eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    HUBUNGAN CATCH PER UNIT EFFORT IKAN PELAGIS KECIL DENGAN PARAMETER LINGKUNGAN DI JMF TRIANGLE

    No full text
    The production of capture fisheries in a water area can increase or decrease, this is known from the value of Catch per Unit Effort (CPUE). This study aims to calculate the CPUE value of small pelagic fish in the JMF triangle and explain correlation of CPUE with environmental factors (sea surface temperature and chlorophyll-a). The data analyzed were Aqua-MODIS image, SNPP-VIIRS image, and capture data. The analysis used simple correlation and regression tests to determine the relationship of CPUE to sea surface temperature (SST) and chlorophyll-a, further strengthened by overlay techniques for its descriptive. Information is presented in the form of spatial and temporal thematic maps and infographics. The results showed a trend of increasing the total CPUE of small pelagic fish production for the 2012-2015 period. The highest seasonal CPUE occurs in the Western Season period, and the lowest in the Transitional Season II. The highest CPUE value occurred in January 2013 with a value of 0.54 tons/ship, while the lowest CPUE was in September 2015 with a value of 0.052 tons/ship. Layang, Banyar and Bentong species responded negatively to SST, especially in the Eastern Season, while Lemuru showed no direct relationship to SST. Lemuru's response to chlorophyll-a showed a positive value, where it was seen that an increase in chlorophyll-a concentration was followed by an increase in CPUE, while Layang, Banyar and Bentong showed that an increase in the value of chlorophyll-a concentration did not directly affect the increase in the CPUE value of the three species

    QUALITATIVE ANALYSIS OF MEASURED FISH CAPTURE POLICY IN INDONESIA’S FISHERIES MANAGEMENT

    Full text link
    Abstrac

    THE EFFECTS OF FERMENTED BANANA STEM (Musa paradisiaca) IN REDUCING ECTOPARASITE INFESTATION IN FARMED RED TILAPIA (Oreochromis niloticus)

    Full text link
    Tilapia is a widely farmed freshwater fish due to its fast growth and disease resistance. However, ectoparasite infestations hinder its health and growth. Antibiotics are commonly used to treat these parasites, but their negative effects have led to the search for alternatives, such as banana (Musa paradisiaca) stem. This study evaluated the effects of different doses of fermented banana stem on ectoparasite mortality in red tilapia (Oreochromis niloticus). The experiment included treatments with fermented banana stem at concentrations of 5 g.L⁻¹, 10 g.L⁻¹, and 15 g.L⁻¹, along with a control group. The fish samples were obtained from a goverment owned farming pond facility and a fish market with the average sizes of 10.2 ± 3.8 cm and 7.5 ± 1.3 cm, respectively. Farmed tilapia from the market pond had more ectoparasites compared to the fish collected from the government farming facility. The identified parasites were: Trichodina sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., Ichtyophtirius multifilis, and Oodinium sp. The result showed that the fermented banana stem had different effective time in eradicating different ectoparasites ranged from 480-840 s for Trichodina sp., followed by 1380-1920 s for Dactylogyrus sp., and 2040-2640 s for Gyrodactylus sp. At concentrations of 10–15 g.L⁻¹, it significantly accelerated parasite mortality and increased tilapia survival rates by up to 80%. This study concludes that bioactive compounds in fermented banana stem effectively treat ectoparasites disease attacks and improve fish health.Ikan nila merupakan salah satu ikan air tawar yang banyak dibudidayakan karena pertumbuhannya yang cepat dan ketahanannya terhadap penyakit. Namun, infestasi ektoparasit dapat menghambat kesehatan dan pertumbuhannya. Antibiotik umumnya digunakan untuk mengobati jenis parasit ini, tetapi dampak negatifnya mendorong pencarian alternatif, seperti batang pisang (Musa paradisiaca). Penelitian ini mengevaluasi pengaruh berbagai dosis fermentasi batang pisang terhadap mortalitas ektoparasit pada nila merah (Oreochromis niloticus). Percobaan melibatkan perlakuan dengan fermentasi batang pisang pada konsentrasi 5 g.L⁻¹, 10 g.L⁻¹, dan 15 g.L⁻¹, serta kelompok kontrol. Sampel ikan diperoleh dari kolam budidaya milik pemerintah dan pasar ikan, dengan ukuran rata-rata masing-masing 10,2 ± 3,8 cm dan 7,5 ± 1,3 cm. Ikan dari pasar memiliki lebih banyak ektoparasit dibandingkan dengan ikan dari fasilitas pemerintah. Parasit yang teridentifikasi meliputi Trichodina sp., Dactylogyrus sp., Gyrodactylus sp., Ichthyophthirius multifiliis, dan Oodinium sp.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fermentasi batang pisang memiliki efektivitas waktu berbeda dalam membasmi ektoparasit, berkisar antara 480–840 detik untuk Trichodina sp., 1380–1920 detik untuk Dactylogyrus sp., dan 2040–2640 detik untuk Gyrodactylus sp.. Pada konsentrasi 10–15 g.L⁻¹, fermentasi batang pisang secara signifikan mempercepat kematian parasit dan meningkatkan kelangsungan hidup ikan hingga 80%. Penelitian ini menyimpulkan bahwa senyawa bioaktif dalam batang pisang terfermentasi efektif dalam mengobati serangan penyakit akibat ektoparasit dan meningkatkan kesehatan ikan nila

    Analisis Kelayakan Usaha Pembuatan Kerupuk Tulang Ikan Lele (Clarias sp.) di UMKM Daniel Home Industri, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur

    Full text link
    Inovasi olehan lele dapat dibentuk usaha yang berkonsep zero waste process yang dijadikan kerupuk tulang ikan lele. Kelayakan usaha merupukan suatu kegiatan untuk menilai sejauh mana manfaat (benefit) yang dapat diperoleh dalam melaksanakan usaha atau proyek. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui manajemen usaha pengolahan produk kerupuk tulang ikan lele di UMKM Daniel Home Industri yang terdiri dari tahapan proses pengolahan, serta analisa usaha produk kerupuk tulang ikan lele. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Metode analisis data yang digunakan adalah analisa finansial dan analisa kelayakan usaha. Hasil observasi menunjukkan tahapan produksi kerupuk tulang ikan lele meliputi penerimaan bahan baku, pencucian, perebusan, penghalusan, pencampuran adonan, pencetakan, pengukusan, pemotongan, penjemuran, penggorengan, pengemasan, penyimpanan, dan penataan display. Analisa kelayakan usaha diperoleh BEP unit dicapai jika memproduksi 100 pcs produk/bulan, BEP rupiah tercapai jika hasil penjualan mencapai Rp. 1.704.849,94 per bulan, dan nilai R/C ratio sebesar 2,02 yang berarti produk kerupuk tulang ikan lele layak untuk dikembangkan

    Pengolahan Ikan Tuna (Thunnus sp.) Steak Beku di PT. SSS, Penjaringan, Jakarta Utara

    Full text link
    Indonesia sebagai negara penghasil tuna terbesar memiliki potensi dalam pasar tuna internasional. Salah satu produk yang prospektif dikembangkan dari tuna adalah tuna steak beku. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui mutu, rantai dingin dan rendemen tuna steak beku. Metode penelitian dilakukan dengan observasi dan ikut langsung dalam proses pengolahan. Analisis data bersifat deskriptif. Pengujian mutu  bahan baku dan produk tuna steak beku meliputi pengujian organoleptik, mikrobiologi dan kimia (histamin). Hasil uji organoleptik bahan baku mendapatkan nilai 8,65, sedangkan organoleptik produk tuna steak beku mendapatkan nilai 8,71. Hasil uji mikrobiologi pada tuna steak beku, ALT bakteri tidak melebihi dari 5x103 kol/gr, Coliform <3, Salmonella dan Vibrio cholerae Negatif serta Vibrio parahaemolyticus Negatif. Hasil pengujian histamin tidak melebihi standar yang telah ditetapkan perusahaan yakni maksimal 50ppm. Penerapan suhu telah dilakukan dengan baik terhadap ikan pada tahap Recieving sebesar -7,0⁰C, Weighing I -7,4⁰C, Raw Material Storaging -19,7⁰C, Weighing II -6,7⁰C, Whasing -6,6⁰C, Loinning -6,2⁰C, Boning & Gutting -6,7⁰C, Weighing III -6,6⁰C, Trimming & Skinning -6,4⁰C, Weighing IV -7,1⁰C, Cutting Steak -6,2⁰C, Weighing V -7,8⁰C, Glazing -3,3⁰C, Wrapping -6,3⁰C, Final Check -6,1⁰C, Weighing VI -6,1⁰C, Packing & Labeling -6,8⁰C, Metal Detecting -6,2⁰C, Storaging -21,5⁰Cdan Stuffing sebesar -6,5⁰C. Rendemen dari bahan baku menjadi loin kotor sebesar 67,90%, dari loin kotor menjadi loin bersih sebesar 67,68%, dari loin bersih menjadi steak sebesar 62,72% dan penambahan glazing sebesar 10%. Secara keseluruhan produk tuna steak beku telah memenuhi standar SNI Tuna Steak Beku 8271:2016 untuk standar ekspor

    Kajian Legal Size Cakalang (Katsuwonus pelamis) yang Tertangkap Dengan Purse Seine di Perairan Mentawai

    Full text link
    Tiga komoditas perikanan yang memikiki potensi tinggi di WPPNRI 572 adalah pelagis kecil, pelagis besar, dan demersal. Nilai pemanfaatan 0,50 dengan total hasil tangkapan sebesar 527.029 ton/tahun, ikan palagis memiliki jumlah tangkapan 276.755 ton/tahun dengan nilai pemanfaatan 0,95 dan ikan demersal memiliki jumlah tangkapan 362.002 ton/tahun dengan nilai pemanfaatan sebesar 0,57. Besarnya hasil tangkapan di WPPNRI 572 melebihi nilai pemanfaatan yang ditetapkan. Status dari nilai pemanfaatan ikan di WPPNRI 572 adalah fully-exploited. Potensi yang besar ini perlu dilakukan analisis atau studi terkait legal size pada hasil tangkapan yang dilakukan oleh pelaku utama dengan kapal jenis purse seine. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui komposisi hasil tangkapan, distribusi panjang dan bobot dan hubungan panjang dan berat ikan cakalang. Penelitian dilaksanakan di perairan Mentawai menggunakan KM. Sun Jaya 88. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian diperoleh hasil tangkapan sebesar 15.226 kg yang terdiri dari ikan cakalang 12.511 kg, ikan madidihang 1.465 kg, ikan tongkol 233 kg, dan ikan layang 57 kg. Persentase hasil tangkapan utama 81% dan hasil tangkapan sampingan 19%. Ukuran panjang cakalang yang tertangkap berkisar 37-53 cm. Selain itu, ikan cakalang yang memiliki kelayakan ukuran atau legal size 43-53 cm dan illegal size <37-42 cm. Selain itu, hubungan panjang dan berat ikan cakalang adalah allometry positive dengan nilai b > 3 dan R = 81%. Penentuan legal size cakalang diperairan Mentawai dapat digunakan untuk menjaga keseimbangan ekosistem laut, memastikan keberlanjutan perikanan, dan melindungi populasi ikan cakalang dari eksploitasi berlebihan

    Penerapan GMP Dan SSOP Pada Pengolahan Tuna Albacore (thunnus alalunga) Masak Beku Di PT LSS, Banyuwangi

    Full text link
    Ikan tuna adalah salah satu hasil perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi, dan banyak dikomsumsi lokal maupun sebagai komoditas ekspor. Ikan tuna memiliki faktor penentu sebagai primadona ekspor dalam perdagangan internasional. Penelitian ini dilakukan untuk mengamati Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Procedures (SSOP) pada proses pengolahan tuna loin masak beku. Metode kerja dengan observasi mengikuti langsung proses pengolahan mulai dari penerimaan tuna beku, sampai distribusi produk tuna loin masak beku. Pengujian mutu dilakukan pada mutu organoleptik, histamin, mikrobiologi, dan suhu, Pengolahan data dengan metode analisa kuantitatif dan kualitatif. Hasil pengujian organoleptik tuna beku adalah 8.0 dan tuna loin masak beku adalah 8.0. Nilai ALT tuna tuna loin masak beku tertinggi 6,5 x 10⁴ ALT kol/g, memenuhi standar perusahaan dan SNI. Hasil uji histamin pada tuna beku dan tuna loin masak beku tertinggi 14,3 ppm dan 16,4 ppm, masih dalam kisaran batas aman yang dipersyaratkan oleh Uni Eropa. Penerapan suhu, GMP dan SSOP telah diterapkan dengan baik oleh perusahaan sesuai dengan SNI 7968 : 2014 tuna loin masak bek

    DINAMIKA MUSIM PENANGKAPAN IKAN LAYUR YANG DIDARATKAN DI PPI CIKIDANG SERTA HUBUNGANNYA DENGAN KONDISI OSEANOGRAFI

    Full text link
    Penelitian ini menganalisis sebaran suhu permukaan laut, konsentrasi klorofil-a, dan produksi ikan layur di PPI Cikidang dari tahun 2017 hingga 2021. Data menunjukkan bahwa suhu permukaan laut berkisar antara 27.89°C hingga 28.95°C, dengan variasi musiman yang mencolok, dan konsentrasi klorofil-a berfluktuasi dari 0.065 mg/m³ hingga 3.565 mg/m³. Produksi ikan layur tertinggi terjadi pada bulan Agustus dan terendah pada bulan Mei atau Juli setiap tahun. Analisis korelasi mengungkapkan bahwa suhu permukaan laut memiliki hubungan negatif signifikan dengan produksi ikan layur (r = -0.344, p-value < 0.05), sementara konsentrasi klorofil-a tidak menunjukkan pengaruh signifikan (r = 0.240, p-value > 0.05). Penangkapan ikan layur paling intensif terjadi dari Juli hingga Desember, dengan nilai Indeks Musim Penangkapan (IMP) lebih dari 100% pada periode tersebut. Dampak pandemi COVID-19 terlihat dari penurunan produksi ikan layur yang signifikan pada tahun 2020 dan 2021, akibat penurunan permintaan dan gangguan aktivitas penangkapan. Temuan ini menegaskan bahwa suhu permukaan laut berperan penting dalam produksi ikan layur, sedangkan konsentrasi klorofil-a dan faktor eksternal seperti pandemi memiliki pengaruh yang lebih kecil.KATA KUNCI: COVID-19, klorofil-a, musim penangkapan ikan, produksi ikan layur, suhu permukaan laut

    Strategi Pengembangan Usaha Perikanan Tangkap di Pesisir Pantai Sadeng, Kecamatan Girisubo, Kabupaten Gunungkidul

    Full text link
    Wilayah Pesisir Pantai Sadeng memiliki potensi perikanan tangkap yang besar, didukung dengan adanya Pelabuhan Perikanan Pantai (PPP) Sadeng. Akan tetapi di sisi lain, usaha perikanan tangkap menghadapi berbagai permasalahan seperti teknologi penangkapan skala kecil, SDM dan kelembagaan yang lemah, serta ketergantungan permodalan. Optimalisasi usaha perikanan tangkap perlu dilakukan dengan strategi pengembangan yang tepat. Penelitian ini bertujuan merumuskan prioritas strategi pengembangan dengan memperhatikan kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari usaha perikanan tangkap di perairan Sadeng. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara mendalam dan studi literatur dengan 25 key informan yang terdiri dari beberapa stakeholder seperti nelayan, petugas pelabuhan, penyuluh, dan dinas. Analisis data dilakukan dengan menggunakan matriks IFE, matriks EFE, matriks IE, matriks SWOT dan QSPM. Posisi usaha perikanan tangkap nelayan Sadeng berada pada sel II matriks IE yang berarti memerlukan strategi pertumbuhan. Hasil prioritas strategi pengembangan usaha perikanan tangkap di pesisir Pantai Sadeng, Girisubo, Gunungkidul adalah strategi penyediaan sarana produktif di kawasan pelabuhan. Keterjangkauan sumber produktif dalam pengembangan sektor perikanan dapat mewujudkan kegiatan usaha penangkapan ikan yang lebih efisien guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Title: Business Development Strategy of Capture Fishery in Sadeng Coast, Girisubo Subdisrict, Gunungkidul District The coastal area of Sadeng Beach has high capture fisheries potential, supported by the existence of the PPP Sadeng. On the other hand, the capture fisheries business faces various problems such as small-scale fishing technology, weak human resources and institutions, and capital dependence. Optimization of the capture fisheries business needs to be done with the right development strategy. This study aims to formulate priority development strategies by taking into account the strengths, weaknesses, opportunities and threats of capture fisheries in Sadeng waters. This research used descriptive qualitative method. The study was based on empirical analysis including questionnaire and interview surveying of 25 key informants consisting of several stakeholders such as fishermen, port officers, extension workers and government. Data analysis was performed using the IFE matrix, EFE matrix, IE matrix, SWOT matrix and QSPM. The position of the Sadeng fishermen’s capture fisheries business is in cell II of the IE matrix, which means it requires a growth strategy. The priority result of the capture fisheries business development strategy on the coast of Sadeng Beach, Girisubo, Gunungkidul is the strategy of providing productive facilities in the port area. Affordability of productive sources can create more efficient fishing business activities to improve the welfare of coastal communities

    Urgensi Implementasi Konsep Ekonomi Biru dalam Tata Kelola Sektor Kelautan Indonesia

    Full text link
    Sebagai sebuah negara kepulauan, maka pembangunan bidang kelautan harus dijadikan arus utama dalam kebijakan pembangunan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan alasan urgensi penerapan prinsip ekonomi biru dalam pengaturan tata kelola kelautan Indonesia. Hal ini menjadi penting dikarenakan kebijakan Pemerintah hendaknya selalu berorientasi kepada pembangunan kelautan yang berkelanjutan. Penulisan artikel ini menggunakan metode penelitian kualitatif untuk mengukur seberapa besar upaya yang telah dilakukan para pemangku kepentingan sehubungan dengan pengelolaan kelautan yang berbasis ekonomi biru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekonomi kelautan yang berbasis ekonomi biru dapat menjadi andalan dalam peningkatan pendapatan Indonesia di masa yang akan depan sehingga dapat mewujudkan diri sebagai Poros Maritim Dunia. Oleh karena itu, Pemerintah Indonesia memiliki kesempatan dan kewajiban untuk menata ulang tata kelola kelautan nasional yang selaras dengan alam. Temuan dari hasil penelitian ini berupa strategi langkah kebijakan yang dapat dijalankan, yaitu dengan cara menselaraskan dan mengutuhkan tatanan hukum laut; menguatkan dan mensinergikan kelembagaan dan kerjasama kelautan; mengutuhkan dan mengintegrasikan data dan informasi laut; dan menumbuh kembangkan riset dan teknologi kelautan. Title: The Urgency of Implementing the Blue Economy Concept in Indonesian Marine Governance As an archipelagic state, the development of the marine sector must be prioritized in its development policies in Indonesia.This study aims to elucidate the reasons for the urgency of implementing blue economy principles in the governance of Indonesia’s marine sector. This reason is crucial as government policies should always be oriented towards sustainable marine development. A This article employs qualitative research methods to assess the extent of stakeholders’ efforts in marine management based on the blue economy. The study findings demonstrate that a blue economy-based marine economy can serve as a cornerstone for increasing Indonesia’s future income, thus realizing its vision as the Global Maritime Fulcrum. Therefore, the Indonesian government has the opportunity and responsibility to restructure national marine governance in harmony with nature. The research findings present a strategy of policy steps that can be implemented, including harmonizing and strengthening the legal framework for the seas, strengthening and synergizing marine institutions and cooperation, strengthening and integrating marine data and information, and promoting marine research and technology

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇