eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
Not a member yet
    5683 research outputs found

    Front Matter

    No full text

    INVENTARISASI, STATUS KONSERVASI DAN ANALISIS PERTUMBUHAN IKAN HIU DAN PARI YANG DIDARATKAN DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI KLIDANG LOR, BATANG, JAWA TENGAH

    Get PDF
    Analisis konservasi dan pertumbuhan alometri pada ikan hiu dan ikan pari menjadi kunci dalam merancang langkah-langkah perlindungan yang tepat guna memastikan keberlanjutan spesies ini di lingkungan mereka. Penelitian ini bertujuan mengetahui jumlah individu, spesies, status konservasi dan pertumbuhan ikan hiu dan ikan pari hasil tangkapan. Koleksi data dilaksanakan setiap bulan dari bulan Agustus hingga Oktober 2023 di Pelabuhan Perikanan Pantai Klidang Lor, Batang menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Hasil identifikasi dan status konservasi menurut IUCN menunjukkan bahwa terdapat 6 jenis ikan hiu dan ikan pari yaitu Chiloscyllium plagiosum (n=59,  near threathened), Chiloscyllium punctatum (n=16,  near threathened), Stegostoma fasciatum (n=1,  endangered), Hemipristis elongata (n=3) (vulnerable), Rhynchobatus springeri (n=85) (critically endangered) dan Rhina ancylostoma (n=1,  critically endangered). Distribusi frekuensi panjang spesimen R. springeri dan C. plagiosum masing-masing berkisar antara 62-241 cm dan 14-85 cm. Pertumbuhan alometrik R. springeri dan C. plagiosum mengikuti persamaan Y= 0,0018X2,753 (r = 0,98). untuk R. springeri dan Y= 0,5309X1,265 (r= 0,87) untuk C. plagiosum. Pertumbuhan R. springeri dan C. plagiosum bersifat alometrik negatif. Perbandingan kelamin jantan dan betina yang didapatkan R. springeri (1:1,07) dan C. plagiosum (1:0,96). Sekitar 80% R. springeri jantan yang terdata masih muda dan berada pada tingkat kematangan klasper NC (Non-Calcification) dan NFC (Non-Full Calcification). Sekitar 67% C. plagiosum jantan yang terdata sudah matang gonad dan berada pada tingkat kematangan klasper FC (Full Calcification). Angka korelasi panjang total terhadap panjang klasper jantan pada R. springeri (r=0,859) dan C. plagiosum (r= 0,774) menunjukkan bahwa pada keduanya pertambahan panjang total seiring dengan bertambah panjangnya klasper

    VARIABILITAS KONSENTRASI KLOROFIL-A DARI SATELIT AQUA MODIS SELAMA FASE EL NINO SOUTHERN OSCILLATION 2015-2020 DI SELAT MAKASSAR

    Get PDF
    Selat Makassar adalah jalur utama yang dilewati oleh Arus Lintas Indonesia (Arlindo) sehingga kondisi oseanografinya sangat dipengaruhi oleh karakteristik massa air Samudera Pasifik. Konsentrasi klorofil-a di Selat Makassar dipengaruhi oleh massa air yang terbawa oleh Arlindo dan masuknya nutrien dari daratan karena letaknya yang diapit oleh Pulau Kalimantan dan Pulau Sulawesi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis variabilitas konsentrasi klorofil-a dalam skala antar musiman maupun antar tahunan (inter-annual) yaitu fenomena El Niño Southern Oscillation (ENSO) di Selat Makassar. Penelitian ini menggunakan data bulanan konsentrasi klorofil-a dari satelit Aqua-Modis dan indeks Niño 3.4 selama enam tahun (2015 – 2020). Penelitian ini menerapkan analisis spektrum wavelet untuk mendapatkan struktur variabilitas yang rinci dalam domain waktu dan frekuensi. Konsentrasi klorofil-a di Selat Makassar memiliki nilai lebih tinggi pada musim barat (0.61-0.65 mg/m3) dan lebih rendah pada saat musim timur (0.5-0.59 mg/m3). Pada saat kejadian ENSO, konsentrasi klorofil-a tertinggi0.75 mg/m3 terjadi pada fase La Niña pada Januari 2017, sedangkan konsentrasi klorofil-a terendah 0.3 mg/m3 terjadi pada fase El Niño kuat pada Oktober 2016. Hasil analisis wavelet spectrum menunjukkan variabilitas konsentrasi klorofil-a menunjukkan pola antar musiman dan antar tahunan di Selat Makassar

    Penambahan Probiotik Pada Media Pemeliharaan Terhadap Pertumbuhan dan Kelangsungan Hidup Benih Ikan Nila (Oreochromis niloticus)

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan probiotik pada media pemeliharaan terhadap pertumbuhan dan kelangsungan hidup benih ikan nila (Oreochromis niloticus). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen. Hewan uji yang digunakan berupa benih ikan nila (Oreochromis niloticus) sebanyak 240 ekor, dengan perlakuan A (kontrol), B (dosis probiotik EM4 0,5 ml/l), C (dosis probiotik EM4 1,5 ml/l), dan D (dosis probiotik EM4 2,5 ml/l). Wadah yang digunakan adalah akuarium dengan ukuran 60 × 40 × 40 sebanyak 12 buah dan masing-masing diisi air sebanyak 20 liter dengan ikan sebanyak 20 ekor. Penelitian ini berlangsung selama 30 hari. Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) menggunakan Analysis of Varians (ANOVA). Selanjutnya dilakukan uji lanjut menggunakan uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa perlakuan berpengaruh nyata terhadap pertumbuhan panjang mutlak. Pertumbuhan panjang mutlak tertinggi terdapat pada perlakuan 1,5 ml/l dengan rata-rata pertumbuhan panjang 2,76 cm, perlakuan dengan dosis probiotik 2,5 ml/l sepanjang 2,56 cm, 0,5 ml/l dengan hasil 1,97 cm, dan tanpa probiotik sepanjang 1,59 cm

    UJI ORGANOLEPTIK FISH ROLL TUNA (YELLOWFIN) SEBAGAI DIVERSIFIKASI HASIL PERIKANAN

    No full text
    Ikan merupakan sumber hewani yang banyak mengandung nutrisi diantaranya, vitamin, protein dan mineral. Ikan merupakan salah satu sumber pangan, yang mudah diperoleh dengan harga yang terjangkau, memiliki rasa yang khas, harum dan lezat  namun ikan masih dipandang rendah oleh sebagian masyarakat  khususnya di Indonesia, padahal ikan mengandung segudang manfaat bagi kesehatan, manusia. Ragam jenis olahan ikan saat ini mulai berkembang seperti bakso ikan, nugget, abon ikan, siomay ikan, otak-otak ikan, sandwich ikan, fish roll dan masih banyak lagi olahan ikan lainnya. Berbagai olahan ikan harus dilakukan untuk memasyarakatkan konsumsi ikan, menghindari kebosanan konsumsi ikan, dan yang terpenting untuk memenuhi kebutuhan gizi tubuh manusia. Produk olahan fish roll merupakan salah satu menu olahan ikan, yang mudah dalam pembuatannya, serta bahan dan bumbu yang mudah ditemukan. Bahan baku pembuatan fish roll adalah ikan seperti lele, cakalang, tongkol, dan tuna kecuali ikan yang banyak durinya. Untuk membuat fish roll, bisa menggunakan ikan tuna. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah observasi langsung dan kuesioner Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kesukaan terhadap produk Fish Roll Tuna dengan melakukan uji organoleptik. Dari hasil uji organoleptik di peroleh hasil untuk kenampakan fish roll tuna dengan nilai (8,27) dengan kategori sangat suka dengan warna orange keemasan, bentuk fish roll rapi, seragam dan tidak gosong, bau dengan nilai (7,67) yaitu kategori suka yang memiliki aroma spesifik ikan yang gurih, rasa dengan nilai (8,13), dengan kategori sangat suka karena memiliki rasa yang gurih dan nikmat, dan tekstur dengan nilai (8,13) dengan kategori sangat suka, karena produk fish roll tuna memiliki tekstur yang garing di luar dan empuk pada isian didalamnya

    Penerapan Kelayakan Dasar dan Karakteristik Proses Pengolahan Tuna (Thunnus albacares) Loin Masak Beku

    Get PDF
    Tuna (Thunnus albacares) merupakan salah satu jenis ikan pelagis yang menjadi primadona di pasar perikanan global dengan nilai ekonomis yang tinggi. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengkaji alur proses, penerapan suhu, kualitas mutu, rendemen, produktivitas tenaga kerja, penerapana kelayakan dasar dan pengelolaan limbah pada proses produksi tuna loin masak beku. Penelitian ini dilakukan dengan observasi langsung terhadap proses produksi tuna loin masak beku selama dua bulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 14 tahapan proses, dengan penerapan suhu pada bahan baku -18oC, pemasakan 67,4 oC dan penyimpanan beku 24,9oC; serta mutu organoleptik bahan baku dan produk akhir memiliki nilai rata-rata 8, histamin 2,2ppm. Rendemen yang dihasilkan sebesar 36-40% dengan produktivitas pada tahap penyiangan, deheading dan skinning, serta loining dan  cleaning sebesar 324 kg/jam/org; 43 kg/jam/org; dan 7 kg/jam/org. Penerapan kelayakan dasar mendapatkan grade A dengan 1 mayor dan limbah produksi dikelola menggunakan IPAL di UPI. Berdasarkan hasil penelitian dikatakan bahwa proses produksi tuna loin masak beku harus memperhatikan setiap aspek yang berkaitan untuk menerapkan kelayakan dasar sehingga menghasilkan produk berkualitas

    Karakteristik Pengolahan Ikan Lemuru (Sardinella lemuru) Dalam Kaleng Dengan Media Vegetable Oil

    Get PDF
    Ikan lemuru (Sardinella lemuru) adalah jenis ikan pelagis kecil yang banyak ditemui di perairan selat Bali. Salah satu produk olahan ikan yang dihasilkan ikan lemuru dalam kaleng. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui alur proses pengalengan ikan, pengujian mutu bahan baku dan produk akhir, rendemen, produktivitas, dan penilaian kelayakan dasar. Metode pengambilan data yakni pengamatan langsung, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka. Proses pengolahan ikan lemuru dalam kaleng terdiri dari penerimaan bahan baku, pengguntingan, pencucian I, pengisian ikan dalam kaleng, pre-cooking, penirisan, pengisian media, penutupan kaleng, pencucian II, pencucian III, sterilisasi, pencucian IV, inkubasi, pengkodean, pengemasan dan penyimpanan, dan pengiriman. Hasil pengamatan organoleptik bahan baku dan produk akhir mendapatkan nilai 9. Hasil uji mutu histamin pada bahan baku 14,16 ppm, sedangkan produk akhir 13,58 ppm. Hasil rendemen tahap pre-cooking adalah 82,95 ± 0,73%, dan tahap pengguntingan adalah 63,64±0,44%. Produktivitas tahap pengguntingan 55,76±14,59 kg/jam/orang dan tahap filling 60,13±4,83 kg/jam/orang. Penerapan kelayakan dasar berdasarkan Peraturan Menteri KP No. 17 Tahun 2019 mendapatkan rating A dengan penyimpangan yang ditemukan 2 mayor dan 2 minor

    Penilaian Kerentanan Pesisir Berdasarkan Parameter Fisik di Pantai Utara Kabupaten Bekasi

    Get PDF
    Northern part of Bekasi Regency (Pantura Bekasi) has diverse land: a port area, fisheries, marine tourism, agriculture, residential, industrial and government. Various types of development are occured to support the  community welfare. Developments occur without considering sustainability will result in a decline of environmental conditions, and each region will have its own ability to anticipate the impacts of changes that occurs. This research studied coastal vulnerability in the Pantura Bekasi and the relationship between their coastal physical parameters and the vulnerability. Field observations were also conducted as field validation and perceive current conditions. The results show that vulnerability is very high in Fishery port (PPI) Muara Jaya port zone (Mekar Coast), and low vulnerability occurred in Taruma Jaya port zone (Taruma Jaya Coast). Two paramaters are different in these two locations, they are coastline change and geomorphological. The coastline change at Mekar Coast is abrasion, and Taruma Jaya Coast is accretion. The geomorphological at Mekar Coast are a muddy beach and delta, while Taruma Jaya Coast is a swampy beach. Field conditions show that Mekar Coast has low mangrove density, while Taruma Jaya Coast has high mangrove density. These results hopefully can be used as policy consideration for the local government in optimizing coastal management planning, where the spatial plan for Pantai Mekar Beach is designated as a conservation area and demersal fisheries, while on Pantai Taruma Jaya as a public use area such as for Gas and Steam Power Plant (PLTGU) Muara Tawar, PPI Paljaya and port zone

    Eksplorasi Biodiversitas Mikroalga Epifit di Perairan Teluk Hurun, Lampung, Menggunakan Analisa Morfologi dan Metode Metabarkoding

    Get PDF
    Penelitian mengenai kelimpahan mikroalga epifit di perairan Teluk Hurun belum pernah dilakukan, padahal beberapa mikroalga epifit berpotensi menimbulkan Harmful Algal Blooms. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis kelimpahan mikroalga epifit pada makroalga Padina di perairan Teluk Hurun, terutama untuk spesies yang berpotensi menyebabkan HAB sehingga memungkinkan dilakukannya upaya mitigasi. Makroalga Padina diambil secara acak dari kawasan rataan terumbu, dimasukkan ke dalam botol sampel, dan dikocok kuat selama 1 menit. Sampel air disaring menggunakan saringan bertingkat, untuk kemudian diawetkan dan diamati di bawah mikroskop. Analisis eDNA juga dilakukan dengan menyaring sampel air tersebut melalui kertas millipore berukuran pori 0,45 µm menggunakan filtering set, kemudian diamplifikasi dengan set primer 18s v9, dan dilakukan pengurutan basa DNA melalui Illumina iSeq. Hasil morfogenetik menunjukkan bahwa ditemukan mikroalga dari kelompok Bacillariophycea dengan kelimpahan dan proporsi keberadaan tertinggi yaitu Nitzschia dan Navicula. Meskipun kelompok Dinophycea tidak ditemukan pada pengamatan morfologi, namun analisis eDNA menunjukkan 2 spesies yang berpotensi menyebabkan HAB, yaitu Gambierdiscus sp. dan Prorocentrum mexicanum. Sel-sel dari kelompok Dinophyceae mungkin mengalami kerusakan selama proses perlakuan atau pengawetan, namun materi genetik yang terlarut dalam sampel air dapat terdeteksi menggunakan analisis eDNA

    KELIMPAHAN DAN JENIS BAKTERI Vibrio PADA AIR DAN SEDIMEN TAMBAK UDANG VANAME SISTEM MONOKULTUR DAN POLIKULTUR DENGAN Gracilaria sp. DI KABUPATEN BREBES

    Get PDF
    Infeksi bakteri Vibrio merupakan salah satu masalah yang banyak dihadapi pada budidaya udang vaname. Serangan vibriosis disebabkan oleh tingginya limbah organik di perairan. Rumput laut jenis Gracilaria sp. memiliki senyawa aktif dan kemampuan memperbaiki kualitas air sehingga dapat mereduksi kelimpahan bakteri Vibrio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kelimpahan dan jenis bakteri Vibrio pada budidaya udang vaname secara monokultur dan polikultur dengan Gracilaria sp. Sampel air dan sedimen diambil dari lima tambak monokultur dan lima tambak polikultur di Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.  Bakteri Vibrio dihitung kelimpahannya dengan metode total plate count dan diidentifikasi secara morfologi, mikroskopis, dan uji biokimia. Kelimpahan bakteri Vibrio air di tambak polikultur lebih rendah (3,46 × 104  CFU mL-1) dibanding tambak monokultur (2,18 × 105  CFU mL-1). Bakteri V. alginolyticus terdapat pada substrat dan air di tambak monokultur, namun pada tambak polikultur hanya terdapat di air. Hal ini diduga karena Gracilaria sp. memiliki kandungan senyawa bioaktif (alkaloid, flavonoid, steroid, dan fenolik) yang berperan sebagai antibakteri alami. Lebih lanjut, kandungan nitrat dan fosfat di tambak polikultur (0,3-0,5 ppm dan 1,3-1,4 ppm) lebih rendah dibanding tambak monokultur (2,2-2,4 ppm dan  2,5-2,1 ppm). Kondisi ini menyebabkan Bakteri Vibrio fluvialis dan Vibrio vulnificus terdapat pada tambak monokultur yang memiliki nitrat dan fosfat yang lebih tinggi dari tambak polikultur. Hal ini menunjukkan bahwa Gracilaria sp. memiliki kemampuan dalam mereduksi nutrien melalui thallusnya, sehingga menciptakan lingkungan perairan yang lebih baik untuk mereduksi kelimpahan bakteri Vibrio. Vibrio bacterial infection is one of the problems often faced in Pacific white leg shrimp cultivation. Vibriosis attacks are caused by high levels of organic waste in waters. Gracilaria sp. has active compounds and the ability to improve water quality so that it can reduce the abundance of Vibrio bacteria. The aim of this study was to determine the abundance and types of Vibrio bacteria in cultivation of Pacific white leg shrimp in monoculture and polyculture with Gracilaria sp. Water and sediment samples were taken from five monoculture ponds and five polyculture ponds in Brebes, Central Java. The abundance of Vibrio bacteria was calculated using the total plate count method and identified morphologically, microscopically, and biochemically. The abundance of Vibrio bacteria in water of polyculture ponds was lower (3.46 × 104 CFU mL-1) than in monoculture ponds (2.18 × 105 CFU mL-1). Vibrio alginolyticus is found in the substrate and water of monoculture ponds, but in polyculture ponds it was only found in water. This was thought to be because Gracilaria sp. contains bioactive compounds (alkaloids, flavonoids, steroids, and phenolics) which act as natural antibacterials. Furthermore, the nitrate and phosphate content in polyculture ponds (0.3-0.5 ppm and 1.3-1.4 ppm) was lower than in monoculture ponds (2.2-2.4 ppm and 2.5-2.1 ppm). This condition caused Vibrio fluvialis and Vibrio vulnificus found in monoculture ponds which had higher nitrate and phosphate than polyculture ponds. This showed that Gracilaria sp. has the ability to reduce nutrients through its thallus, thus creating a better aquatic environment to reduce the abundance of Vibrio bacteria.

    4,323

    full texts

    5,683

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    eJournal Badan Penelitan dan Pengembangan Kelautan dan Perikanan
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇