eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK CAIR LIMBAH TAHU DAN AIR KELAPA TERHADAP PERTUMBUHAN Spirulina sp.
Kepadatan Spirulina sp. dapat dipengaruhi oleh faktor nutrisi dan lingkungan. Faktor nutrien memiliki peranan penting dalam proses fotosintesis. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis pupuk organik cair (POC) limbah tahu dan air kelapa yang terbaik terhadap kepadatan Spirulina sp. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 20 Mei 2022 sampai 28 Juni 2022, di Laboratorium Mutu Lingkungan Budidaya Fakultas Perikanan dan Kelautan, Universitas Riau. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan satu factor, yaitu dosis air kelapa terdiri atas 4 perlakuan yaitu : P0: 1 g L-1 POC limbah tahu tanpa air kelapa, P1: 1 g L-1 POC limbah tahu dan 0,25% air kelapa, P2: 1 g L-1 POC limbah tahu dan 0,5% air kelapa, P3: 1 g L-1 POC limbah tahu dan 0,75% air kelapa. Untuk mengurangi tingkat keraguan maka diperlukan ulangan sebanyak 3 kali. Pemeliharaan Spirulina sp. dilakukan selama 25 hari dengan parameter yang diamati yaitu kepadatan Spirulina sp., laju pertumbuhan spesifik, suhu, pH, DO, salinitas, nitrat dan fosfat. Dimana Spirulina sp. didapatkan dari petani Spirulina sp. di Jepara, Jawa Tengah. Bibit yang digunakan sebanyak 66,4 mL dengan kepadatan sebanyak 5.000 ind.mL-1 dimasukan ke dalam wadah dengan kapasitas 2 L. Hasil penelitian menunjukan bahwa ada pengaruh dosis POC limbah tahu dan air kelapa yang berbeda terhadap pertumbuhan Spirulina sp., dimana dosis terbaik dengan kepadatan tertinggi berturut-turut dari P3 sebesar 270,6x104±835,4a ind.L-1, kemudian P2 yaitu 123,0x104±72857,9b ind.L-1, P1 sebesar 51,7x104±6474,0c ind.L-1 , dan P0 12,7x104±1797,2d ind.L-1, dengan laju pertumbuhan spesifik tertinggi mulai dari P3 yaitu 0,8171±0,01a ind.mL-1/hari, P2 0,7315±0,00b ind.mL-1/hari, P1 0,5583±0,02c ind.mL-1/hari, dan P0 0,4122±0,05d ind.mL-1/hari, dengan kisaran kualitas air optimum seperti suhu 27-32 ºC, pH 7,1-8,8, DO 4,2-8,4 mg.L-1, salinitas 25-30 ppt, nitrat 0,340-0,855 mg.L-1 dan fosfat 0,225-0,384 mg.L-1.The density of Spirulina sp. can be influenced by nutritional and environmental factors. Nutrient factors have an important role in the process of photosynthesis. This study aims to obtain the best dose of liquid organic fertilizer (POC) from tofu waste and coconut water on the density of Spirulina sp. This research was conducted from 20 May 2022 to 28 June 2022, at the Aquaculture Environmental Quality Laboratory, Faculty of Fisheries and Marine Sciences, University of Riau. The method used is the experimental method Completely Randomized Design (CRD) with one factor, namely the dose of coconut water consisting of 4 treatments, namely: P0: 1 g L-1 POC of tofu waste without coconut water, P1: 1 g L-1 POC of tofu waste and 0.25% coconut water, P2: 1 g L-1 POC tofu waste and 0.5% coconut water, P3: 1 g L-1 POC tofu waste and 0.75% coconut water. To reduce the level of doubt, it is necessary to repeat 3 times. Spirulina sp. maintenance was carried out for 25 days with observed parameters namely Spirulina sp. density, specific growth rate, temperature, pH, DO, salinity, nitrate and phosphate. Where is Spirulina sp. obtained from Spirulina farmers in Jepara, West Java. 66,4 mL of seeds used with a density of 5,000 ind.mL-1 were put into a container with a capacity of 2 liters. The results showed that there was an effect of different POC doses of tofu waste and coconut water on the growth of Spirulina sp., where the best dose with the hihest density was P3 of 270.6x104±835.4a ind.L-1, then P2 of 123.0x104±72857.9b ind.L-1, P1 of 51.7x104±6474.0c ind.L-1, and P0 of 12.7x104±1797.2d ind.L-1, with a rate of the highest specific growth starting from P3 namely 0.8171±0.01a ind.mL-1/day, P2 0.7315±0.00b ind.mL-1/day, P1 0.5583±0.02c ind.mL-1/day, and P0 0.4122±0.05d ind.mL-1/day, with optimum water quality ranges such as temperature 27-32 ºC, pH 7.1-8.8, DO 4.2 -8.4 mg.L-1, salinity 25-30 ppt, nitrate 0.340-0.855 mg.L-1, and phosphate 0.225-0.384 mg.L-1
STATUS GENETIK IKAN LELE MUTIARA BERDASARKAN SEKUEN GEN Cytochrome C Oxidase Subunit I (COI)
Ikan lele Mutiara merupakan salah satu strain unggul hasil pemuliaan di Indonesia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari status genetik ikan lele Mutiara (Clarias sp.) dari variasi sekuen parsial gen COI dari mitokondria. Ikan uji yang digunakan berupa 15 ekor ikan lele Mutiara. DNA genom ikan lele Mutiara diekstraksi dari sirip ekor, kemudian fragmen DNA diamplifikasi dengan primer spesifik COI dan selanjutnya dilakukan sekuensing. Hasil sekuens yang diperoleh kemudian dianalisis estimasi substitusi nukleotida, pohon filogenik, estimasi jarak genetik, dan komposisi asam amino residu dengan membandingkan data hasil sekuens dari ikan lele C. macrocephalus, C. batrachus, C. fuscus. dan C. gariepinus yang tersedia di database GenBank. Hasil analisis pohon filogenetik menunjukkan bahwa ikan lele Mutiara terpisah dengan kelompok ikan lele yang lain. Parameter lainnya memperkuat analisis sebelumnya bahwa ikan lele Mutiara tidak hanya memiliki perbedaan genetis dengan spesies ikan lele lainnya, tetapi juga dengan jenis ikan lele Afrika (C. gariepinus).Mutiara catfish is one of the superior strains resulting from breeding program in Indonesia. This study aims to assess the genetic status of the Mutiara catfish (Clarias sp.) by looking at the diversity in the partial sequence of mitocondrial COI gene and to add genetic data of economically important freshwater fish in Indonesia. The sample fish used were a collection of 15 Mutiara catfish. Data analysis consisted of estimation of nucleotide substitution, phylogenetic tree, estimation of genetic distance, and amino acid composition by comparing secondary data from sequences of C. macrocephalus, C. batrachus, C. fuscus. and C. gariepinus wich was available at Genbank NCBI. The results of the phylogenetic tree analysis showed that Mutiara catfish were separated from other catfish groups. Other parameters also show that Mutiara catfish not only have genetic differences with other Clarias species, but also with C. gariepinus there are also genetic differences
STRATEGI PENGELOLAAN MEDIA SOSIAL PUSAT RISET PERIKANAN
Media sosial saat ini banyak digunakan oleh masyarakat. Demikian juga dengan instansi pemerintah yang saat ini telah mulai banyak memanfaatkan keberadaan media sosial untuk terhubung dan berinteraksi dengan masyarakat. Pusat Riset Perikanan sebagai salah satu instansi pemerintah telah memiliki dan menggunakan media sosial berupa Instagram, Twitter, dan Youtube. Agar pengelolaan media sosial di Pusat Riset Perikanan dapat berjalan dengan baik, diperlukan perencanaan dan tata kelola yang baik, keterampilan/pengetahuan khusus, serta sumber daya yang memadai. Metode yang digunakan dalam perencanaan pengelolaan media sosial Pusat Riset Perikanan adalah metode POST (People-Objectives-Strategy-Technology), yang terdiri dari empat tahapan penting dalam perencanaan pengelolaan media sosial, yaitu penentuan pengguna/khalayak (people) yang akan menjadi sasaran media sosial, penentuan tujuan (objectives) yang akan dicapai instansi, penentuan strategi (strategy) pelaksanaan media sosial, serta penentuan teknologi (technology) yang dibutuhkan. Berdasarkan penentuan pengguna/khalayak (people), maka target sasaran pengguna media sosial Pusat Riset Perikanan dapat dibagi ke dalam dua kelompok, yaitu internal dan eksternal. Tujuan (objectives) pengelolaan media sosial Pusat Riset Perikanan yaitu sebagai media untuk melakukan kampanye kehumasan KKP; sebagai media untuk menyampaikan/menginformasikan profil organisasi, kebijakan, kegiatan organisasi, dan hasil riset perikanan kepada masyarakat; sebagai media untuk memperoleh saran, masukan, gagasan, dan aspirasi dari masyarakat; serta menjamin terwujudnya penyelenggaraan keterbukaan informasi publik. Penentuan strategi pelaksanaan media sosial (strategy) Pusat Riset Perikanan dilakukan dengan menyusun tim pengelola, menyusun langkah-langkah pengelolaan, menjalin kolaborasi/kerja sama dengan pengelola media sosial lainnya, serta melakukan inovasi dan variasi terhadap konten media sosial. Sedangkan berdasarkan penentuan teknologi yang dibutuhkan (technology), untuk mengelola media sosial Pusat Riset Perikanan diperlukan teknologi berupa komputer meja, laptop, telepon pintar, jaringan listrik, jaringan internet, perangkat lunak desain grafis tidak berbayar, dan perangkat lunak analisis media sosial yang disediakan oleh media sosialSocial media is currently widely used by the people's. Currently, government agencies have begun to take advantage of the presence of social media to connect and interact with the public. Center of Fishery Research as a government agency already owns and uses social media in the form of Instagram, Twitter and Youtube. In order for the management of social media at Center of Fishery Research to run well, good planning and governance, special skills/knowledge, and adequate resources are needed. The method used in planning the social media management of Center of Fishery Research is the POST (People-Objectives-Strategy-Technology) method, which consists of four important stages in social media management planning, namely determining the users/audience (people) who will be targeted social media, determining objectives (objectives) to be achieved by agencies, determining strategies (strategy) for implementing social media, and determining the technology (technology) needed. Based on the determination of users/audiences (people), the target audience for social media in Center of Fishery Research can be divided into two groups, namely internal and external. The objectives (objectives) of social media management in Center of Fishery Research are as a medium for carrying out KKP public relations campaigns; as a medium for conveying/informing organizational profiles, policies, organizational activities, and fishery research results to the public; as a medium for obtaining suggestions, input, ideas, and aspirations from the public; as well as ensuring the implementation of public information disclosure. Center of Fishery Research social media implementation strategy is determined by assembling a management team, compiling management steps, establishing collaboration/cooperation with other social media managers, as well as innovating and varying social media content. Meanwhile, based on determining the required technology (technology), to manage social media in Center of Fishery Research requires technology in the form of desktop computers, laptops, smartphones, power grids, internet networks, free graphic design software, and free social media analysis software provided by social medi
Strategi Peningkatan Pendapatan Keluarga Nelayan Melalui Peran Perempuan: Studi Kasus pada Komunitas Nelayan Demak, Jawa Tengah
Peran perempuan dalam komunitas nelayan sangat signifikan, baik dalam aktivitas praproduksi, produksi, maupun pascaproduksi untuk meningkatkan pendapatan keluarga. Peran seperti itu telah dilakukan oleh perempuan di wilayah pesisir Kabupaten Demak, Jawa Tengah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan yang dihadapi perempuan di wilayah pesisir Kabupaten Demak dalam menjalankan usahanya di sektor kelautan dan perikanan dan memahami strategi yang dilakukan baik secara individu maupun kelompok. Lokasi penelitian dilakukan di tiga desa nelayan di Kabupaten Demak, yaitu Desa Morodemak, Purworejo, dan Margolinduk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif melalui fishcollabs sebagai alat bantu diagnosis partisipatif dengan pengumpulan data yang dilakukan melalui wawancara mendalam, focus group discussion (FGD), dan observasi lapangan. Penelitian menemukan bahwa ragam persoalan yang dihadapi perempuan di wilayah pesisir yaitu terkait dengan kondisi lingkungan dan stagnasi di bidang usaha perikanan. Stagnasi usaha yang dimaksud terkait dengan aspek pemasaran. Hal itu disebabkan oleh kurangnya kemampuan dalam menciptakan nilai tambah produk olahan, dan jaringan pemasaran yang dimiliki perempuan di wilayah tersebut, serta adanya permasalahan degradasi lingkungan permukiman. Ada beberapa opsi strategi yang penting untuk meningkatkan peran perempuan yaitu: (1) pelatihan peningkatan kapasitas usaha; (2) pelatihan pengemasan produk olahan dan jaringan pemasaran; dan (3) pelatihan pengelolaan bank sampah. Tittle: Strategies for Increasing Fisher’s Family Income Through the Role of Women: A Case Study in the Fishing Community of Demak, Central JavaThe role of women is very significant, in production and post-production in the fisheries sector, including the contribution of women in the coastal area of Demak Regency, Central Java. This paper aims to discuss the problems women face in coastal areas in running their businesses in the fisheries sector, as well as strategies to overcome these problems, individually and collectively. The study focuses on case studies of three fishing villages in Demak Regency: Morodemak Village, Purworejo Village and Margolinduk Village. This study uses a qualitative method through fish collabs as a participatory diagnostic tool, with data collection carried out through in-depth interviews, FGDs, and field observations. However, the research found various barriers women face in coastal areas, especially environmental conditions and stagnation in the fisheries business. The business stagnation is associated with the marketing aspect caused by the lack of added value for processed products and marketing networks owned by women, as well as the problem of environmental degradation in settlements. This article shows how training to increase business capacity, packaging of processed products and marketing networks, as well as waste bank management are essential strategic options for women
Nelayan Kecil di Perkotaan: Karakteristik Usaha dan Jaringan Sosial dalam Mengakses Pembiayaan di Marunda, Jakarta Utara
Jakarta merupakan kota yang memiliki berbagai fasilitas pembiayaan, namun masih dijumpai nelayan skala kecil di Marunda yang memiliki hambatan dalam mengaksesnya. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan karakteristik usaha nelayan kecil dan jaringan sosial dalam mengakses pembiayaan. Penelitian dilakukan pada bulan Juli-Desember tahun 2022 yang difokuskan di lokasi Marunda, Jakarta Utara menggunakan metode kualitatif dengan tipe studi kasus. Informan pada penelitian ini sebanyak 30 orang dan dipilih secara purposive, terdiri dari unsur nahkoda, anak buah kapal (ABK), bakul/pedagang pengumpul, koperasi, Lembaga Pengelola Modal Usaha Kelautan dan Perikanan (LPMUKP), penyuluh perikanan, dinas perikanan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar nelayan di Marunda memiliki dua jenis alat tangkap dengan mayoritas menggunakan jaring dan bubu. Keunikan nelayan ABK di Marunda adalah melakukan penangkapan dengan membawa alat tangkap sendiri dan membayar komisi kepada pemilik perahu. Pada tahap awal usaha, nelayan mengandalkan dana pribadi, dan keluarga. Nelayan yang memiliki aset akan meminjam kepada lembaga pembiayaan formal dan jika tidak punya asset akan meminjam kepada bakul/bos. Pada dasarnya nelayan tidak mau meminjam karena tidak mau terikat dengan bakul/bos ataupun kehawatiran tidak bisa membayar cicilan jika meminjam ke bank. Apabila nelayan mengalami kerugian usaha dan tidak memiliki aset untuk dijaminkan, maka nelayan akan meminjam kepada bakul/bos. Oleh karena itu, kebijakan yang perlu dilakukan adalah membuat program pembiayaan untuk nelayan kecil dengan memperhatikan karakteristik dan jaringan sosialnya. Program harus diprioritaskan pada nelayan yang tidak memiliki modal dan aset. Lembaga pembiayaan informal perlu dilibatkan dalam pengembangan program pembiayaan nelayan tersebut. Tittle: Small-Scale Fishermen in Urban Areas: Business Characteristics and Social Networks in Accessing Financing in Marunda City, North Jakarta Jakarta is a city that has various financing facilities, but there are still small-scale fishermen in Marunda who have problems accessing them. The purpose of this study is to describe the characteristics of small fishing businesses and social networks in accessing financing. This research was conducted in July-December 2022 which focused on the Marunda location, North Jakarta. This research uses qualitative methods with a case study type. The informants in this study were 30 people and were selected purposively, consisting of captains, crew members (ABK), bakul/collecting traders, cooperatives, Marine and Fisheries Business Capital Management Institutions (LPMUKP), fisheries extension workers, fisheries services. Data analysis was carried out in a qualitative descriptive. The results showed that most fishermen in Marunda have two types of fishing gear with the majority using nets and bubu. The uniqueness of ABK fishermen in Marunda is to make catches by bringing their own fishing gear and paying commissions to boat owners. In the early stages, fishermen rely on personal funds, and families. Fishermen who have assets will borrow from formal financing institutions and if they do not have assets will borrow from bakul/bos. Basically, fishermen do not want to borrow because they do not want to be tied to the bakul / boss or worry that they cannot pay installments if they borrow from the bank. If the fisherman experiences a business loss and does not have assets to guarantee, the fisherman will borrow from the bakul/boss. Therefore, the policy that needs to be done is to create a small fisherman financing program by taking into account their characteristics and social networks. Programs should be prioritized on fishermen who do not have capital and assets. Informal financing institutions need to be involved in the development of these fishermen financing programs
Pemodelan Pergerakan Tumpahan Minyak Sebagai Upaya Mitigasi Dampak Lingkungan di Perairan Lampung Timur, Indonesia
Kegiatan eksploitasi dan eksplorasi migas seringkali menimbulkan kerusakan lingkungan sekitar, salah satunya tumpahan minyak. Pencemaran lingkungan akibat tumpahan minyak dapat berasal dari kegiatan pelayaran, kegiatan pelabuhan, dan kegiatan usaha migas. PT PGN LNG Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak di bidang minyak dan gas bumi bertugas mengoperasikan FSRU (Floating Storage Regasification Unit) yang terletak di + 21km dari lepas pantai Labuhan Maringgai, Lampung Timur. Untuk memenuhi kebutuhan operasional, FSRU melakukan bongkar muat BBM di tengah laut dengan metode STS (Ship to Ship). Proses bongkar muat di tengah laut cenderung meningkatkan risiko pipa pecah, pipa bocor, dan kecelakaan akibat kesalahan manusia. Penelitian ini dilakukan untuk memitigasi penanganan tumpahan minyak untuk meminimalkan dampak lingkungan dengan memperkirakan prediksi rute tumpahan minyak berdasarkan variasi angin musim yang terjadi di sekitar wilayah operasional PT. PGN LNG Indonesia. Hasil estimasi pemodelan menunjukkan arah pergerakan tumpahan minyak di Musim Timur didominasi ke arah barat, barat daya, dan barat laut serta berdampak ke area tambak, mangrove, dan permukiman di Kecamatan Labuhan Maringgai. Pada musim lainnya, hasil menunjukkan arah pergerakan tumpahan minyak tidak mencapai daratan Sumatera dan di sepanjang garis Laut Jawa. Kedepannya, penelitian ini dapat digunakan untuk merumuskan kebijakan strategis dalam menentukan rencana mitigasi tumpahan minyak dengan menentukan area prioritas dalam penanganan tumpahan minyak
Karakteristik Hamburbalik Gelembung Udara Buatan dalam Kondisi Terkontrol
Gelembung udara dapat terbentuk secara alami maupun buatan. Gelembung udara buatan tercipta dari kegiatan antropogenik seperti pergerakan profiler kapal, penambangan, pembangunan bawah air, dan aerator (alat pembentuk gelembung udara). Dalam ilmu hidroakustik, gelembung udara merupakan faktor utama dalam propagasi suara dekat-permukaan. Oleh sebab itu dalam pengambilan data hidroakustik gelembung udara harus minimalkan agar hasil pengukuran hidroakustik menjadi akurat, baik dalam pengambilan data di lapangan maupun dalam skala laboratorium. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hambur balik dari gelembung udara buatan dalam kondisi terkontrol. Penelitian ini menggunakan Alat aerator jenis Roston Q3 Aquarium Air Pump yang beroperasi apada 220-240 Volt mampu menghasilkan laju gelembung udara sebesar 2.5 watt dan 3 watt. Perekaman data akustik menggunakan Echosounder EK-15 dan analisis data menggunakan sofware echoview (4) versi demo. Nilai hambur balik gelembung udara dengan daya 3 watt memiliki rentang -45.06 sampai -45.01 dB (ref:1μPa) dengan rata-rata hambur balik -45,02 dB (ref:1μPa). Adapun gelembung dengan daya 2.5 watt memiliki nilai hambur balik dengan rentang -45.07 sampai -45.01 dB (ref:1μPa), dengan nilai hambur balik rata-rata sebesar -45.03 dB (ref:1μPa)
PENGARUH KOMBINASI EKSTRAK DAUN KETAPANG (Terminalia catappa) DAN DAUN PISANG (Musa paradisiaca) TERHADAP PENETASAN TELUR DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN CUPANG (Betta splendens)
Kandungan senyawa bioaktif pada daun ketapang (Terminalia catappa) dan daun pisang (Musa paradisiaca) mampu mencegah serangan jamur pada telur ikan. Namun demikian, aplikasi kombinasi kedua bahan tersebut untuk mencegah serangan jamur pada telur ikan cupang (Betta splendens) belum pernah diteliti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perendaman telur ikan cupang dengan kombinasi konsentrasi daun ketapang dan daun pisang yang berbeda terhadap daya tetas telur ikan dan daya hidup benih yang dihasilkan. Penelitian ini berupa eksperimen yang terdiri dari 6 perlakuan dan 3 kali pengulangan. Perlakuan terdiri dari perendaman telur ikan pada: perlakuan kontrol (tanpa ekstrak daun ketapang dan daun pisang), perlakuan A (100% ekstrak daun ketapang konsentrasi 20 mL L-1), perlakuan B (75% ekstrak daun ketapang pada 15 mL L-1 dan 25% daun pisang pada 5 mL L-1), perlakuan C (50% ekstrak daun ketapang pada 10 mL L-1 dan 50% daun pisang pada 10 mL L-1), perlakuan D (25% ekstrak daun ketapang pada 5 mL L-1 dan 75% daun pisang pada 15 mL L-1), dan perlakuan E (100% ekstrak daun pisang konsentrasi 20 mL L-1). Variabel yang diukur pada masing-masing perlakuan adalah daya pembuahan telur, daya tetas, kualitas, dan tingkat kelangsungan hidup benih yang dihasilkan. Parameter kualitas air diukur secara berkala selama penelitian, meliputi suhu, pH, oksigen terlarut, amonia, dan nitrit. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perendaman telur dalam konsentrasi ekstrak daun ketapang dan daun pisang yang berbeda memberikan pengaruh yang nyata (P<0,05) terhadap semua variabel. Perlakuan terbaik adalah perlakuan B dengan persentase daya pembuahan telur, penetasan telur, dan tingkat kelangsungan hidup benih yang dihasilkan masing-masing adalah 90%, 84%, dan 84,58%. Kombinasi ini dapat dijadikan sebagai dasar informasi dalam meningkatkan budidaya ikan cupang karena adanya kandungan flavonoid dan tanin pada daun ketapang dan daun pisang yang berfungsi dalam meningkatkan pembuahan telur, daya tetas telur dan kelangsungan hidup ikan.The bioactive compounds in ketapang (Terminalia catappa) and banana (Musa paradisiaca) leaves had the ability to prevent fungus infestation on fish eggs. Nevertheless, a combined application of these two ingredients to prevent fungus infestation in betta fish eggs (Betta splendens) has never been studied. This study aimed to determine the effect of soaking betta fish eggs in different combined concentrations of ketapang and banana leaves on the fish egg hatching rate and resulting seed survival rates. This research was set in an experimental trial consisting of six treatments with three replicates. The treatments consisted of soaking the fish egg in: control treatment (without ketapang and banana leaves extracts), treatment A (100% ketapang leaf extract at a concentration of 20 mL L-1), treatment B (75% ketapang leaf extract at 15 mL L-1 and 25% banana leaf extract at 5 mL L-1), treatment C (50% ketapang leaf extract at 10 mL L-1 and 50% banana leaf extract at 10 mL L-1), treatment D (25% ketapang leaf extract at 5 mL L-1 and 75% banana leaf extract at 15 mL L-1), treatment E (100% banana leaf extract at 20 mL L-1). The measured variables in each treatment were egg fertilization rate, hatching rate, and quality, as well as the resulting seed survival rate. Water quality parameters were measured regularly during the study, including temperature, pH, dissolved oxygen, ammonia, and nitrite. The results showed that the immersion of eggs in different concentrations of ketapang and banana leaf extracts had a significant effect (P<0.05) on all variables. The best treatment was treatment B, in which the percentages of egg fertilization, egg hatching, and the produced seed survival rates were 90%, 84%, and 84.58%. This study concludes that the combined use of ketapang and banana leaves extracts successfully increase egg fertilization, egg hatchability and survival rate of betta fish due to the presence of flavonoid and tanin compounds