Universitas Maritim Raja Ali Haji Pusat Jurnal Ilmiah
Not a member yet
76813 research outputs found
Sort by
Penguatan nilai-nilai kebangsaan melalui literasi digital bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Penang, Malaysia
Anak-anak pekerja migran Indonesia di Penang, Malaysia menghadapi tantangan dalam mengakses pendidikan formal, salah satunya karena status kewarganegaraan mereka. Sanggar Bimbingan Permai (Pertubuhan Masyarakat Indonesia di Malaysia), yang merupakan sebuah yayasan dibangun dalam upaya memberikan pendidikan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Penang, Malaysia, bekomitmen untuk membangun nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Pengabdian ini bekerja sama dengan Sanggar Bimbingan Permai bertujuan untuk menguatkan nilai-nilai kebangsaan melalui literasi digital bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Penang, Malaysia. Metode pelaksanaan pengabdian dilakukan melalui tiga tahap, pertama analisis kebutuhan melalui wawancara dengan pengurus Permai dan studi literatur. Kedua, intervensi objek melalui kegiatan sosialisasi kepada 52 anak-anak pekerja migran Indonesia. Ketiga, evaluasi dari hasil kuesioner dengan menganalisis secara statistik kemudian menafsirkan hasil tersebut. Terakhir, monitoring dengan melakukan pendampingan pasca kegiatan. Hasil kuesioner menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta setelah mengikuti sosialisasi yang dikemas secara interaktif, seperti permainan tebak-tebakan seputar Pancasila, kemerdekaan, pahlawan dan suku, menyanyikan lagu-lagu Indonesia serta menceritakan poster penggunaan gawai yang sehat dan aman. Peran literasi digital diharapkan dapat mendorong rasa cinta tanah air dan identitas kebangsaan bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Penang, Malaysia
STRATEGI PARTAI DALAM KEMENANGAN CALEG PEREMPUAN (STUDI PADA PARTAI PKS, PDI PERJUANGAN DAN GOLKAR) DI TANJUNGPINANG TIMUR TAHUN 2024
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji strategi partai politik dalam memenangkan calon legislatif perempuan pada Pemilihan Umum 2024 di Kecamatan Tanjungpinang Timur. Fokus penelitian diarahkan pada tiga partai politik besar, yakni Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), dan Partai Golongan Karya (Golkar). Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, serta dokumentasi terhadap pengurus partai dan masyarakat pemilih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan perempuan dalam ranah politik merupakan hasil perpaduan antara kebijakan afirmatif yang mewajibkan keterwakilan perempuan sebesar 30% dan strategi partai dalam membina serta mendukung kader perempuan. PDI-P menonjolkan pemberdayaan melalui organisasi perempuan internal, PKS memperkuat kapasitas kader lewat lembaga BPKK, sedangkan Golkar menerapkan sistem rekrutmen terbuka dan memberikan dukungan struktural melalui organisasi sayap seperti KPPG dan Al-Hidayah. Meskipun pendekatan yang dilakukan masing-masing partai berbeda, ketiganya memiliki tujuan serupa, yaitu meningkatkan kepercayaan publik terhadap caleg perempuan. Dari perspektif feminisme, partisipasi perempuan dalam politik tidak hanya mencerminkan upaya individu, tetapi juga merupakan bagian dari gerakan kolektif untuk memperjuangkan kesetaraan gender dan keadilan sosial di tengah dominasi budaya patriarki. Secara keseluruhan, penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan caleg perempuan tidak hanya ditentukan oleh strategi partai, tetapi juga oleh kemampuan mereka menembus batas-batas sosial dan membangun kepercayaan masyarakat
Policy Implementation in Resource-Scarce Political Environments: Applying Peter S. Cleaves’ Framework to Indonesia’s National Health Insurance (JKN)
The National Health Insurance (JKN) program represents Indonesia’s core strategy toward achieving Universal Health Coverage (UHC), yet its implementation continues to face persistent structural, financial, and political challenges. This study aims to analyze the effectiveness of JKN implementation using Peter S. Cleaves’ framework, which emphasizes four interrelated dimensions scarcity, apathy, political power, and policy problematique to explain how limited resources, weak public participation, and political dynamics shape policy outcomes. Employing a qualitative descriptive approach through a literature review method, this research synthesizes findings from policy documents, academic studies, and institutional reports relevant to JKN implementation. The results reveal that scarcity is reflected in uneven healthcare infrastructure and financial deficits, apathy arises from low public engagement and bureaucratic rigidity, and political power influences decision-making processes that prioritize short-term populism over long-term sustainability. The study also identifies policy problematiques in the form of complex administrative systems and coordination inefficiencies between healthcare levels. These interrelated factors create implementation gaps that limit the achievement of equitable and effective health services. By situating these findings within Cleaves’ theoretical model, the study contributes to refining the understanding of policy implementation in developing contexts, emphasizing that technological innovation and participatory communication can mitigate structural and political constraints. The research concludes that enhancing institutional capacity, fostering citizen participation, and promoting digital inclusivity are key strategies for improving equity, responsiveness, and sustainability in Indonesia’s national health insurance system
Data and Technology Based Bureaucratic Governance Innovations: A Model for Strengthening Institutional Quality in Public Sector Reform in Indonesia
This study aims to examine the role of data-driven governance innovation in improving institutional quality in the Indonesian public sector. Specifically, the research analyzes the direct and indirect effects of technology, organizational capacity, and regulatory frameworks on institutional quality, with data-driven governance innovation positioned as a mediating variable. The study responds to the growing demand for evidence-based public administration amid digital bureaucracy reform and the implementation of e-government initiatives in Indonesia. The research employs a mixed-methods approach with a sequential explanatory design. Quantitative data were collected through a structured survey of civil servants across central and local government institutions that have implemented digital governance systems. The data were analyzed using Partial Least Squares–Structural Equation Modeling (PLS-SEM) to test measurement validity, reliability, and structural relationships among variables. This quantitative phase was complemented by qualitative data obtained from in-depth interviews with key informants involved in digital governance, which were analyzed thematically to provide contextual explanations of the statistical findings. The results indicate that data-driven governance innovation has a positive and significant effect on institutional quality. Technology emerges as the most influential factor, exerting both direct and indirect effects through governance innovation. Organizational capacity shows a moderate but significant influence, while regulatory factors display a weak and inconsistent effect. These findings suggest that strengthening technological infrastructure and organizational capabilities is essential for enhancing institutional quality through data-driven governance in the public sector
Pelatihan Pembuatan Multimedia Interaktif Berbasis Canva bagi Guru Matematika di SMA Negeri 1 Batang Angkola
Program pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi guru Matematika SMA Negeri 1 Batang Angkola dalam merancang dan membuat multimedia interaktif berbasis Canva sebagai upaya mendukung pembelajaran yang lebih menarik dan komunikatif. Kegiatan ini dilaksanakan dengan metode partisipatif yang melibatkan guru secara aktif melalui observasi awal, wawancara, pelatihan intensif, pendampingan individual, serta evaluasi hasil. Pelatihan berfokus pada pemanfaatan Canva untuk mengembangkan media pembelajaran pada materi barisan dan deret aritmatika. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam kemampuan guru memvisualisasikan konsep matematika secara lebih jelas melalui animasi, grafik, dan elemen interaktif. Guru yang sebelumnya terbatas pada media statis kini mampu menghasilkan produk multimedia yang sesuai dengan prinsip desain instruksional modern seperti hierarki visual dan pengurangan beban kognitif. Pendampingan individual terbukti membantu percepatan penguasaan fitur Canva, terutama bagi guru yang memiliki kemampuan teknologi dasar. Selain itu, pelatihan ini juga meningkatkan kompetensi TPACK guru, ditandai dengan kemampuan mereka mengintegrasikan aspek teknologi, pedagogi, dan konten matematika secara efektif. Temuan ini menegaskan bahwa Canva merupakan platform yang praktis dan relevan untuk mendukung pembelajaran matematika di sekolah menengah
Why Do People Adopt Mobile Passports? An Extension of Technology Acceptance Model
The increasing demand for efficient public services in the immigration sector has driven the Directorate General of Immigration of Indonesia to innovate through the Mobile Passport (M-Passport) application. This digital platform enables the public to apply for new passports and renew expired ones online, aligning with national e-government policies to enhance service quality and operational efficiency. This study aims to examine factors influencing the adoption of M-Passport using an extended Technology Acceptance Model (TAM) by incorporating the variable of individual attractiveness. Specifically, it investigates the effects of individual attractiveness, perceived usefulness, and perceived ease of use on attitude, as well as their indirect influence on behavioral intention. A quantitative approach was applied, utilizing Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) on data from 400 respondents who accessed M-Passport services at the Class I TPI Immigration Office in Padang. Non-probability convenience sampling was employed, and data were analyzed for validity, reliability, and hypothesis testing. Results reveal that three of six hypotheses were supported: individual attractiveness positively and significantly affects perceived usefulness; perceived ease of use positively and significantly affects perceived usefulness; and attitude positively and significantly affects behavioral intention. Conversely, individual attractiveness, perceived usefulness, and perceived ease of use showed no significant direct effects on attitude. The findings underscore the importance of enhancing the application’s visual appeal and ease of use to improve perceived usefulness and ultimately drive adoption. This research contributes both theoretically, by extending TAM in the context of public service innovation, and practically, by offering recommendations to immigration authorities for improving M-Passport uptake
PENGEMBANGAN KEWIRAUSAHAAN BERBASIS MEDIA SOSIAL DALAM MENINGKATKAN USAHA KECIL MENENGAH PADA MASYARAKAT DESA PENGUDANG
Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan minat kewirausahaan berbasis media sosial bagi para pelaku bisnis usaha kecil dan menengah pada masyarakat Desa Pengudang. Pengabdian ini dianalisis berdasarkan tiga komponen. Hasil analisis komponen pertama sebesar 46% masyarakat dapat meningkatkan pemahaman kewirausahaan berbasis media sosial. Kedua, sebesar 60% masyarakat dapat memanfaatkan media sosial untuk mengembangkan kewirausahaan, dan yang terakhir mencapai 40% masyarakat yang memiliki kemampuan menggunakan media sosial untuk pengembangan usaha. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini dapat mendorong masyarakat pesisir untuk memanfaatkan media sosial dalam mengembangkan kewirausahaan, walapun persentasenya masih dibawah 50%. Melalui pengabdian masyarakat ini, dapat mendorong minat kewirausahaan berbasis media sosial dalam meningkatkan usaha kecil dan menengah pada masyarakat desa pengudang. Namun masih perlu melakukan pendampingan berkelanjutan agar keberhasilan program ini terus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, memperkuat daya saing, serta menciptakan peluang usaha baru yang lebih inovatif dan berkelanjutan
Integrating Mobile Assisted Language Learning (MALL) in English Courses for Vocational Students at Politeknik Negeri Bengkalis: Insights into Benefits and Barriers
This study explores vocational students’ perceptions of Mobile Assisted Language Learning (MALL) in English courses using a mixed-methods design, with data collected from questionnaires completed by 48 students and semi-structured interviews with 12 students and 3 lecturers. The quantitative results indicated favorable attitudes toward the use of mobile technologies, with perceived usefulness achieving the highest mean score (M = 4.21, SD = 0.54), as 85% of respondents agreed that MALL made English lessons more practical and relevant to professional contexts. Motivation was also positively rated (M = 4.05, SD = 0.61), with 78% acknowledging that mobile applications increased their engagement and interest, while learning outcomes (M = 4.08, SD = 0.59) were seen as beneficial in enhancing vocabulary, pronunciation, and communication skills. Accessibility received moderately favorable ratings (M = 3.92, SD = 0.73), reflecting both the advantage of flexible learning and challenges related to unstable internet connections and limited device storage. Qualitative findings reinforced these insights, revealing five central themes: increased engagement and learner autonomy fostered by interactive features, development of communication skills through authentic workplace-like practices, technological limitations such as connectivity issues and unequal device access, differences in digital literacy that highlighted the need for training, and the importance of institutional and pedagogical support to ensure sustainability. Overall, the study concludes that MALL is perceived as an effective and relevant approach to English learning in vocational contexts, as it promotes autonomy, motivation, and skill development. However, for MALL to be fully effective, it is essential to address technological barriers, strengthen students’ digital competence, and provide continuous institutional and pedagogical support to integrate it as an essential component of vocational English education
Discontinuity in Prior English Learning and Its Impact on Seventh Graders’ Motivation
This study examines how discontinuity in prior English learning, rooted in the Kurikulum Merdeka policy, affects the motivation and engagement of seventh-grade students in East Bintan, Indonesia. Under Kurikulum Merdeka, English is not compulsory at the elementary level, leading to uneven preparedness when students transition to junior high school. A qualitative case study was conducted through classroom observations, questionnaires, and interviews with students and English teachers. Findings reveal that students with prior exposure to English demonstrated greater confidence and persistence, while those without such experience reported anxiety, low self-efficacy, and reluctance to engage. Teachers also struggled to balance instruction due to the wide gap in readiness. The results indicate that discontinuity not only hampers academic performance but also undermines emotional and behavioral motivation. The study concludes that bridging strategies, such as differentiated instruction, remedial support, and teacher professional development, are essential to mitigate the motivational gaps created by curriculum discontinuity
Gender Dalam Pengetahuan Orang Tua Terhadap Stunting: Studi Di Kelurahan Teluk Air Kabupaten Karimun
Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak serius terhadap pertumbuhan anak dan masih menjadi isu kesehatan masyarakat di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengetahuan orang tua tentang stunting (Studi tentang Relasi Gender dalam Keluarga) di Kelurahan Teluk Air, Kabupaten Karimun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan jumlah informan sebanyak 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan orang tua mengenai stunting bervariasi. Orang tua yang memiliki pemahaman cukup tentang gizi dan pertumbuhan anak cenderung lebih aktif dalam melakukan pencegahan stunting. Sementara itu, pada keluarga yang masih memusatkan tanggung jawab pengasuhan hanya pada ibu, penanganan stunting cenderung kurang optimal. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih terbatas, padahal partisipasi kedua orang tua sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak. Relasi gender yang seimbang, di mana ayah dan ibu berbagi tanggung jawab dalam pengasuhan dan pengambilan keputusan, terbukti lebih efektif dalam upaya pencegahan stunting. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya peran bersama dalam keluarga menjadi kunci untuk menurunkan angka stunting. Sejalan dengan teori konsep Gender, penelitian ini berupaya mengkaji pengetahuan orang tua mengenai stunting dengan menggunakan perspektif Relasi Gender.Stunting merupakan masalah gizi kronis yang berdampak serius terhadap pertumbuhan anak dan masih menjadi isu kesehatan masyarakat di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengetahuan orang tua tentang stunting (Studi tentang Relasi Gender dalam Keluarga) di Kelurahan Teluk Air, Kabupaten Karimun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa observasi, wawancara, dan dokumentasi, dengan jumlah informan sebanyak 10 orang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan orang tua mengenai stunting bervariasi. Orang tua yang memiliki pemahaman cukup tentang gizi dan pertumbuhan anak cenderung lebih aktif dalam melakukan pencegahan stunting. Sementara itu, pada keluarga yang masih memusatkan tanggung jawab pengasuhan hanya pada ibu, penanganan stunting cenderung kurang optimal. Penelitian ini juga menemukan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan masih terbatas, padahal partisipasi kedua orang tua sangat penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi anak. Relasi gender yang seimbang, di mana ayah dan ibu berbagi tanggung jawab dalam pengasuhan dan pengambilan keputusan, terbukti lebih efektif dalam upaya pencegahan stunting. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya peran bersama dalam keluarga menjadi kunci untuk menurunkan angka stunting. Sejalan dengan teori konsep Gender, penelitian ini berupaya mengkaji pengetahuan orang tua mengenai stunting dengan menggunakan perspektif Relasi Gender