Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
Not a member yet
    1514 research outputs found

    Respon Seleksi Berdasarkan Bobot Sapih dan Bobot Setahun pada Sapi Bali

    Get PDF
    Bobot sapih dan bobot setahun merupakan sifat produksi yang ekonomis untuk digunakan sebagai kriteria seleksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon seleksi bobot sapih dan bobot setahun secara langsung serta mengevaluasi respon seleksi bobot setahun secara tidak langsung melalui bobot sapih. Sebanyak 190 data keturunan yang berasal dari 23 pejantan dan 133 induk digunakan untuk menduga nilai heritabilitas bobot sapih, sedangkan untuk menduga nilai heritabilitas bobot setahun digunakan 231 data keturunan yang berasal dari 20 pejantan dan 101 induk. Nilai korelasi genetik antara bobot sapih dan bobot setahun diduga dengan menggunakan 194 pasangan data yang berasal dari 26 pejantan dan 125 induk. Nilai heritabilitas diduga dengan menggunakan analisis variansi data saudara tiri sebapak (paternal halfsib correlation). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai heritabilitas bobot sapih dan bobot setahun berturut-turut sebesar 0,63±0,291 dan 0,68±0,342. Nilai korelasi genetik antara bobot sapih dan bobot setahun sebesar 0,78. Semakin sedikit proporsi populasi yang dipertahankan maka semakin tinggi respon seleksi pada bobot sapih maupun bobot setahun baik secara langsung maupun tidak langsung

    Chlorella vulgaris and Spirulina platensis: Their Nutrient Contents and Bioactive Compounds for Improving Poultry Productivity

    Get PDF
    Poultry industry are facing many challenges and osbtacles especially on the supply of feed ingredients, medicines, feed supplements and additives. The high price of protein source-feed ingredients has encouraged nutritionists to explore and utilize alternative protein source-feed ingredients for poultry. This review provides an overview of their nutritional and bioactive contents and the use of microalgae, Chlorella vulgaris and Spirulina platensis in poultry feed based on recent literature studies and their potential development and utilization in Indonesia. The microalgae Chlorella vulgaris dan Spirulina platensis have very high protein content that are potential as a protein source in poultry rations. In addition, Chlorella vulgaris and Spirulina platensis also contain several bioactive compounds that can be used as alternatives to antibiotics growth promoter and synthetic antioxidants for poultry. Indonesia has a great potential for the production of Chlorella vulgaris and Spirulina platensis, however massive cultivation and economies of scale have not yet been carried out. Such conditions make Chlorella vulgaris and Spirulina platensis less profitable as protein sources, but more likely as growth-promoting additives or antioxidants for poultry in Indonesia

    Penggunaan Limbah Ikan Leubiem (Chanthidermis maculatus) dalam Ransum terhadap Kelayakan Usaha Itik Petelur Fase Starter

    Get PDF
    Pakan merupakan faktor yang memengaruhi biaya produksi itik petelur, biaya pakan mencapai 70% dari total biaya produksi, untuk itu diperlukan pakan alternatif yang dapat mengurangi biaya produksi, salah satunya adalah limbah ikan leubiem (Chanthidermis maculatus). Penelitian bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan limbah ikan leubiem dalam ransum terhadap kelayakan usaha itik petelur fase starter. Materi penelitian yang digunakan 500 ekor itik petelur umur 1 hari (DOD). Perlakuan ransum yang digunakan: P1 (ransum kontrol/tanpa limbah ikan leubiem), P2 (ransum mengandung 10% kulit ikan leubiem), P3 (ransum mengandung 10% kepala ikan leubiem), P4 (ransum mengandung 10% tulang ikan leubiem) dan P5 (ransum mengandung 10% kombinasi limbah ikan leubiem). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri 5 perlakuan dan 4 ulangan. Variabel yang diamati adalah: harga ransum, biaya produksi, IOFC, penerimaan (hasil penjualan), keuntungan dan kelayakan usaha. Data yang diperoleh ditabulasi dan dikalkulasi sesuai dengan variabel penelitian. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga ransum itik petelur fase starter berkisar antara Rp. 4.081,- 5.205,-/kg. Total biaya produksi terendah terdapat pada perlakuan ransum P5 yaitu Rp. 26.270,-/ekor. Penerimaan diperoleh dari hasil penjualan itik petelur fase starter berdasarkan bobot hidup Rp. 40.000/kg. IOFC dan keuntungan tertinggi diperoleh pada perlakuan ransum P5 yaitu Rp. 17.318,-/ekor. Kelayakan usaha berdasarkan nilai BC dan RC ratio dari semua perlakuan ransum menunjukkan nilai yang diperoleh lebih besar dari 0 dan 1. Hal ini menunjukkan bahwa usaha itik petelur menguntungkan dan layak diusahakan. Disimpulkan bahwa usaha peternakan itik petelur fase starter dengan penggunaan limbah ikan leubiem dalam ransum layak untuk diteruskan dan menguntungkan

    Penentuan Sianida pada Pakan Hijauan dengan Metode Cyclic Voltammetry: Studi Pendahuluan Pembuatan Prototipe Sensor untuk Deteksi Keracunan Sianida pada Ruminansia

    No full text
    Metode deteksi sianida sudah dikembangkan sejak 1901, tetapi metode tersebut tidak efektif dan tidak efisien karena menggunakan banyak bahan kimia dan waktu yang relatif panjang untuk preparasi dan analisis sampel. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi sianida dengan metode cyclic voltammetry (CV). Pada penelitian ini, sensor yang digunakan adalah conducting electrode dan potentiostat untuk mengubah reaksi kimia menjadi signal elektronik. Larutan standar sianida (0,0625 – 4 ppm) diukur dengan CV dengan kondisi: potential range -0,5 sampai +1,0 V dan scan rate 25 mVs-1 dan dapat mendeteksi sianida hingga 0,0625 ppm. Nilai ini di bawah nilai lethal dose (1-10 ppm). Sebagai pembanding adalah metode kertas pikrat yang menggunakan kloroform dan bubuk kacang mete. Perubahan warna dari kuning menjadi merah bata pada kertas saring yang direndam dalam larutan pikrat menandakan keberadaan sianida. Namun, metode ini tidak dapat mendeteksi sianida di bawah 1 ppm. Selain itu, metode CV mempunyai kemampuan yang lebih baik dalam mendeteksi sianida dalam sampel hijauan bersianida (spiked 0.8 – 80 ppm) dibandingkan dengan metode kertas pikrat. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi studi pendahuluan untuk prototipe sensor sianida untuk keperluan diagnostik

    Keragaan Galur-galur Mutan Rumput Gajah (Pennisetum purpureum Mach) Hasil Pemuliaan In Vitro di Rumah Kaca

    Get PDF
    Rumput gajah (Pennisetum prpureum Mach) Cv Taiwan merupakan salah satu tanaman pakan ternak yang banyak dikembangkan sebagai sumber hijauan pakan ternak ruminansia besar. Induksi mutasi tanaman rumput gajah dengan sinar Gamma dapat memunculkan keragaman genetik yang berguna bagi program pemuliaan tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi keunggulan galur-galur rumput gajah yang dihasilkan dari hasil pemuliaan in vitro menggunakan kombinasi induksi mutasi dengan iradiasi sinar Gamma dan seleksi in vitro pada populasi kalus embriogenik. Bahan tanam yang diuji dalam penelitian ini adalah 19 galur mutan rumput gajah. Percobaan dilaksanakan di rumah kaca Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian (BB BIOGEN Bogor). Variabel yang diamati adalah waktu muncul tunas, jumlah anakan, jumlah daun, tinggi tanaman, warna daun dan warna dasar batang. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur-galur mutan rumput gajah hasil pemuliaan in vitro secara umum lebih baik daripada tanaman kontrol berdasarkan berdasarkan waktu muncul tunas, jumlah anakan, jumlah dan luas daun, tinggi tanaman, dan diameter batang menunjukkan keragaman yang cukup tinggi. Galur M-RG118 dan M-RG109 berpotensi untuk dikembangkan lebih lanjut karena memiliki karakter yang lebih baik dibanding tanaman asal dan galur lainnya

    Deteksi Bakteri Penyebab Mastitis Subklinis dan Uji Sensitifitas Antibiotikanya pada Kambing Perah Sapera di Kabupaten Bogor

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk untuk mendeteksi berbagai macam bakteri penyebab mastitis subklinis. Sebanyak 31 ekor kambing perah Sapera laktasi kedua dari suatu peternakan di Kabupaten Bogor diuji mastitis dengan metode California Mastitis Test (CMT). Isolasi bakteri dilakukan pada sampel susu yang menunjukkan mastitis subklinis menggunakan media Blood Agar Plate (BAP), kemudian dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri patogen dengan Polymerase Chain Reaction (PCR) dan sequencing. Hasil penelitian menunjukkan kejadian mastitis subklinis sebesar 70,1% yang disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, S. caprae, Bacillus subtilis, dan B. lichiniformis yang sensitif terhadap Chlorampenicol®, Penstrep®, Duocyclin® dan Lactosan®

    Biomassa Tanaman Jagung sebagai Pakan Basal Kambing Boerka Sedang Tumbuh

    Get PDF
    Biomassa tanaman jagung (seluruh bagian tanaman jagung termasuk batang, daun dan buah jagung muda) yang dipanen pada umur tanaman 45–65 hari memiliki potensi untuk digunakan sebagai pakan kambing. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh penggunaan biomassa tanaman jagung sebagai pakan basal terhadap pertumbuhan kambing Boerka. Digunakan 24 ekor kambing jantan Boerka fase pertumbuhan (rataan bobot badan awal 14,96 kg ± 1,48) untuk mempelajari pengaruh pemanfaatan biomassa tanaman jagung sebagai pakan dasar terhadap pertumbuhannya. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap yang terdiri atas 4 perlakuan pakan dan 6 ulangan. Ternak secara acak dialokasikan ke dalam perlakuan pakan yaitu R0, konsentrat 40% + rumput 60%; R1, konsentrat 40% + rumput 40% + biomassa tanaman jagung 20%; R2, konsentrat 40% + biomassa tanaman jagung 40% + rumput 20% dan R3, konsentrat 40% + biomassa tanaman jagung 60%. Semua perlakuan pakan memiliki kandungan protein kasar 12% dan DE 2.800 Kkal/kg. Pemberian pakan dilakukan selama 12 minggu sebanyak 3,8% dari bobot badan berdasarkan bahan kering. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan konsumsi bahan kering pakan, kecernaan bahan kering, bahan organik, NDF dan ADF, pertambahan bobot hidup dan efisiensi penggunaan pakan tidak nyata (P>0,05) dipengaruhi oleh perlakuan pakan. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa biomassa tanaman jagung dapat menggantikan komponen rumput sebagai pakan basal hingga 100% pada kambing Boerka sedang tumbuh

    Strategies to improve local beef cattle industry supply chains during the pandemic of Covid-19

    Get PDF
    Covid-19 has highlighted the importance of the local fresh-food supply chains especially with respect to food that cannot be stored or where access to overseas sources is closed. Meat is one fresh-food commodity greatly affected. Beef production is one of the most effective commodities for alleviating poverty for smallholders and if they can more directly participate in the supply chain, they can reap good financial rewards. Farmers usually formulate cattle feed rations on cheapest cost inputs, rather than on a least cost basis which still meets metabolisable energy (ME), crude protein (CP) and neutral detergent fibre (NDF) requirements. The ACIAR project, Profitable feeding strategies for smallholder cattle in Indonesia, has investigated rations that promote high live weight gain and low feed conversion (FCE, kg feed/kg gain) and determined that high ME rations are required at high intakes if low FCE and high income over food costs (IOFC) are to be achieved. The prices and availability of ration ingredients vary markedly across Indonesia and so a flexible system of ration formulation is required to take advantage of local price fluctuations. A Least Cost Ration (LCR) formulator and a least cost App (Beefupp) have been developed which can be used by entrepreneurial farmers, co-operatives and small commercial feed companies to formulate and alter rations quickly as circumstances change. The application of these principles has led to two-fold increases in IOFC for farmers. Government support for farmer led initiatives in the grinding, formulating, mixing and/or pelleting will support effective local co-operatives, farmer groups or small commercial feed companies

    Foot and Mouth Disease: An Exotic Animal Disease that must be Alert of Entry into Indonesia

    Get PDF
    Foot and Mouth Disease (FMD) is a highly contagious disease that attacks cloven hoofed animals. Among the animals primarly livestock that sensitive to FMD include cattle, bufalloes, pigs, sheep, and goats. The causative agent of FMD is the Foot and Mouth Disease Virus (FMDV). This disease is greatly feared by all countries because it may cause great loss of economic impact. There are still many countries in the world that are not yet free from FMD. The World Animal Health Organization (OIE/ Office des Internationale Epizootis) has included this disease in the list of disease that must be reported as “notifiable disease”. This FMD has become exotic for Indonesia since 1990, and currently it is included in the list of strategic infectious animal diseases in Indonesia. With current situation where the traffic of people and goods between countries in the world is very fast and frequent, it is possible for the disease to enter Indonesian territory. This paper discusses the FMD with aim of increasing alertness and readiness in preventing the entry and spread of the disease to Indonesia

    Performa Stenotaphrum secundatum yang Ditanam di Bawah Naungan Pohon Karet (Hevea brasiliensis) di Lahan Kering Masam

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian pupuk kandang pada awal penanaman terhadap performa rumput Stenotaphrum secundatum yang ditanam di bawah naungan pohon karet di lahan kering masam Lampung. Penelitian ini dilakukan pada tanggal 30 April 2020 sampai dengan 8 Juli 2020 di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian (IP2TP) Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap yang membandingkan dua perlakuan (dipupuk dan tidak dipupuk) dengan masing-masing tiga ulangan. Parameter yang diamati adalah panjang tanaman, panjang batang, panjang daun, lebar daun, diameter batang, jumlah anakan, jumlah ruas, jumlah cabang, dan bobot rumpun segar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aplikasi pupuk kandang pada awal pertanaman tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap karakter morfologi (panjang tanaman, panjang batang, panjang daun, dan diameter batang) rumput S. secundatum, kecuali pada lebar daun. Rumput S. secundatum yang tidak dipupuk memiliki daun yang lebih lebar daripada rumput S. secundatum yang dipupuk (11,43 versus 10,70 mm). Akan tetapi, pemberian pupuk kandang berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan (7,37 versus 5,40), jumlah cabang (8,30 versus 7,00), dan bobot rumpun segar (0,08 versus 0,05 kg) dibanding rumput yang tidak diberi pupuk. Pasokan hara melalui pemupukan menjadi sangat penting dalam upaya pengembangan hijauan pakan yang berkualitas

    1,369

    full texts

    1,514

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Indonesian Center for Animal Research and Development : Scientific Journal of ICARD
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇