eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    Pengolahan Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Kupas Mentah Beku Peeled Cut Deveined Tail On

    Get PDF
    Udang salah satu produk perikanan yang istimewa karena memiliki kandungan gizi yang tinggi dan aroma yang spesifik sehingga menjadikan udang sebagai komoditas primadona ekspor perikanan Indonesia. Salah satu jenis produk udang yang diekspor adalah udang Peeled Cut Deveined Tail On (PCDTO). Tujuan penelitian mengidentifikasi alur proses udang PCDTO, mutu, rendemen, produktivitas, serta penerapan kelayakan dasar (Sertifikat Kelayakan Pengolahan/SKP). Pengujian organoleptik bahan baku udang segar mengacu pada SNI 2728:2018, sensori produk akhir mengacu pada SNI 3457:2021 yang dilakukan oleh 6 (enam) panelis dengan 10 kali pengamatan dan 3 (tiga) kali ulangan. Pengujian mikrobiologi dan kimia dilakukan sebanyak 3 kali pengamatan yang mengacu pada SNI. Perhitungan rendemen dan produktivitas dilakukan pada tahap pemotongan kepala & kupas kulit dan pembuangan usus sebanyak 10 (sepuluh) kali pengamatan dengan 3 (tiga) kali ulangan. Penilaian Sertifikat Kelayakan Pengolahan (SKP) mengacu Permen KP No. 17 tahun 2019. Hasil uji organoleptik bahan baku sebesar 8,1 dan sensori produk akhir sebesar 8,9. Hasil pengujian mikrobiologi dan kimia sudah memenuhi SNI. Rendemen dan produktivitas yang dihasilkan adalah sesuai dengan size udangnya. Hasil penilaian SKP memperoleh predikat A (baik sekali)

    Penerapan Good Manufacturing Practices (GMP) dan Sanitation Standard Operating Prosedure (SSOP) pada Pengolahan Rajungan (Portunus pelagicus) Pasteurisasi dalam Kaleng di PT. NXX, Makassar

    Get PDF
    Pengalengan ikan dilakukan secara hermetis yang diikuti dengan tahapan strerilisasi untuk mengawetkan produk. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pengalengan rajungan pasteurisasi dalam kaleng menggunakan metode observasi dan survey, mengikuti langsung seluruh proses pengalengan, mulai penerimaan bahan baku hingga pemuatan. Pengujian  mutu dilakukan dengan organoleptik dan sensori, pengukuran suhu serta pengamatan penerapan GMP dan SSOP. Analisa data dilakukan deskriptif dan komparatif. Alur proses pengolahan ranjungan sudah sesuai SNI yang terdiri dari 12 tahapan yaitu penerimaan bahan baku, sortasi, pendektesian logam, pencampuran, pengisisan dan penimbangan, penutupan kaleng, pasteurisasi, pendinginan, pengkodean, pengemasan, penyimpanan dingin, pemuatan. Hasil uji nilai sensori daging rajungan rebus dingin rata-rata 8,  dan sensori rajungan kaleng pasteurisasi nilai rata-rata 8.  Bobot tuntas adalah 98,51%±0,04. Penerapan suhu telah dilakukan dengan baik pada penerimaan bahan baku 1,0°C±03, sortasi  4,01°C ±0,3; pencampuran 5,3°C ±0,5, Pengisian dan penimbangan 6,7°C ±0,4; penutupan kaleng 7,9°C ±0,3; pasteurisasi 84,0°C ±04 dan pendinginan 0,1°C ±1,0. Penerapan GMP dan SSOP telah dilakukan dengan baik oleh perusahaan dan dapat mengurangi adanya kontaminasi di dalam proses produksi

    Strategi Pengembangan Produk Rumput Laut (Gracilarria sp) Sebagai Beras Analog

    Get PDF
    Karbohidrat menjadi kebutuhan pokok pangan manusia. Perkembangan kawasan perkotaan yang pesat mengikis lahan pertanian yang subur beralih fungsi menjadi berbagai fasilitas umum. Mengembangkan beras analog dari rumput laut merupakan kebutuhan mendasar untuk men substitusi kebutuhan beras dari dalam negeri. Kawasan pesisir yang sangat luas di Indonesia merupakan penyangga lumbung pangan untuk menjaga ketersediaan bahan pangan berkelanjutan. Penelitian bertujuan menemukan wujud strategi implementasi mengembangkan kawasan pesisir sebagai penghasil beras analog dari rumput laut. Metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kombinasi kualitatif dan kuantitatif. Data penelitian diperoleh dari pengamatan empiris pada beberapa kawasan pesisir di pulau Jawa, serta melakukan wawancara langsung dengan masyarakat pembudidaya rumput laut. Data diolah dengan pendekatan aritmetika sederhana, sedangkan strategi implementasi disusun dari hasil analisis regresi dan korelasi dikombinasikan dengan deskripsi pada diagram jaring laba-laba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hilirisasi produk rumput laut menjadi inovasi dan motivasi utama yang harus didorong Pemerintah kepada masyarakat pesisir untuk menghasilkan bahan pangan utama pengganti beras dari rumput laut demi menjaga stabilitas ketahanan pangan

    Analisis Perbandingan Kristalisasi Garam Pada Tunnel Plastik dan Rumah Kristalisasi di Kabupaten Kebumen

    Get PDF
    Penggunaan tunnel plastik dan rumah kristalisasi sebagai media untuk produksi garam mampu mengatasi gangguan cuaca, terutama hujan, sebagaimana lazim terjadi pada produksi garam konvensional. Beberapa kajian telah menunjukkan keunggulan masing-masing media tersebut, namun belum ada kajian yang membandingkan keduanya secara langsung terutama dari aspek kristalisasi garam. Riset ini bertujuan membandingkan kristalisasi garam di tunnel plastik dan rumah kristalisasi yang berada di pesisir Kabupaten Kebumen. Riset ini mengamati kristal garam yang terbentuk dari brine yang sama serta mengukur parameter lingkungan di sekitar tunnel plastik dan rumah kristalisasi. Hasil riset menunjukkan bahwa kristalisasi garam di tunnel plastik relatif lebih cepat dan jumlahnya lebih banyak namun kristal garam dari rumah kristalisasi lebih solid, berwarna lebih jernih dan ukuran kristal tunggal lebih besar. Meskipun kedua fasilitas sama-sama memanfaatkan efek rumah kaca, rata-rata suhu ruangan dan suhu brine di tunnel plastik lebih tinggi dibandingkan di rumah kristalisasi, Suhu ruangan dan brine tertinggi di tunnel plastik mencapai 57,4°C dan 60,4°C, sedangkan suhu maksimum ruangan dan brine di rumah kristalisasi hanya 51,5°C dan 53°C. Perbedaan kemampuan tunnel plastik dan rumah kristalisasi dalam memerangkap panas menghasilkan kristal garam yang berbeda. Rumah kristalisasi memerlukan beberapa alternatif pembenahan agar dapat bekerja lebih optimal. Petani garam dapat mengklasifikasikan garam dari tunnel plastik dan rumah kristalisasi berdasarkan perbedaan ukuran, warna dan bentuk kristal, sebagai upaya diversifikasi produk untuk memperluas segmentasi pasar

    STUDI EFISIENSI ASIMILASI DAN KECERNAAN LIMBAH ORGANIK PADAT TAMBAK UDANG SEBAGAI PAKAN TERIPANG PASIR

    Get PDF
    Laju pertumbuhan teripang pasir yang relatif lambat dan kurangnya informasi mengenai pakan yang baik menyebabkan intensifikasi budidaya teripang pasir (Holothuria scabra) kurang berkembang. Berkaitan dengan pemanfaatan limbah organik padat tambak udang sebagai pakan teripang pasir, uji efisiensi asimilasi dan kecernaan penting dilakukan untuk memastikan kemanfaatan riil material organik tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efisiensi asimilasi dan kecernaan limbah sedimen tambak udang sebagai sumber nutrisi teripang pasir. Pemanfaatan limbah organik padat tambak udang sebagai pakan teripang pasir dilakukan dengan cara dicampurkan ke dalam pasir dengan komposisi 40% dari total substrat. Penelitian menggunakan delapan unit akuarium berukuran 40 x 30 x 40 cm3, yaitu empat unit untuk uji efisiensi asimilasi dan empat unit lainnya digunakan untuk uji kecernaan. Hasil penelitian ini menunjukkan teripang pasir dapat memperoleh nutrisi dan energi dari sedimen tambak udang, dimana kemampuan tersebut ditunjukkan dengan nilai efisiensi asimilasi (AE) bahan organik sebesar 53,20 ± 13,23%, efisiensi asimilasi bakteri total sebesar 41,76 ± 1,69%, kecernaan total sebesar 46,63 ± 17,57%, kecernaan protein sebesar 71,52 ± 17,11%, dan kecernaan fosfor 73,32 ± 13,83%. Kemampuan tersebut mengofirmasi teripang pasir sebagai salah satu spesies ekstraktif yang dapat mengonsumsi limbah organik padat tambak udang. Teripang pasir berpotensi besar untuk dapat dimanfaatkan sebagai spesies Budidaya Multi-Tropik Terpadu, khususnya dalam pemanfaatan nutrisi limbah organik padat tambak udang.The relatively slow growth rate of sea cucumber (Holothuria scabra) and limited numbers of alternative feed have prevented the development and intensification of sea cucumber aquaculture. Anecdotal evidences suggested that solid organic waste from shrimp ponds could be used as feed for sea cucumbers. However, the efficiency of assimilation and digestibility of the waste have to be tested scientifically to ensure its real potential and benefits to farmed sea cucumber. This study aimed to determine the efficiency of assimilation and digestibility of solid organic waste sourced from shrimp ponds to be used as a feed for sea cucumber. The solid organic waste was treated by mixing it with a sand substrate at 40% of the total substrate. This study used eight aquarium units measuring 40 x 30 x 40 cm3, from which, four units for assimilation efficiency tests, and the remaining four for digestibility tests. The results of this study indicate that sea cucumbers were able to make use of nutrients and energy from the shrimp solid waste-based feed, where this ability was indicated by the assimilation efficiency (AE) of organic matter of 53.20 ± 13.23%, the assimilation efficiency of total bacteria of 41.76 ± 1.69 %, total digestibility of 46.63 ± 17.57%, protein digestibility of 71.52 ± 17.11%, and phosphorus digestibility of 73.32 ± 13.83%. The findings from this research confirms that sea cucumber can use the solid organic waste nutrients from shrimp ponds as feed and has a great potential as Integrated Multi-Trophic Aquaculture species to utilize solid organic waste nutrients from shrimp ponds

    Front Matter

    No full text

    EFEKTIVITAS EKSTRAK SEDUHAN BATANG POHON PISANG AMBON DALAM MENCEGAH INFEKSI Aeromonas hydrophila PADA LARVA IKAN NILA

    Get PDF
    Salah satu kendala dalam produksi ikan nila adalah serangan penyakit Motile Aeromonad Septicaemia (MAS) disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Alternatif pengendalian MAS adalah dengan menggunakan antibakterial dari bahan herbal. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis dosis optimal ekstrak batang pisang ambon dalam mencegah infeksi A. hydrophila pada larva ikan nila. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap tiga perlakuan dan 3 ulangan meliputi 0,1%, 0,25%, dan 0,5% dosis ekstrak. Aplikasi ekstrak pada larva ikan melalui imersi selama 30 menit. Larva dipelihara 7 hari dan diuji tantang dengan bakteri A. hydropphila 10t CFU/mL selama 7 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan ekstrak batang pisang ambon menghasilkan kelangsungan hidup larva ikan nila lebih tinggi pasca uji tantang. Dosis ekstrak batang pisang 0,25% dan 0,5% mempertahankan kelangsungan hidup lebih baik yakni 90,01±1,81%, dengan RPS 84,54%. Aktivitas lisozim pada perlakuan 0,25% dan 0,5% menunjukkan hasil yang lebih tinggi. Penelitian ini menunjukkan bahwa ekstrak seduh batang pisang dapat mencegah infeksi bakteri A. hydrophila.One of the challenges in tilapia production is the outbreak of Motile Aeromonad Septicemia (MAS) during the larval stage, caused by the bacterium Aeromonas hydrophila. An alternative method for controlling MAS is the use of antibacterial agents derived from herbal materials. The aim of this study was to analyze the optimal dosage of ambon banana stem extract in preventing A. hydrophila infection in tilapia larvae. The study used a completely randomized design with three treatments and three replicates, including 0.1%, 0.25%, and 0.5% extract dosages. The extract was applied to the larvae by immersion for 30 minutes. The larvae were reared for 7 days and then challenged with A. hydrophila bacteria at 10t CFU/mL for 7 days. The results showed that the ambon banana stem extract treatment resulted in higher survival rates of tilapia larvae after the challenge test. Dosages of 0.25% and 0.5% extract maintained better survival rates at 90.01±1.81%, with an RPS of 84.54%. Lysozyme activity in the 0.25% and 0.5% treatments showed higher results. This study demonstrates that banana stem extract can prevent A. hydrophila bacterial infection

    Valuasi Ekonomi Jasa Ekosistem Kawasan Konservasi Perairan di Kabupaten Indragiri Hilir, Provinsi Riau, Indonesia

    Get PDF
    Kawasan Konservasi Perairan di Kabupaten Indragiri Hilir memiliki berbagai potensi yang bernilai ekonomis tinggi yang dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan. Ekosistem mangrove yang cukup luas dan pantai pasir putih di Desa Pulau Cawan, serta potensi perikanan, habitat penting, sumber daya pesisir yang turut mendukung penghidupan ekosistem dan perekonomian masyarakat setempat, namun pengetahuan tentang jasa ekosistem yang diberikan oleh kawasan tersebut termasuk dampak kesejahteraan dari penetapan Kawasan Konservasi Perairan masih terbatas. Penelitian dilakukan pada bulan April—Desember 2022 di Kawasan Konservasi Perairan Kabupaten Indragiri Hilir. Tujuan penelitian ini ialah untuk mengestimasi nilai ekonomi jasa ekosistem kawasan menggunakan metode survei, yaitu melakukan wawancara langsung terhadap masyarakat yang memanfaatkan sumber daya kawasan dengan bantuan kuesioner, terdiri dari 100 responden. Analisis yang digunakan ialah menggunakan kerangka total economic value (TEV) dan millenium ecosystem assesment (MEA). Hasil kajian menunjukkan bahwa nilai ekonomi jasa ekosistem Kawasan Konservasi Perairan di Kabupaten Indragiri Hilir diperkirakan cukup besar, yaitu (US10.009.176.460,22)pertahunatausamadenganRp151.819.119.562.076,00pertahun,yangterdiridari:nilaijasapenyediasebesarRp158.465.766.901,11(0,1010.009.176.460,22) per tahun atau sama dengan Rp151.819.119.562.076,00 per tahun, yang terdiri dari: nilai jasa penyedia sebesar Rp158.465.766.901,11 (0,10%) per tahun, jasa pengaturan Rp147.791.990.696.920,00 (97,35%) per tahun, jasa pendukung Rp3.862.168.227.413,18 (2,54%) per tahun, dan jasa kultural Rp6.494.870.841,00 (0,004%) per tahun sehingga diharapkan pemerintah daerah setempat dapat meningkatkan jasa ekosistem kawasan berdasarkan jasa lainnya dengan tetap memperhatikan keberlanjutan ekosistem Kawasan Konservasi Perairan.Title: Economic Valuation of Ecosystem Services in Marine Conservation Area in Indragiri Hilir Regency, Riau Province, IndonesiaThe Marine Protected Area in Indragiri Hilir Regency has various potentials with high economic value that can be utilized in a sustainable manner. The extensive mangrove ecosystem and white sand beach in Pulau Cawan Village, as well as fishery potential, important habitats, coastal resources which also support the livelihoods of the ecosystem and the economy of the local community. However, knowledge about the ecosystem services provided by these areas including the welfare impacts of the establishment of Marine Protected Areas is still limited. The research was conducted in April - December 2022 in the Indragiri Hilir Regency Marine Protected Area. The purpose of this study was to estimate the economic value of regional ecosystem services, using a survey method, namely conducting direct interviews with communities that utilize regional resources with the help of a questionnaire, consisting of 100 respondents. The analysis used is the total economic value (TEV) and millennium ecosystem assessment (MEA) framework. The results of the study show that the economic value of the ecosystem services of the Marine Protected Area in Indragiri Hilir Regency is estimated to be quite large, namely (US 10,009,176,460.22) per year or equal to IDR 151,819,119,562,076.00 per year, which consists of: the value of the service provider is IDR 158,465,766,901.11 (0.10%) per year, regulatory services IDR 147,791,990,696,920.00 (97.35%) per year, supporting services IDR 3,862,168,227,413.18 (2.54%) per year, and cultural services IDR 6,494,870,841.00 (0.004%) per year. So that it is hoped that the local regional government will be able to increase the area's ecosystem services based on other services while still paying attention to the sustainability of the ecosystem of Marine Protected Areas

    INCLUSION EFFECT OF NUCLEOTIDE ON GROWTH AND PROTEIN RETENTION IN PACIFIC WHITE SHRIMP Litopenaeus vannamei (BOONE, 1931)

    Get PDF
    Aquaculture growth is expected to continue to increase until it, intensification of vanamei shrimp culture is one of the best possibilities for increasing aquaculture production. Limited supply, price, and environmental factors are issues in meeting the needs of fish meals in feed. This study aimed to evaluate the effectiveness of nucleotides (NT, Nucleoforce AquaTM, Bioiberica, SAU, Spain) as feed additives available commercially in optimizing feed formulations from plant-based ingredients in the production of Pacific white shrimp (Litopenaeus vannamei). A 60-day growth trial was conducted to evaluate five dietary treatments: Basal-1 with 10% fish meal; Basal-2 with 6% fish meal; Diet-1: 10% fish meal+0.1% NT; Diet-2:8% fish meal+0.1% NT and Diet-3: 6% fishmeal+0.1% NT. Results showed that the inclusion of 0.1% nucleotide into the diet formulation has been able to provide good results. Adding nucleotides provides better performance and significantly increases the final biomass, final individual body weight (FBW), feed conversion ratio (FCR), feed protein retention, and average daily growth (ADG) (P<0.05) and thermal growth coefficient (TGC). The best results is Diet-1 (10% FMNT treatment) with the best protein content of 37.06% ± 0.15, showed the best performance of growth parameters (ADG, FBW, SR, TGC, PER, and RP) and lowest FCR. The addition of 0.1% nucleotide proves that the functional and nutritional properties of NT have many advantages in increasing the growth rate and more efficient in protein absorption. Therefore, 0.1% NT can be recommended as a supplement in shrimp feed

    GROWTH, IMMUNITY, AND RESISTANCE OF CATFISH (Clarias sp.) REARED IN BIOFLOC SYSTEM SUPPLEMENTED WITH Bacillus NP5 AGAINST Aeromonas hydrophila INFECTION

    Get PDF
    Catfish Clarias sp. is one of the leading commodities in demand and has economic value. Low survival due to cannibalism and disease is a serious problem. To overcome these problems is application of bioflocs and probiotics Bacillus NP5. This study aimed to analyze the appropriate dose of Bacillus NP5 probiotic addition to the biofloc system to improve the health status, growth performance, water quality, and resistance to A. hydrophila. The catfish fry (Clarias sp.) with an average weight of 1.79±0.05 g was used in the experiment for 40 days, reared in tanks with the dimension of 60×30×35 cm3. The experiment applied a completely randomized design (CRD) of five treatments with three replicates, namely KN (negative control), KP (positive control), BFT (biofloc application without probiotic bacteria), BFT4 (biofloc application with Bacillus NP5 104 CFU mL-1), BFT6 (biofloc application with Bacillus NP5 106 CFU mL-1). Treatments tested were challenged with A. hydrophila density 104 CFU mL-1 by immersion, except the negative control. After 40 days of rearing, biofloc and Bacillus NP5 treatments had a significant effect (P < 0.05) on growth performance, immune response, water quality, total bacteria in water and the gut compared to the control treatment (P < 0.05). In addition, total A. hydrophila in liver, kidney and water were lower (P < 0.05) in BFT4 and BFT6 treatments than the control. The conclusion of this study is that the bioflocs supplemented with Bacillus NP5 improved the growth performance, immune response and resistance of catfish to A. hydrophila infection

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇