eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
Pengujian Obat Kimia untuk Menghambat Pertumbuhan Bakteri Patogen Aeromonas hydrophila Secara In Vitro dan In Vivo
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan jenis obat kimia dan dosis terbaik untuk menghambat pertumbuhan bakteri patogen Aeromonas hydrophila (AHA). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan dan Lingkungan Sekolah, Program Studi Teknologi dan Manajemen Pembenihan Ikan, Sekolah Vokasi IPB. Rancangan percobaan yang dilakukan dari penelitian ini terdiri dari 4 perlakuan, diantaranya, kontrol (K), garam ikan 5 g/L, 10 g/L, 15 g/L, 20 g/L, 25 g/L, 30 g/L, methylene blue 0,5 mL/L, 1,0 mL/L, 1,5 mL/L, 2 mL/L, 2,5 mL/L, 3 mL/L, lukastop 0,01 mL/L, 0,013 mL/L. Pengujian obat dilakukan secara in vitro dengan pengujian tunggal dan gabungan masing-masing obat. Pengujian in vivo dilakukan dengan dosis terbaik dari hasil in vitro diujikan pada ikan sebagai pengobatan pada infeksi bakteri AHA. Parameter in vitro yang diamati yaitu zona hambat dan total bakteri patogen Aeromonas hydrophila, sedangkan parameter in vivo yang diamati yaitu Survival Rate (SR), Laju Pertumbuhan Harian (LPH) dan Mortality Rate (MR). Hasil pengujian in vitro pada pengujian tunggal yang terbaik didapatkan pada perlakuan methylene blue 3 mL/L dengan zona hambat sebesar 18,25 mm dan jumlah bakteri AHA terendah yaitu 5,197 × 109 CFU/mL. Hasil pengujian in vitro pada pengujian gabungan yang terbaik didapatkan pada perlakuan garam ikan 25 g/L dan methylene blue 3 mL/L dengan zona hambat 17,9 mm. Hasil pengujian in vivo pengobatan dengan methylene blue 3 mL/L, menghasilkan nilai SR 80% dan mampu membantu penyembuhan pasca infeksi serta meningkatkan nafsu makan ikan.This study aims to obtain the best type of chemical drug and dosage to inhibit the growth of the pathogenic bacteria Aeromonas hydrophila (AHA). This study was conducted at the School Health and Environment Laboratory, Fish Seed Technology and Management Study Program, IPB Vocational School, Sukabumi Campus. The experimental design carried out in this study consisted of 4 treatments, including control (K), fish salt 5 g/L, 10 g/L, 15 g/L, 20 g/L, 25 g/L, 30 g/L, methylene blue 0,5 mL/L, 1,0 mL/L, 1,5 mL/L, 2,0 mL/L, 2,5 mL/L, 3,0 mL/L, lukastop 0,01 mL/L, 0,013 mL/L. Drug testing was carried out in vitro with single and combined testing of each drug. In vivo testing was carried out with the best dose from the in vitro results tested on fish as a treatment for AHA bacterial infections. The observed in vitro parameters were the inhibition zone and total pathogenic bacteria Aeromonas hydrophila, while the observed in vivo parameters were survival rate (SR), daily growth rate (LPH), and mortality rate (MR). In vitro tests showed that methylene blue 3 mL/L treatment had the best results on a single test. The inhibition zone was 18,25 mm, and the number of AHA bacteria in the sample was 5,197 × 109 CFU/mL. The treatment of 25 g/L fish salt and 3 mL/L methylene blue yielded the best in vitro test results, with an inhibition zone of 17,9 mm. The results of vivo therapy testing with 3 mL/L methylene blue produced an SR value of 80% and were able to aid in post-infection healing and increase fish appetite
PERTUMBUHAN DAN MORTALITAS IKAN GEROPAK (Hexanematichthys sagor) DI PERAIRAN PESISIR MUARA ANGKE, JAKARTA UTARA
Muara Angke memiliki potensi untuk dikembangkan dalam sektor perikanan. salah satu potensi sumberdaya ikan yang bernilai secara ekologi dan eknomi adalah ikan geropak (Hexanematichthys sagor). Penelitian ini bertujuan untuk menghitung laju parameter pertumbuhan ikan dan tingkat mortalitas ikan. Penelitian ini dilakukan selama periode satu tahun, yakni dari Oktober 2023 hingga November 2024, dengan lokasi penangkapan ikan di perairan pesisir Muara Angke. Metode penangkapan ikan dengan dengan purposive sampling. Penangkapan ikan memakai jaring insang (gillnet) dengan mata jaring berukuran 2; 3; 3, 5 inchi. Penelitian ini menggunakan data frekuensi panjang (length-frequency atau L/F data) dalam satuan cm untuk mengestimasi pola pertumbuhan ikan. Pertumbuhan panjang ikan dihitung dengan model von Bertalanffy. Nilai L∞ dan K didapatkan dari hasil penghitungan dengan metode ELEFAN 1 yang terdapat dalam program FISAT II. Penentuan mortalitas dengan menggunakan teknik Kuosien Z/K dan modifikasinya dikembangkan oleh Boverton and Holt. Hasil dari penelitian ini adalah diperoleh pola pertumbuhan von Bertalanffy pada ikan jantan dan betina yaitu L∞ = 59,29 [1–e-0,29(t – 0,49)] dan L∞ = 65,89 [1–e-0,25 (t – 0,45)]. ikan geropak jantan memiliki nilai mortalitas total yang lebih rendah (Z = 0,67) dibandingkan betina (Z = 0,96), begitu juga nilai mortalitas alami jantan lebih rendah (M = 0,34) dibandingkan betina (M = 0, 51). Namun, mortalita penangkapan F = 0,92 dan 1,18 per tahun dan tingkat eksploitasi (E) sebesar 0,6 harus dikelola dengan baik karena melebihi batas optimum
Mie-Nyam (Tenggiri Fish Noodles) Business Strategy Spinach in Improving the Competitiveness of Healthy Noodles Based on Processed Fish with The Grand Strategy Matrix
This study aims to analyze the business strategy of the innovative product "Mie-Nyam", namely spinach noodles with mackerel fish, in increasing competitiveness in the fishery-based healthy instant noodle industry. This product offers higher nutritional value than conventional instant noodles, with the addition of natural ingredients such as mackerel which is rich in protein and spinach leaves which are rich in nutrients. SWOT analysis and Grand Strategy Matrix are used to evaluate the strengths, weaknesses, opportunities, and threats faced by Mie-Nyam. New innovations in instant noodle products and packaging will raise new challenges regarding how the right marketing strategy and analysis are to determine whether or not a business is feasible, one of the analyses used is SWOT analysis using the grand strategy matrix. Based on the results of the analysis, MieNyam's position is in Quadrant II (Diversification) meaning that in this quadrant the business has strength but faces external threats. The strategy that must be implemented is to use strength to take advantage of long-term opportunities by means of a diversification strategy both in product variants and promotion and marketing diversification strategies
EFFECT OF PHYTASE SUPPLEMENTATION IN PLANT-BASED FEED ON FEED UTILIZATION AND GROWTH OF Pangasius hypophthalmus DURING THE GROW-OUT STAGE
Phytic acid, found in many plant-based fish feed ingredients, is an anti-nutritional compound that binds with minerals, forming complexes that fish intestines cannot easily absorb. Adding phytase, an enzyme, to plant-based feeds has shown potential in enhancing nutrient absorption and has been effective for various aquaculture species. However, its impact on Pangasius hypophthalmus, a commonly farmed fish, remains underexplored. This study examines the effects of phytase on feed conversion ratio (FCR), feed utilization efficiency (EFU), protein efficiency ratio (PER), relative growth rate (RGR), and survival rate (SR) of P. hypophthalmus. Fish (average weight 11.55 g) were kept at a density of 40 fish m-³ in a fully randomized design with four treatments (0, 500, 1000, and 1500 FTU kg-1 feed) and three repetitions. Data on RGR, EFU, PER, FCR, SR, and water quality were analyzed. Results indicated that phytase significantly improved RGR, EFU, PER, and FCR (P<0.05), though SR remained unaffected. The optimal phytase dose, 738-810 FTU kg-1 feed, produced an EFU of 69.3% and an RGR of 4.77% per day during the grow-out stage. Water quality parameters remained stable and within optimal ranges across all treatments.Asam fitat, yang ditemukan dalam banyak bahan pakan ikan berbasis tanaman, adalah senyawa anti-nutrisi yang mengikat mineral, membentuk kompleks yang sulit diserap oleh usus ikan. Penambahan fitase, enzim, pada pakan berbasis tanaman menunjukkan potensi dalam meningkatkan penyerapan nutrisi dan telah efektif untuk berbagai komoditas budidaya. Namun, dampaknya pada Pangasius hypophthalmus, ikan yang umum dibudidayakan, masih belum banyak dieksplorasi. Penelitian ini mengkaji efek fitase pada rasio konversi pakan (RKP), efisiensi pemanfaatan pakan (EPP), rasio efisiensi protein (REP), laju pertumbuhan relatif (LPR), dan tingkat kelangsungan hidup (TKH) dari P. hypophthalmus. Ikan (berat rata-rata 11,55 g) dipelihara pada kepadatan 40 ikan m-³ dalam rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan (0, 500, 1000, dan 1500 FTU kg-1 pakan) dan tiga ulangan. Data LPR, EPP, REP, RKH, TKH, dan kualitas air dianalisis. Hasil menunjukkan bahwa fitase secara signifikan meningkatkan LPR, EPP, REP, dan RKP (P<0,05), meskipun berpengaruh signifikan terhadap TKH. Dosis fitase optimal, 738-810 FTU kg-1 pakan, menghasilkan EPP sebesar 69,3% dan LPR sebesar 4,77% per hari selama tahap pembesaran. Parameter kualitas air tetap stabil dan dalam rentang optimal di semua perlakuan.
PLANKTON ABUNDANCE AND WATER QUALITY PROFILE OF VANNAMEI SHRIMP (Litopenaeus vannamei) FARMING INTENSIVE SYSTEM
The vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) is one of the most popular shrimp species, widely cultivated throughout Indonesia. This species has several advantages, including rapid growth, the ability to be cultivated at high densities in intensive systems, and resilience to environmental changes. The presence of plankton and the quality of water in the cultivation medium significantly affect the growth and survival of vannamei shrimp. This study aims to evaluate plankton abundance and the dynamics of water quality in intensive vannamei shrimp farming. The research was conducted at two intensive vannamei shrimp farms in East Java with shrimp aged between 1 and 60 days. Water quality measurements were taken directly from the cultivation ponds (salinity, pH, and dissolved oxygen) and in the laboratory (ammonia, nitrite, phosphate, alkalinity, and total organic content). The average abundance of plankton in the intensive vannamei shrimp farming medium ranged from 190 x 10³ to 960 x 10³ individuals/mL, consisting of four groups: green algae, diatoms, dinoflagellates, and blue-green algae. Green algae were the most abundant group, making up 69.9% to 71.9%, while diatoms were the least abundant at 1.9% to 3.0%. In intensive vannamei shrimp farming, the salinity of the cultivation medium ranged from 16 to 35 ppt, pH from 7.5 to 9.0, dissolved oxygen from 3.2 to 5.7 mg/L, and temperature from 28.0 to 31.3°C. The water chemistry parameters measured were ammonia, nitrite, phosphate, alkalinity, and total organic content, with respective ranges of 0.001–0.030 mg/L, 0.05–1.00 mg/L, 0.25–3.00 mg/L, 104–232 mg/L, and 27–131 mg/L. The dynamics of water quality remained within the optimal range for vannamei shrimp farming, as outlined in Regulation KP Number 75 of 2016 regarding general guidelines for the rearing of tiger shrimp and vannamei shrimp
Perbedaan Penambahan Tepung Bekicot (Achatina fulica) pada Pakan Komersil Terhadap Hasil Pemijahan Induk Ikan Bawal (Colossoma macropomum)
Bekicot (Achatina fulica) dapat digunakan sebagai penambahan pakan induk ikan untuk menekan harga pakan yang relatif mahal dan memiliki kandungan protein sebesar 43.15%, sebagai bahan tambahan terhadap pakan komersil. Penelitian bertujuan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh penggunaan penambahan tepung bekicot sebagai penambahan pakan terhadap hasil pemijahan induk ikan bawal (Colossoma macropomum). Penelitian ini menggunakan kolam bak beton sebanyak 3 buah. Penelitian terdiri atas 3 perlakuan, yaitu : pakan komersil tanpa penambahan tepung bekicot sebagai kontrol (K). Perlakuan A penambahan tepung bekicot dengan dosis 30%/kg pakan, perlakuan B penambahan tepung bekicot dengan dosis 40%/kg pakan. Hasil penelitian menunjukan bahwa penambahan tepung bekicot terhadap pakan komersil dengan dosis 40%/kg pakan diperoleh nilai Fekunditas tertinggi yaitu sebanyak 750.000 butir pada tingkat pembuahan telur yaitu sebesar 92% dengan penetasan telur sebesar 98% dan kelangsungan hidup sebesar 91%. Sedangkan terendah yaitu pada perlakuan kontrol dengan tingkat fekunditas sebanyak 588.000 pada tingkat pembuahan telur yaitu sebesar 50% dengan tingkat penetasan telur sebesar 80% dan pada tingkat kelangsungan hidup perlakuan kontrol diperoleh sebesar 79%.Snails can be used as an addition to brood fish feed to reduce the price of feed which is relatively expensive and has a protein content of 43.15%, snails (Achatina fulica) can be used as an additive to commercial feed. The aim of the study was to determine the effect of using the addition of snail flour as an additional feed on the spawning yield of the pomfret (Colossoma macropomum) broodstock. This research uses 3 concrete tub pools. The study consisted of 3 treatments, namely: commercial feed without the addition of snail flour as a control. Treatment A added snail flour at a dose of 30%/kg feed, treatment B added snail flour at a dose of 40%/kg feed. The results showed that the addition of snail flour to commercial feed at a dose of 40%/kg feed obtained the highest fecundity value of 750,000 eggs at the egg fertilization rate of 92% with 98% hatching of eggs and 91% survival. While the lowest was in the control treatment with a fecundity level of 588,000 at the egg fertilization rate of 50% with an egg hatching rate of 80% and the survival rate of the control treatment obtained by 79%
Pertumbuhan dan Rasio Konversi Pakan Udang Vaname yang Dipelihara pada Sistem Bioflok Menggunakan Ampas Tebu (Saccharum officinarum Linn.) Sebagai Sumber Karbon
Udang vaname (Litopenaeus vannamei) adalah salah satu komoditas budidaya perikanan yang bernilai ekonomistinggi. Pengembangan budidaya udang vaname saat ini mengarah pada intensifikasi dengan sistem bioflok.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penggunaan ampas tebu sebagai sumber karbon terhadappertumbuhan dan rasio konversi pakan (RKP) udang vaname. Penelitian menggunakan tiga perlakuan dan tigaulangan yakni aplikasi ampas tebu sebagai sumber karbon bioflok (AmpT), aplikasi tepung terigu sebagaisumber karbon bioflok (TpgT) dan kontrol tanpa bioflok (Kontrol). Ampas tebu diperoleh dari perusahaan pabrikgula di Kabupaten Bone. Tepung ampas tebu dipreparasi dengan oven 60oC dan digiling dengan mesin penepung.Udang vaname berukuran 18 g/ekor diperoleh dari Tambak Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone. Pemeliharaandengan sistem bioflok dilakukan selama 30 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aplikasi ampas tebusebagai sumber karbon dapat meningkatkan laju pertumbuhan spesifik (LPS) sebesar 0,57±0,01% (AmpT)dibandingkan kontrol 0,33±0,14%. LPS tertinggi diamati pada perlakuan tepung terigu yakni 1,39±0,51% (TpgT).Aplikasi ampas tebu juga dapat menghasilkan RKP lebih rendah yakni 1,36±0,06 (AmpT) dibandingkan kontrol1,69±0,08. Penelitian ini menunjukkan potensi ampas tebu digunakan sebagai sumber karbon pada budidayaudang vaname berbasis sistem bioflok