, pig feed remnant and waste unprocessed and scattered; sub-variable of the number of pigs with following indicators: environment cleanliness (1) and riding or driving and walking comforts (2). They were measured using five points Likert scale: very annoying (5), annoying (4), annoying enough (3), not annoying (2) not very annoying (1). The results of the study showed that 58.69% of the people were very annoyed by the smell of the pig farms, 60.87% of them were very annoyed by the loud sound of the pigs, 45.65% of them were very annoyed by the continuous sound of the pigs, 47.83% of them were very annoyed by the number of the pigs that produced wastes affecting environmental cleanliness, and 45.65% of them were very annoyed by the feces of the pigs left unprocessed and scattered in various places.
Keywords: Environmental impact; People’s response; Pig farm
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui respon masyarakat dari usaha peternakan babi terhadap dampak lingkungan di Kampung Inden II dan Sekitar Wilayah Pasar Kenangan Distrik Ransiki Kabupaten Manokwari Selatan. Jenis penelitian ini ialah jenis penelitian deskriptif dengan teknik observasi menjelaskan secara umum bagaimana respon masyarakat terhadap usaha peternakan babi di Kampung Inden II dan Wilayah sekitar Pasar Kenangan Distrik Ransiki. Jumlah populasi dan sampel dikelompokan menjadi 2 kelompok yaitu Masyarakat Peternak dan Masyarakat terkena dampak. Jumlah total masyarakat yang tinggal di Kampung Inden II dan wilayah sekitar pasar Kenangan yaitu sebanyak 58 Kepala Keluarga dengan jumlah peternak babi sebanyak 12 kepala keluarga sehingga jumlah populasi yang tidak beternak babi atau terkena dampak yaitu sebanyak 46 kepala keluarga sebagai responden. Variabel pengamatan yaitu Respon masyarakat terbagi atas subvariabel Penciuman (Aroma) dengan indikator berbau, berbau/tidak mudah hilang (2); Suara (Pendengaran) dengan indikator Sangat keras, Sangat Keras/Terus menerus; Penanganan Limbah indikator feses dibiarkan/tersebar diberbagai tempat, Sisa pakan dan sampah berantakan; Jumlah Ternak dengan indikator Kebersihan Lingkungan, Kenyamanan berkendara dan berjalan kaki. Pengukuran menggunakan skala Likert dengan kategori sangat terganggu (5), terganggu (4), cukup terganggu (3), tidak terganggu (2) dan sangat tidak terganggu (1). Hasil penelitian menunjukkan 58,69% sangat terganggu dengan bau yang ditimbulkan dari peternakan babi, 60,87% sangat terganggu dengan suara keras yang ditimbulkan, 45,65% masyarakat sangat terganggu dengan suara terus-menerus yang disebabkan oleh ternak babi, 47,83% merasa sangat terganggu oleh jumlah ternak yang mengganggu kebersihan lingkungan dan 45,65% masyarakat merasa sangat terganggu oleh feses yang dibiarkan dan tersebar diberbagai tempat.
Kata Kunci: Dampak lingkungan; Peternakan babi; Respon masyaraka
Analisis Faktor-Faktor Produksi Usaha Pengembangan Sapi Potong Di Kabupaten Teluk Bintuni : Analysis of Beef Cattle Development Business Production Factors in Teluk Bintuni District
Abstract
The success of animal husbandry depends on three elements commonly referred to as the production triangle, namely seeds, feed and management. In addition, the technosocioeconomic characteristics of farmers greatly affect the income of farmers. The research objective was to analyze the factors of production (seed, feed and management) and provide a concept for a good beef cattle breeding system in the development of beef cattle in Teluk Bintuni Regency. This type of research is a descriptive quantitative research. A total of 53 samples were taken purposively with the same inter-district maintenance system and had the largest population, the maintenance scale ranged from 3-5 beef cattle and 5 years and above of farming experience. The variables observed were seed factors, feed factors, management factors and income. The data obtained were analyzed by multiple linear regression. The results showed that the beef cattle raised were Balinese breed with male body weight 318 - 396 kg and female 285 - 326 kg at the age of ± 3 years. The availability of adequate forage and land availability is very potential for extensive maintenance patterns, but for the carrying capacity of pasture is not yet meet te requrement. Maintaining an extensive pattern has the risk of livestock infected by worms (endoparasites) around 62.26%. Marketing is carried out through collector traders (75.47%). The income of farmers is Rp. 9,704,643 - Rp. 14,069,978 per year. The price of seeds, the selling price of livestock, the price of feed, the scale of the business, the age of the farmer, experience and education, together have an effect on the income of the farmers with an Adjusted R Square value of 0.997.
Keywords: Beef cattle development; Production factors; Teluk bintuni
Abstrak
Keberhasilan usaha peternakan bergantung pada tiga unsur yang biasa disebut dengan segitiga produksi yaitu bibit, pakan, dan pengelolaan. Selain itu, karakteristik teknososioekonomi peternak, sangat berpengaruh terhadap pendapatan peternak. Tujuan penelitian adalah menganalisis faktor-faktor produksi (bibit, pakan dan pengelolaan) dan memberikan konsep sistem pemeliharaan ternak sapi potong yang baik dalam pengembangan sapi potong di Kabupaten Teluk Bintuni. Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantatif deskriptif. Sebanyak 53 sampel diambil secara purposif dengan sistem pemeliharaan antar distrik sama dan memiliki populasi terbanyak, skala pemeliharaan berkisar 3-5 ekor serta pengalaman beternak 5 tahun keatas. Variabel yang diamati yaitu faktor bibit, faktor pakan, faktor pengelolaan dan pendapatan. Data yang diperoleh dianalisis dengan regresi linear berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sapi potong yang dipelihara adalah bangsa sapi bali dengan bobot badan jantan 318 – 396 kg dan betina 285 - 326 kg pada umur ± 3tahun. Ketersediaan hijauan cukup dan ketersediaan lahan sangat potensial untuk pola pemeliharaan ekstensif, namun untuk daya tampung padang pegembalaan belum sesuai. Pemeliharaan pola ekstensif beresiko ternak terinfeksi cacing (endoparasit) sekitar (62,26%). Pemasaran dilakukan melalui pedagang pengumpul (75,47%). Pendapatan peternak berkisar Rp. 9.704.643 – Rp. 14.069.978 per tahun. Harga bibit, harga jual ternak, harga pakan, skala usaha, umur petani, pengalaman dan pendidikan, secara bersama berpengaruh terhadap pendapatan peternak dengan nilai Adjusted R Square sebesar 0.997.
Kata kunci: Faktor produksi; Pengembangan sapi potong;Teluk Bintun
Deskripsi Daging Rana Arfaki (Anura; Ranidae) yang Dikonsumsi Masyarakat Moiley di Pegunungan Arfak: Description of Rana Arfaki (Anura; Ranidae) Meat Consumed by Moiley Communities at the Arfak Mountain
Abstract
In Papua, especially in the Arfak Mountains, one of wild animals that commonly used as a non-animal protein source is frogs. Although it has been consumed by local people for generations, there is no representative information on the characteristics of Arfak frog meat. This study aims to determine the body weight and weight of carcass of Arfak frogs (Rana arfaki) comsumed by the Moiley communtiies in the Arfak Mountains. In addition, this study also attempts to reveal the physical quality and processing techniques of consumed Arfak forg meat. We used descriptive method with observation techniques in the field. The results show that an average body weight of Arfak frogs consumed in Mbenti is 2.53 ± 0.81gr, with an average of carcass percentage 46.77% and non-carcass percentage 53.23%. The physical quality of the meat is, fresh and looks intact, the color of flesh and muscles is white to yellowish white, has a distinctive aroma, and elastic texture as well as strong muscles. The pH value of fresh meat is an average of 7.03. Various meat processing techniques are practiced including fried, stir-fry, grilled and smoked, and pickling/smoked is more preffered bacuse it is easy and the meat can keep longer as a source of food for household animal protein.
Keywords: Arfak; Cosnsumption; Meat; Quality; Rana arfaki
Abstrak
Di Papua khususnya di Pegunungan Arfak, salah satu jenis satwa yang dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber protein hewani non-ternak adalah katak. Meskipun telah dikonsumsi oleh masyarakat lokal secara turun temurun, sampai saat ini belum tersedia informasi yang representatif tentang karakteristik daging katak Arfak. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bobot badan dan berat karkas katak Arfak (Rana arfaki) yang dikonsumsi masyarakar Moiley di Pegunungan Arfak. Selain itu juga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas fisik dan teknik pengolahan daging katak Arfak yang dikonsumsi. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif dengan teknik observasi atau pengamatan langsung di lapangan. Rataan bobot badan katak Arfak (Rana arfaki) yang dikonsumsi oleh masyarakat di Mbenti yaitu 2,53 ± 0,81gr dengan rataan persentase karkas yaitu 46,77% dan persentase non-karkasnya sebesar 53,23%. Kualitas fisik daging katak Arfak yaitu memiliki karakteristik segar dan tampak utuh, warna daging dan otot putih hingga putih kekuningan, memiliki aroma khas, dengan tekstur elastis serta memiliki otot kuat. Sedangkan nilai pH daging katak Arfak segar yang dikonsumsi oleh masyarakat yaitu rata-rata adalah 7,03. Teknik pengolahan daging yang dilakukan oleh masyarakat beragam antara lain goreng, tumis, bakar dan asap. Cara asar/asap lebih disenangi karena mudah dilakukan dan dapat memperpanjang masa simpan daging sebagai cadangan sumber pangan protein hewani rumah tangga.
Kata kunci: Arfak; Daging; Konsumsi; Kualitas; Rana arfak