eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    Peramalan Kerapatan Air Laut (Densitas) Selama Dua Belas Hari Menggunakan Model Regresi: Studi Kasus Laut Timor.

    Get PDF
    Laut Timor adalah salah satu perairan strategis yang penting untuk kegiatan pelayaran kapal selam. Informasi akurat tentang nilai densitas di perairan Laut Timor masih sangat terbatas dan sulit dilakukan secara tepat. Penelitian ini menggunakan 6 stasiun observasi yang dianggap mewakili daerah penelitian untuk melihat karakteristik sekitar daerah penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengestimasi nilai densitas air laut di Laut Timor dengan regresi linear menggunakan data model Copernicus Marine Environment Monitoring Service (CMEMS) sebagai variable independent dan data in situ World Ocean Database (WOD) sebagai variable dependent di lapisan permukaan, lapisan thermocline dan lapisan dalam. Komputasi yang digunakan untuk menentukan nilai densitas menggunakan persamaan TEOS-10 UNESCO yang telah diinstall di Ocean Data View (ODV) dan hasilnya digunakan untuk pembangunan persamaan regresi menggunakan modul Analysis Toolpak yang telah diinstall di Microsoft excel. Data yang digunakan meliputi posisi, kedalaman, salinitas, suhu pada kedalaman tertentu, kemudian dilakukan forecasting model secara statistika untuk memprediksi densitas air laut di Laut Timor selama 12 hari di lapisan permukaan, lapisan Termoklin dan lapisan  dalam. Penelitian ini penting karena nilai densitas laut yang akurat sangat diperlukan dalam mendukung pelayaran kapal selam, terutama dalam hal navigasi dan keseimbangan hidrostatik. Hasil penelitian ini berupa nilai forecasting estimasi nilai densitas pada 3 lapisan kedalaman pada lapisan permukaan nilai tertinggi 1.021,8 kg/m³ dengan nilai rata-rata MAPE 0,25% dan lapisan Termoklin densitas tertinggi 1.024,79 kg/m³ dengan nilai rata-rata MAPE 1,65% dan laut dalam densitas tertinggi 1.032,30 kg/m³ dengan nilai rata-rata MAPE 0,021%. Diharapkan bahwa penelitian ini dapat memberikan kontribusi positif dalam pengembangan ilmu pengetahuan -oseanografi di Laut Timor

    Front Matter Desember 2023

    No full text
    Front Matter Desember 202

    IMMUNOSTIMULATORY EFFECTS OF ULVAN ON TRYPSIN-MEDIATED PROTEIN DIGESTION IN THE GUT OF PACIFIC WHITELEG SHRIMP (Litopenaeus vannamei)

    Get PDF
    Litopenaeus vannamei has emerged in the aquaculture industry. Production consistency, nutrition, and disease management play critical roles, particularly the digestive enzymes such as trypsin. This study assesses Ulvan, an immunostimulant from Ulva lactuca, on shrimp trypsin activity. Trypsin has been found to significantly enhance the activity of hemocyanin phenoloxidase, a crucial component of humoral immunity. This study aims to evaluate the potency of ulvan related to trypsin as an immunostimulant agent, extracted from Ulva sp.  Ulvan, extracted using various methods (P-HWE, O-HWE, P-A-HWE, and O-A-HWE), was evaluated using different doses of (0 g kg-1 (Control), 0.75 g kg-1 (ULV-0.75), 1.50 g kg-1 (ULV-1.50), and 3.00 g kg-1 (ULV-3.00) of feed). The O-A-HWE exhibited the fastest and highest increase in trypsin activity on day 4, surpassing the control on days 2, 3, 7, and 8. The P-HWE, O-HWE, and P-A-HWE also showed significant changes in trypsin activity compared to the control on specific days. Meanwhile, trypsin activity in Ulvan-fed shrimp did not significantly differ from the control on days 0 and 1. The differences emerged on day 2 and 3, notably between ULV-1.50 g kg−1 and ULV-0.75 g kg−1. The ULV-3.00 g kg−1 showed no significant difference from ULV-1.50 g kg−1. O-A-HWE demonstrated significant differences in trypsin activity compared to other Ulvan extracts, suggesting its potential to enhance shrimp health.Litopenaeus vannamei memiliki peran yang besar dalam industri akuakultur. Konsistensi dalam produksi, nutrisi, dan pengelolaan terhadap penyakit merupakan bagian yang sangat penting, terutama enzim pencernaan, di antaranya tripsin. Tripsin berfungsi untuk meningkatkan fenoloksidase hemosianin, yang peranannya penting untuk kekebalan. Studi ini mengevaluasi Ulvan, yaitu bahan yang bersifat imunostimulan dari Ulva sp., terhadap aktivitas tripsin udang. Ulvan, diekstraksi menggunakan berbagai metode (P-HWE, O-HWE, P-A-HWE, dan O-A-HWE), dievaluasi menggunakan perlakuan dosis yang berbeda (0 g kg-1 (Kontrol), 0,75 g kg-1 (ULV-0,75), 1,50 g kg-1 (ULV-1,50), dan 3,00 g kg-1 (ULV-3,00) pada pemeliharaan udang vaname selama 10 hari. O-A-HWE menunjukkan peningkatan aktivitas tripsin tercepat dan tertinggi pada hari ke-4, melebihi kontrol pada hari ke-2, 3, 7, dan 8. P-HWE, O-HWE, dan P-A-HWE juga menunjukkan perubahan signifikan dalam aktivitas tripsin dibandingkan dengan kontrol pada hari-hari tertentu. Sementara aktivitas tripsin dalam udang yang diberi Ulvan tidak berbeda secara signifikan dari kontrol pada hari ke-0 dan 1, perbedaan mulai terlihat pada hari ke-2 dan 3, terutama antara ULV-1,50 g kg−1 dan ULV-0,75 g kg−1. ULV-3,00 g kg−1 tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan dari ULV-1,50 g kg−1. O-A-HWE menunjukkan perbedaan signifikan dalam aktivitas tripsin dibandingkan dengan ekstrak Ulvan lainnya, sehingga berpotensi dalam meningkatkan kesehatan udang

    PENGARUH WARNA LATAR WADAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN SINTASAN LARVA IKAN NILEM (Osteochilus hasselti)

    Get PDF
    Penglihatan bagi sebagian besar larva ikan memiliki peran yang sangat penting yang digunakan dalam mendeteksi keberadaan pakan. Salah satu faktor yang memengaruhi penglihatan dalam kondisi alami bergantung pada warna latar habitat yang disukai ikan tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh warna latar wadah terhadap pertumbuhan dan sintasan larva ikan nilem (Osteochilus hasselti). Penelitian ini dilakukan dengan metode eksperimen menggunakan rancangan acak lengkap satu faktor dengan lima perlakuan warna latar media dengan tiga ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah perbedaan warna wadah yaitu Wo (wadah oranye), Wbr (wadah biru), Wm (wadah merah), Wb (wadah bening), dan Wh (wadah hitam). Penelitian ini menggunakan larva ikan nilem berusia 5 hari setelah menetas dengan ukuran 0,5 ± 0,03 cm dengan pada tebar 2 ekor L-1. Selama pemeliharaan, ikan diberi pakan Artemia selama 10 hari pertama dan dilanjutkan dengan Moina sp. Hasil penelitian menunjukkan bahwa warna latar wadah berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan nilem (P<0,05). Perlakuan terbaik adalah Wo (wadah oranye) dengan pertumbuhan bobot mutlak 1,08 ± 0,03 g, pertumbuhan panjang mutlak 3,04 ± 0,02 cm, laju pertumbuhan spesifik 14,57 ± 0,07 % hari-1, dan sintasan 93,33 ± 2,89 %. Hal ini ditunjukkan dengan respons larva ikan nilem terhadap pakan yang diberikan.  Vision ability has a very important role for most fish larvae which are used to detect the presence of food. One of the factors that affecting vision in natural conditions depends on the favorable background color of the fish’s habitat. The aim of study was to determine the effects of the background colors of the container on the growth and survival of bonylip barb (Osteochilus hasselti) larvae. The experimental method has used in this study was one factor completely randomized design with five different background’s colors of the container with three replications for each treatment. The treatments in this study were different color containers, namely Wo (orange container), Wbr (blue container), Wm (red container), Wb (clear container), and Wh (black container). This study used bonylip larvae aged 5 days after hatching with a size of 0,5±0,03 cm with a stocking of 2 individuals L-1. During the rearing period, the fish were fed Artemia for the first 10 days and continued with Moina sp. The results showed that the background’s color of the container significantly affected on the growth and survival of bonylip barb larvae (P<0.05). The best treatment was Wo (orange container) with an absolute weight growth of 1.08 ± 0.03 g, an absolute length growth of 3.04 ± 0.02 cm, a specific growth rate of 14.57 ± 0.07% day-1, and a survival of 93.33 ± 2.89%. It was indicated with the response of bonylip barb fish larvae to the administered feed

    Front Matter

    No full text

    MINIREVIEW ON SUSTAINABLE ANTIVIRULENCE STRATEGY FOR AQUACULTURE

    Get PDF
    The increasing occurrence of antibiotic-resistant bacteria is one of the major challenges currently faced by the aquaculture sector. Ineffective applications of antibiotics to treat bacterial diseases, leading to the need for alternative strategies to address the problem. The antivirulence approach is a highly promising strategy that aims to stop pathogenic bacteria from causing harm to the host by disrupting their virulence mechanisms. This approach involves understanding the mechanisms of bacterial pathogenicity that can be developed into new therapeutic methods. There have been numerous advancements in combating bacterial infections, such as disrupting host-pathogen communication and inhibiting quorum sensing (QS). Antivirulence therapy offers a significant advantage as it specifically targets bacterial virulence without imposing excessive pressure on bacterial growth, reducing the risk of resistance development. This review outlines the limitations of antibiotic use and presents current insights into bacterial pathogenicity mechanisms and antivirulence strategies in aquaculture. It particularly highlights the impact of host-pathogen signaling via catecholamines, stress hormones, and QS mechanisms in certain aquaculture-pathogenic bacteria. The influence of host stress hormones on pathogen growth and virulence is noteworthy. Quorum sensing (QS) is known to regulate the expression of certain virulence genes in response to bacterial density by releasing and detecting a small signal molecule called autoinducers. This review further explains various strategies to interfere with QS mechanisms, including inhibiting signal molecule biosynthesis, using QS antagonists, chemical inactivation, or biodegradation of QS signals. These promising strategies have been considered as the first step and proof of concept of antivirulence strategies to prevent disease outbreaks in aquaculture.Meningkatnya jumlah bakteri yang resisten terhadap antibiotik merupakan salah satu tantangan besar yang saat ini dihadapi oleh sektor akuakultur. Penerapan antibiotik yang tidak efektif untuk mengobati penyakit bakterial, menyebabkan perlunya strategi alternatif untuk mengatasi masalah tersebut. Pendekatan antivirulensi adalah strategi yang sangat menjanjikan yang bertujuan untuk menghentikan bakteri patogen dalam menyebabkan kerusakan pada inang dengan mengganggu mekanisme virulensinya. Pendekatan ini melibatkan pemahaman mekanisme patogenisitas bakteri yang dapat dikembangkan menjadi metode terapi baru. Terdapat banyak perkembangan dalam melawan infeksi bakteri, seperti mengganggu komunikasi inang-patogen dan menghambat quorum sensing (QS). Terapi antivirulensi menawarkan keuntungan yang signifikan karena secara spesifik menargetkan virulensi bakteri tanpa memberikan tekanan berlebihan pada pertumbuhan bakteri, sehingga mengurangi risiko berkembangnya resistensi. Reviu ini menguraikan keterbatasan penggunaan antibiotik dan menyajikan wawasan terkini mengenai mekanisme patogenisitas bakteri dan strategi antivirulensi dalam budidaya perikanan. Reviu ini terutama menyoroti dampak sinyal patogen inang melalui katekolamin, hormon stres, dan mekanisme QS pada bakteri patogen tertentu dalam akuakultur. Pengaruh hormon stres inang terhadap pertumbuhan dan virulensi patogen patut diperhatikan. Quorum sensing (QS) diketahui mengatur ekspresi gen virulensi tertentu sebagai respons terhadap kepadatan bakteri dengan melepaskan dan mendeteksi molekul sinyal kecil yang disebut autoinduser. Reviu ini lebih lanjut menjelaskan berbagai strategi untuk mengganggu mekanisme QS, termasuk menghambat biosintesis molekul sinyal, menggunakan antagonis QS, inaktivasi kimia, atau biodegradasi sinyal QS. Strategi yang menjanjikan ini telah dianggap sebagai langkah pertama dan bukti dari konsep strategi antivirulensi untuk mencegah wabah penyakit pada budidaya perikanan

    LAND SUITABILITY MODELING FOR FISHERY RESOURCE ENHANCEMENT IN THE PADANG PARIAMAN REGENCY, WEST SUMATERA, INDONESIA: GIS AND MULTI-CRITERIA EVALUATION APPROACHES

    Get PDF
    [Land Suitability Modeling for Fishery Resource Enhancement in the Padang Pariaman Regency, West Sumatera, Indonesia: GIS and Multi-Criteria Evaluation Approaches] Land suitability analysis is required for successful aquaculture planning. Due to the geographical setting of the Padang Pariaman Regency, aquaculture development is likely hindered by the vulnerable coastal area. Suitability assessment of aquaculture projects is crucial to specify the best method espousing sustainable development in the study area. This study aims to select the most proper location to be developed as a center of shrimp aquaculture in the Padang Pariaman Regency. This study employed the multi-criteria decision-making (MCDM), and analytical hierarchy process (AHP) approaches. This study combined the GIS-based analysis, AHP, and MCDM to yield the most proper location for aquaculture development. The three sub-models (engineering, water quality, and infrastructure) are overlaid using the weighted linear combination (WLC) technique. The infrastructure sub-model resulted in the highest coverage of highly suitable criteria with 61.74%. By contrast, the highest percentage of the unsuitable category was found in the water quality sub-model with 17.67%. Of particular concern, 87.5 % of the study area is suitable for aquaculture development. The remaining region is categorized as highly suitable with 11.93%, found in the eastern Padang Pariaman. Thus, we conclude that developing shrimp aquaculture in the study area is possible. Still, the future environmental impacts should be considered beforehand

    Lactococcus garvieae: CHARACTERIZATION AND ABILITY TO INHIBIT THE GROWTH OF AQUACULTURE PATHOGENIC BACTERIA

    No full text
    Lactococcus garvieae is a gram-positive ovoid cocci bacterium formerly classified as a member of the Lactococcus genus. This study aims to isolate L. garvieae from catfish rearing pond and characterize it as a potential probiotic candidate. L. garvieae was identified and characterized through phenotypic and genotypic observation, genomic % G~C content analysis, cell surface hydrophobicity assays, acidification test, in vitro antagonism, and a profile of antimicrobial activities. The MT597595.1 accession number corresponds to L. garvieae, as determined by a molecular identification test. Biochemical characterization was performed using API 50 CH kit. The genomics %G~C content of L. garvieae was 51.8. Findings from acidification ability tests, in vitro antagonism tests, and the ability of bacteria to grow in broth medium at pH 4 reveal that L. garvieae can inhibit the growth of Aeromonas hydrophila, Streptococcus agalactiae, Streptococcus iniae, and Edwardsiella ictaluri. However, it does not suppress the growth of L. garvieae  Edwardsiella tarda. Remarkably, L. garvieae has the ability to reduce the pH of neutral broth medium turning it acidic. Furthermore, L. garvieae’s hydrophobic cell surface exhibited an adhesive, hydrophobic, and protein surface cell content with a compact growth pattern consistent with postive SAT and MATH assay. Antimicrobial activity tests, encompassing 11 antibiotics, disclosed resistance to  Nalidixic acid while displaying intermediate sensitivity to Streptomycin and Trimethoprim. In conclusion, L. garvieae demonstrates an inhibitory effect on the growth of pathogenic bacteria, underlining its potential as a probiotic candidate

    ANALISIS KEBUTUHAN SISTEM CERDAS PENGAWASAN PENANGKAPAN IKAN DI WILAYAH PENGELOLAAN PERIKANAN 711

    Get PDF
    Kegiatan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) merupakan salah satu permasalahan pengelolaan perikanan tangkap di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (WPPNRI) 711 yang meliputi Selat Karimata, Laut Natuna, dan Laut China Selatan. Sementara itu, terdapat keterbatasan Pemerintah Indonesia dalam pengawasan penangkapan ikan, salah satunya belum didukung dengan teknologi terintegrasi dan memanfaatkan kecerdasan buatan (artificial intelligence). Untuk itu perlu adanya sistem pengawasan berbasis kecerdasan buatan yang akan meningkatkan efektivitas dan efisiensi pengawasan. Penelitian bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis kebutuhan sistem cerdas pengawasan penangkapan ikan di WPPNRI 711 sebagai alternatif rekomendasi bagi pemangku kepentingan terkait. Penelitian menggunakan analisis situasional dan analisis kebutuhan untuk melihat kondisi objektif terkini aspek teknologi pengawasan penangkapan ikan di WPPNRI 711. Berdasarkan hasil penelitian, maka sistem cerdas pengawasan yang dibutuhkan, yaitu sistem yang mampu menganalisis dugaan pelanggaran secara cepat dan akurat serta menyampaikan peringatan dini pelanggaran kepada nakhoda/pemilik kapal.Illegal fishing activities are one of the problems with capture fisheries management in the Indonesian Fisheries Management Area (WPPNRI) 711 which includes the Karimata Strait, Natuna Sea, and South China Sea. Meanwhile, there are limitations of the Indonesian government in fishing surveillance, one of which is not supported by integrated technology and utilizing artificial intelligence. For this reason, there is a need for an artificial intelligence-based surveillance system that will increase the effectiveness and efficiency of surveillance. The research aims to determine and analyze the need for a smart fishing surveillance system at WPPNRI 711 as an alternative recommendation for relevant stakeholders. The research uses situational analysis and needs analysis to see the current objective conditions of the technological aspect of fishing surveillance at WPPNRI 711. Based on the research results, the smart surveillance system needed can analyze suspected violations quickly and accurately and provide early warnings of violations of the ship's captain/owner

    STRATEGI IMPLEMENTASI PERJANJIAN KERJA LAUT BAGI AWAK KAPAL PERIKANAN: STUDI KASUS DI PELABUHAN PERIKANAN SAMUDERA NIZAM ZACHMAN JAKARTA

    Get PDF
    Perjanjian kerja laut (PKL) dibuat sebagai perlindungan atas risiko kerja bagi awak kapal perikanan. Pelabuhan Perikanan Samudera Nizam Zachman (PPSNZ) merupakan pelabuhan perikanan terbesar di Indonesia, sehingga PKL menjadi sangat penting untuk diimplementasikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan PKL di PPSNZ, merumuskan alternatif strategi, dan menentukan prioritas strategi implementasi PKL di PPSNZ.  Penelitian dilaksanakan pada Desember 2022 sampai April 2023. Metode deskriptif digunakan dengan pendekatan studi kasus. Wawancara dilakukan terhadap 100 responden yang ditentukan melalui purposive sampling. Analisis SWOT dan AHP digunakan dalam menganalisis data. Implementasi kebijakan mengacu pada teori George C. Edwards III (1980). Hasil penelitian menunjukan bahwa PKL bagi awak kapal perikanan telah diimplementasikan di PPSNZ. Terdapat beberapa kendala dalam implementasi PKL di PPSNZ seperti: adanya awak kapal yang kabur, keterbatasan pemahaman awak kapal, lemahnya basis data dan kurangnya peran asosiasi awak kapal. Urutan prioritas strategi implementasi PKL di PPSNZ adalah mengoptimalkan sumber daya, menciptakan sistem berbasis elektronik dan terintegrasi, pendampingan dan pemberlakuan sanksi, serta sosialisasi.Sea work agreements (PKL) are made as protection against the work risks for fishing vessel crew. Nizam Zachman Ocean Fishing Port (PPSNZ) is the largest fishing port in Indonesia, so PKL is very important to be implemented. This research aims to analyze the implementation of PKL in PPSNZ, formulate alternative strategies, and determine strategic priorities for implementing PKL in PPSNZ. The research was carried out from December 2022 to April 2023. A descriptive method was used with a case study approach. Interviews were conducted with 100 respondents determined using purposive sampling technique. SWOT and AHP analysis were used to analyze the data. Policy implementation refers to the theory of George C. Edwards III (1980). The research results show that PKL for fishing vessel crews has been implemented at PPSNZ. There are several obstacles in the implementation of PKL in PPSNZ such as: crew members who run away, limited understanding of fishing vessel crews, weak databases, and lack of role of ship crew associations. The order of priority for the PKL implementation strategy at PPSNZ is optimizing existing resources, creating an electronic and integrated system, assistance and imposition of sanctions, and socialization

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇