Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (JIPVET - Journal of Tropical Animal and Veterinary Science)
Not a member yet
224 research outputs found
Sort by
Hormon Progesteron Feses Pada Kambing Peranakan Ettawah Bunting: Progesterone Hormon of Feces on the Pregnant Ettawah Goat
Abstract
The main obstacle of invasive hormone research of Etawah crossbreed goats (PE) were the sample collection due to the aggressiveness of PE goats. Improper ways of handling the goats would result in stress which leads to bias on the data. This research aims to determine the level of fecal progesterone of PE goats during pregnancy. This research use 5 pregnant and 5 non-pregnant PE goats. Diagnosis of pregnancy was conducted by observing the absence of estrus after breeding. Fecal collection was conducted in week 4, 8, 12, 16, 20, and 2 weeks after parturition but sample collection of non-pregnant goats conducted once. The sample of fecal which has been collected then frozen and extracted using methanol 80% as much as 3 ml. The fecal extract was analyzed using EIA KIT progesterone. The results of measurement of fecal progesterone level were 6,282 ± 950.96 ng/gr of feces (week 4 of pregnancy); 18,391.8 ± 2,584 ng/gr (week 8 of pregnancy); 25,958.4 ± 3,447.1 ng/gr of feces (week 12 of pregnancy); 25,233.4 is ± 3,306 ng/gr of feces (week 16 of pregnancy); 18,238.2 ± 3,069.5 ng/gr of feces (week 20 of pregnancy). The level of fecal progesterone in 2 weeks after giving birth was 516 ± 228.16 ng/gr of feces. Meanwhile, the level of fecal progesterone of non-pregnant PE goats is 254.2± 214.5 ng/gr of feces. The conclusion of the progesterone level of PE goats during pregnancy can be detected using the sample of feces with the highest level in week 12 of pregnancy.
Keywords: Feces; Non-invasive; PE Goats; Progesterone
Abstrak
Kendala utama penelitian hormonal secara invasive pada kambing Peranakan Ettawah (PE) pengambilan sampel pada hewan tersebut karena karakteristik kambing PE yang sangat agresif. Handling yang tidak tepat dapat menjadi stresor yang akan menghasilkan data yang bias. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur kadar hormon progesteron feses pada kambing PE selama kebuntingan. Penelitian ini menggunakan 5 ekor kambing PE bunting dan 5 kambing PE tidak bunting. Diagnosa kebuntingan dilakukan dengan pengamatan tidak munculnya estrus setelah pengawinan. Pengambilan feses dilakukan pada minggu ke 4, 8, 12, 16 dan ke 20 dan 2 minggu setelah partus. Pada kambing tidak bunting, pengambilan sampel dilakukan 1 kali. Sampel feses yang telah terkumpul, dikeringbeku dan kemudian diekstraksi menggunakan methanol 80% sebanyak 3 ml untuk selanjutnya dianalisis menggunakan KIT Progesteron (Calbiotech R - USA). Hasil uji pararelism menunjukkan adanya penurunan OD secara paralel seiring dengan besarnya pengenceran sampel. Kadar progesteron feses didapatkan, 6.282 ± 950.96 ng/gr feses (minggu ke 4 kebuntingan); 18.391,8 ± 2584 ng/gr fese (minggu ke 8 kebuntingan); 25.958, 4 ± 3.447,1 ng/gr feses (minggu ke 12 kebuntingan); 25.233,4 ± 3.306 ng/gr feses (minggu ke 16 kebuntingan); 18.238,2 ± 3.069,5 ng/gr feses (minggu ke 20 kebuntingan). Kadar progesteron feses 2 minggu setelah melahirkan adalah 516 ± 228,16 ng/gr feses sedangkan progesteron kambing PE tidak bunting adalah 254,2 ± 214,5 ng/gr feses. Kesimpulan kadar progesteron kambing PE selama kebuntingan dapat dideteksi menggunakan sampel feses dengan kadar tertinggi pada minggu ke 12 kebuntingan.
Kata Kunci: Feses; Kambing PE, Non-invasif, Progestero
Pola Bagihasil (Teseng) pada Usaha Penggemukan Sapi di Kabupaten Bone: Profit Sharing Pattern (Teseng) in Cattle Fattening Business in Bone Regency
Abstract
This study aimed to determine the pattern of profit sharing (Teseng) in cattle fattening business in Bone Regency. The study was conducted from December to January 2020. Data collection took place in Masago Village, Patimpeng District, Bone Regency. The selection of this location as the research location was because at that location the beef cattle breeder community applies a traditional pattern commonly called Teseng. The type of research used was descriptive quantitative research. The types of data are qualitative data and quantitative data. Sources of research data are primary data and secondary data. The population in the study were all 25 farmers who carried out the Teseng profit-sharing system in Masago Village, Patimpeng District, Bone Regency. The sampling technique in this study was purposive with the number of cattle ownership as many as 10 and 15 farmers. The data collection methods are field observation and literature study. The data analysis was quantitative descriptive using income analysis. The results show a pattern of profit sharing system in beef cattle fattening business in Masago Village, Patimpeng District, Bone Regency, namely 60% for livestock owners and: 40% for farmers.
Key words: Cattle; Farmers; Sharing profit; System
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran/persentase bagihasil (Teseng) pada usaha penggemukan sapi di Kabupaten Bone. Penelitian dilakukan pada bulan Desember sampai Januari 2020. Pengambilan data bertempat di Desa Masago, Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone. Adapun pemilihan lokasi ini sebagai lokasi penelitian yaitu karena di lokasi tersebut masyarakat peternak sapi potong menerapkan pola tradisional yang biasa disebut Teseng. Jenis penelitian yang digunakan adalah yaitu penelitian kuantitatif deskriptif. Jenis data adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Sumber data penelitian adalah data primer dan data sekunder. Populasi pada penelitian adalah seluruh peternak yang berjumlah 25 orang yang melakukan sistem bagi hasil Teseng di Desa Masago, Kecamatan Patimpeng, Kabupaten Bone. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah purposive yaitu dengan jumlah kepemilikan sapi sebanyak 10 ekor dan 15 ekor. Metode pengumpulan data yaitu observasi lapangan dan studi pustaka. Analisis data yaitu kuantitatif deskriptif dengan menggunakan analisis pendapatan. Hasil penelitian menunjukkan pola sistem bagi hasil pada usaha penggemukan sapi potong di Desa Masago, Kecamatan Patimpeng Kabupaten Bone yaitu 60% untuk pemilik ternak dan 40% untuk peternak.
Kata kunci: Bagihasil; Peternak; Sapi; Siste
Profil dan Keragaman Ayam Kub yang Dipelihara Oleh RTM Peternak dalam Program Bekerja di Kabupaten Indramayu: Profile and Diversity of KUB Chicken Raised by Farmer Households in Bekerja Program in Indramayu District
Abstract
The aim of this study was to determine the diversity of KUB chickens raised by farmer households in Indramayu Regency in the implementation of the 2019 BEKERJA program. The BEKERJA program is carried out in 8.189 farmer households by providing 50 DOC, chicken feed during 5 weeks, maintenance support facilities include feed tray, drinking bottles, brooder cages, cables, lights, and cage subsidy for 4 weeks chickens. The parameters observed were the number of chicken mortality, age of first egg laying and the number of egg production for the first time. The observations showed that the mortality of KUB chickens increased at 3 months of raised, which was caused by the sale and slaughter of chickens and the mortality of chickens due to improper raise management. Hens that lay eggs early in the District of Anjatan and District of Bongas 7.066 and 1.041, respectively. The results of the study showed that there was diversity at the beginning of egg-laying chicken due to improper feeding management, but KUB chicken had the potential to be developed as an egg and meat producer in Indramayu Regency.
Keywords: BEKERJA Program; Diversity at the beginning of egg-laying chicken; KUB chicken
Abstrak
Kajian bertujuan untuk mengetahui keragaman ayam KUB yang dipelihara oleh RTM di Kabupaten Indramayu dalam pelaksanaan program BEKERJA tahun 2019. Program BEKERJA melibatkan 8.189 RTM dengan memberikan bantuan 50 ekor DOC ayam KUB, pakan selama 5 minggu pemeliharaan, bantuan sarana prasarana pemeliharaan meliputi tray tempat pakan, botol tempat minum, kandang brooder, kabel, lampu, dan bantuan subsidi kandang untuk ayam umur 4 minggu. Parameter yang diamati adalah jumlah kematian ayam, umur bertelur pertama kali dan produksi telur pertama kali. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kematian ayam KUB meningkat pada 3 bulan usia pemeliharaan, yang disebabkan oleh penjualan dan pemotongan ayam serta kematian akibat manajemen pemeliharaan yang kurang tepat. Jumlah produksi telur pertama kali di Kecamatan Anjatan dan Kecamatan Bongas masing-masing sebesar 7.066 butir dan 1.041 butir. Hasil kajian menunjukkan adanya keragaman pada awal bertelur ayam yang diakibatkan oleh manajemen pemberian pakan yang tidak tepat, namun ayam KUB berpotensi dikembangkan sebagai penghasil telur dan daging di kabupaten Indramayu
Kata kunci : Ayam KUB; Keragaman awal bertelur; Program BEKERJ
Management systems of native chickens by the Indigenous and non-Indigenous Papuans: case study in West Papua, Indonesia: Sistem pengelolaan ayam lokal oleh masyarakat asli dan non asli Papua: studi kasus di Papua Barat, Indonesia
Abstrak
Sistem pengelolaan adalah faktor penting untuk meningkatkan produktivitas ayam lokal. Penelitian ini bertujuan untuk melihat sistem pengelolaan ayam buras yang dilakukan oleh peternak Masyarakat Asli Papua (IP) dan Non-Papua (NIP) di Kabupaten Manokwari Utara. Dua puluh peternak baik IP maupun NIP dipilih secara purposive sebagai responden. Metode analisis yang digunakan adalah metode deskriptif. Pengumpulan data primer dilakukan dengan wawancara dan observasi lansung di lapangan. Wawancara dilakukan dengan menggunakan kuesioner terbuka dan tertutup. Data yang terkumpul kemudian ditabulasi, dianalisis, dan kemudian dinarasikan untuk dapat menarik suatu kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sistem pengelolaan ayam buras yang dilakukan oleh peternak IP dan NIP hampir sama dan hampir semua paremeter masih dalam standar normal. Namun, beberapa data produksi dan reproduksi tidak dapat diperoleh karena tidak adanya pencatatan data. Kesimpulan, sistem pengelolaan ayam buras yang dilakukan oleh peternak Papua dan Non-Papua di Kabupaten Manokwari Utara masih memerlukan pembinaan terutama dalam pencatatan data produksi dan reproduksi. Dukungan pemerintah berupa pelatihan melalui penyuluh pertanian sangat diperlukan dalam rangka meningkatkan pengetahuan peternak tentang sistem pengelolaan ayam buras. Dukungan motivasi berupa bantuan dana dari pemerintah juga diperlukan untuk mengembangkan peternakan ayam kampung untuk menunjang perekonomian para peternak khususnya di Kabupaten Manokwari Utara.
Kata kunci: Dukungan dana, Peternak asli Papua, Dukungan pelatihan
Abstract
The management system is an important factor for improving native chicken productivity. The study aimed to observe the management system of native chickens applied by Indigenous Papuan (IP) and Non-Indigenous Papuan (NIP) farmers in the North Manokwari District, West Papua, Indonesia. Twenty farmers either the IP or NIP were chosen purposively as respondents. The analysis method used was a descriptive method. The primary data were collected by interview and direct field observation. The interview was done by using an open and closed questionnaire. Data collected were then tabulated, analyzed, and then narrated to draw a conclusion. The results showed that the management systems of native chickens carried out by the IP and the NIP farmers were similar and almost all parameters were still in the normal standard. However, some production and reproduction data were not able to get due to no data recording. In conclusion, the management system of native chickens carried out by Papuans and Non-Papuans farmers in the North Manokwari District still requires guidance, especially in recording production and reproduction data. Government support in the form of training through agricultural extension agents is needed in order to improve farmers knowledge of native chickens management systems. In addition, motivational support from the government is needed to develop native chicken farms to support the farmers’ economy, especially in the North Manokwari District.
Keywords: Financial assistance; Indigenous Papuan farmers; Training suppor
Uji Kualitas (organoleptis, eber ) dan identifikasi cemaran Salmonella Sp. pada daging ayam dari pasar tradisional di Surabaya Barat: Quality test (organoleptics, eber) and identification of contaminants Salmonella Sp. on chicken from traditional markets in West Surabaya
Abstract
Consumption of meat is one of the efforts to fulfill protein, because protein in meat (animal protein) is more complete than protein in plants (vegetable protein). Chicken meat is consumed by more people in Indonesia than beef, because it has a more affordable price and still has high nutritional value. The high nutritional content of meat makes it an agent for the development of infectious microbes that allow food poisoning to occur. Salmonella is one of the bacteria that causes food poisoning. Infection with this bacterium in animals or humans can cause illness with disorders of the digestive tract or gastroenteritis such as stomach cramps and diarrhea that lasts four to seven days. This study used 37 samples of chicken breast which were taken from several traditional markets in West Surabaya, and analyzed descriptively. Inspection of meat quality using organoleptic test and eber, as well as bacterial contamination test salmonella sp. From this study indicate that the results showed 100% (37/37) normal meat quality testing. From the six traditional market areas that were sampled, it showed that there were 5 markets that showed positive salmonella sp. and 1 negative market. Socialization about salmonellosis disease to reduce the incidence of salmonellosis as a control effort needs to be done. Prevention of bacterial contamination of salmonella sp. can be done during maintenance until the time of processing.
Keywords: Chicken meat; Organoleptic; Salmonella sp.; Surabaya; Traditional market
Abstrak
Konsumsi daging merupakan salah satu usaha untuk pemenuhan protein, karena protein pada daging (protein hewani) lebih lengkap dibandingkan dengan protein pada tumbuhan (protein nabati). Daging ayam lebih banyak dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia dibandingkan daging sapi, karena memiliki harga yang lebih terjangkau dan tetap memiliki nilai gizi yang tinggi. Tingginya kandungan gizi pada daging menjadikannya sebagai agen tempat berkembangnya mikroba infeksius yang memungkinkan timbulnya food poisoning. Salmonella merupakan salah satu bakteri yang banyak menyebabkan keracunan makanan. Infeksi bakteri ini pada hewan atau manusia dapat mengakibatkan penyakit dengan gangguan pada bagian saluran pencernaan atau gastroenteritis seperti kram perut dan diare yang berlangsung empat sampai tujuh hari. Penelitian ini menggunakan 37 sampel daging ayam bagian dada yang diambil di beberapa pasar tradisional di Surabaya barat, dan dianalisis secara deskriptif. Pemeriksaan kualitas daging menggunakan uji organoleptis dan eber, serta uji cemaran bakteri salmonella sp. Dari penelitian ini menunjukkan bahwa Hasil penelitian menunjukkan 100 % (37/37) pengujian kualitas daging yang normal. Dari keenam wilayah pasar tradisional yang diambil sampel menunjukkan bahwa terdapat 5 pasar yang menunjukkan positif cemaran salmonella sp. dan 1 pasar negatif. Sosialisasi tentang penyakit salmonellosis untuk menekan kejadian salmonellosis sebagai upaya pengendalian perlu dilakukan. Pencegahan cemaran bakteri salmonella sp. dapat dilakukan saat pemeliharaan sampai saat pengolahan.
Kata kunci: Daging ayam; Organoleptis; Pasar tradisional; Salmonella sp.; Surabay
Variasi Genotipe dan Alel Gen PIT1|HinfI pada Sapi Perah Friesian Holstein Lokal di Boyolali Jawa Tengah: Genotype and Allelic Variations of the PIT1|HinfI Gene in Local Friesian Holstein Dairy Cows in Boyolali, Central Java
Abstract
The pituitary-specific transcription factor 1 (PIT1) gene, known also as pituitary-specific positive transcription factor 1 (POU1F), is one of the genes which has the responsibility to control milk quality and milk production. Using this gene information as selection criteria were expected to be able to improve milk production in an efficient and accurate way. This study was aimed to determine the genotype variation of the PIT1 gene in Friesian Holstein (FH) dairy cattle in Boyolali District Central Java. In total 20 blood samples as DNA source were collected from local FH cattle. To determine the PIT1 genotype and allele variation, Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) method was employed which started by DNA extraction, PCR, then DNA digestion using HinfI restriction enzyme. Following the genotyping process, genotype and allele frequencies were calculated. As the result, it was found 3 types of PIT1 genotype namely AA, AB, and BB; its frequencies were 0.1, 0.3, and 0.6, respectively. The allele type was found A and B, and the frequencies were 0.25 and 0.75 respectively. According to the study, it is concluded that the highest genotype of PIT1 in local FH dairy cattle was BB type, and the allele was B type.
Keywords: Genotype and allele frequency; Local FH dairy cattle; PIT1 gene
Abstrak
Gen Pituitary-Specific Transcription Factor 1 (PIT1) atau dikenal juga dengan nama pituitary-specific positive transcription factor 1 (POU1F1), merupakan salah satu gen yang bertanggung jawab pada kualitas dan kemampuan produksi susu sapi. Oleh karena itu, seleksi menggunakan gen ini diharapkan dapat meningkatkan produksi susu secara akurat dan efisien. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan variasi genotip gen PIT1 pada sapi perah Friesian Holstein di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Penelitian ini menggunakan metode Polymerase Chain Reaction-Restriction Fragment Length Polymorphism (PCR-RFLP) untuk menentukan variasi genotipe dan alel gen PIT1. Sampel yang digunakan berasal dari darah 20 ekor sapi Friesian Holstein (FH) lokal di wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Penelitian diawali dengan ekstraksi DNA yang dilanjutkan dengan amplifikasi fragmen DNA gen PIT1 pada reaksi PCR. Genotyping dilakukan dengan mendigesti produk PCR menggunakan enzim restriksi HinfI. Analisis variasi genotipe kemudian digunakan untuk menentukan frekuensi genotipe dan frekuensi alel gen PIT1. Hasil amplifikasi fragmen gen menghasilkan produk PCR dengan ukuran 451 bp dan berdasarkan hasil sequencing merupakan fragmen gen PIT1 ekson 6. Sebanyak 3 genotipe gen PIT1 yang terdeteksi pada populasi sampel sapi FH lokal yaitu AA, AB, dan BB dengan frekuensi genotipe masing-masing 0,1; 0,3; dan 0,6. Hasil frekuensi alel yang diperoleh untuk alel A dan B masing-masing sebesar 0,25 dan 0,75. Berdasarkan penelitian ini maka dapat disimpulkan bahwa gen PIT1 pada populasi sapi perah FH lokal di Boyolali memiliki frekuensi genotipe terbesar yaitu BB, dengan frekuensi alel terbesar adalah B.
Kata kunci: Frekuensi genotipe dan alel; Gen PIT1; Sapi friesian holstein loka
Aktivitas Antibakteri Gel Daun Sembung Legi (Blumea balsamifera L.) Sebagai Sediaan Penyembuh Luka Pada Mencit (Mus musculus L.) : Antibacterial Activity of Sembung Legi Leaf Gel (Blumea balsamifera L.) As a Wound Healing Preparation in Mice (Mus musculus L.)
Abstract
The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of sembung legi leaf gel (Blumea balsamifera L.) and its effect on wound healing in mice (Mus musculus L.). The leaves of sembung legi are first extracted by maceration and then made gel preparations with a formula of 3%, 4%, and 5%. Parameters in this research is antibacterial test against Staphylococcus aureus bacteria and the length of time for wound healing. The activity of antibacterial is tested by measuring the diameter of the zone of inhibition against the growth of S.aureus bacteria. Gel test as a wound healing preparation was carried out on mice.A total of 15 mice aged 2 - 3 months were divided into 5 treatment groups, namely negative control (without treatment), positive control (Kalmicetine 10%), K1 (3% gel), K2 (4% gel), and K3 (5% gel). The back of the mice was injured with a 1 cm incision, then treated by sembung legi leaf gel 3 times a day for 14 days. Wound healing time data were analyzed by ANOVA and LSD test. The results showed that sembung legi leaf gel could inhibit the growth of S.aureus bacteria with an average diameter of the clear zone for each treatment, namely KN (0.0 mm), KP (30.15 mm), K1 (4.77 mm), K2 ( 4.81 mm), and K3 (6.31 mm). The parameters of the mean length of time for wound healing with healing parameters were the absence of erythema, swelling, wound closure, and healing for all treatments, namely KN (12.3 days), KP (8.3 days), K1 (11.3 days), K2 (10.6 days), and K3 (9.6 days). It is concluded that sembung legi leaf gel can inhibit the growth of S. aureus bacteria and speed up wound healing time, so that it can be used as an alternative gel preparation in wound healing.
Keywords: Antibacterial activity; Leaf Blumea balsamifera L.; Mice; Staphylococcus aureus; Wound healing.
Abstrak
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui aktivitas antibakteri gel daun sambung legi (Blumea balsamifera L.) dan pengaruhnya terhadap penyembuhan luka pada mencit (Mus musculus L.). Daun sembung legi dimaserasi dan dibuat sediaan gel dengan formula 3%, 4%, dan 5%. Penelitian ini menguji antibakteri S. aureus dengan mengukur diameter zona hambat terhadap pertumbuhan bakteri dan lama waktu penyembuhan luka. Uji gel sebagai sediaan penyembuh luka dilakukan terhadap hewan uji mencit. Sebanyak 15 ekor mencit berumur 2 – 3 bulan dibagi ke dalam 5 kelompok perlakuan yaitu kontrol negatif (tanpa perlakuan), kontrol positif (Kalmicetine 10%), K1 (gel 3%), K2 (gel 4%), dan K3 (gel 5%). Punggung mencit dilukai dengan sayatan sepanjang 1 cm, kemudian dioleskan gel daun sembung legi sebanyak 3 kali sehari selama 14 hari. Data lama waktu penyembuhan luka dianalisis dengan ANOVA dan uji LSD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gel daun sembung legi dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dengan rata-rata diameter zona bening setiap perlakuan yaitu KN (0,0 mm), KP (30,15 mm), K1 (4,77 mm), K2 (4,81 mm), dan K3 (6.31 mm). Rerata lama penyembuhan luka dengan parameter penyembuhan berupa tidak adanya eritema, pembengkakan, luka menutup, dan sembuh untuk semua perlakuan yaitu KN (12.3 hari), KP (8,3 hari), K1 (11,3 hari), K2 (10,6 hari), dan K3 (9,6 hari). Kesimpulan: Gel daun sembung legi dapat menghambat pertumbuhan bakteri S. aureus dan mempercepat waktu penyembuhan luka, sehingga dapat dijadikan sebagai sediaan gel alternatif dalam penyembuhan luka.
Kata Kunci : Aktivitas antibakteri; Daun Blumea balsamifera L.; Mencit; Penyembuhan luka; Staphylococcus aureus
Penampilan Vegetatif dan Produksi Hijauan Berbagai Aksesi Arbila (Phaseolus lunatus L.) dari Kabupaten Kupang Sebagai Pakan: Vegetative Performance and Forage Production of Various Accesses of Arbila (Phaseolus lunatus L.) from Kupang District as Feed
Abstract
The study aimed to evaluate the vegetative appearance and performance of arbila (Phaseolus lunatus L.) from Kupang Regency which was used as feed. Research was carried out in Politani land for 6 months, with 43 accessions and 3 replications. The variables observed were root length, root weight, number of root nodules, percentage of effective root nodules, root nodule diameter, number of green leaves per plant, individual leaf area, leaf weight, stem length, stem diameter, stem weight, number of shoots, and weight of top plant. The results showed that overall, root length was 19–52 cm, root weight was 15–110 g/plant, number of nodules ranged from 0–257 pieces, percentage of effective nodules ranged from 0–100%, and nodule diameter was 0.11–0.98 cm. The number of green leaves ranged from 29.5–128.5 fruit/plant, leaf area 8.11–38.17 cm2, leaf weight ranged from 16–199.5 g/tree. Stem length ranged from 144-358 cm/plant, stem diameter ranged from 0.15 to 0.75 cm, stem weight ranged from 26 to 130.5 g/plant, shoots ranged from 3.5 to 28 shoots/plant, and plant weight of the top plant are 29-316 g/plant. It was concluded that there were differences in the vegetative parts of arbila as seen from the performance of roots, stems, and leaves of various accessions. Accession K10 showed the best root performance, and accession K8, K19 and K45 showed the best shoots, stem, and leaf performance, and forage production as feed.
Keywords: Arbila legume; Feed; Number of shoots; Root nodule; Vegetative
Abstrak
Penelitian yang bertujuan untuk mengevaluasi penampilan bagian vegetatif dan performa arbila (Phaseolus lunatus L.) yang berasal dari Kabupaten Kupang yang terbaik sebagai pakan, telah dilaksanakan di lahan Politani selama 6 bulan, dengan 43 jumlah aksesi dan 3 ulangan. Variabel yang diamati adalah panjang akar, bobot akar, jumlah bintil akar, persentasi bintil akar efektif, diameter bintil akar, jumlah daun hijau per tanaman, luas individu daun, bobot daun, panjang batang, diameter batang, bobot batang, jumlah tunas, dan bobot tanaman bagian atas. Data dianalisis dan dideskripsikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara keseluruhan, panjang akar 19–52 cm, bobot akar 15–110 g/tanaman, jumlah bintil berkisar 0–257 buah, persentasi bintil efektif berkisar antara 0–100 %, dan diameter bintil 0,11–0,98 cm. Jumlah daun hijau berkisar 29,5–128,5 buah/tanaman, luas daun 8,11–38,17 cm2, bobot daun berkisar 16–199,5 g/pohon. Panjang batang berkisar 144-358 cm/tanaman, diameter batang berkisar 0,15–0,75 cm, bobot batang berkisar antara 26–130,5 g/tanaman, jumlah tunas berkisar 3,5–28 tunas/tanaman, dan bobot tanaman bagian atas adalah 29-316 g/tanaman. Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan bagian vegetatif arbila yang terlihat dari performa akar, batang, dan daun dari berbagai aksesi arbila. Aksesi K10 memperlihatkan performa akar terbaik dan aksesi K8, K19 dan K45 memperlihatkan performa tunas, batang dan daun dan produksi hijauan terbaik sebagai pakan ternak.
Kata Kunci: Bintil akar; Jumlah tunas, Legum Arbila; Pakan; Vegetatif
Studi Kasus: Diagnosis dan Pengobatan Stomatitis pada Kucing Domestik: Case Report: Diagnose and Treatment of Stomatitis in Domestic Cats
Abstract
Stomatitis is an inflammation that occurs in the oral mucosal tissue, characterized by ulcers. This case study aims to diagnose and treat stomatitis in a cat. A 7-month-old female domestic cat weighing 2.7 kg with lethargy, lost of appetite, decreased thirst, and was having sores for 2 days was examined. The cat was examined physically include anamnesis, an inspection of body condition and eating behavior, palpation of the skin, hair, and parts of the body that can be palpated, and auscultation of the thorax and abdomen. The blood sample that was examined includes the erythrocyte count, hemoglobin value, leukocytes count, and their differentials. Physical examination results showed hyperemic gingival, swollen submandibular and retropharyngeal lymphoglandula, and there were multiple ulcers on the lips and tongue. Hematological examination showed thrombocytopenia and monocytosis. The stomatitis was diagnosed to the cat with a good prognosis. Therapy was given for 5 consecutive days in the form of intramuscular injection of Amoxycillin 10 mg/kg BW twice daily, intramuscular injection of diphenhydramine HCl 1 mg/kg BW once daily, subcutaneous injection of 0.5 ml vitamin C once daily, oral administration of 0.5 ml multivitamin twice daily, and povidone-iodine for gargle twice a day applied lightly to the lesion area. Stomatitis in this case study was cured within 5 days by treating with amoxicillin, diphenhydramine HCl, vitamin C, multivitamins, and topical povidone-iodine.
Keywords: Amoxicillin; Cat; Stomatitis; Vitamin C.
Abstrak
Stomatitis merupakan radang yang terjadi pada jaringan mukosa mulut yang ditandai adanya ulser. Studi kasus ini bertujuan melakukan diagnosis dan pengobatan stomatitis pada kucing. Studi kasus ini melaporkan seekor kucing domestik betina umur 7 bulan dengan berat badan 2,7 kg dengan keluhan lesu, tidak ada nafsu makan dan minum, serta menderita sariawan sejak 2 hari sebelum diperiksa. Kucing diperiksa secara fisik meliputi anamnesa, inspeksi terhadap kondisi tubuh dan perilaku makan, palpasi terhadap kulit, rambut, dan permukaan tubuh lainnya, serta auskultasi pada daerah thorax dan abdomen. Sampel darah kucing diperiksa terhadap jumlah eritrosit kadar hemoglobin, jumlah leukosit dan diferensialnya. Hasil pemeriksaan fisik menunjukkan limfoglandula submandibula dan retropharingeal bengkak, gingiva hiperemi serta adanya ulser multiple pada bibir dan lidah. Hasil pemeriksaan darah menunjukkan trombositopenia dan monositosis. Berdasarkan hasil pemeriksaan kucing didiagnosis stomatitis dengan prognosis fausta. Kucing diberi terapi selama 5 hari berupa amoxicilin dosis 10 mg/kg BB dua kali sehari secara intramuskuler, dyphenhidramin HCl 1 mg/kg BB satu kali sehari secara intramuskuler, vitamin C sebanyak 0,5 ml satu kali sehari secara subkutan, multivitamin sebanyak 0,5 ml dua kali sehari secara per oral, dan povidone iodine dua kali sehari dioleskan pada lesi stomatitis. Stomatitis pada kasus ini dapat disembuhkan dalam waktu 5 hari dengan pemberian amoxicilin, dipenhidramin HCl, vitamin C, multivitamin secara sistemik dan povidone iodine secara topikal.
Kata kunci: Amoksisilin; Kucing; Stomatitis; Vitamin
Kesesuaian Uji Antigen Capture Enzyme Linked Immunosorbant Assay dan Nested Multiplex Polymerase Chain Reaction untuk Diagnosis Rutin Bovine Viral Diarrhea: The agreement of the Antigen Capture Enzyme Linked Immunosorbent Assay and Nested Multiplex Polymerase Chain Reaction for Routine Diagnosis of Bovine Viral Diarrhea
Abstract
Bovine Viral Diarrhea (BVD) is one of the main causes of impaired productivity and reproduction of cows. Antigen capture Elisa (ACE) is one of the serological technique that is sensitive, reliable and used regularly for detecting persistent BVD infection individually which simpler than multiplex nested PCR. The aim of this study was to determine the agreement between ACE and multiplex nested PCR as a routine laboratory diagnostic technique to detect the presence of BVD infection. A total of 128 cow serum samples consisting of 63 positive and 65 negative samples based on ACE were used in this study. The samples were collected from active and passive surveillance in dairy and beef cattle conducted by Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates. The serum samples were then tested molecularly using multiplex nested PCR against BVD. The result showed 48 out of 63 BVDV-1 positive samples were found positive BVD antigen whereas 57 of 65 BVDV-1 negative samples were negative using multiplex nested PCR, . The agreement value between the two different assays based on statistic analysis using Kappa method was 0.64 and classified a good one. The result concluded that the ACE BVD assay was equally suitable as routine diagnosis to determine BVD infected cattle in the farm.
Keywords: Antigen capture ELISA; Bovine viral diarrhea; Kappa; Multiplex nested PCR.
Abstrak
Bovine Viral Diarrhea (BVD) merupakan salah satu penyebab gangguan produktivitas dan reproduksi sapi. Antigen capture ELISA (ACE) merupakan salah satu teknik serologis yang sensitif, dapat diandalkan dan digunakan secara teratur untuk mendeteksi infeksi BVD persisten secara individual yang lebih sederhana daripada multiplex nested PCR. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian antara uji ACE dan multiplex nested PCR sebagai teknik diagnostik laboratorium rutin untuk mendeteksi adanya infeksi BVD. Sebanyak 128 sampel serum sapi yang terdiri dari 63 sampel positif dan 65 negatif berdasarkan ACE BVDV Antigen Test Kit/Serum Plus (Idexx®) digunakan dalam kajian ini. Sampel serum sapi merupakan koleksi dari surveilans aktif dan pasif pada sapi perah dan potong yang dilakukan Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates. Sampel serum kemudian diuji secara molekuler menggunakan multiplex nested PCR terhadap BVD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan teknik multiplex nested PCR, 48 dari 63 sampel positif BVDV-1 ditemukan positif untuk antigen BVD sedangkan 57 dari 65 sampel negatif BVDV-1 negatif untuk antigen BVD. Analisis statitik berdasarkan perhitungan metoda Kappa menunjukkan nilai kesesuaian antara dua uji sebesar 0,64 dan tergolong bagus. Hasil penelitian menunjukkan kesimpulan bahwa uji ACE BVD sesuai sebagai diagnosis rutin untuk menentukan ternak yang terinfeksi BVD di peternakan.
Kata kunci: Antigen capture ELISA; Bovine viral diarrhea; Kappa; Multiplex nested PCR