eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Aplikasi Pakan Mandiri Terhadap Performa Budidaya pada Pendederan Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) di Deli Serdang, Sumatera Utara
Ikan Gurami (Osphronemus gouramy) menjadi salah satu komoditas ikan air tawar yang banyak dibudidayakan oleh masyarakat dan menjadi unggulan karena memiliki nilai ekonomi penting dan banyak digemari masyarakat. Perlunya mendorong produksi ikan gurame yang tinggi guna memenuhi kebutuhan pasar juga harus dibarengi efisiensi biaya produksi agar harga bisa bersaing. Tujuan penelitian adalah mengevaluasi performa budidaya dengan pemberian pakan komersial dan pakan mandiri. Metode yang dilakukan yaitu mengurangi penggunaan pakan komersil dan menggantinya dengan pakan mandiri namun tetap menjaga formulasi pakan sesuai kebutuhan nutrisi ikan. Rancangan percobaan yaitu 2 perlakuan dan 4 ulangan. Padat tebar hewan uji 100 ekor/m3 ukuran 2-4 cm. Pengujian yang dilakukan adalah dengan T test (signifikan 0,05) yaitu membandingkan pertumbuhan ikan gurami yang diberi pakan komersial dan pakan mandiri dengan kandungan nutrisi yang telah disesuaikan. Pemberian pakan dengan menggunakan feeding rate 10% dari bobot ikan dan diberikan dua kali sehari pada jam 08.00 dan 17.00 WIB. Pemberian pakan dilakukan dalam waktu yang sama antara pakan komersial dan pakan mandiri. Terdapat perbedaan nyata dari pemberian pakan komersial dan menghasilkan nilai yang baik pada Average Body Weight (ABW) (4,57 ± 0,05), Pertumbuhan Panjang Mutlak (6,49 ± 0,09), Spesific Growth Rate (SGR) (15,44 ± 0,89) dan Survival Rate (SR) (17,75 ± 2,75). Pada benih yang diberi pakan mandiri diperoleh nilai Average Body Weight (ABW) (3,98 ± 0,11). Pertumbuhan panjang mutlak (5,74 ± 0,15) dan Survival rate (SR) (11,25 ± 1,26 %). Untuk mendapatkan pertumbuhan yang baik pada pemeliharaan ikan gurami maka dapat digunakan pakan komersial
Dampak Target Produksi Udang Dua Juta Ton Terhadap Ekonomi Kelautan Indonesia: Pendekatan Model Input-Output
Udang merupakan salah satu subsektor dibidang kelautan yang menjadi salah satu motor penggerak pertumbuhan ekonomi kelautan nasional. Pasar udang yang cukup besar dan tahun 2021 Indonesia menjadi salah satu dari lima produsen udang terbesar di dunia merupakan peluang besar untuk terus mendorong peningkatan produksi udang di Indonesia. Tujuan penelitian yaitu menganalisis dinamika struktur ekonomi kelautan Indonesia terhadap target peningkatan produksi udang menggunakan pendekatan input-output. Data dianalisis berdasarkan tabel input-output indonesia transaksi total atas dasar harga dasar (185 Produk) Tahun 2016. Hasil penelitian menunjukkan kontribusi produk domestik bruto (PDB) bidang kelautan pada tahun 2016 sebesar 29,93% terhadap PDB Nasional. Kontribusi tersebut mengalami peningkatan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya di mana sebagian besar permintaaan dan penawaran barang dan jasa bidang kelautan berasal dari domestik. Sementara itu dampak kebijakan peningkatan target produksi udang 2 juta ton tahun 2024 menunjukkan program tersebut berdampak terhadap hampir seluruh subsektor dalam bidang kelautan pada kondisi perekonomian tahun 2016. Subsektor yang terdampak paling tinggi diantaranya subsektor udang dan crustacea lainnya, sektor lainnya (selain bidang kelautan), perdagangan selain mobil dan sepeda motor, ikan, dan Barang-barang hasil kilang minyak dan gas. Hasil studi ini menunjukkan bahwa subsektor udang memiliki keterkaitan erat dengan subsektor lainya yang ada di bidang kelautan dan diluar bidang kelautan. Oleh sebab itu untuk mengoptimalkan rencana peningkatan target produksi udang 2 juta ton tahun 2024, pemerintah perlu membenahi berbagai subsektor yang terkait. Title: The Impact of the Two Million Ton Shrimp Production Target on Indonesia’s Marine Economy: An Input-Output Modelling ApproachShrimp is one of the sub-sectors in the marine sector which is one of the drivers of national marine economic growth. The shrimp market is quite large and in 2021 Indonesia is one of the five largest shrimp producers in the world is a great opportunity to continue to encourage increased shrimp production in Indonesia. The research objective was to analyse the dynamics of Indonesia’s marine economic structure towards the target of increasing shrimp production using the input-output approach. Data were analysed based on the Indonesia input-output table total transactions at basic prices (185 products) in 2016. The results showed that the contribution of GDP in the marine sector in 2016 was 29.93% of the National GDP. The contribution has increased compared to previous years where most of the demand and supply of goods and services in the marine sector come from domestic. Meanwhile, the impact of the policy to increase the shrimp production target of 2 million tonnes in 2024 shows that the programme has an impact on almost all subsectors in the marine sector in 2016 economic conditions. The most affected subsectors include shrimp and other crustaceans, Other Sector (other than marine sector), trade other than cars and motorcycles, fish, and goods from oil and gas refineries. The results of this study show that the shrimp subsector is closely related to other subsectors in the marine sector and outside the marine sector. Therefore, to optimise the plan to increase the shrimp production target of 2 million tonnes by 2024, the government needs to improve various related subsectors
THE SUITABILITY OF BLACK SOLDIER FLY LARVAE COMBINED WITH A COMMERCIAL DIET ON GROWTH AND FEED PERFORMANCES OF HYBRID CATFISH
This study aimed to investigate the suitability of black soldier fly larvae (BSFL) combined with a commercial diet (CMD) on growth and feed performances of hybrid catfish (Clarias gariepinus x C. macrocephalus). A completedly randomized design was used to consist of four treatments and three replications with 100:0 (control), 75:25, 50:50, and 25:75 of CMD and fresh BSFL blended feeding. Fish were reared in 2 m2 inland canvas cages for 60 days. The results indicated that fish were fed 100% CMD had better average weight gain (AWG), daily weight gain (DWG), specific growth rate (SGR), food conversion ratio (FCR), feed efficiency (FE), and survival rate (SR) than the other treatments, but there was no statistically significant difference (p>0.05) when compared to 75:25 and 50:50 CMD:BSFL feeding. At the end of the experiment, the SR of fish was 81-91% and showed no significant difference (p>0.05) when compared between treatments. Therefore, hybrid catfish rearing can compensate CMD by fresh BSFL up to 50% of the feed amount per day. However, feeding with fresh BSFL can have side effects concerning steatosi
PRESERVASI PENGETAHUAN LOKAL DALAM BENTUK BUKU DIGITAL DI BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL PERIODE 2019 – 2023
ABSTRAKSasaran strategis ketiga Badan Riset dan Inovasi Nasional adalah meningkatnya produktivitas dan daya saing sumber daya riset dan inovasi. Pengetahuan lokal merupakan salah satu sumber daya riset yang wajib dilestarikan, karena berkaitan dengan penelitian bidang sosial humaniora. Maka menjadi tanggung jawab BRIN untuk melestarikannya melalui penerbitan buku digital. Penelitian bertujuan untuk mengetahui :1) Jumlah buku; 2) Penulis yang berkontribusi; 3) Jenis kelamin penulis; 4) Topik buku 5) Frekuensi dan 6) Judul buku yang diunduh. Digunakan metode deskriptif, menggunakan sumber dari https://tinyurl.com/BRINakuisisi, pada tanggal 10 -14 Juni 2023. Data yang dikumpulkan, meliputi jumlah buku periode 01 Januari 2019 – Juni 2023, penulis beserta jenis kelaminnya, judul buku, topik, frekuensi pengunduhan, dan judul buku diunduh. Penentuan topik mengacu kepada tajuk subyek Perpustakaan Nasional: https://tinyurl.com/ tajukonlinePNRI. Data diolah dan disajikan dalam bentuk tabel.Hasil penelitian menunjukkan bahwa telah diterbitkan 66 judul buku, dengan penulis 172 orang (laki-laki 108;62,79%, perempuan 64;37,21%). Terdapat 44 topik buku, dengan topik tiga besar, pada urutan pertama adalah Bahasa dan kebahasaan & Sastra masing-masing 9 judul (13,64%), urutan kedua Kebudayaan 4 judul (6,06%), urutan ketiga Keanekaragaman Hayati, Makanan, dan Orang, masing-masing 2 topik (3,03%). Sebanyak 38 topik berada di urutan keempat, masing-masing 1 topik (1,51%). Rata-rata frekuensi buku terbanyak diunduh pada urutan pertama adalah 727,25 kali/judul. Disimpulkan bahwa BRIN melakukan preservasi pengetahuan lokal dalam bentuk buku digital, sekaligus mendiseminasikannya melalui https://tinyurl.com/BRINakuisisi. BRIN menyediakan koleksi pengetahuan lokal yang dapat diunduh masyarakat. Selama 01 Juli 2022 – 14 Juni 2023, dari 66 judul buku telah diunduh 15.685 kali, dan Kamus Bahasa Bersemah, paling banyak diunduh (6.768). kali
Insentif dan Disinsentif Ekonomi pada Perlindungan Hiu Martil (Sphyrna spp.) sebagai Tangkapan Sampingan di Aceh Jaya
Hiu martil (Sphyrna spp.) memiliki peluang tertangkap dan tingkat eksploitasi yang tinggi karena bentuk kepala yang unik dan perilaku agregasi remaja di perairan pesisir dangkal. Hiu yang didaratkan di PPI Rigaih umumnya merupakan bycatch, berukuran kecil dan belum dewasa/anakan.. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik nelayan di Aceh Jaya dan mengestimasi besaran insentif maupun disinsentif ekonomi sebagai upaya perlindungan hiu martil di Aceh Jaya. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah survei. Pengambilan data primer dilakukan dengan wawancara terstruktur kepada nelayan kecil di Aceh Jaya, pada bulan April sampai dengan Agustus 2022. Responden berjumlah 48 orang yang dipilih menggunakan metode simple random sampling. Metode analisis penghitungan insentif nelayan menggunakan Contingent Valuation Methods (CVM). Hasil riset menunjukkan bahwa karakteristik nelayan di Aceh Jaya adalah nelayan kecil yang beroperasi menggunakan kapal kayu berukuran 5-10 gross tone dengan durasi penangkapan ikan adalah one-day fishing dan ada juga yang 2-5 hari/trip. Estimasi besaran denda (disinsentif) yang bersedia dibayarkan oleh nelayan apabila masih melakukan penangkapan hiu martil (WTP) rata-rata sebesar Rp259.375,00/trip. Kesediaan membayar denda dipengaruhi oleh usia, pendidikan, pendapatan, dan jumlah anak. Insentif ekonomi berupa kesediaan nelayan menerima kompensasi sebagai pengganti aktivitas penangkapan hiu martil (WTA) dengan estimasi rata-rata sebesar Rp434.895,83/trip. Variabel yang berpengaruh adalah usia, pendidikan, lama trip dan pendapatan Title: Economic Incentive and Disincentiveson Protection of Hammerhead Sharks (Sphyrna spp.) as By-catch in Aceh Jaya Hammerhead sharks (Sphyrna spp.) have a high chance of being caught due to their unique head shape and juvenile aggregation behavior in shallow coastal waters whose areas overlap with capture fisheries with high levels of exploitation. These Sharks have landed at the fish landing port Rigaih of Aceh Jaya Regency, which is generally by-catch with small size at the immature/pre-adult stage. This study aims to analyze the characteristics of hammerhead fishermen in Aceh Jaya and estimate the amount of economic incentives in the form of fines to protect hammerhead sharks in Aceh Jaya. The descriptive survey was used as the data collection method in this research. The deep interview was conducted to collect primary data from fishermen from April to August 2022. This research calculates the fisherman’s incentive using contingent valuation method (CVM) analysis. A total of 48 respondents were selected using the simple random sampling method. The findings show that the characteristics of fishermen in Aceh Jaya are small fisheries that operate using 5-10 gross-tone wooden boats with one-day fishing duration and some 2-5 days/trip. The estimated disincentives fishermen will pay if they still catch hammerhead sharks (WTP) is an average of IDR 259,375.00/trip. Willingness to pay is influenced by age, education, income, and number of children. Economic incentives include fishermen’s willingness to receive compensation instead of fishing for hammerhead sharks (WTA), with an average estimated IDR 434,895.83/trip. Influential variables are age, education, length of trip, and income
Strategi Pengembangan Ekowisata Hutan Mangrove Pantai di Karangsong Indramayu melalui Pendekatan Ecotourism Opportunity Spectrum (ECOS)
Mangrove merupakan tanaman tropis yang keberadaannya perlu dijaga dan dilestarikan karena memiliki peran penting bagi kehidupan. Keberhasilan rehabilitasi hutan mangrove di Karangsong sebagai destinasi ekowisata dan dicanangkan sebagai mangrove center di Jawa Barat mendasari penelitian untuk dilakukan pengembangan secara berkelanjutan. Penelitian dilakukan pada Juli 2022 di Kawasan Ekowisata Hutan Mangrove Pantai Lestari (KEHMPL) Karangsong Indramayu. Pendekatan yang dilakukan dalam penelitian dengan pendekatan kuantitatif dan data diperoleh melalui wawancara dengan kuisioner, observasi, dokumentasidan data sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik ekowisata serta mengevaluasi dan membangun strategi pengembangan KEHMPL dengan menggunakan pendekatan Ecotourism Opportunity Spectrum (ECOS) dan analisis Recreation Zone Index (RZI). Hasil analisis evaluasi menunjukan bahwa KEHMPL Karangosng memiliki kondisi kategori intermediate dengan nilai 65,62%, di mana kondisi ini mengartikan bahwa KEHMPL Karangsong termasuk ekowisata yang berkembang dan memiliki pengelolaan baik. Arah strategi pengembangan dilakukan terhadap delapan variabel parameter meliputi akses, penawaran atraksi, infrastruktur internal, infrastruktur eksternal, interaksi sosial, pengetahuan dan keahlian, sumber daya lain yang berkaitan dan dampak pengunjung. Untuk pengembangannya, sangat memerlukan peranan stakeholder baik dari pengelola sendiri, pemerintah, masyarakat dan lembaga-lembaga terkait untuk mencapai tujuan pelestarian ekosistem melalui pengembangan ekowisata berkelanjutan yang dapat memberi dampak positif terhadap ekologi, ekonomi, sosial dan budaya masyarakat. Title: Ecotourism Development Strategy for Sustainable Coastal Mangrove Forest through Ecotourism Opportunity Spectrum (ECOS) Approach in Karangsong IndramayuMangroves are tropical plants whose existence needs to be maintained and preserved because they have an important role in life. The success of mangrove forest rehabilitation in Karangsong as an ecotourism destination and launched as a mangrove centre in West Java underlies research for sustainable development. The research was conducted in July 2022 in the Pantai Lestari Mangrove Forest Ecotourism Area (PLMFEA) Karangsong Indramayu. The approach carried out research with a quantitative approach, and data are obtained through interviews with questionnaires, observations, documentation and secondary data. This study aims to identify ecotourism characteristics and evaluate and develop PLMFEA using the Ecotourism Opportunity Spectrum (ECOS) approach and Recreation Zone Index (RZI) analysis. The results show that PLMFEA Karangosong has an intermediate category condition with a value of 65.62%, where this condition means that PLMFEA Karangsong is a developing ecotourism and has good management. The direction of the development strategy is carried out on eight parameter variables, including access, attraction, infrastructure, social interaction, knowledge and expertise, other related resources and visitor impact. Therefore, it is the role of stakeholders from the management itself, the government, the community and related institutions to achieve the goal of ecosystem preservation through sustainable ecotourism that can positively impact the ecology, economy, society and culture of the community
POLA PERTUMBUHAN DAN KUALITAS KARAGINAN RUMPUT LAUT Kappaphycus alvarezii HASIL BUDIDAYA DI PERAIRAN MAMUJU, SULAWESI BARAT
Rumput laut Kappaphycus alvarezii merupakan komoditas utama dari budidaya rumput laut yang menjadi pemasok utama kebutuhan karaginan kappa untuk berbagai bidang industri. Budidaya K. alvarezii masih menjadi sumber pendapatan yang diandalkan masyarakat pesisir Sulawesi Barat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pola pertumbuhan dan kualitas karaginan rumput laut K. alvarezii yang dibudidayakan di Perairan Mamuju, Sulawesi Barat. Penelitian dilakukan di Perairan Mamuju, Sulawesi Barat pada Januari hingga Agustus 2021. Rumput laut K. alvarezii dipelihara dengan menggunakan metode tali panjang (longline ) selama lima periode tanam (45 hari/periode). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertumbuhan dan kualitas karaginan K. alvarezii adalah berfluktuasi. Laju pertumbuhan terbaik pada periode tanam pertama antara Januari dan Februari dengan nilai 2,73±0,05%/hari. Serangan epifit Neosiphonia apiculata pada periode kedua dan serangan hama penyu pada akhir periode tanam ke-empat dan ke-lima berakibat fatal terhadap budidaya K. alvarezii. Rendemen karaginan K. alvarezii tergolong tinggi dengan kadar tertinggi mencapai 48,22±0,87%, Kadar viskositas berkisar 3,58±0,51 cP - 10,44±0,57 cP. Secara kuantitas rendemen yang dihasilkan tinggi tetapi kualitasnya kurang baik.Kappaphycus alvarezii is the main commodity in seaweed cultivation and serves as a major supplier for kappa carrageenan needs in various industrial sectors. The cultivation of K. alvarezii remains a reliable source of income for coastal communities in West Sulawesi. This research aimed to analyse the growth patterns and carrageenan quality of K. alvarezii cultivated in the waters of Mamuju, West Sulawesi. The study was carried out in the Mamuju waters from January to August 2021. K. alvarezii was cultivated using the long line method for five planting periods (45 days per period). The research results indicated that the growth and carrageenan quality of K. alvarezii fluctuate. The highest growth rate occurred in the first planting period between January and February, with value of 2.73 ± 0.05%/day. Epiphyte attack by Neosiphonia apiculata during the second period and turtles attack at the end of the fourth and fifth planting periods had fatal consequences for K. alvarezii cultivation. The carrageenan yield of K. alvarezii is relatively high, with the highest content reaching 48.22 ± 0.87%. Viscocity levels ranged from 3.58 ± 0.51 cP to 10.44 ± 0.57 cP. While the quatity of the carrageenan yield was high, the quality was somewhat lacking
Penerapan GMP dan SSOP pada Pengolahan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Loin Masak Beku
Produk olahan ikan cakalang salah satunya yaitu cakalang loin masak beku. Proses pengolahan cakalang loin masak beku diantaranya pemasakan, pembentukan loin dan pembekuan. Penelitian memiliki tujuan untuk mengetahui penerapan Good Manufacturing Practice (GMP) dan Standard Sanitation Operational Procedure (SSOP) pada pengolahan cakalang loin masak beku dengan mengamati penerapan rantai dingin dan mutu. Penerapan GMP dan SSOP diamati dengan turut serta dalam proses pengolahan, pengukuran suhu, mutu bahan baku dan produk akhir. Pengolahan dimulai dari penerimaan bahan baku hingga proses penyimpanan produk beku dengan telah menerapkan GMP dan SSOP. Proses pengolahan telah menerapkan rantai dingin dengan rata-rata suhu bahan baku -15,3°C; suhu produk -17,3°C; suhu air 16,2°C dan suhu ruang 24,2°C. Penerapan rantai dingin selaras dengan mutu organoleptik bahan baku dan produk akhir memiliki nilai 8. Kadar histamin bahan baku berkisar 3,23 ppm dan produk akhir 6,32 ppm. Mutu mikrobiologi produk akhir telah memenuhi standar yang ditetapkan yaitu ALT 5,5×101 koloni/gram, E. coli <3 APM/gram, Vibrio cholerae dan Salmonella negatif. Pada penilaian SKP ditemukan 1 ketidaksesuaian mayor dan berhak atas peringkat A atau Baik sekali. UPI telah menjalankan semua proses pengolahan dengan baik dan memenuhi persyaratan sebagai unit pengolahan ikan
Identifikasi Fasilitas dan Strategi Pengembangan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPII) DUMAI Selama Pandemi COVID-19
Pangkalan Pendaratan Ikan (PPII) Dumai merupakan sentral kegiatan perikanan tangkap, tetapi belum memiliki fasilitas yang memadai secara fungsi nya. Selama 13 tahun beroperasi di Kelurahan Pangkalan Sesai, PPII Dumai belum mengalami pengembangan fasilitas yang signifikan. Hal ini disebebkan oleh beberapa faktor. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi kondisi fasilitas-fasilitas PPI Dumai dan menentukan strategi pengembangan PPI Dumai. Penelitian dilaksanakan menggunakan metode survei dan wawancara menggunakan kuisioner terbuka kepada 5 nelayan dan 3 petugas Pelabuhan Perikanan. Data diolah secara deskriptif dengan analisis tingkat pemanfaatan fasilitas pelabuhan perikanan dan SWOT. Berdasarkan hasil identifikasi, PPI Dumai termasuk tipe pelabuhan perikanan D, yaitu PPII (Pangkalan Pendaratan Ikan) Dumai. Fasilitas di PPI Dumai terdiri atas fasilitas pokok (5 macam fasilitas), fungsional (9 macam fasilitas) dan penunjang (7 macam fasilitas). Tingkat pemanfaatan fasilitas-fasilitas PPI Dumai 78%, maka tingkat pemanfaatan fasilitas belum mencapai kondisi optimal. Pengembangan pelabuhan perikanan Dumai dapat dilakukan dengan menggunakan strategi S-O (strength-oPPIortunity), yaitu strategi menerapkan kekuatan dengan memanfaatkan peluang kebijakan yang bersifat agresif.Fishing Port (PPI) of Dumai is one of the infrastructure used by Dumai fishermen to carry out capture fisheries activities. The facilities owned by fishing ports are determining in optimizing capture fisheries activities. Therefore, the aim of this research is to identify the condition of PPI Dumai's facilities and determine PPI Dumai's development strategy. The research was carried out using survey and interview methods with 5 fishermen and 3 fishing port officers. The data is processed descriptively by analyzing the level of utilization of fishing port facilities and SWOT. Based on the identification results, PPI Dumai is included in type D fishing port, namely PPII (Fish Landing Base) Dumai. Facilities at PPI Dumai consist of basic facilities (5 types of facilities), functional (9 types of facilities) and suPPIorting (7 types of facilities). The level of utilization of PPI Dumai facilities is <100%, so the level of facility utilization has not reached optimal conditions. The development of the Dumai fishing port can be carried out using the S-O (strength-oPPIortunity) strategy, namely the strategy of aPPIlying strength by taking advantage of aggressive policy oPPIortunities