eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
STRATEGI BERBASIS SWOT UNTUK MENINGKATKAN BIOSEKURITI PADA PERUSAHAAN IMPORTIR IKAN KOI (Cyprinus carpio)
Implementasi biosekuriti dalam akuakultur merupakan komponen kunci dalam produksi ikan yang sehat, efisien, ramah lingkungan dan berkelanjutan. Biosekuriti dapat dijadikan perangkat manajerial praktis dalam meminimalisir kejadian wabah penyakit pada industri budidaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis implementasi biosekuriti pada perusahaan yang bergerak di bidang impor ikan Koi (Cyprinus carpio). Ruang lingkup penelitian meliputi observasi dan wawancara pemangku kepentingan aspek input, proses maupun output produksi. Selain observasi, pada penelitian ini dilakukan analisis SWOT untuk perbaikan kinerja penerapan biosekuriti. Analisis SWOT dilakukan melalui identifikasi faktor internal (kekuatan dan kelemahan), identifikasi faktor eksternal (peluang dan ancaman) penyusunan Matriks SWOT dan perumusan strategi. Hasil analisis tersebut dapat dijadikan panduan dalam pengambilan keputusan penggunaan strategi efektif dalam pencapaian tujuan perusahaan. Berdasarkan hasil penelitian, perusahaan telah mengimplementasikan biosekuriti sesuai dengan Standar Nasional Indonesia maupun Cara Karantina Ikan yang Baik dalam manajemen akses, manajemen kesehatan ikan, sanitasi dan hygiene serta pengelolaan limbah. Hasil analisis SWOT menunjukkan nilai kumulatif kekuatan dan kelemahan pada sumbu Y sebesar +1,78 sedangkan nilai kumulatif peluang dan ancaman pada sumbu X sebesar 0,84. Nilai tersebut mengindikasikan implementasi biosekuriti perusahaan berada berada pada kuadran 1 (growth oriented strategy). Hal ini mendorong penggunaan strategi agresif dengan memanfaatkan kekuatan internal dan peluang eksternal agar kesehatan ikan optimal, produktivitas meningkat, berdaya saing dan berkelanjutan. Implementasi biosekuriti memerlukan perbaikan dalam aspek peningkatan kompetensi personel, pengembangan laboratorium diagnostik dan penggunaan desinfektan yang lebih aman serta ramah lingkungan.Aquaculture biosecurity practices are a key component in healthy, efficient, environmentally friendly, and sustainable fish production. Biosecurity can be used as a practical managerial tool to minimize the occurrence of disease outbreaks in the aquaculture industry. This study was undertaken to analyze the biosecurity practices in a distributor of imported Koi fish (Cyprinus carpio) company. The scope of the research includes observation and stakeholder interviews regarding input, process and production output aspects. In addition to observations, this study conducted a SWOT analysis to improve biosecurity practices performance. The SWOT analysis was conducted by identifying internal factors (strengths and weaknesses), identifying external factors (opportunities and threats), compiling a SWOT Matrix, and formulating a strategy. Based on the research results, the company has implemented biosecurity in accordance with the Indonesian National Standards and Good Fish Quarantine Practices in access management, fish health management, sanitation and hygiene, and waste management. The SWOT analysis results show a cumulative value of strengths and weaknesses on the Y-axis is +1.78, while the cumulative value of opportunities and threats on the X-axis is 0.84. These values indicate that the company’s biosecurity practices are in quadrant 1 (growth-oriented strategy). This encourages the use of an aggressive strategy by leveraging internal strengths and external opportunities to optimize fish health, increase productivity, and achieve competitiveness and sustainability. Biosecurity practices require improvements in personnel competency, the development of diagnostic laboratories, and the use of safer and more environmentally friendly disinfectants
THE EFFECTIVENESS OF ENVIRONMENTAL DISPUTE RESOLUTION THROUGH NON-LITIGATION IN THE TERRITORIAL WATERS AND JURISDICTIONAL WATERS OF THE REPUBLIC OF INDONESIA
This study aims to examine the effectiveness of the law in resolving environmental disputes through non-litigation mechanism in the territorial waters and jurisdiction of the Republic of Indonesia. This study was conducted by analysing the process and results of handling environmental disputes handled through non-litigation mechanism by the Ministry of Environment (KLH), especially the Directorate of Environmental Dispute Resolution. This study uses a qualitative analysis method with a case study approach involving documentation and interviews with related parties at KLH. The focus of the study is to assess the success of the dispute resolution mechanism through non-litigation, the obstacles faced, and the contribution of legal policies in protecting the environment, especially in waters that have complexities related to the rights and obligations of the state and other actors. The results of this study are expected to provide recommendations for improving the environmental dispute resolution system through non-litigation mechanism in Indonesia, with the aim of increasing the effectiveness of environmental protection in the territorial waters and jurisdiction of Indonesia
Pertumbuhan Rumput Laut Jenis Gelidium Spinosum pada Kepadatan Bibit Berbeda di Media Tanam Substrat Buatan Karung Goni di Pantai Karapyak Pangandaran
Gelidium merupakan salah satu jenis rumput laut penghasil agar yang masih mengandalkan populasi alam dan belum dapat didomestikasi. Perubahan iklim dam eksploitasi dapat menyebabkan kepunahan populasi. Budidaya dengan substrat buatan diharapkan dapat menjadi alternatif metode domestikasi Gelidium. Karung goni merupakan serat alam dengan kekuatan mekanik yang baik yang mudah dijumpai sebagai limbah. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kemampuan tumbuh Gelidium pada substrat karung goni yang ditanam dengan kepadatan bibit berbeda. Penelitian ini menggunakan eksperimen rancangan acak lengkap dengan 3 perlakuan berbeda yaitu 25 gram, 50 gram, dan 75 gram dengan ukuran karung goni sebesar 30 cm x 30 cm. Kepadatan bibit ini mengacu pada perlakuan jumlah total bibit yang ditanam pada setiap substrat karung goni. Pertumbuhan Gelidium diamati selama 45 hari melalui pengukuran berat bibit dan panjang talus. Suhu, salinitas dan pH perairan dipantau selama penelitian. Perairan lokasi penelitian menunjukkan kondisi yang sesuai namun berfluktuasi sehingga mempengaruhi pertumbuhan rumput laut. Rata-rata suhu adalah 24,3-28,5 oC, salinitas 32-35 ppt dan pH 8,07-8,96. Hasil analisis varians menunjukkan bahwa kepadatan 25 gram menunjukkan pertumbuhan terbaik ditinjau dari pertambahan panjang talus yaitu menunjukkan nilai signifikan 0,004 (Sig.) < 0,05 (α). Gelidium menunjukkan rata-rata berat yang menurun dikarenakan hilangnya sampel bibit rumput laut yang disebabkan oleh faktor perairan dan omnivora laut. Penelitian lanjutan substrat buatan masih diperlukan penyeempurnaan agar dapat menunjang domestikasi dan budidaya rumput laut alam yang berkelanjutan
PENGELOLAAN EKOSISTEM MANGROVE BERDASARKAN NILAI MANFAAT SUMBERDAYA DI KABUPATEN TANA TIDUNG KALIMANTAN UTARA
Ekosistem mangrove berada di wilayah peralihan antara darat dan laut, ekosistem ini memiliki peran yang sangat penting baik secara ekologi maupun ekonomi sehingga mangrove dijuluki sebagai ekosistem yang multifungsi. Manfaat dari mangrove yang dapat dirasakan baik secara langsung maupun tidak langsung adalah tambak dan biota asosiasi yang memiliki nilai ekonomi. Tujuan penelitian ini adalah merancang pengelolaan ekosistem mangrove yang berkelanjutan. Metode pendekatan menggunakan analisis nilai manfaat langsung dan pengelolaan berkelanjutan serta model nilai ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa salah satu manfaat langsung dari mangrove di Kabupaten Tana Tidung adalah budidaya tambak dan kepiting bakau yang memiliki nilai ekonomi tinggi, nilai produksi tambak menghasilkan sekitar 108.600 kilogram pertahunnya dengan nilai rupiah sekitar Rp 6.035.900.000 dari dua jenis komoditi yakni ikan bandeng (Chanos chanos) dan udang windu (Penaeus monodon) dari luasan tambak sekitar 49.310,20 ha. Hasil tangkapan sampingan pembudidaya tambak yakni kepiting bakau sebesar Rp 102.600.000 pertahun. Hasil tambak menunjukkan bahwa perikanan budidaya di Kabupaten Tana Tidung memiliki berpotensi ekonomi yang tinggi dapat meningkatkan perekonomian dibidang perikanan budidaya sehingga pengelolaan berkelanjutan dan model nilai ekonomi sebagai salah satu kebijakan alternatif dapat diterapkan di Kabupaten Tana Tidung. Model pengelolaan ini memperhatkan keberlanjutan ekosistem, dan dapat diimplementasikan oleh masyarakat sekitar sehingga dapat meningkatkan perekonomian masyarakat. Pemanfaatan ekosistem mangrove yang dilakukan harus kegiatan usaha yang ramah lingkungan seperti tambak silvofishery sehingga terbentuknya keseimbangan antara ekologi dan ekonomi ekosistem mangrove di Kabupaten Tana Tidung.Mangrove ecosystems are found in the coastal and estuarine areas. Because of their significant ecological and economic role, mangroves are known as multifunctional ecosystems. Ponds and the associated biota are two examples of the direct and indirect benefits of mangrove ecosystems. The aims of this reaserch is design management sustainable of mangrove ecosystem. Utilizing direct benefit-value analysis is the approach method. The findings demonstrated that one of the direct advantages of mangroves in Tana Tidung Regency is the cultivation of highly valuable mangrove crabs and ponds. The value of pond production in Tana Tidung Regency generates approximately 108.600 kilograms annually, valued at Rp 6.035.900.000, from two types of commodities: tiger shrimp (Panaeus monodon) and milkfish (Chanos chanos). from an approximate 49,310.20 hectacre pond. Mangrove crab bycatch amounts to Rp 102.600,000 annually. This demonstrates the significant economic potential of aquaculture in Tana Tidung Regency, indicating the necessity for management to maintain the sustainability of the ecosystem while also improving the aquaculture industry's economic standing. Tana Tidung Regency should consider implementing the sustainable management and economic value model, as it takes the sustainability of the ecosystem into account. Following the establishment of these groups, it is imperative to modify eco-friendly economic sectors, including silvofishery ponds, to maintain equilibrium between the mangrove ecosystem's ecology and economy in Tana Tidung Regency
PERIKANAN PELAGIS BESAR DENGAN JARING INSANG DI PERAIRAN TARAKAN KALIMANTAN UTARA FISHERIES OF LARGE PELAGIC BY GILLNET IN THE WATERS OF TARAKAN NORTH KALIMANTAN
Sumberdaya ikan pelagis besar yang tertangkap dengan jaring insang di perairan Tarakan Kalimantan Utara berkontribusi terhadap produksi perikanan sebesar 16,03%. Penelitian ini dilakukan bulan Januari hingga Novemver 2021, bertujuan mengetahui jenis ikan pelagis besar yang tertangkap, serta distribusi panjang cagak tenggiri papan (Scomberomorus gutatus) dan tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal terbuat dari kayu bertonase 3 - 5 GT dengan mesin motor 14 PK, jaring dioperasikan pada kedalaman 6 -15 m baik didasar dan pertengahan perairan. Tawur jaring sebanyak 10 -15 pertrip selama 3 - 5 hari. Hasil tangkapan diperoleh sebanyak 27 jenis, yaitu 21 kelompok demersal, 3 jenis pelagis besar, 2 pelagis kecil dan 1 ikan karang. Komposisi jenis didominasi ikan kakap putih (Lates calcarifer) 30,4%, merah (Lutjanus johni) 21,9%, kurau (Eleutheronema tetradactylum) 17,9%, kerong kerong (Pomadasys kaakan) 5,5%, tenggiri papan (Scomberomorus guttatus) 4,4%, bambangan (Lutjanus malabaricus) 4,0%, kerapu (Epinephelus magniscuttis) 3,2%, sebelah (Psettodes erumei) 2,7%, tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus) 2,2%, merah taring (Lutjanus lemniscatus) 2,0%, bawal putih (Pampus argenteus) 1,1%, kakap hitam (Macolor niger) 1,0% dan lainnya kurang dari 1%. Hasil tangkapan tertinggi pada Januari sebesar 7.336,8 kg dan terendah Oktober sebesar 2.699,2 kg dengan rata-rata sebesar 4.544,0 kg perbulan. Upaya penangkapan tertinggi pada Januari sebanyak 474 trip dan terendah Oktober sebanyak 148 trip. Kelimpahan tertingi pada Agustus sebesar 24,5 kg/trip dan terendah September sebesar 14,6 kg/trip. Daerah penangkapan terdistribusi pada 03°61’254’’LU - 117°70’254’’BT hingga 03°16’293’’LU -117°99’113’’BT dan Panjang pertama kali tertangkap (Lc) tenggiri papan (Scomberomorus gutatus) 38,65 FLcm dan tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus) 43,48 FL cm. The large pelagic fish resources caught with gillnets in the waters of Tarakan, North Kalimantan, contribute 16.03% to fisheries production. This study was conducted from January to November 2021, aiming to identify the species of large pelagic fish caught, as well as the fork length distribution of Spanish mackerel (Scomberomorus guttatus) and Korean mackerel (Scomberomorus koreanus). The results showed that the fishing vessels were made of wood with a tonnage of 3 - 5 GT, powered by 14 HP engines. The gillnets were operated at depths of 6 - 15 meters, both at the bottom and mid-water levels. Each trip involved setting the nets 10 - 15 times over a duration of 3 - 5 days. A total of 27 species were caught, comprising 21 demersal species, 3 large pelagic species, 2 small pelagic species, and 1 reef fish species. The species composition was dominated by: Barramundi (Lates calcarifer) at 30,4%, Golden snapper (Lutjanus johnii) 21,9%, Fourfinger threadfin (Eleutheronema tetradactylum) 17,9%, Javelin grunter (Pomadasys kaakan) 5.5%, Indo–pacific king mackerel (Scomberomorus guttatus) 4,4%, Malabar snapper (Lutjanus malabaricus) 4.0%, Spotted grouper (Epinephelus magniscuttis) 3.2%, Indian halibut (Psettodes erumei) 2.7%, Spanish mackere (Scomberomorus koreanus) 2,2%, Darktail snapper (Lutjanus lemniscatus) 2.0%, Silver pomfret (Pampus argenteus) 1.1%, Black and white snapper (Macolor niger) 1.01% Other species made up less than 1%. The highest catch was recorded in January at 7,336.8 kg, while the lowest was in October 2,699.2 kg, with an average monthly catch of 4,544.0 kg. The highest fishing effort occurred in January with 474 trips, while the lowest was in October with 148 trips. The highest abundance was observed in August at 24.5 kg/trip, and the lowest in September 14.6 kg/trip. The fishing area was distributed between the coordinates 03°61’254’’N - 117°70’254’’E and 03°16’293’’N - 117°99’113’’E. The length at first capture (Lc) for Spanish mackerel (Scomberomorus guttatus) was 38.65 cm FL, and for Korean mackerel (Scomberomorus koreanus) was 43.48 cm FL.
DEGRADASI DAERAH PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN TELUK BANTEN, PROVINSI BANTEN
Perikanan tangkap di Teluk Banten didominasi oleh perikanan skala kecil, dimana intensitas penangkapan dan penggunaan alat penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan diduga menyebabkan degradasi daerah penangkapan ikan. Selain itu, aktivitas daratan memberikan dampak yang negatif terhadap kualitas perairan. Penelitian ini bertujuan menganalisis kualitas perairan dan intensitas penangkapan, serta menentukan tingkat degradasi daerah penangkapan ikan di perairan Teluk Banten. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei dan wawancara. Data kualitas perairan dianalisis secara deskriptif berdasarkan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 51 Tahun 2004. Data perikanan tangkap yang ramah lingkungan diambil secara langsung dan dianalisis berdasarkan kriteria Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Status degradasi DPI ditentukan melalui pembobotan gabungan kondisi kualitas perairan dan perikanan tangkap yang ramah lingkungan. Berdasarkan hasil penelitian, kualitas perairan Teluk Banten masih dalam kondisi baik untuk kehidupan biota, walaupun parameter kecerahan dan salinitas belum sesuai dengan baku mutu air laut. Alat penangkapan ikan yang beroperasi di perairan Teluk Banten didominasi oleh jenis alat tangkap yang bersifat ramah lingkungan, seperti gillnet, pancing ulur, bagan perahu, dan bubu. Perairan Teluk Banten sudah terjadi degradasi daerah penangkapan ikan kategori ringan yaitu sekitar 58% yang diakibatkan oleh intensitas penangkapan dan penggunaan alat tangkap jaring arad. Pemanfaatan ruang laut untuk perikanan tangkap di Teluk Banten cukup tinggi sekitar 0,43 km2 untuk setiap unit penangkapan ikan
DESAIN DAN PEMBUATAN PROTOTIPE PEMBERI PAKAN OTOMATIS UNTUK BUDIDAYA UDANG SKALA MINI EMPANG PLASTIK (BUSMETIK) BERBASISKAN ARDUINO
Mini Scale Shrimp Culture with Plastic Pond (Busmetik) is now widely used by medium-small shrimp farmers. Busmetik is characterized by a small pond area (< 1000 m2). In order to increase the productivity of shrimp farming for medium-small scale shrimp cultivators, the use of an automatic feeder is adapted to the dimensions of the mini pond plots and the price is affordable. Using Arduino to make automatic feeders that are cheap and easy to maintain can be a solution. Data collection was carried out by making three circles with a radius of 1 m, 2 m and 3 m. Meanwhile, the amount of mass of feed stocked can be estimated by adjusting the time of the ejection motor's life. The longer the duration, the more feed will be spread. The test results on the automatic feeder ejection distance showed that the majority of the feed was spread over a 3 m radius of 65.75%. The resulting automatic feeder is capable of ejecting an average of ± 1 kg of feed for 3 minutes with a mass of 2 grams of feed in the meter. These results indicate that with relatively low manufacturing costs an effective automatic feeder can be produced for mini-scale pond plots with an area of up to 100 m2. This device significantly reduces the time and effort required for daily feeding routines. Teknologi Budidaya Udang Skala Mini Empang Plastik (Busmetik) kini telah ramai digunakan oleh pembudidaya udang skala mini. Busmetik dicirikan dengan luasan petakan tambak yang tidak terlalu luas (< 1000 m2). Dalam rangka meningkatkan produktivitas budidaya udang bagi pembudidaya udang skala mini adalah dengan penggunaan pemberi pakan otomatis (automatic feeder) yang disesuaikan dengan dimensi petakan tambaknya yang mini dan harganya yang terjangkau. Pemanfaatan arduino untuk membuat automatic feeder yang berbiaya murah dan mudah dari segi perawatan dapat menjadi sebuah solusi. Pengambilan data dilakukan dengan membuat tiga buah lingkaran dengan radius 1 m, 2 m dan 3 m. Sedangkan, jumlah massa pakan yang ditebar dapat diestimasi dengan mengatur waktu dari hidupnya motor lontar. Semakin lama durasinya maka jumlah pakan yang ditebar akan semakin banyak. Hasil pengujian terhadap jarak lontaran automatic feeder menunjukkan mayoritas jumlah pakan tersebar di radius 3 m sebesar 65,75 %. Automatic feeder yang dihasilkan mampu melontarkan pakan rata-rata sekitar ± 1 kg selama 3 menit dengan massa pakan pada penakar adalah sebesar 2 gram. Hasil ini menunjukkan, dengan biaya pembuatan yang relatif murah dapat dihasilkan suatu automatic feeder yang efektif untuk luasan petakan tambak skala mini dengan luasan hingga 100 m2. Alat ini mampu mengurangi waktu dan tenaga yang dikeluarkan dalam rutinitas pemberian pakan
HUBUNGAN KELIMPAHAN MIKROPLASTIK DENGAN KERUSAKAN HISTOPATOLOGIS PADA INSANG DAN USUS UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) YANG DIBUDIDAYAKAN DI TAMBAK DI PROBOLINGGO, JAWA TIMUR, INDONESIA
Peningkatan kontaminasi mikroplastik di lingkungan tambak menjadi ancaman serius bagi kesehatan udang vaname (Litopenaeus vannamei). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara kelimpahan mikroplastik pada insang dan usus dengan tingkat kerusakan histopatologis udang vaname yang dibudidayakan di tambak yang berlokasi di Probolinggo, Jawa Timur, Indonesia. Penelitian dilakukan secara deskriptif kuantitatif menggunakan analisis korelasi Spearman. Sampel udang diambil dari tiga lokasi tambak dan dianalisis secara histologis untuk menilai skor kerusakan jaringan. Hasil menunjukkan korelasi sangat kuat dan signifikan antara kelimpahan mikroplastik dengan skor kerusakan insang (r = 0,815; p-value = 0,007), degenerasi usus (r = 0,885; p-value = 0,002), nekrosis (r = 0,804; p-value = 0,009), dan inflamasi (r = 0,688; p-value = 0,041). Temuan ini menunjukkan bahwa mikroplastik berkontribusi besar terhadap kerusakan struktural organ respirasi dan pencernaan udang. Penelitian ini menegaskan pentingnya pengelolaan pencemaran mikroplastik dalam sistem budidaya berkelanjutan. The increasing presence of microplastic contamination in shrimp ponds poses a serious threat to the health of whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei). This study aimed to analyze the relationship between microplastic abundance in gills and intestines with the level of histopathological damage in whiteleg shrimp cultivated in ponds located in Probolinggo, East Java, Indonesia. A quantitative descriptive method was used with Spearman correlation analysis. Shrimp samples were collected from three pond locations and histologically examined to assess tissue damage scores. The results showed a very strong and significant correlation between microplastics abundance and gill damage (r = 0.815; p-value = 0.007), intestinal degeneration (r = 0.885; p-value = 0.002), necrosis (r = 0.804; p-value = 0.009), and inflammation (r = 0.688; p-value = 0.041). These findings indicated that microplastics significantly contribute to structural damage in the respiratory and digestive organs of shrimp. This study highlighted the importance of effectively managing microplastic pollution in sustainable aquaculture systems
HYBRID VIGOR AND GROWTH PERFORMANCE OF HYBRID MAHSEER (Tor spp.) IN GROW-OUT
Mahseer (Tor spp.) is a freshwater fish commodity with a high market value. However, its slow growth to reach consumable size has resulted in inadequate production. The aim of this study is to analyze the hybrid vigor - that are heterosis, heterobeltiosis, and growth performance - of a crossbred population of Mahseer (Tor spp) resulting from interspecies breeding. Broodstock of Mahseer from three different species were prepared for reciprocal breeding, producing nine offspring populations consisting of six hybrid offspring and three purebred offspring populations. The breeding process was carried out using artificial breeding methods, employing intramuscularly injected breeding stimulant hormones. Results show that the hybrid population of Tor soro and Tor tambroides exhibits better heterosis and heterobeltiosis in final weight, specific growth rate, and survival rate. The crossbreeding of Tor soro and Tor tambroides also exhibited better growth performance compared to other crossbred population in terms of final weight growth, specific growth rate, and survival rates, which were 64.20 g, 1.42%/day, and 100% respectively
EFFECTIVENESS OF BIOFLOC, PROBIOTICS AND THE COMBINATIONS ON GROWTH, IMMUNE RESPONSES AND RESISTANCE OF VANNAMEI SHRIMP INFECTED WITH Vibrio parahaemolyticus
Vibrio parahaemolyticus strain that produces PirA and PirB toxins is the main causative agent of Acute Hepatopancreatic Necrosis Disease (AHPND) in vannamei shrimp. This study aimed to evaluate the effect of biofloc application, probiotic Pseudoalteromonas piscicida 1Ub, and their combination on growth, immune response and resistance of vannamei shrimp infected with V. parahaemolyticus strain. This study used a completely randomized design consisting of biofloc-based system treatment with or without probiotic 1Ub and normal seawater as control. All treatment groups were challenged with V. parahaemolyticus AHPND strain at a cell density of 105 CFU mL”1 through immersion, while the negative control was reared without being pathogenic challenged. The shrimp used were in averaged body weight of 1.3 ± 0.002 g, reared for 21 days and fed five times a day at 06:00, 10:00, 14:00, 18:00, and 22:00 WIB. The results showed that the B+Pro combination challenge test treatment resulted the best growth performance (specific growth rate, absolute length gain and feed conversion ratio) (P<0.05) compared to other challenge test treatments. hrimp treated with B+Pro also showed a lower intestinal cell population of V. parahaemolyticus RfR, and significantly higher immune response values (P<0.05) than those of other challenge test treatments and K+. Furthermore, those parameters supported positive impact on final shrimp survival rates in the experiment. This study shows that the application of combination of biofloc and 1Ub probiotic bacteria can significantly protect and increase the resistance of vannamei shrimp to V. parahaemolyticus AHPND infection