eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
KARAKTERISTIK KIMIA HIDROLISAT PROTEIN DAN PENGUAT RASA DARI HASIL SAMPING FILLET IKAN KAKAP (Lutjanus sp) YANG DIHIDROLISIS SECARA ENZIMATIS
Hidrolisat protein ikan merupakan produk yang dihasilkan dari penguraian protein ikan menjadi peptida sederhana dan asam amino melalui proses hidrolisis oleh enzim, asam, atau basa. Hidrolisis secara enzimatis menggunakan jenis enzim protease dapat dipilih dengan pertimbangan apabila hasil produknya akan digunakan sebagai bahan tambahan pangan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui kandungan kimia, nilai kelarutan, dan warna hidrolisat protein serta produk penguat rasa. Hidrolisat protein diproduksi menggunakan proses hidrolisis, filtrasi bertingkat, pengeringan, pencampuran bahan pengikat dan formulasi. Parameter kualitas hidrolisat protein dan produk penguat rasa ditentukan dengan menguji kandungan kimia, warna dan tingkat kelarutan di dalam air. Hidrolisat protein dan produk penguat rasa memiliki kandungan protein antara 9,49 - 11,37% (bk). Hidrolisat protein dan produk penguat rasa memiliki tingkat kelarutan antara 99,94 - 99,99%.Hasil uji warna menunjukkan hidrolisat protein memiliki warna lebih cerah dengan nilai L* 94,80 dibandingkan produk penguat rasa yang memiliki warna lebih gelap berspektrum hijau merah dengan nilai a* 1,32 - 1,84. Hidrolisat protein dan produk penguat rasa memiliki kandungan protein cukup tinggi serta asam amino yang lengkap, sehingga sangat baik digunakan sebagai bahan pangan fungsional yang berguna bagi tubuh
Pemodelan Spasial Genangan Akibat Kenaikan Muka Air Laut di Pesisir Selatan Kabupaten Tulungagung Jawa Timur
Kenaikan muka air laut menjadi fenomena alam yang tidak dapat dihindari sebagai dampak dari pemanasan global dan perubahan iklim. Akumulasi kenaikan muka air laut, air pasang dan penurunan muka air tanah menjadi penyebab terjadinya banjir rob. Penelitian ini bertujuan untuk mengaplikasikan pemodelan spasial Sistem Informasi Geografis (SIG) menggunakan trend kenaikan muka air laut untuk mengetahui luas genangan serta mengidentifikasi dampak yang terjadi akibat banjir rob terhadap tutupan lahan di kawasan pesisir selatan Kabupaten Tulungagung Jawa Timur. Data pasang surut yang diambil mulai tahun 2014 hingga tahun 2020 diolah menggunakan metode Least Square untuk mengetahui nilai harmonik pasang surut. Kecenderungan terjadinya Sea Level Rise (SLR) diketahui dengan menganalisis anomali tinggi permukaan laut dari data hasil pengukuran satelit altimetri yang berasal dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) dengan cakupan data dari tahun 1992 hingga tahun 2021 untuk perairan regional Indonesia. Pemodelan spasial menggunakan SIG dilakukan untuk mengetahui luas genangan dan tutupan lahan yang terdampak. Hasil analisis menunjukkan kenaikan muka air laut rata-rata sebesar 4,3 ± 0,4 mm/tahun maka diprediksi terjadi kenaikan MSL di perairan pesisir Tulungagung dari 1,999 meter pada tahun 2020 menjadi 2,7735 meter pada tahun 2200. Luas tutupan lahan pesisir yang tergenang pada akhir pemodelan diperkirakan mencapai 139,13 Ha. Kenaikan muka air laut diperkirakan membawa dampak terhadap lingkungan pesiisr di lokasi studi, karena akan menimbulkan banjir rob yang menggenahi pesisir pantai, pemukiman sawah dan tambak
KONTRIBUSI BIOFLOK TERHADAP PERTUMBUHAN IKAN LELE YANG DIBERI PAKAN DENGAN TINGKAT BERBEDA
Biomassa bioflok dalam sistem pemeliharaan ikan dapat dimanfaatkan menjadi pakan alami tambahan bagi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan ikan lele Clarias gariepinus yang dipelihara menggunakan teknologi bioflok dengan tingkat pemberian pakan berbeda. Perlakuan terdiri dari tiga tingkat pemberian pakan, yaitu 5% (FR5), 3,75% (FR3,75), dan 2,5% (FR2,5). Benih ikan lele dengan panjang awal 11,92 ± 0,03 cm dan bobot awal 11,31 ± 0,11 g dipelihara dengan padat tebar 25 ekor per akuarium (500 ekor m-3) selama 42 hari. Ulangan biologis tiap perlakuan berupa 3 unit akuarium (volume air 50 L). Ikan diberi pakan 3 kali setiap hari dengan jumlah pakan sesuai perlakuan. Penambahan tepung tapioka dilakukan setiap hari untuk mencapai rasio C/N 10. Hasil penelitian menunjukkan bobot akhir menurun seiring penurunan tingkat pemberian pakan (P<0,05), seperti ditunjukkan pula laju pertumbuhan spesifik. Terdapat indikasi kontribusi bioflok terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele berdasarkan nilai efisiensi pemanfaatan pakan dan retensi protein. Akan tetapi, tidak dapat menggantikan peran pakan eksternal. Tingkat pemberian pakan berpengaruh terhadap kinerja pertumbuhan ikan lele pada sistem bioflok.Biofloc biomass could be used as additional natural food for fish in a biofloc-based fish culture system. This study aimed to evaluate the growth performance of African catfish, Clarias gariepinus cultured in a biofloc system fed at different feeding levels. The treatments consisted of three feeding levels; 5% (FR5), 3,75% (FR3,75), and 2,5% (FR2,5). Catfish juveniles with an initial average body length of 11,92 ± 0,03 cm and average body weight of 11,31 ± 0,11 g were reared at a density of 25 fish per aquarium (500 fish m-3) for 42 days. Each treatment had three unit aquaria (50 L water volume) as replicates. Cassava meal was added daily to reach C/N ratio of 10. The results showed that the fish’s final weight and specific growth rate were reduced, corresponding to the feeding rate. There was an indication that biofloc contributes to the fish growth performance based on the feed efficiency and protein retention level. However, biofloc could not replace the role of external feed to support the growth of African catfish
ANALISIS POPULASI IKAN BAWAL HITAM (Parastromateus niger Bloch, 1795) BERDASARKAN KERAGAMAN DAN JARAK GENETIK DI WPPNRI 718
Ikan bawal hitam (Parastromateus niger) merupakan ikan demersal yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Permintaan pasar ikan bawal hitam sebagai ikan konsumsi yang terjadi secara kontinyu menyebabkan peningkatan intensitas penangkapan di alam. Kondisi ini menyebabkan jumlah dan ukuran ikan bawal hitam di alam mengalami penurunan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur populasi, mencakup keragaman dan jarak genetic dan dugaan pohon filogeni ikan bawal hitam (Parastromateus niger) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 718. Penelitian dilakukan pada bulan Maret sampai Mei 2022. Sampel ikan bawal hitam berasal dari ikan tangkapan di Laut Aru, Laut Arafuru, dan Laut Timor. Penelitian ini dilakukan melalui metode Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) untuk menganalisis keragaman dan jarak genetik ikan bawal hitam dengan menggunakan tiga primer yaitu OPA-8, OPA-9, dan OPA-10. Data di analisis menggunakan software DARwin 6.0. Hasil menunjukkan ada variasi genetik antar populasi; analisis dendogram memperlihatkan diperoleh dua sub populasi ikan bawal hitam baik berdasarkan ukuran maupun lokasi. Dapat dibedakan kelompok ukuran ikan bawal berukuran kecil yang terpisah dari kelompok berukuran sedang dan besar; sedang beradasarkan lokasi pengambilan sampel terlihat sub populasi Laut Aru terpisah dengan subpopulasi Laut Arafuru dan Laut Timor yang mengelompok. Berdasarkan dendogram bahwa sub populasi dengan karakteristik yang sama dikelola dengan model yang sama dan yang memiliki karakteristik berbeda dikelola secara terpisah.Black pomfret fish (Parastromateus niger) is a demersal fish that has high economic value. The market demand for black pomfret fish as a consumption fish that occurs continuously causes an increase in the intensity of fishing in nature. This condition causes the number and size of black pomfret fish in nature to decrease. This study aims to determine the genetic diversity and distance of the black pomfret fish (Parastromateus niger) population in the State Fisheries Management Area of the Republic of Indonesia (WPPNRI) 718. The time of the study was carried out from March to May 2022. The black pomfret fish sample came from the Aru Sea population, the Sea Arafuru, and the East Timor Sea which landed at the Nizam Zachman Ocean Fishing Port, North Jakarta. This study used the Random Amplified Polymorphic DNA (RAPD) method to analyze the genetic diversity and distance of black pomfret fish using three primers, namely OPA-8, OPA-9, and OPA-10. The data were analyzed using DARwin 6.0 software and the results showed genetic variation between populations. The results of the dendogram analysis showed that there were two sub-populations of black pomfret fish based on size, namely the small pomfret sub-population and the medium and large-sized sub-population. Likewise, two sub-populations were obtained based on the sampling location, namely the Aru Sea sub-population with the Arafuru Sea and the Timor Sea sub-population. Based on the dendogram, sub-populations with the same characteristics are managed using the same model and those with different characteristics are managed separately
STUDI KARAKTERISTIK HABITAT PENELURAN PENYU DI PANTAI SINORANG, DESA SINORANG, KECAMATAN BATUI SELATAN, KABUPATEN BANGGAI SEBAGAI DASAR KELESTARIANNYA
Penelitian ini tentang karakteristik habitat penyu di Pantai Sinorang dengan tujuan untuk mengetahui jenis penyu dan mengetahui karakteristik habitat penyu. Penelitian dilaksanakan di sepanjang Pesisir Pantai Sinorang pada bulan Juli-Oktober 2020 dengan mengumpulkan data lokasi peneluran penyu, suhu dan kelembaban pasir, lebar pantai, kemiringan permukaan pantai, tutupan vegetasi pantai, lamun, dan karang. Metode yang digunakan adalah teknik observasi lapangan dan analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identifikasi penyu ditemukan dua jenis, yaitu penyu sisik (Eretmochelys imbricate Linnaeus, 1766) dan penyu lekang (Lepidochelys olivacea Eschscholtz, 1829). Karakteristik habitat penyu berupa vegetasi pantai di dominasi tumbuhan bulu babi (Spinifex littoreus), stasiun yang sering didatangi penyu untuk mendarat dan bertelur, adalah pantai yang berkategori agak curam, landai, dan sangat landai, pantai yang lebar. Ditemukan di stasiun 3 dengan rataan lebar pantai 179 m, stasiun 0,1,2,dan 3 dengan masing-masing lebar pantai yang berukuran sedang dengan rataan lebar pantai 33.6 m, 18.1 m, 13.85 m; pasir pantai tersusun atas dominansi partikel berukuran sedang, kelembapan pasir rata-rata sepanjang lokasi berkisar 19.9%-27.2% dengan kelembaban rata-rata sebesar 24%, Suhu pasir pada kedalaman 35-40 cm pada bulan Juli 26-26.6ºC, Agustus 29.3-30.3ºC, September 30.8-32.0ºC, Oktober 33-36.5ºC. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa habitat penyu di Pantai Sinorang berada pada tingkat kelayakan untuk mendarat dan bertelur. Kawasan Sinorang Pantai dapat dilakukan pengelolaan penyu untuk meningkatkan perekonomian masyarakat melalui ekowisata penyu, dan serta tetap menjaga kelestarian penyu.This study examines the characteristics of turtle habitat in Sinorang Beach. The purpose of this study was to determine the type of turtle and to determine the characteristics of the turtle habitat in Sinorang Beach. The research was carried out along the Sinorang Beach in July-October 2020 by collecting data on turtle nesting locations, sand temperature and humidity, beach width, beach surface slope, beach vegetation cover, seagrass, and coral. The method used is field observation technique and data analysis is done by qualitative descriptive analysis. The results of the identification of turtles found two types, namely the hawksbill turtle (Eretmochelys imbricate Linnaeus, 1766) and the olive ridley turtle (Lepidochelys olivacea Eschscholtz, 1829). The characteristics of the turtle habitat in the form of coastal vegetation are dominated by sea urchins (Spinifex littoreus) at stations frequented by turtles to land and lay eggs, the beach is categorized as rather steep, sloping, and very sloping, the largest beach width is at station 3 with an average of 179 m, the width of the medium-sized beach is at stations 0, 1, and 2 with an average beach width of 33.6 m, 18.1 m, 13.85 m, beach sand is composed of a dominance of medium-sized particles, the average sand humidity throughout the location is around 19.9% -27.2% with an average humidity of 24%, Sand temperature at a depth of 35-40 cm in July 26-26.6ºC, August 29.3-30.3ºC, September 30.8-32.0ºC, October 33-36.5ºC, and coral cover category at station 0 as much as 32.25% are still in the medium category. The results of this study can be concluded that the turtle habitat in Sinorang Beach is still at the level of feasibility for landing and laying eggs. In the Sinorang Beach area, turtle management can be carried out to improve the community's economy and maintain the sustainability of turtles
PENGARUH TATA KELOLA DAN SUMBERDAYA DALAM MEWUJUDKAN SUSTAINABLE OCEAN ECONOMY DENGAN AQUACULTURE PERFORMANCE SEBAGAI VARIABEL INTERVENING DAN SIKRONISASI KEBIJAKAN SEBAGAI PEMODERASI
Tata kelola dan aktivitas ekonomi dalam industry kelautan menjadi catatan penting dalam mewujudkan sustainable ocean economy. Indonesia dengan beberapa isu prioritas dan tantangannya menjadikan sumber daya (kelautan, perikanan dan sumber daya manusia) dan sinkronisasi kebijakan menjadi prioritas utama untuk mencapai tujuan sustainable ocean economy. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh potensi sumber daya, yang meliputi sumber daya manusia, sumber daya kelautan dan perikanan serta good governance terhadap sustainable ocean economy dengan aquaculture performance sebagai variabel intervening dan sinkronisasi kebijakan sebagai pemoderasi. Data primer dan sekunder digunakan dalam penelitian ini dan dianalisis dengan menggunakan pendekatan Structural Equation Model menggunakan software WarpPLS. Selanjutnya untuk menganalisis tingkat kepentingan dan kinerja variabel yang diuji menggunakan Importance Performance Analysis. Hasil analisis menunjukkan bahwa potensi sumberdaya kelautan dan perikanan, Good Governance, dan sumber daya manusia secara positif berpengaruh signifikan terhadap aquaculture performance. Selain itu, hanya variabel potensi sumber daya kelautan dan perikanan yang berpengaruh signifikan terhadap sustainable ocean economy. Hal ini berimplikasi bahwa tujuan pengelolaan industri kelautan berorientasi pada keberlanjutan sumber daya kelautan dan perikanan. Berbagai kebijakan harus memprioritaskan penguatan sumber daya manusia sebagai target awal pencapaian sustainable ocean economy, karena dengan adanya sumber daya manusia yang berkualitas maka dapat menciptakan good governance
Identifikasi Tumpahan Minyak di Laut Akibat Tank Cleaning Menggunakan Metode Tidak Terselia
Tumpahan minyak di laut dapat terdeteksi oleh citra satelit dengan sensor Synthetic Aperture Eadar (SAR) dan memungkinkan untuk diidentifikasi menggunakan berbagai macam metode baik terselia maupun tidak terselia. Salah satu metode terselia yang biasa digunakan adalah digitasi visual, namun metode ini sangat subjektif pada kapasitas interpreter. Untuk meminimalisasi subjektifitas interpreter maka metode tidak terselia perlu dikaji lebih lanjut. Tujuan dari penelitian ini adalah mengkaji algoritma tidak terselia untuk identifikasi tumpahan minyak yang diakibatkan oleh tank cleaning. Citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Sentinel-1 di wilayah perairan utara Pulau Bintan. Proses identifikasi dilakukan menggunakan metode tidak terselia, dan penelitian ini membandingkan dua algoritma dalam proses identifikasi, yaitu K-Means dan CLARA. Dapat disimpulkan bahwa dalam melakukan identifikasi perlu diketahui terlebih dahulu kondisi perairan terutama kecepatan angin dan arus laut sebelum memasuki tahap komputasi. Hasil identifikasi menggunakan kedua algoritma ini dibandingkan dengan data referensi dari LAPAN sebagai instansi yang melakukan diseminasi terkait tumpahan minyak di laut. Jika dibandingkan dengan data referensi tersebut, algoritma K-Means memiliki persentase hasil yang lebih baik dalam mendeteksi luasan tumpahan minyak, namun algoritma CLARA mampu memberikan hasil identifikasi dengan look-alike tumpahan minyak yang lebih sedikit sehingga kesalahan identifikasi menjadi minimal
Akumulasi Logam Berat Cu Dan Hg pada Mangrove Rhizopora mucronata di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya)
Cemaran logam berat seperti Cu dan Hg di Pantai Timur Surabaya (Pamurbaya) dikhawatirkan memberikan dampak terhadap kualitas perairan. Mangrove yang tumbuh di Pamurbaya dapat digunakan sebagai indikator cemaran logam berat. Kemampuan mangrove dalam mengakumulasi logam berat ditunjukkan melalui nilai bioakumulasi (BAF), biokonsentrasi (BCF), dan translokasi faktor (TF). Salah satu mangrove yang terdapat di Pamurbaya adalah R.mucronata. Mangrove inimemiliki akar penyangga, selain fungsinya untuk membantu tegaknya pohon, akar jenis ini juga dapat menahan dan memantapkan sedimen tanah, sehingga mencegahtersebarnya bahan pencemar ke area yang lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bioakumulasi cemaran logam berat Cu dan Hg pada mangrove R. mucronata, air, dan sedimen di Pantai Timur Surabaya. Sampel penelitian diambil pada tiga lokasi melalui purposive sampling. Analisis logam berat Cu dan Hg menggunakan metode Atomic Absorption Spectroscopy (AAS) dan parameter fisika-kimia oseanografi diukur secara in situ dengan pengulangan sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan kadar logam berat Cu pada air lebih tinggi dibandingkan sedimen berturut-turut Stasiun 1>Stasiun 2>Stasiun 3. Hasil cemaran logam Hg pada mangrove R. mucronata, air dan sedimen menunjukkan nilai di bawah baku mutu dengan kisaran 0,0004< Hg<0,0006 ppm. Berdasarkan perhitungan nilai bioconcentration factor (BCF) dan translocation factor (TF), diketahui bahwa kemampuan mangrove R.mucronata sebagai tumbuhan excluder dan fitoekstraksi sehingga mampu mengurangi polutan logam berat dari lingkungan melalui proses penyerapan melalui akar dan translokasi menuju daun
THE EFFECTIVENESS OF ARTIFICIAL HOOK COLOR ON POLE AND LINE OPERATION IN TERNATE WATERS, NORTH MALUKU
Skipjack tuna (Katsuwonus pelamis) is a large pelagic fish that seeks prey using the sense of sight, so the color of the hook used must be able to attract the attention of skipjack to eat the hook. The purpose of this research is to determine the effect of hook color on pole and line catches. The colors of the hook used are red, green and silver. The analysis used to see differences in skipjack catches based on hook color used two analyzes, namely comparative descriptive and statistical. Comparative descriptive analysis was carried out on the composition of pole and line catches. Statistical test using completely randomized design (CRD). The results showed that the hooks that produced the most skipjack tuna were red with 1785 fish or 57% of the total catch, then green with 830 fish (26%) and silver with 513 (17%) catches. Based on the CRD ANOVA statistical test, the average difference in catches based on hook color was significantly different with a significance value less than 0.05 (0.00<0.05), which means the catches of the 3 hook colors were significantly different. From the catch data, the hook color that gets the most catches is the red hook