eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    EFEKTIVITAS DAN KERAMAHAN LINGKUNGAN ALAT TANGKAP PAYANG: SEBUAH KAJIAN LINGKUNGAN DI PELABUHAN RATU

    Full text link
    Salah satu pusat industri perikanan tangkap yang didominasi oleh perikanan skala kecil di Indonesia adalah Pelabuhan Ratu. Pelabuhan Ratu sebagai pusat kegiatan nelayan dan ekonomi perikanan Sukabumi-Jawa Barat. PPN Pelabuhan Ratu adalah salah satu fasilitas penting yang perlu dimanfaatkan dan dikelola agar dapat berkinerja dengan baik. Salah satu alat tangkap yang banyak digunakan oleh masyarakat Pelabuhan Ratu adalah alat tangkap payang. Pengoperasian alat tangkap payang memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi, sehingga termasuk ke dalam kategori usaha berisiko tinggi. Maka dari itu, tujuan dari riset ini adalah mengobservasi pengoperasian alat tangkap payang serta mengetahui komposisi hasil tangkapan utama dan sampingan, selektivitas dan keramah lingkungan alat tangkap bagan apung yang dioperasikan di PPN Pelabuhan Ratu. Hasil tangkapan dari payang adalah ikan semar dan ikan sekartaji. Komposisi masing-masing jenis tangkapan ikan semar (Mene maculata) dan ikan sekartaji (Scomberoides sp) berjumlah 85% dan 15%. Proporsi alat tangkap payang dapat dikategorikan sebagai ramah lingkungan jika dilihat dari segi proporsi hasil tangkapan. Sementara apabila dilihat dari tingkat kematangan gonad ikan hasil tangkapan, sebanyak 10 dari 17 (59%) ikan semar yang ditangkap masih memiliki panjang ikan di bawah ukuran matang gonad. Hal ini menjadi indikasi bahwa alat tangkap payang belum ramah lain lingkungan apabila ditinjau dari aspek kematangan gonad hasil tangkapan. Hasil selektivitas indeks keragaman (H’) Shannon mendapatkan nilai (H’) sebesar 0,022. Nilai H’ < 1 sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat keanekaragaman hasil tangkapan kapal payang di Pelabuhan Ratu rendah

    DINAMIKA POPULASI DAN STATUS STOK IKAN TEMBANG PUTIH (Escualosa thoracata) DI PERAIRAN KABUPATEN CIREBON BERDASARKAN SPAWNING POTENTIAL RATIO

    Full text link
    The white sardine (Escualosa thoracata) is an essential small pelagic species supporting coastal fisheries in Java's northern waters. This study evaluated the population dynamics and stock status of the species in the coastal waters of Cirebon Regency, using the Spawning Potential Ratio (SPR) as a biological indicator. Field sampling was carried out from December 2024 to August 2025 at principal fishing grounds near the estuaries of Bungko Lor and Cisanggarung. Length–weight data, size distribution, and gonadal maturity stages were analyzed to estimate growth parameters, mortality rates, and key size indicators (Lc₅₀% and Lm₅₀%). The SPR was determined using a length-based approach. The catch was dominated by individuals measuring 66–80 mm total length (TL), with the highest frequency in the 70–74 mm TL class. The length–weight relationship followed W = 0.0000436 L2.6497 (R² = 0.8433), indicating negative allometric growth. The first capture size (Lc₅₀%) was 71.0 mm TL, slightly smaller than the size at first sexual maturity (Lm₅₀%) of 73.0 mm TL. The von Bertalanffy growth parameters were L∞ = 96.08 mm TL and K = 1.60 yr⁻¹. The exploitation rate (E) reached 0.76, exceeding the optimal level (≈ 0.5), while the SPR was 19%, below the recommended biological threshold of 20% needed to sustain recruitment. The white sardine population in Cirebon coastal waters is under heavy fishing pressure, leading to reduced reproductive potential

    PEMODELAN DAERAH POTENSI PENANGKAPAN IKAN TUNA MADIDIHANG MENGGUNAKAN GENERALIZED ADDITIVE MODEL DI SAMUDRA HINDIA BAGIAN TENGGARA

    Full text link
    Ikan tuna madidihang (Thunnus albacares) merupakan salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan tersebar luas di perairan tropis dan subtropis, termasuk Samudra Hindia bagian tenggara. Untuk menjaga keberlanjutan stok dan efektivitas penangkapan, diperlukan pendekatan ilmiah dalam mengidentifikasi habitat potensial spesies ini secara spasial dan temporal. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model estimasi daerah potensial penangkapan ikan tuna madidihang menggunakan Generalized Additive Model (GAM), dengan memanfaatkan data hasil tangkapan rawai tuna dan parameter oseanografi (suhu permukaan laut dan klorofil-a) dari layanan Marine Copernicus. Model dibangun berdasarkan data tahun 2023 dan divalidasi dengan data lingkungan tahun 2024. Hasil menunjukkan bahwa SPL dan CHL berpengaruh signifikan terhadap nilai Catch Per Unit Effort (p < 0.01), dengan model terbaik menjelaskan 21,2% deviasi data dan nilai koefisien determinasi R² sebesar 0.7038. Visualisasi spasial memperlihatkan bahwa habitat potensial tuna madidihang berada pada wilayah dengan suhu 28 – 29°C dan konsentrasi klorofil-a 0.1 – 0.3 mg/m³. Temuan ini menunjukkan bahwa model GAM dapat secara efektif mengidentifikasi pola spasial dan temporal habitat tuna, serta dapat digunakan sebagai alat bantu pengambilan keputusan dalam pengelolaan perikanan yang adaptif dan berbasis data

    PEMANFAATAN RUMPUT LAUT (Eucheuma spinosum) MENJADI KERUPUK DAN ANALISIS KELAYAKAN USAHA DI UMKM SARI LAUT KABUPATEN SUMENEP

    Full text link
    Indonesia is the world's largest seaweed exporter. However, its use as a raw material for functional food products has not been optimally utilized. Approximately 75% of seaweed is exported abroad as dried raw seaweed. In Sumenep Regency, some businesses process seaweed into crackers, but many people are unaware of the product's prospects and potential. The purpose of this article is to determine the ingredients, equipment, and stages of seaweed cracker processing, the sensory value of the final product, and the feasibility analysis of the seaweed cracker business. The research was conducted from March to April 2024 at the UMKM Sari Laut in Dungkek District, Sumenep Regency. The method used is a qualitative method. Sensory assessment refers to SNI 8272:2016 concerning fish crackers. Analysis of the feasibility of business potential is carried out by calculating using Return on Investment (RoI) and Payback Period (PP). The ingredients used in making seaweed crackers are Seaweed crackers using seaweed, flour, water, sugar, salt, flavoring, garlic, baking soda, and cake raising. The processing stages include washing, grinding, dough making and mixing, molding, steaming, cooling, cutting, drying, weighing, and packaging. Crackers with added seaweed obtained a final product sensory score of 8.42. The profit and loss analysis of the seaweed cracker business showed positive results with a profit value of 50%. The business is feasible to develop, as evidenced by the Return on Investment (RoI) value of 450% and the Payback Period (PP) taking 5.4 days.Indonesia adalah eksportir rumput laut terbesar di dunia, di satu sisi pemanfaatan rumput laut sebagai bahan baku produk pangan fungsional belum dilakukan secara optimal. Sekitar 75% di ekspor keluar negeri dalam bentuk bahan baku mentah rumput laut kering. Di Kabupaten Sumenep terdapat unit usaha yang mengolah rumput laut menjadi kerupuk, namun banyak masyarakat yang tidak mengetahui prospek dan potensi usaha produk tersebut. Tujuan penulisan artikel ini adalah untuk mengetahui bahan, peralatan, dan tahapan proses pengolahan kerupuk rumput laut, nilai sensori produk akhir, analisis kelayakan usaha kerupuk rumput. Penelitian dilaksanakan bulan Maret sampai April 2024 di UMKM Sari Laut Kecamatan Dungkek Kabupaten Sumenep. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif. Penilaian sensori mengacu pada SNI 8272:2016 tentang kerupuk ikan. Analisis kelayakan usaha dilakukan dengan menghitung Return on Investment (RoI) dan Payback Period (PP). Bahan yang digunakan pada pembuatan kerupuk rumput laut adalah rumput laut, tepung, air, gula, garam, penyedap rasa, bawang putih, soda kue, dan pengembang. Tahapan proses pengolahan meliputi; pencucian, penggilingan, pembuatan adonan dan pengadukan, pencetakan, pengukusan, pendinginan, pemotongan, penjemuran, penimbangan dan pengemasan. Kerupuk dengan penambahan rumput laut mendapatkan nilai sensori produk akhir sebesar 8,42. Analisis untung rugi usaha kerupuk rumput laut menunjukkan hasil yang positif dengan nilai keuntungan 50%. Usaha layak dikembangkan dibuktikan dengan nilai RoI sebesar 450% dan pengembalian nilai investasi (PP) membutuhkan waktu selama 5,4 hari

    PHYTOCHEMICAL SCREENING AND ANTIBACTERIAL ACTIVITY OF TENGKAWANG BUKIT (Shorea beccariana) STEM EXTRACT AGAINST Vibrio parahaemolyticus

    Full text link
    Vibrio parahaemolyticus infection poses a significant challenge in intensive shrimp culture, leading to substantial economic losses. Its common treatments using synthetic antibiotics have been linked to increased risks of antibiotic resistance and residual effects. Therefore, finding environmentally safe and effective natural alternatives is deemed essential. Tengkawang Bukit (Shorea beccariana) stem extract contains antibacterial compounds, including asiatic acid, oleanolic acid, and lupanone, all classified as terpenoids. This study aims to evaluate the antibacterial potential of S. beccariana stem extract through phytochemical screening and a disc diffusion test against V. parahaemolyticus. The screening results confirmed the presence of bioactive compounds, including alkaloids, flavonoids, saponins, tannins, and steroids. The disc diffusion test showed an increase in the inhibition zone with increasing extract concentration, with inhibition diameters ranging from 9.04 ± 0.48 mm to 10.75 ± 0.26 mm. The 17% extract yield indicates a high availability of active compounds. These findings suggest that tengkawang bukit stem extract has potential as a natural antibacterial alternative for controlling V. parahaemolyticus in shrimp culture. This approach could help reduce reliance on synthetic antibiotics and promote sustainable fisheries. Infeksi Vibrio parahaemolyticus merupakan salah satu kendala utama dalam budidaya udang yang menyebabkan kerugian ekonomi signifikan. Penggunaan antibiotik sintetis sebagai pengobatan telah menimbulkan kekhawatiran terkait resistensi dan residu, sehingga diperlukan alternatif alami yang aman dan efektif. Batang tengkawang bukit (Shorea beccariana) diketahui mengandung senyawa antibakteri seperti asam asiatik, asam oleanolik, dan lupanon yang tergolong ke dalam senyawa terpenoid. Studi ini bertujuan untuk mengevaluasi potensi antibakteri ekstrak batang S. beccariana melalui skrining fitokimia dan uji difusi cakram terhadap V. parahaemolyticus. Hasil skrining menunjukkan adanya kandungan senyawa bioaktif berupa alkaloid, flavonoid, saponin, tanin, dan steroid. Uji difusi cakram memperlihatkan zona hambat yang meningkat seiring dengan peningkatan konsentrasi ekstrak, dengan diameter hambatan berkisar 9,04 ± 0,48 mm hingga 10,75 ± 0,26 mm. Rendemen ekstrak sebesar 17% menunjukkan ketersediaan senyawa aktif yang melimpah. Hasil riset ini mengindikasikan bahwa ekstrak batang tengkawang bukit berpotensi sebagai alternatif antibakteri alami dalam pengendalian V. parahaemolyticus pada budidaya udang, sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap antibiotik sintetis dan mendukung keberlanjutan perikanan

    THE RELATIONSHIP OF THE WATER PARAMETER TO THE GROWTH AND THE CARRAGEENAN QUALITY OF Kappaphycus alvarezii (DOTY) DOTY EX P.C. SILVA (1996) IN BELOPA, LUWU REGENCY, INDONESIA

    Full text link
    The research aims to determine the relationship of water quality parameters to the growth and carrageenan quality of red algae Kappaphycus alvarezii. This research was conducted in July November 2022 in the waters of Belopa sub-district, South Sulawesi, Indonesia. Water quality parameters measured were temperature, pH, salinity, brightness, depth, current velocity, dissolved oxygen, nitrate, and phosphate. The cultivation was conducted by longline method. There were 3 stations and each station had 3 stretched ropes with a length of 5 m as replicates. The growth was calculated by measuring the specific growth rate and the absolute weight growth. The quality of carrageenan was tested by yield, water content, and ash content. Water quality and growth data were collected every 10 days for 40 days. The effect of growth and quality of carrageenan on each location was analyzed through ANOVA and Kruskal Wallis tests. The relationship between parameters was analyzed through coefficient correlation tests (Pearson Simple Linear Correlation). The determination of characteristic parameters at each station was applied through the principal component analysis test. The results showed that the yield of carrageenan was impacted by phosphate. The water affected by nitrate and brightness. Ash content affected by temperature, pH, and current velocity. Different location  did not significantly affect the growth and quality of carrageenan

    ANALISIS MUTU IKAN TEMBANG (Sardinella fimbriata) DI TEMPAT PELELANGAN IKAN (TPI) BULU, UPT PPP BULU, TUBAN, JAWA TIMUR

    Full text link
    Tembang fish (Sardinella fimbriata) is the dominant and economical fish catch at Technical Unit of Bulu Coastal Fisheries Port (CFP) and is delivered to Bulu Fish Auction Site (FAS) or known as TPI Bulu. Tembang fish has perishable food characteristics, so it is necessary to improve the quality of freshly caught fish by maximising handling methods, facilities, and sanitary hygiene. Fishermen in TPI Bulu still rarely apply cold chain to maintain fish quality and some use formalin because it is easily available and cheap. This study aims to determine the quality of tembang fish at TPI Bulu. Testing parameters include organoleptic test, pH test, TPC test, and formalin test. The results of the research on 90 tembang fish samples obtained an average organoleptic value of 7.00 and pH 6.16. The formalin test results were 32 samples (35.6%) positive for formalin and 58 samples (64.4%) negative for formalin. The average TPC test result was 4.7 x 105 CFU/gr. The results of the inspection of Good Fish Handling Methods (GFHM) 30% of the criteria were fulfilled and 70% of the criteria were not fulfilled

    PEMANFAATAN RUANG LAUT UNTUK EKOWISATA BERDASARKAN RULES IN-USE OSTROM DI KAWASAN KONSERVASI PULAU GILI MATRA

    Full text link
    Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kekurangan dan kelemahan substansi peraturan terkait pemanfaatan ruang laut dan pengelolaan Kawasan Konservasi Pulau (KKP) Gili Matra Provinsi Nusa Tenggara Barat dalam konteks kelembagaan pengelola KKP untuk mendukung pengembangan ekowisata berkelanjutan. Penelitian dilakukan di KKP Gili Matra pada bulan Agustus 2024 dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui pemanfaatan data primer dan sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara semi-terstruktur dan mendalam dengan aktor-aktor utama yang terlibat dalam pengelolaan dan pemanfaatan ruang laut, sedangkan data sekunder diperoleh melalui analisis substansi tiga peraturan utama: Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 28 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang Laut, Keputusan menteri Kelautan dan Perikanan No. 34 Tahun 2022 tentang Penetapan KKP Gili Air, Gili Meno, dan Gili Trawangan, serta Keputusan Dirjen Pengelolaan Kelautan dan Ruang Laut No. 62 Tahun 2023 tentang Rencana Pengelolaan KKP Gili Matra Tahun 2023–2042. Analisis dilakukan menggunakan konsep rules-in-use dari Elinor Ostrom untuk menilai keselarasan antarperaturan dan efektivitas pengaturan kelembagaan. Hasil penelitian menunjukkan masih terdapat ketidaksinkronan antara substansi peraturan pemanfaatan ruang laut dan pengelolaan KKP Gili Matra, yang berdampak pada hambatan implementasi kegiatan ekowisata. Ketidaksinkronan tersebut disebabkan oleh lemahnya koordinasi dan penguatan kelembagaan antar-pemangku kepentingan, serta belum optimalnya integrasi antara regulasi dan kondisi sosial-ekologis masyarakat setempat.TITLE: MARINE SPATIAL UTILIZATION FOR ECOTOURISM BASED ON OSTROM’S RULES-IN USE IN GILI MATRA CONSERVATION AREAThis study aims to analyze the weaknesses and deficiencies in the substance of regulations governing marine spatial utilization and the management of the Gili Matra Island Conservation Area (KKP Gili Matra) in West Nusa Tenggara Province, within the context of institutional arrangements supporting sustainable ecotourism development. The research was conducted in the Gili Matra Conservation Area in August 2024, using a qualitative approach that combined primary and secondary data. Primary data were collected through semi-structured and in-depth interviews with key stakeholders involved in marine spatial utilization and conservation management, while secondary data were obtained through document analysis of three main regulations: the Minister of Marine Affairs and Fisheries Regulation No. 28 of 2021 on Marine Spatial Planning Implementation, the Ministerial Decree No. 34 of 2022 on the Establishment of the Gili Air, Gili Meno, and Gili Trawangan Conservation Area, and the Directorate General of Marine Spatial and Ocean Management Decree No. 62 of 2023 on the Management Plan of the Gili Matra Conservation Area 2023–2042. The analysis applied Elinor Ostrom’s rules-in-use framework to assess the coherence and institutional effectiveness of these regulations. The findings reveal inconsistencies between the regulatory frameworks of marine spatial utilization and conservation management, resulting in implementation challenges for ecotourism activities. These inconsistencies stem from weak institutional coordination among decision-makers and insufficient integration of regulatory instruments with local socio-ecological dynamics

    OPERATIONAL WORK OF A SQUID TRANSPORTING SHIP CASE STUDY ON KM PERINIS JAYA 89

    Full text link
    Carrier vessels play a crucial role in the capture fisheries industry, particularly as transportation modes responsible for delivering harvested products from fishing grounds to the shore or port. This strategic function requires the implementation of clear Standard Operating Procedures (SOPs) to ensure that handling practices comply with regulations and meet quality standards. Therefore, assessing the application of SOPs on squid carrier vessels is essential to determine the extent to which existing procedures align with proper handling standards and regulatory requirements. The objective of this study is to evaluate the conformity of SOP implementation on squid carrier vessels with applicable regulations, identify weaknesses or inconsistencies in operational practices, and provide recommendations for improvements that may enhance product quality, operational efficiency, and the sustainability of fisheries enterprises. This research was conducted from March to May 2025, using KM Perintis Jaya 89 as the research object, a squid carrier vessel owned by Perintis Jaya International operating in Benoa, Bali. Data collection was carried out through direct observation during the vessel’s operational trips, including documentation of the number of trips, travel duration, cargo volume, and fuel consumption. The main focus of the assessment was the handling of squid, encompassing loading, storage, and unloading activities carried out by the carrier vessel. The findings indicate that KM Perintis Jaya 89 has implemented SOPs in accordance with policy directives. Proper and consistent SOP implementation supports effective and efficient vessel operations, thereby ensuring the maintained quality of squid products destined for market distribution

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇