Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (JIPVET - Journal of Tropical Animal and Veterinary Science)
Not a member yet
    224 research outputs found

    Kecernaan In Vitro Kulit Kacang Tanah (Arachis hypogaea L.) yang Difermentasi Cairan Rumen Kambing : In Vitro Digestibility of Fermented Peanut Hull (Arachis hypogaea L.) by Goat Rumen Fluid

    Get PDF
    Abstract  Peanut shell is one of the agricultural waste that can be optimized its uses as ruminant animal feed. However, the limitation in the feed were due to high lignin content that reach 34.30%. Fermentation by goat rumen fluid can improve nutrients and the digestibility of feedstuffs. The purpose of this study was to determine dry matter and organic matter digestibility by in vitro of fermented peanut hull using goat rumen fluid. Peanut hull fermentation with goat rumen fluid used a completely randomized design with four treatments and five replications. The treatments were P0: fermented peanut hull without goat rumen fluid, P1: fermented peanut hull using 25% goat rumen fluid, P2: fermented peanut hull using 30% goat rumen fluid, P3: fermented peanut hull using 35% goat rumen fluid. The data were analyzed by analysis of variance and continued with Duncan's multiple range test. The results showed that goat rumen fluid had no significant effect (P> 0.05) on dry matter and organic matter of fermented peanut hull. However, digestibility of dry matter and organic matter had affected significantly (P<0.05)  by fermented peanut hull. It was concluded that utilization of 25% goat rumen fluid could increase in vitro digestibility of dry matter and organic matter of fermented peanut hull. Keywords: Dry Matter; Goat Rumen Fluid; In Vitro Digestibility; Organic Matter; Peanut Hull.   Abstrak  Kulit kacang tanah merupakan salah satu limbah pertanian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan ruminansia. Namun kadar lignin yang tinggi mencapai 34,30% membatasi pemanfaatannya. Fermentasi dengan cairan rumen kambing dapat memperbaiki nutrien dan kecernaan bahan pakan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui secara in vitro kecernaan bahan kering dan bahan organik kulit kacang tanah hasil fermentasi oleh cairan rumen kambing. Pada penelitian ini dilakukan proses fermentasi kulit kacang tanah dengan menggunakan cairan rumen kambing. Fermentasi kulit kacang tanah dengan cairan rumen kambing menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 5 ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah P0: fermentasi kulit kacang tanah fermentasi tanpa cairan rumen, P1: kulit kacang fermentasi dengan cairan rumen kambing 25%, P2: kulit kacang fermentasi dengan cairan rumen kambing 30%, P3: kulit kacang fermentasi dengan cairan rumen kambing 35%. Kulit kacang tanah yang telah dicampur dengan cairan rumen kambing sesuai perlakuan kemudian dimasukan ke dalam toples dan ditutup rapat, difermentasi selama 21 hari. Hasil fermentasi ini kemudian dilakukan penguji kecernaan in vitro sesuai dengan perlakuan pada proses fermentasinya. Data hasil pengukuran kecernaan secara in vitro dianalisis dengan analisis varians dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa cairan rumen kambing tidak berpengaruh nyata (P> 0,05) terhadap  kadar bahan kering dan bahan organik kulit kacang tanah, tetapi berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap kecernaan bahan kering dan bahan organik kulit kacang tanah. Disimpulkan bahwa 25% cairan rumen kambing dapat meningkatkan kecernaan bahan kering in vitro dan bahan organik kulit kacang tanah. Kata Kunci: Bahan kering; Bahan organik; Cairan rumen kambing; Kecernaan in vitro; Kulit kacang tana

    Penggunaan Cairan Ekstrak Isi Gizzard dan Duodenum Ayam pada Pengukuran Kecernaan In Vitro Daun Turi (Sesbania grandiflora): The Use of Gizzard Contents Extracts and Duodenum Contents Extracts of Chicken on In Vitro Digestibility Measurement of Turi Leaves (Sesbania grandiflora)

    Get PDF
    Abstract The aim of this study was to examine the use of Gizzard Contents Extracts (GCE) and Duodenum Contents Extracts (DCE) of Chicken on In Vitro digestibility measurements of Turi Leaves (Sesbania grandiflora). The study was designed using a One-way Classification of Completely Randomized Design (CRD) with 4 treatments. Each treatment was repeated three times. Types of treatment in the form of using GCE and DCE, including: (1) control treatments (without GCE or DCE), (2) GCE, (3) DCE, and (4) a mixture of GCE and DCE. The observed variables were Coefficient of Dry Matter Digestibility (CDMD), Coefficient of Organic Matter Digestibility (COMD), and Coefficient of Soluble Protein Digestibility (CSPD). The results showed that the addition of GCE, DCE, and a mixture of GCE and DCE could not increase the CDMD, COMD, and CSPD of Turi Leaves compared to the control treatment. Keywords: Duodenal contents extract; Gizzard content extract; In vitro digestibility; Turi leaves.   Abstrak Penelitian bertujuan untuk mengkaji penggunaan cairan ekstrak isi gizzard (CEIZ) dan duodenum (CEID) ayam pada pengukuran kecernaan in vitro daun turi. Penelitian dirancang menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola searah dengan 4 perlakuan. Masing-masing perlakuan diulang tiga kali. Macam perlakuan berupa penggunaan penggunaan CEIZ dan CEID ayam, meliputi perlakuan kontrol (tanpa CEIZ maupun CEID), CEIZ, CEID, dan campuran CEIZ dan CEID. Variabel pengamatan berupa koefisien cerna bahan kering (KCBK), koefisien cerna bahan organic (KCBO), dan koefisien cerna protein terlarut (KCPT). Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan penambahan cairan ekstrak isi gizzard, duodenum dan campuran keduanya tidak dapat meningkatkan KCBK, KCBO, dan KCPT daun turi dibandingkan dengan perlakuan control. Kata kunci: Cairan ekstrak isi duodenum; Cairan ekstrak isi gizzard;  Daun turi; Kecernaan in vitro

    Effect of transgenic and non-transgenic corn hybrids on the performance of quails and chicken: A review: Pengaruh hibrida jagung transgenik dan non-transgenik terhadap performa puyuh dan ayam: Review

    No full text
    Abstrak  Ayam broiler, layer dan puyuh (Coturnix japonica) adalah jenis unggas yang semakin populer untuk dipelihara karena performa yang baik seperti produksi yang cepat, dan kemudahan perawatan, baik untuk penghasil daging dan telur di berbagai negara Asia dan di dunia. Unggas sering dipelihara dengan menggunakan jagung (Zea mays) sebagai sumber energi utama dalam ransum. Namun, dalam produksinya, jagung sering menghadapi masalah yang melibatkan hama arthropoda seperti Ngengat Penggerek Jagung Asia (Ostrinia furnacalis), dan oleh karena itu, teknologi rekayasa dalam bidang pertanian telah banyak mengembangkan banyak galur jagung transgenik yang telah ditanam dan dibiakkan agar tahan terhadap hama ini. Artikel ini bertujuan untuk mengetahui kinerja jagung transgenik sebagai pakan, keamanan dan kesetaraan gizi pada unggas baik sebagai penghasil daging maupun telur. Hasil review, menunjukkan bahwa di berbagai penelitian, tidak ada perbedaan yang signifikan antara parameter produksi pada ayam pedaging, petelur dan puyuh yang diberi pakan jagung non-transgenik konvensional dan transgenik. Kesamaan ini terlihat pada jenis unggas pedaging dan petelur. Penelitian untuk menganalisis efek jagung transgenik pada parameter komposisi kuning telur, dan komposisi otot ayam pedaging masih perlu dilakukan. Hasil kajian ini juga mengamati bahwa tidak ada gen dan protein transgenik yang tersisa setelah pemotongan unggas di dalam otot dan jaringan, yang menunjukkan bahwa masalah keamanan gen dan protein transgenik tidak ditransfer dari jagung ke produk unggas. Kata kunci: Broiler; GMO; Kualitas daging; Pakan; Produksi telur   Abstract  Broiler, Layer and Japanese Quail (Coturnix japonica) are species of poultry that have become increasingly popular to raise due to their performance such as fast production, and ease of care, either for meat and egg producers in many Asian countries and worldwide. As poultry, they are often raised using corn (Zea mays) as the primary energy source in the ration. However, corn often faces problems involving arthropod pests such as the Asian Corn Borer Moth (Ostrinia furnacalis), and as such, agricultural engineering technology has developed many strains of transgenic corn that have been grown and bred to be resistant to these pests. This article aimed to determine the transgenic corn performance as feed, safety and nutritional equivalence on poultry (quails and chicken) for meat and egg producer. The review determined that across various studies, there were no significant differences between production parameters in the broiler, layer and quails fed a conventional non-GMO diet and entirely transgenic corn. This similarity was seen in both meat and layer types. Though, research still needs to be done to assess transgenic corn's effects on parameters of yolk composition and breast muscle composition. The study also observed that no transgenic genes and proteins remained after the slaughter of the poultry in the muscle and tissues, indicating the safety concerns of transgenic genes and proteins not being transferred from the corn to poultry. Keywords: Broiler; Egg production; Feed; GMO; Meat qualit

    Imunitas dan profil hematologi ayam persilangan pada pemberian protein pakan dan akses kandang pemeliharaan yang berbeda: Influence of dietary protein and rearing cage access to immunity and hematological profile of crossing chicken

    No full text
    Abstract  This research aimed to determine the immunity and haematological profile of crossbreeds between Bangkok chickens and laying hens reared with access to indoor or outdoor cages and different dietary proteins. A total of 200 crossbreed chickens were randomly divided into 2 treatment factors, the first factor was the cage (A) (Indoor and Outdoor access) and the second factor was feed (B) (17% and 22% protein content). Each treatment had 5 replications; each replication consisted of 10 chickens. Observations were made on the relative weights of the bursa, thymus and spleen as well as the blood profile and heterophil-lymphocyte ratio (H/L). The results showed that feed and cages had no significant effect (P>0.05) on the relative weight of the bursa fabricius, the relative weight of the thymus and the relative weight of the spleen, while the interaction between feed and cage could affect the relative weight of the spleen. The haematological profile also did not show any difference due to the treatment of different feed protein content and cage access (p>0.05). These results indicate crossed chickens can adapt to indoor or outdoor cages with a minimum of 17% protein. Keywords: Crossbreed local chickens; Percentage comparison of heterophils and lymphocytes; Relative weight of the spleen; The bursa fabricius; Thymus   Abstrak  Penelitian ini betujuan untuk mempelajari imunitas profil hematologi dan ayam persilangan ayam Bangkok dan ayam Ras petelur yang dipelihara dengan akses kandang indoor atau outdoor dan kandungan protein pakan berbeda. Sebanyak 200 ekor ayam silangan secara acak dibagi dalam 2 faktor perlakuan, faktor pertama adalah kandang (A) (akses indoor dan outdoor) dan faktor kedua pakan (B) (kandungan protein 17% dan 22%). Setiap perlakuan terdapat 5 ulangan, setiap ulangan terdiri atas 10 ekor ayam.  Pengamatan dilakukan terhadap bobot bursa fabrisius, timus, limpa dan profil darah serta rasio heterofil-limfosit (H/L). Hasil penelitian menunjukan bahwa pakan dan kandang tidak berpengaruh secara nyata (P>0,05) pada bobot relatif bursa fabrisius, bobot relatif timus dan bobot relatif limpa sedangkan interaksi antara pakan dan kandang mampu mempengaruhi bobot relatif limpa. Profil hematologi juga tidak menunjukkan adanya perbedaan akibat perlakuan kandungan protein pakan dan akses kandang yang berbeda (p>0,05). Dapat disimpulkan berdasarkan gambaran darah dan organ limfoid, ayam hasil persilangan dapat beradaptasi dengan kandang indoor maupun outdoor dengan pemberian protein minimal 17%.  Kata kunci: Ayam lokal persilangan;, Bobot relatif limpa; Bursa fabrisius; Perbandingan persentase heterofil dan limfosit; Timu

    Profil Metabolit Darah Sapi Bali Jantan yang Diberikan Pakan Hasil Integrasi Rumput - Legume - Tanaman Pangan di Lahan Kering Pulau Timor: Metabolic Blood Profile of Male Bali Cattle That at Gives Integration Feed Grass- Legume and Food Cropsin Dry Land Timor Island

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pakan hasil integrasi rumput unggul - legume Clitoria tarnatea dan tanaman pangan pada sapi bali jantan penggemukan ditingkat peternak terhadap kadar urea, glukosa, dan hemoglobin darah. Dalam penelitian ini digunakan 8 ekor sapi Bali jantan bakalan pada kisaran umur 1 – 1,5 tahun dengan berat badan 101-134 kg, dengan rataan 114,25 kg dan koefisien variasi 6,12%. Metode penelitian yang digunakan adalah metode percobaan menggunakan rancangan bujur sangkar latin ganda (RBSL) dengan 4 perlakuan dan 4 periode sebagai ulangan. Adapun perlakuan dalam penelitian ini adalah P0: pakan hasil integrasi rumput mulato + legum + jagung + kacang nasi + labu kuning, P1: pakan hasil integrasi rumput odot + legum + jagung + kacang nasi + labu kuning, P2: pakan hasil integrasi rumput Setaria + legume + jagung + kacang nasi + labu kuning, P3: pakan hasil integrasi rumput Brachiaria + legum + jagung + kacang nasi + labu kuning. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan Analysis of variance (ANOVA). Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan berpengaruh tidak nyata P>0,05 terhadap kadar urea, glukosa dan hemoglobin darah sapi Bali jantan penggemukan. Kesimpulan dari penelitian ini adalah pemberian hasil integrasi rumput unggul - legume dan tanaman pangan memberikan pengaruh yang sama antar perlakuan terhadap profil metabolit darah sapi bali jantan penggemukan. Integrasi rumput unggul - legume dan tanaman pangan berpotensi untuk diterapkan pada daerah lahan kering karena mampu menyediakan pakan dengan biomassa yang cukup bagi ternak yang dibuktikan dengan profil metabolit darah ternak masih berada pada keadaan normal

    Identifikasi Telur Cacing pada Saluran Pencernaan Satwa Liar yang Dipelihara Masyarakat di Manokwari, Papua Barat: Identification of Worm Eggs in the Digestive Tract of Wild Animals Maintained by the Community in Manokwari, West Papua

    Get PDF
    Investment of parasitic worms of captive wildlife was an impact on their health condition. This study was conducted to determine the intensity of parasitic worm infection in wild animals kept by communities in Manokwari, West Papua. The Natif method was used, by centrifuge of 20 birds and 20 mammals (Kangaroo and Deer) faeces collected from the sites. Sampling was carried out from October to November 2016. The analysis of collected faecal samples showed that bird species were not indicated (negatively infected by worm). In mammals, Nematodes and cestodes were found. Identification of existing findings showed that 3 (three) types of worm eggs were found, namely Taenia sp in kangaroos (Macropodidae), Ascaris sp (berembrio), and stronyle sp in deer (Cervus timorensis). The highest parasites intensity was stronyle sp (10 worm eggs) and the lowest intensity was Ascaris sp (3 worm eggs) .The rate of infection and investment of parasitic worm eggs in wild animals in Manokwari was categorised relatively low

    Hubungan Ukuran Tubuh dengan Bobot Badan dan Bobot Karkas Bandikut (Echymipera rufescens) Di Kampung Manawi Distrik Angkaisera Kabupaten Kepulauan Yapen: The Relationship between Body Measurement and Body Weight and Carcass Weight of Bandicoot (Echymiera rufescens) in Manawi Village, Angkaisera District, Yapen Isand Regency

    Get PDF
    Abstract Bandicoot  (Echypera rufescens)  is an alternative source of animal protein and a source of germplasm for humans, especially local communities in Papua. These animals are obtained by hunting and/or setting traps in the community's closest habitat.  The aim of this research was to determine the relationship between body measurements and body weight and carcass weight by utilizing 32 bandicoots, 16 males and 16 females, with a live weight range of 400 - 2000 grams in Yapen Island Regency, Papua. The study was conducted by using an explorative study and the data were analyzed using multiple correlations and regression. The carcass was obtained by slaughtering the head, removing the blood, and then removing the hair by burning (singeing). The average body weight of male bandicoots was 1403 grams and that of females was 598.75 grams, while the average carcass weights of males and females were 1050.06 grams and 415 grams, respectively. The average heart girth of male bandicoots is 23.03 cm and that of females is 17.81 cm, while the average body length of male and female bandicoots is 25.19 cm and 18.91 cm, respectively. The average percentage of male bandicoot carcasses was 73.99 cm and that of females was 69.22 cm. The correlation coefficient between body weight and body measurements was 0.911 while the carcass weight and body measurements were 0.901. The correlation between body weight and carcass of male bandicoots were 0.911 and 0.901. The correlation between body weight and carcass of female bandicoot were 0.702 and 0.747. The regression equation for male bandicoots to estimate body weight (BB) and carcass weight (BK) were BB = (-1705, 594+84,432 X1 +46,234X2) and (BK = -432,092 +71,545 X1 +33,127X2). The female bandicoot regression equations to estimate body weight (BB) and carcass weight (BK) were: (BB = -509,134+39,437 X1 +21,443X2) and (BK= -436,703 +31,720 X1 +15,164X2). Keywords: Bandicut (Echypera rufescens); Carcass length; Carcass weight; Carcass; Heart girth; Live weight; Singeing   Abstrak Bandikut (Echypera rufescens) merupakan  salah satu sumber alternatif protein hewani dan sumber plasma nutfa bagi manusia khususnya masyarakat lokal yang berada di Papua. Hewan ini diperoleh dengan cara berburu dan/atau  pemasangan jerat di habitat terdekat masyarakat. Penelitian tentang hewan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara ukuran-ukuran  tubuh dengan  bobot badan dan bobot karkas dengan memanfaatkan  32 ekor bandikut masing-masing 16 ekor jantan dan 16 ekor betina dengan kisaran berat hidup 400 -  2000 gram.  Karkas diperoleh dengan cara bagian kepala disembelih, dikeluarkan darah kemudian dilakukan penghilangan bulu dengan cara dibakar (singeing). Karkas terdiri dari daging, tulang dan lemak setelah kepala, isi rongga dada dan perut, kaki belakang bagian bawah dan kaki depan bagian bawah serta ekor dikeluarkan. Rata-rata bobot badan bandikut jantan adalah 1403 gram dan betina adalah 598,75 gram, sedangkan rata-rata bobot karkas jantan dan betina masing-masing adalah 1050,06  gram dan 415 gram. Rata-rata lingkar dada bandikut  jantan adalah 23,03 cm dan betina adalah 17,81 cm, sedangkan rata-rata panjang badan bandikut jantan dan betina berturut-turut adalah 25,19 cm dan 18,91 cm. Rata-rata persentase karkas bandikut jantan adalah 73,99 cm dan betina adalah  69,22 cm. Koefisien korelasi antara bobot badan  dengan ukuran-ukuran tubuh adalah 0,911 sedangkan antara bobot karkas dengan ukuran-ukuran tubuh adalah 0,901. Korelasi bobot badan dan karkas bandikut jantan adalah  0,911 dan  0.901. Korelasi bobot badan dan karkas bandikut betina adalah sebesar 0,702 dan 0,747. Persamaan regresi bandikut jantan untuk menduga bobot badan (BB) dan bobot karkas (BK) adalah BB = (-1705, 594+84,432 X1 +46,234X2 dan BK = -432,092 +71,545 X1 +33,127X2. Persamaan regresi bandikut betina untuk menduga bobot badan (BB) dan bobot karkas (BK) adalah BB = -509,134+39,437 X1 +21,443X2 dan BK= -436,703 +31,720 X1 +15,164X2. Kata kunci: Bandicut (Echypera rufescens); Berat karkas; Berat potong; Karkas; Lingkar dada; Panjang karkas

    Ekstrak Rumput Laut Sargassum.sp Mencegah Trombositopenia Gestational Pada Tikus Selama Kebuntingan: Sargassum.sp Seaweed Extract Prevents Gestational Thrombocytopenia in Mice During Pregnancy

    No full text
    Abstract  The potential of seaweed as a functional food ingredient has not been explored. Several studies, the compotition of seaweed can prevent stress in animals such as sedative mechanisms. The sedative effect was decreased of blood pressure. Pregnancy can be a stressor in animals and cause anemia physiologically. This study aims to determine the effect of seaweed extract on the profile hemoglobin and erythrocytes of pregnant mice. In this study used 10 pregnant rats divided into 2 groups, group 1 (control) and group II (treatment with 450 mg/BW extract Sargassum sp). Calculation of erythrocytes, hemoglobin, and thrombocyte measurements were carried out in day 0, 7, and 14. The results showed that there was an increased thrombocyte count in the treatment group even though in both groups there was a decreased the number of erythrocytes and hemoglobin. The results of statistical analysis showed a significant difference (p <0.05) of thrombocyte counts between the control and treatment groups. Based on the results of the study it was found that administration of Sargassum sp. during pregnancy can prevent thrombocytopenia in pregnant rat.  Keywords: Sargassum sp; Pregnant rat; Thrombocytopenia; Erythrocytes; Hemoglobin   Abstrak  Potensi rumput laut sebagai bahan pangan fungsional belum banyak digali. Beberapa penelitian telah menyebutkan kandungan rumput laut dapat mencegah stress pada hewan seperti mekanisme sedativa. Efek sedativa yang sering muncul adalah penurunan tekanan darah. Kebuntingan dapat merupakan stressor pada hewan dan secara fisiologi akan menyebabkan anemia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak rumput laut pada gambaran hematologi tikus bunting. Penelitian ini menggunakan 10 ekor tikus bunting yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok 1 (kontrol) dan kelompok II (perlakuan ektrak rumput laut Sargassum sp 450 mg/kg BB). Pengambilan sampel dilakukan pada hari ke 0 (sebelum kebuntingan), hari ke 7 dan hari ke 14 (akhir kebuntingan). Pengukuran hematologi sampel meliputi perhitungan eritrosit, pengukuran hemoglobin serta trombosit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi peningkatan jumlah trombosit pada kelompok perlakuan meskipun pada kedua kelompok terjadi penurunan jumlah eritrosit dan hemoglobin. Hasil analisis statistik ada perbedaan yang signifikan (P<0,05) jumlah trombosit antara kelompok kontrol dengan perlakuan. Berdasarkan hasil penelitian didapatkan bahwa pemberian ekstrak Sargassum sp selama kebuntingan dapat mencegah terjadinya trombositopenia pada tikus bunting.  Kata kunci: Sargassum sp; Tikus bunting; Trombositopenia; Eritrosit; Hemoglobi

    Karkas Ayam Broiler Yang Diberi Umbi Amorphophallus companulatus: Carcass Of Broiler Chickens Fed with Amorphophallus companulatus

    Get PDF
    Abstract Amorphophallus companulatus (AC) is a plant from the Araceae family that contains high metabolizable energy and an alternative feedstuff for livestock. This study aimed to investigate the effect of feeding diet containing AC on slaughter weight, carcass weight, and abdominal fat of broiler chickens. The feeding trial lasted for 35 days. For the sample, 112 broiler chicks, all a day old (DOC) were used. The research had 4 treatment groups and 4 replications with 7 birds per replication. The four treatments were P0 (Control ration without AC); P1 (rations containing 5% of AC); P2 (rations containing 10% of AC); P3 (rations containing 15% AC). Slaughter weight, carcass weight, and abdominal fat weight data were analyzed by variance analysis and followed by Duncan's multiple range test with a confidence level of 0.05. The addition of AC tubers affected the slaughter weight, carcass weight, and abdominal fat weight of broiler chickens. The slaughter and carcass weight in chickens fed with the control ration was significantly (P <0.05) higher than the chicken fed with rations containing AC. The abdominal fat weight was significantly (P <0.05) higher in chickens fed with control rations compared to those fed with AC rations. In conclusion, AC tuber meal in the ration can reduce the slaughter weight, carcass weight, and abdominal fat weight of broiler chickens. Keywords: Abdominal fat; Amorphophallus companulatus; Broiler; Carcass weight; Final body weight.   Abstrak Amorphophallus companulatus (AC) merupakan Araceae yang mengandung energi metabolisme yang tinggi dan sebagai bahan pakan alternatif bagi ternak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penggunaan AC dalam ransum terhadap bobot potong, berat karkas, dan lemak abdominal ayam broiler. Penelitian ini dilakukan selama 35 hari. Seratus dua belas ekor ayam broiler umur sehari digunakan dalam penelitian. Ada 4 kelompok perlakuan dengan 4 ulangan masing-masing 7 ekor ayam per ulangan. Keempat perlakuan tersebut adalah P0 (Ransum kontrol tanpa AC); P1(ransum yang mengandung 5% AC); P2 (ransum yang mengandung 10% AC); P3 (ransum yang mengandung 15% AC).  Data berat potong, berat karkas dan berat lemak abdominal dianalisis dengan analisis varians dan dilanjutkan dengan uji jarak berganda Duncan pada tingkat kepercayaan 0,05. Pemberian umbi AC berpengaruh terhadap berat badan akhir, berat karkas dan berat lemak abdominal ayam broiler. Berat badan akhir, berat karkas pada ayam yang diberi ransum kontrol secara nyata (P <0,05) lebih tinggi daripada ayam yang diberi ransum mengandung AC. Bobot lemak abdominal secara nyata (P<0,05) lebih tinggi pada ayam yang diberi ransum kontrol dibandingkan yang diberi ransum AC. Kesimpulannya, tepung umbi AC dalam ransum dapat mengurangi berat badan akhir, berat karkas dan lemak abdominal ayam broiler. Kata kunci: Lemak abdominal; Amorphophallus companulatus; Broiler; Berat karkas; Berat badan akhir

    Level Pemberian Tepung Rosella (Hibiscus sabdariffa Linn) Terhadap Kualitas Dendeng Babi: Level of Roselle Flour (Hibiscus sabdariffa Linn) on the Quality of Pork Jerky

    Get PDF
    The purpose of this research to determine the level on the quality of pork jerky (aroma, texture and TPC). The research design used was a complete random design (CRD) with 4 treatments and 3 replications, and continued with Mann-Whitney test. The sensoric data used   hedonik  test according to Kruskal-Wallis method.  The treatment consisted of R0 = without roselle flour, R1 = roselle flour 5g, R2 = roselle flour 10g  and  R3 = roselle flour 15g. The results showed that the addition of roselle flour 5g, 10g and 15g  gave a significant difference  (P <0.05) to the aroma and TPC values while the texture had no significant effect (P>0,05).  But the best  texture value is at the level of 10g roselle flour.  Conclusion, The level of roselle flour  influences  the value of the aroma of  jerky and can reduce  the total bacterial growth  in the pork jerky.  The best activity  level of 15g roselle flour  can reduce the lowest total bacterial colony

    138

    full texts

    224

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu Peternakan dan Veteriner Tropis (JIPVET - Journal of Tropical Animal and Veterinary Science)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇