eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
PENURUNAN PRODUKTIVITAS PURSE SEINE DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI PULAU BAAI BENGKULU
Pulau Baai Beach Fisheries Port is the center of fishery economic growth and development in the city of Bengkulu, which is based on capture fisheries. The development of fishing business in fishing ports is a form of the development of capture fisheries activities in a port, which development defines more advanced fishing business activities. Productivity is one way to see the ability of fishing units to produce fish caught. The productivity of purse seine vessels is an important indicator to see how the production conditions produced by these fishing gears. This research was conducted at the Pulau Baai Beach Fishing Port, with the time for conducting the research starting from March 21 to May 30, 2022. The results showed that the productivity per trip of purse seine vessels has decreased in the last three years, where the productivity decrease was significantly by 35% occurred in 2019-2021, while in 2019-2020 the decline in productivity was 2.65 tonnes/trip, or 13.5%. Meanwhile, productivity based on the average GT of ships has exceeded the established standards
Ketahanan Lapar Benih Ikan Lele (Clarias sp.)
Ikan lele merupakan salah satu komoditas unggulan budidaya air tawar yang mana permintaan di masyarakat sangat tinggi. Benih ikan lele merupakan hal penting yang perlu diperhatikan guna memenuhi kebutuhan pasokan ikan lele secara global. Pakan merupakan kunci utama dalam kesuksesan pemeliharaan komoditas perikanan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat toleransi benih ikan lele terhadap ketahanan laparnya. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah eksperimental dengan menggunakan sampel benih ikan lele ukuran 5-6 cm dan terbagi atas tiga kelompok perlakuan,yaitu A (dua kali pemberian pakan); B (satu kali pemberian pakan); dan C (tanpa pemberian pakan). Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Budidaya Air Tawar (IBAT) Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup benih ikan lele mencapai 100% di semua kelompok perlakuan. Benih ikan lele mampu menahan lapar hingga 6 hari masa pemeliharaan. Parameter laju pertumbuhan harian dan kualitas air perlu dilakukan untuk menunjang hasil data penelitian
PENGARUH KONSENTRASI LINDI YANG DIFERMENTASI DENGAN AKTIFATOR MIKROORGANISME EM4 TERHADAP KEPADATAN SEL Chlorella sp.
Lindi merupakan cairan yang terbentuk dalam timbunan sampah yang kaya akan nutrisi dan dapat digunakan sebagai unsur hara untuk kultur mikroalga jenis Chlorella sp. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan konsentrasi lindi yang difermentasi dengan aktifator mikroorganisme EM4 terhadap kepadatan sel Chlorella sp. Design experiment yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan lima perlakuan dan tiga ulangan, yaitu P1 konsentrasi lindi 5%, P2 (10%), P3 (15%) P4 (20%), dan P5 (25%). Parameter yang diamati yaitu kepadatan sel, laju pertumbuhan spesifik, kadar nitrat dan fosfat, serta kualitas air (suhu, pH, dan oksigen terlarut). Data dianalisis dengan ANAVA menggunakan software SPSS 25. Kepadatan tertinggi diperoleh pada konsentrasi 25% sebesar 731,1 ± 2,55 ×104 sel mL-1, dengan puncak pertumbuhan pada hari ke-16. Kepadatan sel terendah pada konsentrasi 5% sebesar 256,4 ± 6,25 ×104 sel mL-1, dengan puncak pertumbuhan pada hari ke-6, laju pertumbuhan spesifik tertinggi pada konsentrasi lindi 5% sebesar 0,19 ± 0,00 sel mL-1 hari-1 dan terendah pada konsentrasi lindi 20% sebesar 0,08 ± 0,00 sel mL-1 hari-1. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa perbedaan konsentrasi lindi yang difermentasi dengan EM4 berpengaruh sangat nyata terhadap produksi Chlorella sp.Leachate is a liquid formed in heaps of waste that is rich in nutrients and could be used to supply the required nutrients in microalgae cultures such as Chlorella sp. This experiment aimed to determine the effect of different concentrations of leachate fermented using EM4 microorganism activator on the cell density of Chlorella sp. The experimental design used a Completely Randomized Design (CRD) with five treatments and three replications: P1 (5% leachate concentration), P2 (10%), P3 (15%), P4 (20%), and P5 (25%). The observed parameters were cell density, specific growth rate, nitrate and phosphate levels, and water quality (temperature, pH, and dissolved oxygen). The data were analyzed using ANOVA using SPSS 25 software. The highest density of Chlorella sp. was 731.1 ± 2.55 ×104 cells mL-1obtained by P5 treatment recorded at the growth peak in the 16th day. The lowest cell density of Chlorella sp. was measured in P1 treatment at 256.4 ± 6.25 ×104 cells mL-1 during the growth peak on day 6th. The highest and lowest specific growth rates of Chlorella sp. were observed in P1 (0.19 ± 0.00 cells mL-1 day-1)and P4 treatments (0.08 ± 0.00 cells mL-1 day-1), respectively based on these results, this recent study concludes that the fermented leachate using EM4 is capable of suppying sufficient nutrient and thus has a very significant effect on the production of Chlorella sp
STRUKTUR KOMUNITAS PLANKTON SEBAGAI INDIKATOR PRODUKSI BUDIDAYA UDANG VANAME (Penaeus vannamei)
Plankton berfungsi sebagai pakan alami dan parameter ekologi dalam kegiatan budidaya. Perubahan struktur komunitas plankton dapat memengaruhi produktivitas budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur komunitas plankton sebagai indikator produksi budidaya udang vaname. Sampel dikumpulkan pada tiga tambak budidaya udang vaname intensif di Garut, Jawa Barat, Indonesia (7⁰35’57.5”S-107⁰38’7”E) periode waktu November sampai dengan Desember 2021. Tambak budidaya yang diamati berjumlah tiga petak (20 x 20 m per kolam) dengan perlakuan yang sama. Komunitas plankton di tambak ditemukan lima kelompok (20 genus). Kelompok plankton tertinggi adalah kelompok lain-lain (enam genus), sedangkan kelompok fitoplankton tertinggi adalah Chlorophyceae (lima genus). Kelimpahan plankton berkisar 2–2826 ind mL-1. Nilai indeks keragaman masih dalam kategori baik dan stabil di mana keragaman tertinggi terdapat pada tambak 2 (H’ = 2,16) dan terendah pada tambak 1 (H’ = 1,83). Nilai keseragaman plankton termasuk dalam kategori tinggi berkisar 0,71–0,81 dan tidak terdapat genus plankton yang mendominasi. Kualitas air tambak budidaya memiliki hubungan sangat kuat terhadap kelimpahan plankton dengan nilai R2 = 0,89 dan produktivitas tambak memiliki hubungan sangat kuat dengan keragaman plankton dengan nilai R2 = 0,97. Berdasarkan hasil penelitian yang didapatkan, dapat disimpulkan bahwa struktur plankton dalam tambak udang berpengaruh kuat terhadap produktivitas udang vaname yang dibudidayakan. Plankton functions as live feed and ecological parameters in fish farming systems. Changes in the structure of the plankton community can affect aquaculture productivity. This study aimed to determine the plankton community structure as an aquaculture production indicator for Pacific whiteleg shrimp. Samples were collected in three intensive Pacific whiteleg shrimp farming ponds in Garut, West Java, Indonesia (7⁰35'57.5”S-107⁰38'7”E) from November to December 2021. The observed shrimp ponds consisted of three ponds (20 x 20 m per pond) and managed using the same shrimp farming inputs and practices. The study found that plankton community in the pond could be categorized into five groups consisting of 20 genera. The highest plankton group was the miscellaneous group (six genera), while the highest phytoplankton group was Chlorophyceae (five genera). The abundance of plankton ranged from 2–2826 ind mL-1. The diversity index value was considered good and in stable category where the highest diversity was in pond 2 (H' = 2.16) and the lowest in pond 1 (H' = 1.83). The uniformity value of plankton was in the high category ranging from 0.71-0.81 with no dominant plankton genus. This study found that the shrimp pond water quality has a very strong relationship with the abundance of plankton with a value of R2 = 0.89 and pond productivity has a very strong relationship with plankton diversity with a value of R2 = 0.97. Based on these findings, this study concludes that the dynamics of plankton structure in shrimp ponds affect the productivity of farmed Pacific whiteleg shrimp
EFEKTIVITAS PEMBERIAN PROBIOTIK YANG BERBEDA TERHADAP RESPON IMUN IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus) PADA BUDIDAYA SISTEM INTENSIF
Lele sangkuriang (Clarias gariepinus) adalah spesies budidaya yang digemari masyarakat Indonesia dan memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Budidaya ikan lele secara intensif yang saat ini banyak dikembangkan memiliki faktor resiko munculnya penyakit. Penyakit ini dapat menghambat keberhasilan budidaya lele, salah satu penyakitnya yaitu disebabkan oleh bakteri. Penyakit bakteri pada kegiatan budidaya ikan sudah menjadi masalah yang sering dihadapi pembudidaya. Salah satu jenis bakteri yang menyebabkan penyakit pada ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus) adalah bakteri Aeromonas hydrophilla. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efektivitas pemberian probiotik yang berbeda terhadap respon imun ikan lele sangkuriang pada budidaya sistem intensif. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Perikanan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Muhammadiyah Malang selama 40 hari. Ikan lele sangkuriang diberikan perlakuan perbedaan probiotik yang dicampur pada pakan untuk memaksimalkan efektivitas terhadap imunitas ikan lele sangkuriang. Metode yang digunakan adalah rancangnan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Perlakuan P1 (kontrol) tanpa menggunakan probiotik, perlakuan P2 menggunakan probiotik dengan merk EM4, perlakuan P3 dengan merk probiotik Raja Lele dan perlakuan P4 dengan merk probiotik Minaraya. Parameter yang diamati antara lain survival rate, total eritrosit, total leukosit, hematokrit, aktifitas fagositosis dan kualitas air yaitu suhu, pH dan DO. Hasil data dianalisis ANOVA menggunakan software Excel, didapatkan hasil berbeda nyata. Hasil tertinggi pada setiap parameter antara lain, parameter SR perlakuan P3 dengan nilai 85,73±0,36%, total eritrosit perlakuan P3 dengan nilai 273 104 sel/mm3, total leukosit perlakuan P3 110,16 103 sel/mm3, hematokrit perlakuan P3 dengan nilai 29,9±0,91%, AF perlakuan P3 dengan nilai 66±1,63%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa probiotik yang memberikan respon imun terbaik adalah pada perlakuan P3 (Raja Lele)
COMPARATIVE ASSESSMENT OF THE EFFECT OF GIBBERELLIC AND SALICYLIC ACIDS ON THE GROWTH AND BIOCHEMICAL PARAMETERS OF Phaeodactylum tricornutum
The research of the effect of gibberellic (0.4 - 3.8x 10-8 mol.L-1) and salicylic (0.4 - 3.8 x 10-5 mol.L-1) acids, in a wide range of their concentrations, on the growth indicators and biochemical composition of the cumulative culture of the microalgae Phaeodactylum tricornutum was carried out. It was determined that salicylic acid in a concentration of 0.4 x 10-5 mol stimulated cell growth by 184.6%, and gibberellic acid at a concentration of 0.39 x 10-8 mol by 181%, compared to the control. The effect of gibberellic acid during the experiment was expressed in the inhibition of protein accumulation in the culture, compared with the control. The use of salicylic acid led to a greater accumulation of protein in the culture than when using gibberellic acid. It was shown that salicylic acid had a positive effect on the accumulation of carbohydrates on day 9 and gibberellic acid on day 14 of culture. Gibberellic acid had no effect on the accumulation of lipids in the culture of microalgae. Under the action of salicylic acid for 14 days of cultivation, the lipid content increased by 18.5%, compared with the control. There were no quantitative differences in the content of chlorophyll when using two phytohormones. In this study, the optimal concentrations of gibberellic and salicylic acids for linear growth rate and the highest production of protein and carbohydrates for Phaeodactylum tricornutum were determined. Position, depending on the stage of microalgae growth, is noted
Penguatan Kelembagaan Korporasi Pembudidaya Tambak Udang dan Ikan di Kawasan Pertambakan di Indonesia
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh lambatnya pembentukan korporasi pada kawasan pertambakan di Indonesia. Tujuan penelitian adalah: (i) melakukan pemetaan keragaman penguasaan luasan tambak di berbagai pulau dan provinsi dalam kaitannya dengan pengembangan korporasi; (ii) mengidentifikasi peran komponen kelembagaan korporasi pertambakan; (iii) menyusun strategi pengembangan kelembagaan korporasi tambak di Indonesia, yang dituangkan pada model generic korporasi petambak untuk kawasan tambak dengan luas minimal 100 hektar. Pendekatan metodologis yang diterapkan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif dengan menggunakan analisis statistik deskriptif. Data Sensus Pertanian 2013 (jumlah sampel 138.865 responden) dan data hasil survey tahun 2023 di Kabupaten Brebes dan Kabupaten Indramayu (100 responden) digunakan untuk menjawab hipotesis penelitian ini. Hasil penelitian menunjukkan korporasi pembudidaya tambak dapat dibentuk pada beberapa lokasi di provinsi tertentu, dengan lima komponen korporasi walaupun belum berperan. Model generik korporasi pembudidaya tambak tersebut, menjadi basis untuk membangun bisnis on farm–off farm korporasi dengan memfungsikan lima komponen korporasi pembudidaya tambak melalui prinsip konsolidasi, kolaborasi dan integrasi. Implikasi kebijakan dari hasil penelitian ini adalah relevansi pemahaman bahwa: (i) identifikasi dan pemetaan sebaran petambak dan luas kawasan pertambakan harus ditempatkan sebagai langkah paling awal dalam pengembangan korporasi pada sektor kelautan dan perikanan, (ii) petambak mutlak harus diorganisasikan dalam Gapokkan sehingga dapat mengatasi masalah produksi dan pasar, dan (iii) komponen-komponen korporasi dari model generik merupakan hal yang vital di dalam upaya membangun korporasi pada satu kawasan pertambakan. Tittle: Strengthtening Institution of Shrimp and Fish Farmer Corporates in the Brackish Water Area in IndonesiaThis research is motivated by the slow formation of corporations in brackish water areas in Indonesia. The aims of the study were: (i) Mapping the diversity of pond control over various islands and provinces about corporate development; (ii) identifying the role of the institutional components of the aquaculture corporation; (iii) developing a strategy for developing pond corporation institutions in Indonesia, on the generic model of corporation farmers for pond areas with a minimum area of 100 hectares. The methodology of the study is a quantitative approach using descriptive statistical analysis. The answer research hypothesis used Agricultural Census data for 2013 (sample of 138,865 respondents) and survey data for 2023 in Brebes and Indramayu Regencies (100 respondents). The study highlights that pond cultivator corporations can be formed in several locations in certain provinces, with five corporate components, even though they have not played a role yet. The generic model of the pond cultivator corporation is the basis for building a corporate on farm – off farm business by functioning the five components of the pond cultivator corporation through the principles of consolidation, collaboration and integration. The policy implications of the results of this study are the relevance of the understanding that: (i) identification and mapping of the distribution of farmers and the area of brackish water must be placed as the earliest step in corporate development in the Maritime and Fisheries Sector, (ii) absolute farmers must be organized into Gapokkan so that they can overcome production and market issues, and (iii) the corporate components of the generic model are vital in the effort to build a corporation in a brackish water area
Strategi Pengembangan Budi Daya Ikan Nila Salin (Oreochromis niloticus) di Kabupaten Pati
Budi daya nila salin di Kabupaten Pati mengalami perkembangan yang cukup pesat, tetapi masih mengalami kendala untuk dapat menjadi salah satu komoditas unggulan. Tujuan penelitian ini adalah menggambarkan faktor-faktor yang memengaruhi budi daya nila salin dan merumuskan strategi untuk mengembangkan budi daya nila salin di Kabupaten Pati. Penelitian dilakukan di enam desa di tiga kecamatan yang ditetapkan sebagai sentra dan kawasan penyangga budi daya nila salin, yaitu Kecamatan Tayu, Margoyoso, dan Dukuhseti. Pengambilan data dilakukan pada bulan Juli sampai dengan Agustus 2021. Metode pengambilan data yang digunakan adalah studi pustaka, survei, dan wawancara dengan pemangku kepentingan yang berjumlah 34 responden. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan analisis PEEST, SWOT, dan QSPM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kekuatan utama budi daya nila salin di Kabupaten Pati adalah kualitas ikan nila salin yang lebih baik. Namun, belum adanya diversifikasi produk olahan nila salin menjadi kelemahan terbesar. Peningkatan permintaan terhadap ikan nila di pasar domestik menjadi peluang terbesar, sedangkan pandemi yang menyebabkan penurunan pendapatan pembudi daya menjadi ancaman utama pengembangan budi daya nila salin. Strategi yang dapat disarankan untuk mengembangkan budi daya nila salin di Kabupaten Pati secara berurutan berdasarkan prioritas adalah (1) meningkatkan ketersediaan dan kualitas input budi daya nila salin; (2) memperluas pemasaran, baik di pasar domestik maupun melalui ekspor; (3) meningkatkan kualitas budi daya nila salin berbasis lingkungan demi menjamin keberlanjutan; dan (4) meningkatkan keunggulan dan daya saing produk nila salin. Tittle: Strategies for Salin Tilapia (Oroechromis niloticus) Cultivation Development in Pati DistrictSaline-tilapia aquaculture in Pati District has been growing fast, but it faces several obstacles to becoming one major local commodity. This study aims to describe factors that influence saline-tilapia aquaculture, then formulate strategies that can be applied to develop the aquaculture of this commodity. The study focused on six villages in three sub-districts established as the center and buffer areas of saline-tilapia aquaculture, namely Tayu, Margoyoso, and Dukuhseti Sub-districts. Data collection was conducted from April to September 2021. It involved a document review, survey, interviews with relevant stakeholders, and 34 respondents. Then, the data were analyzed descriptively using PEEST, SWOT, and QSPM analysis. The study results show that the main strength of saline-tilapia aquaculture in Pati District was that saline-tilapia from Pati District has good quality. At the same time, the lack of diversification of products became a significant weakness. Moreover, an enormous opportunity was the higher demand for tilapia, especially in the domestic market, whereas the main threat was the pandemic that could decrease farmer income. Strategies that can be proposed based on the level of importance were (1) improving the availability and quality of saline-tilapia aquaculture inputs; (2) market expansion, both domestic or abroad; (3) enhancing the quality of environment-based aquaculture to ensure the sustainability; and (4) improving the excellence and competitiveness of saline-tilapia products