eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
5683 research outputs found
Sort by
APPLICATION OF DIFFERENT FEED AND FEEDING PERIODS DURING REARING OF MALAY COMBTAIL (Belontia hasselti) LARVAE
Feed type and feeding period play critical roles in growth and survival of fish larvae during rearing period, for which no related studies are available for Malay combtail larvae. This research aimed to determine the best feed type and feeding period for growth and survival of Malay combtail larvae. The research experiment was arranged in a completely randomized design with five treatments of different feed and feeding periods with three replications, namely (P1) nauplii Artemia sp. (4-15 days), Moina sp. (14-24 days), and Tubifex sp. (23-35 days), (P2) nauplii Artemia sp. (4-13 days), Moina sp. (12-20 days), and Tubifex sp. (19-35 days), (P3) nauplii Artemia sp. (4-11 days), Moina sp. (10-16 days), and Tubifex sp. (15-35 days), (P4) nauplii Artemia sp. (4-11 days), Moina sp. (12-20 days), and artificial feed (19-35 days), and (P5) nauplii Artemia sp. (4-11 days), Moina sp. (10-16 days), and artificial feed (15-35 days). The results showed that P4 was the best treatment, where larvae had better absolute growth in length and weight and survival of 11.09 ± 0.03 mm, 0.083 ± 0.001 g, and 50.67 ± 1.15%, respectively. Variations of water quality parameters during the experiment in all treatments ranged between 6.0-6.6 for pH, 0.017-0.091 mg L-1 for ammonia, and 4.03-4.43 mg L-1 for dissolved oxygen. The results of this research that the sequential and early application of live feed and much later artificial feed appication in combination with the timely feeding period and the larval development improve growth and survival of Malay combtail larvae.Jenis pakan dan periode pemberian pakan memainkan peran penting dalam pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan selama masa pemeliharaan, hingga saat ini belum ada penelitian terkait mengenai larva ikan selincah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis pakan dan lama pemberian pakan yang terbaik untuk pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan selincah. Penelitian disusun dalam rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan pakan dan lama pemberian pakan berbeda dengan tiga ulangan yaitu (P1) nauplii Artemia sp. (4-15 hari), Moina sp. (14-24 hari), dan Tubifex sp. (23-35 hari), (P2) nauplii Artemia sp. (4-13 hari), Moina sp. (12-20 hari), dan Tubifex sp. (19-35 hari), (P3) nauplii Artemia sp. (4-11 hari), Moina sp. (10-16 hari), dan Tubifex sp. (15-35 hari), (P4) nauplii Artemia sp. (4-11 hari), Moina sp. (12-20 hari), dan pakan buatan (19-35 hari), dan (P5) nauplii Artemia sp. (4-11 hari), Moina sp. (10-16 hari), dan pakan buatan (15-35 hari). Hasil penelitian menunjukkan bahwa P4 merupakan perlakuan terbaik, di mana larva mempunyai pertumbuhan panjang dan berat absolut yang lebih baik serta kelangsungan hidup masing-masing sebesar 11,09 ± 0,03 mm, 0,083 ± 0,001 g, dan 50,67 ± 1,15%. Variasi parameter kualitas air selama percobaan pada semua perlakuan berkisar antara 6,0-6,6 untuk pH, 0,017-0,091 mg L-1 untuk amoniak, dan 4,03-4,43 mg L-1 untuk oksigen terlarut. Hasil dari penelitian ini adalah pemberian pakan hidup secara berurutan dan dini serta pemberian pakan buatan yang dikombinasikan dengan periode pemberian pakan yang tepat waktu dan perkembangan larva akan meningkatkan pertumbuhan dan kelangsungan hidup larva ikan selincah
RESPONS KEKEBALAN BAWAAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) YANG DIBERI PAKAN DENGAN SUPLEMENTASI DAUN ALPUKAT (Parsea americana Mill)
Penyakit pada budidaya ikan nila merupakan permasalahan utama yang dapat menurunkan produksi dan menyebabkan kerugian. Selama ini upaya pengobatan dan pencegahan penyakit dilakukan dengan menggunakan antibiotik dan bahan kimia yang tidak ramah lingkungan, sehingga dapat meninggalkan residu pada daging ikan dan mencemari perairan. Oleh karena itu perlu alternatif penanggulangan penyakit dengan pemanfaatan bahan alami seperti daun alpukat yang mengandung senyawa saponin, tanin, flavonoid, alkaloid, dan fenol yang dapat berfungsi sebagai imunostimulan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respons kekebalan nonspesifik ikan nila yang diberi pakan dengan suplementasi daun alpukat. Metode yang digunakan adalah eksperimen dengan rancangan acak lengkap menggunakan empat perlakuan dan tiga ulangan. Dosis perlakuan yang digunakan adalah: perlakuan P1 (suplementasi daun alpukat 0,25%); perlakuan P2 (suplementasi daun alpukat 0,5%); perlakuan P3 (suplementasi daun alpukat 0,75%); dan perlakuan P0 (kontrol tanpa suplementasi daun alpukat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan nila yang diberi pakan mengandung daun alpukat menunjukkan level hematokrit, leukokrit, dan aktivitas fagositosis yang berbeda nyata (P<0,05) dengan ikan yang diberi pakan kontrol. Hematokrit tertinggi diperoleh pada dosis 0,5%; sedangkan leukokrit tertinggi diperoleh pada dosis 0,75% dan aktivitas fagositosis terbaik diperoleh pada dosis 0,75% dengan nilai sebesar 33,69, 2,44, dan 72% secara berturut-turut. Suplementasi daun alpukat pada pakan tidak berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup ikan nila. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa daun alpukat memiliki potensi dalam meningkatkan sistem kekebalan bawaan ikan nila, khususnya pada hematokrit dan leukokrit serta aktivitas fagositosisnya.Disease in tilapia farming is a major problem that can reduce production and inflict irrevocable economic losses. Conventionally, efforts to treat and prevent diseases are carried out using antibiotics and chemicals that are not environmentally friendly, leaving residues on the fish flesh and polluting the aquatic environment. Therefore, alternative disease preventions and cures are increasingly researched, focusing on natural ingredients such as avocado leaves, which contain saponins, tannins, flavonoids, alkaloids, and phenols that can function as immunostimulants. This study aimed to evaluate the nonspecific immune response of tilapia fed with feed supplemented with avocado leaves. The study used experimental units consisting of four treatments and three replications arranged in a completely randomized design. The treatment doses were: treatment P1 (0.25% avocado leaves supplementation); treatment P2 (0.5% avocado leaves supplementation); treatment P3 (0.75% avocado leaves supplementation); and treatment P0 (control without avocado leaves supplementation). The results showed that tilapia fed with feed containing avocado leaves showed levels of hematocrit, leukocrit, and phagocytic activity that were significantly different (P<0.05) from the fish fed with the control feed. The highest hematocrit was obtained at the dose of 0.5%; while the highest leukocrit was obtained at the dose of 0.75% and the best phagocytic activity was obtained at the dose of 0.75% with values of 33.69, 2.44, and 72%, respectively. Supplementation of avocado leaves in feed did not have a significant effect on the growth and survival of tilapia. Based on the results, This study concludes that avocado leaves have the potential to improve the innate immune system of tilapia, especially in hematocrit and leukocrit as well as phagocytic activity
THE EFFECT OF DIETARY SUPPLEMENTATION OF Sargussum wightii EXTRACT ON Clarias gariepinus PHYSIOLOGICAL RESPONSES
Seaweeds are becoming vital feed materials due to their high concentration of nutrients and active secondary metabolites. In this context, the brown seaweed Sargassum wightii extract (SWE) was included in Clarias gariepinus diets to investigate its effects on growth rate, nutrient utilization, haemato-biochemical indices, antioxidant activities and immune responses. Four experimental diets with four different levels (control- 0 %, 0.25 %, 0.5 %, and 1.0 %) of SWE were fed to four triplicate groups of C. gariepinus juvenile (mean initial weight 14.50 ± 0.00 g) for 28 days. At the end of the feeding trial, there was no significant difference (p>0.05) in the growth performance of fish groups fed SWE and the control group. However, there were significant differences (p<0.05) in feed conversion ratio and protein efficiency ratio between the control and SWE groups. Erythrocytes, leukocytes, haemoglobin, lymphocytes, and high-density lipoprotein cholesterol in fish fed SWE supplemented diets were significantly higher (p<0.05) than control. Notably, the liver function enzyme- Alkaline phosphatase was significantly higher (p<0.05) in fish fed SWE diets when compared to the control group. There was significant variation (p<0.05) in hepatic antioxidant enzymes activities across all diets. It was also observed that TNF-α, IL-6 and IL-β increased significantly in the liver of C. gariepinus fed SWE supplemented diets compared to control. Therefore, these results suggest that inclusion of S. wightii extract in the fish diet, although did not enhance growth performance, could improve the immune status and reduced oxidative stress of C. gariepinus
EKSPLORASI METODE SROI SEBAGAI ALAT PENGUKURAN DAMPAK PROGRAM KELAUTAN PERIKANAN UNTUK PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
Overfishing, IUU fishing, ketimpangan pembangunan ekonomi antar wilayah dengan potensi sumber daya ikan, dan tantangan besar sektor kelautan dan perikanan lainnya dalam menyeimbangkan ekonomi, ekologi, dan sosial mendorong perlunya transformasi tata kelola melalui program blue economy. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas inovasi sosial terhadap sebuah program, sehingga dampaknya dapat terukur dengan tepat secara berkelanjutan. Penelitian dilakukan dengan metode systematic literature review pada 37 penelitian yang memenuhi syarat dalam 5 (lima) tahun terkahir. Hasil penelitian menunjukan bahwa analisis SROI dapat digunakan dalam mengukur dampak dari program atau kebijakan di 37 penelitian tersebut, sehingga dapat digunakan dalam mengukur dampak dalam implementasi program blue economy. Pendekatan ini dapat menjadi bahan kebijakan untuk meningkatkan efektivitas program dalam mencapai tujuan SDGs.The phenomenon of overfishing, the unbalance between the Regional Gross Domestic Product of the Fisheries sector and the potential fish stocks of a region, and the significant challenges faced by the maritime and fisheries sector in balancing economic, ecological, and social aspects, underscore the need for governance transformation through blue economy programs. This study aims to analyze the effectiveness of social innovations within a program, enabling their sustainable impacts to be accurately measured. Conducted through a systematic literature review method encompassing 37 eligible studies over the past 5 years, the analysis utilizing Social Return on Investment (SROI) demonstrates that the blue economy program significantly positively impacts social, economic, and ecological dimensions. Such an approach could serve as a policy instrument to enhance program effectiveness in achieving the Sustainable Development Goals (SDGs)
DINAMIKA POPULASI IKAN BELOSO (Glossogobius sp) DI PERAIRAN DANAU TEMPE SULAWESI SELATAN, INDONESIA
Ikan beloso (Glossogobius sp) merupakan spesies endemik di Danau Tempe yang kini langka, hampir tidak ditemukan dalam tangkapan di danau tersebut. Faktor penyebab kelangkaan ini antara lain perubahan fungsi Danau Tempe menjadi kawasan wisata, penggunaan jalur transportasi perahu motor, tekanan pertumbuhan penduduk, serta eksploitasi ikan beloso yang tidak ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji inamika populasi ikan beloso di Danau Tempe. Metode survei digunakan untuk menangkap ikan beloso, yang kemudian dihitung jumlahnya dan diukur panjangnya menggunakan papan ukur ikan dengan ketelitian hingga 1 mm. Struktur populasi ditentukan melalui pengelompokan frekuensi ukuran panjang menggunakan metode Bhatacharya berdasarkan data yang diperoleh. Hasilnya menunjukkan bahwa dari 1974 ekor ikan yang tertangkap, panjangnya berkisar antara 82 mm hingga 231 mm. Persentase tangkapan terbesar ada pada nilai tengah dengan panjang total 127 mm, yaitu 19,50%, sementara yang terkecil dengan panjang total lebih dari 127 mm, sebanyak 0,15%. Sebaran ukuran menunjukkan variasi dari ikan berukuran kecil dengan nilai tengah panjang 84,5 mm hingga ikan berukuran besar dengan nilai tengah panjang 214,5 mm. Kelompok umur pada ikan beloso terdiri dari 3 kelompok pada jantan dan gabungan, serta 2 kelompok pada betina. Parameter panjang maksimum (L”), koefisien pertumbuhan (K), dan usia teoritis (to) ikan beloso masing-masing adalah 325 mm, 0,53 per tahun, dan -0,1595 (gabungan); 321 mm, 0,53 per tahun, dan -0,1560 (jantan); serta 320 mm, 0,48 per tahun, dan -0,1780 (betina). Tingkat mortalitas total (Z), mortalitas alami (M), laju mortalitas penangkapan (F), dan laju eksploitasi (E) pada ikan beloso telah dihitung masing-masing sebesar 4,66, 0,60, 4,06, dan 0,87 untuk gabungan; 3,67, 0,61, 3,06, dan 0,83 untuk jantan; serta 4,01, 0,57, 3,44, dan 0,86 untuk betina. Berdasarkan analisis yang menunjukkan kelompok umur rendah dan tingkat eksploitasi yang sangat tinggi, dapat disimpulkan bahwa kondisi ikan beloso sudah terancam. Diperlukan regulasi dan pengelolaan yang baik untuk menjamin keberlanjutannya
DATA ANALISIS MEDIA SOSIAL TWITTER PUSAT RISET PERIKANAN
ABSTRAK Data analisis media sosial Twitter adalah proses pengumpulan, pemrosesan, dan analisis data yang berkaitan dengan penggunaan platform Twitter. Tujuan dari analisis ini adalah untuk memahami tren dan pola perilaku pengguna Twitter, serta untuk mendapatkan wawasan tentang opini publik, preferensi konsumen, dan pengaruh sosial yang dapat digunakan untuk keperluan bisnis, pemasaran, riset, dan kebijakan publik. Metode analisis media sosial Twitter melibatkan penggunaan algoritma dan teknik statistik untuk mengumpulkan dan mengolah data Twitter, seperti penggunaan hashtag, kata kunci, lokasi, retweet, dan like. Selain itu, metode analisis ini juga melibatkan penggunaan teknik machine learning untuk mengklasifikasikan tweet ke dalam kategori tertentu, seperti sentimen, topik, dan pengguna. Hasil analisis media sosial Twitter dapat memberikan informasi yang bermanfaat untuk berbagai tujuan. Misalnya, bisnis dapat menggunakan hasil analisis untuk memahami preferensi konsumen dan merancang kampanye pemasaran yang lebih efektif. Pemerintah dan lembaga publik dapat menggunakan hasil analisis untuk memahami opini publik dan merancang kebijakan publik yang lebih efektif. Sedangkan peneliti dapat menggunakan hasil analisis untuk memahami tren dan pola perilaku pengguna Twitter dan membangun teori sosial yang lebih baik. Selama tahun 2023 akun twitter PUSRISKAN melakukan postingan sebanyak 62 postingan dengan jumlah like sebanyak 545 dengan rata-rata perbulan sebanyak 45 like. Like terbanyak terjadi pada bulan Juni dengan 72 like dan terendah di bulan Desember dengan 16 like. ABSTRACTS Twitter social media analysis data is the process of collecting, processing and analyzing data related to the use of the Twitter platform. The goal of this analysis is to understand about trends and patterns in Twitter user behavior, as well as to gain insights into public opinion, consumer preferences, and social influence that can be used for business, marketing, research, and public policy purposes. Twitter social media analysis methods involve the use of algorithms and statistical techniques to collect and process Twitter data, such as hashtag usage, keywords, location, retweets, and likes. In addition, this analysis method also involves the use of machine learning techniques to classify tweets into certain categories, such as sentiment, topic, and user. The results of Twitter social media analysis can provide useful information for various purposes. For example, businesses can use analysis results to understand consumer preferences and design more effective marketing campaigns. Governments and public institutions can use the results of analysis to understand public opinion and design more effective public policies. Meanwhile, researchers can use the results of the analysis to understand trends and behavioral patterns of Twitter users and build better social theories. During 2023, Research Center for Fisheries Twitter account posted 62 posts with a total of 545 likes, with a monthly average of 45 likes. The most highest in June with 72 likes and the lowest in December with 16 likes.
Dinamika Usaha Perikanan Masyarakat Suku Akit di Kepulauan Riau
Makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan dinamika permasalahan pada usaha penangkapan perikanan dan usaha budi daya perikanan pada masyarakat Suku Akit yang merupakan salah satu dari komunitas adat terpencil (KAT) di Indonesia. Suku Akit belajar melakukan budi daya ketam (kepiting bakau/Scylla) dan siput bakau (Siput mangrove/Telescopium Telescopium) secara otodidak dan mengalami kegagalan. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Penelitian dilakukan pada tahun 2020-2021 dan pengolahan data dilakukan pada tahun 2022. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada dua golongan masalah masyarakat Suku Laut, pertama dalam hal penangkapan mereka hanya bisa melakukan penangkapan dengan menggunakan alat-alat tradisional dengan risiko lingkungan lebih kecil namun hasil tangkapan juga sangat sedikit. Kedua, mereka mengalami kendala pengetahuan, akses dan kurangnya pendampingan pada perikanan budi daya. Pada usaha budi daya kepiting bakau, mereka masih mengalami beberapa kendala, yaitu pertama, Suku Akit belum memahami tingkah laku kanibalisme ketam yang dibudi dayakan, sehingga ketam dewasa dengan anak ketamdigabungkan dalam satu kolamketambudi daya. Kedua, Suku Akit membuat kolam budi daya ketam yang lebih rendah, sehinggapada saat air pasang ketam yang dibudi dayakan hanyut karena arus pasang surut. Ketiga, mereka tidak dilakukan pengecekan kualitas air pada lingkungan budi daya secara berkala Title: The Dynamics of Problems of Akit Ethnic Community in Riau IslandsThis paper aims to describe the dynamics of fishing and aquaculture businesses in the Akit community, which is one of the remote indigenous communities (KAT) in Indonesia. The Akit learnt to cultivate mangrove crabs (Scylla) and mangrove snails (Telescopium) by themselves and experienced failure. This research uses a qualitative method with a descriptive approach. The research was conducted in 2020-2021 and data processing was carried out in 2022. Based on the results of the research, two classes of problems of the Sea Tribe community can be identified, firstly in terms of fishing they can only catch using traditional tools with less environmental risk but the catch is also very small. Secondly, there is the issue of aquaculture, where they experience constraints in knowledge, access and lack of assistance. The weaknesses in the Akit Tribe's fisheries efforts are First, the Akit Tribe combines adult oysters with juvenile oysters because they do not understand the cannibalistic behaviour of the cultivated oysters. Secondly, the Akit Tribe made a lower oyster cultivation pond at high tide so that the cultivated oysters were washed away by the tidal current. Third, there is no regular checking of water quality in the cultivation environmen
ANALYSIS OF WASTEWATER QUALITY AND PERFORMANCE EFFECTIVENESS OF WASTEWATER TREATMENT PLANT ON VANAME SHRIMP (Litopenaeus vannamei) CULTURE IN BPIU2K KARANGASEM
Vaname shrimp (Litopenaeus vannamei) culture in BPIU2K Karangasem will produce waste from metabolism and leftover feed that contains organic material. This waste will cause environmental problems if not properly processed. This study aims to determine the quality of wastewater and the effectiveness of WWTP performance so that it can be used to generate policy recommendations for improvements in wastewater management. Water samples are taken in the morning using composite technique at five points in the IPAB inlet and outlet, each consisting of 1 liter with three repetitions.The results showed water quality of WWTP outlet from first week to third week have reached quality standard for physical parameters such as TSS and turbidity, and chemical parameters such as BOD and nitrate. However, did not reach quality standard for chemical parameters such as phosphate, H2S, nitrite, and ammonia. Removal efficiency in processing units can be used to determine the effectiveness of WWTP and will be effective if efficiency value is in the range of 60% < x = 80%. First week, WWTP in BPIU2K Karangasem showed its effectiveness on several parameters such as BOD and nitrate. Second week, the effectiveness was shown for BOD, phosphate, nitrate and ammonia. Third week, the effectiveness was shown for TSS, BOD, phosphate and H2S. The effectiveness of WWTP for each parameter differs every week due to the cultivation waste water coming from various activity units and the IPAB is still effective in treating wastewater because the five tested parameters still meet the quality standard